Bisa Apa?

Kim Mingyu x Jeon Wonwoo

T+

Disclaimer:

Sesungguhnya Seventeen adalah milik kita bersama.

Warning:

AU. Typo(s). Boys Love/sho-ai. OOC. Romance Comedy (mungkin)

.

.

Menginap di kediaman Jeon (part 3).

.

.

.

"Jadi, bagaimana acara menginap dirumah calon istri—maksudku tetangga kesayangan ibumu itu?"

Aku menoleh dan mendapati Seokmin—orang yang sudah mendeklarasikan dirinya sebagai sahabat sehidup sematiku serta salah satu dari tiga orang yang mengetahui mengenai ambisi ibuku. Ia datang dengan sekantung plastik penuh camilan yang baru saja ia beli.

Aku memilih untuk tak menjawab dan menyibukkan diri dengan melanjutkan game yang tadi sempat kuhentikan.

"Hei bung, aku bertanya padamu," ucap Seokmin, tak ketinggalan kaki kurang ajarnya itu menendangku.

"Aku menginap disini malam ini," ucapku.

Seokmin mendengus, sebungkus makanan ringan dilemparnya padaku—dan tentu saja bisa kutangkap dengan mudah.

"Pertanyaanku dan jawabanmu sungguh tidak nyambung, bodoh," umpatnya. Aku hanya mengedikkan bahu—tak peduli.

Seokmin mengambil posisi duduk didekatku dan memperhatikanku—jujur, aku mulai risih. Takut-takut jika ternyata selama ini Seokmin menyimpan rasa padaku. Hell. Aku masih lurus. Pada Wonwoo yang semanis itu saja aku masih bisa bertahan, apalagi Seokmin yang mirip kuda ini. Aku tidak tertarik sama sekali.

"Apa? Jangan bilang kau jatuh cinta padaku," ketusku, yang disambut dengan pukulan ringan dari Seokmin yang mendarati dikepalaku. Sialan, kenapa semua orang hobi sekali memukul kepalaku sih.

"Tidak sudi. Kalaupun aku jatuh cinta pada sesama, aku lebih tertarik pada Wonwoo sunbae daripada denganmu."

Aku melirik Seokmin tajam, mengabaikan layar televisi yang sudah berisik menyuarakan game over. Enak saja si kuda ini, siapa dia sudah berani mengatakan jika lebih tertarik pada Wonwoo? Awas saja kalau dia sampai berani mengusik Wonwooku—err, maksudku Wonwoo.

Mataku masih betah menatapnya tajam, dan semakin tajam ketika Seokmin justru tertawa—menghina, "Santai saja. Aku tidak sejahat itu merebut calon istri sahabatku sendiri. Jadi, bagaimana malam pertama kalian?"

"Malam pertama kepalamu."

Seokmin merangkul bahuku sok akrab, ia menatapku dengan alis yang dinaik-turunkan. Tampang mesum yang membuatku merinding.

"Ayolah, jangan malu-malu untuk bercerita padaku. Aku 'kan sahabatmu. Aku sudah tau segala tentangmu, Gyu. Kapan kau mimpi basah dan siapa objek mimpi basahmu saja aku tau," ucap Seokmin.

Aku merotasikan mataku jengah, "Oh ya? Kalau begitu siapa bintang mimpi basahku?"

"Wonwoo sunbae 'kan?"

UHUK!

Aku mendadak tersedak, mataku menatapnya ngeri.

Bagaimana si sialan Lee Seokmin ini tau jika bintang mimpi basahku itu Wonwoo? Oke, itu memang benar. Pertama kali aku mendapatkan mimpi basahku adalah ketika aku berumur sekitar 14 tahun, dan aku memimpikan Wonwoo. Dari yang hanya sekedar uhuk—bercumbu—uhuk, hingga sampai adegan yang membuat ranjangku lebih basah dari yang biasanya.

Itu normal 'kan? Aku memimpikan Wonwoo karena memang aku hanya dekat dengan Wonwoo. Kalau saja saat itu aku sudah dekat dengan Minkyung mungkin aku akan memimpikan gadis itu.

Iya 'kan?

"Sok tau," ketusku—berusaha menutupi rahasia seumur hidupku. Mau ditaruh dimana wajah tampanku jika Seokmin sampai tau jika aku benar-benar memimpikan Wonwoo?

Seokmin mendecih, dan aku menawarinya sebungkus makanan ringan rasa keju yang kebetulan merk kesukaan Wonwoo—tunggu, kenapa aku jadi teringat Wonwoo?

"Jadi, kembali ke pertanyaan awal, bagaimana rasanya serumah dengan Wonwoo sunbae?" tanya Seokmin. Aku heran, kenapa si kuda ini terus ingin tau? Mencurigakan.

"Buruk," jawabku sekenanya.

