Tubuh berbalut bulu lembut berwarna hitam itu bersembunyi dibalik tumpukan kardus yang entah bagaimana caranya bisa menumpuk bagai menara disudut ruang seni tari.

Kucing ras Bombay itu menatap was-was sekitarnya, takut jika Seungcheol ataupun Soonyoung menemukannya dan langsung mengurungnya di lemari ganti klub basket.

Sumpah, demi apapun, disana sangatlah bau—karena ia pernah sekali di kurung di tempat itu akibat menggoda Jeonghan yang saat itu sedang genit-genitnya.

Kucing itu—yang ternyata adalah Kim Mingyu terpaksa meninggalkan bentuk hybridnya dan menjadi kucing berukuran cukup besar hanya untuk menghindari Seungcheol yang sedang murka tingkat akhir.

Kronologis kemurkaan Seungcheol adalah, ketika mereka—anggota klub basket—sedang asyiknya nongkrong sembari menggoda submisif yang lewat, hybrid tampan tersebut mendapatkan telpon dari mamanya Wonwoo.

Baru saja Seungcheol ingin mengucapkan salam, wanita yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri itu langsung menyemprotnya dengan kata-kata mutiara. Seungcheol saja sampai bingung—apalagi teman-temannya yang saat itu tanpa sengaja mendengar kemurkaan mama Jeon.

"Choi Seungcheol, apa yang terjadi pada Wonuwonu huh?! Kenapa anak manisku ini menangis dan tidak mau lepas dariku—astaga Wonuwonu sayang, sudah jangan menangis, mama disini."

Tentu saja Seungcheol bingung—ia bahkan tak menyadari bahwa salah satu temannya yang memiliki plester di dahinya itu tengah berkeringat dingin.

"Jadi, Seungcheolku sayang. Bisakah kau membantu memusnahkan hybrid kurang ajar yang sudah menggigit telinga Wonuwonuku ini?"

"HAH?"

Mingyu yang menyadari bahwa dirinya dalam bahaya langsung mengambil langkah untuk kabur, namun urung ketika ia mendapati Soonyoung yang tengah berlari kearahnya. Hybrid sipit itu langsung menghampiri Seungcheol.

"HYUNG KAU HARUS TAU! SI KUCING HITAM DEKIL ITU BARU SAJA MENGGODA WONU!"

Hening.

Seungcheol memasukkan ponselnya kedalam saku celana, ia menatap Mingyu dengan senyum teramat manis.

'Mati aku.'

Tanpa babibu, Mingyu langsung berubah menjadi wujud kucingnya dan berlari menghidari Seungcheol yang berteriak murka padanya dan berakhir bersembunyi di balik menara kardus ini—ia bahkan harus mati-matian menahan agar tak bersin akibat debu.

Dalam hati ia merutuk Wonwoo, bagaimana bisa ada hybrid secengeng itu? Hm, tapi tak apa, dia manis kok. Apalagi ekornya lembut sekali. Mingyu kan jadi ingin memegangnya lagi.

Hehehe.

"Aku bersumpah, jika aku menemukan kucing dekil itu—akan ku kurung dia di loker milik Jeonghan!" sungut Sungcheol.

"Kenapa harus di loker Jeonghan? Biasanya kau mengurungnya di loker klub basket?"

"Loker Jeonghan seribu kali lebih menjanjikan siksaan pedih. Kau tau? Akhir-akhir dia sedang senang dengan parfum, jadi setiap hari parfumnya ganti dan dia menyimpannya di loker. Bisa kau bayangkan betapa wanginya loker itu?"

"Aku tidak yakin hidungku akan tahan dengan baunya."

"Benar sekali. Dan si Kim Sialan Mingyu itu pasti akan menikmatinya."

Mingyu bergidik, ia membayangkan hal menyeramkan tersebut—membuatnya ingin muntah.

Hybrid itu mengendap keluar dari tumpukan kardus begitu dilihatnya Seungcheol dan Soonyoung sudah keluar dari ruangan seni tari. Ia meregangkan badannya sejenak, sebelum akhirnya kembali ke wujud asalnya. Hybrid tampan dengan ekor dan telinga berwarna hitam.

"Mereka menyeramkan sekali. Sudah seperti orang tua menjaga anak perawannya saja," gumamnya sembari meninggalkan ruangan tersebut dan mencari tempat persembunyian.

.-.-.

Jeonghan menatap iba kearah hybrid manisnya yang tengah tiduran beralaskan paha Jisoo. Mereka bertiga sedang bersantai di halaman belakang kampus, mengingat tidak ada kelas yang harus mereka hadiri. Tangannya menyentuh pelan kedua mata Wonwoo yang bengkak.

"Astaga manisku, berapa lama kau menangis? Lihat mata cantikmu jadi bengkak begini," ucap si Himayalan Persian itu dengan nada sedih.

