ㅡKingdom's Maniac
"In times of crisis, the wise build bridges, whilethe foolishbuild barriers. We must find a way to look after one another as if we were one single tribe."
Cast :
Kang Daniel - Park Jihoon - Ong Seongwoo
Lai Guanlin - Yoo Seonho - Park Woojin
Lee Daehwi - Im Youngmin - Kim Dong hyun
Kang Dongho (Baekho) - Choi Minki (Ren)
Choi Minho - Lee Taemin - Choi Siwon - Gongyoo
And others will be revealed by itself.
mikakko,2018
"lni,makanlah" Naeun baru saja selesai memasak daging untuk anak-anaknya. Mereka sedang makan malam, menunggu sang kepala keluarga datang.
"Terimakasih, Ibu"
Dua kakak-beradik itu lalu memakan makanan mereka dengan lahap, sesekali mereka tertawa satu sama lain
"Maafkan aku anak-anak, seandainya kalian mengetahui kebenarannya"
"Selamat malam"
Tiga orang yang sedang menikmati santapan malam mereka langsung berdiri dan membungkuk kepada sang kepala keluarga
"Ayah! Aku merindukanmu" Seonho lalu memeluk ayahnya erat, Ia sangat merindukan sang ayah. Entah kenapa, semakin hari ayahnya itu jadi semakin sibuk saja. Padahal kan sebentar lagi tahtanya anak diberikan kepada anak-anaknya, kenapa ia sangat sibuk sekali?
"Aku juga. Aku merindukan kalian semua" Sang ayah lalu duduk dikursinya, menunggu sang istri mengambilkan makanannya
"Ini makan malammu" Naeun lalu memberikan makan malamnya kepada sang suami,
"Terima kasih, sayang"
"Sebenarnya, tempat apa ini dan kenapa kami dibawa kesini? Bahkan ibu bilang ini adalah rumah kita, yang benar saja" tanya Guanlin setelah mereka semua selesai makan
"Sebenarnya juga, ada yang ingin kami bicarakan kepada kalian" jawab sang ayah
"Ayo kita ke ruang bawah"
"Tempat apa ini?" tanya Seonho
"Duduklah, pangeran-pangeranku" jawab Naeun
"Ayo mulai, Taemin"
Ya, itu Taemin. Choi Taemin. Atau harus aku bilang LAI Taemin?
"Sebenarnya, aku ingin memberitahu ini dari dulu, hanya saja terlalu rumit. Aku rasa sekaranglah saatnya, saat kalian sudah dewasa dan sebentar lagi menjadi ketua Alphanoz" mulai Taemin
"Sebenarnya.." Taemin langsung memegang erat tangan sang istri
"Naeun bukanlah ibu kalian"
"Tidak mungkin" jawab Guanlin
"Ya, benar apa yang dikatakan ayah kalian, aku bukanlah ibu kandung kalian" jawab Naeun sambil menahan tangis
"Itu saja? Ayolah, itu biasa saja, ayah. Bukan informasi penting. Walaupun begitu, sekarang ibu adalah ibu kami, tidak peduli ia hanyalah ibu tiri atau semacamnya" jawab Seonho
"Kau benar, Seonho, hanya saja.."
"Lalu siapa Ibuku?" tanya Guanlin memotong ucapan sang ayah, dengan nenekannya kata ibuku.
"Akulah ibu kalian" ucap Taemin tegas
Keempat orang disana terdiam, sepasang orang tua itu siap dengan apa saja respon anak-anaknya
BRAKK
"INI SEMUA TIDAK MASUK AKAL! BAGAIMANA BISA SOSOK AYAH BAGIKU DAN ADIKKU SELAMA INI ADALAH IBU YANG SEBENARNYA? AKU TIDAK MENGERTI MAKSUD DAN TUJUANMU ITU, LAI TAEMIN!"
Semua orang diam, Guanlin baru saja membanting meja didepan dan berteriak sambil menunjuk sang Ayahㅡatau ibu?
Naeun menangis, Guanlin tidak pernah bertindak kurang ajar kepada suaminya, Guanlin adalah anak yang sopan dan mematuhi semua perintah ayahnya
"A-ayah bisa jelaskan,Guanlin. Tolong dengarkan ceritaku"
Seonho yang melihat hyungnya marah besar, mencoba menenangkan hyungnya, "Hyung, duduklah. Ada baiknya kita dengarkan penjelasannya"
Guanlin lalu duduk kembali, Seonho adalah kelemahannya.