Memang hari-hariku disana buruk sekali—dan diperburuk dengan adanya Bohyuk, si bocah kurang ajar yang sedang berusaha menguasai Wonwoo. Dan apa yang membuat hariku disana terasa begitu buruk?

Tentu saja karena Wonwoo.

Wonwoo yang membuatku tak bisa mengalihkan pandanganku darinya. Wonwoo yang membuatku ingin terus mendekap tubuh kurus tapi hangat miliknya—yang sialnya terasa begitu pas dipelukanku. Wonwoo yang membuatku ingin berada disampingnya. Wonwoo yang membuat jantungku serasa ingin meledak.

"Ini gila," gumamku.

"Apanya yang gila?"

Aku mendecih, kesal karena gumamku terdengar oleh Seokmin. Aku hanya menggeleng sebagai jawaban, tapi sepertinya dia tidak puas hanya mendapatkan gelengan kepalaku. Dan terus menerorku dengan berbagai pertanyaan—kelakuannya sekarang ini sudah mirip sekali dengan reporter pemburu gosip diluar sana.

"Kau jatuh cinta," ucap Seokmin ketika aku menjelaskan apa yang membuat hari-hariku menjadi buruk—dan juga membuatku hampir gila.

Aku tertawa sarkas, "Yang kutau, jatuh cinta itu terasa begitu menyenangkan. Bukannya membuat hari-hariku yang tadinya berwarna menjadi sangat buruk."

Seokmin menghela napas, ia menepuk pundakku dan memasang wajah berbela sungkawa. Aku tidak mengerti apa yang terjadi dengan sahabatku satu ini.

"Itu karena kau terus menyangkalnya. Hatimu jatuh cinta, tapi otakmu tak ingin kau jatuh cinta pada Wonwoo sunbae. Otak dan hatimu itu tidak sejalan."

Aku terdiam. Perkataan Seokmin barusan menohokku.

Benarkah? Benarkah hatiku ini sesungguhnya mencintai Wonwoo? Aku tidak tau—sungguh aku tidak tau.

.-.-.

Semalam aku menginap dirumah Seokmin—tentu saja aku mengabari Wonwoo, padahal pemuda kurus itu tak mencariku, hanya saja aku merasa aku harus mengabarinya. Sejenak aku mengabaikan rasa khawatirku karena membiarkan Wonwoo berduaan saja dengan adiknya yang kelewat mesum itu dan berdoa semoga saja akal sehat Bohyuk masih berfungsi dengan baik.

Dan disinilah aku sekarang, berduaan dengan Minkyung disebuah cafe yang tak jauh dari sekolah. Aku meminta untuk bertemu dengan Minkyung—bukan untuk membahas hubungan kami yang kandas karena gadis itu bertemu dengan Wonwoo, tapi untuk membahas masalah hati.

Bohong jika semalam aku tak memikirkan ucapan Seokmin. Aku memikirkannya—semalam suntuk, membuatku tak bisa tidur dan membuatku serasa ingin gila karena tak kunjung mendapatkan jawaban yang kuinginkan.

Dan kurasa bercerita pada Minkyung tidak buruk. Selain cantik dan humoris, Minkyung ini memiliki sisi dewasa dan bijak yang sangat jarang ditunjukkannya. Kurasa ia bisa membantuku.

"Jadi, apa masalahmu?" tanya Minkyung setelah ia memesan strawberry shake kesukaannya.

Aku menyandarkan punggungku pada sandaran kursi, menimbang-nimbang apakah apa yang kulakukan ini tepat. Tapi kurasa aku tak punya pilihan lain, yang bisa kuharapkan adalah Minkyung. Seokmin sama sekali tak mau membantuku semalam—baiklah, dia sedikit membuatku tersadar. Sahabatku yang lain—Minghao? Dia bahkan tidak bisa diharapkan untuk masalah seperti ini. Ibuku? Tidak. Beliau menyesatkan.

Jadi, Minkyung adalah orang yang tepat. Ya, dia mungkin bisa membantu.

"Aku merasa aneh akhir-akhir ini," ucapku.

Minkyung yang baru saja akan menyuapkan shortcakenya menurunkan kembali sendoknya, ia justru menatapku dengan alis bertaut heran, "Aneh bagaimana?"

Aku menggaruk tengkukku, canggung, berusaha menjelaskan secara singkat—karena aku malu.

"Tunggu, kau sekarang tinggal dengan Wonwoo sunbae 'kan?" tanyanya, yang kujawab dengan anggukan.

Minkyung menggumam pelan—aku tak tau apa yang dikatakannya. Gadis itu justru melipat tangannya didada dan menatapku dengan mata memicing, "Jadi, kau merasa aneh karena? Oh tunggu, jangan bilang kau sudah melakukan hal itu?! Demi Tuhan, Gyu, walaupun aku ingin melihatnya tapi kalian belum menikah! Kenapa kau—"

"Tunggu! Tunggu! Ini tidak seperti yang kau pikirkan!" potongku cepat.