Wonwoo kembali memasang wajah sedih—yang membuat Jeonghan harus mati-matian tidak menggigit telinga abu-abu yang tengah merunduk imut itu; dan membuat Jisoo mati-matian menahan tangannya untuk tidak melakukan tindak kekerasan apapun.

"Sampai Mama mengatakan akan memberi hukuman untuk hybrid itu," jawab Wonwoo dengan begitu polosnya—mengabaikan Jeonghan dan Jisoo yang kini terkejut bukan main.

'Semoga saja Kim Mingyu masih bisa merasakan indahnya berumah tangga,' batin mereka berdua.

Bukannya apa, hanya saja Mama Jeon itu memang sangat protektif pada Wonwoo, jadi tak heran jika hybrid manis itu memiliki sifat manja, pemalu dan cengeng luar biasa. Itu karena Mama Jeon selalu menjaga dan memanjakan Wonwoo, bahkan saat SMA pun tak jarang Mama Jeon akan duduk di bangku taman sekolah, dari pagi hingga putranya pulang sekolah.

Mama Jeon memang yang terbaik.

"Hyung, hybrid kemarin itu namanya siapa?"

Jeonghan menatap heran kearah Wonwoo yang bertanya, "Kim Mingyu, dia teman Seungcheol dan Soonyoung. Tumben Wonwoo tanya?"

Wonwoo bangkit dari acara rebahannya, dan ganti posisi memeluk Jeonghan. Kepalanya mendusel ke bahu Jeonghan—membuat hybrid ras Himalayan Persian itu gemas setengah mati, apalagi melihat ekor abu-abu yang bergoyang lembut itu.

"Aku takut, hyung. Giginya menyeramkan, dan dia suka menggigit. Menakutkan," cicitnya.

Jeonghan gemas.

Tolong. Jeonghan tidak kuat.

Hybrid itu menatap Jisoo yang tengah menatapnya datar.

"Jisoo, menurutmu aku bisa merubah hormon submisifku ke dominan tidak?"

"Astaga Jeonghan. Ayo ikut aku pulang, sepertinya kau butuh mendengarkan lantunan ayat suci."

.-.-.

Entah sudah berapa kata kotor yang keluar dari mulut Kim Mingyu. Hybrid itu benar-benar mengutuk Seungcheol dan Soonyoung yang sepertinya sama sekali tak ada niatan untuk memberinya maaf.

Hell, ia bahkan baru menggoda Wonwoo—belum juga menganeh-anehkan hybrid manis itu.

Mingyu mengacak surainya kasar. Frustasi.

Ia menatap buku yang tergeletak dihadapannya—omong-omong ia sedang di perpustakaan, menghindari duo S itu untuk sementara; sampai dua hybrid itu mau berdamai dengannya.

Mingyu menghela napas, untung saja ia ini hybrid sopan yang masih menghormati hybrid yang lebih tua darinya. Jika tidak, sudah dipastikan dua hybrid itu sudah ia jahili sampai mati.

Bosan hanya berdiam diri di perpustakaan, ia beranjak untuk mengembalikan bukunya. Lebih baik ia kabur ke rumah daripada harus berdiam diri seperti makhluk bodoh—persetan dengan kelasnya yang akan dimulai satu jam lagi, Mingyu harus pergi dari sini sebelum Seungcheol membunuhnya.

Namun, langkahnya yang hendak keluar dari perpustakaan berhenti ketika matanya tak sengaja mendapati sosok hybrid Russian Blue yang tengah sibuk dengan buku bacaannya. Sepasang manik yang tersembunyi dibalik lensa bulat itu serius sekali menatap lembaran dihadapannya—membuat Mingyu tanpa sadar terkekeh.

Walaupun Mingyu sempat kesal dengan Wonwoo—yang demi Tuhan, sangat amat teramat cengeng—ia tidak bisa menampik bahwa sebenarnya ia tertarik pada hybrid manis itu.

Tak ingin menjadi hybrid yang hanya bisa mengamati dari jauh, ia memutuskan untuk menghampiri Wonwoo.

Ia terkekeh ketika menyadari Wonwoo yang berjengit kaget ketika ia menarik bangku dihadapan hybrid manis itu.

Disisi lain, Wonwoo rasanya ingin mengabaikan saja sosok Mingyu—tapi tidak bisa. Bagaimana tidak? Mingyu terus menatapnya dengan intens—Wonwoo sampai ragu, itu Mingyu tidak mengedipkan matanya ya? Apalagi ekornya yang bergoyang dengan begitu semangatnya.

Wonwoo takut hybrid dihadapannya ini menggigit telinganya lagi.

Mingyu masih menatap kearah Wonwoo—yang dibalas dengan Wonwoo yang semakin menutupi wajahnya dengan buku bacaannya.

Hybrid dominan itu tertawa pelan ketika melihat sikap imut Wonwoo. Astaga, kenapa Mingyu bisa berpikiran bahwa sosok hybrid Russian Blue yang sedang menunduk itu begitu manis? Lihatlah telinganya yang merunduk lucu itu, belum lagi ekornya yang bergoyang gelisah.

