Chap terakhiiir! Ya ampun, panjang bangeeeet

Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto

Harmony with Sorrow © Tsukioka Nagisa

Read, Enjoy and Review!

Harmony with Sorrow

Akhirnya, cahaya itu mulai bersinar…

-

-

Last Chapter: Tempat Dimana Kita Berada

Aku melihat Hinata tertidur tanpa suara di kamar rumah sakit.

Begitu menyakitkan, pedih, dan…

kesepian—

"HINATA!" teriak Hiashi-san panik dan membuyarkan lamunanku.

Hiashi-sama langsung menghampiri Hinata dan duduk di samping tempat tidurnya. Akupun menghampirinya.

Wajah Hinata yang kutahu—ceria dan selalu tersenyum, kini berubah menjadi wajah yang diam dan pucat. Aku mengepalkan tanganku, menahan rasa sedih saat melihat wajah Hinata itu.

Tiba-tiba, seorang suster berambut coklat dan dicepol dua itu memasuki kamar Hinata.

"Ah—Hiashi-san?" sahut suster itu. "anda sedang menjenguk Hinata-chan?"

"A—ah, Tenten-san, bagaimana keadaan Hinata?" tanya Hiashi-san pada suster itu—Tenten.

"Hm…keadaanya sedikit membaik. Tapi, dia masih dalam kondisi kritis. Kalau dia tidak segera bangun, bisa-bisa dia—"

Suster Tenten itu mengatakan hal yang menakutkan; 'meninggal'. Tanpa sadar, keringatku bercucuran dan tanpa pikir, aku langsung berlari dari tempat itu.

---Harmony with Sorrow---

Aku membanting pintu flat ku, langsung berlari ke kamar dan menguncinya. Tanpa mempedulikan suara Shika dan Kakashi-san yang memanggilku. Aku hanya bisa duduk lemas, memikirkan keadaan Hinata saat ini.

Ini baru pertama kalinya aku peduli terhadap hidup seseorang—setelah kejadian keluargaku itu. Aku—aku takut. Aku takut kehilangan kehilangan Hinata. Aku takut kehilangan seseorang yang selalu tersenyum padaku.

"Oi, Naruto, ada apa?" tanya Shika setelah mengetuk pintu kamarku.

"—kkh, tidak ada apa-apa" jawabku berbohong.

"Tapi suaramu seperti ingin menangis" sahut Shika.

"Sudah, diam. Tidak ada urusannya denganmu," sahutku ketus.

"Tentu saja ada. Aku kan temanmu. Waktu itu, aku menceritakanmu tentang Temari, kan? Sekarang, ini giliranmu" sahut Shika.

"—baiklah,"

---Harmony with Sorrow---

Wajah Shika pucat.

Ya, itulah reaksinya ketika aku menceritakan hal ini. Untuk pertama kalinya, aku menangisi seseorang yang bukan keluargaku—entah kenapa aku merasa, kehilangan Hinata adalah hal yang menyakitkan.

"Jadi, apa yang bisa kamu lakukan untuk Hinata?" tanya Shika setelah berhasil menenangkan dirinya.

"Tidak tahu," jawabku tegas. "Tapi, aku tidak ingin kehilangan senyumnya"

Tampang Shika sedikit terkejut dan senyum mulai mengembang di wajahnya. Entah mengapa, aku merasa dia mengeluarkan senyuman usil.

"Ooh, begitu yah. Ternyata kamu bisa melupakan Sakura" sahut Shika dengan nada usil.

"Hah?"

"Jaga Hinata baik-baik, dasar bodoh!" sahut Shika dan keluar dari kamarku.

Tetap saja, aku tidak mengerti.

Menjaga Hinata? Melupakan Sakura?

Aduuuh! Jangan membuat otak bodohku ini makin bodoh dong!

---Harmony with Sorrow---

Sudah seminggu sejak Hinata masih tertidur.

Setiap hari, saat pulang sekolah. Atau saat aku memiliki waktu luang, aku mengujungi Hinata, mengajaknya ngobrol, meski dia masih menutup matanya, aku yakin, suaraku sampai padanya.

Aku mengurusi Hinata setiap hari. Membawa Kakashi-san, Shika, Sakura dan Sasuke. Kamar itu penuh dengan gelak tawa. Kamar yang awalnya sepi dan menyedihkan, menjadi hidup lagi. Apakah suara dan tawa ini sampai padamu, Hinata?

"Hei, Hinata. Tebak, aku dipecat di pekerjaanku. Mungkin karena aku sering bolos. Karena itu, aku akan bersamamu setiap hari—" sahutku menggenggam tangan Hinata di tengah gelak tawa itu.

"Jadi, bangunlah. Aku ingin melihat senyumanmu lagi" bisikku.

Tiba-tiba, gelak tawa itu berhenti. Kakashi-san, Shika, Sakura dan Sasuke berkumpul di sekitar tempat tidur Hinata.

"Iya, Hinata-chan, bangunlah. Kita ada disini untukmu" sahut Kakashi-san.

"Bangun, Hinata. Kamu tidak sendirian" tambah Shika.

"Benar! Meski aku baru kenal denganmu, aku ingin menjadi temanmu, hinata-chan!" sahut Sakura.

