"Ennģhh sepuluh menit lagi Ibu" ini pasti sudah pagi. Tapi aku masih malas membuka mataku. Aku masih sangat mengantuk.
"Bangun sayang!" Ah suara siapa ya. Aku masih mengantuk. Jadi aku mohon jangan ganggu aku.
Cup
Kenapa aku merasa ada yang mencium bibirku? Ah ini pasti mimpi.
"Sayang! Kau tidak ingin pergi kencan?"
What the...
Mataku terbuka sepenuhnya "Sasuke-kun?" Aku terkejut melihatnya di kamarku. Dia tersenyum manis. Oh itu sangat indah bagiku.
"Bersiaplah mandi. Setelah itu kita pergi berkencan"
"Kencan?"
.
.
.
.
NARUTO © Masashi Kisimoto
Warning : Typo(s), OOC dll
.
.
.
.
[Haruno Sakura akan di jodohkan dengan pria duda beranak satu / "Tapi aku tidak mau dijodohkan dengan dia yang tidak aku kenal" / "Aku akan datang melamarmu sebelum kau di jodohkan" / SasuSaku]
.
.
°°Happy Reading°°
.
.
.
[SASUKE POV]
Aku mencintainya, sangat mencintainya. Dari dulu, bahkan hingga sekarang aku masih sangat mencintainya. Aku tidak peduli jika ia tiga tahun lebih tua dariku, memangnya umur bisa jadi penghalang buat kami? Tidak. Karena cinta, menurutku tidak ada batasnya.
Aku bahagia, sangat bahagia. Dia milikku, seutuhnya milikku. Jika dulu, aku selalu membayangkan aku bisa memeluknya dan bisa menggenggam tangannya. Bisa mencium juga bisa merasakan harum tubuhnya, tapi sekarang semua itu bukan lagi sebuah bayangan atau khayalanku saja. Semua sudah menjadi kenyataan. Bukan hanya memeluk atau sekedar menggenggam tangannya, tidak hanya mencium dan merasakan harum tubuhnya, tapi aku bisa memlikinya seutuhnya, bahkan bercinta dengannya. Ah, mengingat malam panasku dengannya, membuatku menegang sendiri. Astaga kenapa aku selalu out of caracter jika berhubungan dengannya. Aku tersenyum tipis, cinta memang luar biasa.
Aku bersyukur saat ingat sore itu, Dobe datang terlambat, awalnya Dobe bilang begitu tapi ternyata ia tidak bisa datang. Entahlah, jika saat itu Dobe tidak terlambat, mungkin aku tidak akan pernah bisa berbicara secara langsung dengan Sakura. Dan hubunganku dengannya tidak akan berkembang sama sekali. Mungkin aku harus berterima kasih pada Dobe untuk ini.
.
.
.
Minggu, 28 Maret 20xx
Pagi ini aku datang ke rumah calon istriku, berniat memberi kejutan sedikit dengan kedatanganku yang secara tiba-tiba untuknya. Dan aku tidak menyangka aku tertawa, aku bisa tertawa, mengingat seorang Uchiha sangat sulit bisa tertawa. Sial, hanya bertemu dengannya saja membuatku sangat bahagia.
Ibu Sakura, Mebuki baa-san menyuruhku langsung menemui Sakura kekamarnya. Aku senang, karena beliau begitu mempercayakan anaknya padaku. Boleh aku berbangga diri untuk ini?
Aku melangkahkan kakiku pelan masuk kekamarnya. aku sedikit berpikir kenapa pintu kamarnya sama sekali tidak dikunci. Tapi tak masalah juga, asal aku bisa bebas masuk kedalam kamarnya.
Aku melihatnya, dia cantik. Terlihat sangat polos dan manis. Meskipun ia tidak memakai make up tapi ia tetap terlihat begitu cantik, aku menyukainya.
Aku mendekat, menempati sisi kosong tempat tidurnya. Lihatlah! Ia masih tertidur pulas dengan selimut yang menutupinya hanya sebatas sampai pinggulnya. Ia tidur menyamping. Dan gadisku, terlihat seksi. Aku melihat wajahnya, rambutnya yang panjang tergerai menutupi sebagian bantal yang ia pakai dan bibirnya yang sedikit terbuka. Gadisku menggemaskan. Lalu bahunya yang polos sangat menggodaku.
