Bisa Apa?

Kim Mingyu x Jeon Wonwoo

T+

Disclaimer:

Sesungguhnya Seventeen adalah milik kita bersama.

Warning:

AU. Typo(s). Boys Love/sho-ai. OOC. Romance Comedy (mungkin)

.

.

Tapi—tapi—

.

.

.

"Kapan kau akan segera melamar Wonie?"

Hah?

UHUK!

Dua reaksi berbeda yang ditunjukkan oleh diriku dan Wonwoo-Bohyuk. Aku hanya bisa menatap bodoh kearah Bibi Jeon yang bisa dengan polosnya menanyakan hal seperti itu—mengingat aku dan Wonwoo pacaran saja tidak. Sementara Jeon bersaudara itu tiba-tiba tersedak mendengar pertanyaan ngelantur dari ibu mereka.

"Ibu!" itu Wonwoo yang agak berteriak. Kulirik pemuda manis itu, dan aku tersenyum dalam hati mendapati paras manisnya memerah cantik.

Duh, cantik sekali sih calon istriku—eh.

"Ada apa Wonie?" Bibi Jeon bertanya dengan begitu lembutnya—dan juga tanpa rasa bersalah sama sekali.

Wonwoo terlihat bingung, terlihat dari matanya yang berusaha menghindari tatapan orang-orang yang tengah menatap lekat kearahnya yang tadi hendak menyuarakan protes.

"Kenapa ibu bertanya seperti itu?" cicitnya dengan kepala yang masih menunduk—membuatku ingin menenggelamkannya dalam pelukan hangatku.

"Loh? Apa ada yang salah dengan pertanyaan ibu?"

Aku hanya menggaruk tengkukku—canggung. Ya jelas saja canggung, tidak angin, tidak ada hujan tiba-tiba Bibi Jeon bertanya seperti itu padaku.

"Anu—itu—"

"Aku 'kan tidak berpacaran dengan Mingyu, bagaimana mungkin dia akan melamarku!" ucap Wonwoo.

Duh, duh, lihat wajahnya yang memerah itu. Dia malu? Atau marah?

BRAK!

Aku berjengit kaget—seketika aku merinding ketika menyadari tatapan Bibi Jeon yang langsung terarah padaku. Boleh kujelaskan bagaimana tatapannya saat ini? yah, intinya ia menatapku tajam—sangat tajam. Mungkin jika tatapan bisa membunuh, aku sudah terkapar bersimbah darah disini.

"Kim Mingyu," beliau memanggil namaku. Aku mendongak dan berusaha memasang senyum andalanku—apalagi jika bukan senyum tampan penakluk noona-noona.

Bibi Jeon tersenyum menatapku—tapi aku bisa merasakan bahwa senyumannya menjanjikan sebuah kepedihan, kalau boleh jujur bahkan senyuman Bibi Jeon lebih menyeramkan dari senyuman ibuku yang sedang menghukumku.

"Jadi—"

Aku masih menunggu harap-harap cemas.

"—kenapa kau seenaknya mencium putra manisku ini tanpa ada sebuah hubungan minimal sepasang kekasih, hm?" tanyanya.

Aku tersenyum canggung, "Tapi, kita sudah ada hubungan kok, bi. Sepasang sahabat. Iya 'kan, hyung?"

Aku tidak salah 'kan? Bibi Jeon tadi mengatakan bahwa aku dan Wonwoo tidak punya hubungan? Lalu persahabatan kami selama ini apa jika bukan sebuah hubungan?

Aku bisa mendengar suara dengusan Bohyuk yang cukup kencang. Mataku melirik sinis kearahnya, mengantisipasi pancingan apa lagi yang akan ia keluarkan.

"Aku tau kau ini bodoh, Mingyu hyung. Tapi aku tidak tau bahwa tingkat kebodohanmu itu jauh lebih memprihatinkan dari yang selama ini kubayangkan," ucapnya sok dramatis.

