Naru cuma mau main kapal-kapalan!
.
.
.
Naruto milik Masashi Kishimoto
Kapal Kertas Banjir [SN] milik Kvinnalmaz
.
Dont be plagiarist!
.
Chapter 1
(Harapan Naruto)
.
Hujan turun mengguyur bumi, menggepung ke segala penjuru lengkap dengan pasukan andalan –angin kencang, halilintar, kilat menyambar, dan tetek bengeknya–, membuat genangan air di depan rumah bercat oranye lembut semakin naik.
Beda dengan Bunda yang kentar-kentir mirip orang lahiran, anak semata wayangnya malah kegirangan. Lari ke sana-sini, sambil menabur cabai setan nyolong dari kulkas, dan berteriak kesetanan, "ujan, ujan, ujanlah yang deras, nanti Naru kasih cabe pedes!"
Bunda menggeleng pasrah, kebiasaan buruk Naruto –menghabiskan kertas buat kapal-kapalan dan menyebar cabai merah di segala penjuru rumah– rupanya mulai kambuh. Bukannya pelit atau apa, hanya saja, kalau hujan terus, bisa-bisa keluarga kecilnya kena krisis moneter ringan. Bisnis sampingan mereka memang dari suplay pasir dan material bangunan, tapi kalau hujan truk mereka mana bisa mengangkut pasir dari sungai, yang ada sungainya meluap siaga satu.
"Aduh, Naru sayangku, anak Bunda satu-satunya. Jangan doa seperti itu, ya. Cukup hujan saja. Jangan sampai banjir. asihan Kyuubi-nya tidak bisa makan kalau sampai banjir."
Bunda mengusap rambut mataharinya lembut. Membuat Naruto kecil menghentikan aksi brutalnya –membuat kapal-kapalan sebanyak mungkin. Naru menatap Bunda bingung. Mata lebarnya mengerjap tak paham.
Well, asal kau tahu. Naru-chan tidak sebodoh itu. Walaupun kecil gini, Naru juga tahu kalau Kyuu-chan tak bakal bisa menitikkan air mata. Jelas, Naruto cukup sadar kalau Kyuubi yang Bunda maksud tidak lain tidak bukan adalah truk kesayangan keluarga mereka.
'Haduh, Bunda payah. Gak bisa bohongin Naru, bleh,' balita itu memeletkan lidahnya, dalam hati tentu saja. 'Lihat, Bunda. Sekarang giliran Naru!'
Naruto memulai aksinya. Menatap bundanya dengan bibir mengerut dalam. "Kyuu-chan bakal lapar kalau nggak makan, Nda," kemudian berkaca-kaca, "Kyuu-chan bisa meninggal dunia kalau nggak makan, Nda. Ntar Naru main sama siapa kalau nggak ada Kyuu-chan, hiks."
Bunda Kushina mendesah pelan, "Naru-chan doanya biar hujannya cepat reda, ya. Abis reda, nanti kita kasih makan Kyuubi-nya. Kalo Naru-chan berdoa biar deres, Kyuu-chan bisa sakit. Hayo, Naru mau Kyuubi meninggal?" ucapan penuh dengan sandiwara yang langsung dibalas jerit tangisan yang makin kencang dari Naruto. Naruto menggeleng kuat-kuat, "Hueee... Naru gak mau Kyuubi mati! Gak mau, Nda! Hueee..."
Nah loh, dasar Bunda Kushina, malah bikin suasana jadi runyam saja.
Makanya, Bunda, jangan sering bohongin bocah.
"Aduduh, Naruto cakep. Berhenti nangis, ya. Iya, iya, Kyuu gak bakal mati. Udahan nangisnya, ntar hujannya tambah deres, duh."
Bunda kepanikan.
Tapi bukannya tenang, Naruto kecil malah makin garang.
Fix, bunda kalah. 1 : 0.
Kalau endingnya malah seperti ini, hanya satu cara yang dirasa paling pas menghentikan raungan anakan macan macam Naruto.
Lagi-lagi Bunda mendesah pasrah –memang selalu kalah kalau menyangkut anak semata wayangnya–
"Iya deh, Naruto-chan boleh main kapal-kapalan, tapi nangisnya dipending dulu–"
"–udah gak nangis kok. Ehehe. Makasih, Bunda. Bye-bye~"
Nah kan. Dibilang apa.
Keringat besar imajiner menggantung di pelipis ibu muda 20 tahunan itu. Bibir berpoles lipgloss tipis itu mengerucut, tipikal ngambek. Percuma membohongi Naruto. Anak itu sepertinya kebal dengan segala tipu daya bundanya. Atau malah bundanya yang gampang ditipu anak sendiri?
Ah, entahlah.
Bunda berjongkok, memungut cabe merah setan yang bercecer akibat ulah anaknya. Bibir mengerut gemas itu kini berganti dengan senyuman tulus dengan aura khas keibuan menguar darinya. Naruto pasti akan tumbuh menjadi anak yang cerdas.
.
Di sisi lain Naruto menyeringai puas. Menyusun barisan kapal kertas warna-warni siap tempur, lalu mendorongnya ke aliran air got berwarna cokelat keruh yang lumayan deras.
"Pergilah, kapal-kapal kerajaan! Bawalah pulang jodohku ke istana," serunya mengangkat tangan gagah, menirukan pangeran di salah satu adegan cerita fiksi favoritnya.
Naruto kecil berdiri dari jongkoknya, menggenggam erat pegangan payung yang melindunginya dari hujaman air hujan. Tangannya kembali terangkat ke dagu, menyipitkan mata melihat kepergian utusan kerajaannya.
Ia tersenyum simpul membayangkan gambaran dirinya menggandeng penuh kasih gadis mungil dalam imajinasinya. Princess anggun berparas ayu berambut hitam panjang bergelombang dengan gaun indah kerajaan yang mengembang. Haruno Sakura gebetan Naruto dari TK kelas A mungkin kalah cantik dengan princess idamannya.
"Kira-kira princess cantik seperti apa yang akan menjadi istri Pangeran Naru nantinya? Ah, pasti princess Naru lebih cantik daripada Princess Lyana di buku cerita!"
Lagi-lagi Naruto kecil terkikik.
Yeah, kita lihat nanti secantik apakah Princess idamanmu, Naru-chan sayang.
.
.
.
-To Be Continue-
A/N :
Mantra "udano sing deres, tak kai lombok pedes" adalah kata yang dipercaya bisa membuat hujan bertambah deras. (jawa: hujanlah yang deras, aku kasih cabe pedas)
Aku juga gak tau asalnya dari mana, tapi kata itu kayaknya sudah mendarah daging di kalangan anak-anak masyarakat Kendal, Jawa Tengah. Gak tau kalau daerah lain. Well, aku sering pake mantra itu pas kecil kalau lagi males ke sekolah sambil tebar cabe setan di langit-langit rumah , biar ujan tambah deres terus sekolahnya kebanjiran :v #malahcurcol
Cukup sekian basa-basinya.
Ku ucapkan terima kasih sebesar-besarnya buat kalian yang mau meluangkan waktu untuk membaca fict SasuNaru pertama saya. Terima kasih banyak. Love you~
See you next chapter,
Chapter 2 : Harapan Sasuke
.
Kendal, 22 Maret 2018
Kvinnalmaz
