Bisa Apa?

Kim Mingyu x Jeon Wonwoo

T+

Disclaimer:

Sesungguhnya Seventeen adalah milik kita bersama.

Warning:

AU. Typo(s). Boys Love/sho-ai. OOC. Romance Comedy (mungkin)

.

.

Menginap di kediaman Jeon (part 1).

.

.

Disinilah aku berada. Didepan pintu rumah Wonwoo, dengan si pemilik rumah berdiri bersandar pada pintu dan sedang menatapku tajam.

Tidak menakutkan sih—kalau saja aku tidak teringat dengan ancaman ibuku sendiri.

"Hyung?"

"Apa?"

Sudah kuduga, Wonwoo marah. Dirinya yang memang darisananya sudah judes jadi bertambah judes.

Duh, untung cantik.

Eh tidak. Tidak. Wonwoo tidak cantik. Ada apa dengan diriku ini sih?

Aku memasang wajah memelas—wajah paling memelas yang kumiliki. Setidaknya cukup untuk menaklukkan hati es Wonwoo dan membuatku mendapatkan maafnya—agar aku bisa kembali dengan selamat ke rumahku sendiri.

"Maafkan aku ya?" ucapku memelas—dengan sedikit dibumbui aegyo—yang kata noona-noona penggemarku imutnya bukan main.

Wonwoo masih diam, matanya masih menatapku tajam.

"Tidak," ucapnya singkat.

Jawaban yang terlampau singkat untuk bisa membuatku emosi—bahkan rasanya aku ingin membanting Wonwoo, menindihnya, lalu memaksanya—TUNGGU. Apa yang kupikirkan? Dasar otak bodoh!

Aku menghela napas, melirik kearah Wonwoo dan juga buntalan abu-abu yang bergelung nyaman digendonganku. Dasar kucing pemalas. Kerjaannya hanya makan, tidur dan bermanja pada Wonwoo.

"Hyung, kalau kau tidak memaafkanku, Mamoth kubuang nih?" ancamku.

Wonwoo yang tadinya hendak masuk kembali kedalam rumah langsung balik badan. Dengan menghentakkan kakinya, ia menghampiriku, hendak meraih kucing kesayangannya—yang sayangnya kalah cepat denganku yang langsung menarik Mamoth menjauh dari pemiliknya.

"Ming, kembalikan Mamoth padaku!" bentaknya.

Aku menggeleng, "Maafkan aku dulu."

Bisa kulihat Wonwoo mendecih, "Tidak mau."

"Baiklah. Kalau begitu biarkan Mamoth menginap lagi dirumahku," celetukku. Aku sudah bersiap untuk kembali kerumah, sampai kurasakan tarikan pada ujung kaosku.

Wonwoo yang melakukannya. Ia menahan ujung kaosku. Matanya bergerak gelisah, dan bibir merahnya digigit—sialan, bisa tidak Wonwoo tidak usah memasang ekspresi memelas yang seperti kode minta ditiduri itu?

Sial. Sadar Kim Mingyu—enyahkan pikiran melanturmu itu! Kau belum—tidak belok!

"Ming," panggilnya ragu.

"Apa?"

"Kembalikan Mamoth padaku ya?" Wonwoo memelas—aku tertawa dalam hati.

"Maafkan aku dulu?"

Wonwoo mendelik. Aku tersenyum miring. Wonwoo itu keras kepala—sangat keras kepala, dan sebenarnya dia ini pemaaf. Hanya saja, ia ini berubah menjadi sosok yang menyebalkan saat bersamaku. Sifat keras kepalanya bisa menjadi 2 kali lipat lebih menyebalkan dan juga pelit maaf padaku.

Aku tidak tau apa salahku padanya? Tapi sifatnya itu sudah ada semenjak kami masih kecil dulu. Dan tidak berubah sampai sekarang.

Tapi, tentu saja. Aku selalu memiliki cara untuk mendapatkan maaf dari Wonwoo.

"Mingyu~" Wonwoo kembali memelas. Aku memasang wajah tidak peduli. Sudah bersiap untuk segera beranjak.

