Frozen As Frost
Chapter 11. Awal Pertemuan
E L S A
Aku mendapati diriku terbangun diatas tempat tidurku pagi ini. Dengan cahaya matahari yang hangat sebagai hal yang kulihat pertama kali. Aku mengerjap, melihat sekeliling, api di perapian sudah terlihat padam. Hari sudah menjelang pagi, dan sepertinya badai malam hari tadi sudah berhenti total.
Hening.
Aku tidak mendengar suara ribut Anna yang selalu berteriak nyaring sambil berlari di koridor istana, atau suara apapun yang biasanya kudengar sebelumnya. Aku terdiam di tempat tidurku, tidak merubah posisi tidurku sedikitpun. Tapi tetes demi tetes air terus mengalir dari pipiku membasahi tempat tidurku, meninggalkan bentuk noda yang tidak terlalu terlihat disana.
Aku tidak mau begini,
Aku ingin kembali.
Sudah hampir setahun sejak hari dimana aku diharuskan untuk menjauhi Anna, sampai setidaknya aku dapat mengontrol kekuatanku, -sebuah kutukan menyeramkan yang hampir membuatku mmbunuh adikku sendiri. Karena kutukan itulah, aku terasing dari dunia, aku harus menjaga diriku agar tidak melukai orang-orang, agar tidak membuat diriku sendiri sebuah monster.
Aku ingin kembali menjadi diriku yang sebelumnya, sekitar beberapa bulan yang lalu, saat semua masih terasa mudah, dan damai.
Kupejamkan mataku kuat-kuat, dan tetesan air yang mengalir di pipiku semakin terasa.
Aku ingin kembali.
Suara pintu penghubung dari ruang baca istana mengejutkanku, segera kupejamkan mataku dan berusaha menyeka air mata dari pipiku, berusaha terlihat masih tertidur. Aku menormalkan napasku, menahan sesegukanku.
Dan kurasakan seseorang melintasi ruang kamarku, perlahan mengusap lembut lengan atasku, mengguncangnya pelan.
"Elsa, bangunlah,"
Suara Mama yang terdengar lembut berbisik pelan, berusaha membangunkanku.
"Elsa,"
Mama kembali berbisik, sekarang tepat di telingaku, membuatku merasa geli.
Aku pura-pura baru terbangun, mengerjabkan mata, menyipit melihat wajah Mama yang tersenyum melihatku. Wajahnya yang selalu tampak tenang membuatku seakan melupakan semua kesedihan tadi,
Kududukan diriku setelahnya, masih melihat wajah Mama yang tersenyum penuh arti kepadaku. Perlahan ia berjalan kearahku, memeluk kepalaku dan mengecup dahiku.
"Selamat ulang tahun, putriku,"
Dan aku kembali ingin menangis begitu mendengar suaranya. Rasanya aku ingin menangis mengadu pada Mama, tapi yang aku tahu, itu akan membuat perasaan Mama resah dan ikut merasa sedih karena telah memisahkanku dari semuanya, terutama Anna.
Aku tersenyum melihat manik matanya, "terima kasih sudah mengingatnya, Mama," kataku tulus. Aku tidak benar-benar berharap ada yang mengingat hari ulang tahunku, mengingat aku terus seorang diri diruangan ini. Aku tidak akan tahu kalau mereka mengingatnya.
Tapi Mama tentu pengecualian, juga Ayah. Mereka masih mengunjungiku disela-sela waktu sibuk mereka.
"Maafkan Ayahmu tidak bisa berada disini sekarang Elsa, Yang Mulia harus segera pergi ke kerajaan Kaeven pagi ini, ia sudah beranjak dari istana sejak dini hari tadi," Mama melanjutkan, wajahnya yang tenang tetap tersenyum walau jelas tampak ia terlihat murung.
Aku terdiam sebentar, tidak yakin. "Ada apa dengan kerajaan Kaeven?" Kerajaan Kaeven adalah kerajaan Pangeran Adler, putra tunggal Raja Geirr. Aku sempat banyak mengobrol dengan Pangeran Adler, walau aku tidak dapat menyebutkan kalau aku adalah teman baginya.
Wajah Mama tidak menyembunyikan kesedihannya lagi, "Elsa, Raja Geirr, … meninggal kemarin malam," kata Mama pelan. "kami belum tahu sebab pastinya karena desas desusnya belum Mama dengar dengan jelas, tapi mereka mengatakan Raja Geirr meninggal karena penyakit yang di deritanya, sebuah penyakit fatal yang dapat menyerang tiba-tiba, dan sangat berbahaya, benar-benar tidak terduga," Mama terdiam sebentar.
"Karena itulah, Yang Mulia segera meninggalkan Istana, untuk datang ke upacara penghormatannya yang terakhir pagi ini, sebagai salah satu sahabat Raja Geirr, Yang Mulia Adgarr pasti sangat terpukul mendengarnya."
Aku masih terdiam, tidak bisa memikirkan kata-kata yang sepatutnya kuucapkan.
Raja Geirr? Ayah Adler, meninggal? Rasanya baru beberapa saat yang lalu kami makan bersama di meja makan kerajaan Kaeven, melihatnya dan Ayah bersulang dan tertawa-tawa. Rasanya baru semua berlangsung tadi.
Sekelebat pikiran mengenai Adler muncul di kepalaku. Bagaimana dengan Adler? Ibunya sudah tidak ada sejak lama—dan sekarang Ayahnya. Ia masih sangat muda, tidak mungkin ia mengambil alih kerajaan di usianya yang baru berumur 10 tahun.
Mama bergerak berdiri dari posisi duduknya, membuatku tersedar seketika. Aku ingin bertanya tentang Adler, tapi aku tidak yakin Mama mengetahui tentangnya.
