Tiga kata itu. Tiga kata yang menjadi letak kekaguman Mori pada Ueki.

.

.

.

Disclaimer: Law of Ueki © 2002-2004 by Fukuchi Tsubasa; Law of Ueki Plus © 2005-2007 by Fukuchi Tsubasa.

Notes: Mori's first POV, post-manga.


Langit membiru seiring awan bertemu.

Deru angin lembut menyapu rambutku.

Tatapanku masih sama seperti dulu.

Yang mengagumi indahnya langit biru.

Dan kuatnya tatapan polosmu.


"Hei…"

"Hei…"

"Hei…"

"Hei, Mori!"

"Eh?" Mendengar panggilan tersebut, aku pun tersadar dari lamunan. Berbalik, kudapati sosok kawan baikku, si rambut hijau. Matanya menyipit dan sepenuhnya tertuju padaku, meyakinkanku bahwa suara yang kudengar barusan memang bukan berasal dari dalam.

"Ada apa, Ueki?" tanyaku kemudian, masih separuh tenggelam dalam dunia khayal.

"Hei, Mori! Aku sudah memanggilmu empat kali. Kurasa ditambah yang sekarang jadi lima…" ujar Ueki kebingungan sendiri sambil mencoba menghitung dengan jemarinya. Terhadap hal ini, aku tak begitu bereaksi.

Ueki memandangku sesaat dan melanjutkan ucapannya, "Kau kenapa? Dari tadi melamun melulu."

Kedua bola mataku spontan membesar, kaget begitu tahu Ueki ternyata mendapatiku melamun sejak tadi.

"Siapa yang melamun? A-aku tidak melamun, kok," sangkalku.

"Oh… Ya sudah."

Mendengar balasannya tersebut membuatku menjadi geram. Harusnya tanggapan 'Mori, apa kau sakit?' atau 'mau istirahat dulu sebentar?' yang kauberikan! Tapi, kenapa reaksimu malah lemot begini? DASAR UEKI LEMOT! LEMOT! LEMOOOTTT!

Belum sempat kepalanku mendarat di wajahnya, ia sudah memotong duluan.

"Hei, kau jangan diam saja, Mori! Kau kan sudah janji mau membantuku menanam bibit-bibit ini!" ucapnya dengan wajah yang polos.

"Oh iya, ya…" balasku cepat; pada saat yang bersamaan mengurungkan niat untuk melayangkan pukulan maut dan segera kembali menanami lahan kosong itu dengan bibit-bibit pohon, tentunya sambil tetap mengumpat di dalam batin.

Huh, dasar Ueki bodoh! Kenapa ia mau saja menanam bibit-bibit ini, ya? Lalu, kenapa aku juga ikut, ya?

Semakin dipikir, aku jadi semakin pusing sendiri. Akhirnya, kuputuskan untuk bertanya saja pada Ueki.

"Hei, Ueki! Kenapa kau semangat sekali untuk menanam bibit-bibit ini? Selain melelahkan, pekerjaan kita juga akan jadi sia-sia bila ada yang merusak mereka, kan?"

Ueki menggaruk-garuk kepalanya sesaat. "Benar juga, ya. Kenapa aku melakukan hal ini, ya?"

Seketika, emosiku semakin pecah dan kepalaku serasa ingin meledak.

Dasar Ueki bodoh! Melakukan sesuatu tanpa tujuan! Belum lagi, uangku juga ikut ludes untuk patungan membeli bibit… Huh, menyedih—

"Aku…"

Suara Ueki tiba-tiba kembali muncul ke permukaan, membuatku dengan cepat menujukan pandanganku padanya.

Ia membalikkan badannya ke arahku dan tersenyum simpul. "Aku tahu ini bodoh dan egois. Dan sepertinya, kau juga pernah mengatakan padaku untuk tak memaksakan keegoisanku ini. Tapi, sepertinya sifat ini memang tak bisa hilang."

"Dasar! Kau ini memang tak pernah berubah!" balasku sedikit kesal. Jujur saja, sampai saat ini, aku masih belum sepenuhnya memahami dan dapat menerima prinsipnya itu. Sebenarnya, apa yang membuatnya tak mau berhenti berkorban?

Ueki terdiam lagi sesaat dan aku pun terdiam juga.

Dan di sela-sela kesunyian itu, ia berbisik kecil, "Mori, aku memang bodoh dan egois. Tapi, bila melihat pohon-pohon yang ditebang dan dirusak tanpa ditanam kembali seperti ini, aku tak bisa diam begitu saja."

Jantungku mulai berdegup.

"Tenang saja, Mori! Bila ada hal tak adil seperti ini, aku takkan tinggal diam! Dan kuharap kau juga!" serunya dengan penuh semangat. Detak dalam diriku kini tertabuh semakin cepat.

"Karena aku takkan pernah membiarkan kebenaran terinjak." Ueki menyapu keringatnya sejenak.

"…Akan kulakukan sesuatu!"

Aku menyembunyikan senyum yang sempat kupasang sesaat. Hmph. Meskipun selalu bodoh dan tak berpikir panjang, aku memang tak bisa membenci sifatnya yang begini.

Ya. Tiga kata itu. Tiga kata yang membuatku mengaguminya dalam diam. Sosok yang, meskipun saat ini kumal oleh lumpur dan tanah, terlihat begitu bercahaya di depan matahari senja.

"Tentu saja, bodoh!" balasku dengan senyum yang semakin melebar. "Aku juga… akan melakukan sesuatu!"


Egoisku tertelan egoismu.

Yakinku tercabik yakinmu.

Karena egoisku hanya pecahan egoismu.

Dan yakinku hanya serpihan yakinmu.

Yang memberi senyum kekuatan bagiku.

Yang membuatku tak bisa terdiam dan mengucap

'Akan kulakukan sesuatu'.


Author's notes:

Terinspirasi dari quote Ueki di seri Law of Ueki Plus: "Akan kulakukan sesuatu". Terima kasih banyak sudah membaca! :)