Ah aku ingat dengan tujuanku kesini, aku melihat arah anak jarum pada jam tanganku lalu kembali melihat gadisku. Aku tersenyum tipis.
Aku menyentuhnya, lebih tepatnya membelai pipinya. "Eenngghh sepuluh menit lagi, Ibu" Aku rasa ia mulai merasakan sentuhanku. Musim semiku membuatku sangat gemas. Dasar.
"Bangun sayang!" Ia menggeliat karena sentuhanku, tapi ia tidak lekas membuka kedua emeraldnya. Terpaksa aku harus menciumnya. Mencium tepat dibibirnya. Kalian teringat dongeng Snow White, tapi ini bukan cerita dongeng tentang bagaimana Sang Pangeran bisa membangunkan Putri-nya.
"Sayang, kau tidak ingin pergi kencan?" Aku tersenyum manis saat ia membuka mata.
Dan aku bahagia karena hal pertama yang ia lihat saat ia terbangun adalah AKU. Aku terkekeh saat melihatnya terkejut. Ia sontak bangkit dari tidurnya, astaga melihat tubuhnya yang hanya memakai lingerie putih tipis membuatku ingin memakannya. Meskipun tidak transparan tapi tetap saja dadanya bahkan setengah terlihat. Sial, aku ingin menenggelamkan wajahku diantara dua dadanya yang menyembul itu.
"Kenapa kau bisa masuk?" tanyanya.
Aku gusar, antara keinginanku untuk menjamahnya atau menahan hasratku.
Menghela napas besar, akhirnya aku memilih untuk menahan nafsuku. Mengabaikan pertanyaannya.
"Bersiaplah, kita akan pergi kencan" Aku tersenyum. Dan setelah mencium lama bibir mungilnya, aku langsung beranjak meninggalkan ia dikamarnya.
"Kencan?" Aku menyeringai membayangkan wajah gemasnya pasti sedang terkejut.
.
.
.
.
.
"Kita akan kemana, Sasuke-kun?" Tanyanya bingung menatapku yang sedang menyetir. Kami dalam perjalanan kesuatu tempat. Setidaknya aku harus membawanya ketempat dimana ada keluarga barunya yang sedang menanti kedatangannya. Aku tersenyum menoleh kearahnya.
"Mansion Uchiha"
Kami sampai, saat sudah sampai didepan pintu utama Mansion keluargaku, langkah kakinya tiba-tiba terhenti. Ada apa dengannya?
"Ada apa?" Aku mengangkat satu alisku kenapa ia menatapku aneh.
Wajahnya mengerut seperti sedang mengingat sesuatu "Aku yakin, sebelumnya aku tidak pernah kesini, tapi kenapa aku merasa mengenal tempat ini?"
Aku tersenyum senduh melihat calon istriku. "Kau akan tahu nanti" Aku suka ia memejamkan matanya saat aku mengusap wajahnya dengan ibu jariku "Ayo kita masuk" ia membuka matanya dan mengangguk. Aku menggandeng tangannya dan langsung membawanya masuk.
Saat didalam, aku tidak melihat siapapun disana. Termasuk Ayah dan Ibu.
"Tuan dan Nyonya ada di ruang rekreasi, Sasuke-sama" Tiba-tiba suara Ayame terdengar ditelingaku, ia salah satu pelayan di Mansion ini. Aku mengangguk dan langsung membawa Sakura ke tempat mereka menunggu kami.
"Selamat datang, sayang" Ibuku tersenyum lebar ketika ia melihat calon menantunya. Ia bangkit dari kursinya dan langsung menghampiri kami. Ibu memeluk Sakura dengan sayang. Ku lihat Sakura juga tersenyum, aku tersenyum tipis saat tahu jika kekasihku gugup dengan situasi ini. Kemudian aku melihat Ayahku menyusul menghampiri kami. Ia tersenyum juga memeluk Sakura "Senang bertemu denganmu lagi, nak" Ayahku menepuk pelan kepala kekasihku sehingga kekasihku menunduk malu.
"Saya juga senang bisa berkunjung kerumah Baasan dan Jiisan" Sakura tersenyum gugup dengan berojigi pada Ayah dan Ibuku.