"A—"
Suara ketukan pintu terdengar, dari pintu putih tidak jauh dari tempat tidurku. Aku menoleh dengan cepat, begitu mendengar ketukan pertamanya.
"Elsa?"
"Diluar salju menumpuk,"
"…., bagaimana kalau kita bermain keluar?"
"Apa kau mau membuat manusia salju?"
Suara Anna terdengar dari seberang. Suara cempreng itu. Aku menelan salivaku, sudah lama sejak Anna terakhir mengetuk pintuku.
"Elsa?"
"Ma—" panggilku, Ratu menoleh kepadaku dengan wajah yang sulit kujelaskan. "Kumohon, suruh Anna pergi." Kataku pelan. Sudah berulang kali, dulu, aku memintanya pergi, dan Anna tetap keras kepala memaksaku.
Mama terdiam sebentar, kemudian kembali tersenyum. Ia mendekat kearahku, mengecup dahiku lagi. "Tentu." Jawab Mama. "semoga harimu menyenangkan, Elsa. Aku menyayangimu."
Aku menunduk, masih terduduk di atas tempat tidurku. Mama berjalan menuju pintu pembatas ke ruang baca istana. "Ma—" panggilku lagi, Ratu kembali menoleh. "aku ingin ke taman belakang, sore ini, bisakah?" tanyaku penuh harap.
Ratu tersenyum dan mengangguk. "Tentu saja, sayang,"
Aku membalas senyumnya, "Terima kasih, aku menyayangimu." Balasku. Dan Ratupun pergi dari kamarku.
Minggu kedua musim dingin, seperti tahun-tahun sebelumnya, sekarang adalah waktu kritis, karena badai sering kali datang, baik itu tiba-tiba atau dapat di perkirakan para peramal cuaca istana. Dan tepat hari ini, Sembilan tahun yang lalu, di tengah malam saat badai salju yang membekukan kota, hingga matahari tidak bersinar tiga hari penuh, aku terlahir.
Walau cuaca lebih dingin dari es, tapi rakyat menyambut hangat kelahiranku—itulah yang sering dikatakan Mama—dan saat itu juga terjadi sebuah kejadian aneh; saat sekujur tubuhku membeku tiba-tiba, dan para tabib menyatakan kalau aku tidak selamat, walau takdir berkata lain. Aku masih bertahan hidup hingga sekarang, dan kutukan itu sudah mulai menampakkan wujudnya.
Aku membelai rambut panjangku yang terkepang. Rambutku berwarna platinum blonde, sebenarnya ini akan biasa saja, jika salah satu keluargaku juga memiliki rambut bewarna sama, yang nyatanya tidak, mereka semua berambut cokelat atau kemerahan, dan terlihat sangat berbeda dengan warna rambutku.
Aku pernah menanyakan tentang itu pada Mama, dan itu adalah warna yang kudapatkan setelah aku kembali hidup. Karna aku special, tidak karena aku berbeda dan tidak seharusnya berada disini. Aku kembali memegangi rambutku, Sembilan tahun yang lalu, rambutku bewarna cokelat seperti Mama atau mungkin Ayah. Pikirku.
Suara burung berkicau keras di langit, membuatku mengadah, melihat langit yang bewarna biru diatasku. Tidak ada awan sedikitpun disana, semua terlihat begitu biru. Sedikit mirip dengan hamparan di depanku, taman kesayangan Mama tertutup salju dengan sempurna. Putih tidak bercela, ku hempaskan tubuh ke tumpukan salju, kembali menatap langit.
….saat aku melihat seseorang terbang disana.
Mataku membelak lebar dengan cepat, sesegera mungkin aku mendudukkan diri, melihat kemana perginya hal itu, mataku menangkap sesuatu yang bewarna biru itu hilang di arah bukit kecil dibelakang tembok istana. Aku ragu sesaat, tapi kemudian berdiri dari posisiku, menaikkan tudung kepala dari mantelku, lalu berjalan mendekat kearah tembok istana itu.
Ada sebuah pintu yang bisa membawaku menuju bukit itu, dan disana terdapat beberapa penjaga dengan tombak mereka, aku bisa saja melewati mereka, tapi Ratu pasti sudah mengingatkan mereka untuk mengawasiku agar tidak pergi dari lingkup istana, walau aku tidak mengerti kenapa mereka tampak tidak tertarik dengan seseorang terbang tadi—maksudku apa mereka tidak melihatnya?
Aku berpikir cepat, dan akhirnya memilih untuk menggunakan kekuatanku, ku bekukan sebuah pohon hingga es dari kekuatanku membentuk dedurian di sebanjang batang pohon itu, hal yang sangat mudah kulakukan mengingat itulah yang aku perbuat—dengan tanpa kehendak—sepanjang hari, jika aku tidak menggunakan sarung tangan yang diberikan Ayah setahun lalu.
Dan hal itu membuat pohon itu tampak mencolok dan mengundang perhatian dua penjaga tadi.
"Kau lihat itu?—apa yang terjadi?"
"Astaga, pohon itu membeku!"
"Ayo kita lihat."
Mudah sekali membuat mereka pergi.
Segera setelah mereka meninggalkan pos mereka, aku menyelinap melewati pintu itu, keluar menuju bukit di belakang istana untuk mencari apa yang tadi kuliha—
"Wow, itu keren, bocah."
Tubuhku membeku mendengar suara laki-laki dari atasku. Aku menoleh kebelakang dengan cepat, melihat sesosok yang membelakangi cahaya matahari, hingga membuatku silau.
Butuh beberapa detik untukku menyadari,
Itu adalah Tuan-berbaju-biru.
