.
.
.
Naruto Masashi Kishimoto
M/SasuSaku/Romance and drama/OOC, Typo(s)
WARNING : Sesuaikan dengan umur untuk membacanya.
.
.
.
.
.
DON'T LIKE DON'T READ!
.
.
.
.
¤¤¤Happy Reading¤¤¤
.
.
.
.
.
[SAKURA POV]
Setelah pembicaraanku dengan Sasuke tadi sore, aku jadi memikirkan banyak hal. Bagaimana hubungan kami akan berjalan nanti? Dan bagaimana reaksi orang tuaku nanti, jika melihat Sasuke datang untuk melamar diriku. Hari ini hari yang sangat gila untukku. Aku memang menyukai Sasuke. Sangat. Tapi aku tidak menyangkah jika kami bisa melangkah sampai sejauh ini. Membuat sebuah perjanjian dalam pernikahan kami dan yah, akhirnya kami sepakat melakukannya. Jadi malam ini juga, aku ingin menyampaikannya langsung pada Ayah dan Ibuku.
"Sayang! makan malam sudah siap. Cepatlah turun!" Ku mendengar suara Ibuku yang memanggil dan mentalku sudah siap di uji sekarang.
"Rumah terasa sepi jika kita hanya hidup bertiga saja" Ujar Ayah saat aku menduduki kursi meja makan. Memang benar, meja makan ini cukup panjang jika diisi hanya dengan tiga orang. Ada banyak tempat duduk kosong disini. Tapi aku tidak peduli. Aku tahu Ayah sedang menyindirku. Ibu memberikan satu piring untukku.
"Bagaimana harimu hari ini?" Ibuku bertanya saat ia mengambilkan nasi untukku.
"Hari yang luar biasa" jawabku dengan mengambil kuah sup jamur dan menuangkannya dalam nasiku.
"Benarkah?" Dan aku harus cepat mengatakannya. Ini terlalu bertele-tele.
"Ayah, Ibu. Setelah makan malam selesai, aku ingin bicara. Ada yang ingin ku sampaikan pada kalian"
Ayah dan Ibu menoleh, mereka menatapku seolah aku sedang menyembunyikan sesuatu. Dan yah, itu memang kenyataanya.
Setelah acara makan malam selesai, kami segera berjalan menuju ruang keluarga. Mereka tahu aku akan bicara serius dengan mereka. Dan dapat kulihat sepertinya mereka juga ingin bicara serius denganku. Menghela napas besar, aku mencoba membuat tubuhku ini sedikit lebih rileks. Jujur ini menegangkan. Masa depanku di pertaruhkan disini. Aku harap mereka mau mendengarkanku.
Jadi sekarang kami sudah duduk saling berhadapan. Lebih tepatnya aku duduk menghadap Ayah dan Ibuku. Ada satu meja memanjang yang membuat jarak pada kami.
Aku sedikit gugup sekarang, tapi ini harus segera di tuntaskan. So, aku memberanikan diri menatap mata mereka dengan tegas.
"Soal perjodohan itu aku menolaknya"
"Tapi kami su-" sebelum Ayah selesai bicara, aku sudah memotongnya. Oh maafkan anakmu yang kurang ajar ini.
"Aku sudah mempunyai kekasih, Ayah. Dan dia marah saat mendengar aku akan di jodohkan" Oke, aku memasang topeng polos dengan kesedihan yang menyedihkan. Aku harap air mataku bisa keluar. Ini akan lebih meyakinkan jika aku bisa menangis sekarang.
"Saki, apa yang kau katakan?" Bagus Ibu. Kau menanyakan pertanyaan yang luar biasa.
Aku menunduk sedih "Aku tidak pernah mengatakan pada Ayah dan Ibu ji-jika aku sudah memiliki kekasih sebenarnya"
"Kau serius, sayang?" Aku mengangkat kepalaku dan melihat mata Ibuku yang berbinar cerah. Ayo dukung anakmu ini, Ibu. Dan aku akan semakin memcintaimu.
"Tidak bisa. Aku belum melihatnya dan memastikan bibit, bebet dan bobotnya. Setidaknya dia harus mapan, berkelas dan seperti kita" Sekarang Ayah terlihat sangat menyebalkan. Tapi aku tahu dia memikirkan masa depan yang cerah untukku.
