a.n
sekali lagi, ini fiksi penggemar ya yang pasti bakal sedikit beda dari cerita aslinya, juga bakal ada penambahan tokoh baru :D
kalau image Elsa rada beda, take it slow aja yaa :D
salam,
Farha.
Frozen as Frost
Bab 6. Butiran pertama {part 2}
E L S A
Aku melempar pandangan keluar jendela, melihat salju yang bertumpuk sejauh mata memandang. Tubuhku bergoyang mengikuti kereta kuda yang kunaiki, Ayah yang duduk disampingku—dan sedang berkutat dengan berkas-berkas kenegaraan—tampak menggigil walau tidak terlalu di perlihatkannya.
Aku mengusap permukaan jendela, pandanganku terbatasi oleh embun yang menghiasi jendelanya. Sepertinya musim dingin sudah berada di puncaknya, dan bahkan aku ... tidak merasa dingin sama sekali. Mungkin karena aku memakai mantel ini, tapi aku tidak memakai sarung tangan dan—sekali lagi—aku tidak merasa kedinginan.
Teriakan nyaring kuda secara tiba-tiba mengagetkanku. Kereta kuda juga berhenti setelahnya—diikuti suara seperti ada sesuatu yang patah.
Ayah langsung membuka pintu kereta kuda, dan keluar.
"Ada apa?" serunya kepada sang kusir.
Beberapa pengawal kerajaan juga turun dari tempatnya.
"Maaf yang mulia," kata sang kusir. "sepertinya kita tidak bisa pulang sekarang, jembatannya patah yang mulia, dan kaki-kaki kuda ini terluka." Katanya terdengar cemas.
Aku melongo keluar, benar, jembatan kayu—yang terlihat sudah cukup lama—tampak rusak dan tidak bisa dilewati. Tapi kita harus pulang sekarang, karena sepertinya, nanti malam akan ada badai.
Ayah terdiam sebentar. "Baiklah kita harus kembali ke kerajaan Kaeven," katanya. "Apa kudanya masih bisa berjalan?" tanya Ayah.
Sang kusir—dan dua pengawal—tampak melihat kaki kuda, lalu berseru.
"Sepertinya bisa yang mulia!" seru sang kusir.
Ayah lalu kembali masuk kedalam kereta kuda, dan kereta kuda berbalik arah, kembali menuju kerajaan Kaeven yang sudah cukup jauh sebenarnya. Tapi ditengah jalan, kaki kuda yang terluka tampak semakin cidera, dan kereta kuda dihentikan untuk kedua kalinya. Dua dari tiga kuda tidak bisa berjalan, dan akhirnya Ayah memutuskan untuk berjalan menuju kerajaan Kaeven karena kita tidak bisa menunggu lagi, bisa jadi badai salju akan datang sebentar lagi.
Dan saat kami mulai berjalan, badai terlihat sudah datang, angin besar menggoyang-goyangkan puncak pohon cemara. Bahkan mantelku sudah beberapa kali dipenuhi salju.
Ayah, para pengawal dan sangkusir tampak menggigil kedinginan. Ayah bahkan menyuruhku untuk berjalan didekatnya agar aku tidak kedinginan. Tapi sebenarnya ... aku tidak kedinginan sama sekali.
Begitu kami sampai di kerajaan Kaeven, raja Geirr—Raja Kaeven—menyambut kami dengan hangat, dan kamipun memutuskan untuk bermalam di kerajaan Kaeven, sampai esok pagi, jika badai sudah reda, kami bisa memakai jalan lainnya.
Setelah makan malam, Ayah dan Raja Geirr tampak berbincang-bincang dan aku tidak ingin mendengarkannya. Oleh karena itu, disinilah aku, berdiri di balkon dari ruang tengah istana, melihat keseluruhan kerajaan Kaeven karena istana berada di daratan yang lebih tinggi.
Aku terbengong sendiri, memikirkan suatu hari aku akan menjadi seorang pemimpin kerajaan—menjadi seorang ratu ... akankah menyusahkan?
Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka.
Aku menoleh kebelakang, melihat seseorang dengan rambut pirang.
Baiklah aku melupakan namanya, jahat sekali aku.
"Hei," sapanya, berjalan ke mendekati pagar balkon.
"oh, hei," sapaku, aku masih mengingat-ingat namanya.
"Tidak masuk kedalam? Diluar dingin sekali." Katanya.
"Tidak apa," jawabku. "tidak terlalu dingin, lagipula aku suka melihat suasana kota dimalam hari." Aku sedikit berbohong disitu, ini tidak dingin sama sekali.
"Begitu," dia tampak tersenyum—oh ayolah siapa namanya?
Angin berhembus kencang sekali, terlihat dia—si rambut pirang—menggosok-gosok lengannya, tampak kedinginan. Tadi badai sudah sedikit reda, mungkin sedang mulai sekarang.
"Elsa, ayo masuk kedalam," ajaknya. "disini, dingin sekali." dia merapatkan giginya, kedinginan.
Aku tidak kedinginan. Aku tersenyum kikuk. Manusia macam apa aku tidak merasa kedinginan di cuaca seperti ini? "Baiklah, sepertinya memang sudah mulai dingin."
Aku mengikuti langkahnya, masuk kedalam istana. Pintu langsung tertampar kencang begitu aku masuk, badai besar sepertinya sudah mulai datang.
"Hei Elsa, mau ikut denganku? Ayo kita pergi ketempat latihanku," ajaknya.
Tempat latihan? Apa itu?
Tapi dia sudah menarik tanganku, dan mau tidak mau, aku mengikutinya.
Kami sampai ke sebuah tempat—yang mirip gudang senjata—beberapa saat kemudian. Aku sedikit berdigik melihat patung boneka prajurit yang memiliki banyak sabetan disana-sini.
"Ini ... apa?" tanyaku bingung.
Dia tersenyum, menaikkan kedua alisnya. "Ini tempat latihanku, sejak aku berumur 9 tahun, Raja menyuruhku untuk berlatih."
Sudah kutebak, dia lebih tua dariku. "Begitu." Aku mengiyakan saja perkataannya, ia terlihat mengambil sebuah pedang tak jauh dari tempatnya. Ayah bahkan tidak pernah menyuruhku untuk memegang benda seperti itu.
"Hei Adler!"
Seru seseorang tiba-tiba. Seorang laki-laki berambut cokelat gelap yang sepertinya seumuran dengan si pi—oh iya namanya Adler.
"Hei, kemari!" Seru Adler, melambaikan tangannya sambil memegang pedangnya.
Si rambut cokelat gelap berlari mendekati Adler, dia melihatku sebentar. "Siapa?" tanyanya pada Adler.
Adler tersenyum sebentar, mendatangiku. "Elsa perkenalkan, dia temanku, Tobias."
"Dan Tobias, ini putri Elsa, dari kerajaan Arendelle." Kata Adler memperkenalkan.
Tobias tersenyum dan mengulurkan tangannya. "Tobias."
Aku balas tersenyum kecil dan menjabat tangannya. "Elsa." Kataku. "senang bertemu denganmu."
"Begitu juga denganku," balasnya. "kau ingin berlatih Adler? Sudah jarang sekali kau mau." Katanya pada Adler.
"Tentu haha," Adler menjawab terlihat semangat. "kau mau ikut Elsa? Kami bisa mengajarimu,"
Aku terbelak. Belajar menyabet boneka? Ng ... kedengarannya menyeramkan. aku mengibaskan kedua tanganku, "Tidak, terima kasih, aku tidak pernah memegang pedang—atau sejenisnya—sebelumnya."
"Kau harus mencobanya kalau begitu," ajak Tobias, terlihat semangat.
"Iya, ini pakai pedang ini," Adler menyodorkan pedang tipis kepadaku, dan setelah dipaksa mereka berdua, mau tidak mau, akupun meraih pedang itu.