"Ah bagaimana kalau kau panggil kami dengan panggilan Ayah dan Ibu!" Ibuku mengerling pada kami. Aku lihat Sakura tersenyum canggung dan Ibu menoleh ke arahku, huh ayolah jangan menggodaku "Kalian akan jadi suami istri nanti. Jadi panggil kami Ayah dan Ibu ya, Sakura-chan"
Sakura tertawa kecil "Baiklah, Ibu emm juga Ayah" apa aku tidak salah lihat kalau wajah Sakuraku memerah?
"Ibu, setidaknya biarkan kami duduk dulu" Ibuku terkekeh mendengar ucapanku.
"Ah kau benar Sasu-kun. Maafkan Ibu" Ibu menggandeng lengan Sakura dan menuntunnya untuk duduk di sofa. "Ayo Sakura-chan, kita duduk dulu. Ibu ingin mengobrol banyak padamu"
Sedari tadi Sakura terus tersenyum, namun sedikit menyebalkan karena Ibuku terus memonopolinya.
"Kapan ya terakhir kalinya, Sakura kesini?"
"Kalau tidak salah saat umurnya masih dua belas tahun" Ayahku yang menjawab. Dulu, itu sudah lama sekali.
Aku perhatikan wajah Sakura mengernyit "Maaf Ayah, tapi aku sama sekali tidak ingat kalau dulu pernah kesini?" Sakura menggigit bibir bawahnya. Sepertinya ia masih merasa bingung.
"Benar sayang, waktu kecil kamu sering bermain disini. Bersama Sasuke dan juga Itachi" Ibuku tersenyum lembut menatap Sakura yang duduk disebelahnya. Ibuku menggenggam erat tangan kekasihku.
"Itachi?"
"Iya Itachi, kakak Sasuke. Tapi sekarang ia ada di london mengurusi bisnis milik suamiku"
Kepala Sakura menunduk, ia seperti berusaha memahami sesuatu disini. Aku harap ia bisa mengingatnya. Mengingatku.
.
.
.
"Aku tidak tahu kalau kau mengajakku kencan dirumahmu" Aku terkekeh. Gadisku ternyata bisa merajuk seperti ini.
Mobilku berhenti tepat didepan gerbang rumah Sakura "Lain kali kita ketempat yang kau sukai" Aku tersenyum melihatnya mengerucutkan bibirnya.
"Ya ya terserah kau sajalah" Sakura mulai melepas sabuk pengamannya.
"Maaf aku tidak bisa mengantar sampai kedalam" Sakura menoleh sekilas kepadaku.
"Aku kira kau akan mampir sebentar?" Sebenarnya aku sangat ingin mampir, tapi aku masih ada suatu pekerjaan yang harus aku selesaikan.
Aku menggeleng "Maaf"
Saat ia akan keluar, aku mencegahnya "Setidaknya, berikan aku ciuman dulu"
Aku melihatnya salah tingkah, astaga tingkahnya membuatku ingin tertawa saja sekarang.
"Sebentar saja" Dia mulai menawar.
"Ya sebentar saja" Aku menciumnya. Awalnya aku ingin menciumnya singkat, tapi kenapa aku tidak bisa menjauhkan wajahku darinya. Sial, bibirnya benar-benar membuatku candu. Dan aku menginginkan lebih dari ini.
"Emnngghh.." Aku suka suaranya. Suaranya semakin membuatku bersemangat untuk mencumbunya.
Aku melumat bibirnya, memasukkan lidahku kedalam mulutnya. Memiringkan kepalaku agar aku bisa semakin memperdalam ciumanku. Aku menarik pinggulnya, membuatnya mendekat padaku. Aku masih terus mencumbu bibirnya dan meremas payudaranya dari luar "Sahsuu..Emmnngg" Aku menyibak sedikit kera bajunya dan memberikan tanda dibahu polosnya. Selesai. Aku tidak mau cumbuanku sampai terlampau jauh lagi. Ada yang harus segera aku selesaikan.
"Makan siang denganku. Kita kencan diluar" Aku tersenyum, ia terlihat merona tipis "Kau harus terlihat mempesona nanti" aku menatapnya lembut, aku harap ia tahu bahwa aku begitu memujanya.
"Bisakah kau berhenti menggodaku!" apa ini sebuah perintah? aku terkekeh tapi aku tidak peduli.
