Frozen As Frost

Chapter 12. Mereka yang menyukai salju (part 2)

"Jack,"

"Kau masih disini?"
"Jack, aku memanggilmu," suara Tooth yang tadi menggema terdengar dekat sekarang.

Aku membuka mataku, melihat wajah Tooth tepat diatasku, kutebak, dia sedang berkacak pinggang sekarang. Aku segera mendudukkan diri, saat Tooth memundurkan kepalanya, menjauh dari wajahku.

"Kenapa?" Tanyaku. Meraba keberadaan tongkatku, ah, ini dia.

"Kau tidak mendengarnya? North memanggilmu Jack," kata Tooth

Aku mengedipkan mataku cepat. "Kapan? Aku tidak mendengarnya,"

"Tadi, baru saja, sudah sana cepat pergi, sepertinya itu hal penting," saran Tooth, ia juga melenggang pergi menjauh dariku.

Hal penting? Saat terakhir dia memanggilku untuk "sesuatu" pentinng adalah untuk memamerkan penemuannya. Hebat, memang penting sekali.

"Baiklah aku pergi dulu," pamitku cepat, segera meloncat dan terbang menjauh dari tempat Tooth.

Aku penasaran hal apa lagi sekarang.

Sudah tiga ratus tahun lebih setahun dari sejak aku terbangun dari kolam es, saat aku dihidupkan kembali oleh man in the moon, dan untuk mengisi waktu luangku yang seakan tidak ada habisnya itu, aku terbang mengelilingi dunia, mencari mereka yang dihidupkan oleh man in the moon lainnya, aku menemukan tempat Tooth pertama kali, karna baby Tooth menyebar di berbagai penjuri dunia, aku bertemu mereka saat berkeliling eropa, dan mengikuti salah satunya. Tidak menyangka mereka memiliki kastil besar seperti ini di China, tapi aku tidak pernah tertarik dengan gigi, jadi aku hanya sekilas melihat-lihat.

Setelahnya, aku bertemu dengan North saat dia membagikan hadiah hadiahnya di malam natal. Dengan para rusa terbangnya yang selalu berusaha menendangku saat aku mendekati mereka, North sendiri yang menunjukkan tempatnya kepadaku, tapi dia terlalu sibuk untuk diajak bercanda saat itu, jadi aku banyak meluangkan waktuku bersama para Yeti yang menyenangkan itu.

Berpuluh tahun kemudian, aku bertemu si pemarah Bunny, itu terjadi saat hari paskahnya beku oleh kerjaanku, dia datang ke tempat North, tempatku menetap saat itu, dan mencoba memancing emosiku, aku membalasnya beberapa tahun kemudian, dan itu menimbulkan kebenciannya padaku, hingga tahun lalu.

Dan tahun lalu itu benar-benar merubah banyak dalam hidupku. Bunny tidak lagi membenciku, tapi wajah marahnya memang seolah terpahat di wajahnya. Bahkan, aku sudah dapat terlihat oleh anak anak sekarang.

Dan sepertinya tahun ini, aku benar benar mengubah banyak dalam hidup seseorang lain. Walau aku tidak tahu pastinya, maksudku, ini memang sudah dituliskan dilangit.

Kastil milik North yang berada di Rusia terlihat tidak lama kemudian, aku segera menepi kesalah satu lorong peranti para rusa terbang itu memasuki kediaman North, lalu berlenggang menuju ruang globe.

Tidak ada yang berubah, para Yeti masih sibuk sendiri, dan tampak tidak tertarik melihat kedatanganku, jadi aku mendekati salah satu mereka dan bertanya dimana North, dan sudah kutebak sebelumnya, ia berada di ruangannya.

Aku mengetuk pintunya, memanggilnya.

"North, kau memanggilku?" tanyaku, membuka pintu cokelat itu dan masuk kedalamnya, bahkan sebelum North memerintahkannya, kami sudah berkawan baik, hal seperti sopan santun untuk sekedar formalitas sudah tidak berlaku untukku, haha.

Kulihat North yang bersedekap memperhatikan bola-bola portalnya yang dijajarkan dengan serius, bahkan saat aku mendekatinya, ia menghela napas berat seolah pemikirannya sudah menghabiskan energinya.

Dia menoleh kearahku, menatapku serius.

Aku masih memandangnya dengan wajah bingungku, tidak mengerti situasi saat ini.

"Jack, ini gawat," katanya.

Oke, ini sebuah pembicaraan serius sekarang.

"Ada yang mencuri portal-portalku, dan ini gawat," katanya, mengambil salah satu bola portalnya. "aku bisa merasakannya, di perutku."

