Disclaimer: Naruto hanya milik Masashi Kishimoto seorang saja
Warning: OC (Original Character)
Other: Terimakasih banyak atas reviewnya. Ini lanjutannya ya.
MIST
CHAPTER 1
"Horeee!!" seru Rie memecah suasana damai di karavan keluarga Tsukimaru.
"HEH! NORAK!" omel Ryuu, makin membuat suasana bak kapal api pecah nan hendak karam. Tiba-tiba, ibu mereka, Hana Tsukimaru, menimpali mereka,"Kalian nggak akan ibu kasih makan dan kasih sayang kalau kalian bertengkar terus."
Ziiiiiiing~~~~~~! Suasana langsung sepi, meskipun masih ada raut 'uggh-sebel-abis!' di wajah dua kakak adik tersebut.
"Aku dapat hadiah dari Natsume-chan, Ibu," kata Rie dengan senyum yang luar biasa senang.
"Apa itu?" tanya ibu dengan wajah yang masih agak marah.
"Ini…," Rie menyodorkan hadiah tersebut ke ibunya.
Dan ternyata adalah……………………………………………………………
Sebuah poncho berwarna krem dipadu pola bunga berwarna coklat! Yay!
"Wah! Bagus nih, ibu jadi iri," kata ibu yang sama-sama menyukai warna krem dan coklat. Wajahnya langsung berubah ceria.
"Mana? Mana? Lihat dong," Ryuu langsung menghampiri Rie dan ibu.
Terlihat keharmonisan menerpa mereka bertiga. Dan rasanya harmoni itu menyebar ke seluruh jalan desa Konoha yang dilewati karavan keluarga Tsukimaru…
SRRAAKK..!
Karavan mereka berhenti di depan sebuah rumah yang lumayan besar.
"Waah.. Ini rumah baru kami?" tanya Rie dalam hati.
"Haaah, akhirnya sampai juga," ujar ayah sambil menyeka keringat di wajah dengan handuk putih kecilnya. Ia memarkirkan karavannya ke dalam pagar bambu rumah mereka yang baru. "Ah, kasihan juga kuda-kuda ini. Seminggu sudah perjalanan ini, lihat mata mereka. Mereka tetap senang dan semangat meski aku tahu mereka ini kelelahan."
"Aa… Yokattane*…!" seru mereka bertiga mendengar hal itu.
Rie dan Ryuu langsung turun dari karavan mereka dengan cepat tanpa basa-basi dan kesabaran yang sudah habis. Setelah perjalanan panjang yang melelahkan, akhirnya tiba juga di rumah yang cukup besar dan memiliki halaman yang luas.
"Wah, nanti bisa main bola di sini, nih!" ujar Ryuu.
"Nggak! Nanti halaman ini buat ditanam pepohonan dan tanaman apotek," kata Rie. Dia tidak mau kalah sepertinya.
"Bagaimana kalau untuk ditanami bunga?" ibu ikut-ikutan berdebat.
"Haaah! Turunkan semua barang!" seru ayah.
Waw… Komandan mulai mengamuk. Komando yang cukup lantang dan keras itu membuat berhenti perdebatan kecil tentang halaman rumah mereka. Entahlah, yang jelas, mereka semua senang dengan rumah baru itu.
Semua sibuk menurunkan barang-barang dari karavan mereka. Bahu-membahu dan kegiatan besar itu cukup untuk menarik perhatian para penduduk di sekitar situ.
Sebuah kelompok remaja yang terdiri dari dua orang laki-laki dan seorang perempuan melewati jalan depan rumah keluarga Tsukimaru yang baru. Mereka melihat karavan keluarga tersebut dan anggota keluarganya.
Semua sibuk dan kelihatannya tidak terlalu membutuhkan pertolongan, jadi mereka bertiga hanya mengatakan 'permisi' untuk menghormati mereka. Setelah melewati keluarga itu, salah satunya mulai berbicara.
"Aku yakin mereka itu keluarga yang sedang dibicarakan di kantor Hokage."
"Mengapa kau sangat yakin…munch..munch…, Shikamaru?"
"Tentu saja! Karavan, busana coklat, dan lambang klan itu, bodoh! Sudah pasti itu klan…."
KRAUUK!
Shikamaru langsung membungkam mulut gadis berambut pirang itu dengan keripik kentang yang dimiliki laki-laki yang satunya, gendut dan berambut coklat panjang.
"Munch…munch… Hmm, enak, tapi APA-APAN SIH?! Kok tiba-tiba begitu?"
