CHAP 6 IS HERE!

Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto

Harmony with Sorrow © Tsukioka Nagisa

Yoo~ back to Naruto's POV!

Read, Enjoy and Review!

Harmony with Sorrow

Dalam mimpi maupun kenyataan, aku selalu kesepian.

-

-

Chapter 6: Fantasi sang Gadis

Sudah seminggu sejak perlombaan menyanyi Hinata. Setiap hari, aku menunggu Hinata di jalan Sakura ini. Namun, entah mengapa, sejak 3 hari ini dia tidak datang.

Telat. Itu yang kupikirkan. Namun, Hinata bukanlah tipe anak yang sering telat. Mungkin dia punya urusan keluarga atau sakit? Tidak mungkin kan, kalau aku harus menyanyakan pada si…si Neji itu?

"Naruto-san," panggil seseorang dari belakangku. Akupun menengok ke arah suara yang memanggilku.

Sial. Ini orang panjang umur. Baru aja diomongin. Tiba-tiba saja, si Neji itu sudah ada di belakangku. Dengan gayanya yang khas—memakai tuxedo rapih.

"Ada apa?" tanyaku dengan nada sedikit ketus.

"Hiashi-sama ingin bicara denganmu," jawab Neji dengan nada sopan namun sedikit menghina.

"Hiashi-sama? Siapa itu?" tanyaku tak peduli.

"Ayahnya Hinata-sama" jawab Neji, masih dengan nada sopan namun menghina itu.

"Ooh, si ayah yang tidak peduli dengan anaknya itu yah? Apa hubungannya denganku? Merepotkan saja" jawabku dan beranjak pergi.

"Tentu saja ada hubungannya denganmu," sahut Neji "Hinata-sama masuk rumah sakit!"

Aku tersentak kaget. Hinata?

"Ke—kenapa?" tanyaku kaget.

"Penyakitnya mulai kambuh. Tapi, kami takut, kalau kejadian itu terulang lagi," jelas Neji sambil menaruh jemarinya di dagunya.

"Kejadian itu…?" tanyaku.

"Hinata-sama tidak memberitahukanmu yah? Jadi.." sahut Neji. "Hinata-sama…pernah sekali hampir meninggal dunia,"

Aku tersentak saat mendengar perkataan Neji itu. Hinata? Hampir meninggal? Yang benar saja.

"—Tapi, kami tidak pernah memberi tahu Hinata-sama kalau dia pernah hampir meninggal. Sebenarnya, jika kami membertahunya, semuanya akan lebih mudah…" lanjut Neji.

"Tapi, apa urusannya ayah Hinata denganku?" tanyaku lagi.

"Ikutlah dan kau akan mengerti," sahut Neji. Diapun menepuk tangannya dan dengan cepat, dua orang berbadan besar memegang kedua lenganku dan melemparku ke dalam limusin hitam yang mewah.

"O—Oi! Aku mau dibawa kemana?!" teriakku panik.

"Diam saja. Kita akan ke kediaman utama Hyuuga," jawab Neji yang ada di kursi depan.

"Ini sih namanya penculikaaan!!!" teriakku dalam mobil. Pasrah.

---Harmony with Sorrow---

Dalam waktu kira-kira 10 menit, aku sampai di kediaman Hyuuga—ah tidak. Koreksi kata-kata 'kediaman'. Maksudku 'istana' Hyuuga. Ini adalah rumah terbesar yang pernah kulihat. Pantas saja rumah ini jarang kulihat, ternyata ada rumah sebesar ini di pinggiran kota.

"Masuklah, Naruto-san" perintah Neji dan membuka pintu sorong termewah yang pernah kulihat. Hebat.

Aku menelusuri lorong panjang yang terbuat dari kayu mewah, mengikuti jalannya Neji. Tiba-tiba, aku melihat sesosok gadis kecil—Hinata?