"Kalau Sakura berkata begitu, kau harus bangun," tambah Sasuke.

Aku melihat ke sekitar. Suara mereka seperti sebuah 'kekuatan'. Sebuah 'kekuatan' yang membuat 'kebahagiaan'.

Air mata.

Air mata Hinata menetes, meskipun mata Hinata tidak terbuka. Meski aku tidak terlalu yakin, tapi ini berarti suara kita sampai ke Hinata!

Aku, saking bahagianya sampai meneteskan air mata. Kini, aku mengerti apa arti perkataan Shika. Aku mengerti.

Aku, tentang Hinata…

---Harmony with Sorrow---

"Oh, Naruto-kun mengujungi Hinata dari ini?" tanya sebuah suara dari balik pintu kamar Hinata.

Aku berbalik, dan disanalah aku menemukan Hiashi-san bersama Hanabi yang membawa sebuket bunga tulip.

"Hm, aku akan mengujunginya setiap hari…" jawabku sambil tersenyum.

"Padahal sekarang hari Minggu. Kamu sangat peduli dengan Hinata, yah?" tanya Hiashi-san dan menaruh buket bunga itu disisi tempat tidur Hinata.

Aku hanya bisa mengangguk pelan. Hinata adalah orang yang memeberi tahuku arti hidup, dan orang yang selalu tersenyum padaku.

"Naruto-nii chan…" panggil Hanabi.

"Ada apa, Hanabi?" tanyaku.

"Kalau Hinata-nee chan bangun, apa yang akan Naruto-nii chan lakukan?" tanya Hanabi.

"Hah?" sahutku bingung.

"Hanabi, jangan membuat Naruto-kun bingung!" sahut Hiashi-san dan mengambil minum.

"Itu…kalau Hinata-nee chan bangun, apakah Naruto-nii chan akan memeluknya?" tanyanya.

"HAH?!" teriakku kaget.

"PRRT!" sembur Hiashi-san yang sedang minum.

Anak SD seperti dia menanyakan hal seperti ini? Ya ampun, pakai apa dia didik?

"Bagaimana?" tanya Hanabi.

"Eeh—ituu—bukan urusan anak SD!" sahutku dengan wajah memerah.

"Ha—Hanabi, dari mana kamu tahu tentang adegan seperti itu?" tanya Hiashi-san yang terlihat lemas.

"Dari TV drama!" jawab Hanabi polos.

Muka Hiashi-san tampak lemas. Memang susah mengurus anak perempuan. Kalau aku punya anak perempuan suatu hari, apakah akan menjadi seperti ini yah?

---Harmony with Sorrow---

Musim semi sudah berganti menjadi musim panas.

Pohon Sakura yang berwarna pink indah berganti warna.

Aku, mendorong sebuah kursi roda yang diduduki oleh gadis yang selalu tersenyum padaku—Hinata di bawah deretan pohon sakura. Bukannya Hinata jadi pincang, tapi kondisi tubuhnya masih lemah dan tidak diperbolehkan untuk berjalan lama.

Ya, Hinata sudah terbangun. Di akhir musim semi, saat kelopak bunga sakura turun, Hinata kembali membuka matanya. Dia hidup.

Banyak air mata keluar saat Hinata terbangun. Hiashi-san, begitu Hinata terbangun, langsung memeluknya dan mengucapkan 'maaf' berkali-kali. Hinaat awalnya kaget, tapi dia langsung tersenyum.

Hanabi pun begitu. Air matanya keluar sangat deras dan langsung memeluk Hinata. Keluarga yang bahagia, akhirnya.

"Naruto-kun," panggil Hinata.

"Ya?" sahutku.

"Naruto-kun diundang ayah untuk makan malam hari ini. Naruto-kun harus ikut, yah?" sahut Hinata dan tersenyum padaku.

"Hm, tentu saja" jawabku tersenyum.

"Syukurlah!" sahut Hinata.

Aku terdiam sebentar, lalu kembali membuka mulutku.

"Hi—Hinata, ada yang ingin kukatakan—"

"Hm, apa itu?" tanya Hinata dengan nada penasaran.

"Itu—eeng—kalau kita menjadi sepasang kekasih, menurutmu bagaimana?" tanyaku dengan wajah memerah.

"Eh?"

Aku menghentikan langkahku. Akupun kembali berbicara, "Aku menyukaimu, Hinata. Aku—aku ingin kamu berada disisiku…"

Hinata diam. Lalu, tiba-tiba tangannya bergerak, untuk mengusap air matanya. Hinatapun menengok padaku, tersenyum dan mengangguk kecil.

Dan, awalku dengan Hinata dimulai, dibawah deretan pohon sakura ini, di tempat kita berada…

--- T H E E N D ---

Fanfic pertama saia tamat deh…

Tapi, ini bukan berarti tamat bener loh. Saia akan buat sekuelnya: Another Harmony with Sorrow. Tapi, sekuel ini enggak akan muncul cepat, mungkin akan saya selingi dengan fanfic lain.

Makasih untuk yang sudah nge-review ataupun hanya membaca, saya akan berusaha membuat fanfic yang lebih bagus lagi! Yooosh!