Bisa Apa?
Kim Mingyu x Jeon Wonwoo
T+
Disclaimer:
Sesungguhnya Seventeen adalah milik kita bersama.
Warning:
AU. Typo(s). Boys Love/sho-ai. OOC. Romance Comedy (mungkin)
.
.
Menginap di kediaman Jeon (last part).
.
.
.
Terhitung tinggal dua hari lagi aku menginap di kediaman keluarga Jeon—paman dan bibi Jeon juga sudah kembali dari Changwon. Kabar baiknya adalah, aku tak lagi menjadi pihak yang bertanggung jawab atas terpenuhinya gizi Jeon bersaudara, karena sudah ada Bibi Jeon yang skill memasaknya tak usah dipertanyakan lagi.
Kabar buruknya adalah, si Jeon bungsu, alias Jeon Bohyuk seperti berkonspirasi dengan Paman Jeon dalam usaha menjauhkan Jeon Wonwoo dari jangkauanku. Astaga.
Ini mimpi buruk.
Seperti saat ini, dimana aku ingin mendekati Wonwoo yang sedang sibuk dengan tanaman bunga koleksinya namun suara menggelegar milik Paman Jeon menghancurkan segalanya. Pria paruh baya itu memanggilku untuk membantunya mencabuti rumput liar—lengkap dengan Bohyuk yang sudah menyunggingkan senyum licik.
"Ha—rasakan itu. Kau pikir kau bisa mendekati Wonu hyung sepuasmu setelah aku tau motif dibalik semua tingkahmu? Jangan harap bung," itu Bohyuk yang bersuara.
Aku mendecih, angkuh sekali lagak bocah baru puber ini. Aku mengambil sampah rumput liar yang sudah kupotong dan melemparkannya kearah Bohyuk, yang disambut dengan pekikan—layaknya perempuan dari Bohyuk.
Aku tertawa puas. Dia pikir karena dia adalah adiknya Wonwoo jadi aku tak bisa bertingkah sadis? Jangan harap.
Bisa kulihat Bohyuk memasang wajah kesal—dan itu adalah sebuah kepuasan tersendiri untukku.
"Lihat pembalasanku, hyung," ucapnya sengit yang kubalas dengan senyum meremehkan. Memang bocah baru puber itu bisa apa? Paling juga mengadu pada Paman Jeon—seperti yang sudah-sudah.
Mataku mengikuti gerak-gerik Bohyuk yang mencurigakan. Bagaimana tidak mencurigakan? Bocah baru puber itu sengaja menyayat telunjuknya dengan pisau yang digunakan untuk memotong rumput.
Aku merinding—ngilu juga sebenarnya. Apa Bohyuk sudah mulai terguncang kejiwaannya? Apa dia tiba-tiba berubah menjadi masokis setelah kulempari dengan sampah rumput liar? Err—tidak ada hubungannya sih.
Bisa kulihat darah menetes dari jari telunjuk Bohyuk yang terluka, dan bukannya meringis kesakitan, bocah itu justru mengulas senyum—psikopat. Ia menatapku—masih dengan senyumnya. Aku hanya mengerutkan alisku tak mengerti. Apa rencana bocah itu?
Bohyuk meletakkan pisaunya, ia berjalan mendekati Wonwoo yang sedang menyiram bunga-bunga peliharaannya. Senyum psikopat yang semula terpasang di wajah bocah sialan itu lenyap dan digantikan dengan wajah memelas menahan sakit—yang sumpah, tidak ada imut-imutnya sama sekali.
"Wonu hyung—hiks—"
Ya! Ya! Apa-apaan air mata palsu itu? Mau merebut perhatian Wonwoo hyung dengan cara pura-pura—sengaja terluka begitu?
Jeon Bohyuk sialan.
Wonwoo meletakkan gembor*) berwarna hitam yang sedari tadi dipegangnya. Atensinya teralihkan oleh Bohyuk yang memasang wajah memelas sembari menunjukkan jarinya yang terluka.
Aku tersenyum penuh kemenangan ketika mendapati ekspresi Wonwoo tidak berubah. Masih datar dan menatap bosan kearah Bohyuk. Pemuda manis itu menghela napas dan meraih tangan Bohyuk lalu mendekatkannya ke bibir merah meronanya—
TUNGGU!
Apa yang dilakukan Wonwoo? Astaga. Aku yakin mataku sekarang sudah melotot sempurna—mungkin sudah mau keluar dari tempatnya.