Sumpit yang sedari tadi aman digenggamanku kini mendarat dengan sempurna dikepala kosong milik Bohyuk, "Enak saja. Aku ini tidak bodoh."

Bocah itu mendelik kearahku, "Kau ini bodoh, hyung. Kau tidak dengar tadi ibuku bilang apa? 'sebuah hubungan minimal sepasang kekasih', kau yang tidak dengar atau memang otakmu itu tidak sampai untuk berpikir?"

"Bohyuk!" tegur Wonwoo.

Wah, apakah aku sedang dibela?

"Jeon Bohyuk, mulutmu—" itu Paman Jeon yang berbicara.

Aku masih menanti dengan sabar aoa yang akan dikatakan oleh Paman Jeon—aku sudah yakin jika beliau pasti akan membelaku daripada anaknya yang tengil itu.

"—kalau menghina jangan setengah-setengah."

Baiklah, bolehkah aku pulang sekarang?

"Diam kalian semua, aku ingin berbicara," Bibi Jeon kembali buka suara.

Suasana kembali hening, akupun kembali menundukkan kepalaku, namun diam-diam aku mencuri pandang kearah Wonwoo, dan mendapati pemuda manis itu tengah menundukkan kepalanya sembari memainkan jemarinya dibawah meja makan.

Tanpa bisa kucegah, tanganku reflek menggenggam tangannya dengan lembut. Bisa kurasakan ia tersentak kaget, dan aku hanya bisa tersenyum kecil ketika ia memandangku bingung.

"Kalian berdua—Mingyu dan Wonie, tidak berpacaran?" tanya Bibi Jeon.

Wonwoo terlihat menggeleng, aku pun ikut menggeleng. Bisa kulihat Bibi Jeon menghela napas, tangannya memijat pelipisnya sementara Papa Jeon mengusap pundaknya—mungkin berusaha untuk meredam amarah Bibi Jeon?

Aku tau kok jika kau ini salah. Maka dari itu—

"Kami saat ini memang tidak berpacaran, bi. Tapi aku sedang berusaha untuk meningkatkan hubungan persahabatan kami. Jadi, maukah bibi memberiku restu untuk membahagiakan Jeon Wonwoo—putra bibi yang paling manis ini?" ucapku sembari mengumbar senyum tampan.

Tanpa sadar aku menggenggam erat tangan yang lebih kecil dariku itu.

Bisa kulihat Bibi Jeon menghela napas, ia memijat pelipisnya, "Sebenarnya aku ingin menolakmu dulu untuk melihat bagaimana perjuanganmu, tapi aku sudah melihat sendiri bagaimana bernapsunya kau pada bibir putraku. Jadi, aku memberikan restu untukmu—hanya saja Mingyu, semua keputusan kembali lagi pada Wonie."

Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum senang dan mengucapkan banyak terima kasih pada Bibi Jeon yang sudah memberiku restu—aku mengabaikan Bohyuk dan Paman Jeon yang sepertinya masih belum bisa menerima keputusan Bibi Jeon.

Tapi—aku tidak peduli. Yang penting aku sudah mengantongi izin dari Nyonya Besar. Untuk selanjutnya aku hanya harus berfokus pada bagaimana cara untuk mendapatkan tetanggaku yang manis ini—Jeon Wonwoo.

Aduh, ibuku sayang, aku jadi tidak sabar ingin segera pulang dan memberikan kabar bahagia ini padamu. Anakmu, Kim Mingyu ini berhasil menjadi anak berbakti yang membawakan menantu idamanmu, ibu!

.-.-.

Selepas makan malam, aku kembali lagi ke kamar Wonwoo—meski aku harus bertengkar dengan Bohyuk dulu, tapi aku tidak peduli. Lagipula aku sedang bosan berada dirumah sendiri dengan keadaan Ayah dan Ibu yang sedang sibuk dengan acara kencan mereka, lagipula besok juga aku libur.