Minkyung mengerjapkan matanya bingung, "Oh jadi?"

Aku mengusap wajahku kasar, astaga, kenapa otak Minkyung mendadak tercemar begini?

"Aku merasakan hal-hal aneh yang berhubungan dengan Wonwoo. Aneh—aneh sekali. Dan aku tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi padaku," ucapku.

"Aneh bagaimana? Berikan aku contoh."

Aku menarik napas, mengalihkan pandang dari Minkyung yang kini tengah menatapku dengan tatapan ingin tahunya—yang mendadak terlihat menyebalkan untukku.

"Ya aneh—seperti aku tidak bisa mengalihkan perhatianku darinya. Rasa tiba-tiba ingin memeluknya setiap saat dan selalu bersamanya. Bukankah itu aneh?"

Minkyung tertawa, membuatku memandangnya heran. Gadis itu mengulas senyum geli padaku, "Itu cinta."

"Heol, dulu aku juga merasakan seperti itu. Hanya saja tidak semenggila sekarang. Itu pasti karena rasa sayangku padanya sebagai sahabat 'kan?" sangkalku.

Gadis itu mendengus, "Konyol."

Mataku memicing, menatap tak terima pada Minkyung yang baru saja mengataiku konyol, "Ya! Apa maksudmu mengataiku seperti itu?"

"Kau itu konyol, Kim. Kau sudah lama bersahabat dengan Wonwoo sunbae, seharusnya kau tau, semenjak kapan perasaan anehmu itu muncul. Aku yakin, rasanya pasti sangat berbeda dibandingkan dulu. Itu karena rasa cintamu sudah menggila dan sudah tak bisa lagi kau tahan. Kau ingin memilikinya," jelas Minkyung panjang lebar.

"Tak mungkin aku jatuh cinta padanya," aku masih berusaha menyangkal.

Ya. Mana mungkin aku jatuh pada Wonwoo disaat aku masih selurus tiang listrik? Baiklah, mungkin kemarin-kemarin aku sempat terpesona pada Wonwoo, tapi bisa saja itu napsu 'kan? Belum tentu itu cinta—seperti yang dikatakan oleh Minkyung.

"Cinta bisa datang karena terbiasa. Cinta itu ajaib. Kau tidak akan bisa memilih dengan siapa kau jatuh cinta. Jika hatimu sudah memilih Wonwoo sunbae, kau bisa apa?" ucap Minkyung. Gadis itu kini menatapku dengan tatapan teduhnya.

"Cobalah untuk menerimanya, jangan mengelak lagi. Menjalin hubungan sesama jenis tidak seburuk itu kok. Lagipula ibumu 'kan sudah merestuinya."

Aku merotasikan mataku malas. Enak saja Minkyung bicara tentang menjalin hubungan sesama jenis itu tidak buruk disaat dia justru menjalin hubungan dengan kakak senior laki-laki dikampus Wonwoo. Dia tidak tau 'kan? Tidak sepantasnya dia bicara seperti itu 'kan?

"Kau normal. Mana mungkin kau mengerti."

Minkyung menghela napas kasar, cukup keras hingga aku memandangnya enggan.

"Oh God. Kim Bodoh Mingyu, apa kau tidak pernah mendengar kata-kata mutiara yang berbunyi 'cinta itu buta, tidak memandang fisik dan gender'?" sinis Minkyung.

"Aku pernah dengar."

Minkyung menepuk tangannya, "Good. Kalau begitu kau harusnya paham. Tidak ada salahnya kau jatuh cinta pada Wonwoo sunbae. Jangan kau tahan lagi perasaanmu, jangan menyakiti dirimu sendiri. Biarkan cinta itu tumbuh."

Aku menggeleng, menolak semua ucapan Minkyung. Aku tak ingin jatuh cinta dengan Wonwoo.

Aku menyayanginya—sebatas sahabat. Aku ingin berada disisinya—karena selama ini aku hidup dengan Wonwoo yang ada disekelilingku. Aku ingin memeluknya, melindunginya—karena selama ini pemuda kurus itu selalu berlindung padaku.

Bukankah itu bukan cinta? Itu hanya rasa sayang sebatas sahabat. Aku menyayangi Wonwoo sebagai sahabat dan juga saudaraku.

Itu tidak mungkin cinta—dalam konteks romantis.

"Teruslah menyangkal. Aku tak akan melarang. Tapi aku tidak tanggung jika suatu saat kau kecewa Wonwoo sunbae bersama dengan orang lain—bukan kau," ucap Minkyung. Gadis itu beranjak dari duduknya dan meletakkan beberapa lembar won diatas meja.

"Aku yang traktir," ucapku.

Minkyung tertawa, "Aku yang traktir. Simpan saja uangmu untuk membeli hadiah pernikahan untuk Wonwoo sunbae dimasa depan."

Aku hanya mendengus, memandang kepergian Minkyung yang baru saja dijemput oleh kekasih barunya.

