Mark mengecek kembali laman web yang menunjukkan jadwal kuliahnya di hari pertama setelah menjalani rangkaian kegiatan pra kuliah. Meski begitu, tangannya tidak berhenti memasukkan sendok demi sendok makanan hasil buatan ayahnya pagi ini. Sebenarnya tidak juga karena Sehun meminta tolong Kyungsoo untuk menyiapkan bahan makanan siap olah -ia tinggal memasukkan ini dan itu sesuai instruksi- setiap harinya. Atau terkadang jika sedang baik hati, maka sepupu cantik nan kekanakannya -Baekhyun- akan mengundang keluarga beranggotakan dua orang itu untuk bergabung di meja makan di pagi hari.
Sementara itu tak jauh dari anak laki-laki yang masih berusaha menelan suapan terakhirnya. Seorang pria dewasa tengah menatap putra semata wayangnya itu dengan tatapan frustasi. Surainya berantakan, ia bangun kesiangan dan langsung pergi ke dapur tanpa mencuci muka sekalipun.
"Uum, tidak diragukan lagi. Masakan bibi Soo adalah yang terbaik."
"Itu masakan ayahmu nak."
"Ah! Andai saja aku tinggal bersama bibi Soo, aku tidak akan sekurus ini."
"Setiap pagi aku menyiapkan sarapan untukmu dude!" Suara Sehun naik satu oktaf. Mark masih sibuk men-scroll layar ponselnya.
"Haruskah aku meminta bibi Soo menyiapkan bekal makan siangku juga?" Gumamnya.
"Ya! Kau mengacuhkan ayahmu yang sudah berusaha keras memasak untukmu pagi ini?"
Mark melirik ayahnya sekilas. Memutar bola mata malas. "Dad, jangan mengakui hasil karya orang lain. Itu benar-benar bukan tindakan terpuji."
Sehun menyerah. Memilih untuk menarik kursi di hadapan putranya. "Haruskah ayahmu menikahi Bibi Soo mu itu huh?" Mark menatap ayahnya lekat-lekat.
"Itu lebih buruk dari tindakan tidak terpuji manapun dad."
"Huh?"
"Malang sekali Bibi Soo jika harus menikahi pria sepertimu dad. Oh, aku bisa meminjamkan kaca spion mobil baruku untukmu." Mark tersenyum lebar menampakkan deretan giginya.
Sehun menahan umpatannya. Putra kandungnya ini memang bukan saingannya untuk berdebat. Ia sudah pasti kalah telak.
.
.
Father
EXO's Fanfiction
ANNOTATION
Ide cerita sepenuhnya milik ©Curloey Smurf.
Apabila tokoh, alur, tipe cerita, dll kurang berkenan. Cukup klik icon silang di halaman. Be a wise readers!
Hanya sebatas manusia biasa, typos, sedih dapat bash, kemampuan berhayal terbatas, fiktif keterlaluan dll. Jadi mohon pengertiannya. Thank You~
This is an EXO's fanfiction, Genderswitch, Oh Sehun & Mark NCT as main cast, Do Kyungsoo, Park Chanyeol, Byun Baekhyun other EXO member, guest star (?), etc as support cast. Pairing Hun x someone, Chanbaek, . Genre Drama, Family. Chapter: 1 of ?. Rate: T.
I'm not a writer but I love to write.
e)(o
Although he's not the best father but he's my father. Thank you for being my father.
.
.
"Yo! Paman Oh!"
Sehun memutar bola mata malas melihat teman dekat putranya yang kini menatapnya dengan sebuah senyum lebar. "Sopanlah sedikit anak muda."
"Maafkan aku, selamat pagi paman Oh yang terhormat." Anak laki-laki itu membungkuk dalam-dalam. Beberapa detik setelahnya ia sudah berada dalam rangkulan ayah temannya.
"Jeno-ya, begitulah kau harusnya memanggil pamanmu. Terhormat adalah nama tengahku ingat itu."
"Yo! Tentu saja Paman Oh terhormat Sehun." Kedua kepalan tangan pria berbeda usia itu bertemu lalu setelahnya terdengar gelak tawa.
"Seharusnya kau yang menjadi putra semata wayang Tuan Oh ini Jeno-ya."
Jeno tertawa keras. "Orang-orang berkata kami mirip, haruskah kita bertukar tempat saja?" Kedua alis Jeno bergerak naik turun. "Aku akan dengan senang hati mengambil alih Maserati mu itu."