Jadi, aku memutuskan untuk singgah ke kamar Wonwoo, setidaknya aku tidak akan mati kebosanan. Wonwoo memiliki sebuah game console dan juga setumpuk komik dikamarnya, yang sangat kuyakini tidak akan membuatku kebosanan, apalagi jika si pemilik kamarnya mendadak manja padaku.

Jelas aku tidak akan menolak.

"Kenapa kau mengatakan itu didepan Ibu?" itu Wonwoo yang bertanya padaku. Ia baru saja kembali dari acara berganti bajunya dikamar mandi.

Aku yang sedari tadi sibuk dengan ponselku mendongak, dan mendecih pelan ketika mendapati Wonwoo sangatlah manis dan menggoda dalam balutan piyama satin berwarna ungu muda, "Apa? Memang aku mengatakan apa pada bibi?"

Bisa kulihat Wonwoo memutar matanya malas, ia melemparkan boneka rubahnya kearahku, membuat ponselku satu-satunya berciuman dengan lantai kamar Wonwoo—yang tentu saja kutanggapi dengan aku yang berteriak kesal kearahnya.

"Kau mau marah padaku? Berani?" ancamnya. Aku mencebik, tidak adil sekali keadaanku ini.

Kenapa selalu Wonwoo yang memegang kendali atas diriku?

Tunggu—Wonwoo tipe uke 'kan? Tidak mungkin dia seme, apalagi dengan parasnya yang tampan tapi cenderung manis dan badan rampingnya—lebih tepatnya kurus.

"Hyung, kau ini uke 'kan?"

Hening.

Hening.

BLUSH!

WOW.

Apa ini? Kenapa wajah Wonwoo harus memerah lucu seperti itu?

"BUKAN URUSANMU!" teriaknya—dengan wajah yang masih memerah menggemaskan.

Aku mengusap kepalaku yang tadi menjadi korban pukulan sayangnya, diam-diam aku mengumpati Wonwoo yang terlalu ringan tangan, tidak pernah berpikir jika ingin memukulku—dan dia sama sekali tidak pernah mengurangi tenaganya. Tapi, ketika mataku menangkap sosok Wonwoo, aku terkekeh.

Gemas dengan tingkah lucunya yang sekarang tengah menyembunyikan tubuh kurusnya dibalik selimut tebal dengan gambar karakter Eddy.

Jangan heran, meskipun dari penampilannya Wonwoo terlihat seperti seorang berandalan—gangster lebih tepatnya, sebenarnya ia memiliki sisi manis, yang benar-benar manis dan menggemaskan.

Contohnya, yah, seperti yang sedang terjadi sekarang ini.

Tanpa mengucapkan apapun, aku segera naik ke ranjang milik Wonwoo yang tak terlalu luas dan membaringkan tubuhku disamping gundukan selimut itu. Dengan agak kasar, aku menyibak selimut miliknya dan menyusup masuk kedalam—yang tentu saja langsung dihadiahi dengan umpatan dan bonus pukulan dari tangan kurus itu ke dada atau kepalaku.

"Kenapa kau malah masuk ke selimutku? Sana pergi! Pulang! Hush! Hush!" usirnya.

Aku kembali mencebik, tanganku dengan lancang memeluk pinggang rampingnya, bisa kulihat paras Wonwoo hyung dihiasi dengan semburat merah sebelum pemuda manis itu buru-buru menundukkan kepalanya. Uh-oh, sepertinya ada yang sedang malu-malu disini.

"Aku menginap disini saja, hyung. Aku malas pulang ke rumah," ucapku berasalan.

Wonwoo mendongak, sepasang manik indahnya menatapku khawatir. Boleh tidak aku bahagia? Aku tidak tau jika ternyata dikhawatirkan oleh seseorang—lebih tepatnya oleh Jeon Wonwoo membuat dadaku berdegup kencang; seperti popcorn yang meletup-letup.

"Kau adal masalah? Dengan orang tuamu? Atau dengan teman-temanmu yang lain?" tanyanya khawatir.

