Frozen as Frost

Bab 5. Butiran pertama

E L S A

Beberapa tahun kemudian di arandelle...

"Mama, kita akan kemana?" aku memegangi tangan mama yang berada di dekatku, mengguncang pelan. Manik mataku melihat mata biru mamaku yang terlihat teduh. Mama tersenyum dan membelai rambutku pelan.

"Kita akan pergi ketempat yang menyenangkan," balas yang ratu, tersenyum lembut melihat wajah putri pertamanya. Aku masih memperhatikan Mama, sedikit ragu dengan apa yang dikatakannya, tapi kemudian, aku mengalihkan pandanganku keluar.

Kereta kuda yang sedang kunaiki bergoyang sedikit saat melindas sebuah batu. Entah sudah berapa lama kami menaiki kereta kuda ini, karena aku sudah tidak mengenali tempat kami sekarang. Apa kami sedang menuju kerajaan lain?

Beberapa saat kemudian, kereta kuda berhenti, dan seseorang membukakan pintunya, mempersilahkan mama—dan aku—untuk turun. Papa sudah berada disini terlebih dahulu, itu yang mama ucapkan tadi.

"Bersikap baik, Elsa." Bisik mama, memegangi pundakku.

Aku menegakkan punggungku, menatap tegas kedepan, persis seperti apa yang Mama lakukan. Aku mengikuti langkah Mama, entah akan kemana.

Banyak orang yang memperhatikan kami, kulihat Mama tersenyum ramah kepada mereka—tapi entah kenapa, senyumku sedikit kaku kepada mereka yang bahkan tidak pernah kutemui. Mereka tampak membalas senyum mama, wajah-wajah ramah yang menyenangkan.

Tapi aku melihat, ada seorang anak—seumuranku—yang memperhatikanku sedari tadi, dia tampak menarik-narik rok seorang wanita disampingnya. Ia berbicara pada wanita itu, walau tidak keras, tapi aku dapat mendengarnya dengan jelas.

"Mom, rambutnya bewarna putih!" dia menunjuk rambutku—walau tidak secara gamblang.

"Erick, bersikaplah sopan, dia tuan putri."

"Dia tuan putri? Rambutnya berbeda dengan Raja atau Ratu, Mom, bagaimana bisa?"

"Shh, Erick, tenanglah."

Aku terdiam mendengarnya. Seperti baru menyadari sesuatu yang sangat jelas. Aku melirik kearah poniku, benar, rambutku terlihat seperti bewarna putih, terlebih saat malam. Aku mendongak melihat Mama yang masih tersenyum, rambutnya berwarna coklat gelap, dan seingatku rambut Papa berwarna pirang seperti Anna—adik kecilku yang masih berusia 3 tahun.

Aku menatap jalan bebatu yang ku injak.

Benar, bagaimana bisa?

Aku bergerak pelan, menuruni tempat tidurku. Pelan-pelan aku menyelinap dari kamarku, Kai, Gerda atau yang lainnya pasti akan menyuruhku kembali tidur saat melihatku. Sekarang sudah lebih dari jam tidurku, tapi aku yakin, Mama masih berada di ruang baca—seperti biasanya.

Aku berjinjit, meraih gagang pintu yang lebih tinggi sedikit dari tinggi kepalaku, perlahan aku menariknya turun hingga terdengar decit pelan kayu yang bergerak.

Terlihat Mama, yang duduk di depan perapian, dengan selimut di pangkuannya. Ia mengalihkan pandangan dari buku yang sedang dibacanya.

"Elsa?" Ucapnya terdengar bingung.

Aku berbalik dan menutup pintu, sedikit ragu, aku berjalan mendekati Mama, yang tersenyum melihat kedatanganku.

Sering aku berpikir; apa mama tidak bosan dengan senyuman yang terus berada di wajahnya? Tapi entahlah, mungkin dia sudah terbiasa karena dia seorang Ratu.