Aku selalu penasaran bagaimana merasakan yang ia maksud disini, tapi mari kita lewatkan hal itu terlebih dahulu, karena kawanku ini tengah membesar-besarkan sebuah masalah sepele.

"North, aku bukannya lagi-lagi menyepelekan analisis perutmu itu, tapi ayolah, itu bukan hal besar, itu hanya portal," kataku.

"Ini mesin waktu Jack, bisa saja sesuatu buruk terjadi saat ini karna ada hal lain yang diubah di masa lalu." Kata North, mengingatkan.

Aku terdiam saat North berkata bisa saja terjadi hal buruk karena hal lain yang diubah di masa lalu, tapi dengan cepat aku mengabaikannya. "Baiklah, akan ku beritahu sebuah rahasia kecilku," kataku, menghela napas, North menaikkan alisnya. "aku yang mencuri portal-portalmu North, maksudku, tidak ada yang menggunakan mereka bukan? Jadi kupikir tidak ada kalau aku menggunakannya beberapa kali,"

North mengedipkan matanya dua kali, seolah tidak percaya. "Jadi kau ... yang? Akh, ini bodoh, kenapa kau tidak memberitahuku kalau kau menggunakan portal-portalku?"

Aku mengacak rambut, menyeringai, "yah, aku lupa, mungkin,"

"ini masih dalam tahap eksperimen Jack, bisa saja salah satu dari portal-portal ini rusak, itu akan sangat berbahaya." North mendudukkan dirinya, tampak lelah.

"Ah ya maafkan aku, toh tidak ada hal buruk terjadi, jadi mari kita lupakan ini," kataku dengan mudah. Memasukkan kedua tanganku kedalam lubang sweaterku. Aku sudah akan beranjak dari ruangannya saat North kembali berbicara.

"Jack, aku tidak tahu apa yang membuatmu senang dengan portalku—kau tahu aku juga senang ada yang mengakui alat buatanku—tapi untuk sementara waktu lebih baik kau jangan menggunakan portalku lagi, aku akan menyimpan portal-portalku, setidaknya hingga firasatku memudar," kata North.

Aku mengentikan langkahku. Apa?

"North, jangan berlebihan," kataku setengah tertawa. "memang hal buruk apa yang kira-kira akan terjadi?"

"Aku tidak pandai menerka, Jack, jadi lebih baik menghindar dari masalah itu sendiri," kata North. "kau tahu hal yang paling kita takuti, para guardians,"

"Aku tidak takut apapun." Kataku begitu saja, maksudku, aku sudah terbiasa tidak terlihat oleh anak-anak jika itu yang North maksud, 300 tahun sudah lewat sejak aku dihidupkan kembali, dan baru beberapa bulan yang lalu, aku benar-benar bisa terlihat oleh anak-anak.

North mengusap muka, seolah lelah dengan sikapku. "Pitch, yang kumaksud. Aku takut ia kembali."

Dan aku benar-benar tertawa sekarang.

"Dia sudah mati North, kita semua tahu itu."

"Jack, kau lupa sesuatu, kita makhluk yang sudah tidak mati lagi, Pitch tidak mati, ia hanya tertidur, jauh di bawah sana, dan tidak terlihat, tapi ia bisa kembali kapan saja saat kekuatannya kembali. Kau ingat Sandy? Ia tidak pernah benar-benar meninggalkan alam ini, Jack,"

Aku membuka mataku lebar. Benar juga, penjelasan North masuk akal, aku terlalu santai karena berpikir Pitch sudah tidak ada.

"Tapi maksudku, dia sudah tidak bangkit, semua anak-anak mendapatkan hadiah dari gigi tanggal mereka, telur saat paskah, hadiah saat natal, juga mimpi indah saat tertidur, kalian melakukan pekerjaan kalian dengan baik, tidak ada yang perlu dikhawatirkan."

North mengangguk. "—juga salju di musim dingin. Kita melakukan semua pekerjaan kita dengan baik, tapi tetap saja dia bisa kembali kapan saja, saat ada sebuah ketakukan besar menghinggapi seorang anak, disanalah Pitch hadir."

"Dan sebisa mungkin kita akan menghindari hal itu," aku kembali akan beranjak pergi.

"Tapi tetap Jack, aku tidak membiarkanmu menggunakan portalku untuk sementara waktu." Tegas North.

Aku membuka pintu ruangannya, melenggang keluar. "Terserah saja."

Aku adalah Jack Frost.

Roh musim dingin. Aku tidak bekerja seperti para guardian lainnya, kerjaku hanya bermain dan membuat suasana menyenangkan. Aku tidak terikat peraturan, karna aku memang ditakdirkan untuk bebas.