Aku tersenyum, masalahku justru ada padamu, Jeon Wonwoo—tapi tentu saja aku tak bisa mengatakannya dihadapan Wonwoo begitu saja, walaupun ucapanku saat makan siang tadi cukup frontal. Nyatanya aku belum menyiapkan apapun untuk ini.

Kucubit hidung mancung Wonwoo—saking gemasnya dengan ekspresi khawatir yang begitu polos itu, "Aku tidak ada masalah dengan siapapun. Tenang saja."

Wonwoo masih memandangku tidak yakin—terlihat sekali kalau pemuda manis itu sama sekali tidak mempercayai ucapanku.

Aku mendengus, kukecup kilat hidung mancungnya, "Sudah, jangan mengkhawatirkanku. Aku sungguh baik-baik saja, hyung. Tidurlah. Apa mau kunyanyikan sebuah lagu?"

Gantian Wonwoo yang mendengus, ia langsung beringsut membalikkan tubuhnya hingga memunggungiku, "Tidak butuh, suaramu jelek."

Aku hanya terkekeh mendengarnya. Lagi-lagi tanpa permisi aku mendekap erat tubuhnya, mengecup puncak kepalanya dan mengucapkan selamat tidur—mengabaikan diriku yang bahkan belum berganti pakaian tidur.

Ah, siapa yang peduli. Yang penting malam ini aku akan tidur dengan nyenyak, bermimpi sangat indah dan tidak kedinginan.

.-.-.

Aku mengernyit ketika merasakan goncangan tak manusiawi pada tubuhku, yang hanya kubalas dengan geraman. Sesekali aku ingin bersikap jahat pada Wonwoo—ah salah, daridulu aku sudah sering menjahatinya—dengan mengabaikannya yang berusaha membangunkanku.

Sumpah, aku masih sangat mengantuk. Semalam aku gagal tidur karena tiba-tiba Jeon Wonwoo yang sungguh manis dan menggemaskan itu merubah posisinya menjadi saling berhadapan denganku. Mana bisa aku tidur jika disuguhi wajah seindah Wonwoo yang terlihat polos? Apalagi pemuda manis itu secara tidak sadar mendusel kepadaku—persis seperti seekor kucing yang mencari kehangatan.

"Aish! Susah sekali kerbau satu ini dibangunkan! Cepat bangun, hyung!"

BUAGH!

Aku mengusap kepalaku—yang sialnya menjadi bagian tubuh pertama yang mencium lantai ketika badanku terjatuh dari kasur. Aku mengumpat—dan semakin bersemangat menyerukan sumpah serapah ketika menemukan sosok Bohyuk yang justru menatapku jengkel.

Hei! Seharusnya aku yang menatapnya jengkel! Aku yang menjadi korban dari tingkah tidak sopannya itu. Sialan.

"Oh, sudah berani kau melotot padaku? Mau kucongkel?" ancam bocah itu tidak sopan. Sialan Jeon Bohyuk, kenapa dia ini tidak ada sopan-sopannya padaku? Padahal aku lebih tua darinya, lagipunya tidak bisakah dia membangunkanku dengan sedikit lebih lembut?

Tunggu. Kenapa bukan Wonwoo yang membangunkanku? Semalam aku tidak bermimpi 'kan? Aku tidur seranjang dengannya 'kan?

"Dimana Wonwoo hyung?" tanyaku ketika tak mendapati sosok pemuda kurus nan manis itu.

Kulihat Bohyuk mendecih, "Wonu hyung sudah turun dibawah. Ada temannya yang datang."

Aku mengerutkan dahiku—berpikir, "Siapa? Tumben temannya datang berkunjung."

"Entahlah. Yang pasti bukan Soonyoung hyung atau Junhui hyung. Sebelumnya aku tidak pernah melihatnya main kesini. Mungkin gebetan atau kekasih Wonu hyung? Lagipula dia cukup tampan," ucap Bohyuk tanpa rasa bersalah padaku.

Aku langsung bangkit dari acara duduk-duduk malasku dan bergegas untuk turun kebawah—melihat makhluk kurang ajar mana yang dengan seenaknya menyandang label kekasih dimata Bohyuk.

