Dent x Citron AU Heaadcanon

(Jika seandainya mereka ada di dunia para riajuu)

.

.

Pertemuan.

"Keju dan steak bisa berjodoh dengan wine, kok."

Di sudut Café de la Poste, mata biru terang menangkap sosok jangkung tersenyum menawan.

Coretan kertas rencana ulangtahun kejutan untuk papa diserahkan pada adik perempuannya. Tubuh pendek membuatnya mendongak, memandang sang sumber suara.

"Mau kubantu merancang menunya?" Di kafe itu, seorang ahli mekanik terbaik Paris bertemu dengan seorang calon sommelier terdepan.


"Bahasa Inggrismu bagus sekali, ya? Lancar, baik Amerika maupun Bristish," kalimat pujian membuat genggaman pada obeng kecil melonggar. Ada sirat malu-malu di bawah kacamata si pirang.

"Aku juga bisa sedikit Italia," ujarnya, lalu cepat-cepat menambahkan. "Karena ayahku orang Italia. Jadi aku sering diajari sedikit-sedikit Bahasa Italia sewaktu kecil."

"Wah, aku bisa banyak belajar darimu," Citron merasa wajahnya memanas. Tidak pernah ada pujian yang membuatnya nyaman.

"Da-daripada itu ... Dent sendiri, bagaimana? Bukankah New York sangat jauh dari Paris?"

"Yah ... di NY sana, aku juga punya kafe. Kakak-kakakku menyuruh untuk memperdalam ilmuku menjadi Sommelier di sini," dia menjawab ringan. Seolah tanpa beban. Namun hatinya masih bergejolak; ... dan menyembuhkan patah hati.


"Masakan restoran berkelas bintang Empat!" Limone, sang ayahanda sang penemu berseru senang ketika potongan pertama Raclette mengangsur ke mulut dan dikunyah pelan-pelan. "Kentang rebusnya terasa lebih lembut. Seperti melelh di mulut. Iya, kan Eureka?"

"Iyaaaa! Bukan cuma rasa, tapi tampilannya juga mewah!"

Citron mendengus. Di awal musim dingin, dia juga pernah mencoba membuat Raclette, tapi reaksi ayah dan adiknya tidak selebay ini. Dia mencuil sedikit kentang yang telah tersimbah keju, lalu mengulumnya. Sial, memang enak.

"Dent, menginap—eh, tinggal saja di sini sekalian," sorak Eureka di sela-sela kunyahannya. "Aku bisa makan enak setiap hari!"

"Memang masakanku nggak enak?" tuding Citron. Eureka menjulurkan lidah.

"Menurutku masakanmu enak juga, kok, Citron," Dent menyahut, terkekeh pelan. "Ada rasa "khas rumah" di dalam masakanmu."

"Eh...?" Citron gagal paham.


Kucing

Dent hampir mati berdiri, pasalnya kucing kesayangan Citron tiba-tiba melompat mendekatinya.

"Luxray cuma mau main, kok," Eureka menggendong kucing hitam itu dengan girang, lalu membawanya ke pangkuan sang sommelier.

"To-tolong jauhkan makhluk ini dariku, Eureka. Kumohon."

Eureka memiringkan kepala sesaat, sebelum akhirnya setuju untuk mengajak sang kucing bermain di ruangan lain. Bukan apa-apa, tapi wajah Dent sudah hampir putih.


Satoshi.

Pemuda Jepang itu masih bercokol di hati Dent, bahkan sampai saat ini. Sebelumya, Dent mengira bahwa dia akan mendapatkan Satoshi dengan mudah. Dia bekerja di kafe keluarganya, dengan dua kakak yang tidak kalah rupawan pula. Gadis-gadis setiap harinya mengantri memasuki kafe. Masa mendapatkan seorang Satoshi saja tidak bisa?

"Shigeruuu!" yang dipanggil Satoshi melambaikan tangan. Satoshi menghampiri dengan riang, meninggalkan Dent begitu saja.

Saat itu Dent tahu, bahwa hati Satoshi pun sudah ada yang memiliki. Akan sangat lucu, bukan, kalau yang ada di hadapannya kini adalah Citron, tapi pikirannya masih melayang pada Satoshi.


Satoshi (2)

Citron tahu, bahwa Dent sudah sejak lama menyukai pemuda itu. Satoshi riang, penuh semangat dan pantang menyerah. Bukan sosok yang akan bisa dikalahkan oleh seorang kutu buku seperti Citron.