"Dalam mimpimu dude. Masuklah, kita akan terlambat."
"Mark-ie, pelukan selamat tinggal dude!" Sehun berseru memanggil putranya.
"Oh dad! Itu kekanakan sekali." Keluh Mark.
Sehun mendengus. "Mark-ie! Kemari atau mobil itu akan kembali ke tokonya." Mark ikut mendengus.
"Jangan memanggilku Mark-ie, itu terdengar menyebalkan dad!"
"Pelukan selamat jalan."
Mark memeluk ayahnya sekilas. "Hum, aku pergi."
"Jangan lupakan makan siangmu dude."
"Ya Dad, aku tahu!"
.
e)(o
.
Sehun mengetuk-ketukan ujung bolpoinnya ke meja. Ia melakukan kebiasaan itu jika sedang berpikir keras. Di hadapannya terpampang selembar foto dan selembar kertas berisikan profil sosok yang berada dalam foto itu. Seorang wanita yang dikirim oleh ibunya jauh-jauh dari Cina untuk menemui atau mungkin juga ditemui olehnya.
"Zhang Yixing." Gumamnya merapalkan nama pemilik foto itu.
Pria dewasa itu melirik jam di pergelangan tangan kirinya sekilas. Sedikit terkejut saat mendapati waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Ia sudah sangat terlambat pulang. Putra semata wayangnya sudah pasti merajuk lagi. Sehun menghela nafas. Menjadi single parent memang tidak semudah yang ia kira dulu.
.
e)(o
.
"Di mana Mark?"
Sehun meletakkan tas kerjanya di salah satu kursi kosong di restoran keluarga yang sering dikunjunginya itu. Kyungsoo yang baru saja muncul dari dapur langsung mendapat pertanyaan.
"Mark? Kenapa bertanya padaku?" Tanya Kyungsoo bingung. "Kau ayahnya. Ngomong-ngomong, kau baru saja pulang kerja?"
"Ya. Karena itu aku bertanya. Apa ia sudah makan malam di sini tadi?"
"Tapi aku tidak bertemu dengan Mark hari ini. Ia sama sekali tidak ke sini."
"Benarkah?"
"Ya. Kau sudah mencoba menghubunginya? Atau mungkin Baekhyun?"
"Aku akan menghubunginya. Dan Soo, aku minta segelas air dingin."
"Tentu."
Wanita itu kembali menghilang di balik pintu dapur.
.
e)(o
.
Sehun mendengus frustasi. Waktu sudah menujukkan pukul 9 malam dan putranya masih tidak bisa dihubungi sama sekali. Pria itu masih berada di restoran milik Kyungsoo. Sekitar setengah jam yang lalu setelah menghubungi Mark meski tak mendapat jawaban, ia menghubungi sepupunya untuk bertanya. Sayang sekali jawaban yang diberikan Baekhyun pun mengecewakannya. Keluarga kecil Park tengah berada di Gangwon-do, mengunjungi orang tua Baekhyun. Itu artinya Mark juga tidak ada di rumah keluarga Park.
Belum selesai sampai di situ. Ia juga menghubungi Jeno, satu-satunya teman baik Mark yang ia kenal. Tapi nihil, Jeno mengatakan jika keduanya berpisah sejak kelas umum mereka berakhir -Jeno dan Mark berada di satu fakultas namun berbeda jurusan-. Sehun menghela nafas panjang. Ia sejujurnya begitu khawatir.
"Masih belum bisa dihubungi?" Tanya Kyungsoo. Wanita itu sudah rapi, restoran akan tutup satu jam lagi dan sepertinya ia sudah akan kembali.
"Ya."
Tiba-tiba saja sebuah panggilan dari nomor asing masuk ke ponsel Sehun. Pria itu dengan cepat menjawab panggilan.
"Selamat malam, kami dari rumah sakit Universitas Il Gook. Apa benar ini Oh Sehun?"
"Ya."
"Kami mengabarkan sebuah kecelakaan lalu lintas. Keluarga korban meminta saya untuk menghubungi anda."
Sebelum panggilan berakhir, Sehun sudah menutup telfonnya. Menarik mantel dan jas kerjanya menuju mobil dan mengendarai mobilnya secepat yang ia bisa menuju rumah sakit. Kyungsoo bahkan terkejut dengan gerakan Sehun yang tiba-tiba itu. Benar-benar cepat.
