Bisa Apa?
Kim Mingyu x Jeon Wonwoo
T+
Disclaimer:
Sesungguhnya Seventeen adalah milik kita bersama.
Warning:
AU. Typo(s). Boys Love/sho-ai. OOC. Romance Comedy (mungkin)
.
.
Antara Aku, Tetanggaku, dan Peliharaan kami.
.
.
Aku baru saja akan berangkat untuk lari pagi ketika mendapati Jeon Wonwoo—tetangga kesayangan ibuku tengah mondar-mandir didepan pagar rumahnya dengan raut khawatir yang cukup menggemaskan—maksudku menyedihkan. Aku menatapnya dari atas sampai bawah, ia hanya memakai celana training biru tua dan kaos longgar berwarna putih.
Tidak, berarti Wonwoo hyung tidak habis kelayapan.
Mau lari pagi juga?
Mustahil. Wonwoo itu pemalas—sangat pemalas, mana mau dia bangun pagi-pagi hanya untuk berolahraga?
Aku memutuskan untuk menghampirinya saja daripada aku sibuk menebak-nebak. Kutepuk pelan pundaknya hingga ia meloncat karena kaget—yang jujur saja, juga terlihat menggemaskan.
HELL!
Kenapa aku berpikir jika Wonwoo itu selalu—ehem maksudku kadang-kadang terlihat menggemaskan! Tidak, kau lurus Kim Mingyu. Lurus! Camkan itu!
"Kau sedang apa hyung?" tanyaku ketika sudah berhasil mengendalikan pikiran-pikiran aneh yang mendadak menginvasiku.
Wonwoo menatapku dengan mata memelas seperti seekor anak kucing yang meminta untuk dipungut, lucu.
"Mamoth hilang," sedihnya.
Mendengar nada bicaranya yang sedih, aku juga ikut sedih. Apalagi wajah manisnya yang lebih sering berekspresi emo itu juga terlihat sedih. Pokoknya menyedihkan.
Apalagi Wonwoo hyung sedih hanya karena Mamoth hilang. Seingatku dulu ketika adiknya—Jeon Bohyuk dirawat dirumah sakit, Wonwoo tidaklah sesedih ini. Dan sekarang? Wajahnya yang biasanya emo itu menjadi sedih hanya karena Mamoth hilang.
Ngomong-ngomong, Mamoth itu adalah kucing peliharaan Wonwoo. Kucing persia gemuk dengan bulu keabuan—persis seperti buntalan bulu berjalan.
Iya, aku tau, Wonwoo memang payah memberi nama. Kucing semenggemaskan itu diberi nama Mamoth. Anjingku yang kelihatan cukup galak saja namanya lucu sekali, Mopo.
"Hyung, kau tidak berniat mengganti nama kucingmu? Dengan yang lucu sedikit begitu, Momo misalnya?" protesku.
Wonwoo menatapku tajam, "Kucingku itu jantan, Momo terdengar lucu sekali. Bagus juga Mamoth, terdengar jantan."
Aku memutar kedua bola mataku bosan. Wajah boleh menawan, tapi sensenya dalam memberi nama payah sekali.
"Mau aku bantu mencari?" tawarku. Kulihat Wonwoo mengangguk semangat.
Aku dan Wonwoo memutuskan untuk berjalan menyusuri kompleks perumahan kami di udara pagi buta ini hanya untuk mencari seekor kucing. Badanku juga menggigil kedinginan karena udara pagi yang membelai tubuhku yang hanya terlindungi kaos hitam. Sebenarnya aku memakai jaket tadi, tapi aku pinjamkan pada kucing—maksudku Wonwoo yang juga menggigil.
Tak terasa sudah cukup lama kami menyusuri jalanan dan tidak menemukan kucing persia pemalas—seperti pemiliknya—itu dimanapun. Aku menghela napas lelah, mataku menatap jengah Wonwoo yang tengah bertanya pada orang-orang yang kebetulan ada didepan rumah.
"Sejak kapan Mamoth hilang?" tanyaku penasaran setelah berhasil mengimbangi langkah Wonwoo.
"3 hari yang lalu. Mangkok makannya tidak pernah berkurang, kupikir Bohyuk mengisinya lagi, tapi katanya ia bahkan tidak menyentuh kandang Mamoth seminggu ini," jelasnya.
Aku mengangguk mengerti. 3 hari yang lalu itu berarti bertepatan dengan putusnya aku dan Minkyung—yang juga hari dimana aku semakin membangun tembok lurus agar tak tergoyahkan oleh kucing—maaf, maksudku manusia manis—maksudku manusia bernama Jeon Wonwoo ini.
