Frozen as Frost

Bab 8. Mereka yang menyukai salju {part 1}

E L S A

Aku mengikuti Anna yang menarikku. Bertemu Anna membuatku merasa sedikit tenang. Anna mendorong pintu yang menuju halaman belakang istana, disana, taman yang selalu disayangi Mama, nampak tertutup salju sempurna.

"Elsa, ayo kita buat manusia salju!" seru Anna.

Aku tersenyum dan menurutinya, mulai membentuk bola-bola salju. Hingga tiba-tiba bola salju terlempar tepat ke wajahku.

Lalu kudengar Anna tertawa. "Tepat diwajahmu Elsa!"

Aku ikut tertawa dan membalas Anna.

Setidaknya, aku bisa benar-benar melupakan masalahku sekarang.

Setelah makan malam, aku berjalan ke ruang baca, mencari tahu, apa yang sebenarnya terjadi padaku. Apa ini karena penyihir? Atau kutukan?

Tapi berkali-kali aku mencari tahu, aku masih tidak mengerti apa yang terjadi. Bahkan penyihir sepertinya tidak mengeluarkan es sepertiku.

Aku menoleh begitu mendengar suara pintu terbuka.

"Elsa, kau disini," serunya, berlari mendekatiku.

"Hei Anna," sapaku, menutup buku yang kubaca.

"Apa yang kau baca Elsa? Kau tampak murung," tanyanya, sambil mengintip buku yang kubaca.

"Tidak, bukan apa-apa," aku tersenyum, lalu menaruh buku kedalam rak.

"Ada apa Anna?" tanyaku, begitu melihatnya menghela napas.

Anna tampak murung, lalu duduk di depanku. "Mama tidak membiarkan aku keluar, padahal salju sedang turun," katanya.

Aku tersenyum. "Kau bisa sakit flu kalau bermain salju diluar malam-malam Anna, kau tahu, roh musim dingin bisa saja mendatangkan flu padamu saat melihatmu berjalan-jalan dimalam hari saat salju turun." Kataku.

"Roh musim dingin? Apa itu?" tanyanya, membuka matanya lebar-lebar. Aku selalu suka melihat matanya, besar dan lucu sekali.

"Dia yang menciptakan salju, dia yang membuat kita bisa bermain boneka salju Anna." Jelasku, seperti apa yang baru saja kubaca dari salah satu buku.

"Begitu? Berarti kita harus berterima kasih padanya bukan?" tanya Anna.

"Yah, ayo kita berterima kasih padanya dari sini, karena dia pasti sedang berada di langit, meniupkan angin agar salju turun," kataku lagi.

"Tapi aku ingin bermain salju Elsa," kata Anna lagi, teringat keinginannya. "ayo kita menyelinap keluar." Katanya.

Aku membelai kepalanya. "Mama akan marah kalau kita menyelinap keluar, Anna. Bagaimana kalau kita bermain salju disini saja?" usulku.

Anna mengernyit. "Bermain disini? Bagaimana caranya?"

Aku tersenyum, lalu berdiri. "Kau tidak akan percaya ini, Anna," dengan cepat, aku menggenggam kedua tanganku, lalu membukanya, dan cahaya keluar dari tanganku, membentuk bola salju.

Aku melemparnya, berpikir untuk membuat hujan salju. Dan begitu bola salju itu mengenai atap, dia terpecah dan salju turun di sekitar sini.

Anna menatapku dan salju bergantian, tampak tidak percaya. Terselip rasa panik, jika saja Anna takut padaku. Tapi matanya, justru semakin lebar. "Hebat! Kau keren Elsa! Bagaimana bisa?" tanyanya.

Aku tersenyum dan berdigik. Aku pun tidak tahu. Aku kembali menggerakkan tanganku, lalu kakiku, aku membuat lapangan es dalam sekejab. Setidaknya, hal yang aneh ini bisa membuat Anna senang, batinku. Aku ikut tertawa melihat Anna yang 'menyelam' di salju buatanku.

Tapi kesenangan kami terhenti begitu aku mendengar suara pintu terbuka.

Aku menoleh dengan cepat, pintu terbuka bertepatan saat cahaya es keluar dari tanganku, aku bermaksud membuat hujan salju untuk kedua kalinya.

Terlihat diambang pintu,

Mama, dengan mata membelaknya.

Dia berlari kearahku dengan panik, memegangi tanganku.

"Elsa, apa ... itu?" tanya Mama, ia terlihat panik.

Aku merasa panik sebentar, tapi saat aku ingin menjawabnya, Anna berkata lebih dulu.

"Itu es Mama, es itu keluar dari tangan Elsa! Hebat sekali!" serunya semangat.