Apa-apaan yang dilakukan Wonwoo? Bagaimana bisa pemuda manis itu dengan polosnya memasukkan jari terluka Bohyuk kedalam mulutnya. Aku bisa menjamin 1000% jika lidah Wonwoo sedang menjilati luka Bohyuk untuk membersihkan darahnya.
Dan bisakah kita bicarakan bagaimana polos dan menggemaskannya Wonwoo sangat melakukan itu? Astaga. Bibir merahnya itu—membuatku salah fokus.
Bohyuk menoleh kearahku, bisa kulihat senyum menyebalkan miliknya yang kembali ditujukan padaku.
Aku membalasnya dengan senyum tampan. Lihat saja Jeon Bohyuk, akan kubalas semua ini berkali-kali lipat lebih menyakitkan untukmu.
.-.-.
Sore yang indah, sore yang damai, sore yang sangat sempurna.
Sangat sempurna untuk membalaskan dendamku pada si bocah kurang ajar bernama Jeon Bohyuk. Jangan harap diriku ini—Kim Mingyu akan diam saja dengan segala perilaku Bohyuk yang sok-sokan menguasai Wonwoo hanya untuknya.
Dan sore ini benar-benar mendukung semua skenario yang sudah kususun matang tadi siang. Tak ada Paman dan Bibi Jeon—mereka dengan sukarela menjemput kedua orang tuaku yang seharusnya sudah pulang sore ini dan berniat menghabiskan waktu dengan makan malam bersama, yang aku yakin pasti akan cukup lama. Mungkin pukul 10—atau bahkan tengah malam mereka baru akan kembali.
Dirumah minimalis ini hanya ada aku, Wonwoo, dan Bohyuk—ah, ada Mamoth juga, si kucing pemalas yang dari pagi sampai sore ini kegiatannya hanya bermanja pada Wonwoo.
Aku mendekati Wonwoo yang tengah sibuk dengan drama remaja yang tengah diputar di televisi. Pemuda manis itu hanya mengenakan sweater putih kebesarannya dan juga celana berwarna coklat susu selutut.
Manis sekali. Aku sekarang ikhlas menjadi belok hanya untuknya.
"Hyung," panggilku sembari mencolek lengan kurusnya—dalam hati aku merutuk, kenapa Wonwoo harus memakai sweater? Coba kalau pakai kaos lengan pendek, pasti aku sudah merasakan betapa mulusnya kulit lengannya.
Astaga. Apa yang baru saja kupikirkan?
"Ada apa?" tanyanya. Ia mengalihkan fokusnya dari televisi kepadaku.
Aih. Mata tajamnya itu menatap polos kearahku. Astaga, bisa tidak Wonwoo tidak memasang wajah minta dipolosi seperti itu? Aku hanyalah makhluk Tuhan biasa yang bisa khilaf juga. Jangan berikan hambaMu cobaan seperti ini.
"Aku ngantuk, hyung," ucapku sembari memasang wajah mengantuk seolah tidak tidur 3 hari.
Wonwoo memandangku datar, "Kalau ngantuk ya tidur."
Aku merengut—sedikit kesal dengan Wonwoo yang datar tapi menggemaskan ini. Mataku melirik kearah Bohyuk yang sedari tadi sedang duduk dilantai dengan buku-buku tugasnya yang berserakan.
"Aku ingin tidur bersamamu, hyung," aku merajuk—menggunakan pesona yang bisa membuat noona-noona diluar sana terlena.
Wonwoo menatapku datar, hanya sebentar sebelum fokusnya kembali ke layar televisi. Aku hendak menyuarakan protes—namun tak jadi ketika aku merasakan tangan Wonwoo menyentuh kepalaku dan menuntunku untuk tidur beralaskan pahanya.
"Hyung?" tanyaku kebingungan.
"Tidur. Aku masih ingin menonton," ucapnya.
Aku menyamankan diri tidur di sofa beralaskan paha Wonwoo—walaupun kurang nyaman, tapi tak apalah, yang penting ada Wonwoo disini. Tanganku memeluk pinggang ramping Wonwoo dan melemparkan senyum penuh kemenangan kepada Bohyuk sebelum aku melesakkan kepalaku ke perut Wonwoo—mencari kehangatan dan juga mencari kesempatan.