Mingyu benar-benar ingin mengurung Wonwoo dirumahnya saja.

"Kenapa kau bisa imut seperti ini sih?" gemas Mingyu.

Wonwoo tersentak, ia menolehkan kepalanya—memastikan perkataan Mingyu barusan ditujukan kepadanya.

"Aku berbicara padamu," ucap Mingyu—membuat Wonwoo memasang wajah bingung.

"Aku tidak imut. Aku ini tampan," elaknya.

Mingyu tergelak, "Kau tampan? Astaga, bercerminlah. Aku yakin kalau kau memakai rambut palsu dan rok tidak akan ada yang tau bahwa kau ini hybrid jantan."

"Ya! Aku ini tampan, dan manly," ucapnya tak terima—yang tanpa sadar membuatnya memajukan bibir bawahnya beberapa senti; cemberut.

"Mana ada manly tapi menangis ketika digigit telinganya."

Kim bodoh Mingyu, tentu saja hybrid submisif akan langsung panik dan takut ketika ada orang asing yang tanpa mengatakan permisi langsung menggigit telinganya; apalagi Jeon Wonwoo yang darisananya memang cengeng.

Wonwoo tidak sadar, bahwa ia semakin cemberut—semakin memperlihatkan wajah imutnya yang tengah merajuk—membuat Mingyu tersenyum kecil.

Tangan Mingyu bergerak untuk mengelus surai Wonwoo, tak ketinggalan diusapnya lembut telinga abu-abu milik Wonwoo yang kemarin ia gigit.

"Sudah jangan cemberut. Kau hybrid submisif jantan paling cantik yang pernah kukenal."

Telinga Wonwoo menengang; yang kemudian bergerak-gerak lucu, menandakan bahwa pemiliknya tengah senang, ia mengulas senyum lebar yang membuat hidungnya mengerut lucu, "Um—terima kasih."

Mingyu yang melihat senyum Wonwoo semakin gemas, tangan yang semula mengusap surai lembut itu beralih mencubit gemas pipi putih hybrid manis itu, membuat kepalanya bergoyang mengikuti tangan Mingyu yang mencubitnya tanpa ampun.

"Astaga manis sekali sih dirimu," gemas Mingyu, yang disambung dengan senyum tampan.

Membuat Wonwoo mematung—karena menurutnya senyum Mingyu sangatlah tampan.

hybrid manis itu terdiam—bahkan ketika Mingyu akhirnya pamitan pulang.

Setelah sosok Mingyu benar-benar menghilang dari pandangannya, Wonwoo menyentuh dadanya yang berdebar tak karuan karena melihat senyum Mingyu.

"Apa aku sakit?" gumamnya.

Ia menggelengkan kepalanya—tidak mungkin kan?

Sesaat kemudian, Wonwoo memutuskan untuk menelpon mamanya. Menurutnya mamanya itu pasti tau—Mama Jeon 'kan paling tau segalanya.

"Ma, kenapa jantung Wonu berdebar keras sekali? Perut Wonu juga seperti diaduk-aduk. Apalagi setelah melihat senyumnya itu, Wonu tidak sakit jantung 'kan ma?" tanya Wonwoo begitu sang mama menangkat telponnya—bahkan sampai lupa mengucapkan salam terlebih dahulu.

Mama Jeon yang mendengar dari ujung telepon mendadak bisu—ia tidak tau harus membalas apa, karena biasanya Wonwoo menelponnya untuk minta jemput.

Tapi sekarang? Wonwoo bertanya mengapa jantungnya berdebar? Perutnya seperti diaduk-aduk?

Masa iya Wonuwonu keracunan?—Mama Jeon yang masih bingung.

Tunggu, Wonwoo bilang saat melihat senyumnya? Wonwoo tidak sedang jatuh cinta bukan? Demi dewa, Mama Jeon belum rela jika kucing kecilnya ini jatuh cinta

"Ah, jantung Wonuwonu berdebar keras setelah melihat senyumnya? Astaga sayang, Mama tau apa yang terjadi padamu. Wonuwonu alergi orang itu. Jadi Wonuwonu tidak boleh dekat-dekat dengannya. Arrachi?"

Wonwoo hanya bisa ber-eh saja. Heran mendengar ucapan mamanya. Tapi, memang dasarnya Wonwoo itu polos dan hanya percaya pada mamanya—yang jika kata Jihoon, level kebodohan Wonwoo itu bahkan lebih tinggi dari Minghao yang lemotnya minta ampun—ia hanya mengangguk dan mengiyakan pesan mamanya.

Tanpa tau jika Mama Jeon sekarang sedang tersenyum bangga karena berhasil menjauhkan kucing kecilnya dari dominan kurang ajar itu.

Siapa yang sudah lancang membuat Wonuwonu deg-degan huh?!—Mama Jeon yang sedang mengutuk pelaku kasus jantung wonwoo yang berdebar tak karuan.

.

.

.

To be Continued