"Hanabi-sama, seharusnya anda sedang latihan piano, bukan?" tanya Neji pada Hinata-chibi itu. Aah, ternyata dia adiknya Hinata.

"Gurunya sedang sakit. Jadi, aku tidak latihan." jawab Hanabi singkat.

"Oh. Ya sudah, lebih baik kamu belajar di kamar" perintah Neji.

"Baik," respon Hanabi. Ternyata, dia anak penurut.

Mata Hanabi mengarah padaku. Warna yang sama dengan Hinata, lavender. "Terima kasih, onii-chan" sahutnya.

"Eh?"

"Berkatmu, kakak jadi lebih ceria dari biasanya. Aku—aku sangat menyayangi Hinata-nee chan. Terima kasih!" lanjutnya sambil tersenyum lalu pergi kea rah kamarnya.

"Hmp, sepertinya Hanabi-sama sudah mulai menyukaimu. Bersyukurlah," sahut Neji dan dia mulai berjalan lagi.

---Harmony with Sorrow---

"Anuu—"

"Ada apa?"

"Neji…sampai kapan kita akan berjalan? Lorong ini panjang sekali. Kita kan sudah berjalan selama 10 menit…" sahutku terengah-engah dan duduk di lantai. Rumah Hyuuga ini—seperti istana Jepang zaman dulu…

"Dasar tukang mengeluh! Kamu sudah istirahat 3 kali! Sebentar lagi kita sampai!" omel Neji dengan nada marah.

"Tapii—" keluhku.

"kamu mau jalan lagi atau lebih baik kupanggil body guard untuk melemparmu sejauh 10 meter, langsung ke depan ruangan Hiashi-sama?" ancam Neji dengan wajah menyeramkan.

"B—baik, tuan…" sahutku kalah.

"Huh. Baiklah—"

Akupun mengangkat kepalaku dan kembali berdiri. Malasnya, aku harus berjalan lagi…

"Kita sudah sampai di ruangan Hiashi-sama" sahut Neji dan membuka pintu sorong di depannya.

"Katamu ruangannya masih 10 meter lagi?!" teriakku kesal.

"Itu hanya sebuah hiperbola untuk orang yang menyebalkan sepertimu," jawab Neji dengan senyuman mengejek.

Orang iniii—! Benar-benar ingin di pukul sampai terkapar apa?!

"Hiashi-sama, Naruto-san sudah datang" sahut Neji dengan nada sopan.

"Hei, masuk!" bisik Neji padakku.

Akupun masuk dan melihat siapa ayah Hinata sebenarnya. Rambutnya panjang, dan bermata lavender sama dengan Hinata. Tapi—senyumnya hangat. Kukira dia orang yang dingin.

"Jadi, kamu Uzumaki Naruto-kun, yah?" tanyanya dan tersenyum padaku. "silahkan duduk"

Akupun duduk dengan posisi duduk ala Jepang—bukan bersila. Awalnya sih, aku mau duduk bersila, tapi tatapan mata Neji yang seram menusuk. Enggak jadi deh.

"Terima kasih, berkatmu, Hinata memiliki senyuman yang hangat. Akhir-akhir ini dia jadi ceria. Padahal, awalnya dia hanya anak pendiam dan murung. Terima kasih" sahut Hiashi-san basa-basi.

"Jadi, apa urusanku disini?" tanyaku dengan nada yang tidak bisa dibilang sopan. Tusukan mata Neji pun terasa menyerang.

Wajah Hiashi-san berubah murung. Diapun berubah posisi. Dia bersujud padaku. Apa maksudnya?

"Tolonglah Hinata!" serunya.

"Hah?"

"Sudah 3 hari dia tidak membuka matanya! Jadi, tolonglah! Siapa tahu suaramu bisa sampai ke Hinata. Aku, tidak bisa melakukan apa-apa—"

"APA MAKSUDMU?!!" teriakku marah dan berdiri.

