Title: I Don't Give A Damn

Author: Annannnn

Chapter: 2/3

Starring: Huang Zitao, Wu Yi Fan, Wang Darren, Wang Li Kun, Xi Luhan, Zhang Yixing, etc

Pairing: YifanTao, DarrenTao, slight MyunXing, slight Hunhan

Rating: M

Genre: romance, angst, humour

Disclaimer: I have a great power upon my fanfic and this story undeniably mine to post and edit. You have no rights to copy and change the storyline under any circumstance. I choose to ignore their real age gaps or hometown and create my own timeline. Yes, I'm that kind of people. Deal with it.

Warning: AU. Contemptuous!Kris, Clueless!Tao, Pedo!Kris

This story contains GAY THINGS. Man and man making out, and being sweet to each other. There are some cursing and Pokémon Go reference because I just like it. You've been warned.

.

Chapter 2 — I Think I Got Mewtwo, Nonetheless it's Just You

.

"Joonmyun…" suara desahan tertahan menggema di ruangan berukuran enam kali delapan meter yang terletak di dekat tangga. Terdengar suara kecapan dan erangan, sepertinya pemilik kamar itu sedang sibuk. Tao bergidik mendengarnya dan melesat turun tak ingin menganggu kegiatan mereka yang terlalu sakral untuk didengar. Bisa dikatakan remaja itu sudah cukup sering mendengar Yixing, kakak sepupunya melakukan hubungan intim dengan Joonmyun atau yang sering disebut sebagai Suho. Mulai menyaksikan mereka making out di dapur saat ia turun untuk mengambil minum di tengah malam ataupun sore hari, sampai memergoki mereka membasahi sprei dengan keringat dan sperma dari balik pintu yang tak tertutup rapat.

Tao layaknya remaja lain, otaknya sudah mengerti bagaimana melakukan seks, tapi tubuhnya belum tersentuh. Tentu saja ia penasaran, maka ia menuruti ajakan teman barunya, Wang Darren yang tinggal di student dorm dekat Sir Winston Churchill. Bukan berarti mereka selalu mengeksplor pengetahuan seks masing-masing, bahkan ini kali pertama bagi remaja yang berusaha memperlancar bahasa Inggris-nya tersebut. Di tempat Darren biasanya ia akan belajar bahasa Inggris dan Pengetahuan Alam sampai Matematika. Teman barunya itu anak yang pintar, dan meskipun Tao tak kalah pintar, ia terbata dalam mengerti pelajaran dengan kosakata asing yang baru didapatnya. Sesekali Darren akan memeluknya, merabanya tubuhnya yang gemetar dan menciumi pipi dan lehernya. Kehadiran Darren benar-benar memacu jantungnya, membuka wawasan baru yang belum pernah dijelajahinya.

"Aku berangkat dulu," teriak Tao sambil lalu, mengikat tali sneakers-nya, memasang headset-nya dan mulai mengeluarkan IPhone-nya. Apalagi kalau bukan menyambi mencari pokémon? Ia berjalan menyusuri trotoar yang lebar, sesekali berhenti memperhatikan anjing yang diajak jalan-jalan pemiliknya. Tao tersenyum pada seorang pria berambut coklat tua mengenakan kemeja navy blue dan dress pants dengan pantofel mengkilat, tingginya kurang lebih sama dengannya. Pria itu membawa seekor anjing bichon frise putih yang ramah saat Tao mengelusnya. Tangan berjari lentiknya menepuk-nepuk lembut punggung ViVi—nama anjing tersebut, sementara sang pemilik berkenalan dengannya.

"Namaku Huang Zi Tao," remaja itu tersenyum, mendongak pada sang pemilik anjing yang mengangguk.

"Aku Oh Sehun," jawabnya pendek. Sehun ternyata tinggal tak jauh dari rumahnya, hanya berbeda satu blok. Ia seorang karyawan baru di sebuah firma hukum yang letaknya di jantung kota Vancouver, menyempatkan diri mengajak jalan-jalan ViVi sebelum membereskan rumah. Tao melambai pada pria dan anjingnya itu, meneruskan perjalanannya selagi matanya menelusuri map mencari keberadaan Doduo yang sempat terlihat.

Tanpa disadari seseorang berada di depannya sedang menelpon sembari membawa segelas latte keluar dari Starbucks, tak dinyana mereka bertabrakan cukup keras. IPhone milik Tao hampir terlempar sementara latte di tangan orang itu tumpah membuat mereka berdua menjerit kaget dan kesakitan akan panasanya. Kemeja merah tua itu basah dan Tao mengibaskan tangannya yang memerah terbakar. "Kau," remaja itu mendongak mendapati wajah pria yang sempat memarahinya, wajahnya pucat seketika.