"Gyu~"

"Gyu-ie~"

Aku bergidik—gemas setengah mati saat Wonwoo memanggilku semanis itu. Oke, itu panggilan sayangnya padaku dulu. Dulu sekali, terakhir ia memanggilku begitu adalah saat aku kelas satu SMP. Aku yang protes padanya untuk berhenti memanggilku semanis itu.

Kenapa?

Alasan pertama adalah malu.

Yang kedua, itu karena aku selalu merasakan hal aneh saat Wonwoo memanggilku begitu. Seperti ada ledakan-ledakan kecil di dadaku. Menyenangkan. Bagaimana menjelaskannya ya? Pokoknya terasa aneh, dan aku menganggapnya itu karena aku jijik. Entahlah?

"Minguu~"

Damn.

Baiklah, aku akan mengakui satu hal. Aku memang lemah saat Wonwoo memanggilku Gyu-ie. Tapi aku lebih lemah lagi saat Wonwoo sudah memanggilku Mingu.

Aneh? Iya memang aneh.

Namaku Mingyu—tapi aku lebih suka Wonwoo memanggilku Mingu. Entahlah, rasanya seperti—bagaimana menjelaskannya ya? Terasa istimewa. Apalagi jika Wonwoo sudah memanggilku seperti itu dengan wajah emonya yang memelas—lucu.

ARGH. STOP.

Aku bisa gila.

Wonwoo itu berbahaya.

Aku harus menjaga jarak dengannya.

"Apa Wonu?"

Mulut sialan, kenapa aku harus memanggilnya semanis itu—lihat, dia jadi bersemu malu 'kan?

Manis sekali sih? Oh Tuhan.

Kenapa Kau harus menciptakan makhluk yang begitu indah seperti Jeon Wonwoo? Begitu indah sekaligus beracun.

Sangat beracun untuk orang yang tengah memertahankan kelurusannya ini.

"Kembalikan Mamoth ya?"

Aku menghela napas, "Tapi maafkan Mingu ya?"

Wonwoo mengangguk, "Wonu memaafkan Mingu."

ASTAGA. ASTAGA.

MANIS SEKALI YA TUHAN.

SENYUMNYA.

IBU! SENYUM WONWOO HYUNG MANIS SEKALI, APALAGI DIA TADI MENYEBUT DIRINYA SENDIRI WONU. ASTAGA IBU, MENGGEMASKAN SEKALI SIH WONWOO HYUNG INI.

PLAK!

"Ming, kau kenapa?" tanya Wonwoo bingung dengan tingkahku.

Bagaimana tidak bingung? Setelah Mamoth berpindah ke pelukannya, tanganku langsung menampar diriku sendiri—berusaha mengembalikan kewarasanku yang tadi sempat menghilang karena berpikiran bahwa Wonwoo itu manis sekali.

Eh tapi Wonwoo memang manis dan menggemaskan.

Aku mengatakan ini murni unsur memuji, aku tidak menyukainya—maksudku menyukai dalam konteks percintaan begitu.

Bagiku, Wonwoo hyung hanyalah sahabatku.

Ya. Jeon Wonwoo hanya sahabatku.

Aku menggeleng, mengulas senyum—yang kata Wonwoo itu senyum idiot, padahal senyumku sangat tampan.

"Karena kau sudah memaafkanku, aku pulang dulu ya hyung," pamitku, yang ditanggapi dengan anggukan dari Wonwoo.

Aku melangkah dengan gontai. Aku berusaha mengenyahkan bayang-bayang tingkah Wonwoo yang begitu manis tadi.

Kau harus melupakannya Mingyu!

Karena itu tidak baik untuk kesehatan jiwamu, kelurusanmu dan—

Kesehatan jantungmu.

.-.-.

"Ibu, Ayah, kalian mau kemana?" heranku.

Aku baru saja selesai mandi ketika ibuku tengah menyeret sebuah koper yang berukuran cukup besar ke ruang tengah. Aku beralih menatap Ayah yang juga tengah membawa sebuah travel bag berukuran sedang—yang seingatku itu adalah milikku.

Ayah mendekatiku dan menyerahkan tas itu padaku, yang kuterima dengan tampang bodoh.

"Ayahmu ada urusan bisnis di Jeju. Berapa lama sayang?"

"Dua sampai tiga minggu," jawab Ayah.