.
e)(o
.
"Di mana putraku?" Tanya Sehun setengah membentak. Nafas pria itu masih terengah.
"Maaf Tuan?"
"Korban kecelakaan lalu lintas bernama Mark. Kalian menghubungiku tadi."
"Mohon tunggu sebentar." Perawat itu nampak mengetikkan sesuatu di layar computer.
"Maaf Tuan, kami tidak menemukan pasien atas nama Mark."
"Tapi kalian menelfonku tadi!" Seru Sehun kesal.
"Dad!" Mendengar sebuah suara familiar, pria itu buru-buru menoleh.
Mark, putranya berdiri di ujung lorong menatapnya bingung. Pria itu tanpa kata berlari mendekati putranya. Menangis begitu keras membuat tatapan orang-orang tertuju kepada keduanya.
"Dad? Kau menangis?" Tanya Mark bingung.
"Tentu saja anak nakal. Apa kau baik-baik saja?" Sehun melepas pelukannya. Memeriksa seluruh permukaan tubuh putranya.
"Aku baik dad. Memangnya apa yang terjadi padaku?" Tanya Mark heran.
"Ya! Kau masih bisa bertanya seperti itu setelah membuat pria tua ini cemas setengah mati."
"Whoa! Ini pertama kalinya ayah mengakuinya!" Seru Mark heboh.
Sehun berdecak. "Bukan itu masalahnya. Kenapa bisa sampai terjadi kecelakaan? Kau tidak terluka?"
"Kecelakaan?" Tanya Mark bingung. "Ah! Kecelakaan! Aku tidak mengalami kecelakaan."
"Apa?" Kini Sehun yang merasa bingung.
"Dad! Kau menutup telfonnya begitu saja tadi! Itu kesalahanmu. Aku baik, benar-benar sangat baik. Dan lagi, bukan aku yang mengalami kecelakaan tapi seorang wanita hamil yang ku tolong. Wanita itu mengendarai mobilnya dan menabrak kucing yang lewat, ia menabrak pohon di pinggir jalan dan aku melihatnya. Aku membawanya kemari."
"Hu-huh?" Sehun mengerjapkan matanya. "Kau apa?"
"Aku menolong wanita hamil. Ia pingsan dan aku tidak bisa menemukan identitas wanita itu. Semuanya tertinggal di mobilnya."
"Lalu kenapa pihak rumah sakit menghubungi ayah?"
"Itu karena aku mau meminta tolong padamu Dad! Ponselku mati, jadi aku meminta tolong perawat untuk menghubungimu. Tapi kata perawat itu kau sudah memutus sambungan sebelum pembicaraan selesai." Mark berdecak. "Seharusnya dad bukan kemari tapi ke mobil wanita itu dulu. Kita harus menghubungi keluarganya."
"Apa?"
Mark mendesah lelah seolah tengah mengalami masa-masa yang begitu berat dalam hidupnya. "Dad benar-benar tidak bisa diandalkan."
"Ya! Aku mendengarnya."
"Aku memang mengatakannya."
.
e)(o
.
"Ramyun dan air mineral." Sehun meletakkan dua buah benda itu di hadapan Mark.
"Dad! Aku mau es krim!"
"Ambil saja sendiri."
"Dad!"
"Habiskan dulu ramyunmu sebelum dingin. Kita hanya bisa makan itu. Sudah terlalu larut malam sekarang."
Mark mendengus sebal. Beberapa saat lalu, keduanya baru saja menyelesaikan administrasi pengobatan wanita yang ditolong Mark. Keduanya mengambil identitas wanita itu yang tertinggal di mobil, menghubungi pihak keluarga pasien lalu setelahnya berhenti di minimarket terdekat untuk makan malam.
"Kau belum memberi tahu ayahmu mengapa pulang terlambat hari ini."
Mark melirik ayahnya sekilas. "Aku pergi ke rumah Paman Joon tadi."
"Huh? Joonmyeon?"
"Ya."
"Apa yang kau lakukan di sana?"
"Paman Joon mengajakku ke pantai akhir pekan depan. Kami mempersiapkan alat diving dan papan selancar."
"Ya! Kau akan pergi tanpa mengajak ayahmu atau setidaknya memberitahu ayahmu?"