"Haah, kalau ada yang tahu hal ini dengan cepat, bisa-bisa semua bakal berisik, semua bakal mempersiapkan hal ini dan hal itu, aku jadi ikut sibuk. Saat ini aku hanya ingin santai-santai.."
"Tidur-tiduran, malas-malasan, memandang langit biru berarakan awan putih yang indah… Apa-apaan kamu ini? Shinobi macam apa kamu?" omel gadis berambut pirang itu.
"Hei, hei, ganti keripikku yang tadi, Ino," rengek laki-laki gendut.
"Arrghh! Minta ganti sama Shikamaru, tuh! Kan dia yang mengambil!"
"Haaah, nanti saja ya, Chouji, aku sedang tidak punya uang."
"Huuh~~ Ya, deh, aku percaya kalau Shikamaru yang bilang. Tapi, jangan lupa, ya."
Sepanjang jalan kenangan…mereka bertiga mengoceh tanpa henti, terutama Ino, yang tidak karuan membicarakan tentang rambutnya yang indah, lurus, panjang terurai rapi, dan pirang berkilau (bukan hitam berkilau, ya…). Dan Chouji yang walaupun sudah percaya dengan janji Shikamaru untuk mengganti keripik kentangnya nanti, masih merengek. "Haah~~ Berisik sekali mereka ini," ujar Shikamaru dalam hati.
Oke, kembali ke keluarga karavan.
Mereka masih sibuk menurunkan barang-barang. Ayah yang menurunkan, ibu yang mengoper ke Rie dan Ryuu. Ada beberapa barang yang sudah diturunkan dan saat ini sedang dijinjing Rie.
"Ibu, yang ini ditaruh di mana?" seru Rie di kejauhan
"Di sana," kata ibu sambil menunjuk ke suatu pintu.
Saat sedang sibuk-sibuknya, ada seseorang yang mencurigakan lewat di depan rumah mereka. Dan yang mengetahui hal itu hanya Yang Mahatahu dan Rie. Gadis bermata hitam kecoklatan itu langsung berpikir cepat.
"Apa yang bisa kulakukan saat ini? Kalau aku langsung menyergapnya dan ternyata dia orang baik-baik, bisa malu setengah mati aku. Tapi, kalau benar dia bukan orang baik, maka kemungkinan besar semua orang yang ada di sekitar sini bisa panik kalau terjadi pertempuran. Duh, tolong aku, Tuhan..!"
Rie terus berpikir, dan akhirnya…
PING PONG!
'Lampu bohlam' a la Rie menyala terang benderang, tanda ada ide yang benar-benar bagus! Rie tetap dalam kondisi tenang, seperti tadi saat masih sibuk mengangkat barang-barangnya. Mondar-mandir, mengangkat ini dan itu. Di balik semua itu, ternyata di dalam tubuhnya sedang melaksanakan perintah yang tersusun dalam sebuah rencana di otak ber-IQ 111 itu.
"Kumpulkan chakra. Tenang…"
BHAATS! Chakra yang ada di dalam tubuhnya bereaksi dengan sempurna. Kemudian, chakra itu mengalir dengan tenang, dan langsung melakukan jutsu.
"Semuanya, di luar pagar rumah ini ada seseorang yang mencurigakan." Rie memberitahu seluruh anggota keluarga lewat kemampuan telepatinya.
"Ryuu, tolong bantu aku dong, angkatin barang ini," kata Rie sambil menarik tas yang dibawa Ryuu dan menyodorkan tas yang lebih berat.
"Hah! Kakak aja! Aku lagi ngangkat yang i..nnniii!!!!"
Ya ampun! Tanpa pikir panjang lagi, Ryuu yang menerima 'pesan' dari telepati Rie langsung pura-pura melempar tas miliknya yang ternyata berisi panci dan peralatan dapur lainnya ke arah orang mencurigakan itu.
PLAKK!
Salah satu panci keluar dari tas itu dan mengenai kepala orang yang mencurigakan tadi. ACCURACY LEVEL: 97.8%!
"Aduh!" serunya.
Dan panci itupun jatuh setelah mengenai orang tadi.
KLONTANG LONTANG ONTANG NTANG TANG TANG TANG TANG TANG…!
"RIE..!!! RYUU!!!!! ITU PANCI KESAYANGAN IBU! ASTAGA!!!"