"YA!" aku bisa mendengar Bohyuk berteriak—yang kemudian disusul dengan teriakan kesakitan dari bocah itu.
"Hyung, kenapa aku dipukul?!" itu Bohyuk yang merajuk.
"Jangan berisik bodoh. Kau bisa membangunkan Mingyu. Kasihan dia lelah," ucap Wonwoo.
Aku sedikit tersentak ketika merasakan usapan lembut pada suraiku. Usapan yang sangat lembut dan membuatku terbuai untuk mengarungi alam mimpi. Padahal niatku hanya berpura-pura mengantuk agar bisa menempeli Wonwoo. Tapi jika mendapatkan perlakuan lembut seperti ini, mana bisa aku menolaknya begitu saja?
Aku tersenyum—senyum bodoh. Ah, Wonwoo hyung kenapa begitu perhatian padaku? Kalau seperti ini terus bisa-bisa persentase aku jatuh cinta pada Wonwoo bisa meningkat tajam.
Yah, mulai hari ini aku akan mengakuinya.
Aku—Kim Mingyu, jatuh cinta pada sahabatku yang emo namun menggemaskan, Jeon Wonwoo.
Aku sudah merelakan kelurusanku yang sudah dibelokkan oleh Wonwoo. Mau bagaimana? Pesonanya sudah menjeratku. Entah itu fisiknya, sifatnya—segalanya tentang Wonwoo entah sejak kapan sangat kusukai.
Kalau sudah begini aku bisa apa selain ikhlas berbelok untuk Wonwoo?
.-.-.
Aku terbangun dari tidurku yang nyaman—entah sudah berapa lama aku tertidur, tapi sepertinya cukup lama, terbukti dari badanku yang pegal bukan main. Salahku juga sih, sudah tau badanku ini bongsor tapi tetap memaksakan diri untuk tidur di sofa yang tak terlalu luas.
Tapi mau bagaimana lagi? Wonwoo yang menawarkan pahanya untuk kujadikan bantal. Mana mungkin aku menyiakan kesempatan emas lagi? Kapan lagi Wonwoo tidak akan galak dan menawarkan dirinya—ehem, kebaikan secara cuma-cuma?
Aku menguap, kuraih ponselku yang sedari tadi kuletakkan di meja rendah dihadapanku.
Sudah pukul 8 malam. Lama juga aku tertidur.
Aku mengamati keadaan sekitar. Sepi, tak ada si bocah sialan Jeon Bohyuk, Paman dan Bibi Jeon juga sepertinya belum pulang. Wonwoo? Ah, pemuda manis itu ternyata tertidur.
Aku terkekeh geli mendapati ia tertidur dengan posisi kepala yang miring ke kiri. Wajahnya saat tertidur itu begitu manis dan menggemaskan, berbanding terbalik dengan Wonwoo yang biasanya—yang selalu berwajah emo dan terkadang memasang ekspresi bengis ketika sedang menyiksaku.
Kutepuk pelan pipinya—membangunkannya. Aku tidak tega membiarkannya tertidur dengan posisi seperti itu. Aku khawatir lehernya akan pegal karena posisi tidurnya—dan lebih khawatir jika Wonwoo akan kembali menganiayaku karena menganggap gara-gara dirikulah ia menderita. Tidak. Terima kasih.
"Hm? Ada apa, Ming?" tanyanya setengah sadar. Sebelah tangannya mengusap matanya yang setengah terpejam—membuatku gigit jari saking gemasnya.
Aku mengulas senyum tampan, "Bangun, hyung. Kau belum makan malam."
Wonwoo merengut—aku yakin, pemuda emo ini pasti melakukannya tanpa sadar, "Aku masih ngantuk."
Aku menghela napas ketika melihat Wonwoo justru merebahkan tubuh kurusnya di sofa, tak lupa tangannya memeluk bantal sofa dan bersiap untuk kembali memejamkan mata.
"Astaga, makan malam dulu, baru tidur lagi kalau kau memang sangat mengantuk, hyung. Aku tak ingin gastritismu kembali kambuh karena tidak makan," ucapku sembari menarik tangannya untuk duduk.
Tubuhnya lemas sekali, aku mengguncangkan bahunya, berusaha membuat si pemalas ini terbangun dari tidurnya. Tapi bukannya bangun, Wonwoo justru menyandarkan kepalanya pada leherku, belum lagi tangannya yang juga ikut-ikut memeluk leherku—dengan bonus Wonwoo yang mendusel manja.