Aku berpikir sejenak bagaimana cara aku mengatakannya.
"Dia masih kuliah, Ayah. Sama sepertiku. Kami belajar di kampus yang sama"
"Aku pikir kita harus membatalkan perjodohan ini sayang. Saki kita, sudah memiliki kekasih" Ibu aku akan memijatmu setelah ini.
"Lalu kau percaya?"
"Kenapa tidak! Anak kita sudah mengatakannya kan"
"Bagaimana kalau anakmu berbohong. Selama ini mana ada lelaki yang datang kerumah ini bersamanya. Kalau ada juga pasti Sasori, sepupunya sendiri" Ibuku terdiam setelahnya. Perdebatan alot ini lumayan membuatku sebal. Ini pertama kalinya aku melihat mereka berdebat selama 24 tahun, sepanjang hidupku. Apa aku sudah bersalah dalam hal ini? Ah bodoh. Nasi sudah jadi bubur. Lanjutkan!
"Besok malam Ayah dan Ibu akan melihatnya" ucapku tegas namun tenang.
"Besok?"
"Iya Ibu. Besok Sasuke akan datang kesini" Ibu mengernyitkan dahinya. Begitu pula Ayah. Jadi sebenarnya ada apa?
"Sasuke?" Tanya mereka bersamaan.
"Iya. Namanya Uchiha Sasuke" Entah kenapa wajah Ibuku berseri-seri seperti musim semi. Ini nampak sedikit aneh.
Dan Ayahku tersenyum samar. Why?
Tapi terserahlah. Perjodohan itu harus batal.
"Jadi apa yang akan di lakukannya disini?" Tanya ayahku to the point. Ok dan aku siap menjawabnya dengan to the point juga.
"Datang melamar putri anda, Kizazhi-basan" hei itu bukan jawabanku. Suara itu terasa familiar di telingaku.
"Sasuke-kun?" Mataku pasti sudah membulat saat ini. Kenapa dia bisa muncul begitu saja disini?
"Perkenalkan, nama saya Uchiha Sasuke. Kekasih putri anda" Sasuke berojigi pada orang tuaku. Aku bisa melihat wajah Ayah dan Ibuku sedikit terkejut. Aku saja terkejut apalagi mereka.
.
.
.
.
.
Aku meninggalkan mereka bertiga ke kamar. Ini hari yang melelahkan. Terserah saja si Uchiha itu mau mengatakan apa pada orang tuaku. Aku menghempaskan tubuhku di atas ranjang king-ku. Ah empuk sekali. Ini sangat nyaman. Aku ingin tidur.
20 menit berlalu.
Aku tertidur dalam keadaan kakiku menjulang ke lantai. Dan kini aku terbangun dengan pandangan mata yang sedikit kabur. Sepertinya nyawaku belum kembali sepenuhnya. Lalu, apa Sasuke sudah kembali ke alamnya? Pulang maksudku. Biarkan saja. Tubuhku cukup letih malam ini.
"Bagaimana perasaanmu?" Ternyata dia belum pulang. Aku berusaha memfokuskan pandanganku padanya. Dia mendekat dan duduk di sampingku. Aku meliriknya sekilas lalu aku alihkan ke atap langit kamarku. 'Kenapa dia masuk ke dalam kamarku?'
"Baik-baik saja"
"Benarkah?"
"Ya"
"Kau ingin menggodaku hn?"
Sontak aku langsung menoleh padanya "apa maksudmu?" Aku melihat lirikan matanya mengarah pada dadaku. Ah pantas saja. Belahan dadaku yang cukup di atas standart ini sedikit terlihat. Kaos ini memang memiliki kerah yang cukup lebar "Mesum" dia terkekeh.
"Aku senang melihatnya. Sepertinya sangat pas di genggamanku" sialan. Wajahku pasti memerah padam sekarang. Aku memalingkan wajahku darinya. "Di lihat dari dekat, ternyata kau lebih cantik dari yang ku kira" aku melihatnya kembali. Wajahnya tenang. Tapi suasana disini entah kenapa berubah memanas. Wajahku yang memanas bodoh.