Ibu tersenyum—senyum yang mencurigakan menurutku. Beliau menepuk bahuku, "Nah, Mingyu sayang. Kau tentu tau apa yang harus ibu lakukan sebagai istri yang baik bukan?"

Aku menggaruk tengkukku, "Err—mengantarkan ayah ke bandara?"

PLAK!

"Ya! Ibu kenapa memukulku!" protesku seraya mengusap belakang kepalaku yang terasa panas.

Ibu mendelik, "Bukan itu bodoh. Ibu ikut menemani ayah selama berada di Jeju."

"Ya, lalu?" tanyaku cuek.

"Rumah akan kosong."

"Terus?"

Sumpah, aku tidak mengerti dengan ibuku. Bukankah biasanya beliau selalu meninggalkanku dirumah sendirian? Yah, walaupun paling hanya dua sampai tiga hari. Tidak sampai berminggu-minggu seperti ini.

"Sayang, dulu aku ini ngidam apa sih sampai bisa punya anak bodoh dan tidak peka seperti ini?" sungut ibuku.

Hei, aku cukup tersinggung.

"Bodoh dan tidak peka begitu ia juga tetaplah anakmu," tambah ayah.

"Ibu, ayah, sampai kapan kalian akan terus menghina putra kalian yang tampan tak terkira ini?" sinisku—yang sayangnya ditanggapi dengan cubitan sayang oleh ibuku pada pinggang seksiku.

"Kau akan menginap di rumah Wonwoo selama kami berada di Jeju," ucap ibu.

Aku melongo.

"Mwo? Tunggu—tunggu. Kenapa pula aku harus menginap di rumah Wonwoo hyung? Kalian sudah sering meninggalkanku sendirian di rumah dan aku masih bisa hidup sampai kalian pulang. Kenapa tiba-tiba kalian menyuruhku menginap di tempat Wonwoo hyung?" protesku tidak terima.

Ibu menghela napas, "Mingyu sayang, biasanya kami meninggalkanmu sendirian di rumah hanya dua atau tiga hari, dan paling lama hanya 5 hari. Benar?"

Aku menangguk membenarkan ucapan ibuku. Lalu aku berjengit kesakitan ketika merasakan cubitan ibuku pada lengan seksiku.

"Baru ditinggal lima hari saja rumah sudah seperti kapal pecah! Bagaimana kalau tiga minggu? Kau bisa-bisa merubuhkan rumah ini! Kalau di tempat Wonwoo kau 'kan tidak bisa macam-macam," ucap ibu.

Aku merengut. Baiklah, itu memang salahku yang suka membawa teman-temanku untuk menginap di rumah dan berpesta kecil-kecilan ketika ibu dan ayah tidak ada dirumah. Dan semua teman-temanku itu kurang ajar, mereka akan langsung pulang tanpa membantuku membereskan kekacauan yang mereka buat—dan aku juga terlalu malas untuk membereskannya sendiri, jadi ya, begitulah.

"Aku janji tidak akan berbuat onar kali ini, bu," aku berusaha beralasan—pokoknya aku akan berusaha untuk tidak jadi dititipkan di tempat Wonwoo.

"Ibu percaya kau tidak akan membuat onar lagi kali ini. Tapi kau akan tetap menginap disana. Kau tau 'kan orang tua Wonwoo belum pulang dari Changwon. Kasihan Wonwoo dirumah sendiri, dia juga tidak bisa memasak. Kalau ibu tidak disini, tidak ada yang akan memasakkan untuknya. Kau 'kan bisa memasak, jadi anggap saja kau membantu ibu memberi makan Wonwoo," jelas ibu panjang lebar.

Aku kembali merengut, cara ibu membicarakan Wonwoo itu—seolah ia menganggap Wonwoo itu peliharaan yang harus diberi makan. Heol, Wonwoo memang menggemaskan seperti seekor kucing—rubah lebih tepatnya, tapi ia juga manusia, dan ia bisa mencari makan sendiri. Lagipula, Wonwoo tidak sendirian, ia bersama dengan Bohyuk.

Baru saja aku membuka mulut untuk menyuarakan protes. Ibu sudah mendelik tajam.

"Tidak ada penolakan. Sekarang kau pergi ke rumah Wonwoo. Kami akan berangkat sebentar lagi. Semua keperluanmu sudah ibu masukkan kedalam tas. Ibu juga sudah mengabari Wonwoo kalau kau akan menginap disana."