"Terimakasih, sebenarnya.. Aku adalah Choi Taemin. Adik dari mendiang Raja Choi Siwon dan... Choi Minho" jelas Taemin
Guanlin hanya menatap datar dan dingin sang ayah, "Lanjutkan"
"Bertahun-tahun lalu.."
"Hyung, kita harus bagaimana? Sumpah itu.."
"Tenang saja, Taemin. Aku yang akan mati. Maafkan aku telah menanamkan perasaan ini padamu"
Ya, rumor mengenai Raja Choi Minho yang jatuh cinta kepada adik kandungnya sendiri, Choi Taemin, benar adanya.
Mereka sekarang berada di ruang rahasia istana, merencanakan sesuatu
"Tapi.. Bagaimana,hyung?"
"Dengar, aku.. Akan pergi. Tolong, bawa keluarga kita ke tepi desa, aku memiliki rumah disana, ibu tahu tentang rumah itu. Temui Lai Jongin, ia adalah ksatriaku. Dan, jangan mencariku. Ingat, sumpah itu.." Minho tercekat dengan omongannya sendiri
"Ya, aku mengerti hyung" jawab Taemin
"Selamat tinggal, Taemin"
"Selamat tinggal, Minho"
Sejak itu, Minho menghilang. Warga Quantelle cemas, raja yang mereka damba-dambakan telah menghilang. Dan hebatnya, tidak ada yang berani berasumsi tentang kemana perginya Minho. Mereka semua bungkam. Bahkan, setelah itu, Siwon mengumumkan bahwa ia dan keluarganya akan pergi. Bersamaan Taemin yang akan menikah dengan seseorang dari negri lain. Warga tambah cemas, tidak ada yang memimpin kerajaan ini.
"Kau mencintai hyungmu sendiri?" tanya Guanlin
"Ya, aku bodoh" jawab Taemin
"Hm, lanjutkan"
Taemin dan keluarganya hidup di rumah besar milik Minho di tepi desa, mereka telah bertemu Lai Jongin yang ternyata adalah seorang ksatria hebat yang juga seorang wizard. Minho memberi pesan-pesan kepada Jongin, termasuk untuk memantrai semua penduduk desa agar mereka tidak mengenali Taemin dan keluarganya.
Taemin sedang duduk di jendela, ia menangis. Kenapa nasibku buruk sekali? Ia memandangi perutnya, mengelus permukaan datar itu
"Minho, aku mengandung anakmu. Anak kita"
"Kau apa?"
Taemin menoleh kebelakang ia mendapati sang ksatria, Lai Jongin berada di kamarnya
"Ya, Jongin. Aku hamil, anak Minho"
Jongin tertegun, benar kata Minho, ia harus melakukannya
"Ikut aku, Taemin. Ada yang perlu aku beritahu"
Jongin lalu mengajak Taemin ke suatu air terjun yang sangat indah,
"Indah" kata Taemin
Jongin hanya tersenyum menanggapinya,
"Ini" Jongin memberikan Taemin sebuah amplop coklat yang berisi tulisan yang sangat di kenalinya
"Dengan ini, saya selaku Raja dari Quantelle, Choi Minho, membuat sumpah serta peraturan untuk kerajaan kita. Bahwa mereka yang memiliki hubungan darah, tidak diperbolehkan untuk jatuh cinta satu sama lain. Jikalau ada yang melanggar, salah satu dari mereka akan mati dan dilahirkan kembali tanpa ingatan tentang masa lalunya" Taemin membaca isi amplop itu, surat sumpah kerajaan Quantelle
"T-tunggu, seingatku isi sumpah itu bukanlah seperti yang baru saja kau bilang, ayah" jawab Seonho
"Kertas itu robek. Entah kemana penggalan kata-kata terakhir itu pergi, tapi, semua tetuah dan generasi kami tahu isi penuh dari perjanjian itu" jelas Naeun yang sudah berhenti menangis dan memeluk Guanlin sambil mengelus kepalanya
"Jadi.. Apa Minho masih hidup? Tanya Guanlin
Taemin tersenyum, "Dengarkan saja dulu"
"Lalu?"