"Belum tidur Elsa?" tanyanya Mama.

Aku berjalan mendekati tempat duduk Mama.

"Ma,"

"Hm?"

"Kenapa warna rambutku aneh ma?" tanyaku, memegangi poni kecilku. "maksudku, rambutku jelas berbeda dengan Mama, Papa atau Anna." Lanjutku lagi.

Mama tampak terkejut beberapa saat, tapi dalam hitungan detik; wajahnya kembali teduh. Dengan pelan, dia membelai rambutku yang dikepang.

"Karena Elsa spesial," jawab Mama, tersenyum penuh arti.

"Spesial?" ulangku, bingung. "apa maksudnya?"

"Elsa adalah anugrah untuk Mama juga Papa, karena itu Elsa spesial." Kata Mama. "Elsa sudah spesial sejak lahir. Bahkan dulu, pernah terjadi kecelakaan beberapa hari setelah kelahiranmu, seluruh tubuhmu dingin membeku, seolah Tuhan mengambil Elsa dari Mama-Papa, bahkan tabib di terbaik kerajaan tidak mengerti apa yang terjadi pada Elsa.

"Tapi setelah itu, terjadi sebuah keajaiban. Elsa menangis setelah beberapa saat dinyatakan tidak terselamatkan. Dan warna rambutmu berubah saat itu.

"Tuhan pasti berkehendak lain, Dia tidak ingin Elsa diambil dari Mama, oleh karena itu Tuhan memberikan sesuatu yang spesial pada Elsa, agar Mama selalu ingat, kalau Tuhan menyayangi Mama dengan membiarkan Elsa bersama Mama, seperti saat ini." Kata Mama panjang lebar.

Aku mendengarkannya dengan seksama, tidak menyangka ada hal hebat dibalik warna rambutku.

Tentu saja saat itu mempercayai ucapan Mama, karena setelah itu, aku tidak pernah bertanya lagi tentang hal itu, dan justru bangga dengan warna rambutku ini. Walau kalau aku pikirkan, itu memang hal yang cukup aneh untuk dipercaya.

Tapi sekarang, aku mempercayai ucapan Mama sepenuhnya.

Karena aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, betapa spesialnya aku.

Itu terjadi beberapa hari setelah hari ulang tahunku yang ke-8, saat aku mengikuti perjalanan Papa.

Sebagai putri mahkota kerajaanku, sejak kecil aku sudah diajarkan apa itu bisnis, bagaimana cara mengelola bisnis kerajaan dan hal-hal seperti itu. Aku sering diajak mendatangi pesta kerajaan atau sejenisnya.

Dan hari ini, kami pergi kerajaan tetangga, dan aku akan bertemu dengan pangeran kerajaan ini.

"Elsa," panggil Papa, mengejutkanku. "Perkenalkan, putra mahkota kerajaan Kaeven," Papa memegangi pundakku lembut.

Seorang laki-laki—yang mungkin seumuranku, atau mungkin lebih tua dariku—berdiri di depanku sambil tersenyum.

"Adler." Dia mengulurkan tangan kanannya, ingin menjabatku.

Aku tersenyum kikuk, membalas uluran tangannya. "Elsa, dari Arandelle."

Dia masih tersenyum. "Aku tahu," jawabnya. "rambutmu indah." Pujinya.

"Terima kasih," jawabku seadanya. Aku pernah bertemu pangeran atau putri lainnya, tapi dia ... tidak dia tidak berbeda, mungkin aku saja yang merasa sedikit aneh. "aku harus kembali ke papaku, senang bertemu denganmu." Ujarku sopan, lalu berjalan menuju Papa.

"Senang bertemu denganmu juga!" balasnya sedikit keras karena aku sudah berjalan.

Aku menoleh, lalu tersenyum seadanya, lalu kembali berjalan.

Tidak bukan aku yang aneh, dia yang aneh.

❄️