Aku kemudian bangkit dan mendudukkan diri sama seperti Sasuke. Pandangan kami bertemu dan jarak kami pun terasa semakin dekat.
"Bagaimana rasanya?"
"Aku tidak mengerti maksudmu apa?"
"Aku pernah melihat si kepala merah itu menciummu" aku tersentak. Apa yang dia maksud Gaara? Bagaimana dia tahu? Aku menggeleng. "Tapi kau langsung menamparnya" aku ingat, saat itu Gaara sedang emosi karena aku sudah menolaknya. Tapi setelah itu kami berbaikan kembali.
"Aku tidak suka milikku disentuh oleh orang lain" apa maksudnya? Kenapa Sasuke berkata seperti itu. Tatapan matanya juga menajam, berbeda dari beberapa saat yang lalu.
Dia mencondongkan tubuhnya dan menarik pinggangku posesif. Dia membuat jantungku berpacu semakin cepat.
"A-apa yang kau lakukan?" Aku gugup tapi aku menyukai posisi ini. Aku bisa melihat dengan jelas wajah tegasnya. Ketampanannya dan sial, bibirnya sangat ingin aku cium.
Mataku terbelalak saat dia menciumku dengan mata terpejam. Aku menyukai rasanya. Manis dan menggairahkan. Jadi aku berusaha tenang di dekatnya. Aku diam, namun juga tidak menolak. Ini ciuman pertama kami. Aku bisa merasakan dia tersenyum di sela-sela ciumannya.
"Kau menyukaiku" dia mengatakan pernyataannya saat bibirnya masih menempel dibibirku. "Kau tidak menamparku" dia terkekeh setelah memberi sedikit jarak. Sensasi ini luar biasa. Aku menunduk malu tapi dia mengangkat daguku. Mata kami bertemu dan sekali lagi dia menciumku. Ciuman ini semakin panas. Aku bahkan sempat mengerang saat lidahnya mengobrak abrik isi dalam mulutku.
Aku ingin menahan desahanku saat ia meremas payudaraku. Tapi perkataannya membuat aku meloloskan suara desahanku. "Jangan ditahan!" Ciumannya turun ke leher. Menjilatnya dan mengecupnya. Aku sudah terlena dengan sentuhannya. Dan tanpa sadar aku kini berada di atas pangkuannya. Aku memakai rok pendek, dan rok ini pasti sudah tersingkap berantakan. Cumbuannya masih bertahan. Aku membalas ciuman panasnya. Tangan kananku meremas rambut hitamnya, sedangkan tangan kiriku melingkar di lehernya. Aku semakin mendesah saat tangannya membelai paha polosku dan mengarah pada selangkanganku. Ini nikmat. Aku menyukainya. Aku memiringkan kepalaku agar bisa memperdalam ciuman kami, begitupun dengan dirinya. Tangannya menyelinap masuk dan melepas pengait bra-ku. Aku juga bisa merasakan ereksinya di balik kewanitaanku yang masih dilapisi celana dalam. Terkadang dia melepas pagutannya sesaat, namun ia kembali meraup bibirku dengan lebih ganas lagi.
"Aahhhh Sahss..ukeh" erangku saat ia menjilat telinga sensitifku. Sekarang celana dalamku pasti sudah sangat basah. Ini hari yang luar biasa. Tangan Sasuke memainkan putingku dengan jarinya. Lalu ia membelai dan meremasnya dengan sangat lembut.
"Aku menginginkanmu" suaranya serak dan memberat. Aku tahu, hasratnya sudah berada di puncak. Begitu pula aku. Kedua tangannya bergerak menelusuri dadaku dan aku membuat jarak agar tangannya bisa leluasa memainkan payudaraku. Dan malam ini, aku tidak akan pernah lupa dengan malam ini. Malam yang begitu menakjubkan. Kami menyatu. Dunia kami jadi satu.
.
.
.
.
.
Aku terbangun agak siang pagi ini. Tubuhku letih, sangat letih. Tapi aku harus segera bersiap ke kampus. Hari ini hanya ada satu mata kuliah, dan setelah itu aku dan Ino akan pergi shoping. Ngomong-ngomong kapan terakhir kali aku pergi shoping. Hmm sudahlah.