Apa benar yang dikatakan Minkyung tadi? Aku, Kim Mingyu jatuh cinta pada Jeon Wonwoo?

Heol, ini gila.

Kalaupun dimasa depan nanti Wonwoo akan bahagia bersama orang lain—yang bukan aku, tentu saja aku sebagai sahabat akan ikut bahagia. Bahagia Wonwoo adalah bahagiaku juga.

Tapi kenapa ada rasa sakit yang mengganjal ya?

.-.-.

Aku memutuskan untuk pulang kerumah Wonwoo selepas bertemu dengan Minkyung. Aku sengaja tidak kembali menginap dirumah Seokmin—meskipun si kuda itu terus memaksaku untuk menginap, aku yakin dia hanya ingin mengorek cerita dariku.

Jarakku tinggal beberapa meter lagi dengan pagar rumah Wonwoo, dan aku memicingkan mataku ketika melihat Wonwoo baru saja pulang dengan seorang pemuda—kalau tidak salah ingat, namanya adalah Wen Junhui. Orang Cina yang merupakan seniorku semasa SMU sekaligus teman terdekat Wonwoo.

Aku mendesis tak suka ketika Wonwoo tertawa dengan begitu manisnya ketika Junhui mengatakan sesuatu—yang sialnya tidak bisa kudengar. Aku merasa hatiku terbakar amarah ketika Junhui dengan kurang ajarnya mengusap pipi Wonwoo dan menarik tubuh kurus itu kedalam pelukannya.

Tanpa sadar aku berjalan tergesa-gesa kearah mereka, menarik tangan Wonwoo dengan cukup kasar dan langsung membawanya masuk kedalam rumah setelah melemparkan tatapan tajam pada Junhui.

Kuharap pemuda Cina itu paham, bahwa tatapan tajamku berarti 'jangan pernah menyentuh Wonwoo'.

"Ming, lepaskan. Kau menyakiti tanganku!" protes Wonwoo ketika aku berhasil membawanya masuk kedalam rumah.

Aku mengendurkan peganganku pada tangan kurus yang terbalut hoodie abu-abu. Kubalikkan badanku, hingga bisa berhadapan dengan sosok yang membuatku nyaris gila akhir-akhir ini.

Tanganku yang terbebas membelai pipinya—merasakan sensasi lembut nan hangat yang sungguh membuatku ketagihan. Mataku menatap matanya yang tengah menatapku bingung, lalu turun ke hidungnya yang selalu mengerut menggemaskan ketika ia sedang tertawa, dan turun lagi ke bibir merah merona miliknya yang terlihat begitu merah meski tanpa sapuan pewarna bibir.

Bibir merah yang sedikit terbuka—seolah mengundangku.

Tatapan mataku terkunci pada bibir Wonwoo. Otakku mulai memikirkan bagaimana rasanya bibir merah itu? apakah selembut kelihatannya? Apakah memabukkan layaknya segelas anggur merah?

Ah, sial. Aku penasaran untuk mencicipinya.

Aku berjalan mendekat kearah Wonwoo, semakin dekat hingga tubuh kurus Wonwoo menabrak pintu utama yang tadi kututup kasar. Aku mendekatkan wajahku—cukup dekat hingga aku bisa merasakan hembusan napas hangat milik Wonwoo.

Bisa kurasakan bibirku hanya berjarak beberapa milimeter dari bibir menggoda Wonwoo, aku sengaja menahan diriku untuk tak segera menyantap bibir merah itu. Aku lebih memilih mengalihkan pandanganku ke arah sepasang mata tajam yang tengah menatapku gugup.

Eoh, si emo Jeon Wonwoo ini gugup?

"Junhui—dia siapamu?" tanyaku dengan suara rendah.

Wonwoo mengalihkan pandangannya dari mataku, "Dia—"

"Tatap mataku saat aku sedang berbicara denganmu, Jeon."

Wonwoo melakukannya, ia memandang mataku dengan gugup—dan itu menggemaskan. Aku tertawa geli dalam hati. Kapan lagi aku bisa membuat Wonwoo yang terkenal dingin dan emo ini menjadi segugup ini?

"Dia hanya sahabatku," lirih Wonwoo.

Aku tersenyum miring, "Tapi dia memelukmu."

Wonwoo mendengus, dan dengusan napasnya menggelitik wajahku, "Kau juga sering memelukku."

Aku menggeram, berusaha menahan emosiku yang mendadak naik ke ubun-ubun. Aku tak terima jika Wonwoo membiarkan teman-temannya menyentuh dirinya sama seperti aku menyentuh Wonwoo. Seharusnya hanya aku yang boleh begitu. Hanya aku yang boleh menyentuh Wonwoo.

Aku istimewa, dan seharusnya Wonwoo tidak memberikan izin kepada teman-temannya untuk menyentuhnya.

Aku semakin menempelkan tubuhku padanya, tersenyum miring ketika tubuh Wonwoo tersentak kaget.