"Raja Minho, memberiku wasiat, sebelum dia menghilang" jelas Jongin sambil berjalan ke tepi air terjun
"Ia bilang padaku untuk melindungimu, mengurus keluargamu dan kehidupan kalian. Kau adalah tanggung jawabku, Taemin. Ia juga berkata, orang yang melanggar peraturan itu bukan mati, tetapi dianggap mati. Orang-orang akan melupakannya, tetapi ia akan menjadi orang lain dengan wujud yang sama" jelas Jongin
"Ja-jadi, Minho hanya menghilang? Tetapi tubuhnya masih ada? Jadi.. Seperti hilang ingatan ya?" tanya Taemin sambil duduk dipinggir danau kecil itu
"Ya, seperti itulah. Ia juga tau soal anakmu, ah, anak kalian"
"Bagaimana bisa? Bahkan aku.. Baru mengetahuinya tadi" herannya
"Apakah kau lupa bahwa kakakmu itu memiliki penglihatan akan masa depan? Dia melihat beberapa tahun kemudian, akan ada dua orang anak kembar yang memimpin gen kita. Dan itulah, anak kalian" jelas Jongin
"Jadi.. Aku harus bagaimana?" tanya Taemin pasrah
"Pergilah bersamaku, Taemin. Aku akan bertanggung jawab atas anak-anakmu. Kita akan menikah"
Taemin terkejut, tapi setelah berfikir, ia mengangguk. Ia akan menikah dengan ksatria ini.
"Ekhem, singkat cerita, aku dan Jongin menikah. Itulah mengapa margaku menjadi Lai" lanjut Taemin
"Lalu kemana Jongin sekarang, ayah?" tanya Guanlin
"Ia.. sudah meninggal. Setelah kehamilanku yang ke 200 hari, tepat hari itu juga Quantelle diserang, lebih tepatnya markas Alphanoz dan Phoexian diserang. Jongin terlibat, ia terkena mantra keras, kami sudah membawanya ke healer Zhangㅡkeluarga healer yang paling hebatㅡ tapi nyawanya tak terselamatkan"
"Ta-taemin.." panggil Jongin yang tengah kesusahan bernafas
"Hiks.. Ya Jongin? Bagaimana? Ada apa? Aku disini.. hiks" Taemin langsung memeluk tangan orang yang sudah banyak membantunya dan keluarganya itu, hangat, itulah yang Taemin rasakan
"Pergi, dan carilah Lai Seokhoon"
"A-apa?"
"Bilang padanya... lakukan rencanaku... pesan Minho... Lakukan" mata Jongin tertutup, nafasnya terengah, sesak
"Jongin?! Ak-aku.."
"Tolong, jaga anak-anakmu, anak Minho, keponakanku.. B-beri nama anak pertamamu dengan nama Gu-guan... Guanlin.. Itu kemauan Minho.."
"Hiks.. Jongin.. Ya, aku akan melakukannya, bertahanlah Jong" tangis Taemin semakin menjadi
"Ti-tidak.. Selamat berjuang, Lai Taemin"
Itulah kata-kata terakhir Jongin, sebelum benar-benar menutup matanya dan berhenti bernafas. Seluruh tubuh Jongin setika pucat dan dingin. Lai Jongin sudah tiada.
"Lai Seokhoon? Paman Seokhoon?" tanya Seonho
Taemin mengangguk menjawab pertanyaan sang anak bungsu,
"Apa yang dilakukan paman Seokhoon?" tanya Guanlin
"Itu.."
"Seonho sayang, ini makananmu" Naeun datang dengan semangkuk besar bubur dan keripik untuk Seonho, ya Seonho saja. Porsi si bungsu ini 5x porsi sang kakak
"Terimakasih ibu!" Seonho lalu langsung menyantap bubur buatan sang ibu, dan memberikan keripik tadi ke kakaknya yang dibalas dengan senyuman tampan seorang Lai Guanlin
"Awywah, lhanjutkan cerityamu (ayah, lanjutkan ceritamu)" kata Seonho dengan mulut penuh makanan,
Ketiga orang disana tertawa pelan menahan gemas untuk mencubiti pipi si bungsu Lai itu
"Baiklah, jadi.."
"Choi Minho juga memberiku wasiat, karena ia sudah mempunyai feeling bahwa adik sepupuku akan tewas" jelas Seokhoon sambil membenarkan kacamata bacanya
Taemin hanya mengikuti Seokhoon sambil mengusap-usap perutnya, ini sudah hari ke 203 ia mengandung, sisa 197 hari lagi dan ia akan menjadi seorang ibu.
Kondisi hamil atau mengandung di dunia mereka berbeda dengan dunia kita. Disaat kita yang hanya memerlukan waktu 9 bulan atau kurang lebih 280 hari, mereka memerlukan waktu selama 400 hari. Dan juga, baik perempuan maupun laki-lakiㅡtidak semua laki-lakiㅡ yang mengandung, perut mereka akan membesar pada hari ke 390 dan selanjutnya sampai hari ke 400 tiba, dan mereka akan melahirkan anak mereka.
