Bisa Apa?

Kim Mingyu x Jeon Wonwoo

T+

Disclaimer:

Sesungguhnya Seventeen adalah milik kita bersama.

Warning:

AU. Typo(s). Boys Love/sho-ai. OOC. Romance Comedy (mungkin)

.

.

"Kapan kamu—"

.

.

.

"Bagaimana? Sudah mendapatkan ide?"

Aku mendongak, menatap Seokmin yang baru saja datang dengan setumpuk buku ditangannya. Dibelakang manusia setengah kuda itu ada Minghao juga—yang hanya datang dengan berbekalkan sebuah laptop butut yang jika dinyalakan suara bisingnya mengalahkan motor milik penjaga sekolah.

"Kenapa kau bawa laptop itu lagi?" cibirku.

Minghao mendudukkan dirinya disampingku dan meletakkan laptop butut itu dihadapanku, "Kata gege, laptop milikku sedang rusak, jadi gege meminjamkan laptop miliknya."

"Memang laptopmu kenapa?" tanya Seokmin penasaran.

"Entahlah, kata gege laptopku tidak bisa digunakan untuk membuat tugas," jawab Minghao dengan tampang polosnya.

Aku memutar kedua bola mataku malas. Gege yang sedari tadi disebutkan oleh Minghao tidak lain dan tidak bukan adalah Wen Junhui—teman sekampus Wonwoo dan juga orang yang merupakan tetangga Minghao—sekaligus orang yang disukai oleh Minghao.

Dan aku berani bertaruh 1000% jika laptop milik Minghao masihlah sehat walafiat—justru laptop butut yang merupakan milik Junhui inilah yang patut dicurigai kesehatannya.

"Paling juga laptopmu digunakan untuk bermain PES," celetukku sembari menutup buku yang sedari tadi kubaca.

Minghao menoleh kearahku dan menatapku bingung, namun dengan segera aku mendorong wajahnya dengan buku yang sedari tadi kubaca hingga pemuda china ini berhadapan dengan Seokmin.

"Seokmin, PES itu apa?"

Bisa kudengar penjaga perpustakaan—ya, kami saat ini berada di perpustakaan sekolah—menegur Seokmin yang tidak bisa mengontrol tawanya begitu mendengar pernyataan dari Minghao.

"PES itu game sepak bola. Masa kau tidak tau?"

Minghao menggeleng, ia membuka laptopnya, "Aku biasanya bermain game Harvest Moon atau Sally's Salon."

Dan aku hanya bisa menepuk dahiku mendengar jawaban dari Minghao, "Dasar bocah ini."

"Oh ya, sudah berapa banyak buku yang kau baca, Gyu?" tanya Seokmin kepadaku.

Aku menghela napas, dan menunjuk kearah tumpukan buku yang ada didepanku, "Tujuh? Mungkin ini yang ke delapan?"

Seokmin berdecak kagum, ia bahkan bertepuk tangan—hiperbola sekali.

"Banyak juga yang sudah kau baca. Jadi bagaimana? Apa kau sudah mendapatkan ide?" tanyanya—yang kujawab dengan gelengan kepala.

Buku-buku sialan didepanku ini sama sekali tidak membantuku untuk menemukan solusi bagaimana cara untuk membuat manusia emo tapi sialan cantik bernama Jeon Wonwoo itu bertekuk lutut padaku.

Yup. Buku yang kubaca adalah buku mengenai bagaimana membuat orang yang disukai berbalik menyukai kita.

Konyol. Kuakui aku cukup—sangat konyol karena membaca buku seperti ini, terlebih konyol lagi kenapa pula perpustakaan sekolahku memiliki buku konyol seperti ini.

Tapi aku benar-benar tak ada ide. Aku bingung bagaimana caranya membuat Wonwoo menyukaiku—atau mungkin membuatnya mengakui jikalau dia memang menyukaiku. Aku sedikit menyesal, kenapa pula tempo hari aku begitu semangat akan membuatnya menjadi mempelaiku.

Ah, tapi bukankah lebih cepat lebih baik?