"Menyingkir dariku, Mingyu!" protesnya—yang tentu saja tak kutanggapi.

"Apakah mereka memperlakukanmu seperti ini?" tanyaku.

Wonwoo menggeram, tangannya mendorongku menjauh—dan tentu saja itu tak berpengaruh padaku, tubuh kurus seperti itu mana sanggup mendorongku menjauh.

"Tidak. Hanya kau yang kurang ajar begini. Menyingkir dariku, sialan."

Aku terkekeh mendapati wajah Wonwoo yang memerah—aku tak tau itu efek marah padaku atau malu karena kupepet begini. Yang penting, Wonwoo terlihat begitu lucu saat ini.

Aku memiringkan kepalaku dan mendaratkan kecupan singkat pada sepasang ranum yang sedari tadi menggodaku. Hanya beberapa detik sebelum aku menarik diriku menjauh.

Wajah Wonwoo terlihat shock, mata sipitnya melebar menatapku, dan aku hanya terkekeh. Tanganku menangkup pipinya, mendekatkan wajahnya pada wajahku, "Hanya aku yang boleh memperlakukanmu seperti ini. Orang lain tak boleh untuk menyentuhmu lebih jauh. Tidak Junhui, tidak Soonyoung—ataupun orang lain."

Wonwoo mengangguk kaku, aku mengusak rambutnya, "Anak pintar."

Aku menjauhkan diriku dari Wonwoo, masih terkekeh ketika pemuda kurus itu masih terlihat linglung. Aku melangkah mundur, semakin mundur dan akhirnya berlari ketika Wonwoo sudah kembali ke mode emonya.

"KIM MINGYU SIALAN! AKU AKAN MEMBUNUHMU!"

.-.-.

Aku masih tersenyum seperti orang gila mengingat betapa lembutnya bibir Wonwoo yang menempel pada bibirku—meski hanya beberapa detik. Tapi setidaknya itu sudah cukup kan?

Bagaimana kalau aku menceritakannya pada Ibu? Pasti ibu sangat bahagia.

Aku pun meraih ponselku yang tergeletak di meja rendah dihadapanku, menelpon ibuku tentu saja.

"Ibu!" seruku ketika akhirnya ibuku mengangkat telpon setelah terdengar nada tunggu yang cukup lama.

"Oh Mingyu, ada apa?"

Aku tertawa tidak jelas, mataku menatap awas sekitar. Aman, tidak ada Wonwoo yang berkeliaran, "Aku tadi mencium Wonwoo hyung. Hehe."

Tak ada jawaban dari ibu setelah aku mengatakan hal itu. Hening yang cukup lama—dan membuatku curiga. Apa ibu terkena serangan jantung karena terlalu senang?"

"Ibu?"

"Kau sudah hampir dua minggu menginap disana dan kau baru bisa menciumnya? Apa kau lupa pesan ibu?"

Aku mengerutkan dahiku, berusaha mengingat pesan apa yang disampaikan oleh ibu—dan akhirnya nihil, aku tidak bisa mengingat apapun selain pujian ibu untuk Wonwoo, "Memang ibu berpesan apa padaku?"

Helaan napas terdengar dari ujung telpon—dan itu membuatku agak kesal, "Kim Mingyu anak ibu yang paling tampan tapi sayangnya bodoh luar biasa. Ibu kemarin berpesan padamu, 'waktu tiga minggu itu cukup lama, jadi tolong hamili Wonwoo'. INI SUDAH HAMPIR DUA MINGGU DAN KAU BARU BISA MENCIUMNYA?! DASAR ANAK PAYAH!"

Aku terdiam, terlalu shock.

"Dengar Kim Mingyu, ibu tau kau itu mesumnya tidak ketulungan. Ibu tau kau menyimpan banyak koleksi film biru, dan juga majalah porno di bawah ranjangmu dan dibawah tumpukan celana dalammu. Dan kau baru menciumnya, apa kau tidak tau bagaimana caranya menghamili Wonwoo? Apa Ibu perlu memberikanku referensi film biru dengan genre action adu pedang? Perlu?"

"Tidak perlu, bu. Sumpah, tidak perlu," ucapku cepat.

"Tapi ibu punya beberapa koleksi—beberapa teknik dan gaya juga ada. Oh! Ini ada satu yang katanya cepat—"

"Bu, aku harus membantu Wonwoo hyung memasak makan malam. Sampai nanti, aku menyayangimu, bu!" ucapku cepat dan langsung mematikan sambungan telpon.

Ponsel hitamku kulempar kesamping. Tanganku menutup wajahku yang mungkin sudah memerah. Argh, kenapa aku harus memiliki ibu yang seperti ini? Tidak bisakah aku memiliki ibu yang sedikit lebih normal? Aku heran kenapa ayah masih betah dengan ibu yang kelakukannya absurd begini.