"Ini foto Son Naeun, seorang gadis desa yang cerdas, Minho ingin kau menikah dengannya. Setelah itu, aku akan menyihir agar semua penduduk desa mengetahui fakta hanya sebatas kau mengubah margamu dan menikah dengan Son Naeun. Anak-anakmu kelak akan diberitakan sebagai anakmu dan Naeun" jelas Seokhoon sambil meperlihatkan foto gadis cantik dengan dress soft pinknya
"A-aku mengerti.. Tapi apakah Minho masih hidup? Dimana dia?" tanya Taemin
"Masih, tapi.. Ia menghilang untuk sementara. Penguasa langit akan menghadirkannya kembali ke dunia ini setelah 10 tahun"
Taemin mengangguk, 10 tahun. Ya, ia yakin ia bisa. Menunggu Minho selama 10 tahun.
"Maafkan Ibu, anak-anak. Ibu tidak bisa menjaga kalian, maafkan ibu kelak nanti kalian harus lahir tanpa sosok ayah" kata Taemin dalam hati sambil mengelus perut ratanya
"Seokhoon hyung, apakah.. Anak-anakku bisa bertemu dengan Minho?"
"Ah ya, Minho juga berpesan, carilah ia ketika anak-anaknya sudah akan menjadi pemimpin Alphanoz" jelas Seokhoon sambil tersenyum
"Setelah itu ayah menikah dengan ibu?" tanya Seonho yang dibalas anggukan
"Ya, singkat cerita aku menikah dengan Naeun, dan semua seperti normal saja, sampai sekarang, sudah saatnya kalian melihat sosok ayah kalian yang sesungguhnya" ujar Taemin sambil mempersiapkan diri untuk membuat portal
"Dimana ayah sekarang?" tanya Guanlin
"Ia tinggal di pinggir hutan, entahlah, seorang prajurit mungkin?" jawab Naeun
Guanlin dan Seonho saling menatap dan mengangguk,
"Nah, lihatlah" kata Taemin sambil memperlihatkan sebuah portal yang menampakkan seorang pemuda yang sedang berjalan didalam hutan, tetapi pemuda itu membalikan badannya, sehingga mereka tidak dapat melihat wajah tampannya
"Apakah itu Ayah?"
"Ya, Seonho, itu Ayah kalian. Ayah kalian yang sebenarnya" jawab Taemin menatap sendu punggung yang membawa baju dan pedang tersebut.
"Bisakah aku bertemu dengannya?" tanya Guanlin
"Bisa-bisa saja, tapi ya.. Ia tidak akan tahu siapa kalian"
PRANGG
Ketiga orang itu lalu menoleh kebelakang, sang Ibu, Naeun tengah pingsan dengan bekas-bekas pecahan kaca ditubuhnya
"A-apa yang terjadi?" tanya Seonho
Guanlin langsung bergegas menghampiri sang ibu yang terbaring lemah
"Ibu, bangun ibu! Ibu!" teriak Guanlin
"Ayah, lakukan sesuatu!"
Taemin memegang sang istri, tidak bergerak. Darah mengalir deras dari seluruh tubuh pucat wanita cantik itu,
"Tidak, Guanlin. Ia sudah tidak bernyawa"
"TIDAK! IBU! BANGUN IBU!" Guanlin menangis kencang sambil terus memeluk jasad sang Ibu tiri, wanita yang sangat ia cintai telah meninggalkannya.
Seonho diam. Ia tak tahu harus berbuat apa. Ia lalu melompat keluar dari jendela yang ada di ruangan tersebut
"SEONHO!" teriak Taemin, ia tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan anak bungsunya,
"Guanlin, kejar Seonho, jaga terus adikmu. Aku akan mengurus Naeun" perintah Taemin yang diangguki oleh Guanlin, dengan tidak rela ia meletakan jasad sang ibu
"Naeun.. Ma-maafkan aku. A-aku mencintaimu, istriku" ucap Taemin lalu mencium bibir Naeun, tidak peduli dengan bau anyir yang ia rasakan.
Seonho berlari, terus berlari dan melompati apa saja yang menghalangi jalannya.
Ia berhenti ketika melihat sesuatu yang bercahaya, ia mengikuti cahaya itu. Disana terdapat air terjun dengan danau kecil yang menampung air dari air terjun itu dibawahnya. Tapi, bukan itu yang menarik perhatian Seonho, melaikan sosok pemuda tampan yang sedang berenang disana.
Seonho terus memperhatikan orang itu, ia melolotkan matanya ketika orang itu berbalik badan. Kedua orang pemuda itu saling bertatapan selama beberapa detik sampai salah satu dari mereka mengerang kesakitan dan jatuh pingsan.
Seonho membuka matanya, yang pertama ia lihat adalah jendela yang terbuka dengan gorden lusuh disampingnya, ia berusaha duduk, memegangi kepalanya yang terasa berat.