Namun, sebelum aku sembat membuka pintu kamar, kurasakan tarikan pada kerah kemejaku. Mataku secara otomatis langung mendelik kearah Bohyuk—bocah kurang ajar yang sudah dengan tidak sopannya menahan kerahnya.

"Lepaskan aku. Aku harus memastikan Wonwoo hyung tidak diapa-apakan oleh orang itu."

"Hei bung, dibawah ada ayah dan ibuku. Orang itu tidak mungkin mengapa-apakan Wonu hyung. Kau pikir temannya itu kau? Yang hobi sekali mencium hyungku padahal tidak memiliki hubungan apa-apa," ucapnya.

Aku memutar kedua bola mataku malas, "Aku sedang dalam proses untuk mendapatkannya, dan itu adalah salah satu usahaku untuk mendapatkan hyungmu yang tsundere itu. Sekarang cepat lepaskan aku. Aku harus melihat siapa teman Wonwoo hyung."

"Sebelum kau melakukan itu semua, hyung, alangkah baiknya jika kau mencuci muka atau menggosok gigimu. Sumpah, napasmu bau naga."

Sialan Jeon Bohyuk.

.-.-.

Setelah memastikan bahwa wajahku yang tampan ini sudah segar—serta tidak ada lau napas bau naga, aku langsung bergegas kebawah. Tempat pertama yang kutuju adalah ruang makan, siapa tau mereka tengah sarapan?

Sesampainya disana, aku hanya menemukan Paman Jeon yang sedang sibuk dengan kopinya dan melemparkan gombalan pada Bibi Jeon—oke, aku terkejut ketika mengetahui kebiasaan Paman Jeon yang satu itu.

"Oh, Mingyu. Sudah bangun? Mau sarapan bersama?" tanya Bibi Jeon—lengkap dengan senyum cantiknya kearahku.

Aku mengusap tengkukku canggung, mataku menatap sekitar, berusaha mencari keberadaan Wonwoo.

Seperti menyadari tatapan bingungku, Bibi Jeon tersenyum kecil, "Bohyuk langsung pergi setelah membangunkanmu. Dia ada latihan bola."

What? Aku tidak mencari Bohyuk, untuk apa aku mencari bocah tengil itu. Tidak penting.

"Wonwoo hyung ada dimana, bi?" tanyaku—yang langsung mendapatkan delikan tajam dari Paman Jeon. Aku merinding dibuatnya.

"Oh, Wonie? Dia ada di ruang tamu dengan temannya."

Aku mengucapkan terima kasih dan segera berlalu secepat kilat dari ruang makan—mengabaikan Bibi Jeon yang berteriak padaku untuk sarapan dahulu, yang tentu saja tidak aku gubris, ada sesuatu yang jauh lebih penting dari urusan perut.

Apalagi jika bukan urusan calon pendamping hidupku yang manis dan menggemaskan seperti seekor kucing—eh.

Rahangku rasanya hampir lepas ketika aku menemukan sebuah pemandangan di ruang tamu keluarga Jeon. Sebuah pemandangan yang membuatku sesak.

Sebuah pemandangan dimana Jeon Wonwoo—sahabat manisku, tengah tertawa dengan begitu indahnya, jangan lupakan semburat merah yang menodai pipi mulusnya. Apa itu? Wonwoo tersipu hanya karena tangan pemuda asing itu mengusap rambutnya.

What the fuck.

"Oh, hai, adiknya Wonwoo," sapa sosok pemuda itu padaku.

Apa tadi katanya? Adiknya Wonwoo? Wah, apa dia baru saja mengibarkan bendera perang padaku?

"Mingyu, kau sudah bangun?" itu Wonwoo yang bertanya, sebisa mungkin aku mempertahankan senyum manisku untuk Wonwoo. Jengkel juga dengan pertanyaan, kalau aku belum bangun mana bisa aku berdiri disini dan menyaksikannya tengah bermesraan dengan pemuda mirip unta itu?