Dan itu adalah pengalaman yang menyenangkan malam itu.
Pagi harinya, badai sudah mereda, tapi diramalkan badai akan datang begitu matahari akan beranjak naik. Yang berarti, jika kami pergi sekarang, sampai perbatasan kerajaan Kaeven, badai akan datang. Ayah akhirnya memutuskan untuk kembali setelah matahari meninggi, atau setidaknya setelah kedua badai ini selesai.
Dan karena itu, sejak pagi, Adler dan Tobias mengajakku untuk berjalan-jalan di hutan belakang istana. Mereka ingin mengajakku berburu tupai katanya. Walau kubilang disaat badai seperti ini, mustahil akan ada binatang yang berjalan-jalan, mereka memiliki insting yang lebih hebat dari manusia.
Tapi mereka bersikukuh mengajakku, dengan alasan berjalan-jalan. Daripada aku terbengong di istana, sepertinya ajakan mereka cukup menyenangkan juga.
Aku melihat-lihat kesekeliling, Adler dan Tobias tampak berbincang sambil menunjuk-nunjuk tempat.
Pohon-pohon pinus disekeliling kami tampak terselimuti oleh salju. Dan membuat semuanya terlihat putih sejauh mata memandang.
Mataku terbelak tiba-tiba, aku melihat sesuatu, bukan seperti ... seseorang. Dia berjongkok diatas sebuah pohon pinus tidak jauh dari kami, dan dia memperhatikan kami.
Aku berlari, mendekati pohon itu, tapi dia sudah menghilang begitu saja.
"Ada apa Elsa?" seru Adler yang berlari mendekatiku, begitu juga dengan Tobias. Mereka tampak bingung dengan sikapku barusan.
"Kau melihat tupai terbang?" tanya Tobias semangat.
Aku menggeleng. "Bukan, bukan tupai terbang yang kulihat, tapi, seseorang ... yang terbang, mungkin," ucapku terbata.
"Seseorang terbang?" ulang Tobias. "apa maksudmu?"
Aku menelan salivaku sendiri. "Tadi aku melihat seseorang, berjongkok ditas situ," aku menunjuk pohon pinus. "memakai baju biru, karna jauh, aku tidak melihat wajahnya, tapi dia menghilang begitu saja, seolah ...,"
"Seolah dia terbang?" lanjut Adler.
Aku mengangguk.
Tobias tampak tersenyum. "Kau mungkin berkhayal," katanya, seperti menahan tawa. "kau tahu, fatamorgana, itu bisa saja terjadi."
"Memang fatamorgana bisa seperti itu?" tanya Adler tidak yakin.
Tobias menggaruk kepalanya. "Kita anggap saja begitu," kata Tobias.
Aku lalu mengikuti Tobias dan Adler berjalan, walau masih memperhatikan pohon itu, aku yakin sekali, itu bukan khayalan.
"Whooah, kita sudah jauh sekali dari istana!"
Adler berseru diujung tebing. Kami sudah berjalan-jalan lama, dan akhirnya sampai di bukit ini, terlihat dari sini, istana yang mulai tertutup salju.
Hebat. Pemandangan disini hebat sekali. Aku tidak pernah berjalan-jalan jauh sendirian sebelumnya—Ayah tidak pernah mengizinkanku. Tapi sekarang, aku tidak perlu mengkhawatirkan Ayah, setidaknya ada Adler dan Tobias disini.
"Hei, Adler, bukankah sebaiknya kita kembali? Badai bisa datang tiba-tiba." Kata Tobias mengingatkan.
Adler berbalik dan tertawa. "Di cuaca secerah ini? Sepertinya badai tidak akan datang hingga matahari meninggi," balas Adler.
"Adler!" seru Tobias, mengingatkan.
"Oh ayolah Tobias, sudah lama aku tidak bermain-main diluar seperti ini," bantah Adler. "bagaimana denganmu, Elsa?" tanyanya.