Lelah berputar-putar tanpa hasil, aku mengajak Wonwoo untuk pulang. Awalnya kukira akan mudah mengajaknya pulang, tapi yang terjadi justru sebaliknya. Wonwoo ngambek tak ingin pulang sebelum Mamoth ditemukan.
Kaki seksiku bahkan jadi korban tendangan beringasnya karena aku memaksanya untuk pulang.
"Hyung, siapa tau Mamoth ada dirumahku?" ucapku tanpa sadar—yang sukses mendapat delikan tajam dari Wonwoo.
"Kau menyembunyikan Mamoth?"
Aku menggeleng panik sebelum Wonwoo murka dan merontokkan rambut menawanku, "Siapa tau Mamoth sedang bermain bersama Mopo?"
Tidak masuk akal. Dasar Mingyu bodoh. Mana bisa kucing dan anjing bermain bersama? Apalagi jenis kucing pemalas nan menyebalkan sejenis Mamoth dan anjingku yang beringas semacam Mopo?
Baiklah, ucapkan selamat tinggal pada rambut menawanku. Setelah ini Wonwoo pasti akan menjambak rambutku, dan menendang kaki seksiku sekali lagi.
"Baiklah, ayo kita kerumahmu."
Hah?
Aku melongo. Tunggu. Wonwoo?
"Mingyu! Cepat!"
Aku reflek berlari menyusulnya yang sudah berjalan cukup jauh. Aku tidak mau membuatnya badmood yang berakhir dengan diriku yang harus rela menjadi samsak tinjunya.
Wonwoo dan badmood itu adalah paduan terburuk yang pernah ada.
.-.-.
"Hyung, katanya mau mencari Mamoth dikandang Mopo?" tanyaku kepada Wonwoo yang masih terdiam di pintu yang menghubungkan rumah dengan halaman belakang.
Ngomong-ngomong, rumahku memiliki halaman belakang yang tidak terlalu luas. Hanya ada jemuran dan juga kandang anjing yang ada disini. Meski tak begitu luas, setidaknya cukup untuk menjadi lahan Mopo berlarian.
Sebenarnya, halaman depan rumahku lebih luas, dan sebelumnya kandang Mopo ada dihalaman depan. Tapi dengan titah ibuku, kandang Mopo dipindahkan kebelakang.
Alasannya?
Itu karena Wonwoo takut anjing.
Sejak pertama kali Mopo menginjakkan kakinya di rumah, Wonwoo tidak mau berkunjung kerumah, dan itu sukses membuat ibuku pusing tujuh keliling karena menantu—maksudku tetangga kesayangannya tidak mau singgah.
Dengan terpaksa aku menuruti titah ibuku untuk memindahkan Mopo ke halaman belakang—padahal tujuan awalku memang untuk menjauhkan Wonwoo dari rumah kami dengan Mopo sebagai jimat penolak.
Jujur, bertemu dengan Wonwoo setiap hari itu bisa menggoyahkan kelurusanku.
Tidak. Tidak. Kau lurus Kim Mingyu! Lurus. Ya lurus.
"Mopo dikandang tidak?"
"Aku tidak mau kalau ada Mopo disana."
"Nanti aku digigit terus rabies bagaimana Ming?"
Aku memutar mataku malas, enak saja, anjingku ini bebas dari penyakit, apalagi rabies. Aku menghampirinya dan langsung menyeretnya mendekati kandang Mopo. Bukan perkara yang sulit untuk menggeret tubuh kurus Wonwoo—yang menjadi masalah hanyalah pemuda kurus ini melancarkan pukulan-pukulan yang cukup menyakitkan.
Wonwoo juga lelaki walaupun kelihatannya kurus lemah tak bertenaga dan kurang gizi begini.
"Mingyu!" jeritnya sembari memukul belakang kepalaku.
Aku meringis, "Hyung! Kau ini hanya akan menemui anjing biasa berkepala satu! Bukannya bertemu dengan Cerberus! Biasa saja! Dia juga tidak mau menggigitmu, kurus kering tidak ada dagingnya begini."
Kudengar Wonwoo mendecih tidak terima. Hei, aku tidak salah, aku hanya mengatakan kebenaran.
Semakin dekat dengan kandang Mopo, tangan Wonwoo yang masih berada digandenganku bergetar samar. Ia gemetaran karena takut. Aku jadi tidak tega, tapi mau bagaimana lagi, begini juga aku memiliki niat baik, untuk menyembuhkan phobianya. Mungkin?
Aku memicingkan mata, menatap buntalan abu-abu yang bergelung didalam kandang Mopo, berdampingan dengan Mopo yang yang sedang tertidur damai. Ia bahkan tidak terusik dengan kedatanganku.