"Dasar pembohong, membantuku memasak makan malam apanya," ketus sebuah suara—yang sudah pasti adalah suara Wonwoo.

Aku terkekeh—dan semakin keras saat menyadari wajah Wonwoo memerah, entah karena apa.

Tanganku meraih tangan Wonwoo yang hendak berlalu, menariknya dan menjatuhkan tubuh kurusnya ke pangkuanku.

"Ming—"

Aku meraih handuk yang menggantung indah di lehernya, mengusap surai lembut Wonwoo yang masih setengah basah, "Umurmu berapa sih hyung? Mengeringkan rambut begini saja tidak bisa."

Wonwoo mendengus, ia menggerakkan tangannya untuk mengusap rambutnya sendiri—yang sayangnya justru menyentuh tanganku.

Aku tersenyum geli ketika Wonwoo reflek menjauhkan tangannya—tapi gerakannya terlalu lambat, karena aku lebih dulu berhasil menangkap tangan lentik itu dan menggenggamnya erat.

Sialan, kenapa Wonwoo terasa begitu hangat dan segala sesuatu tentangnya begitu pas untukku?

Aku menuntun kepala Wonwoo untuk semakin mendekat, kutatap bibir menggoda Wonwoo yang sudah kembali kurindukan.

Sepertinya aku sudah mulai kecanduan dengan sepasang ranum yang lebih memabukkan dari segelas anggur merah itu.

Namun aku menekan keinginanku untuk kembali mencicipinya. Aku tak ingin Wonwoo risih padaku. Walaupun Wonwoo memang belok, itu tidak berarti dirinya ini suka dicium-cium sembarangan 'kan? Yeah, walaupun aku adalah sahabatnya—tapi itu tidak menutup kemungkinan.

"Delivery saja ya, hyung," ucapku memecah hening.

Bisa kulihat alis Wonwoo bertaut heran, "Tumben? Biasanya kau akan mengomeliku jika delivery."

"Aku sedang malas masak, sesekali tak apalah."

"Kalau begitu biar aku yang memasak," ucap Wonwoo seraya bangkit dari pangkuanku.

Aku melebarkan bola mataku, reflek aku kembali menarik Wonwoo untuk kembali duduk—dimana lagi kalau bukan dipangkuanku, "Jangan, hyung. Kita delivery saja, tidak usah memasak hari ini."

"Baiklah. Cheese burger kalau begitu, kejunya double," ucap Wonwoo. Ia berusaha meraih ponsel milikku yang tergeletak mengenaskan tak jauh dari kami.

Namun, sebelum tangannya meraih ponselku, lebih dahulu aku mengambilnya, "No. Tidak ada cheese burger untukmu, hyung."

Wonwoo mendelik, "Wae? Kalau tidak boleh lebih baik aku memasak sendiri."

Pemuda kurus itu bangkit dari pangkuanku dan berjalan menjauh, menuju dapur mungkin. Aku menghela napas. Bukannya aku pelit atau bagaimana, hanya saja tempo hari Wonwoo sudah makan junk food, aku sebagai sahabat yang baik tentu saja tidak akan membiarkan Wonwoo terus-terusan makan sampah itu.

Aku menghampiri Wonwoo yang sudah memanaskan panci berisi air—yang lagi-lagi terlalu sedikit untuk memasak ramyeon. Aku hanya bisa geleng-geleng dibuatnya, miris dengan skill memasak Wonwoo yang sungguh mengenaskan.

"Hyung, airnya terlalu sedikit," ucapku. Wonwoo mendelik, sepertinya ia tidak terima karena lagi-lagi aku mengkritiknya.

Tapi pemuda kurus itu tetap berbalik untuk menambahkan air pada panci. Aku kembali melongok dan mengernyit ketika mendapati air disana masih saja kurang, "Airnya masih kurang, Wonwoo sayang."

DUK!

"Ouch! Apa yang kau lakukan hyung?!" protesku ketika merasakan rasa nyeri pada tulang keringku.

Wonwoo menatapku nyalang—yang jujur membuatku mengkeret takut, takut jika Wonwoo kembali menendangku. Mungkin yang selanjutnya menjadi korban bukan kakiku, tapi yang lain, masa depanku misalnya—seperti yang sudah-sudah.

"Sayang kepalamu. Aku bukan sayangmu!" bentaknya.

Aku meringis mendengar bentakannya. Tapi jangan panggil aku Kim Mingyu jika mendengar bentakan Wonwoo saja sudah menyerah untuk menggodanya. Tidak, aku sudah kebal dengan segala kelakuan anarkisnya.

Aku pun mendekat kearah Wonwoo, mencolek pemuda kurus itu, yang tentu saja di tepis oleh Wonwoo.

"Ei, padahal dulu kau selalu memanggilku begini, 'Mingu sayang, Mingu kesayangannya Wonu'," godaku sembari mengingat masa lalu.

