[ISSHU]
.
.
Sanyo.
"... Kakak pakai menghilangkap peta yang diberi Dent segala, sih. Kita jadi tersesat begini," Eureka belum berhenti mengomel. Gadis kecil itu memang memuji kakaknya dalam hal menyimpan data-data penting dilengkapi dengan password atau kode rumit. Tapi untuk menjaga secarik kertas berisi alamat sang pujaan saja tidak bisa. Citron bilang kertas itu raib entah ke mana, sementara Eureka yakin kalau kertas itu terselip di antara barang-barang di rumah.
"Ya ... mau bagaimana lagi," dahi Citron mengerut. "Tapi aku ingat tanggalnya, kok. Undangannya memang hari ini."
"Tapi nggak ingat lokasinya. Sama aja bohong," Eureka mendengus. Emosinya makin menjadi ketika perut berbunyi. Duh, matahari sedang terik-teriknya, dua jam habis demi berputar-putar mencari gym Sanyo, mana banyak orang lalu-lalang, bikin pandangan menyempit saja.
"Ahaha, kalau begitu kita makan, yuk?" Citron juga merasakan hal yang sama. Untung saja tepat di hadapan mereka sudah ada sebuah kafe.
"Ooh, maaf, hari ini kafe kami tutup," ucap sang pelayan dengan sumringah, sambil beberes papan menu yang biasa diletakkan di depan pintu masuk.
"Eeh?" kakak-beradik itu melotot. Kaki serasa sudah tak bertulang, panas-panasan, kelaparan, begitu menemukan tempat makan malah tutup. Apes.
"Maaf, ya. Biasanya jam segini memang masih buka, tapi khusus hari ini, kafe ditutup karena ada tamu penting yang akan datang," sahut si pelayan, seraya menggaruk pelan rambut sewarna nyala apinya. "Kalian dari luar negeri, ya? Logat kalian berbeda."
"Ehehe, tapi masih bisa dimengerti, kan?" Eureka menyahut. Sepertinya mood gadis itu sudah kembali ceria begitu melihat pemuda tampan. "Kami dari Miare, Kalos. Harusnya, sih kami ke kota ini untuk mengunjungi seseorang, tapi kakak malah menghilangkan alamatnya. Kakak payah."
"Ih, Eureka," Citron mencibir.
"Kalos...? Miare—EH? KAMU PACAR ADIKKU?" satu jari menuding di depan hidung Citron. "PACAR ADIKKU KAYAK GIN—AAW!
Satu jitakan. Si rambut merah sudah tewas dengan benjol panas bersarang di kepala. Citron dan Eureka melongo. Sudah ada satu pemuda tampan lagi, dengan alur rambut yang jatuh menyerupai aliran air.
"Maafkan adikku, ya," dia tersenyum hangat sekali, kontras dengan tangan yang tengah menyeret adiknya tanpa rasa manusiawi. "Sepertinya kalianlah tamu penting yang kami tunggu. Ayo, silakan masuk."
Masih melongo.
Sebenarnya ada apa, sih?
Welcome.
"Jadi begitu, ya? Hahaha, yang penting kalian sudah sampai di sini," Dent tertawa, sementara Citron ingin sekali menjambak adiknya. (Tapi karena cerita Eureka benar, jambak-menjambak batal dilakukan. Lagipula mana Citron tega melakukannya?)
Sekarang, Citron dan Eureka sudah duduk di salah satu meja kafe. Seluruh lampu kafe diredupkan. Hanya lampu-lampu berwarna lembut yang menyala. Taplak mejanya juga sangat berbeda. Terlihat lebih mewah. Bunga mawar sebagai hiasan meja pun tampak sangat segar. Samar-samar tercium wangi aroma terapi yang terpasang persis di atas perapian, dekat dengan pendingin udara.
Rasanya siapapun akan betah berlama-lama di sini.
"Kalau begitu duduk tenanglah. Pelayanan khusus kami dijamin tidak mengecewakan," pemuda dengan dasi kupu-kupu biru di lehernya itu mengedip, sebelum mengamit tangan Eureka.
