Disclaimer : Masashi Kishimoto

Warning : story gaje, typo melambai,jauh dari EYD,bahasa tidak sesuai KBBI deeleel

Don't like don't read!

Story by : UchiraNeki

Chapter 2

Sesuatu yang tak pernah luput dari manusia adalah sifat ke'sok tahuan mereka tentang apapun. Mereka selalu beranggapan benar dan akan selalu benar. Menganggap apa yang mereka lihat dan apa yang mereka rasa itu adalah faktanya. Merasa mengetahui,padahal -dibalik yang terlihat pasti ada suatu bayangan.

Kata, apa itu? sebuah rangkaian huruf untuk penyampaian ungkapan?atau sebuah media pengucapan? Bukankah Manusia menggunakan Kata kata untuk mewakili sesuatu? Oh,semua tidak sesederhana itu. Terkadang kata bukan hanya sekedar sesuatu yang terdengar atau terucap -mereka memiliki arti tersendiri. Yang bahkan Nyatanya manusia seringkali tak mengetahui suatu makna -kata- yang di ucapkannya -bagi orang lain. Mereka hanya mengucapkanya dengan fikiran tumpul,seluas pengetahuannya yang -oh tidak ada apa apanya.

Salah satu Bangku terdepan barisan ketiga itu nampak kosong. Sedangkan -Sakura gadis yang duduk di samping itu nampak tak memikirkannya dengan bola mata -bodoamat. Dan ia duduk sendiri (lagi).

"Hey jika kau ingin tertawa ,tertawa saja" ucap gadis bermakota merah di sela tawa dan riuk nya ruang kelas itu

"Eh? iya" jawab gadis pink itu menoleh sepintas tersenyum,kemudian menatap lurus papan putih di depannya kembali dan diam kembali,seakan menikmati itu.

Gadis merah itu berbalik mengangkat bahu pada yang lainnya

"Ohayou.. Aku Kurenai,aku mengajar matematika di kelas ini." ucap guru berlensa merah menyala itu.

"Ohayou tensei." jawab penghuni kelas itu serempak.

Bibir tipis itu mengulas senyum, kemudian mulai menggoreskan tinta pada papan putih di depannya. Beberapa angka dan huruf variable nampak sebagai jejak setelah tangannya berhenti bergerak.

"Ne kerjakan soal in" ucap Kurenai menunjuk salah satu tulisan tanganya yang berisikan soal.

Manusia dengan sarkatik menyimpulkan sesuatu dengan cara mereka -hanya melihatnya. Oh betapa hebat manusia menyatakan ini benar dan itu salah. Bahkan mereka berbicara seolah mengetahui segalanya. Bagaimana mungkin mereka yang hanya menjadi pemeran mengetahui isi kepala sang sutradara? Oh ini lelucon.

Nampak gadis soft pink-Sakura beranjak dari tempat yang ia duduki menuju bangku guru yang berada beberapa langkah di depannya.

"Kau sudah mengerjakannya?" tanya Kurenai,di tatapnya gadis itu- Sakura ia yang mengangguk mantap tanpa membalas tatapan wanita berlensa merah itu. Buku tulis miliknyapun berpindah tangan. Sakura berbalik berjalan menuju bangku nya kembali. Berbagai pasang mata menatap ke arahnya,dan yang di tatap hanya memandang acuh tak acuh pada sekelilingnya itu sebelum akhirnya mendudukan bangku nya kembali.

"Hey Sakura, bolehkah aku bertanya?" suara Ino yang duduk di bangku kedua terdepan itu menatap gadis di depannya, merasa terpanggil Sakura pun menoleh

"Kenapa hasil akhirnya 11 sedangkan di sini terdapat (3 -√2)² ?" tanya ino pada sakura yang lebih dulu selsai mengerjakan tugasnya.

"3²=9 dan -√2 x -√2=2 jawab nya masih menatap lembaran kertas putih yang telah terisi oleh tulisan tangan sang pemilik.

"Jadi 9+2=11" sambung Ino yang tanggap dengan ucapan Sakura tadi.

"Ya benar. Umm aku suka otakmu" ucap sakura nampak berfikir.

"Trimakasih. Kau juga Saku aku suka otakmu" jawabnya tersenyum. Entah dari mana hangat itu nampak menjalar pada keduanya.