Ino menjemputku dengan mobil sedan-nya. Dan aku siap sekarang.
Ayah sudah berangkat ke kantor sepuluh menit yang lalu. Jadi aku cuma perlu berpamitan dengan Ibuku.
"Sepertinya ada yang berbeda dengan dirimu" Kata Ino saat mobilnya berjalan. Ia melirikku dan aku hanya mengediikan bahuku acuh.
Aku menyetel radio, dan lagu yang terputar adalah lagu Moon River, aku berniat menggantinya tapi Ino melarangku. Ia juga bersenandung. Suaranya bagus tapi suaraku juga tak kalah bagus. Aku ingat saat SMA dulu. Aku pernah mengikuti ajang lomba menyanyi di sekolah dan aku menang juara dua karena lagu M2M. Luar biasa. (Klo ini seh Author gy curcol. Abaikan)
"Kau terlihat sangat bahagia, Ino" aku juga ikut menikmati ini.
"Bukan aku, tapi kau"
"Aku?"
"Iya kau. Aku merasa kau berbeda. Kau sangat cantik hari ini" Ino tertawa.
"Jadi maksudmu, kau mengataiku jelek begitu?"
"Haha.. tidak tidak. Kau itu gadis cantik, Sakura. Sangat cantik. Tapi pagi ini kau terlihat lebih cantik dari biasanya"
Aku mengacuhkannya. Lagu Moon River selesai. Dan kini berputar lagu Lips Are Movin. Aku suka lagu ini. Lumayan.
Tubuhku bergerak sendiri mengikuti hentakan musik. Kakiku bergoyang menikmatinya. Ino juga ikut menyanyikannya. Siapa yang tidak tahu lagu ini, hn? Lagu ini cukup menarik.
"...na..na..na..na.. .."
"...Ba..ba..ba..ba..ba..ba.."
Perjalanan ini tenang dan kami tetap tidak akan terlambat ke kampus. Kalaupun terlambat, bolos sekali aku pikir tidak akan jadi masalah. Yeah ini menyenangkan.
Aku mengangkat dua jari telunjukku dan menggoyangkannya ke kanan dan ke kiri. Ino tertawa melihatku. Dan aku tersenyum tetap menikmati Lips Are Movin milik Meghan Trainor. Kepalaku ikut menari. Ini menyenangkan.
"I gave you bass, you gave me sweet talk" aku bernyanyi ala penyanyi profesioal
Ino menyahut "Saying how I'm your number one"
"But I know you lie" ini keren. Aku tetap bernyanyi. Jalanan tidak tetlalu padat pagi ini. Aku menyukainya. Ah kenapa rasanya aku sangat bahagia sekali.
"'Cause your lips are moving" bibirku mengikuti lirik berikutnya. Ino masih menikmati musiknya. Sesekali menyahuti lagu Lips Are Movin.
"Baby, don't you know I'm done" kami berdua bahagia.
"If your lips are moving, if your lips are moving" Kami serempak bernyanyi seperti paduan suara. Haha
"If your lips are moving, then you're lyin'"
"If your lips are moving, if your lips are moving"
"If your lips are moving, then you're lyin'"
.
.
.
.
.
Yeah, satu mata kuliah hari ini selesai. Aku bisa langsung ke Mall dan melakukan shoping. Aku berjalan keluar kelas sendirian. Beberapa menit yang lalu Ino memintaku menunggunya di mobil. Katanya dia ingin bertemu dengan yang namanya toilet sebentar.
Aku mengecek ponselku. Siapa tahu ada seseorang yang berusaha menghubungiku. Ternyata ada satu pesan Line yang belum terbaca. Ini chat dari Sasuke.
Sasuke-Koi : Aku merindukanmu.
Aku tersenyum membacanya. Dan aku segera membalas chat yang sudah 20 menit yang lalu singgah di Line-ku. Aku harap Sasuke tidak marah karena aku terlambat membalas pesannya.
Sakura : Benarkah? (Emot dengan tanda tanya?)