"Aku dan Satoshi ironisnya berteman baik," Citron mengelus Luxray. Gerakan tangannya begitu gemulai dan rapuh. Benar.

Jika lawannya Satoshi, Citron akan dengan senang hati untuk mundur teratur.


Move-on.

Hari Bastille di Paris ditutup dengan letupan kembang api warna-warni sebagai sebelumnya masih terpaku pada bunga api yang menari di angkasa, hingga ia merasa jemarinya tengah diamit oleh seseorang.

"Dent?"

Tatapan lembut dari bola mata sewarna pistascio terbias cahaya kembang api, seakan mampu membuat Citron meleleh. "Bantu aku move-on, ya?" "Apa?"


Jenius

Dent tidak pernah bisa membayangkan bagaimana otak dan tubuh seorang jenius bekerja dengan sinkronasi tingkat tinggi.

Karena sedikit gula baik untuk kinerja otak, dia sudah sering mengantarkan kudapan manis untuk Citron di malam hari. Hitung-hitung bahan bakar otaknya untuk menyelesaikan penemuan baru.

Saat menginjak kamar (yang bagi Dent lebih menyerupai bengkel), Dent berhasil dibuat berdecak kagum. Citron tengah menekuni paper sekaligus data-data di laptop secara bersamaan. Tangan kirinya lincah menari pada keyboard komputer, sementara tangan kanannya menulisi cepat banyak rumus di atas kertas.


Saudara

"Denger-denger loe punya adik perempuan, ya?"Pod, kakak kedua Dent langsung menodong Citron. Alih-alih peduli pada sang kakak tertua yang kepayahan membawa koper di belakang sana. "Gue denger dari Dent."

"Pod! Bantuin sini!" seru Corn. Padahal sebagian besar bawaan ini milik Pod. Tapi dia malah kabur duluan. Sesaat Corn menyesal menyetujui usul Pod untuk mengunjungi adik bungsu mereka.

"Uhm ... iya, ada, sih," Citron menggaruk-garuk pipi dengan telunjuk. "Namanya Eureka."

"Waah, lucu namanya. Kenalin ke gue dong. Kita barter adek gitu," untung Corn jauh, kalau dekat, jambul api Pod sudah dijambak tanpa perikemanusiaan.

"Ya?" Citron semakin mengernyit heran, tapi akhirnya memanggil Eureka juga. Ketika sang gadis kecil keluar, Pod mendadak kena serangan jantung.

"Halooo? Ah, ini kakaknya Dent, ya? Salam kenal, aku Eureka!"

Yalord ... gue hampir jadi pedofil. Pod mengusap dada, mengurungkan niat memacari saudari Citron dan memilih tetap bertahan dengan kejombloannya.


Pekerjaan Rumah.

"Eureka selalu begitu," Citron mendumel, selagi mencuci piring. "Kalau sudah mengantuk, dia bisa tidur di mana saja. Tanpa peduli masuk angin."

Dent tertawa pelan. Dia membantu mengeringkan piring, untuk kemudian diletakkan kembali ke tempatnya semula. "Tapi kau jadi mirip ibu-ibu, loh, cerewetnya. Orang yang tidak mengenalmu akan mengira kau itu kutu buku dan maniak sains selamanya."

Citron mendengus. "Sudah tentu, kan," gerakan spons melambat. "Ibu kami meninggal tepat setelah melahirkan Eureka. Sebagai kakak, aku harus menjaganya juga. Apalagi dia perempuan. Selain cerewet ini-itu, aku tidak tahu harus bagaimana lagi."

Dent terdiam, lalu menunduk tanda rasa bersalah. Sesaat kemudian, jemarinya mengusap kepala CItron. Pelan.


"Tumben, makan siang di sini," Dent mengangsurkan buku menu pada dua kakak-adik pirang. Pojok Café de la Poste hari ini lumayan sepi.

Setelah enjemput Eureka dari sekolah, Citron sekalian mengajak adiknya makan siang, mumpung pulang cepat.

"Rasanya beda, ya, melihat Eureka pakai seragam sekolah," ucap Dent. "Kamu sendiri masih pakai pakaian biasa. Hari ini sekolahmu libur?" matanya memerhatikan Citron yang masih memakai kaus biasa.

"Kakak, sih, nggak sekolah," seru Eureka. "Usia delapan tahun sudah lulus universitas. Mau ke sekolah mana lagi?"

Dent seolah ingin berlutut di hadapan pemilik otak jenius dihadapannya. Benar-benar ilmuwan terbaik Paris.