"Lupakan dulu masalahmu yang sedang bingung bagaimana cara menaklukan hati Wonwoo sunbae. Tugas kita ini lebih penting, sialan," ucap Seokmin sembari melemparkan buku tebal kearahku—yang untuk saja bisa kutangkap sebelum buku itu menghantam wajah tampanku.

Minghao yang sedari tadi sibuk dengan laptop bututnya mendongak, ia menatapku dengan tatapan tajamnya.

"Apa?" ketusku, tak nyaman juga ditatap seperti oleh si Lemot Minghao.

"Menaklukan hati Wonwoo sunbae? Kau naksir Wonwoo sunbae? Kenapa tidak cerita? Hm, akhirnya kau kena karma juga, Gyu," ucapnya sembari memukulkan buku ke kepalaku.

Aku mendesis, gantian, aku memukul kepalanya dengan gulungan buku, "Xu Lemot Minghao, kemarin aku sudah membicarakan ini dengan kalian berdua. Dan kau! Kau yang paling semangat, sialan."

Minghao mengusap kepalanya, dan ia menatapku dengan pandangan polos—yang sayangnya tidak semenggemaskan Wonwoo.

"Iya 'kah?"

Aku menggeram, berusaha menahan diriku untuk tidak melemparkan tubuh Minghao keluar dari jendela perpustakaan.

"Lupakan!" ketusku.

Aku langsung memukulkan buku yang tadi dilemparkan oleh Seokmin ke wajah Minghao ketika pemuda itu hendak berbicara. Sadis? Biarlah, mungkin ini efek karena aku terlalu sering bergaul dengan Jeon bersaudara yang terkenal bengis itu.

Mau bagaimana lagi? Lebih baik aku membuat Minghao diam dan tidak membahas masalah Wonwoo saat ini, karena jika topik terus dilanjutkan, aku tidak yakin diriku dan Seokmin bisa menahan diri untuk tidak melemparkan Minghao keluar.

.-.-.

Hari sudah beranjak gelap ketika penjaga perpustakaan mengusirku dan juga kedua sahabatku keluar karena perpustakaan sudah akan tutup—begitu juga dengan gerbang sekolah yang akan segera digembok.

Dan kami akhrinya pulang dengan tangan hampa. Tugas yang seharusnya ditumpuk lusa itu belum selesai, bahkan belum menyentuh angka 50%.

Ini semua karena Xu Minghao dan Lee Seokmin. Dua manusia itu benar-benar tidak bisa berkonsentrasi untuk mengerjakan tugas dan malah menggodaku hingga rasanya aku ingin memenggal kepala mereka berdua.

Kenapa bisa? Ini semua berawal dari pesan yang dikirimkan oleh Wonwoo, pemuda itu memintaku datang kerumahnya untuk memenuhi undangan makan malam dari ibunya.

Dan dua orang—yang kupanggil sahabat ini langsung bersorak gembira, bahkan mereka mengataiku akan pergi makan malam dengan keluarga calon istriku—yang berlanjut dengan mereka yang tiada henti menggodaku seperti itu hingga akhirnya tugas yang harusnya bisa selesai sore ini terbengkalai.

Ah sudahlah, masalah tugas aku bisa menyelesaikannya nanti—tentu saja dengan sedikit bantuan dari Wonwoo.

Sekarang masalahku hanya ada satu, makan malam nanti, aku harus bagaimana? Baju apa yang harus kupakai? Bagaimana nanti aku harus bersikap? Sopan 'kah? Atau biasa saja seperti diriku sehari-sehari? Haruskah aku membawakan hadiah untuk Wonwoo—bunga atau coklat mungkin, seperti yang biasanya dilakukan oleh sepasang kekasih.

Tunggu, memangnya aku dan Wonwoo sepasang kekasih? Kami 'kan calon suami-istri. Asik.

"Kenapa kau diam saja?" suara Seokmin menyadarkanku dari diriku yang melamun memikirkan bagaimana acara nanti malam.

Aku gugup luar biasa. Sungguh, kali ini aku tidak berbohong—apalagi hanya sekedar pemanis di mulut.