Bukannya tersenyum, wajah Mama malah menjadi pucat.

"Benar begitu Elsa?" tanya Mama.

Takut-takut, aku mengagguk.

Mama segera menyuruh Anna pergi ke kamarnya, lalu mencari Ayah, dia bilang, kami harus bicara.

Ayah tampak terkejut mendengar apa yang dikatakan Mama, lalu berbisik tidak jelas, tapi aku bisa mendengar sekilas.

Kutukan itu benar ada

Apa maksudnya? Aku menatap bergantian, Ayah dan Mama yang saling bicara. Mereka membicarakan, apa mereka harus pergi kesana sekarang. Aku bahkan tidak mengerti apa yang dibicarakan mereka.

Ayah lalu mendekatiku.

"Elsa, sejak kapan kau bisa melakukan hal itu?" tanyanya.

Aku menggeleng. "Aku tidak tahu, tiba-tiba saja." Jawabku. Walau mungkin tepatnya, sejak hari ini.

"Kita harus menemui mereka Agnarr!" kata Mama, siapa mereka?

"Tidak, ini masih baik saja, dia tidak akan melukai siapapun, Iduna. kita lupakan saja ini," Ayah menghela napasnya. "Elsa, kau gadis yang baik benar?" tanya Ayah.

Aku mengangguk. "Tentu saja, Ayah."

Ayah tersenyum. "Bagus, kalau begitu dengar kata Ayah, Elsa." Kata Ayah. "jangan sampai orang lain tahu tentang apa yang bisa kau lakukan itu oke? Anggap saja ini rahasia kecil kita." Ayah tersenyum lagi, membelai kepalaku.

Aku tersenyum kaku. "Baik ayah." Tapi, sudah ada orang lain yang mengetahuinya ... mereka Adler, Tobias, dan dia yang tidak kuketahui namanya.

Beberapa hari kemudian, Ayah dan Mama seolah sudah melupakan hal itu. Aku juga tidak pernah membuat mereka memergoki saat aku dan Anna bermain tengah malam, karena entah bagaimana, salju-salju itu bisa menghilang sendiri setelah kami ingin beranjak pergi, seolah menguap dan hilang begitu saja.

Mama memberitahu 'kan, tentang apa yang mereka khawatirkan sebenarnya. Beberapa saat setelah tangisanku terdengar begitu aku dinyatakan tidak selamat, para tabib berunding dengan Ayah, mereka mengatakan ada yang tidak beres dalam tubuhku.

Dan salah satu pendapat mereka adalah, aku mendapat kutukan. Bisa saja kutukan itu sejak aku dilahirkan, dan akan muncul saat aku beranjak dewasa, mereka memberikan buku dan peta tempat dimana makhluk bernama trolls tinggal.

Jika terjadi hal yang tidak diinginkan, Kami harus mendatangi mereka, merekalah ahli dalam hal diluar akal seperti ini.

Saat itu, Ayah menyanggah pendapat para tabib itu, dan percaya bahwa aku akan baik-baik saja, tapi semuanya runtuh saat melihatku dalam mengendalikan es.

Bisa saja, itulah kutukan itu.

Saat aku mendengarnya, aku menjadi cemas sendiri. Aku takut, bahwa apa yang bisa kulakukan ini akan berbahaya untuk orang-orang disekitarku, dan diriku sendiri. Mama terus memberitahukanku untuk menyembunyikannya. Jangan menggunakannya secara tiba-tiba.

Belajarlah mengontrolnya

Itu yang selalu tengiang dalam kepalaku, dan kupikir, aku sudah cukup bisa mengendalikannya.

"Elsa?"

"Elsa, wake up!"

Sayup-sayup aku mendengar suara Anna membangunkan aku. Aku tersenyum sambil masih terpejam. Baru saja aku benar-benar tertidur, dan sekarang monster kecil ini sudah membangunkanku.

"Anna, tidurlah." Balasku.

"Aku tidak bisa, Elsa," kata Anna, tiduran diatasku. "langit tampak begitu cerah, dan aku membuatku ingin bermain, jadi, kita harus bermain Elsa." Katanya, terdengar melankolis.

Aku mendorongnya dari atasku. "Bermainlah sendiri kalau begitu." Kataku, masih tersenyum.

Anna terdiam sebentar, lalu menaiki kasurku lagi. Dia bahkan membuka kelopak mata kiriku.

"Do you wanna build a snowman?" ajaknya.

Dan aku selalu suka memakai kekuatanku, dia tahu kelemahanku, dasar monster licik. Aku tersenyum dan membuka mataku, melihat Anna yang senang bujukannya berhasil.

Dia tertawa dan menarikku turun, ke hall utama kerajaan.