Aku tidak memiliki peraturan, karna itu aku tidak menuruti apapun kecuali karna kehendakku,

Meski portal-portal ini milik North, toh aku menyukainya, dan segala hal tentang firasat anehnya, persetanan. Aku telah melakukan hal serius di Arandelle, dan aku akan memperbaikinya, walau aku tidak tahu bagaimana caranya.

Aku masih memiliki dua portal North, dan aku harus bergegas pergi sekarang.

"Wow, itu keren, bocah," kataku melihat takjub apa yang baru saja dilakukan putri kecil ini. Sepertinya dia berusaha mengalihkan perhatian dua penjaga yang berdiri di depan pintu yang baru saja ia lewati. Ia terlihat terkejut saat melihatku, ah iya benar, aku sedang berdiri di salah satu atap pos penjaga sekarang, tentu ia terkejut melihatku.

Aku meloncat turun ke dekatnya, dan ia justru merapatkan diri pada pintu kayu di belakangnya, terlihat ketakukan.

"Siapa kamu!?" tanyanya sedikit membentak. "bagaimana-bagaimana bisa ... kau ... terbang? Kau bisa terbang!" ia menunjuk-nunjukku saat ia mengatakannya.

Apa salahnya kalau seorang roh musim dingin bisa terbang? Salah karena ia tidak mengetahui kalau aku seorang roh musim dingin. Seorang mitos masyarakat yang dikarang oleh orang dewasa.

"hei, hei tenang bocah, jangan histeris seperti itu, memangnya aku semenakutkan itu?" aku berusaha menenangkannya.

"Kau tuan-berbaju-biru yang tahun lalu 'kan? yang menolong Tobias saat itu, dan ...,"

Wah sudah lewat setahun, dia masih mengingatku saja, rasanya baru tadi aku menolong tiga anak itu.

"dan?" pancingku.

"... dan Tuan tidak berganti baju?" tanyanya, yang lebih mirip pernyataan dari pertanyaan. Aku sungguh serius ingin tetawa karena pakaian yang ia kenakan juga sama seperti yang tadi kulihat.

"Hei, bajumu juga sama," aku berjongkok untuk menyamakan tinggiku dengan tinggi pandangan matanya.

"Tukang jahit istana membuatkanku semua baju dengan model ini, aku berganti setiap hari, tapi Tuan ... bahkan noda di bajumu sama persis, jika aku tidak salah, dan lagi, siapa Tuan yang sebenarnya?" tanyanya takut-takut.

Alasan yang bagus, pikirku. "Karena bocah, aku adalah roh musim dingin, aku tidak memiliki kebutuhan seperti para manusia kebanyakan." Jelasku.

Matanya terbelak. "Roh musim dingin? Jadi ... Tuan yang membuat semua salju ini? Seperti yang ditulis di buku?"

Secara teknisnya sih, tidak. Aku belum ada di jaman ini, masih kurang lebih seratus tahun lagi hingga aku dilahirkan. Tapi mari biarkan dia menganggap begitu, jadi aku tidak perlu menjelaskannya karena itu akan merepotkan. "Ya, aku bisa mengeluarkan salju, dan karena aku adalah seorang roh, tentu aku bisa terbang. Apa itu sudah menjawab semua pertanyaanmu?" tanyaku balik.

"Tuan bisa .. mengeluarkan salju?"

"Tentu saja." Aku menhentakaan tongkatku, dan bunga es merambat membekakan salju di sekitar tongkatku, hingga mendekati kakinya. "dan hal-hal seperti ini," jelasku.

Dia terlihat lebih terkejut sekarang, aku tidak kaget dengan ekspresinya. "Itu ... sama seperti yang bisa kulakukan,"

"Ya, aku sudah melihatnya, itu keren," sanjungku.

"Menurut tuan itu ... keren?" tanyanya dengan mata berbinar.

Aku mengangguk mantap. "Tentu saja, itu sangat keren justru," aku mendekat kearahnya. "kau bahkan bisa melakukan hal itu lebih baik dariku."

Dia semakin merapatkan dirinya, saat aku mendekat kearahnya. "tidak, jangan mendekatiku, aku berbahaya," katanya, dan es merambat dari kakinya, aku memperhatikannya dengan bingung. "aku serius, aku tidak bisa menahan kekuatanku, aku ini berbahay—"

Aku memegang tangannya. Beku seperti tanganku, dan kilakan biru menyambar sejenak. "aku tidak takut padamu, dan perlu kau tahu, kekuatanmu tidak akan bisa membahayakanku." Kataku. Aku sudah kembali berjongkok, dan sekarang persis didepannya. "kau tahu kenapa? Karna kita sama, jadi kau tidak perlu takut kepadaku juga,"

Ekspresinya melembut, ia memperhatikan tangannya yang terus mengeluarkan kilat bewarna biru, hingga kilat itu perlahan hilang. "Kita sama?"