Aku mengedikkan bahuku guna menjawab pertanyaan yang tadi dilemparkan oleh Seokmin.

"Ah, paling juga Mingyu galau mengenai acaranya nanti malam. Aku berani bertaruh," ucap Minghao dengan penuh percaya diri.

Aku mendecakkan lidahku malas, namun kemudian aku memandang Minghao dengan pandangan jahil—tentu saja Seokmin tidak ketinggalan, ia juga memasang senyum yang sama seperti senyum Mingyu, yaitu senyum jahil.

"Tumben otakmu itu bisa diajak bekerja, huh?" ucapku sembari memukulkan buku yang masih kubawa ke kepala Minghao—yang dijawab dengan desisan dari Minghao.

Minghao tak tinggal diam, dia berniat membalas perbuatanku, namun tiba-tiba pemuda kurus itu berhenti dan justru menunjuk minimarket yang berada diseberang jalan.

"Itu bukannya Wonwoo sunbae?"

Aku mengikuti arah pandang Minghao dan mendapati seorang pemuda manis yang mengenakan hoodie kebesaran berwarna merah muda yang dipadukan dengan celana pendek berwarna putih, tak ketinggalan dua buah kantong belanjaan berukuran cukup besar yang berada dimasing-masing tangannya.

Sosok itu Wonwoo—Jeon Wonwoo, si calon istriku.

Aku menyeringai, pucuk dicinta ulam pun tiba. Dasar yang namanya jodoh, pasti tidak akan lari kemana.

Aku segera melemparkan senyum kearah Minghao dan Seokmin—yang untungnya kali ini Minghao memahami apa arti senyum yang kuberikan padanya. Kulangkahkan kakiku menuju Wonwoo yang tengah kesulitan membawa kantong belanjaan. Pemuda itu menghela napas dan memandang tajam kantong belanjaan yang kini diletakkan kembali diatas tanah.

Menggemaskan sekali sih manusia satu ini—apalagi dengan hoodie kebesarannya yang berwarna merah jambu, membuatnya mirip seperti permen kapas. Aku jadi ingin menjilatnya.

Astaga. Apa yang baru saja aku pikirkan?

Aku menggelengkan pelan kepalaku dan langsung mengambil kantong belanjaan yang diterlantarkan oleh Wonwoo—membuat pemuda manis itu sedikit terlonjak kaget, yang kemudian berakhir dengan diriku yang mendapatkan pukulan penuh cinta darinya.

"Kenapa kau memukulku, hyung?!" protesku sembari menjauh dari Wonwoo yang hendak melayangkan serangan gelombang kedua.

Wonwoo menatapku tajam—yang dimataku terlihat begitu menggemaskan, persis seperti kucing betina yang sedang marah karena anaknya diganggu, "Kau mengagetkanku! Kupikir kau itu orang jahat! Dasar hitam!"

Apa? Hitam katanya? Astaga, kenapa kulit eksotisku lagi-lagi harus menjadi korban?

"Hyung, kulitku tidak hitam, ini seksi asal kau tau," ucapku tidak terima.

Wonwoo mendengus, ia mendorong dahiku dengan telunjuknya, "Memang aku mengatakan kalau kulitmu hitam? Tidak 'kan?"

"Lalu?"

"Auramu yang hitam, seperti orang jahat, preman, ataupun om-om pedofil yang biasanya memata-matai anak sekolah dasar," ucapnya dengan memasang wajah polos.

Aku memutar kedua bola mataku malas, kalau aku om-om pedofil, maka Wonwoo adalah anak sekolah dasar yang begitu menggemaskan dan begitu kawinable.

"Kucium baru tau rasa kau hyung," ucapku.

BLUSH!

Aku tertawa puas dalam hati melihat bagaimana paras Wonwoo memerah dengan cantiknya—membuatku ingin segera menggeretnya menuju pelaminan.

Kucolek pipinya yang memerah itu, membuat sepasang mata rubah itu menatapku—sok—galak.

"Ey, disini ada yang malu tapi mau rupanya," godaku sembari melempar senyum jahil nan tampan.