Kata Menilai,tak lekas luput pula dari manusia. Apa itu? Suatu cara memberi tanggapan atas apa yang mereka lihat? Membandingkan sesuatu dengan lainya? Atau media pembuktian mana yang lebih baik atau mana yang benar? Manusia dengan arogannya melable sesuatu tanpa melihat background yang membangunnya. Memberikan penilaian pada manusia lain yang -faktanya mereka tak lebih baik dari yang mereka nilai.

Mereka tertawa melepas apa yang terbeban di dalamnya. Seolah mengekspresikan semua -tidak apa apa. Menutup hitam kelam hati itu,yang tanpa mereka harus berpura pura pun sebenarnya itu menonjol melalui sifat mereka. Nyatanya banyak yang -seperti mereka bahkan hampir semua. Berbalik dari itu,diam seolah emas dari sebagian mereka berusaha mengekspresikan tidak -terjadi apa apa. Apa bedanya padahal? Pada intinya mereka memang hanya berpura pura. Oh Manusia memang munafik!

"Kau mau ke kantin bersama?" ucap ino.

"Tentu" Mata aquamare itu bertemu dengan emelard nampak suatu yang entahlah sulit untuk di deskripsikan.

Bell kebesaran konohagekuen bergema di seluruh sekolah yang di ketahui memiliki tingkatan setingkat Taman Kanak kanak sampai Tingkat Tinggi itu. Dari yang berdiam di taman,lapangan luas dan hampir semuanya berada di kantin berhamburan menuju kelas masing masing.

"Hey kura. Ck,kura kura?" suara nyaring gadis bercepol itu.

Hening, tak terdengar suara yang menyahut atau menjawab,bahkan menoleh pun tak ada. Sorot lensa emerald itu menggelap sarat. Tanpa maksud tanpa di ketahui.

"Sakura?" Jelas,keras,penuh penekanan.

"Aku?" gadis pink -Sakura memutar sedikit kepalanya pada sosok yang menyebut namanya itu -Tenten.

"Aku sudah memanggilmu berulang ulang"

"Gomen? Tapi itu bukan namaku"

Sorot lensa coklat itu bertemu dengan emerald .

"Namamu itu susah tau" ucapnya tertawa agak canggung.

"Sakura" ucap nya menjelaskan.

"Hemm iya.."

Dua duanya terkalut keheningan,sementara pasang mata lain hanya menatap tanpa niat ikut mengangkat pembicaraan atau apalah, Tatapan berbeda arti yang sama sekali tak di ketahui oleh siapapun. Tak di ketahui atau tak di sadari eh?.

"Konichiwa :) aku Tsunade,aku akan mengajar sejarah di sini. Mohon bantuannya." ucap wanita berambut putih paruh baya namun nampak muda seraya tersenyum.

"Konichiwa Tsensei. Mohon bantuannya juga" semua murid menjawab.

"Untuk hari ini,aku ingin kalian mencari materi tentang peninggalan sejarah. Ya sebuah makalah" ucapnya membenarkan kacamata yang bertengger di batang idungnya itu. Sedangkan para siswa/i mengangguk mengerti.

"Eh?" refleks Sakura menoleh saat mengetahui seseorang duduk di sapingnya di susul raut bingung terpasang di wajahnya.

Sedangkan yang di tatap tersenyum ramah mengulurkan salah satu tangannya.

"Mei terumi"

"Ne? Haruno sakura" membalas jabatan tangan yang diketahui bernama Mei itu.

Sakura nampaknya menyadari bangku samping itu tak berpenghuni tadi. Nampak tiga kerutan di dahi lebarnya itu.

"Hey dimana temari?" gadis berambut pink itu memulai pembicaraan yang sempat hening itu.

"Di belakang" jemari nya menyisakan jari telunjuk mengarah ke salah satu bangku di belakang refleks emerald itu mengikuti menoleh ke arah yang di maksud dan hanya ber'oh' ria setelahnya.

"Sakura,kau mau mengerjakan tugas dari Tsunade-tensei bersamaku?"

TBC

Arigotou mau repot repot baca tulisan kelibet libet saya? Keep read dan Dimohon reviewnya :))

Big thanks for Rama Dewanagari dan Triakira :)

#UchiraNeki