Aku tersenyum. "Ya, dan tolong jangan panggil aku Tuan, aku tidak terlihat setua itu bukan? walau kita memang tidak seumur," mengingat umurku yang sudah lebih dari tiga ratus tahun. "Aku Jack Frost, kau bisa memanggilku Jack."

Aku memegangi tongkatku dengan kedua tangan. "jadi, siapa namamu, nona?" tanyaku.

"A ... aku Elsa," dia terlihat kaku. "senang ... berkenalan denganmu." Dia menunduk, uh-oh. Dia menangis.

"Hei-hei, kenapa kau menangis? Hei," aku kebingungan sendiri, melihat gadis ini menangis tiba-tiba.

"Terima kasih ... untuk tidak takut kepadaku," dia masih terisak. "aku tidak memiliki teman, semua takut padaku. Mereka takut." Katanya lagi. "bahkan Ayah, atau Mama."

Aku terdiam. Dia menakuti kekuatannya.

"Selama ini aku berpikir aku akan terus sendiri hingga kutukan ini hilang, karna aku tidak akan bisa mengontrolnya, aku terlalu membahayakan untuk orang-orang,"

Kutukan?

"Kutukan ap—"

Dia melihat kearahku, tangan kirinya memgangi dua satung tangan bewarna putih. "tanpa sarung tangan ini, es merambat dari tanganku, kapanpun, dan semakin memburuk seiring berjalannya hari, tapi aku tidak bisa terus mengandalkannya, bisa saja kutukan ini tetap ada meski aku sudah mengenakan sarung tanganku."

"Apa maksudnya kutukan?"

"Aku terlahir dengan kutukan!" katanya sedikit keras. "kau bisa mengeluarkan es dari tanganmu, karna kau seorang roh musim dingin, tapi aku berbeda, aku terkena kutukan hingga aku menjadi seperti ini," "karna kutukan inilah ... aku tidak memiliki teman."

Aku sedikit sakit hati mendengarnya. Bukan karena bagian dia menganggap kekuatan hebat itu sebuah malapetaka, tapi karena ulahku lah yang membuat dia menderita seperti ini, maksudku aku tahu rasanya tidak memiliki teman, bahkan tidak dianggap untuk ratusan tahun.

"Siapa disana?" suara berat seseorang terdengar dari balik pintu. "putri Elsa? Kau disana?" tanyanya lagi.

Gadis ini tampak bingung, tapi tidak menjawab.

"Ga-gawat, penjaga akan menemukanmu," katanya. "orang sipil tidak diperbolehkan kesini," katanya sedikit panik.

Aku akan senang jika mereka bisa menemukanku, justru. Tapi itu hal yang mustahil, kecuali untuk bagian mungkin saja Gadis ini akan diseret masuk dan menyulitkanku untuk berbicara dengannya, mungkin saja.

Segera aku menembakkan es untuk membekukan pintu itu, jadi pintu itu akan sulit dibuka kecuali dengan di dobrak.

"Apa yang kau lakuka—"

"Aku mau menjadi temanmu, Elsa, kau tahu, karena kita sesama, mungkin kita bisa menjadi teman yang hebat." Kataku, tersenyum, berdiri dari posisiku. "dan sekarang, karena kita sudah berteman, kau mau menemaniku berjalan-jalan sedikit?" tanyaku.

Gadis itu terlihat bingung, namun senang, "bagaimana caranya?" tanyanya.

Aku meloncat turun ke atas air yang mengelilingi istana ini, dan pijakan tongkatku menjadikan air itu beku seketika, semakin merambat membentuk sebuah jalan.

"Kau ikut?" tanyaku, mengulurkan tangan.

Gadis itu tersenyum senang, berlari kearahku, meraih tanganku, lalu kami lari menyebrangi laut, menuju sebuah pulau tidak jauh dari sini, dengan jalan es yang kubuat, namun berurai setelah kami lewati.

Haiii! Kalian selamat hari raya idul fitri!

Saya minta maaf yaa kalo sering updatenya lama heuheu.

Okee, jadi Jack sudah ketemu Elsa x)) maaf ya alurnya lama hehe,

Vote kalau kalian suka ya!

Jangan lupa komentar, mungkin tentang typo di bab ini, atau tentang jack yang out of chara (haha)

Mau spoiler: cerita ini hanya fiksi belaka, hanya sedikit di sangkut-sangkutkan dengan adegan di film, namun jalan cerita di film mungkin akan berbeda disini :D

Salam,

Farha.