Maka nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan?
"Ngantuk." Rengeknya manja.
Aku terkekeh, kalau sedang setengah sadar saja bisa semanis ini. Kalau sadar, galaknya sudah melebihi macan betina yang sedang hamil.
Aku memeluk pinggang rampingnya, tanpa meminta izin atau sejenisnya aku langsung menggendong tubuh kurusnya ala koala. Aku bisa merasakan tubuh digendonganku ini tersentak—kaget mungkin.
"Mingyu? Apa yang kau lakukan?" bingung Wonwoo.
Nah, sepertinya Wonwoo sudah sepenuhnya tersadar. Aku tak menjawab, lebih memilih untuk membawa Wonwoo menuju dapur dan mendudukkan tubuh kurusnya diatas counter yang bersebelahan dengan wastafel.
Aku mendekatkan wajahku pada wajah bingung Wonwoo, sengaja aku menggesekkan hidung mancungku pada hidungnya yang menggemaskan.
Dan lihat apa yang terjadi, paras Wonwoo langsung memerah dengan manisnya. Aku jadi ingin menggigit pipi yang tengah merona cantik itu.
"Kau ingin makan apa, hyung? Biar kumasakkan," ucapku.
Wonwoo menelan ludahnya. Ia mendorong bahuku menjauh—yang tentu saja percuma, karena aku masih sangat ingin mengurung Wonwoo yang sedang dalam mode tidak berdaya seperti ini.
"Hyung, aku bertanya padamu," ucapku setelah mendaratkan kecupan singkat di bibir merah meronanya. Jangan salahkan aku, salahkan saja bibir Wonwoo yang seolah memanggilku untuk segera menciumnya.
Pemuda emo itu terdiam, rona merah di pipinya semakin pekat dan itu menambah kadar cantiknya. Mulutnya terbuka, hendak mengatakan sesuatu namun urung. Duh, manis sekali.
"Kalau ada orang yang bertanya itu dijawab dong, sayang."
PLAK!
Aku mengusap dahiku yang baru saja mendapatkan ciuman gratis dari tangan halus Wonwoo. Sumpah, tangannya sih boleh lentik begitu. Tapi tenaganya tidak kalah dengan babon. Sakit sekali.
"Hyung, kenapa kau memukulku?" jengkelku. Aku tidak habis pikir apa salahku sehingga Wonwoo bisa dengan teganya memukul dahi eksotisku tanpa perasaan begitu—atau justru menggunakan segenap perasaannya.
"Ja-jangan memanggilku sayang. Aku bukan kesayanganmu, bodoh," cicitnya. Wonwoo menundukkan kepalanya, sementara kedua tangannya meremat ujung sweater yang dikenakannya.
Aku terkekeh ketika mendapati paras memerah Wonwoo yang begitu cantik—aku yakin pemuda emo ini menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan parasnya yang bersemu, tapi sayang sekali, mataku ini memiliki reflek yang cukup bagus untuk menangkap segala macam ekspresi dari Wonwoo.
"Siapa bilang kau bukan kesayanganku, hyung?" tanyaku—menggodanya.
Wonwoo mendongak, ia memiringkan kepalanya dan menatapku dengan tatapan polos—yang sumpah sangat menggemaskan. Aku sampai bertanya-tanya, Wonwoo ini niat menjadi pemuda emo tidak sih? Parasnya cantik keterlaluan begini, sangat tidak mendukung.
"Teman-temanmu? Mereka bilang kau punya banyak kesayangan," ucapnya polos.
Mataku terbelalak, aku mengingat-ingat siapa gerangan teman-temanku yang dekat dengan Wonwoo. Nihil, aku tidak menemukan nama selain Seokmin dan juga Minghao—tunggu, jangan-jangan mereka berdua?
"Siapa yang bilang begitu padamu, hyung?"
"Minghao."
Sialan si Xu Lemot Minghao. Berani-beraninya anak itu bilang macam-macam pada Wonwoo. Lagipula itu 'kan masa lalu—masa dimana aku belum mengakui kebelokanku pada Wonwoo. Kalau sekarang sudah beda lagi, aku sudah ikhlas lahir batin menjadi belok dan jatuh hanya untuk Jeon Wonwoo.