Hiashi-san dan Neji kaget, tapi mereka tidak mengeluarkan suara sedikitpun.

"Kamu ini ayahnya kan?! Orang tuanya! Keluarganya! Seharusnya kamu berusaha sendiri, jangan meminta orang lain terlebih dahulu!!" teriakku penuh amarah.

"Na—Naruto-san, tenang—"

"Selama ini, Hinata terus hidup tanpa perhatianmu yang justru dia butuhkan! Dia selalu berusaha tanpa dorongan orang lain! Meski begitu, dia—dia, selalu tersenyum! Kamu sebagai ayahnya, seharusnya memperhatikan anakmu itu!" lanjutku, masih dengan nada amarah.

"—aku…akan memberitahumu, kenapa aku mengacuhkan Hinata" sahut Hiashi dan kembali duduk.

"Hah?"

"Hinata pernah hampir meninggal, kamu tahu kan? Saat musim dingin bertahun-tahun yang lalu, saat Hinata masih berumur 5 tahun, menderita penyakit yang dideritanya sejak lahir. Karena kupikir akan sembuh tak lama, aku tidak terlalu memperhatikannya" cerita Hiashi. Dia mengambil nafas dan memulai ceritanya lagi.

"Tapi, pada saat aku pulang dari pertemuan dengan perusahaan lain, aku melihat Hinata, dengan wajah merah dan pucat, namun masih tersenyum. Dia memberiku sebuah jimat dan mengucapkan selamat ulang tahun padaku. Awalnya, aku hanya tersenyum. Lalu, tiba-tiba—" sahutnya dan berhenti sebentar.

"Hinata pingsan dan tidak terbangun selama 3 hari. Para dokter sudah angkat tangan tentang penyakit Hinata. Tapi, entah mengapa, dengan sebuah kejaiban Hinata bisa terbangun lalu menunjukan senyumnya. Aku pun sadar, saat Hinata masih kecil, aku memaksanya untuk memenangkan beberapa lomba, dan terus belajar. Dia hampir tidak memiliki teman. Dan, mungkin karena itu, dia stress dan mengalami kejadian itu. Aku berpikir, lebih baik aku tidak mempedulikannya agar dia tidak perlu memaksakan dirinya—"

Tanpa pikir panjang, aku langsung menampar pipi Hiashi dengan kencang. Pipinya pun terlihat merah.

"Kamu itu ayah yang memuakkan. Justru, justru karena kamu sama sekali tidak mempedulikannya, Hinata jadi tambah murung!" sahutku marah.

"Tapi—kalau aku—"

"KAMU ITU BODOH ATAU APA?!!" teriakku lepas kontrol. Aku menggenggam kerah bajunya dan membuatnya melihat wajah marahku. "Hinata memerlukan perhatianmu! Dia bisa hidup tanpa penyakit itu jika kamu mencintainya sebagai anak! Bodoh!!"

"—Dia benar, ayah," sahut suara dari belakang Neji—Hanabi.

"Ha—Hanabi?"

"Kakak…aku selalu mendengarnya menangis jika ayah menacuhkannya. Meskipun dia terlihat tegar, di dalam hatinya, Kakak sangat rapuh…" jelas Hanabi.

"Kamu dengar? Hinata memerlukanmu!" sahutku.

"Aku—"

"Ayolah, sekarang, Hinata harus mengkahiri fantasi Cinderella-nya." sahutku dan menghampiri Hiashi-san. Dia tampak menangis.

"Terima kasih, Naruto-kun…" isaknya.

"Hm,"

---Fantasi sang Gadis---

End of Chapter

Chap 6! Udah masuk permasalahan Hinata~

ada yang tanya dari mana aku dapat lirik lagu yang muncul di chapter 5/4, itu murni buatanku. Ahaha, kerjaan pas bete dengerin guru ngejelasin hal gak jelas. Maaf kalau chapter ini agak berantakan, yah.

Review please!