Matanya mengamati jejak kopi yang tercetak jelas di bagian depan kemeja pria itu sampai ia melupakan tangannya yang masih terasa perih. Meneguk ludahnya, suara yang ia keluarkan bergetar "K-Kris-ge…" Wajah Kris terlihat berang dan Tao mundur melihat gerakannya yang maju tiba-tiba. "Sakit, gege," keluhnya ketika tangan besar Kris mencengkram lengan atasnya dan menariknya ke sebuah bangku panjang.

Kentara sekali Kris menahan emosi, dilemparnya Tao hingga duduk di bangku tersebut. "Sudah berapa kali Yixing memperingatkanmu untuk berhati-hati? Kau punya otak tidak sih? Kau bisa mencelakakan dirimu dan orang lain" cecarnya kejam, tangannya mengepal berusaha untuk tidak melayangkan tinjunya ke wajah remaja itu. Kris terdiam melihat Tao yang menunduk menggigit bibir bawahnya keras. Berdecak kesal, tangannya menyentuh dagu remaja berambut kelam tersebut dan menengadahkan kepalanya. "Berhenti menggigit bibirmu, kau melukai dirimu sendiri." Ia melepaskan pegangannya pada dagu tajam itu, suaranya terdengar dingin sekaligus arogan.

Tao melepas gigitannya dan menatap pria itu takut-takut. "Ma-maaf," ucapnya terbata, tanpa sadar ia mengusap tangannya yang perih dan gerakan itu tak luput dari penglihatan pria di depannya.

"Tanganmu tersiram?" Tao mengangguk pelan. Kris mendesah, menuntun remaja itu ke keran air minum yang terletak tak jauh dari mereka. Menyorongkan tangan Tao di bawah air keran ynag mengalir, ia mengeluarkan saputangan abu-abu Burberry-nya dan mengusap tangannya dengan lembut. "Kau ini selalu tidak berhati-hati, kau bisa melukai dirimu sendiri." Tangan Kris berhenti, Tao mengambil sapu tangannya yang setengah basah dan mencoba membersihkan noda kopi di kemejanya dengan telaten. Dahinya mengernyit, bibirnya terlihat sedikit mencebik saat ia berkonsentrasi menghapus nodanya dari kemeja Kris sementara pria itu sendiri mengamati ekspresinya tanpa berkedip.

Tao menghembuskan nafas, kesal dan menyesal. "Maafkan aku, nodanya tidak bisa hilang," cicitnya. Ia berusaha mencuci saputangan milik Kris yang kotor. IPhone-nya terasa bergetar di kantongnya, ia menggenggam saputangan yang basah di tangan kanannya yang tidak dilapisi perban dan menjawab telponnya.

"Iya?" Kris terdiam, mengamati Tao dengan lebih seksama. "Aku sedang di jalan, lima menit lagi aku juga akan sampai." Tao berhenti sejenak, menolehkan kepalanya seakan mencari sesuatu. "Ya, aku lihat ada minimarket… atau kau mau makan taco? Aku melihat ada foodtruck." Kris tahu sebaiknya ia tidak menguping pembicaraan mereka dan segera pulang. Tao menutup telponya dan menatap Kris penuh rasa bersalah, ia meminta maaf lagi kepada Kris yang masih memasang wajah galaknya membuat remaja itu enggan untuk pergi.

"Akan kuantar kau pulang." Entah apa yang mempengaruhinya, kalimat itu sudah meluncur dengan mudah. Mendengarnya setengah memaksa, Tao mengangguk, mengembalikan saputangan Kris yang setengah kering dan membeli makanan dari foodtruck yang terlihat tidak terlalu ramai. Setelah membayar, ia pun mengikuti pria itu masuk ke dalam Porsche hitam miliknya.

"Aku akan menginap di dorm temanku," jelas Tao menggenggam dua kantung coklat berisi beberapa tangkup taco, dan dua mangkuk kertas sup enchilada. Kris mengangguk, ekor matanya menangkap gerakan Tao yang segan, lagi-lagi ia menggigit bibir bawahnya yang memerah. Matanya jatuh pada tangan Tao yang diperban.

"Tanganmu sudah sembuh?" tanyanya berbasa-basi. Ada sedikit rasa khawatir terlintas mengingat luka anak itu cukup dalam dan mungkin saja berbekas.

