I DON'T NEED A MAN

.

.

.

.

KAISOO FANFICTION

.

.

.

BY KAISOOLOVERS

.

.

.

ORIGINAL IDEAS. DONT PLAGIAT. DLDR. GS. EXO. KAISOO. MAINSTREAM STORY

.

.

.

HAPPY READING

.

.

.

ENJOY

.

.

.

.

Aku melirik jam dinding rumahku berkali-kali. Sekarang sudah menunjukkan pukul 7 dan eonnie ku masih belum pulang. Ia tak akan pulang malam tanpa mengabariku terlebih dahulu.

Aku mengambil ponselku dan mulai mencari kontak eonnieku. Nada dering tunggu terus aku dengar. Tumben sekali eonnieku lama mengangkat panggilanku. Aku terus menunggu hingga panggilanku tersambung.

"Eonnie..." panggilku.

Aku menunggu lama tapi tak ada respon.

"Eonnie...kau masih disana?" tanyaku mulai khawatir.

"Hallo"

Aku tersentak. Oh Tuhan! Ada apa ini? Kenapa yang mengangkat bukan eonnieku? Suara bass itu terdengar rendah dan datar. Aku berharap eonnieku tak mengalami kejadian buruk.

"Siapa ini?" tanyaku.

Aku berusaha tak terdengar gugup.

"Kau mencari kakakmu?" tanya orang disebrang sana.

"Hei! Aku yang bertanya duluan!" sentakku.

Entah siapa yang mengangkat panggilan ini tapi aku yakin jika dia orang yang sangat menyebalkan.

"Aku rekan kerja kakakmu" jawabnya tenang.

"Lalu dimana eonnieku?" tanyaku tak sabar.

"Dia sedang istirahat"

Aku mengerutkan keningku. Eonnieku tak pernah mengijinkan orang lain mengotak-atik ponselnya. Lalu kenapa sampai pria ini mengangkat panggilannya? Dan dia bilang eonnieku sedang istirahat. Apa maksudnya?

Aku melebarkan mataku saat sepintas kesimpulan singkat menerjang otakku. Oh astaga! Jangan bilang...

"Apa yang kau lakukan pada eonnieku?!" bentakku.

"Kau tak perlu takut. Kakakmu baik-baik saja"

Aku kesal. Setelah mengatakan itu, lelaki tadi menutup panggilanku. Yang benar saja! Dia berani-beraninya menutup teleponku!

Jongin kembali meletakkan ponsel Kyungsoo diatas tumpukan baju. Ia menoleh kearah Chanyeol yang menatapnya horor.

"Kau tau, Kim. Kau benar-benar tak punya sopan santun" geram Chanyeol.

"Kau sangat mengenalku, Park" balas Jongin enteng.

"Kau melanggar privasi orang kau tau itu!" seru Chanyeol.

"Diamlah" bentak Jongin.

Chanyeol mendengus dan kembali memeriksa Kyungsoo. Ia memastikan bahwa semua peralatan Kyungsoo terpasang dan berfungsi dengan baik.

Chanyeol melirik jam tangannya. Ia harus kembali.

"Aku pergi dulu. Jangan berbuat macam-macam" desis Chanyeol.

Jongin memutar bola matanya malas.

Chanyeol bergerak kearah pintu dan berhenti.

"Kapan kau kembali?" tanya Chanyeol tanpa menoleh.

"Nanti" jawab Jongin singkat.

Chanyeol meninggalkan Jongin diruang rawat Kyungsoo. Jongin duduk disofa dan mulai mengotak-atik gadgetnya. Ia mengecek pekerjaannya melalui email.

Tak selang berapa lama seseorang datang memasuki ruang rawat Kyungsoo. Jongin mendongak dan melihat orang itu tampak panik. Jongin berdiri. Orang itu masuk yang diikuti beberapa orang dibelakangnya.

"Bujangnim!"

Jongin melihat dua orang berteriak bersamaan dan langsung menghambur kearah ranjang Kyungsoo. Sedangkan orang yang Jongin liat pertama kali datang itu mendekatinya.

"Terima kasih kebaikan anda, Tuan Kim. Saya bersyukur Kyungsoo tidak terluka"

"Tak apa, Tuan Lee"

Tuan Lee atau bos Kyungsoo itu menjabat tangan Jongin dengan sedikit mengguncangnya.

"Aku akan mengusut masalah ini. Anda tak perlu khawatir akan kelanjutan proyek ini" ucap pak Lee.

"Saya tak akan pernah meragukan kinerja dari perusahaan anda, Tuan Lee. Saya sangat terkejut anda memiliki pekerja yang mempunyai dedikasi tinggi dalam proyek ini" puji Jongin.

Jongin sangat jarang memuji rekan kerjanya. Ia lebih memilih komentar netral dalam berbicara. Tapi kali ini berbeda.

"Terima kasih banyak"

"Lee sajangnim! Do bujangnim sudah sadar" teriak Minji.

Pak Lee langsung bergegas menuju keranjang Kyungsoo. Semua orang disana lega melihat Kyungsoo yang sudah siuman. Jongin hanya mengamati dari kejauhan.

"Syukurlah bujangnim sudah sadar" haru pak Hong.

"Kau berlebihan!" cibir Lee sajang.

"Sajangnim tak tau bagaimana kejadian itu terjadi. Aku hampir kehilangan nafasku melihat bujangnim terjatuh disamping serakan kayu" protes pak Hong.