Aku mengangguk lesu. Kuraih tas yang tadi diberikan oleh ayah ketika ibu sudah menunjukkan gestur mengusir.

Aku berjalan lesu kearah pagar dan menyadarkan tubuhku disana. Mataku masih menatap ayah dan ibu yang sedang sibuk sendiri dengan koper bawaan mereka. Di depan pagar juga sudah ada supir taksi. Jadi benar, mereka akan segera berangkat.

Hah, kenapa mendadak sekali? Maksudku, bukankah mereka bisa mengatakannya semalam? Kenapa mereka malah diam saja?

Aku mengangguk lesu mendengar semua wejangan ibuku—aku masih sedikit ngambek, ngomong-ngomong.

Ayah menepuk bahuku pelan sebelum masuk kedalam mobil—entah mengapa aku merasa ini seperti di drama-drama?

Ibu memelukku sebentar, lalu mencubit pipiku—kebiasaannya.

Aku mengulas senyum ketika ibu juga tersenyum kearahku. Beliau kini sudah masuk kedalam mobil, namun tangannya masih melambai menyuruhku untuk mendekat, dan tentu saja kuturuti.

Ibu menyuruhku untuk membungkuk—sepertinya beliau ingin membisikkan sesuatu kepadaku.

"Tiga minggu itu cukup lama. Ibu menunggu kabar kehamilan Wonwoo darimu. Muah."

Aku mematung.

Memasang wajah bodoh.

Bahkan aku tidak sadar taksi yang membawa orang tuaku sudah berjalan dan meninggalkanku didepan rumah.

"Astaga ibu," erangku.

.-.-.

Meskipun awalnya protes, tetapi pada akhirnya aku menuruti perintah ibuku untuk tinggal sementara waktu di rumah Wonwoo. Lumayan, ada Bohyuk yang bisa menemaniku bermain game.

Seperti saat ini, aku dan Bohyuk sedang larut dalam game bola yang sedang kami mainkan. Berkali-kali Bohyuk akan menendangku dengan tidak berperasaan ketika aku berhasil mencetak skor. Aku mendelik dan membalasnya dengan jitakan dikepalanya. Bocah yang setahun lebih muda dariku ini memang tidak punya sopan santun dan beringas—sama seperti kakaknya.

Ngomong-ngomong soal kakaknya—Wonwoo—dia sedang duduk nyaman disofa dengan laptop putih kesayangannya—sibuk dengan tugas mungkin? Karena sedari tadi Bohyuk juga mengajaknya untuk bermain dan ditolak oleh pemuda itu.

Tipikal mahasiswa rajin.

"Hyung, aku lapar," itu Bohyuk yang bersuara.

Aku mengerutkan dahi bingung, dia bicara padaku atau pada Wonwoo?

"Hyung, aku lapar," ucapnya lagi.

Aku melirik sekilas, Bohyuk masih fokus pada layar televisi didepannya, tangannya pun masih asyik memijat joystick.

"Hyung! Aku lapar!" kali ini Bohyuk berbicara dengan sedikit membentak.

Aku menekan tombol pause, "Kau ini bicara pada siapa?"

Bohyuk mendelik, "Padamu. Kau pikir aku bicara pada Wonu hyung? Maksudku—hello? Kau mengira aku meminta Wonu hyung untuk memberiku makan? Dan berakhir dengan kita tidur nyenyak di pemakaman? Tidak."

DUK!

"Yak hyung! Kenapa kau menyakitiku?!" Bohyuk berteriak pada Wonwoo yang baru saja melemparkan remote televisi—yang untungnya mengenai bahunya. Aku meringis ngeri—membayangkan jika remote yang cukup besar itu mendarat di kepala Bohyuk.

"Kau menghinaku! Kau pikir aku tidak bisa memasak?" sinis Wonwoo tidak terima.

Bohyuk memicingkan matanya, menatap tajam kakaknya—dan aku hanya diam, menopang daguku, menonton pertengkaran Jeon bersaudara ini mengasyikkan. Sungguh. Aku tak berbohong.

Telunjuk Bohyuk menunjuk Wonwoo, "Kau—sama—sekali—tidak—bisa—memasak—Jeon—Wonwoo."