Aku jongkok di depan kandang Mopo, aku langsung memasang wajah malas ketika menemukan kenyataan bahwa buntalan abu-abu itu adalah kucing persia sialan itu—Mamoth.
"Hyung, itu Mamoth. Dia ada disini," ucapku—memancing helaan napas lega dari Wonwoo.
GUK!
Aku berjengit kaget, dan Wonwoo melompat kebelakang.
Aku menatap Mopo yang terbangun. Anjing manisku itu mulai keluar kandang dan menatapku dengan matanya yang menggemaskan—berbeda dengan si kucing pemalas yang masih asyik bergelung didalam sana.
"Pagi Mopo," sapaku. Aku mengelus puncak kepalanya yang dibalas dengan gonggongan bahagia.
Mata Mopo kemudian beralih menatap kearah belakang, lalu tanpa bisa kucegah, anjing jenis siberian husky itu melompat kebelakang—lebih tepatnya melompat kearah Wonwoo, menerjang tubuh kurusnya hingga terjatuh dan menjilatinya gemas.
Lihat, anjing saja bisa sampai segemas itu pada Wonwoo.
Tunggu. TUNGGU!
"Ming—Mingyu—"
Aku gelagapan. Bingung.
Sumpah, aku bingung harus bagaimana.
Aku berada diposisi yang sangat membuat dilema.
Mana yang harus ku prioritaskan? Wonwoo yang tengah ketakutan dengan sekujur tubuh gemetaran atau Mopo yang tengah menjilati Wonwoo dengan begitu semangatnya?
Kalau aku mengangkat Mopo dengan kasar, bisa-bisa anjingku mengamuk dan berakhir dengan Wonwoo yang dicakar—yang sama saja dengan menjemput kematianku sendiri.
Membiarkannya? Itu juga sama saja dengan menjemput ajal.
AKU HARUS BAGAIMANA YA TUHAN?!
"Mingyu—hiks—singkirkan—hiks—"
Oh Tuhan.
Tolong kuatkan iman hambaMu. Tolong ingatkan hamba jika hamba masih lurus.
Tidak tergoda dengan keadaan Wonwoo yang terbaring di atas rumput hijau, kaos yang tersibak hingga memperlihatkan kulit putih mulus lembutnya dan wajah memerah yang dihiasi air mata—juga liur Mopo.
Kalau kata ibuku—Lelaki mana saja juga rela belok jika dapat yang seperti Wonwoo.
Ya, semua lelaki, kecuali aku, Kim Mingyu—yang masih memegang teguh pendirian lurusnya.
Aku berjalan mendekati Wonwoo—masih dengan merapal mantra berupa 'Aku lurus, aku lurus, tidak tergoda dengan Wonwoo hyung', dan berusaha menarik Mopo tanpa membuat anjing manisku mengamuk.
Butuh perjuangan untuk menarik anjingku menjauh dari Wonwoo—yang berujung dengan kaki seksiku yang lagi-lagi menjadi korban tendangan bengisnya. Aku yang hendak protes menelan bulat-bulat niatku begitu mendapati tatapan super tajam dari Wonwoo.
Jujur, aku tidak takut. Bagaimana bisa wajah yang memerah manis dan dihiasi dengan tatapan tajam itu menakutkan? Ujung-ujungnya justru terlihat menggemaskan—seperti kucing betina yang ngambek karena gagal kawin.
Aku gelagapan ketika melihat Wonwoo meraih Mamoth dari dalam kandang dan menggendongnya, lalu beranjak menjauh dariku. Mopo yang sedari tadi kupeluk—untuk menghindari serangan kedua—langsung kulepas begitu saja.
Apalagi kalau tidak mengejar Wonwoo?
Wonwoo yang ngambek itu neraka dunia untukku.
Karena, jika Wonwoo ngambek, maka dia tidak akan main kerumah, lalu ibuku yang kerumahnya dan bertanya mengapa, lalu pemuda manis—maksudku emo itu pasti akan menjawab 'semua karena Mingyu', dan tentu saja, kehidupan damaiku akan berakhir saat itu juga.
Terkadang aku bertanya pada ayahku, mengapa ibuku lebih menyayangi Wonwoo daripada aku yang jelas-jelas anaknya dan tampan tidak terkira ini. Dan ayahku hanya bisa mengedikkan bahunya tanda tak tau.
"Hyung, jangan marah dong," aku mengejar Wonwoo yang baru saja sampai di dapur. Ia hanya melemparkan tatapan tajam dan kubalas dengan tatapan memelas andalanku—yang sanggup membuat noona-noona diluar sana rela dilindas truk demi diriku.