Aku tidak bohong, dulu Wonwoo memang sering memanggilku begitu. Panggilan yang begitu manis bukan? Ah, aku jadi merindukan masa lalu.

"Diam, Kim!" bentaknya lagi, ia bahkan mengacungkan pisau yang digunakannya untuk memotong daun bawang kearahku.

Aku tertawa inosen dan menjauh darinya. Namun kembali mendekat, ketika mendapati Wonwoo hanya mengeluarkan sebungkus ramyeon dari lemari.

"Kok hanya satu? Kau mau kita makan seporsi ramyeon berdua, hyung? Aku tau kau berusaha untuk romantis, tapi kau tau sendiri selera makanku berbanding terbalik denganmu yang makannya seperti perempuan diet," heranku yang langsung mendapatkan hadiah berupa cubitan di pinggang seksiku.

Wonwoo lalu menggeplak kepalaku setelah puas mendaratkan cubitan menyakitkan di pinggangku, "Ini untukku sendiri. Kalau mau, sana bikin sendiri."

Aku merengut dan berpindah ke belakang Wonwoo, memeluk pinggang rampingnya erat. Kutumpukan daguku pada pundak Wonwoo, dengan begitu aku bisa lebih leluasa untuk menghirup aroma tubuh Wonwoo—yang entah sejak kapan menjadi favoritku.

"Buatkan satu untukku," rajukku.

Kudengar Wonwoo menghela napas, ia pun beranjak untuk mengambil sebungkus ramyeon lagi—tentu saja masih dengan aku yang memeluk pinggangnya. Aku tak peduli meski Wonwoo berkali-kali mencubit tanganku hingga memerah. Aku sudah terlanjur nyaman dengan posisi ini.

Aku tertawa dalam hati—merasa sudah mulai gila.

"Kau aneh sekali hari ini. Habis terbentur sesuatu, huh?" tanya Wonwoo.

Aku tersenyum senang, tanganku menggoyangkan tubuh Wonwoo kekanan dan kiri, membuat pemuda dipelukanku melayangkan protes—namun tak kudengarkan.

"Perhatian sekali kau padaku, hyung," godaku.

"Kau mati saja sana, Kim," ketusnya.

Aku merengut, "Kalau aku mati nanti kau dengan siapa, hyung? 'kan tidak ada yang mau dengan manusia emo dan anarkis sepertimu."

"Masih ada Junhui. Kau bisa mati dengan tenang."

Hatiku mendadak panas mendengar nama Junhui, reflek, aku menggigit perpotongan leher Wonwoo, membuat sang empunya memekik kesakitan. Pemuda kurus itu bahkan langsung membalikkan badannya dan melayangkan tendangan ke tulang keringku—jujur, tendangan Wonwoo itu sangat menyakitkan.

Tangan Wonwoo menutupi bekas gigitanku, wajahnya meringis menahan sakit. Mendadak aku merasa bersalah, mungkin aku tadi menggigitnya terlalu keras.

Aku mendekatinya, menyingkirkan tangan Wonwoo yang menutupi bekas gigitanku. Aku meringis ketika mendapati luka itu mengeluarkan darah. Tanpa meminta izin, aku mengecup dan menjilat darah yang menodai kulit seputih salju Wonwoo—sejenak aku merasa seperti seorang vampir sungguhan.

Aku bisa merasakan tangan Wonwoo yang mencengkram erat lenganku. Kujauhkan wajahku dari leher Wonwoo, kali ini kutatap wajah Wonwoo yang sudah dinodai oleh semburat merah.

Wajah manis yang membuatku lupa diri. Sepasang mata tajam yang selalu membuatku tersesat dalam lautan pesonanya. Pipi putih yang selalu bersemu merah saat kugoda. Hidungnya yang selalu mengerut menggemaskan. Tak ketinggalan sepasang ranum yang begitu lembut dan memabukkan.

Jeon Wonwoo adalah definisi dari keindahan. Keindahan yang beracun.

Mungkin Minkyung 50% benar tentang aku yang jatuh cinta pada Wonwoo. Mungkin aku memang sudah jatuh hati pada pemuda kurus dihadapanku ini.

Mungkin aku tak menyadarinya, bahwa aku sudah lama terjerat dalam jaring pesonanya.

Sialan, Jeon Wonwoo memang selalu bisa membuatku gila.

"Mingyu?"

Tolong, jangan memanggilku dan memasang wajah menggemaskan seperti itu. Aku tidak kuat!

"Hyung, aku ingin menciummu," celetukku.

Sepasang sipit Wonwoo melebar, cengkramannya pada lenganku semakin kuat, dan wajahnya bersemu merah. Manis sekali!

Aku memejamkan mataku dan mendekatkan wajahku pada Wonwoo, dalam hati aku bersorak gembira, tak sabar kembali mencicipi sepasang ranum yang lembut itu.

"Ya, silahkan cium saja aku sepuasnya. Cumbu aku sampai terkapar tak berdaya, Kim Mingyu."