Aku mengangguk diam-diam, menyetujui ucapan Bohyuk. Wonwoo memang tidak memasak—kecuali memasak air, merebus telur, atau memasak ramyeon instan—itupun terkadang kuahnya menyusut hilang entah kemana.

Satu kalimat, Wonwoo itu penghancur dapur yang terbaik.

Pemuda itu bangkit dari duduknya, laptop putih yang sedari tadi dipangkunya sudah berpindah ke meja rendah yang ada disana. Ia menyingsingkan lengan kaos longgarnya—yang jujur, membuatku menahan tawa.

Wonwoo mendekat kearah Bohyuk, dijitaknya kepala adiknya itu, "Akan kutunjukkan padamu kalau aku bisa memasak, bocah."

Bohyuk mendecih, ia mengusap kepalanya yang baru saja menjadi korban kekerasan. Matanya kemudian beralih menatapku, "Kau tidak menyusulnya, Mingyu hyung?"

Aku mengerutkan dahi tak mengerti, "Kenapa harus?"

Bohyuk menghela napas, "Pertama, Wonu hyung itu buta tentang urusan dapur. Kedua, Wonu hyung dan dapur tidak pernah berdamai. Ketiga, kau mau kita berdua mati keracunan karena makan masakan Wonu hyung?"

Secepat kilat aku bangkit menuju dapur. Apalagi jika bukan untuk menyelamatkan nyawaku dan Bohyuk—walaupun sebenarnya yang dikatakan Bohyuk itu melebih-lebihkan. Masakan Wonwoo tidak seburuk itu, masih bisa dimakan—dan tidak terlalu beracun.

Masih lebih beracun masakan salah satu teman Wonwoo yang seperti hamster kejepit—siapa itu namanya? Kwon Sonyu? Kwon Soonyushidae? Kwon Soonyoung? Ah, Kwon yang itu pokoknya, yang bahkan tidak bisa membedakan yang mana garam dan gula.

Aku menahan tawa ketika melihat Wonwoo berdiam diri didepan kulkas, mata tajamnya memandang kedalam isi kulkas. Terlihat bingung—yang jujur terlihat begitu menggemaskan.

Ya! Ya! Enyahkan pikiranmu barusan, Mingyu!

"Di kulkas ada apa saja, hyung?" tanyaku sembari mendekati Wonwoo.

Pemuda kurus itu menggeleng lesu, ia beranjak menuju lemari atas—yang setauku tempat makanan instan seperti ramyeon dan sereal yang disimpan oleh Bibi Jeon.

Penasaran, aku membuka kulkas, dan langsung memasang wajah bodoh ketika mendapati keadaan kulkas keluarga Jeon yang begitu mengenaskan. Hanya ada dua karton jus favorit Jeon bersaudara, 4 karton susu vanilla low fat, 2 botol besar air mineral, daun bawang yang hampir layu dan sekotak kecil kimchi buatan ibuku—aku tau karena kotak itu adalah kotak makan milik ibu.

"Hyung, apa ditinggal oleh paman dan bibi membuat kulkasmu begitu mengenaskan begini? Maksudku, lihatlah kulkas ini. Kenapa isinya hanya minuman?" tanyaku sembari mengeluarkan daun bawang yang hampir layu itu.

Wonwoo yang baru saja mengeluarkan tiga bungkus ramyeon darisana mendecakkan lidahnya, "Kau tau sendiri, aku dan Bohyuk itu payah dalam hal belanja. Bukannya membeli bahan makanan, yang ada bocah itu membeli sekardus snack. Lagipula, ada Bibi Kim yang rajin mengirimkan makanan."

Aku mendekati Wonwoo yang sudah bersiap merebus air untuk memasak ramyeon. Mendecakkan lidah ketika mendapati air dalam panci itu kurang untuk memasak tiga porsi ramyeon. Tanganku meraih panci, namun belum sempat menyentuh gagangnya, Wonwoo memukul tanganku dengan sumpit.

"Mau apa kau?" tanyanya galak.

"Hyung, airnya kurang. Aku berniat menambahkannya," ujarku.