"Sudah bangun?"
Seonho refleks menolehkan kepalanya ke sumber suara, itu adalah pemuda yang ia lihat tadi di air terjun
"Ka-kau.. Membawaku kemana? A-apa yang ter--"
BRAKKK
"KEMBALIKAN ADIKKU, KEPARAT!"
Ucapan Seonho terpotong oleh suara pintu yang didobrak, itu Guanlin.
"Wow, wow, wow, tenang bung, aku tidak melakukan apapun terhadap adikmu" jawab pemuda itu
Guanlin masih menatap intens pemuda itu, ia seperti merasa tidak asing, seperti ada sebuah pikiran di otaknya yang berusaha mengingat sesuatu. Ia lalu berjalan ke kasur yang terdapat Seonho disana, ia sangat mencemaskan adik tersayangnya
"Kau baik-baik saja?"
Seonho mengangguk, "Ya, hanya sedikit pusing. Hyung.. Pemuda ini menolongku" jawab Seonho membela pemuda yang sebentar lagi akan di habisi oleh Guanlin jika ia tidak bertindak
"Benarkah? Baiklah, terimakasih, pemuda asing" Ucap Guanlin sambil membungkuk kepada pemuda itu
"Ya, sama-sama. Tapi, kau berhutang satu pintu kepadaku, tuan-tuan"
"Panggil saja tukang, aku akan membayarnya nanti" jawab Guanlin
"Wah kau baik sekali, kebetulan aku ada kenalan seorang tukang, aku akan memanggilnya. Oh, omong-omong namaku Choi Minho"
Sepasang kembar tadi seketika membeku ketika mengetahui nama pemuda asing tadi, itu.. Ayah mereka
"Y-ya, A-aku Lai Guanlin dan ini adikku, Lai Seonho... Ka-kau.. Sebaiknya kau cepat panggil tukang itu, kami akan tunggu disini. Kami tidak punya banyak waktu"
"Baiklah! Tunggu ya! Rumah Jimin dekat kok!" lalu pemuda yang kita kenal sebagai Choi Minho itu pergi meninggalkan si kembar Lai
"Hyung, apakah itu ayah?"
"Ya, Seonho, itu ayah"
"Astaga, hyung.. Kau apakan pintu ini sampai-sampai hancur seperti ini?" tukang yang dipanggil Minho tadiㅡJimin menatap iba kepada pintu tak bersalah yang tergeletak mengenaskan di lantai.
"Aish, jangan banyak bicara kau Park! Lakukan tugasmu, aku akan mengurus tamuku dulu" Minho lalu kembali ke kamarnya, menemui sepasang kembar yang ia tinggali tadi
"Hei, tukangnya sedang bekerja. Apa.. Kalian ingin makan sesuatu? Aku baru saja memancing tadi pagi, ikannya masih fresh! Sudahku bersihkan juga"
Kedua kakak beradik tadi saling menatap lalu mengangguk menjawab tawaran Minho, bagaimanapun, Seonho masih lapar dan harus makan, karena ia sedang sakit. Dan juga.. Mereka rasa akan mudah untuk dekat dengan Minho, jadi mereka bisa mengetahui satu dua hal mengenai ayah kandung mereka ini.
"Duduklah, maaf berantakan, aku sedang sibuk pelatihan akhir-akhir ini jadi tidak sempat membersihkan rumah" ujar Minho sambil menyiapkan peralatan masak seadanya,
Guanlin dan Seonho menatap dapur dan ruang makan tersebut, memang kecil, tapi lumayan. Sederhana dan bersih, ya.. Walaupun berantakan. Hei, apa yang kau harapkan dari rumah seorang pemuda yang tinggal sendirian?
"Nah, tunggu ikannya matang ya" Minho lalu duduk di salah satu kursi, sekarang posisi mereka berhadap-hadapan, "Siapa namamu tadi?" tanya Minho sambil menunjuk Guanlin
"Guanlin" jawabnya singkat, ia terpaku oleh paras tampan sang ayah
"Wah.. Kau tau? Jika aku punya anak nanti, aku ingin memberinya nama Guanlin. Entahlah, nama itu muncul saja di kepalaku, aku tidak tahu bahwa ada juga orang yang bernama Guanlin disini" oceh Minho yang dibalas senyuman oleh Seonho
"Akan ku doakan anakmu kelak akan menjadi sosok Guanlin yang berpengaruh baik kepada kerajaan ini" jawab Seonho
"Hahaha, kau bisa saja. Ah, tunggu aku akan mengecek makanannya"
"Hyung, apa yang kau lihat?" tanya Seonho
"Penderitaan. Kau?"