Aku melangkah ke arah parkiran yang sudah tidak jauh dariku. Tapi tiba-tiba ada sebuah tangan yang menarikku dan menghimpit tubuhku ke tempat yang tidak bisa terlihat oleh orang lain.
"Kau meragukanku?" Aku terkejut karena Sasuke-lah yang menarikku. Sekilas aku tersenyum tipis.
"Apa?" Tanyaku menjahilinya. Wajahku pasti terlihat seperti gadis polos sekarang.
"Menggodaku, hn. Atau apa kau ingin kita mengulangi percintaan kita semalam" Sasuke mencium bibirku lembut. Dadaku dan dada bidangnya saling bergesekan. Oh tidak. Jangan disini. Aku harus bisa mengendalikan hasratku sekarang.
"Kau gila. Lepaskan aku sekarang" aku berusaha melepaskan diri darinya sebelum ada mata yang melihat kami. Tapi rengkuhanya terlalu kuat. Aku pasrah sekarang.
"Kau yang membuatku gila. Setiap kali melihatmu, aku membayangkan tubuh polosmu. Benar-benar menggoda"
"Kau ereksi"
"Kau merasakannya?" pertanyaanya membuatku menunduk malu.
"Kalau begitu puaskan aku!" Sebelum aku menjawabnya, dia sudah menciumku. Melumat bibirku dan menggigit bibir bawahku. Reflek aku sedikit membuka mulutku dan ia langsung menjelajahi rongga mulutku dengan lidahnya. Tangannya membuka kancing kemejaku dan ia langsung menelusupkan tangannya masuk ke dalam bra-ku. Ia meremas payudaraku dan memainkannya.
"Kita lakukan dengan cepat" Sasuke mengangkat rokku dan menurunkan celana dalamku. Aku juga membantu melepas ikat pinggang serta celananya. Dan ini kedua kalinya kami menyatu. Tempo yang ia berikan awalnya pelan, tapi lambat laun Sasuke semakin menambah tempo kecepatannya. Dan kita klimaks bersama-sama.
"Kita akan bertemu nanti malam. Berdandanlah yang cantik. Tapi jangan memakai gaun yang terlalu terbuka, aku takut tidak bisa menahan diri untuk tidak memakanmu" Wajahku merona mendengarnya. Dan aku juga bisa melihat ia tersenyum tipis. Ah dia begitu tampan. Jemarinya membelai lembut wajahku. Tatapan matanya pun begitu meluluhkanku. Astaga. Aku begitu mencintainya. Aku tahu ia akan datang melamarku dengan kedua orang tuanya. Malam ini akan jadi malam yang menegangkan, pasti. Sasuke menaikkan kembali celana dalamku. Dan membantu merapikan kancing bajuku yang sudah dibukanya.
.
.
.
.
.
Akhirnya malam ini pun tiba. Sekarang aku sudah duduk di antara keluargaku dan keluarga Sasuke. Aku dan Sasuke sedari tadi sudah saling bertatapan penuh makna. Sejujurnya aku tidak tahu Sasuke mengatakan apa pada kedua orang tuanya hingga mereka kini ada disini datang untuk memintaku jadi anak mereka. Jadi menantu mereka. Aku melihat Ibunya begitu cantik dan masih terlihat muda. Tapi Ibuku juga cantik tak kalah darinya. Ayah Sasuke juga tampan seperti Sasuke. Beliau terlihat begitu berwibawa. Juga pemudah berambut panjang, sepertinya seumuran dengan Sasori. Apa dia Kakak Sasuke? Aku sebenarnya tidak begitu fokus dengan apa yang mereka semua bicarakan. Fikiranku menerawang jauh membayangkan kehidupanku setelah menikah nanti. Akan jadi seperti apa?
Aku mencintai Sasuke, tapi aku tidak tahu apa ia mencintaiku atau tidak. Sasuke tidak pernah berkata ia mencintaiku. Ia hanya sering berkata 'aku menginginkanmu' wajahku sedikit berubah murung karenanya. Dadaku juga terasa sesak. Aku takut, setelah apa yang aku berikan padanya, ia lalu meninggalkanku begitu saja.
.
.
.
.
.