Wonwoo mendelik, ia memukul dahiku dengan sumpit yang tadi ia gunakan untuk memukul tanganku, "Dengarkan aku Kim Mingyu, pertama, aku yang memasak disini. Kedua, kau tidak boleh ikut campur. Akan kutunjukkan pada bocah tengik itu kalau aku bisa memasak."

Aku tertawa—reflek. Bukti katanya? Kalau ia ingin membuktikan pada Bohyuk kalau ia bisa memasak, seharusnya ia memasak yang lebih wow. Samgyetang misalnya—tapi ya, meminta Wonwoo memasak itu sama seperti bunuh diri sih—meracuni diri sendiri lebih tepatnya.

"Baiklah, aku tidak akan ikut campur. Tapi sebagai gantinya, biarkan aku memandumu hyung. Setidaknya ramyeonmu akan sedikit berkelas dan bisa memukau Bohyuk," tawarku—aku masih cukup waras untuk tidak membiarkan Wonwoo meledakkan dapur.

Wonwoo terlihat berpikir sejenak, kemudian ia mengangguk menyetujui, "Kau hanya perlu memberitahuku apa yang harus kulakukan. Tidak boleh menyentuh apapun yang ada disini. Mengerti?"

Aku mengangguk, Wonwoo langsung mengulas senyum—senyum yang membuat perutku tiba-tiba terasa mulas, mulas yang menyenangkan.

Aku mulai memandu Wonwoo untuk memasak ramyeon yang baik dan benar, mulai dari menambahkan takaran air, menunggu dengan sabar hingga air mendidihnya—yang berakibat kaki seksiku menjadi korban keberingasannya karena aku mengatainya bodoh saat ia hendak memasukkan ramyeon saat airnya belum mendidih.

Kali ini aku menatap Wonwoo yang sedang memotong daun bawang—yang sudah kusingkirkan bagian layunya. Ia terlihat begitu berkonsentrasi dalam mengerjakannya, membuatku geli sendiri.

"Kau tau Ming? Aku mulai berpikir akan berguru memasak padamu," ucapnya disela pekerjaannya.

Aku mengerutkan dahiku tak mengerti, "Kenapa tiba-tiba berpikiran seperti itu?"

"Karena aku ingin bisa memasak?" jawabnya—yang justru lebih terdengar seperti sebuah pertanyaan.

"Kenapa kau tiba-tiba ingin bisa memasak? I mean—selama ini kau baik-baik saja dengan dirimu yang tidak bisa memasak. Apa karena perkataan Bohyuk? Apa itu melukai harga dirimu?" heranku. Bohong jika aku bilang aku tidak terkejut. Nyatanya aku sangat terkejut.

Wonwoo selama ini tidak pernah berpikiran ingin bisa memasak. Selama masih ada minimarket, semua akan baik-baik saja—itu katanya. Jadi, aku heran, kenapa pula tiba-tiba seperti ini? Perkataan Bohyuk? Yah, bisa jadi, Wonwoo yang kukenal itu memiliki harga diri setinggi langit, mungkin perkataan adiknya itu melukai harga dirinya? Mungkin.

"Sudah selesai? Masukkan itu kedalam panci, lalu aduk sebentar," instruksiku ketika Wonwoo sudah menyelesaikan acara potong-memotongnya.

Wonwoo melakukan apa yang kukatakan, sembari mengaduk ramyeon yang hampir matang itu, ia menatapku melalui ujung matanya, "Karena aku ingin bisa memasakkan makanan untuk suamiku? Mungkin."

UHUK.

Tiba-tiba aku tersedak. Baiklah, aku lupa sesuatu disini.

Aku lupa jika Wonwoo itu belok. Iya, Wonwoo itu belok.

Karena alasan itu jugalah ibuku gencar menjodohkanku dengan Wonwoo.

"Heol, lulus kuliah saja belum, kenapa sudah memikirkan suami begitu? Matikan kompornya. Ramyeonnya sudah matang," ketusku.

Aku berlalu dari dapur untuk menghampiri Bohyuk. Bisa kulihat Wonwoo heran dengan sikapku barusan.

Aku sendiri juga heran.

Kenapa pula aku harus bersikap ketus seperti itu pada Wonwoo?

Kenapa aku harus merasa kesal dan marah pada perkataan Wonwoo?