Aku menoleh padanya. "Aku tidak pernah keluar istana sendirian seperti ini sebelumnya," balasku.
"Benarkah? Hebat, jadi ini yang pertama bagimu?" tanya Adler. Aku tersenyum dan mengangguk. Angin meniup-niup rambutku yang di kepang.
"Bahkan kau sudah berani kabur dari istana sejak umur 4 tahun, ya Adler?" cibir Tobias.
"Karena aku memiliki jiwa petualan, daripada kau, terkekang di istana seperti itu, membosankan." Balas Adler. Aku tertawa kecil mendengaran perdebatan mereka.
"Aku hanya mengikuti tugasku sebagai pengawalmu, pangeran Adler."
"Sudah kubilang, panggil aku itu saat di depan Ayah saja, kau tahu aku tidak suka dipanggil dengan panggilan itu, terlalu formal." Kata Adler, menancapkan sarung pedangnya ke tanah yang tertutup salju. "lagipula, kau resmi menjadi pengawalku, hanya saat aku berumut 13 tahun 'kan? itu masih lama."
"Sekarang umurmu sudah 10 tahun, Adler."
"3 tahun itu lama, Tobias."
"Terserah."
Tiba-tiba angin besar berhembus, menerbangkan rambutku.
"Adler, ayo kembali ke istana!" seru Tobias. "sepertinya badai akan datang!" serunya lagi.
Adler tampak terdiam sebentar, tapi angin berhembus semakin kencang. Bahkan awan mulai menutupi matahari.
"Adler!" seru Tobias lagi.
Adler masih tampak tidak terima, tapi akhirnya dia berseru. "Baiklah, ayo! Elsa!" serunya.
Aku berlari mendekati Adler, lalu kami berlari menuruni bukit. Angin semakin berhembus kencang, sepertinya ramalannya benar-benar terjadi. Pohon-pohon pinus tampak bergoyang-goyang. Salju juga sudah mulai memenuhi mantelku.
Dan tiba-tiba terdengar suara pohon yang patah.
"Adler!"
Bersamaan seruan itu, sebuah pohon ambruk tiba-tiba, mengenai punggung Tobias—yang berusaha melindungi Tobias. dan kaki Tobias terkiliir karenanya.
"Sial!" umpat Adler. "Tobias kau tidak apa?" tanya Adler.
Tobias meringis memegangi kakinya, "Sial, kakiku sakit sekali."
"Kita bisa menggotong Tobias hingga ke istana!" usulku. Walau aku tidak yakin dengan perbedaan tinggiku dan Adler.
"Aku tidak yakin kita bisa," kata Adler.
Aku memutar pandangan, ingin mencari ide. Kita harus menolong Tobias, tapi badai akan datang sebentar lagi. Hingga akhirnya aku mengingat seseorang berbaju biru yang aku lihat sebelumnya. Aku yakin dia masih disini, tidak salah lagi.
"Heiii!" seruku.
"Kau yang berbaju biru! Keluarlah! Kami membutuhkan bantuan muu!" seruanku menggema di hutan, beberapa burung terlihat terbang.
"Elsa, kau memanggil siapa?" tanya Adler, tidak yakin.
"Aku memanggil dia—yang kulihat sebelumnya, aku yakin dia masih disni!" kataku yakin, tidak ada jalan lain, selain meminta pertolongannya.
"Kau yakin yang kau lihat bukan khayalan?" tanya Tobias—terlihat tidak yakin juga.
"Ayolah, kalian harus percaya padaku, mungkin saja dia berada di sekitar sini sekarang, kita harus menemukannya!" kataku, meyakinkan mereka.
"Oke, aku percaya padamu, tapi—" Adler tampak tidak meneruskan kalimatnya. "baiklah, aku percaya padamu."
Angin semakin berhembus, aku memutar pandangan, dan melihat sesosok yang sama yang aku lihat sebelumnya, dan sekarang dia berdiri di bawah pohon, bukan diatas pohon.