Tao terlihat canggung menjawab, "Iya, sudah tidak terlalu sakit lagi, tinggal menunggu lukanya menutup sempurna." Kris mengangguk. Berkendara menuruti arahan Tao hingga sampai ke sebuah bangunan merah bata berlantai lima yang terawat, ia pun turun membukakan pintu untuk remaja yang terlihat cukup kesulitan. Pria itu pun membawakan kantungnya, menunggui Tao yang menelpon temannya untuk turun membukakan pintu. Tak lama pintu terbuka dan wajah remaja berambut kelam itu terlihat cerah. Berkebalikan dengan Kris yang membelalakan matanya.

"Darren," sapa Tao dengan riang. Yang disapa tersenyum ramah kemudian menatap Kris tak kalah kagetnya.

Dunia seperti berhenti selama beberapa detik. Darren menetralkan ekspresi wajahnya dan menggandeng tangan remaja di hadapannya, "Siapa pria ini? Pamanmu?" tanyanya berpura-pura kemudian melemparkan tatapan tak suka pada pria itu.

Hampir saja Kris melempar kantung yang dipegangnya ke muka remaja tengil tersebut jika saja ia tidak ingat ada adik sepupu rekan kerjanya di sana. Tao menggeleng, "Dia Kris-ge, teman Yixing-ge. Tadi kami bertemu di jalan dan ia menawarkan diri untuk mengantarku." Rasanya lama sekali ia mematung di sana melihat kedua orang remaja itu berinteraksi. Seperti ada sebuah hubungan sekedar dari teman, terlihat tertawa bersama, terlihat indah. Kris merasa salah tempat, ia pun mengangsurkan kantung makanan yang dipegangnya pada Tao dan mengendarai Porsche-nya pulang. Dalam hati mempertanyakan mengapa ia merasa iri melihat kebahagiaan orang lain. Tampaknya ia harus mengakhiri masa sendirinya, dan mulai mencari seseorang untuk berbagi meski pasti masih ada dinding pembatas yang akan ia pertahankan.

~†~†~†~

Tangan hangat Darren mengusap pipinya lembut sementara ia berusaha mengerjakan soal wacana yang diberikan pemuda itu. Sesekali menggaris-bawahi kata-kata kunci dan mencari artinya di kamus, perlahan tapi pasti ia memahami isi wacana tersebut sebelum akhirnya beralih kembali mengerjakan soal. "Ah! Darren!" serunya ketika tangan itu mengelus perut datarnya. Posisi Darren yang memeluk Tao dari belakang mempermudahnya menghujani leher jenjang itu dengan kecupan-kecupan ringan. "Aku belum selesai," rengeknya kesal pada temannya yang mengganggu kegiatannya, Darren hanya tertawa kecil. Ia memeluk pinggang ramping itu, menyurukkan hidungnya pada belakang leher Tao. Memejamkan matanya menghirup wangi vanilla yang manis, menunggui remaja berambut kelam yang menyelesaikan soal terakhir. Darren pun memeriksa pekerjaan Tao masih dalam posisinya sementara remaja yang dipeluknya menyeruput jus semangkanya.

"Hmm… lumayan, kemampuanmu memahami bacaan makin meningkat." Ia mengusap rambut kelam yang terasa lembut di jarinya, mengecup puncak kepalanya dengan gemas. "Sekarang ayo kita belajar yang lain," bisiknya menggoda.

Wajah Tao merona, ia beranjak dari tempat duduknya, membereskan sampah makanan yang menumpuk dan membuangnya ke tempat sampah di koridor. Hampir saja ia jatuh telentang menerima pelukan Darren yang menariknya ke atas ranjang berukuran sedang kemudian mengunci pintu. Mata bulatnya menatap mata musang milik Darren, melingkarkan lengannya ke leher pemuda itu. "Ajari aku," ucapnya lembut hampir tak terdengar. Rona merah di wajahnya menyebar, mengerang pelan saat remaja di atasnya mulai mengecup lehernya pelan, menanggalkan kemeja yang Tao pakai dan menurunkan kaus hitam tanpa lengannya.

Darren tersenyum lembut padanya. "Hari ini kita akan belajar untuk membuat kissmark, kemudian french kiss." Setelah mendapat anggukan, ia mulai mencium dada remaja di bawahnya dengan penuh nafsu, menghisap dan meninggalkan tanda kemerahan. Tao melenguh pelan, air mata menggenang di pelupuknya merasakan nipple kemerahannya digigit dan dijilati oleh Darren. Tangannya meremas t-shirt coklat yang Darren kenakan, sementara kakinya perlahan membuka mempersilakan lutut pemuda di atasnya menyentuh bagian privatnya membuat Tao mengerang lebih kencang dan gemetar. Ia bisa mendengar degup jantungnya sendiri, merasakan sentuhan Darren yang begitu lembut di pinggangnya, bibir hangatnya meninggalkan jejak basah di dadanya.