"Seperti yang kau lihat, hyung," ucapku—masih dengan senyum manis.

Wonwoo menggumam tidak jelas, tapi beberapa menit kemudian ia melambaikan tangannya, menyuruhku untuk mendekatinya.

Aku pun menuruti perintahnya, aku berdiri disampingnya dan merangkul pinggang ramping Wonwoo, jangan lupakan wajahku yang tengah tersenyum sombong, "Ada apa, hyung?"

"Perkenalkan, dia Choi Seungcheol hyung, dia sunbaeku di kampus," ucapnya.

Kulihat pemuda unta bernama Choi Seungcheol itu mengulurkan tangannya kearahku, "Choi Seungcheol, calon kekasih Wonwoo."

Wah.

WAH.

Mulai berani makhluk satu ini.

Aku membalas uluran tangannya, sedikit meremas kencang tangannya, jangan lupakan senyum palsu yang masih awet diwajah tampanku, "Kim Mingyu, calon suami Jeon—soon—to—be Kim Wonwoo."

BUK!

Aku meringis ketika merasakan sikutan di perutku. Siapa lagi pelakunya jika bukan Jeon Wonwoo-ku yang manis tapi beringas ini?

"Kupikir kau adiknya," balas si Choi unta ini sembari membalas senyum palsuku.

"Wah, kupikir tadinya kau hanya tukang loper koran yang sedang meminta tip," balasku tak kalah sadis.

"EKHEM!" itu Wonwoo yang berdehem. Ia mendelik kearahku, mau tak mau aku melepaskan jabat tangan kami—tapi tatapan membunuhku masih setia kutujukan padanya.

Diam-diam aku mengernyit heran ketika mendapati penampilan Wonwoo yang begitu manis hari ini. Ia mengenakan kemeja tipis berwarna putih yang dipadukan dengan sweater oversize berwarna baby pink dan denim hitam, tak ketinggalan rambutnya yang ditata sedemikian rupa hingga menutupi dahinya dan terlihat fluffy.

Astaga, manis sekali calon istriku. Aku jadi ingin mengunyahnya.

"Kau mau kemana, hyung? Rapi sekali?" tanyaku penasaran. Seingatku semalam Wonwoo mengatakan jika hari ini ia tidak memiliki kelas apapun.

Tunggu—tunggu!

"Dia akan berkencan denganku," ucap si Choi unta tanpa kutanya.

Tapi, beberapa menit kemudian si Choi unta itu mendesis kesakitan sembari mengusap tulang keringnya—ha! Rasakan. Memangnya enak ditendang oleh Wonwoo yang sekarang sedang—

What? Merona?

"Hyung—kau—kau tidak sungguhan—kau?"

Wonwoo mengecup kilat pipiku dan mengumbar senyum manis, "Kami pergi dulu, Ming! Sampai bertemu nanti!"

"Tapi—tapi—hyung—"

Dan kucingku—pemuda manis itu pergi meninggalkanku diruang tamu keluarga Jeon dengan tampang paling bodoh yang kumiliki.

Apakah aku sedang diselingkuhi secara terang-terangan?

Oh Tuhan, aku baru saja mendeklarasikan bahwa aku benar-benar jatuh pada Jeon Wonwoo.

Kenapa sekarang jadinya aku sudah seperti pemeran utama laki-laki yang ditinggal pemeran wanitanya selingkuh?

Astaga.

.

.

To be Continued.

(pertama, saya mau minta maaf karena sudah mangkrak dari ff ini. duh udah berapa bulan nih saya hiatus? Hehe.

Btw, terima kasih untuk Rizka729dan RizkaFadillah11 yang sampai PM saya menanyakan kelanjutan ff ini. hehe maaf membuat kalian—serta pembaca yang lainnya menunggu!

Ahaha. Selamat menikmati chapter ini! seperti biasa, saya ucapkan terima kasih pada para pembaca yang sudah menyempatkan waktunya untuk membaca dan mereview. Kritik dan Saran selalu diterima!

Terima kasih )