Aku menghela napas, tanganku menangkup pipi Wonwoo—yang sialan sangatlah mulus, "Jangan dengarkan apa kata teman-temanku—apalagi yang bernama Seokmin dan Minghao. Mereka benar-benar tidak bisa dipercaya, menyesatkan, berbahaya dan tidak baik—"
"Tapi mereka 'kan temanmu dari SMP, Mingyu," potong Wonwoo. Alisnya bertaut, sepertinya ia tidak terima jika aku mendeskripsikan kedua temanku seperti itu. Mau bagaimana lagi? Mereka berdua memang berbahaya untuk manusia kalem seperti Wonwoo.
"Mereka memang temanku, hyung. Tapi—ah, pokoknya begitu. Jangan pernah percaya ucapan mereka. Dan satu hal lagi, Jeon Wonwoo itu satu-satunya kesayanganku, dari zaman aku baru bisa bicara sampai akhir nanti," ucapku sembari mengumbar senyum tampan.
Kulihat telinga Wonwoo memerah—jangan tanyakan parasnya, tentu saja pipi putih itu sudah merona dengan cantiknya. Pemuda manis dihadapanku ini berusaha menatapku tajam, tak ketinggalan tangannya menepuk pelan dahiku, "Belajar bicara seperti itu dari drama mana, huh?"
Aku mendecakkan lidahku, "Hyung, aku bicara serius lho—ini murni dari lubuk hatiku yang terdalam."
Wonwoo terkekeh—dan jujur saja aku suka melihatnya tertawa manis seperti itu, bahkan mungkin aku akan mengorbankan seluruh duniaku hanya untuk melihatnya tertawa manis.
Ah, kurasa aku sudah mulai gila. Ini semua karena Wonwoo.
Bagaimana bisa pemuda kurus, galak dan bar-bar seperti Wonwoo menjungkirkan balikkan duniaku? Membuatku yang semula sangat membanggakan kelurusanku menjadi 100% ikhlas belok hanya untuk seorang manusia—sialan cantik—bernama Jeon Wonwoo.
Tanganku yang masih bertahan disisi parasnya mengusap lembut pipi Wonwoo, membuat sepasang mata sipit itu menatapku bingung, yang tentu saja kubalas dengan tatapan penuh cinta—tepat ke sepasang mata cantiknya.
"Hyung, apa aku sudah pernah mengatakan padamu jika kau ini sangat cantik?" tanyaku.
Kulihat alis Wonwoo bertaut bingung, "Huh?"
Aku tersenyum—tulus, "Sepertinya aku belum pernah mengatakannya. Jadi, akan kukatakan sekarang. Kau sangat cantik, mungkin kau adalah makhluk tercantik yang pernah kutemui, Jeon Wonwoo."
Wonwoo merona—dan aku sangat menyukai bagaimana parasnya itu akan merona dengan cantiknya karena diriku.
Ah, Jeon Wonwoo benar-benar membuatku gila. Aku jadi ingin menciumnya.
Dan yah, itu yang kulakukan sekarang, mengecup lembut bibir Wonwoo, tak ketinggalan melumat sepasang ranum lembut yang mampu membuatku terbang ke surga—mumpung suasananya mendukung dan Wonwoo tengah terlena, buktinya ia justru membalas lumatanku dan tangannya itu sudah melingkar indah di leherku.
Astaga, rasanya aku tidak ingin mengakhiri ini—dan yah, aku melakukannya. Kuberikan sedikit waktu untuk Wonwoo mengambil napas dan setelah kurasa cukup, aku kembali menyerang sepasang ranum yang memang sedari tadi sudah mengkode ingin diserang.
Sayangnya kegiatan 'Mari mencumbu Jeon Wonwoo' harus berakhir oleh sebuah teriakan yang sungguh membuat moodku hancur berkeping-keping.
"YA! DEKIL SIALAN TUKANG CABUL!"
"ASTAGA ANAKKU KiM MINGYU, IBU BANGGA PADAMU SAYANG!"
Itu suara teriakan Bohyuk dan juga ibuku. Aku tidak tau kapan mereka datang dan menghancurkan kegiatan menyenangkanku. Mungkin aku terlalu berkonsentrasi pada kegiatanku hingga tidak menyadari jika tiba-tiba saja mereka berdua sudah berdiri di dekat pintu dapur.
Wonwoo reflek langsung memelukku, menyembunyikan parasnya yang sudah memerah cantik itu di lekuk lehernya, sementara tanganku mengelus sayang surainya.