"Do the magic, Elsa! Do the magic!" serunya kegirangan.

Aku tersenyum dan mulai membentuk bola salju.

Dan disanalah tragedi bermula.

Aku tidak sengaja menembakkan kekuatanku, ke kepala Anna, dan Anna tidak sadarkan diri setelahnya. Aku memeluk Anna dengan cepat, tubuhnya dingin sekali. Aku berseru-seru memanggil Mama dan Ayah, dan dalam hitungan detik, aku melihat mereka membuka pintu utama hall dengan susah payah. Karena kekuatanku sudah menutupi seluruh ruangan.

"Ini sudah kelewatan," kata Ayah, memegang Anna yang digendong Mama.

"Itu kecelakaan Ayah." Kataku takut, apa yang sudah kulakukan ...?

"Dia dingin sekali," Mama memeluk Anna.

"Aku tahu kita harus kemana," Ayah langsung berlari setelahnya. Mama menyuruhku mengambil selimut di kamar, dan akupun juga langsung berlari menaiki tangga.

Aku panik sekali memikirkan Anna, dan saat aku memegang kenop pintu, es merambat. Aku panik dan segera membukanya, mengambil selimut dan kembali, aku baru menyadari seluruh jalan yang kulewati sudah mulai membeku.

Aku meringis takut, dan segera berlari kebawah.

Apa yang sudah kulakukan...?

Kenapa aku mendapat kutukan semacam ini...?

Kuda berlari dengan cepat. Ayah tampak mengendarainya dengan panik dan terburu-buru. Kutengok dibelakang, es merambat kemana aku pergi. Aku semakin panik. Apa yang terjadi padaku? Kenapa semua menjadi parah seperti ini?

Kami berhenti ditengah hutan. Apa yang akan kami lakukan sekarang? Aku mengepal tanganku sendiri, takut menyentuh apapun.

"Siapapun," kata Ayah menggema di seluruh hutan. "tolong bantu kami, putriku, sesuatu terjadi pada putriku!" Ayah berseru ditengah batu-batu dan hutan.

Tapi sesuatu terjadi, batu-batu itu menggelinding mendekati kami. Aku mendekati kaki Ayah.

Merekalah troll itu. Mereka tampak, murung melihat Anna.

Salah satu dari mereka mendekati kami.

"Yang mulia," dia menunduk hormat pada Ayah. Ayah berjongkok dibelakangku. "terlahir dengan kekuatan, atau mendapat kutukan?" tanyanya.

Aku menoleh pada Ayah. Aku terlahir dengan kutukan.

"Terlahir dengan kekuatan," kata Ayah cepat. "dan semakin parah." Lanjutnya lagi.

Dia mendekati Mama. Mama berjongkok, dan dia memegang kepala Anna.

"Syukurlah ini bukan hatinya, hatinya tidak bisa disembuhkan." Katanya, seolah menghiburku.

"Sembuhkan dia," kata Ayah, dibelakangku.

Troll itu tampak berpikir. "Aku menyarankan untuk menghilangkan ingatannya tentang kekuatan Elsa," dia menggerakkan tangannya, dan gambaran tentang salju dari sihir yang selama ini kami mainkan bersama terlihat, perlahan, dia mengubah semuanya seolah kami bermain pada salju asli. "tapi tenanglah, aku meninggalkan hal yang menyenangkan." Katanya lagi.

Aku berjalan maju. "Apa itu berarti dia akan melupakan kekuatanku?" tanyaku takut, hanya Anna yang membuatku tidak takut dengan kekuatanku.

"Ini untuk kebaikannya juga Elsa," kata Ayah. Aku terdiam, menyetujui kata troll dan ayah. Kalau Anna masih mengingat kekuatanku, dia bisa membenci karena hampir membuatnya kehilangan nyawanya. Benar, ini yang terbaik.

"Dengan Elsa, seiring tumbuhnya dirimu, kekuatanmu juga akan bertumbuh. Akan ada hal yang menyenangkan dalam kekuatanmu itu," katanya. "tapi juga ada bahaya yang besar, ketakutan adalah musumu, Elsa, belajarlah mengontrol kekuatanmu." Katanya.

Aku takut mendengar kalimatnya. Segitu menyeramkannya 'kah aku? Aku mendongak kearah Ayah.

"Dia akan belajar mengontrol kekuatannya." Kata Ayah yakin. "hingga saat itu, aku akan menjaganya, membiarkan kekuatannya tidak diketahui orang-orang. Aku akan menjaganya." Kata Ayah lagi, mencengkram pundakku.

Aku menangis memeluk Ayah.

Maafkah aku Ayah, maafkah aku,

Harus terlahir seperti ini.

Maafkan aku.