"Kesepian, ah, dengan sedikit kegembiraan... yang dipaksakan?"
Mereka berdua lalu menatap sendu Minho yang menata piring untuk makan mereka,
"Maaf aku hanya punya ini, semoga kalian suka"
"Ini saja sudah cukup, yang penting adikku bisa makan agar ia tidak terlalu lemas. Terima kasih banyak ay-- Minho" jawab Guanlin, mereka lalu makan dengan tenang. Sesekali mereka saling bercuri pandang, Guanlin tahu bahwa Minho berusaha mengingat mereka, tapi ia tidak bisa.
Setelah selesai makan, Guanlin membayar Jimin yang sudah memperbaiki pintu rumah Minho. Ia harusnya pulang sekarang, untuk membantu sang ayah di istana. Tapi, ia masih ingin berbicara dengan 'ayahnya yang asli'
"Choi Minho"
Minho yang sedang mencuci piring menoleh saat merasa namanya dipanggil, "Ya?"
"Boleh aku berbicara denganmu? Seonho tertidur di sofamu.. Aku akan tinggal disini sampai dia bangun, bolehkah?"
Minho tersenyum, "Tentu. Lalu, apa lagi yang ingin kau bicarakan, Pangeran Lai?"
Guanlin membesarkan matanya, ia terkejut bahwa Minho mengetahui tentang statusnya sebagai pangeran gen mereka,
"Ayo bicara dibelakang"
"Bagaimana kau tahu bahwa aku adalah.."
"Aku tahu. Kau dan Seonho, pangeran kembar yang sebentar lagi akan menjadi ketua dan memimpin gen Alphanoz. Aku juga tahu bahwa aku akan bertemu dengan dua orang pemuda yang entah datang darimana. Bahkan aku punya feeling bahwa pintuku akan rusak" jawab Minho santai
"Tapi b-bagaima--"
"Itu kekuatanku, Pangeran Lai. Aku memiliki feeling yang kuat ya.. Setidaknya 90% akurat, tidak ada yang tahu mengenai masa depan"
"Jika kau mengetahuiku dengan mudah apakah kau mengetahui dirimu sendiri, Choi Minho?" tanya Guanlin
"Apa maksudmu?"
"Dikhianati oleh seorang kembang desa, frustasi, mabuk-mabukan. Hutang yang menumpuk sehingga kau harus menjual rumah besarmu, dan menggantinya dengan rumah kecil sederhana yang sedikit lusuh? Bekerja di semua tempat yang bisa menampungmu untuk merenovasi rumah dan melunasi hutang--"
Minho mengepalkan tangannya mendengar ucapan bocah sok tahu ini. Tapi Minho sadar, sifatnya dan sifat orang ini sama.
"Bekerja sebagai prajurit biasa, menjual ikan hasil pancinganmu ke pedagang pasar, pembuat minuman di bar, bahkan aku tahu kau hampir pernah menjadi pemuas nafsu, hanya saja kau terhenti karena terbayang seseorang.."
Minho memejamkan matanya, menahan emosinya yang memuncak, ia tidak mau mendapat masalah karena menghajar calon ketua gennya. Hidup Minho sudah cukup tenang sekarang, ia tidak mau membuat masalah lagi
"Yang tidak lain dan tidak bukan adalah ayahku sendiri, Lai Taemin" ucap final Guanlin
Minho menatap Guanlin dengan tatapan penuh emosi, buku-buku jarinya memutih, ia tidak mau meledak sekarang.
"Siapa kau?" tanya Minho dengan suara rendah dan berat, masih menahan emosinya
"Aku anakmu"
Minho terdiam sebentar. Lalu menatap remeh Guanlin sambil terkekeh kecil,
"Jangan bercanda, menikah saja aku belum"
"Aku tidak bercanda, Tuan Choi. Aku anakmu, aku dan Seonho adalah anakmu"
Minho sudah muak dengan bualan pemuda ini, kenapa orang ini tidak langsung bilang saja apa maunya? Kenapa ia malah mengarang-ngarang cerita? Sampai-sampai mengaku sebagai anaknya, yang benar saja!
"Lebih tepatnya, Tuan Choi.."
"Aku anak harammu"
"Hyung? Apa yang kau lakukan?"