"Paman Joon sudah meninggalkan pesan pada Dad seminggu yang lalu dan Dad mengiyakan. Apa Dad membalas pesan itu tanpa membacanya?"
"Oh? Benarkah?"
"Ya!" Sungut Mark tak habis pikir.
"Oh, bagaimana wanita ini merututmu?" Tiba-tiba saja Sehun mengulurkan selembar foto pada putranya.
"Siapa bibi ini?"
"Namanya Zhang Yixing. Ia dari Cina. Ayah akan pergi berkencan dengannya akhir pekan depan. Wanita ini akan ke Korea."
"Oh! Dad melakukannya? Kenapa tiba-tiba?"
"Nenekmu yang meminta. Jadi, bagaimana menurutmu?"
"Ia terlihat baik." Jawab Mark malas-malasan.
"Itu artinya kau tidak keberatan?" Mark hanya bergumam sebagai jawaban.
.
e)(o
.
"Bibi Soo."
"Hum."
"Ayah sedang dekat dengan seorang wanita."
Kyungsoo menghentikan gerakannya memasukkan makanan ke dalam kotak bekal. Hari ini ia akan pergi mengunjungi sebuah panti asuhan. Agendanya setiap tiga bulan sekali sebagai tanda syukur atas hidupnya. Wanita bermata bulat itu kini menempatkan diri di depan keponakan tampannya.
"Lalu?"
"Itu sedikit-" Mark mendesah, kentara sekali bingung harus berkata apa.
"Itu sedikit mengganggumu? Membuatmu tidak nyaman?"
Mark menunduk. "Ya."
"Apa yang kau takutkan?"
"Huh? Aku tidak takut."
Kyungsoo tersenyum kecil. "Kau khawatir ayahmu akan melupakanmu. Ayahmu akan mengurangi perhatian dan kasih sayangnya padamu karena wanita itu. Ayahmu mungkin akan jarang bicara padamu. Um, itu yang bibi pikirkan saat ayah bibi mengenalkan ibu bibi yang sekarang."
"Ya. Aku sedikit cemas. Hanya sedikit."
"Bagaimana jika sebaliknya."
"Hum?"
"Wanita itu bisa membuat ayahmu lebih baik dan menyayangimu sepenuh hati. Kau akhirnya memiliki ibu yang selalu kau inginkan."
"Bibi Soo."
"Hum, apa bibi mau membantuku mencari wanita itu untuk ayahku?"
Kyungsoo menampakkan raut berpikir. "Tergantung sikapmu hari ini anak muda. Kau berjanji akan mengantarku ke panti asuhan dan bermain dengan anak-anak hari ini."
"Call!"
"Sekarang bantu bibi mengemasi bekal makan siang kita."
.
e)(o
.
"Dad!"
Sehun menghentikan gerakan tangannya. Pria itu tengah menghitung rancangan yang dibuatnya.
"Oh! Kau sudah pulang?"
"Ya."
"Segera bersihkan dirimu."
"Tidak, nanti. Ada yang ingin ku bicarakan dengan Dad."
"Huh? Apa itu?"
"Dad akan menemui bibi itu akhir pekan depan?"
"Bibi?"
"Wanita bernama Wuxing? Bixing? Yixing?"
"Ah, Zhang Yixing?"
"Ya."
"Kenapa? Kau tiba-tiba keberatan?"
"Tidak. Tapi aku ingin bertemu bibi itu juga."
"Huh?"
"Bagaimana jika mengajak bibi itu ke pantai bersama akhir pekan depan?"
.
.
To Be Continue.
e)(o
[Interaction Corner]
Terima kasih kalian sudah mampir dan menyempatkan vote dan review!
Spoiler: Sehun's First Date and Mark's First Mission.
Sejujurnya saya jadi bingung haha, sampai saat ini suara yang masuk adalah:
Huhan: 10
Hunsoo: 7
Hunkai: 3
Btw FF ini memang sengaja cuman pendek-pendek per chapternya semacam short fic dan slow update (sekali).
Special Thanks to: LittleOoh, Brownies Coklat, fansii, Guest, NunaaBaozie, misslah, MeAsCBHS, dpramestidewi, yeollo, qbeexo, Guest, Shallow LinHunhan's trash, 1313, matchaleaf.
Keberatan untuk meninggalkan jejak (lagi)?
Enjoy!
Sincerely,
Curloey Smurf