Sayangnya itu tak mempan pada Wonwoo—pertama, karena Wonwoo sudah terlanjur marah, kedua, tentu saja karena Wonwoo bukanlah noona-noona.
"Hyung~" aku masih merengek—dan Wonwoo masih diam seperti batu.
"Hyung, Wonwoo hyung~"
"Hyung, jawab aku dong~"
"Hyung!"
Aku reflek memeluk Wonwoo yang hendak melemparkan Mamoth kearahku—yang berakhir dengan Mamoth yang mengeong keras dan langsung kabur dari majikannya yang beringas.
Sumpah, aku tidak sadar kalau memeluk Wonwoo—setidaknya sampai saat ini.
Dulu aku sering memeluk Wonwoo—sangat sering bahkan.
Hanya saja, aku baru tau jika tubuh Wonwoo itu hangat sekali, membuatku nyaman dan juga begitu pas dipelukanku. Ugh, pinggangnya yang menggoda itu ternyata begitu pas dipelukanku. Aku gemas sendiri, jadi tanpa sadar aku mengeratkan pelukanku.
Sampai akhirnya pelukan erat ini harus terlepas karena pedangku baru saja ditendang dengan tidak berperi kemasa depanan oleh seseorang bernama Jeon Wonwoo.
"Sialan, ngilu," umpatku sembari memegang masa depanku yang baru saja menjadi korban kesekian dari kebringasan seorang Jeon Wonwoo.
Bukannya meminta maaf, Wonwoo malah meraih suraiku dan menariknya mesra.
"Sialan kau Kim Mingyu. Sialan. Aku benci kau pokoknya. Aku benar-benar membencimu!" racau Wonwoo kesetanan.
Aku hanya bisa mengaduh kesakitan. Sekarang tidak hanya masa depanku yang tersakiti, tapi kepalaku juga ikut teraniaya.
Aku hanya bisa berharap ibuku muncul saat ini juga, biar dia bisa melihat kelakuan bar-bar menantu—maksudku tetangga kesayangannya ini dan berhenti membicarakan Wonwoo seolah pemuda manis—emo ini adalah bidadari yang jatuh dari surga.
Entah berapa lama yang kuhabiskan untuk meresapi rasa sakit dari jambakan Wonwoo, akhirnya ia melepaskannya juga.
"Hyung!" aku sedikit menghardiknya, kesal atas tindakan aniayanya terhadapku.
Dan apa yang kudapat? Wonwoo melengos pergi tanpa mengatakan sepatah katapun. Ia bahkan melupakan Mamoth—yang tengah tertidur tak jauh dariku.
Aku mengusap kepalaku yang terasa panas—untung saja ngilu dibagian sana sudah mereda. Tak lupa aku mengucapkan seribu sumpah serapah untuk Wonwoo.
Wajah boleh manis dan—ehem cantik, badan juga boleh kurus, langsing dengan pinggang menggoda. Tapi apalah arti semua itu jika kelakuannya sudah seperti gangster?!
Aku benar-benar harus menyadarkan ibuku untuk berhenti mengidolakan Wonwoo.
Baru saja aku menyusun rencana untuk menyadarkan ibuku, wanita yang masih awet muda itu datang juga—menghampiriku.
Tapi tunggu dulu. Ada yang salah disini, apa-apaan raut murka ibuku itu?
Seingatku aku tidak melakukan kesalahan fatal akhir-akhir ini. Aku selalu membantu cuci piring, bahkan kemarin aku rela mengangkat pakaian dari jemuran saat tiba-tiba turun hujan—lupakan kejadian dimana aku membanting pintu dan berteriak seperti orang gila karena Jeon Wonwoo.
"Ibu, kenapa—ouch! Ya! Lepaskan bu!"
Aku mengerang kesakitan, tanganku menahan tangan ibuku yang tengah menjewer telingaku.
Astaga, apalagi dosaku kali ini?
"Ibu—ya! Apa salahku?!"
Aku berjengit kesakitan, ibuku semakin menarik kencang telingaku.
"Kau apakan Wonwoo hah? Kenapa matanya sembab begitu? Kau menyakitinya? Astaga Kim Mingyu anakku yang tampan, sudah berapa kali ibu katakan padamu untuk jangan menyakiti my honey bunnny sweety lovely Wonie! Sayangilah calon istrimu itu, jangan menyakitinya terus!" omel ibuku.
"Bukan aku yang menyakitinya bu! Tapi Wonwoo hyung yang sudah menyakitiku. Kelakuannya itu seperti gangster yang—ya! Ya! Sakit bu!"