Wonwoo menepis tanganku kasar, "Apa sih?!"

"Ey, tidak usah malu begitu, hyung. Kau mau kucium? Sini, aku ikhlas kok menciummu disini sekarang—argh! Kenapa kau menendang kaki seksiku?! Dasar sadis!"

Kuusap kakiku yang berdenyut nyeri akibat dicium oleh kaki kurus kering—tapi sialan menggoda—milik Wonwoo. Kutatap tajam Wonwoo yang tengah—hm, merona.

"Mati saja kau, Kim!" bentaknya sembari melengos pergi meninggalkanku.

Aku tertawa melihat sikapnya. Menggemaskan. Kenapa pula aku baru sekarang menyadari jika Wonwoo itu begitu menggemaskan? Baik penampilannya, sikapnya—dan juga sifatnya mungkin. Kemana saja aku selama ini?

Hah, aku menyesal—sangat menyesal. Coba kalau daridulu? Mungkin sekarang aku dan Wonwoo sudah sukses mengupgrade status persahabatan kami menjadi sepasang kekasih. Sudahlah, semuanya sudah terlanjur terjadi, nasi sudah jadi bubur, tiada guna menyesalinya.

Yah, lagipula tidak lama lagi aku akan mengupgradenya, jadi sepasang suami-istri—kalau bisa.

.-.-.

Singkat cerita, setelah aku mengantarkan belanjaan yang ditinggalkan oleh Wonwoo—yang berakhir dengan pemuda kurus itu dijewer oleh ibunya karena menganggap tingkah si sulung Jeon itu tidak sopan—dan kembali ke rumah—yang tentu saja langsung disambut dengan sangat heboh oleh ibuku karena aku akan makan malam dengan keluarga Jeon—ibu menganggap bahwa itu makan malam dalam rangka menerimaku sebagai suami dari si sulung Jeon.

Yeah, aku berharap seperti itu.

Aku kembali lagi ke rumah Wonwoo, kali ini penampilanku sudah lebih rapi, aku mengenakan kemeja berwarna biru dongker yang dipadu dengan kaos v-neck abu-abu dan bawahan berupa celana jeans hitam. Rapi, namun tidak terkesan terlalu formal—seketika aku merasa menjadi manusia tertampan di dunia.

Aku tersenyum tampan ketika Wonwoolah yang membukan pintu rumah. Pemuda manis itu juga sudah berganti pakaian—kaos lengan panjang berwarna putih dan celana jeans biru. Aku merasa seperti baru saja melihat bidadari jatuh dari surga.

Wonwoo mundur sejenak—melongok ke ruang tamu guna melihat jam kuno yang terpajang apik disudut ruang tamu, lalu menatapku heran, "Kau datang 30 menit lebih awal."

"Memang tidak boleh?" balasku.

Bisa kulihat Wonwoo memutar sepasang mata rubahnya malas, ia sedikit menyingkir dari depanku, "Terserah kau sajalah. Cepat masuk."

"Tunggu," kugenggam tangan kurusnya, yang langsung dibalas dengan tatapan tak mengerti dari Wonwoo.

Aku terkekeh—gemas dengan wajah bingungnya. Tanganku yang sedari tadi bersembunyi di balik punggungku kini terjulur kearah Wonwoo, memberikan sebuah kotak kecil dengan pita putih diatasnya, "Untukmu."

Wonwoo menerima kotak itu dan melemparkan tatapan tanya kepadaku, yang kubalas dengan memberikan isyarat untuk segera membuka kotak itu.

"Woah," seru Wonwoo. Aku tersenyum bahagia ketika mendapati sepasang manik kesukaanku itu berbinar penuh kagum.

"Kau suka?"

Pemuda manis itu mengangguk dengan semangat, senyum manis terlukis diparasnya—yang mana membuat sebuah perasaan bernama bahagia membuncah dihatiku, "Sangat. Bagaimana kau bisa ingat kalau aku begitu menginginkan cincin ini?"

Aku terkekeh, tanganku mengacak gemas surai lembut Wonwoo, "Jangan panggil aku Kim Mingyu jika tak bisa mengingat apa yang Jeon Wonwoo inginkan."