Tiga kakak beradik itu sudah berjejer rapi, lalu berlutut. Suara mereka bertiga bagai perpaduan yang sampurna. "May I serve, you?" diakhiri dengan ciuman di punggung tangan.
Rona merah sudah bertengger di pipi Eureka. Ada pemuda tampan yang mencium tangannya. Ada (bukan satu, tapi tiga) butler ganteng yang berlutut dan siap melayaninya. Rasanya seperti menjelma menjadi putri-putri bangsawan abad pertengahan.
Sementara Citron mati-matian menyembunyikan wajah merah padamnya. Malu bercampur salah tingkah. Merasa sudah salah tempat.
Saudara.
"Citron, Eureka. Kenalkan, ini kakak-kakakku," ucap Dent, seraya menghidangkan segelas teh—harusnya sampanye, atau minuman alkohol berkualitas tinggi, tapi karena yang datang masih di bawah umur, minumannya diganti teh.
"Yang dasinya berwarna merah ini, kakakku yang tengah. Dia ahli dalam tipe api," Pod tersenyum mantap, seraya mengacungkan jempolnya. "Dan biasanya yang bertanggung jawab masak camilan di sini, terutama yang goreng-goreng dan bakar-bakaran."
"Yang berpita biru adalah kakak tertuaku, Corn. Dia ahli di tipe air. Dia bertanggung jawab meracik segala minuman di kafe ini," Corn mengangguk sopan.
"Kalau ini kakakku, Citron," Eureka tampak tak mau kalah. "Dia ahli dalam tipe listrik dan ahli membetulkan barang-barang elektronik. Dia gym leader dari Kota Miare, tapi sempat terusir dari gym sendiri, tapi tenang saja, bisa diambil balik, kok. Lalu, Kakak juga pandai memasak dan bersih-bersih. Oh iya, kakakku kuat. Dari sekian ratus penemuan gagalnya, dia pantang menyerah."
"... Eureka, kamu diam aja, deh," Citron merasa ingin sembunyi di kolong meja.
Tamu Penting.
"HEH MANA SI DENT KELUAR KAGAK LOE?"
"... tuh cewek dateng lagi, noh," Pod menyungging bibir.
"Dia nggak bosan apa, ya, teriak-teriak mulu di depan kafe kita? Padahal langsung masuk aja beres, kan?" Corn geleng-geleng kepala. "Pod, keluar, dong. Urus dia. Siapa tau jodoh."
"Aminin, nih!" dengus Pod, sembari berlalu keluar.
Benar saja. Sudah ada gadis sommeliere dengan seragam merah. Rambut mengembangnya tampak berantakan diterpa angin. Keningnya berkerut. Semangatnya tampak bagai kobaran api.
"Hari ini aku datang untuk menantang Dent lagi!" suaranya menggelegar.
"Wah ... sori. Kalo adik gue sih lagi nggak bisa ditemui," Pod mengibaskan tangannya, bikin Cabernet naik darah. Soalnya gaya Pod ngeselin. "Pacarnya lagi mampir ke sini, jadi si Dent lagi sibuk. Maap, ye?"
"Eh ... gitu, ya?," Cabernet manyun, hendak berbalik pulang. Tapi, sedetik kemudian, dia tersentak dan cepat-cepat berbalik menghadap Pod.
"APA? PACAR? HEEEEEEEEH? HEEEEEEEEEEEE?"
Tantangan.
"PERMISII!"
Ada gadis sommeliere yang gebrak kafe, langsung gasak-gusuk jalan menuju meja Dent dan Citron. "Kamu yang namanya Citron? Tamu pentingnya Dent?"
"I-iya. Ada apakah?"
Dent hanya bisa melongo, belum selesai mencerna apa yang sedang terjadi. Eureka mangap. Corn geleng-geleng kepala, sementara Pod sedang elus-elus jambul tampannya seraya berlinang airmata.
"Informasi soal pelanggan kita kok bisa bocor dari kamu, sih?" Corn menyenggol Pod.
"Habis ... lihat, masa jambulku dijambak-jambak sama tuh cewek?" sahut Pod ketus, masih merapikan rambutnya.
Telunjuk Cabernet mengarah tepat di depan hidung Citron. "Aku menantangmu untuk pertarungan Pokemon!"