Guanlin dan Minho langsung menolehkan kepala mereka kepada Seonho yang baru saja bangun dari tidurnya,
"Tidak ada, hanya bercerita sedikit dengan ayah" kata Guanlin, Seonho terkejut tentu saja
"Kau memberi tahunya?! Apa ayah akan marah nanti?" tanya Seonho
"Entahlah" jawab Guanlin cuek
"Choi Minho, kau harus ikut kami ke istana"
Minho yang masih tidak mengerti dengan kedua anak ini hanya bisa mengangguk pasrah. Ya, setidaknya di istana ia bisa bertemu Raja Taemin yang menurut Minho sangat cantik dan imut.
"Psst.. Itu? Bukankah itu prajurit Choi Minho?"
"HAH? CHOI MINHO?"
"Bukan mendiang Raja Choi Minho, bodoh! Choi Minho prajurit yang sangat pandai menggunakan pedang itu!"
"Kenapa ia bersama pangeran ya?"
"Aku rasa ia membuat masalah dengan pangeran"
"Ya, aku dengar dia dulu adalah biang masalah"
"Benar! Dan ia sekarang tobat karena butuh uang untuk rumah dan hutangnya!"
"Kasihan sekali"
"Sangat.. Memprihatinkan"
Sungguh! Minho ingin berdoa kepada Penguasa Langit untuk mengambil pendengarannya. Lebih baik ia tidak bisa mendengar sama sekali daripada ia mendengar cemoohan dan rasa kasihan dari orang lain, Minho tidak suka dikasihani.
Minho sedaritadi hanya berjalan dibelakang Guanlin dan Seonho, ia menundukan wajah tampannya, samar-samar, ia mendengar beberapa orang membicarakan wafatnya sang Ratu, Ratu Naeun. Dalam hati ia berdoa untuk sang Ratu agar diberi tempat yang sempurna disana. Entahlah, ia seperti merasa berhutang budi kepada sang Ratu, padahal bertemu saja tidak pernah.
Langkah Minho terhenti ketika dua kakak-beradik didepannya juga berhenti, mereka sedang berbicara kepada penasihat Raja Taemin, Kim Kibum.
"Dimana ayah? Kami ingin bertemu dengannya"
"Yang mulia Lai ada di ruangannya, Tuan muda" ucap Kibum sambil membungkuk hormat
"Kapan upacara pemakaman ibu dimulai?" tanya Seonho
"Acara mulai nanti sore, Tuan muda"
"Baiklah, kami akan berbicara dengan ayah terlebih dahulu"
Guanlin dan Seonho lalu memasuki ruangan sang ayah, terlihat sosok Taemin yang sedang mengurusi kertas-kertas, disaat seperti inipun ayah mereka tetap sibuk. Tapi mereka tahu, ayah mereka selalu bekerja untuk menutupi rasa sedih dan kesepiannya. Lagipula, Taemin sedang mengurusi hal-hal untuk acara pemakaman sang istri.
"Ayah"
Taemin mendongak, ia menatap kedua anaknya, refleks ia berdiri dan memeluk Seonho,
"Jangan lakukan hal bodoh lagi, Seonho. Ayah tidak mau kau kenapa-napa. Jangan lalukan hal-hal seperti itu lagi, terutama didepan mataku" ucap Taemin sambil memeluk erat putra bungsunya
"Maafkan aku, Ayah. Aku berjanji tidak akan melakukan itu lagi" jawab Seonho sambil tersenyum
"Ayah, kami membawa seseorang untuk bertemu denganmu"
"Siapa itu Guanlin?"
"Tuan Choi, masuklah!"
Taemin menatap pemuda yang masuk kedalam ruangannya. Tidak mungkin. Wajah itu.. Tubuh itu.. Masih sama seperti berpuluh-puluh tahun lalu.. Ia kembali. Choi Minho telah kembali. Choi Minhonya telah kembali.
"Salam, Yang mulia" Minho membungkuk kepada Taemin, Taemin langsung bergegas menegakan tubuh itu dan memeluknya erat,
"Aku merindukanmu" Taemin menangis, ia sangat bahagia sosok yang ia cintai telah kembali
"Hah? A-apa maksud anda, Tuan? Saya bahkan tidak pernah bertatap muka dengan anda"
Taemin lalu melepaskan pelukannya, menatap Minho dan kedua anaknya secara bergantian, Guanlin menggelengkan kepalanya, Taemin tersenyum,
"Tidak apa, kau adalah tamuku, Choi Minho. Tamu kami, anggap saja ini rumahmu sendiri"
"Terimakasih, tapi bisakah salah satu dari kalian menjelaskan ada apa? Aku hanya menolong Seonho, dan tiba-tiba saja mereka mengaku sebagai anakku, tidakkah itu aneh?" adu Minho kepada Taemin,
"Sebenarnya--"
"Permisi, Tuan besar, acara akan dimulai beberapa jam lagi. Mohon untuk bersiap, kalian juga, Tuan muda"
Taemin mengangguk kearah Kibum yang baru saja memotong pembicaraannya,
"Kibum, siapkan kamar tamu untuk Minho, ia adalah tamuku"
"Minho, ikuti Kibum, sebentar lagi akan ada upacara pemakaman Ratu. Ah, dan tolong berikan baju untuknya juga, Kibum" perintah Taemin yang diangguki oleh Minho dan Kibum
"Kita akan berbicara lagi setelah semua acara selesai. Ayo, pangeran-pangeran"
Lalu Taemin pergi keluar diikuti oleh kedua anaknya.