Kegiatan mereka bermula dari rasa penasaran Tao beberapa minggu yang lalu. Remaja itu mempertanyakan apa yang sering dilihatnya, mencoba mencari tahu lewat situs internet edukasi hingga ke situs terlarang yang memicu badannya menegang. Ia tidak mengerti perasaan itu dan mulai menceritakannya pada Darren, teman barunya yang ia temui di sebuah convenience store dekat sekolahnya. Setelah mereka lumayan dekat dan sering bertemu, barulah Tao bercerita. Awalnya ia malu tapi Darren menenangkannya dan mengatakan bahwa rasa penasarannya itu wajar dan malah menawarkan diri untuk membantunya. Selama ini ia hanya berani berpelukan dan tangan Darren akan mengusapnya lembut, memberikan sentuhan-sentuhan kecil untuk membuatnya terbiasa.

"Enghh, Da… Darren," ia meremas rambut hitam pemuda tersebut. Badannya terasa sangat panas, jejak-jejak merah menghiasi dadanya, keringat membanjiri tangannya, ia gugup. Pemuda di atasnya menyunggingkan senyum lembut, menciumi pipi dan bibirnya. Tao pasrah saja saat Darren mulai memasukkan lidahnya ke dalam rongga mulutnya, menggoda lidah miliknya sendiri untuk balas melawan sementara tangannya menelusup ke sisi tubuhnya, meremas bokongnya yang membentuk jelas dari balik skinny jeans-nya. Darren memperdalam ciumannya, mencubiti nipple sensitif Tao sembari membuka resleting jeans-nya. Pemuda itu melepas bibir Tao yang makin memerah sehabis berciuman dan sedikit terbuka dengan matanya yang sayu. Darren menaikkan kaus tanpa lengan itu sampai ke bahu Tao, mengusap perut rata tersebut dan mulai menciptakan tanda baru, mencoba menunjukkan kepemilikannya akan remaja itu.

"Waa!" seru Tao. Memerah malu, ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya, mencoba menghindari tatapan temannya itu. Dapat ia rasakan bibir hangat itu memacunya untuk mengeluarkan desahan dan erangan, nafas Darren yang memburu menerpa perutnya membuatnya bergidik. Air mata kembali menggenang membuyarkan visinya, Tao menghentikan temannya. "Darren, aku…" ucapannya terpotong oleh ciuman yang mendominasi, kakinya menghentak sedikit merasakan Darren makin berani mengusap paha bagian dalamnya yang masih dilapisi jeans. Pemuda itu melepas ciumannya, menjilati bibir Tao yang membengkak dengan sayang, tangannya mengusap pipi gembul itu perlahan.

"Sepertinya pelajaran hari ini sudah cukup." Darren menepuk pahanya, ia bangun dari atas Tao dan mengulurkan tangannya. "Ayo kita mandi." Pemuda yang masih mengatur nafasnya dengan bergetar menerima uluran tangan Darren, limbung memeluk tubuhnya yang lebih berisi untuk menegakkan diri.

Remaja itu membantu temannya menanggalkan skinny jeans dan kausnya serta perbannya kemudian ia mengisi bath tub dengan air hangat. Tao duduk di dalam bath tub, menunggu Darren sembari menuangkan body wash berbau mint yang segar, menciptakan gelembung dengan tangannya. Tak lama pemuda pemilik kamar itu duduk di belakangnya mencuci rambut hitam tersebut, dengan hati-hati membilasnya supaya tidak masuk ke mata bulat yang selalu berhasil membuat jantungnya berdegup kencang. Memeluknya dengan posesif, perlahan mengusap tubuh Tao dengan loofah dan busa sabun. Tangannya merayapi tubuh langsing di hadapannya, menikmati tiap lekuknya dan kelembutannya. Bahunya yang lebih kecil darinya, punggungnya yang terlihat rapuh, pinggangnya yang begitu ramping untuk ukuran lelaki, pahanya yang empuk berikut kakinya yang jenjang. Semuanya ia sabuni dengan cermat, membilasnya dengan lembut sementara Tao memainkan busa sabun yang dibuatnya, menangkupnya kemudian meniupnya hingga berhamburan.