Orang tadi bukan kaget lagi, mungkin… Jangan-jangan orang itu punya penyakit jantung koroner atau apa lah! Tapi, orang itu untungnya tidak punya penyakit mematikan yang tadi saya sebutkan. Dia hanya terbengong-bengong saat ibu tunggang langgang berlari menuju dirinya.
"Maafkan kami, mereka memang anaknya bandel, jadi harap maklumi kelakuan mereka, ya. Rie! Ryuu! Minta maaf sana!" perintah ibu kepada Rie dan Ryuu. Tatapannya tak kalah seram, benar-benar tatapan kematian!
Karena ini semua adalah bagian dari rencana Rie, mereka berdua tahu kalau ibu mereka benar-benar tidak sedang marah. (Akting yang bagus, Bu!)
"Maafkan kami..," ujar mereka seraya membungkuk.
"Ah, tidak apa-apa, kok, hehehe."
"Kami hanya sedang bermain-main. Tapi, tanpa sengaja kami melempar tas…eh, panci ini…"
Orang itu mengambil panci itu. "Ini, Bibi," orang itu menyerahkan panci ibu.
"Terimakasih ya, dan anak-anak! Kalian harus menjadi anak yang baik seperti paman ini," ceramah ibu.
"OK!" koor mereka berdua sambil menunjukkan 'two thumbs up'.
"Jangan bilang begitu, saya jadi tidak enak," jawab orang itu. "Saya permisi dulu," katanya sambil membungkuk.
"Baik, kami minta maaf atas kejadian yang tadi," ujar ibu sambil membungkuk pula. Diikuti Rie dan Ryuu dengan kompak.
"Tidak apa-apa. Semoga hari-hari Anda menyenangkan," ujar orang itu sambil melambai dan berjalan.
"Terimakasih..!"
Mereka diam beberapa menit, hingga orang itu tidak terlihat lagi.
"Mission complete! Kita berhasil mengusir orang mencurigakan itu!" seru Rie.
"Ih, apaan sih, nggak jelas," semprot Ryuu.
"Oh, ya, walaupun yang tadi itu hanya akting, ibu tidak terima kalau panci kesayangan ibu dibanting. Apa ya hukumannya…? Hmm.."
O'ow… Ibu kelihatannya sangat tidak setuju sekali kalau pancinya dilempar dan dibanting seperti adegan tadi.
Rie dan Ryuu bertatapan sengit.
"Ini gara-gara kakak, tahu!" seru Ryuu kepada Rie lewat telepati.
"Ini demi semuanya, tahu! Kalau orang itu mencuri barang-barang kita, bagaimana?" balas Rie.
"Tapi, ide kakak itu nggak membuktikan orang itu baik atau nggak! Ide nggak berguna!"
"….. Tunggu! Aku merasakan sesuatu!" kata Rie.
Rie tiba-tiba langsung merasakan firasat yang aneh setelah kejadian tersebut. Dan ternyata, ia langsung berlari ke arah orang aneh tadi.
"RIE!! RIE!! 'KERJA BAKTI'-NYA BELUM SELESAI! HEEEH??!" ibunya spontan panik melihat anaknya tiba-tiba lari.
"KAK! NGGAK BERTANGGUNG JAWAB BANGET, SIH?! BANTUIN, OI!" teriak Ryuu.
"Dipanggil malah nggak nyahut, anak macam apa itu?" ibunya naik darah lagi.
"Ryuu kejar ya, Bu."
"Iya, iya. Cepat, Nak!" ibu mengiyakan.
Dengan cepat, Ryuu melesat jauh, mengejar kakaknya yang tiba-tiba bertindak aneh.
Sementara itu…
"Sial! Ke mana orang itu! Aku merasakan aura yang aneh. Tidak hanya merasakan! Warna aura yang ia pancarkan bukan seperti orang pada umumnya. Siapa dia sebenarnya?" Rie bertanya-tanya dalam hatinya.
Rie terus mengejar orang itu dengan kemampuannya yang dapat merasakan aura orang lain. Ryuu pun juga begitu. Ia terus mendeteksi aura kakaknya dan mengejarnya. "Kakak sialan! Pokoknya kakak yang harus mengganti panci ibu! Bukan aku!"
Footnote:
*Yokattane artinya syukurlah.
Hmm, sepertinya terlalu panjang. Tapi, itulah yang ada di otak saya saat ini, hehehe :D.
Bagaimana ceritanya? Semoga menghibur dan menginspirasi Anda semua.
Jangan lupa, kasih kritik (ini yang paling penting) dan saran, serta kesan yang Anda dapat setelah membaca fanfict saya.
Terimakasih..!