"Tuan Choi Minho, ikuti aku"
Istana gen Alphanoz sangat ramai sekarang semua memakai pakaian hitam, semua bersedih atas kepergian Ratu mereka, Ratu Naeun.
Guanlin menatap langit dari jendela besar yang terbuka lebar, air matanya jatuh
"Hyung, ayo keluar. Daniel hyung dan Seongwoo hyung datang" ucap Seonho menghampiri sang kakak
"Kau menangis hyung?"
"A-ah? Ti-tidak, mataku kemasukan debu" bohong Guanlin diikuti dengan senyuman paksa
Tentu saja Seonho tau kakaknya menangis, ia lalu memeluk Guanlin,
"Kita bisa melakukannya,hyung"
Kedua kakak beradik itu berpelukan, menyalurkan rasa sedih dan penyemangat kepada satu sama lain. Hanya langit malam dan cahaya bulan yang mengawasi tindakan mereka.
"Guanlin, Seonho kami turut berduka"
Guanlin dan Seonho turun menghampiri teman mereka, Daniel dan Seongwoo.
"Terimakasih, hyung" balas Guanlin tersenyum
"Kemarilah Seonhoku, jangan bersedih yaaa"
Seongwoo lalu memeluk adik kesayangannya itu, bagaimanapun ia turut sedih, ia sudah pernah merasakan apa yang Seonho rasakan ketika sang Ibu juga pergi meninggalkannya untuk selamanya
"T-terimakasih hyung" Seonho tersenyum kepada Seongwoo, namun ada suatu hal yang membuatnya tertarik
"Eyyy, apa kalian pacaran sekarang?" tanya Seonho menggoda Daniel dan Seongwoo yang berpegangan tangan
"Bisa dibilang begit--"
"TIDAK! A-ah, m-maksudku.. Tidak, hanya... Teman.. Ya, pertemanan biasa"
"Tapi hyung kit--"
"Sudah sudah, lebih baik kita masuk sekarang, acara akan dimulai" ajak Guanlin sambil merangkul Seonho
"Ayo Niel"
Seongwoo pergi duluan meninggalkan Daniel yang menatap sedih punggung hyung tersayangnya
'Kita ini apa, hyung?'
Guanlin POV.
Acara hari ini berjalan lancar, jasad Ibu juga sudah di kremasi dan abunya sudah didoakan dan ditaruh bersamaan abu leluhur kami.
Mataku memerah, aku tidak bisa menghentikan tangisku. Aku mencintai ibuku. Walaupun ia bukanlah ibu kandungku, aku tetap menyayanginya. Dan sekarang aku harus mulai terbiasa dengan susunan baru keluargaku yang akan dibuat oleh ayah. Dimana Ayahku selama ini akan menjadi Ibuku, dan sosok baru bernama Choi Minho akan menjadi ayahku.
Aku memijat pelan pelipisku, kepalaku pening memikiran masalah ini. Aku melihat kebawah, disana terdapat adikku yang sedang bersenda gurau dengan sahabat-sahabat kami yang lain.
Disana ada Daniel hyung, Seongwoo hyung, dan Woojin. Ya.. Yang datang ke acara ini hanyalah ketua-ketua dari semua gen dan orang-orang penting dan memiliki pangkat di kerajaan ini.
Aku melihat Choi Minho ah, ayah sedang bicara kepada ayah, ah, ibu, tapi ayah. Astaga ini sangat membingungkan! Ya intinya aku melihat Choi Minho sedang berbincang dengan Lai Taemin. Ya, itu lebih baik. Minho dan Taemin.
Hmm.. Aku rasa, menyenangkan juga ya kalau aku bisa menjadi raja. Tidak, bukan hanya Raja gen Alphanoz. Tapi.. Raja Quantelle.
Ya. Menarik. Aku rasa, aku mulai tertarik dengan jabatan sahabatku nanti, Kang Daniel.
Raja Guanlin, cocok bukan?
.
.
.
.
TBC
RnR? xD