Delikan tajam dari Wonwoo membuat tawaku meledak, "Baiklah, baiklah. Aku hanya bercanda sayang."

Wonwoo memutar sepasang manik rubahnya—lengkap dengan dengusan yang menandakan bahwa ia sudah kalah, "Terserahlah."

Aku menahan tawaku begitu melihat kucing kesayanganku ini tengah ngambek. Wonwoo langsung berlalu kedalam rumah—tanpa mengajakku untuk masuk lagi, yang tentu saja langsung kuekori. Bagaimanapun juga, aku datang lebih awal ke kediaman keluarga Jeon untuk membantu Bibi Jeon—karena si anak sulung, dan juga si bungsu keluarga Jeon sama sekali tak bisa diharapkan untuk membantu dalam masalah dapur.

Ngomong-ngomong soal hadiah yang tadi kuberikan kepada Wonwoo, itu hanyalah hadiah sederhana. Hanya sebuah cincin perak yang pernah disukai oleh Wonwoo ketika kami jalan-jalan di festival beberapa bulan yang lalu.

Aku masih ingat dengan jelas, bagaimana Wonwoo menatap berbinar kearah sepasang—yeah, cincin couple itu. Bagaimana semangatnya Wonwoo dalam memuji cincin tersebut, sederhana tapi indah, dimana Wonwoo berharap ia memiliki kisah cinta yang sederhana—tidak terlalu rumit namun tetap indah, baik untuk dirinya, pasangannya, ataupun orang yang melihatnya.

Saat itu aku hanya tertawa—menertawakan tingkah melankolis Wonwoo saat itu, menyebabkan pemuda itu ngambek dan langsung meninggalkanku begitu saja. Dimana aku memanfaatkan kesempatan itu untuk membeli cincin couple tersebut.

Aku tak mengerti, mengapa saat itu aku langsung membeli cincin tersebut tanpa perlu berpikir dua kali. Kupikir saat itu aku membelinya untuk kuberikan kepada Wonwoo sebagai permintaan maafku karena telah menertawakannya, tapi ketika keesokan harinya, aku ragu.

Aku berpikir, mungkin cincin itu bisa kuberikan dimasa depan nanti—untuk momen yang lain.

Hm, jangan bilang saat itu aku sudah jatuh cinta dengan Wonwoo?

Ah ya, ngomong-ngomong, pasangan dari cincin yang kuberikan kepada Wonwoo, kini terpasang apik di jari kelingkingku. Kenapa tidak di jari manis? Jawabannya tentu saja karena tidak muat. Tak apalah, walaupun di jari kelingking begini tidak akan mengurangiku kadar ketampananku.

Aku mengikuti Wonwoo hingga ke kamarnya—lupakan soal membantu Bibi Jeon, wanita paruh baya itu bahkan sudah memberiku kode untuk mengikuti Wonwoo saja. Maka mana bisa aku menolak titah dari ibu mertua?

Aku pun masuk kedalam kamar Wonwoo—tanpa permisi, apalagi mengetuk pintu. Dan yang kutemukan cukup membuatku tertawa puas dalam hati. Bagaimana tidak? Ketika aku membuka pintu, yang kudapati adalah Wonwoo yang tengah duduk di meja belajarnya, dengan tangan kanan yang menyangga dagunya sementara matanya berbinar menatap jemari tangan kirinya, dimana di jari kelingkingnya terdapat sebuah benda—cincin, tak ketinggalan, senyum cantik terlukis diparasnya yang ayu.

Hm, Wonwoo memasangnya ditangan kiri, sudah seperti cincin kawin saja.

"Ada yang sedang berbahagia sepertinya. Bagus ya?" ucapku di telinga Wonwoo ketika aku telah berdiri dibelakang pemuda kurus itu.

Aku terkekeh ketika mendapati tubuh kurus Wonwoo terlonjak kaget dan reflek menoleh kepadaku—yang sialnya langsung berhadapan dengan wajah cantiknya. Secepat kilat, kucuri kecupan di bibir ciumable miliknya.