Malam ini aku tidur bersama Ibuku. Ah sudah lama kita tidak seperti ini. Rasanya sangat rindu dengan belaian tangannya yang mengusap rambutku saat aku mau tidur.
"Jadi katakan, kenapa anakku berubah manja seperti ini!" Ibuku tidur menyamping menatapku. Begitu pula denganku. Ibuku mengusap bahuku lembut.
"Apa aku tidak boleh bermanja pada Ibu?"
Ibuku tersenyum "Tentu saja boleh. Tapi sampai kapan? Kau akan segera menikah. Yah Tuhan anakku sudah dewasa sekarang" Ucapnya terkekeh kemudian. Ia beralih mengusap rambutku. "Rambutmu sudah sangat panjang" jeda sejenak "padahal dulu kau tidak suka rambut panjang"
"Karena Ibu lebih menyukai rambut panjang, makanya aku memanjangkannya"
"Kau melakukannya untuk Ibu" aku tersenyum.
"Apa setelah aku menikah, Ibu tidak bisa ikut dengan kami?"
"Anak bodoh. Kau harus belajar mandiri sekarang. Mana mungkin Ibu ikut denganmu. Lalu jika Ibu ikut denganmu, siapa yang menjaga Ayahmu?"
"Kan ada bibik Kaede"
"Astaga, kaede sudah tua sayang. Sudah saatnya dia pensiun jadi kepala pembantu disini"
"Aku pasti merindukan Ibu" tanpa sadar aku menangis. Ya aku begitu menyayanginya. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana nanti aku hidup tanpa Ibuku lagi setelah menikah. Tidak akan ada lagi yang mengomeliku di pagi hari, tidak ada lagi yang memasakkan makanan faforitku atau memukulku saat aku melakukan kenakalan.
"Ada Sasuke yang menjagamu kan?! Kau akan menjadi seorang istri. Jadilah istri yang baik untuknya"
"Seperti Ibu?" Ibuku tertawa kecil mendengarku.
"Ya, seperti Ibu"
Dan malam ini berlanjut aku tidur dalam pelukan hangat Ibuku.
.
.
.
.
.
"Ennģhh sepuluh menit lagi Ibu" ini pasti sudah pagi. Tapi aku masih malas membuka mataku. Aku masih sangat mengantuk.
"Bangun sayang!" Ah suara siapa ya. Aku masih mengantuk. Jadi aku mohon jangan ganggu aku.
Cup
Kenapa aku merasa ada yang mencium bibirku? Ah ini pasti mimpi.
"Sayang! Kau tidak ingin pergi kencan?"
What the...
Mataku terbuka sepenuhnya "Sasuke-kun?" Aku terkejut melihatnya di kamarku. Dia tersenyum manis. Oh itu sangat indah.
"Bersiaplah mandi. Setelah itu kita pergi berkencan"
"Kencan?"
.
.
.
.
.
.
¤¤¤TBC¤¤¤
Terima kasih banyak kpd :
1. dnrkaixo : Arigatou, ini sudah update.
2. tomat ceri : Hehe, maaf banget ya. Tapi itu cuma kebetulan aja..sumpah..Lagian kenapa harus di patokin sama milik beliau, padahal ada banyak bgt cerita di ffn ttg prjodohan..haha Saya tidak terinspirasi dari 'nama' yang sudah anda sebutkan. Ini semua hanya ketidaksengajaan. Tapi terima kasih reviewnya. Eh, bukannya ceritanya sangat berbeda jauh ya, kenapa disamain?
3. BlackHead394 : Arigatou, padahal saya newbe disini. Saya benar-benar tersanjung..hehe. ini sudah update.
4. Laifa : Arigatou review-nya.
5. Srisaver528 : Arigatou say, ini sudah update.
6. Jamurlumutan462 : Arigatou, review-mu tidak pernah telat..hehe ini sudah update.
7. Shinma Hanasaki : Hehe..Arigatou koreksinya. Padahal sudah cek beberapa kali, tapi ternyata masih ada aja typonya. Review-nya tengkyu.
8. ayutami : Ini sudah lanjut.
9. Guest : Ini sudah lanjut.
10. Kirara967 : Arigatou, ini sudah update.
Ok bye.. See ya next chapter!