"Ibu, jangan berisik, dan untukmu Bohyuk, dasar kau manusia tidak sopan!"
Kulihat Bohyuk menggeram kearahku, ia menyingsingkan lengan bajunya dan hendak mendekatiku, sebelum ibu menarik kerah belakangnya dan menggeret Bohyuk menjauh dari dapur.
Aku terkekeh, kuciumi pucuk kepala Wonwoo—gemas. Untungnya si empunya tidak mengamuk seperti biasa.
"SERA-YA! KURASA SEBENTAR LAGI KITA AKAN BERBESAN! OH TUHAN, NIKMAT MANA LAGI YANG KAU LIMPAHKAN PADA HAMBAMU INI HINGGA BISA MENDAPATKAN MENANTU SECANTIK WONIE! ASTAGA SERA-YA, DOAKU SELAMA INI TERKABUL!"
Aku mendadak tersedak, itu suaraku ibuku yang berteriak kesetanan kepada Nyonya Jeon—ibu Wonwoo.
Astaga, Ibu, bisa tidak Ibu itu diam dan bertingkah seperti wanita lemah lembut untuk sehari saja?
"Ming, aku malu pada ibumu," cicit Wonwoo.
Aku menghela napas—meski didalam hati sebenarnya aku cukup geli, "Tidak usah malu pada ibu mertuamu begitu, hyung."
Wonwoo mengangkat kepalanya dari ceruk leherku dan melemparkan tatapan tajamnya padaku, "Siapa ibu mertuaku?"
"Ibuku."
"Memang aku mau menikah denganmu, huh?"
Aku memutar bola mataku malas, namun secepat kilat aku mencuri kecupan dari bibir merahnya, "Tentu saja kau mau menikah denganku. Kau pasti akan sangat bangga bisa menikah dengan orang tampan dan serba bisa sepertiku, hyung."
"Dih, dasar percaya diri," sindirnya pedas.
Aku merengut, "Itu 'kan kenyataan, memang kau tidak ingin menikah denganku, hyung?"
Wonwoo mengedikkan bahunya—sebuah jawaban yang sesungguhnya membuatku sakit hati dan meragu, "Entahlah? Memangnya kau benar-benar mau menikah denganku? Bukan karena keinginan ibumu?"
Aku mengangguk mantap, "Tentu. Lihatlah nanti hyung, aku akan membuatmu percaya dengan perkataanku. Aku akan menikahimu."
Wonwoo tersenyum manis, ia menepuk pelan pipiku sebelum beranjak menjauh.
Dan kata-katanya saat melewatiku membuatku bersemangat untuk mendapatkan hatinya.
"Kita lihat saja nanti, apa aku akan benar-benar menjadi mempelaimu."
Jangan panggil aku Kim Mingyu jika aku tidak bisa mendapatkanmu, Jeon Wonwoo.
Meski mulai malam ini aku tidak menginap lagi disini, bisa kupastikan aku tak akan ada hentinya untuk membuat si Jeon Awesome Wonwoo menjadi mempelaiku—dan juga mencintaiku dengan sepenuh hatinya.
Hm, lihat saja Jeon Wonwoo.
Aku—Kim Mingyu, akan membuktikan perkataanku padamu.
.
.
.
To be Continued.
(Halo, annyeong. Masih ada yang inget aku? Eh ngga, akunya ngga penting, masih ada yang inget ff ini?)
(BWAHAHA. Semoga masihlah ya. Masih dong. Masih aja gitu. HEHE.)
(Btw, sebentar lagi ff ini akan tamat, mungkin dua atau tiga chapter lagi? hehe. Aku bukan jagonya bikin ff panjang nan berbelit-belit. Tapi tenang aja, diriku sudah menyiapkan dua ff pengganti, genrenya—mungkin—romance comedy. Tapi hanya akan ada satu judul yang upload, sebagai pengganti ff ini yang akan tamat pada waktunya nanti)
(sebenernya itu pun kalau ada yang minat. HEHEHE)
(btw (2), terima kasih sudah membaca dan menyempatkan untuk review! Untuk special thanksnya, maaf aku ngga cantumin disini—lagi dikejar deadline, hiks. Tapi yang terpenting, terima kasih banyak sudah mau membaca karya saya!)
(Sampai bertemu dichapter depan! :*)