Tanpa aba-aba lagi, aku berlari kearahnya, tidak menggubris panggilan Adler dan Tobias yang bingung.
Kumohon, jangan pergi dulu. Batinku, kuharap dia mau menolong Tobias. "Tuan!" seruku. "tuan berbaju biru, jangan pergi dulu!" seruku lagi, berlari kearahnya, aku sudah cukup dekat dengannya.
Dia tampak ingin pergi, tapi akhirnya berbalik dan melihat kearahku.
"Tuan, syukurlah," aku mengatur nafas, begitu sudah berada di depannya. Benar kataku 'kan? aku tidak berkhayal. Aku sungguh melihatnya tadi, dan dia nyata. Aku mendongak kedepan, melihat tuan berbaju biru—rambutnya terlihat tertutup oleh tudung dari pakaiannya, ia membawa tongkat yang aneh, tapi dari semua itu, yang lebih aneh adalah rambutnya.
Rambutnya bewarna putih.
Sungguhan putih, bukan pucat seperti milikku, seperti bewarna silver. Keren sekali.
Dia tampak kikuk melihatku. "Kau, ng ... bisa melihatku?" tanyanya, tiba-tiba.
Aku mengernyit. "Tentu saja," balasku cepat. "teman kami sedang kesulitan, kumohon kau bersedia membantu kami." Aku memintanya.
"Aku bisa saja membantumu, tapi ..., ng," dia tampak ragu, tapi aku menarik tangannya. Berlari kearah Adler dan Tobias.
Mereka masih menunggu ditempat tadi, tampak senang begitu melihatku kembali.
"Elsa!" seru Adler. "Dan ...," dia tampak memperhatikan tuan berbaju biru di sampingku.
"Aku menemukannya, dia bilang dia bersedia kita." Kataku senang.
Adler tersenyum. "Terima kasih sebelumnya," katanya sopan.
Tuan berbaju biru tampak gelisah, tapi kemudian, dia tersenyum pada kami. "Apa yang bisa kubantu?" tanyanya.
Tobias masih meringis. "Kakiku tekilir, kuharap kau mau menolongku untuk kembali ke tempat kami." Kata Tobias.
"Ya, kita harus cepat kembali ke is-" aku bingung karena Adler tiba-tiba membekap mulutku, menghentikan ucapanku. Aku menatapnya bingung.
Adler berbisik kepadaku. "Dia tidak tahu kalau aku pangeran disini, jadi lebih baik diam saja dahulu." Bisiknya.
Aku menatap Adler sesaat, kemudian mengangguk. Benar juga, Adler adalah pangeran disini, dan Tobias adalah pengawalnya. Sebagai penduduk kerajaan Kaeven, seharusnya dia mengenali Adler bukan? Tapi dia bahkan tidak terkejut melihat Adler, hanya bersikap biasa saja.
Tuan berbaju biru akhirnya menggotong Tobias, saat Adler ingin membantunya, dia bilang dia baik saja sendirian. Dia hanya meminta salah satu dari kami membawakan tongkatnya. Dan akhirnya aku membawakan tongkatnya.
Aku memperhatikan tongkat cokelatnya—tongkatnya beku. Bagaimana bisa dia tidak kedinginan saat memegangnya? Ya walaupun aku juga tidak merasa dingin saat memegangnya, karena itu aku menawarkan diri, Adler pasti tidak bisa membawanya—karena tongkatnya beku.
Angin sudah berhembus semakin kuat, Adler bahkan terlihat kedinginan, juga Tobias. Tapi tuan berbaju biru tampak tidak kedinginan, dia tenang saja saat angin menerpanya. Bahkan kulihat, dia tidak mengenakan alas kaki. Dari mana asalnya tuan ini?
Adler tiba-tiba meminta untuk istirahat sebentar. Dia bilang dia kedinginan sekali, dan kakinya terasa sakit, walau dia yakin kakinya akan sembuh sebentar lagi.