Apa karena Wonwoo mengungkit masalah kebelokannya? Tidak. Aku sudah biasa dan menerima Wonwoo apa adanya.

Aku tidak mengerti dengan diriku sendiri.

Aku masih memilih untuk bungkam—bahkan ketika kami makan malam bersama. Aku hanya diam saja ketika Jeon bersaudara itu kembali bertengkar.

Kali ini Bohyuk protes karena ramyeonnya terlalu asin dan kuahnya terlalu sedikit. Aku heran, bukankah Wonwoo sudah memasak sesuai instruksiku? Kenapa masih seperti ini? Ah, aku tau, pasti Wonwoo sibuk bingung dengan sikapku hingga lupa mematikan kompor.

"Sudah tinggal makan saja, tidak usah banyak protes, bocah," galak Wonwoo.

Pemuda kurus itu bahkan mencengkram pipi Bohyuk dan memaksa adiknya untuk makan mie yang disuapkan oleh Wonwoo—dengan paksa. Bohyuk meronta, namun Wonwoo tidak kalah, ia bahkan berkata dengan wajah bengisnya, "Makan, cepat makan, kunyah. Biar mulutmu itu tidak protes melulu."

Aku bergidik ngeri, membayangkan diriku dimasa depan yang akan menjadi suami Wonwoo. Apa dia akan menyiksaku seperti itu saat aku protes mengenai masakannya?

PLAK!

Sadar Mingyu! Apa yang aku pikirkan? Kenapa pula aku membayangkan diriku yang akan jadi suami Wonwoo?

Aku masih lurus.

Iya 'kan?

"Ming, kau akhir-akhir ini senang menyakiti diri sendiri. Kau tidak berubah jadi masokis 'kan?" heran Wonwoo.

Aku menepuk dahinya, "Sialan. Aku masih normal, hyung."

Ya.

Aku masih normal.

Setidaknya untuk saat ini.

.

.

To be Continued.

.

.

(Jadi, masokis itu adalah, orang yang suka dengan rasa sakit dan disakiti—itu yang aku pahami sampai sekarang, tapi bener gitu kan? Ya, untuk penjelasan lebih akurat bisa tanya ke mbah gugel. Bwahaha.)

(oke. Tadinya mau curhat disini, why wonu is so kyoodt? Cuman gajadi karena takut curhatanku lebih panjang dari isi ff. Dan diriku di mabuk meanie. Caratland oh caratland, kau adalah racun dunia.)

(btw, curhat dikit nih, kok aku merasa tangan Wonu itu something sekali ya? Mulus dan indah, beda 1000000000000% sama tanganku—iyalah. Huhu, tiba-tiba aku jadi pengen gandeng tangan Wonu—modus.)

(promo dikit ah, siapa tau ada yang follow. Ayo follow ig sebeuntin. Fakeu (hapus spasi). Nanti aku usahain bakal update fake chat disono, dan fake ig kalau sempat. Iya, jadinya nanti malah ada ig didalam ig—anehnya diriku ini. Kenapa bukan meme? Karena aku gajago bikin meme, so sad :'D sebenernya udh ngumumin di ff sebelah, cmn usernamenya tiba-tiba ngilang—kyk ditelen Junhui)

(terima kasih sudah membaca, dan semoga terhibur! :'D )

Special thanks to:

jeonwonlust | jiyulee | Kyunie | Chwe S. Kaa | lulu-shi | ArZell17 | MeanieSeries1706 | DevilPrince | seira minkyu | Mingyu04won17 | whiteplumm | sehon-ey | pizzagyu | Park RinHyun-Uchiha | Nikeisha Farras | Khasabat04 | Albus Convallaria majalis | gahee28 | hoaxshi | chypertae | wonppa | hamsteosoon | JoK | Dazzpicable | Kimi | bbyshbrth | john want wow | Mocca2294 | rubby | ysejikook | Song Soo Hwa | Desi Vbaexian1048 | newtrie12 | Guest | aliciab. I | xxjaekim | Jeonna | juliakie | DKJisoo chittayong | AiandU | btobae | bolang | Gigi onta | hoshilhouette | monwiijeonwii | cheonsa19 | kimjeon17 | riani98 | PHC520 | Beanienim | real wonwoo | minmoongie

(sampai jumpa chapter depan :*)