"Sayang sekali tidak bisa" Dan ia langsung melarikan diri dariku. Aku rasa wajahnya pasti memanas karena aku.
.
.
.
.
Hari ini sebenarnya hari ulang tahun kekasihku, tapi aku bahkan belum memberinya ucapan selamat sampai sekarang. Aku tahu ia sudah menanyakan beberapa hal padaku seperti apa ada yang ingin aku sampaikan padanya atau tidak. Aku tahu, ia ingin aku mengucapkan selamat ulang tahun padanya, tapi tidak, aku tidak akan memberikan selamat padanya sebelum waktu yang tepat tiba. Aku tahu ia bersedih karena ini, tapi aku janji, setelah ini kau akan tersenyum bahagia.
Aku berniat memberikan kejutan ulang tahun dengan menyiapkan makan malam berdua juga berdansa dengannya, mungkin. Tapi kalau menunggu sampai malam datang, aku fikir itu terlalu lama. Ah, jadi kejutan bisa aku siapkan saat makan siang nanti, lalu aku masih bisa makan malam yang romantis dengannya nanti malam. Sempurna.
Sialan, aku sangat payah dalam hal ini. Sungguh. Aku bahkan sudah memutar otak untuk memberi kejutan seperti apa untuk Sakura, kado seperti apa yang harus aku beri untuknya. Aku bukan orang yang ahli dalam hal ini. Jadi yang ada di otakku hanya ini yang ada. Kejutan sederhana dan makan malam romantis. Aku harap ia tidak kecewa nantinya. Ya, semoga saja.
.
.
.
Waktunya sangat mepet. Saat aku tiba di appartemen-ku, aku langsung bergegas masuk kedalamnya. Aku tidak akan terkejut jika didalam sana aku menjumpai Ino dengan kekasihnya, Sai. Serta ada sahabatku, Naruto si Dobe dengan kekasihnya Hinata. Sekitar satu jam yang lalu, aku sengaja menghubungi sahabatku juga sahabat Sakura agar mereka bisa aku ajak kerja sama dalam hal ini, dan aku bersyukur mereka langsung meng-iakan ajakanku untuk memberi kejutan ulang tahun pada Sakura.
"Kau sudah datang Teme?" Itu suara Dobe.
"Kami hampir selesai, sedikit lagi" Ino memberitahuku apa saja yang masih belum selesai. Aku melihat ke arah jam dinding, sudah menunjukkan pukul 11. Aku mengamati ke sekeliling penjuru ruanganku. Hiasan sudah tertempel rapi didinding dan berbagai tempat. Aku cukup takjub mereka bisa mengerjakannya dengan cepat. Ada balon juga ada boneka Doraemon kesukaannya. Boneka itu ada yang berukuran kecil dan..tunggu...ada yang belum terlihat olehku.
"Doraemon yang aku pesan belum datang?" Aku jadi khawatir kalau pesananku belum sampai juga. Semua masih sibuk, kekasih Dobe sedang menata makanan diatas meja, meski ada beberapa makanan yang belum jadi tapi ada Ino sedang berusaha menyelesaikannya. Sai sedang berusaha meniup balon sebanyak mungkin. DOORR satu balon meletus sebelum balon itu selesai ditiup. Ia sedikit mengusap pipinya yang terkena pecahan balon. Aku tidak peduli, tapi Ino, Naruto danHinata mereka semua menertawai apa yang menimpa Sai.
"Tidak apa-apa" ia tersenyum, tapi entahlah, senyumannya aneh "Jangan hanya menertawaiku, bantu aku"
"Kami juga sibuk, baka" Kekasihnya sendiri yang menimpalinya.
Aku menghubungi toko boneka dimana tempat aku memesan boneka itu, bertanya kenapa boneka yang aku pesan belum tiba dan katanya masih ada ditengah perjalanan kesini.
Bagus, aku bisa sedikit tenang untuk ini.
"Apa aku perlu memasang lilin juga di lantai?" Tanya Hinata, Ia terlihat malu-malu. Ini siang apa bagus kalau menyalakan lilin? Tapi ini didalam ruangan tertutup, sepertinya bagus juga kalau ada lilin yang menyala.