Tanganku menahan tangan ibuku yang semakin kuat menarik telingaku. Aku yakin, setelah ini telingaku akan semakin memerah.
"Dasar hitam, kau bilang calon istrimu itu apa? Gangster? Gangster kepalamu."
Aku menangis dalam hati, apa dosaku ya Tuhan? Kenapa ibuku tega sekali mengataiku hitam? Aku tau kulitku memang tidak seputih Wonwoo—oke, itu terlalu ekstrim, kulitku memang tidak seputih orang korea pada umumnya, tapi bukankah itu terlihat seksi?
Aku mendesah lega ketika ibuku melepaskan jewerannya pada telingaku—yang langsung saja kuusap sayang telingaku yang menjadi korban kekejaman ibuku sendiri.
"Sekarang—"
Entah mengapa aku mendapat firasat buruk.
"—pergi kerumah Wonwoo dan minta maaf padanya. Jangan pernah pulang sebelum kau mendapatkan maaf dari Wonwoo!"
Tubuhku mendadak lemas, aku kembali merengek, namun tak didengarkan oleh ibu. Beliau justru menyeretku keluar dari rumah—yang memancing tatapan heran dari ayahku yang tengah menikmati koran paginya di ruang keluarga.
Setelah berhasil menyeretku keluar rumah, ibuku pergi kedalam, tentu saja aku ikut masuk, namun cubitanlah yang menyambutku begitu aku melangkahkan kaki.
Dengan langkah lesu, aku beranjak menuju rumah Wonwoo, lebih baik aku cepat-cepat mendapatkan maaf dari Wonwoo untuk bisa masuk kedalam rumahku sendiri.
"Mingyu, tunggu!" teriak ibuku dari dalam rumah.
Senyum lega menghiasi wajah tampanku. Ibu pasti tidak tega, ya pasti dia merasa bersalah karena sudah menyiksaku demi seorang Jeon Wonwoo.
Ya pasti.
Aku berbalik, dan yang kudapatkan bukanlah uluran tangan ibuku untuk masuk kedalam, melainkan buntalan bulu berwarna abu-abu yang cukup berat.
Mamoth.
"Kembalikan Mamoth sekalian. Cih, padahal ibu sudah susah-susah menculik dan mengurungnya di kandang Mopo biar kau bisa modus padanya. Malah seperti ini," gerutu ibuku.
Belum sempat aku buka mulut, ibu sudah terlebih dahulu masuk kedalam rumah, meninggalkanku dengan tampang bodoh.
Astaga.
"Jadi semua ini ulah ibu? Ya Tuhan, dosa apa aku punya ibu seperti ini?"
.
.
To be Continued.
.
.
(Wow gaes. Terima kasih atas sambutan luar biasa kalian buat chapter satu kemarin. Aku terhaaru gaes. Sangat terharu. Pokoknya kalian luar biasa gaes :'))
(Btw aku ketawa baca review dari kalian, responnya pada lucu lucu ih, gemas sendiri aku jadinya—ya maap kalau aku sedikit receh wahaha.)
(nah, terma kasih sudah membaca, apalagi sampai baca author note unfaedah ini. Kalian luar biasa gaes. Semoga chapter ini bisa menghibur kalian semua ya~ ppyong~!)
(ps: jangan lupa review ya. Review kalian ada penyemangatku! Hehe)
(pss: terima kasih juga buat para kawanku yang sungguh baik luar biasa sudah spam Lin3ku dengan foto Wonwoo yang sungguh luar biasa menggoda iman. Aku cinta kalian pokoknya!
(Teruntuk kak pia—nama disamarkan—yang sudah spam mingyuxother; WOY KAK, kmg cuman buat jww pokoknya, tapi jww boleh dibagi bagi!)
(psss: ayo yang mau ngobrol sama aku jangan takut, aku tidak gigit lho gaes.)
(pssss: group chat akan update diakhir pekan ini. Doakan aku bisa berduaan dengan laptopku, dan jangan lupa untuk baca ya! Hoho)
Special thanks to:
jeonwonlust | jiyulee | Kyunie | Chwe S. Kaa | lulu-shi | ArZell17 | MeanieSeries1706 | DevilPrince | seira minkyu | Mingyu04won17 | whiteplumm | sehon-ey | pizzagyu | Park RinHyun-Uchiha | Nikeisha Farras | Khasabat04 | Albus Convallaria majalis | gahee28 | hoaxshi | chypertae | wonppa | hamsteosoon | JoK | Dazzpicable | Kimi | bbyshbrth | john want wow | Mocca2294 | rubby.
Aku sayang kalian hoho—ngga ding, sayang Jeon Wonwoo aja.
