CHAP 5

Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto

Harmony with Sorrow © Tsukioka Nagisa

Note: di chapter ini bukan Naruto's POV lagi, tapi Shikamaru's POV.

Read, Enjoy and Review!

Harmony with Sorrow

Air mata terakhir itu masih menghantui diriku sampai sekarang…

-

-

Chapter 5: Seribu Kenangan

"Shikamaru! Shikamaru! Lihat! Aku menang!" sahut seorang gadis berambut aneh, dikuncir empat, menghampiriku dengan setengah berlari.

"Ternyata, kamu bisa juga! Mendapatkan juaa pertama lomba menyanyi di kota ini!" sahutku ikut senang.

"Itu kan berkat lagumu, Gadis dalam Angin!" sahut gadis itu, Temari, tersenyum padaku.

"Jadi, ini berkatku kan? Hadiah uangnya untukku?" usilku.

"Hu-uh! Tidak boleh! Uang ini untuk tabunganku di masa depan!" tolak Temari kesal.

"Haha, bercanda. Gimana, mau rayain di flat-ku bersama Kakashi-san?" tanyaku mengajak gadis itu, yang sudah setahun lebih berpacaran denganku. Aku sangat mencintainya, lebih dari apapun di dunia ini.

"Iya!" sahutnya sambil menunjukan senyumnya yang paling kusukai.

---Harmony with Sorrow---

Aku bertemu dengan Temari kurang lebih dua tahun yang lalu. Saat itu, Temari sedang memungut kertas melodi yang terjatuh dari genggamannya. Setelah itu, aku mengetahui kita memiliki kesamaan: menyukai musik.

Berbulan-bulan kita menjalin hubungan sebagai 'teman', lalu, akhirnya kita menyadari adanya 'cinta'. Dan, sejak itulah, kita pacaran.

"Shikamaru, lagu apa yang sedang kamu buat?" tanya Temari membuyarkan lamunanku.

"Eh…Belum ditentukan judulnya sih, tapi…" jawabku.

"Tapi?"

"Eeh—aku buat lagu ini untuk…kamu" sahutku setengah berbisik. Aku merasakan mukaku memerah.

"Terima kasih…" sahut Temari dengan wajah memerah.

Akupun memegang pipi lembut Temari, mendekatkan wajahku padanya. Dan—

"Shika! Temari-chan! Pizza pesanan kita sudah datang!" sela Kakashi-san.

Orang ini, kenapa dia menganggu pada saat yang sedang bagus-bagusnya sih? Oh ya, katanya kalau ada dua orang sedang berduaan, akan ada setannya kan? Berarti, dia setannya!

"A—ah, terima kasih, Kakashi-san" sahut Temari dengan wajah yang masih sedikit merah.

"Ah, ayo makan! Makaaan!" sahut Kakashi-san dengan semangat. Ini orang satu, enggak sadar ya, kalau tadi dia menganggu kita? Dasar.

Tapi, hari-hari bersama Temari serasa menyenangkan. Inilah, tujuan hidupku. Melihat Temari tersenyum.

---Harmony with Sorrow---

Hari penuh salju mulai datang. Putihnya salju membuat kamar flat ku menjadi lebih dingin. Tapi, dengan Temari berada disisiku, aku bisa merasakan kehangatan.

"Aku pulang dulu ya, Shika" sahut Temari dan mengambil mantelnya.

"Aku antar ya?" tawarku dan menaruh gitar tuaku ke lantai.

"Tidak usah. Soalnya aku mau ke toko buku dulu sebentar" sahut Temari sambil mengancing mantel birunya.

"Ya sudah, hati-hati" sahutku.

"Hm," sahut Temari

Akupun tersenyum dan kembali menulis lagu yang akan kubuat untuk Temari.

"Eng…Shika…" panggil Temari tiba-tiba. "Aku…aku akan selalu menyukaimu. Kalau kamu?"

"Eh—"

"Jawab saja"

"Tentu saja, bodoh" jawabku tulus. Meski aku tidak mengerti mengapa dia menanyakan ini padaku.

"Syukurlah," sahut Temari dan membuka pintu kamarku lalu keluar.

'Syukurlah'? apa maksud perkataan Temari itu? Ah, sudahlah. Lebih baik aku melanjutkan lagu ini.

---Harmony with Sorrow---

Sudah 30 menit sejak Temari keluar dari kamarku. Entah mengapa, aku merasa gelisah. Aku pun mengambil mantel bututku dan segera keluar dari flat ku.

Aku pun berlari ke Shopping Street, karena rumah Temari harus melewati kawasan paling ramai di kota ini. Tiba-tiba, aku melihat kerumunan orang. Aku pun menghampiri kerumunan itu karena penasaran.

"Maaf, ini ada apa ya?" tanyaku pada seorang ibu-ibu yang sepertinya sudah ada disitu dari tadi.

"Ah, itu..ada anak gadis yang tertabrak truk. Katanya sih, supir truknya ngantuk dan tidak melihat lampu merah. Gadis malang yang sedang menyebrang itupun tertabrak" jelas Ibu itu.