"YA!" sentaknya sembari memukul kepalaku.

Aku meringsi kesakitan. Kenapa sih Wonwoo itu senang main tangan? 'kan aku lebih suka jika Wonwoo senang bermain bibir. Itu lebih menguntungkan—baik untukku maupun untuk Wonwoo sendiri. Hehe.

"Kenapa kau memukulku sih, hyung? Kali ini apalagi salahku?" tanyaku dengan sedikit merajuk.

Wonwoo mendelik, sekali lagi, tangannya mendarat dengan selamat sentosa di dahi—yang kata orang-orang—terlampau seksi, "Main cium-cium sembarangan. Dasar tidak sopan!"

Aku mengernyitkan alisku, agak janggal mendengar kalimat Wonwoo yang cukup ambigu untukku, "Memang yang sopan itu bagaimana? Aku meminta izin dulu padamu? Memang kau mengizinkan? Biasanya juga harus dipaksa dulu."

"Hah? Dipaksa apanya? Izin untuk apa?"

Aku mendengus. Gemas setengah mati pada Wonwoo yang tiba-tiba polos—lemotnya kumat. Kalau sudah dalam mode lemot begini, kelemotan Wonwoo itu bisa mengalahkan Minghao—raja dari semua makhluk lemot.

"Izin untuk ini—"

CUP!

Tanganku menangkup pipi putih lembut miliknya, sementara bibirku sibuk bekerja mencium bibir Wonwoo yang—sialan—sudah menjadi candu untukku. Duh, aku sudah tidak sabar untuk segera membawa Wonwoo ke pelaminan, supaya apa? Ya supaya aku dan Wonwoo bisa hidup bahagia bersama selamanya.

"Mingyu, Won—omo! Maafkan Ibu menganggu kalian!"

"HEH DEKIL SIALAN MAIN MAKAN BIBIR WONU HYUNG! AKU TIDAK TERIMA—YAK IBU! ADUH BU SAKIT! JANGAN JEWER TELINGA BOHYUK, YANG HARUSNYA DISIKSA ITU MINGYU HYUNG YANG SUDAH MELAKUKAN PELECE—ASTAGA, AMPUN BU AMPUN JANGAN TARIK TELINGA BOHYUK!"

BUK!

Wonwoo mendorongku menjauh, parasnya sudah memerah—pekat, mungkin malu karena—lagi-lagi—ketahuan oleh orang lain sedang berciuman denganku. Untuk Bohyuk, bocah itu sudah dua kali—atau berkali-kali memergokiku tengah bermesraan dengan Wonwoo.

"Sudah kubilang jangan main cium sembarangan, Kim Idiot Mingyu!" amuk Wonwoo. Pemuda kurus itu sudah memukuliku dengan brutal.

Aku meringis dibuatnya. Oke, badan boleh kurus kerempeng dan datar depan belakang seperti TV LCD. Tapi tenaga Wonwoo itu tidak main-main, seperti babon. Yah, sepertinya Wonwoo masih menyimpan jati dirinya sebagai lelaki dibalik paras cantik khas asianya itu.

"Iya sayang iya! Nanti aku izin dulu sebelum menciummu!"

"Nah begitu lebih ba—TUNGGU! SIAPA PULA YANG MAU DICIUM OLEHMU?! MATI SAJA KAU KIM MINGYU!"

Aku berusaha menghindar dari Wonwoo yang mengamuk dengan wajah memerah menggemaskan seperti itu—aku tidak tau itu memerah karena amarah atau karena malu. Yeah, yang mana saja aku tak peduli, yang penting Wonwoo terlihat menggemaskan sekarang.

"Ampun hyung, aku hanya bercanda! Eh tidak—aku serius!"

"YAK KIM IDIOT MINGYU!"

.-.-.

Suasana meja makan yang seharusnya hangat dan ceria berubah menjadi canggung dan mencekam—khusus Bohyok dan juga Paman Jeon yang terus saja menatapku dengan pandangan tajam.

Aku curiga, jangan-jangan Bohyuk bercerita macam-macam kepada Paman Jeon—mengingat bagaimana paman Jeon begitu protektif kepada Wonwoo.