"Aku fikir tak apa jika ada lilin. Lagipula disini akan sedikit redup jika semua jendela ditutup"
"Baiklah, Hinata nyalakan lilin sebanyak mungkin dan disepanjang jalan menuju meja makan!" perintah Ino "Aku akan segera menyelesaikan ini" aku lihat Ino membuat sup rumput laut, dan juga membuat puding sekaligus. Apa kami kekurangan tenaga disini? semua terlihat tergesa-gesa dan juga nampak serius.
Aku kemudian beranjak menutup semua jendela yang ada.
"Boneka pesanan anda sudah sampai" tiba-tiba terdengar teriakan seseorang dari luar. Ah aku lupa menutup pintu, mungkin dia kurir dari toko boneka.
Aku keluar, aku melihat ada dua orang yang membawanya.
"Bawa saja masuk dan letakkan disana" aku menunjuk sisi kosong diruang tamu tepat sebela sofa panjang. Dua kurir itu langsung mengangkat boneka Doraemon yang tingginya sekitar 170 cm ketempat yang aku tunjuk. Boneka itu sangat besar.
"Terima kasih" aku memberi tips pada mereka dan mereka hilang dibalik pintu.
.
.
.
Sakura sekarang sudah bersamaku. Kami dalam perjalanan menuju apppartemenku. Kalian tahu, gadisku terlihat cantik siang ini. Dia memakai mini dress berwarna putih berlengan panjang. Dress yang dipakainya, panjangnya mungkin sampai sejengkal diatas lutut. Jadi ketika ia duduk, paha putihnya langsung terekspose dimataku. Aku melirik kearah pahanya yang terekspos, aku suka itu. Tubuhnya memang sempurna dimataku.
Aku tersenyum. Aku mengenggam tangan kirinya "Bagaimana perasaannu?"
Sakura mengedikkan bahu "entahlah, tapi jujur, aku merasa sedikit gugup"
"Gugup berkencan denganku?" Dia cantik saat wajahnya memerah dan aku semakin menyukainya.
Sakura mendengus "Fokus saja menyetir!" aku terkekeh, ia membuang muka ke arah jalanan.
Akhirnya kita sampai. Saat tiba didepan pintu appartemenku, aku langsung mempersilahkan dia masuk begitu saja. Jika yang lainnya mungkin akan menutup kedua matanya, tapi aku tidak. Kalau aku meminta atau menutup matanya, dia pasti berfikiran aku sedang memberinya kejutan. Sama saja bohong kalau seperti itu.
Aku sudah memberitahu pada rekan timku, maksudnya Dobe, Ino, Sai, dan Hinata kalau aku akan menyuruh Sakura masuk terlebih dahulu, jadi jika terdengar langkah kaki yang memasuki ruang tamu maka dia adalah Sakura.
Dan..
"Kejuuttaaannnn..." Tim ku, Mereka berteriak kompak penuh semangat.
Aku tersenyum berjalan dibelakang kekasihku. Kemudian aku melangkahkan kakiku sampai di hadapannya. Ia nampak terkejut dan tidak bisa berkata apa-apa, air mukanya nampak bahagia.
"Selamat ulang tahun, sayang!" Aku menciumnya, namun ia masih tak bereaksi. Aku tahu ia masih terkejut dengan kejutan ini. Dan aku berhasil. Kami semua berhasil membuat kejutan ini untuknya.
.
.
.
.
.
•••TBC•••
A/n : Mengenai Pria duda yang dulunya sempat akan dijodohkan dengan Sakura, akan muncul di chap depan. Lalu mengenai alasan kenapa hubungan keluarga Uchiha dan Haruno seolah saling mengenal, akan terjawab sedikit demi sedikit seiring chapter berjalan.
••
Terima Kasih banyak :
dark blue and pink cherry, sqchn, Sakura Istri Sah Sauke, Nurulita asLita-san, puma178, emiko, ayuniejung, Srisavers28, AryaniCentric, ririsakura, kakikuda, lilyooo, Laifa, Guest, kirara967, kim sa ra, zarachan, w , YamaKen, CEKBIOAURORAN, dolphin1099, shie raizel, Younghee Lee, Chiwe Sakura, hanazono yuri, lightflower22, echaNM.
Arigatou..
Salam dari Ran, 31-12-16
AND HAPPY NEW YEAR 2017
Sampai jumpa tahun depaannn!