"Ga—gadis? Seperti apa dia?" tanyaku. Sungguh, aku memiliki firasat buruk.

"Gadis berambut pirang dan dikuncir empat—"

Aku terpaku saat mendengar jawaban Ibu itu. Tidak mungkin…Temari? Tanpa banyak pikir, aku menerobos kerumunan orang. Dan, aku menemukan hal terburuk—Temari, dengan berselimutkan darah.

"TEMARI!" teriakku dan menghapirinya.

Aku berjongkok disebelah Temari dan mengangkat kepalanya. Darah. Warna merah yang menyakitkan itu membuat putihnya salju berubah warna. Begitu pula dengan warna hatiku.

"Temari, bangunlah!" sahutku. Tanpa sadar, air mataku keluar dan menetes di pipi Temari.

"…Shi…ka?" sahut Temari lemah. "Jadi…kamu…datang"

"Sudah, jangan banyak bicara! Aku akan menelpon ambulans—"

"Tidak usah," sela Temari tiba-tiba.

"Tapi, Temari! Kalau kamu tetap seperti ini…" sahutku berusaha membujuknya.

"Biarkan saja. Lagipula, semua tujuan hidupku sudah kupenuhi. Memenangkan lomba menyanyi, menjalani hidup penuh cinta dan…" sahut Temari. "dan…menjadi orang yang bisa berada disisimu…"

Air mata Temari perlahan turun. Namun, meski begitu, senyumannya masih ada—meski hanya sekedar senyuman yang lemah.

"Aku…aku mecintaimu. Sangat, dan, selalu" sahut Temari. "Biarkan seribu kenangan kita gugur—"

Setelah mengatakan hal itu, Temari menutup matanya. Aku sudah tidak bisa merasakan nafasnya lagi. Senyuman lemah itu masih ada—diiringi jatuhnya air matanya yang terakhir ke tanganku.

Aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Suara kerumunan orang yang makin membesar saat sirene ambulans mendekat. Aku hanya bisa melihat Temari diangkat, diperiksa, dan gelengan kepala sang dokter.

'Biarkan seribu kenangan kita gugur'

Itulah kata-kata terakhir yang diucapkan orang yang paling kucintai. Aku tak kuasa menahan tangis. Bagiku, kehilangannya sama saja dengan kehilangan nyawa.

---Harmony with Sorrow---

"Begitulah" sahutku setelah menceritakan masa laluku pada Naruto dan Hinata.

Aku melihat mata Naruto berkaca-kaca, dan Hinata yang mengusap air matanya dengan sapu tangan putihnya.

"—Naruto, lebih baik kamu mengantar pulang Hinata. Nanti dia dicari sama keluarganya" sahutku memecah kesunyian.

"Oh—Oh iya. Ayo, Hinata" sahut Naruto beranjak dari duduknya.

"Hm," sahut Hinata dan berdiri. "Aku pulang dulu"

Kakashi-san pun keluar dari kamarku. Sekarang, aku sendirian—bukan. Masih ada Temari, hidup dalam hatiku.

Aku pun mengambil gitar tuaku dan mulai menyanyikan lagu untuk Temari. Lagu yang hanya kubuat untuknya.

Karena sebuah kejadian kecil kita bertemu,

Menatap mata hijaumu yang indah itu

Adalah hal terindah yang pernah ada

Aku ingin menjadi pelindungmu

Seperti bunga yang bermekaran,

Perasaanku padamu mulai bergejolak

Aku ingin memilikimu, ingin mendapatkanmu

Aku sangat menyukaimu

Seribu kenangan yang terukir

Selamanya berada di hatiku paling dalam

Biarkan waktu berhenti, biarkan dunia menangis

Yang kuinginkan hanya berada disismu

Namun, kita tidak bisa meraih 'keabadian'

Karena, kamu sudah jauh pergi

Air mata yang kau keluarkan untuk terakhir kalinya

Menghatuiku, meski aku sudah melupakanmu

Seribu kenangan yang kita rajut bersama,

Sekarang sudah menjadi daun yang berguguran

Satu, dua, sekarang kenangan itu hilang

Bagaimana aku bisa hidup tanpamu?

Hanya kamu yang kucintai,

Aku tak bisa hidup tanpamu

AKu hanya menginginkanmu

Aku takkan meminta yang lain—

Aku berhenti. Air mataku mulai mengalir.

Di depan mataku, aku melihat halusinasi. Temari—Temari yang tersenyum.

"Sekarang, jangan terus bersedih, Shika. Kamu memiliki temanmu, kan? Kakashi-san, lalu, anak itu, Naruto." sahut halusinasi Temari.

"Te—mari?"

"Aku akan selalu mengawasimu. Selalu dan selamanya."

---Seribu Kenangan---

End of Chapter

Nah, sekarang udah jelas kan kenapa Temari meninggal?

Gimana? Gimana?

Hehe, review yaaaah

Oh ya, aku juga gak bisa percaya kalau Shikamaru bisa ngarang lagu. Mungkin, baru nulis satu bait udah tidur lagi. Hehe. (langsung digebukin sama Shikamaru)