Kulirik Wonwoo yang duduk disebelahku, pemuda manis itu menunduk, terlihat fokus pada makanannya. Namun, tak jarang aku memergoki Wonwoo yang tengah mencuri pandang kearahku—yang kemudian langsung berpura-pura memerhatikan hal lain ketika kami bertemu pandang.

Tsundere yang menggemaskan.

Aku menghela napas, makan malam dalam keadaan sunyi—dan juga cukup mencekam bukanlah styleku. Biasanya, ketika keluargaku bertemu dimeja makan seperti ini, pasti akan sangat amat teramat ribut—yang 95% diisi oleh curahan hati ibuku mengenai betapa sempurnanya Wonwoo.

Membuatku yang sudah menghapal segala hal tentang Wonwoo—berhubung aku temannya sejak kecil—menjadi sengat hapal semua tentang Wonwoo.

Wonwoo. Wonwoo, dan Wonwoo.

Segala hal dikehidupanku berubah seketika—semua menjadi serba Wonwoo. Aku tak bisa mengalihkan sedikitpun pikiranku dari sosok pemuda emo ini. Beginikah yang namanya jatuh cinta?

"Eh, ada orang gila yang ikut makan malam disini rupanya."

Aku tersentak. Itu suara Bohyuk. Sudahkah aku mengatakan jika suara Bohyuk itu unik dan memiliki karakter yang berbeda dengan orang-orang pada umumnya? Suara Bohyuk itu sukses membuat semua orang yang mendengarnya menjadi ingin cepat-cepat melihat Bohyuk tidur tenang.

Tapi aku tidak sejahat itu, mungkin hanya 0,001% saja persentase kejahatanku.

"Anak kecil diam saja," balasku ringan.

Bohyuk menatapku tajam, ia mengangkat sumpitnya—hendak melemparkannya kearahku, yang sayangnya tak jadi karena Bibi Jeon terlebih dahulu memukul kepala Bohyuk dengan sendok sayur.

Aku bergidik ngeri, sekarang aku tau darimana darah sadis dan barbar Jeon bersaudara itu berasal.

"Jadi..." itu Bibi Jeon yang buka suara. Wanita cantik dan lemah lembut—berbeda 180 derajat dengan ibuku—itu tersenyum manis kearahku, membuatku yang sudah gugup ini menjadi semakin gugup.

Kuberanikan diri untuk balas menatap Bibi Jeon—tentu saja aku merapal doa dalam hati agar dikuatkan dari tatapan tajam Paman Jeon sampai acara makan malam ini selesai—atau paling tidak sampai aku mendengarkan ucapan Bibi Jeon.

"Kapan kau akan segera melamar Wonie?"

Hah?

.

.

.

To be Continued.

(Yuhu~~~~ aku datang membawa lanjutannya. Maafkan aku yang sangat lama, karea ya gitu—hidup ngga melulu soal ngetik ff, ada perut yang harus diisi :" tp tenang, ff ini ttp jadi prioritas kok, cmn emang pengerjaannya jadi sangat2 lambat karena jujur, aku kehilang

(btw nih ya, ku sedang mencari teman—berasa sepi sekali hidupku—buat fangirlingan. Kalau semisal ada yang punya gc di line atau kkt, ku minta gabung gitu dongs. My friend gaada yang biasa diajakin fgan nie—apalagi meanie. Hmz, q tabah.)

(Oiya. Ini perasaanku doang atau gimana, ffn makin sepi ya? Ku jadi kepikiran buat menjajah wattpad, cuman aku terlalu bego hingga tak mengerti bagaimana cara main wattpad, ku sedang berusaha memahaminya. Dan ku jadi bingung mau stay ffn atau cus jajah wattpad. Sarannya chingu?)

(Special thanks untuk semuanya yang sudah membaca dan mereview cerita ini—yang lagi lagi gabisa kusebutkan satu persatu bcs masalah waktu. Tp percayalah chingu, ku cinta kaleyan semwa.)

(Sampai ketemu di chapter depan! :*)