Tawa geli terdengar saat Darren menciumi leher Tao lagi sembari mengusap bagian dalam pahanya. "Mau aku bantu?" tanyanya memutar tubuhnya, senyuman manis terulas di wajahnya. Darren membiarkan jari-jemari lentik itu mengeramasi rambutnya dari depan, membuatnya dapat mengamati wajahnya, menelusuri tanda kemerahan di dadanya yang berkilat basah. Ia merasa tenang merasakan pijatan lembut Tao di kepalanya, membilas sisa busa shampoo dari rambutnya. Menikmati pergerakan halus tangan itu mengusapkan sabun ke torsonya, ke punggungnya, berusaha membilas badannya. Darren menangkap tangan itu, menyentuh dagunya dengan tangan lainnya kemudian melumat bibir kemerahan itu sekali lagi. Yang dikecup memejamkan mata, menekuk lututnya dalam posisi bertelut di hadapan temannya.

Darren membuang air di bath tub, mengeringkan badannya dan Tao dengan handuk besar berwarna krem. Menyikat gigi di washtafel yang sama membuat remaja itu puas memandangi tubuh telanjang temannya yang tak curiga, hanya ditutupi selembar handuk di pinggangnya. Memberikan sebuah kaus putih miliknya yang ternyata sedikit kebesaran di tubuh temannya, sebuah celana pendek hitam tak dapat menutupi kaki jenjang Tao. Darren memakai sweat pants abu-abu dan kaus putih tanpa lengannya, memberikan bactine spray pada luka Tao dan membiarkannya mengering kemudian mengecup punggung tangannya.

"Darren," suaranya lembut seakan takut mengusiknya. "Apa yang kita lakukan ini… tidak apa-apa?" tanyanya ragu dalam pelukan Darren. "Apa ini menjadikanku kekasihmu?"

Yang ditanya mengecup bahunya, mengusap rambut setengah basahnya pelan. "Tidak apa-apa. Kita bisa menjadi sepasang kekasih kalau kau sudah siap." Tangannya mengusap lengan Tao di balik selimutnya. Remaja yang dipeluknya pun terlelap, bulu matanya yang hitam panjang menempel dengan apik di pipinya, bibirnya yang kemerahan terlihat sedikit terbuka, nafasnya teratur. Darren mencium dahi Tao, mengulas senyum simpul. "Kau milikku," bisiknya dalam keremangan lampu tidur.

~†~†~†~

Memandang nanar album foto yang dipangkunya, Kris bernostalgia ke masa dulunya. Ketika ia berbahagia mengajak Sophie ke Baskin Robin café, putrinya dengan semangat memesan berbagai es krim dangan topping berwarna-warni. Sophie akan melonjak senang ketika menerima hadiah lucu dari ayahnya di sebuah festival. Kris mendorong punggung kecil anaknya, membuatnya memekik senang tatkala ayunannya melaju kencang membelah angin. Rambutnya yang berkibar saat Kris memutarnya berdansa mengikuti irama lagu dengan gelembung berterbangan di sekitar mereka. Kris mengerjap, mengusap album berwarna krem itu, setitik air mata jatuh mengaliri pipinya, menitik ke sampunya.

Tercekat, pria itu meremas bantalnya, membenamkan wajahnya menahan teriakan yang ingin dikeluarkannya. Perasaan yang membuncah di dada, mengiris-iris hatinya yang tidak akan pernah sepenuhnya pulih seperti sedia kala. Terlintas wajah putrinya dan wajah seseorang. Kris berbaring telentang, wajah seseorang melintas sekilas dengan senyum yang sama polosnya dengan Sophie. Menghela nafas, ia berusaha memejamkan mata menghilangkan pikiran aneh yang mulai bersarang di otaknya. Jantungnya yang sempat terpacu kembali, harum vanilla yang membayangi indra penciumannya. Ia menatap langit-langit kamarnya yang putih bersih tak bercela sebelum benar-benar merapatkan pejaman matanya. Mengenyahkan bayangan rambut sehitam malam, mata yang memancarkan kepolosan, bibir kemerahan membentuk cupid bow, tingkahnya yang ceroboh dan sembarangan. Malam itu mimpi Kris dipenuhi bayangan wajah pemuda yang baru-baru ini ditemuinya.

.

.

To be continue…

.

.

Note: Silakan googling tentang China, Filipina dan Vietnam ya. Masalahnya lumayan pelik dan tidak mungkin dijelaskan di sini, mohon maaf sebesar-besarnya. : /

Bagi yang merasa ditipu karena chapter ini ternyata bukan KrisTao… maafkanlah, lapangkanlah dada, dan silakan tonton performance Tao di Yaya Concert. Di sana Tao makin imut deh.

See you next chapter. : )