Tuan berbaju biru mendudukkan Tobias di bawah pohon pinus. Aku juga terduduk dan menaruh tongkat tuan berbaju biru di sampingku. Aku mendongak keatas, dan terkejut melihat ada sebuah pohon pinus yang patah.
"Awas!"
Seruku tiba-tiba, aku segera berdiri dan melindungi kepala dengan tanganku, tapi tidak ada apapun yang terjadi.
Begitu aku membuka mataku, terlihat es yang menahan patahan pohon pinus itu.
Mataku membelak melihatnya ... bagaimana ... bisa?
Aku menoleh kearah Adler, Tobias dan tuan berbaju biru, mereka menatapku dengan muka membelak.
"Apa ... itu ... barusan?"
Adler berkata dengan terpatah.
"Tangan Elsa mengeluarkan ... es?" Tobias mengerjapkan matanya tidak percaya.
Aku memperhatikan telapak tanganku, mustahil, itu tidak akan bisa dilakukan oleh manusia—
Oleh manusia normal.
Tuan berbaju biru juga terpaku melihatku.
Aku menelan salivaku, merasa takut dengan apa yang terjadi. Tidak, bagaimana mungkin?
Aku menggerakkan tanganku lagi, dan es tiba-tiba muncul kembali. Aku menutup mulutku, itu benar berasal dari tanganku.
Aku membuka tangan kiriku, sebuah cahaya keluar dari tanganku, membentuk bola salju.
Bagaimana bisa?
Adler dan Tobias tampak melihatku, sedikit terkejut, dan terlihat ... takut?
Tuan berbaju biru diam saja tidak bersuara.
Aku berbalik, berlari dari mereka, terdengar suara Adler memanggilku.
Mereka menatapku takut, mereka menatapku takut. Tentu saja mereka takut, manusia normal mana yang bisa mengeluarkan es-es seperti itu? Apa itu berarti aku bukan manusia normal?
Tapi kenapa?
Aku masih terus berlari, aku harus menemui Ayah, dan pulang secepatnya.
Setelah sampai istana, para pengawal terkejut melihatku yang berlari dengan panik, mereka menanyakan dimana pangeran Adler dan Tobias, segera aku memberitahukan apa yang terjadi pada Tobias, dan mereka terjebak karenanya. Aku memberitahukan mereka kalau aku disuruh oleh Adler untuk kembali ke istana dan melaporkannya. Segera saja para pengawal mengendarai kuda mereka, mencari pangeran Adler.
Aku berlari ke Ayah, ingin menangis. Tapi aku menahannya, Ayah akan menanyakan kenapa, dan aku, tidak bisa memberitahukannya.
Badai terjadi saat hari menjelang siang, tapi untunglah Adler dan Tobias sudah kembali ke istana, aku sengaja menghindar dari mereka, dan terus mengikuti kemana Ayah pergi.
Dan begitu siang beranjak sore, kamipun pulang ke Arendelle.
Kulihat Adler saat berada dikereta kuda, dia tampak menatapku, dengan wajah yang tidak bisa kuartikan.
Tapi kemudian, kereta kuda berjalan, meninggalkan kerajaan Kaeven. Aku menunduk, hingga pandangan diluar jendela hanyalah hutan, kami sudah sampai di perbatasan Kaeven.
Aku menatap keluar jendela,
Dan aku melihat Tuan berbaju biru itu lagi, berdiri di salah satu pohon.
Menatapku.
a.n (part 2)
sip, disini Jack udah muncul di povnya Elsa.
Tapi dia jadi kayak setan yak wkwkwk.
Dia kan emang 'roh' musim dingin hahaha.
Tapi ini bukan cerita horror kok v
Udah panjaaang 'kan? :3 2600-an kata loh haha. Saya lagi semangat nulis nih, entah kenapa suka sama tokoh Adler. (kebayang tokoh Zen di akagami no shirayukihime) #haha
Sip, udah cepet kan updatenya?
Sip, ditunggu vote dan komentarnya yaa
Sipsip