Ada petir cantik lewat di kediaman tiga saudara itu.
Taruhan.
"Waaah, dia pakai Mebukijika. Ini pertamakalinya aku lihat Mebukijika!" Eureka berbinar-binar. Pertarungan antara Cabernet dan Citron sebentar lagi akan dimulai.
"Sebenarnya Cabernet itu maunya apa, sih?" Dent di sini, hanya bisa mengerutkan kening.
"Sekarang ada dua orang yang memperebutkan Dent. Wara-wiri, kenapa adik gue laku banget, siiih? Ampas gitu padahal dalemnya. Iri gue, iriiiiiii!" racau Pod sambil minta elus-elus pada Corn. Mereka bertiga cowok laku sebenernya, hanya saja belum ada yang terjerat jadi pacar.
"Aah, kakak-kakak sekalian bagaimana? Kurasa cewek itu kuat sekali," Eureka memandang Cabernet tanpa tatapan ragu satu mili pun. "Kakak mungkin akan sedikit sulit melawannya."
"Nggak," tiga bersaudara itu sudah berjejer dan memasang wajah skeptis. "Kami bertiga bertaruh padamu, Eureka. Demi kafe ini dan seluruh isinya, Cabernet melemparkan dirinya ke kandang singa."
"Aku memilihmu, Rentonar!"
LITERAL BENERAN SINGAAAA!
Tembak.
Dent dan Citron kini tengah duduk berdua. Eureka sudah berlalu bersama Corn; gadis cilik itu bilang ingin lihat cara Corn meramu minuman. Cabernet juga sudah lama pulang (dengan kekalahan telak)
Kini, Dent tengah mengaduk-aduk teh bagiannya, masih mengingat nasehat Corn beberapa menit lalu. Dent tak akan menyangka bahwa dia akan diceramahi di dapur saat mengambil minuman tadi.
/"Dent, sampai kapan kamu mau terkurung dalam bayang-bayang Satoshi? Lepaskan itu. Tatap Citron. Hanya dia. Tembak dia. Katakan perasaanmu dan jadikan Citron milikmu." /
Sementara Citron juga masih bimbang dengan saran Eureka menit-menit lalu.
/"Kakak itu sudah beruntung, tahu. Dent itu keren. Coba, mana ada sejarahnya maniak sains kayak kakak punya pacar pegawai Butler cafe? Nggak ada, kecuali di komik-komik cewek. Karena itu jangan lepaskan Dent, Kak! Tembak dia. Kakak harus berani. Kapan kakak mau berubah kalau main aman terus? Kakak Suka Dent, kan?" /
Padahal yang pacar siapa, sih? Belum ada yang nembak.
Keduanya membuang napas pasrah. Sama-sama kepingin, tapi malu.
"Dent!"
"Citron!"
Keduanya tersentak, lalu terkekeh pelan. "Dent duluan, deh."
"Baiklah. Begini ... Citron ... aku ... seharusnya mengatakan ini. Jadi," Dent menghela napas lagi, mencoba mengumpulkan keberanian. "Aku ..."
Wait, ada helai merah gerak-gerak di kolong meja, membuat Dent dan Citron gagal fokus. Melirik ke bawah, tampak seseorang yang sepertinya berniat menguping.
" ... "
"Adaw!" ada jitakan mampir di kepala si pita merah, hingga akhirnya ia diseret keluar dari kolong meja.
"Kalian santai saja, jangan pedulikan Pod. Dent, berjuanglah," ucap Corn diiringi senyum menawan. Dia menyeret Pod (lagi) tanpa tedeng aling-aling, memasuki dapur.
" ... "
Tadi kita mau ngomong apa, ya?
End(less) *maunya*
www benernya masih banyak banget headcanon soal dua sejoli ini xDD Tapi yang bisa kutulis hanya segini duluuu ;;;A;;; duh, sebenernya Dent dan abang-abangnya ini asik banget dibikin lawak xD butler kece dalemnya ampas-#dilibas—wait, Corn nggak ampas. Dia paling normal IMO hahahaha.
Mungkin aku bakalan nyampah pair ini di sini ;;v;; jadi ... yoroshiku XDD