HATCHI!

Segera saja aku membuka mata dan mengusap hidungku. Mataku menatap nyalang kearah depan, dimana wajah manis Wonwoo sudah digantikan dengan wajah menyebalkan Mamoth.

"Ya! Ya! Kenapa kucing sialan ini ada disini!" kesalku sembari menjauhkan buntalan abu-abu dariku.

Tapi bukannya menjauh, Mamoth justru semakin mendekat kearahku, kaki depannya bahkan sudah akan meraih wajah tampanku dengan cakar tajamnya.

"Kau bilang tadi ingin cium? Ayo cium. Cepat cium!"

Aku melongokkan kepala kesumber suara—lebih tepatnya kesosok bocah sialan yang menyodorkan buntalan abu-abu sialan itu.

"Jeon Bohyuk sialan!" murkaku.

Bohyuk menendang tulang keringku dan melemparkan Mamoth kearahku hingga kucing itu mengeong keras dan cakar kaki depannya tak sengaja menggores pipi mulusku.

"Dasar manusia gosong kelebihan hormon! Mesum! Main sosor kakakku! Pergi kau!" usir Bohyuk.

Aku mendecih, menatapnya nyalang masih dengan tangan yang memegang pipiku yang terluka.

"Apa lihat-lihat hah?! Cih, mengakunya saja lurus, tapi diam-diam sudah belok ke Wonu hyung," sinis Bohyuk.

Aku yang belok—baru saja belok—kenapa Bohyuk yang ribut? Bocah sialan ini maunya apa? Sudah seenaknya menganggu momenku dengan Wonwoo, sekarang mengataiku kelurusan—maksudku kelurusan yang sudah agak bengkok ini.

Aku melangkahkan kaki mengikuti Bohyuk yang masih setia menggandeng Wonwoo yang diam mematung—tentu saja setelah mematikan kompor, aku tidak mau tiba-tiba terjadi kebakaran disini. Bocah sialan itu membawa Wonwoo masuk kedalam kamarnya, aku tersenyum senang.

Kalau didalam kamar begini Bohyuk pasti tidak akan mengganggu.

Hehehe.

Tapi tunggu! Kenapa bocah sialan itu ikut masuk?!

"Kenapa kau masuk?"

Bohyuk melirikku tajam, "Kau tidur dikamarku, aku yang tidur dengan Wonu hyung. Jangan harap kau bisa sekamar dengan Wonu hyung mulai detik ini!"

BLAM!

Aku menatap bodoh pintu yang baru saja tertutup—tepat didepan hidungku. Aku menggeram kesal. Jeon Bohyuk itu memang kurang ajar.

Awas saja bocah tengil itu. aku tidak akan membiarkannya.

.

.

To be Continued.

(Semoga masih belum pada lupa sama Mamoth—kucing kesayangan Wonu disini. Dia berjasa lho gaes, dia menyelamatkan Wonu dari terjangan Kim mesum Mingyu. Hehe)

(Rencananya ini ngga akan panjang, Mingyu sudah menuju jalan belok. Wahaha. Selain itu aku juga ngga jago bikin konflik muluk-muluk. Takutnya malah nanti muter ngga jelas semacam sinetron. No. Kalau dikasih konflik berat nanti humornya semakin hilang—ya walaupun ini juga humornya sebelah mana aku gatau.)

(Aku masih berusaha bikin satu chap yang full meanie moment cuman—ya gitu. Gitu, iya gitu—tolong beri aku semangat TT)

Special thanks to:

jeonwonlust | jiyulee | Kyunie | Chwe S. Kaa | lulu-shi | ArZell17 | MeanieSeries1706 | DevilPrince | seira minkyu | Mingyu04won17 | whiteplumm | sehon-ey | pizzagyu | Park RinHyun-Uchiha | Nikeisha Farras | Khasabat04 | Albus Convallaria majalis | gahee28 | hoaxshi | chypertae | wonppa | hamsteosoon | JoK | Dazzpicable | Kimi | bbyshbrth | john want wow | Mocca2294 | rubby | ysejikook | Song Soo Hwa | Desi Vbaexian1048 | newtrie12 | Guest | aliciab. I | xxjaekim | Jeonna | juliakie | DKJisoo chittayong | AiandU | btobae | bolang | Gigi onta | hoshilhouette | monwiijeonwii | cheonsa19 | kimjeon17 | riani98 | PHC520 | Beanienim | real wonwoo | naintin2| utsukushii02 | hvyesungalwaysmeanieJaeminNananaSungRaeYoo | kacamatapolkadot | Firdha858fera95loeloe07 | jeonsan | HanniebangtaninmyloveSonewbamin | KMaddict | Mrs. EvilGameGyuXiayuweLiurexov | KimAnita | Jjangmyeon | egatoti | mingooww to-loud | Ohnokai92 | JeonCarmy | Queen Winkata | guesteu minmoongie justcallmeBii