"Kalian membuat bujangnim sakit kepala" omel Minji yang melihat Kyungsoo sadar dan langsung memegang kepalanya.

Aku terbangun dari tidur panjangku. Rasa yang pertama kali datang adalah rasa sakit luar biasa disekujur tubuhku. Bahkan aku merasakan kakiku mati rasa.

Aku pegangi kepalaku yang sedikit berdenyut. Samar-samar aku mendengar beberapa orang sedang berargumen. Mataku masih terlalu sulit untuk membiasakan diri dengan cahaya dari luar.

Beberapa kali aku harus berkedip dan menyipitkan mataku. Aku mencoba melihat siapa saja yang berada disekitarku. Saat mataku mulai bisa dengan jelas melihat, disana ada wajah Lee sajang, pak Hong dan Minji. Mereka tersenyum lega melihatku.

Aku tolehkan kepalaku kearah lain dan disana aku melihat Jongin menatapku dalam diam dengan tangan yang dimasukkan kedama saku celananya. Pandangan kami sempat bertemu. Tatapannya tak terbaca. Aku tak yakin tapi selama mata kami beradu pandang tak sedetikpun ia berkedip.

Aku kembali menoleh kearah Minji. Matanya berair dan siap tumpah kapan saja. Selama ia bekerja denganku, aku sangat tau wataknya. Gadis ini sangat sensitif dengan perasaannya.

"Kalian berlebihan" ucapku serak.

Minji membuat ekspresi kesal diwajahnya. Benar gadis yang ekspresif. Sedangkan Yang sajang mendelik mendengar ucapanku.

"Kau ini hampir saja mati! Bisa-bisanya berkata seperti itu kepada kami" gerutu Lee sajang.

"Itu hanya sebuah insiden kecil. Mungkin jika saya terlambat bergerak kemungkinan akan terjadi kecelakaan kerja. Dan jika itu sampai terjadi saya pastikan Kim Corp akan menuntut perusahaan dan semua dana kita akan ditarik. Sajangnim bisa banyangkan berapa banyak dokumen yang harus saya urus?" omelku.

Minji dan pak Hong tertawa kecil melihat ekspresi Lee sajang. Beliau seperti anak kecil yang kena omel.

"Saya tak akan menuntut tanpa bukti yang jelas"

Aku dan yang lainnya langsung menoleh kearah Jongin. Aku hampir lupa jika disana masih ada dia. Aku meruntuki mulutku yang banyak bicara.

Jongin mendekatiku dengan wajah datarnya. Bahkan Lee Sajang tak bisa berkata apa-apa.

"Anda tenang saja, nona Do. Saya akan mengurus kejadian ini" ucap Jongin.

Perkataannya menyakiti harga diriku.

"Semua masih tanggung jawab Lee Construction. Jadi semua dibawah kendali saya. Saya bisa menyelesaikannya tanpa anda turun tangan. Saya bisa meng-handle-nya" balasku.

Minji dan pak Hong menatap horor ke arahku. Mungkin kalimatku sedikit berani tapi masa bodoh. Ini masih dalam lingkup kerjaku.

"Apa yang bisa anda lakukan sekarang mengingat kondisi anda saat ini sedang tak baik?" tantang Jongin.

Ternyata namja ini benar-benar menabuh genderang perang.

"Tenang saja. Anda tak perlu mengkhawatirkan kondisi saya. Saya jamin proyek ini akan selesai tepat waktu tanpa ada kabar yang akan merugikan anda"

Jongin tersenyum remeh kearahku. Aku benci wajah itu. Jika dia bukan orang yang menelongku akan kupastikan mukanya terdapat lebam karena ulahku.

"Saya ucapkan terima kasih untuk kebaikan anda menolong saya. Saya akan mengganti semua biaya yang anda keluarkan untuk perawatan saya. Dan sebagai gantinya tolong jangan terlalu repot membantu saya. Saya tau apa yang harus saya lakukan dalam kondisi terparah sekalipun" ucapku tegas.

"Kyungsoo-ya" lirih Lee sajang memperingatkan.

"Bila anda ingin berterima kasih cukup ucapkan terima kasih" gumam Jongin dingin.

"Kebaikan anda akan saya ingat. Tolong setelah ini kita bisa kembali menjadi partner bisnis dan bekerja profesional. Saya tak mau nantinya kejadian ini diungkit kembali"

"Saya tak biasa berbaik hati kepada rekan bisnis saya. Perkataan anda membuat saya sadar jika apa yang saya lakukan salah. Terima kasih sudah menyadarkan saya"

Jongin keluar dari ruang rawatku. Suasana kikuk masih menyelimuti kamar ini. Minji dan pak Hong hanya diam tak berani berkata apa-apa. Mereka sesekali melirik kearah Lee Sajang yang berdiri mematung.

"Mmm...Bujangnim. Aku sudah menghubungi adikmu. Mungkin sebentar lagi dia akan sampai" ucap Minji memecah keheningan.

"Terima kasih, Minji"

Aku hampir saja melupakan keberadaan adikku. Dia pasti panik karena aku belum mengabarinya. Aku harap ia tak akan terlalu histeris melihat kondisiku.

"Bisakah kalian berdua meninggalkan kami?" pinta Lee Sajang yang aku indikasikan sebuah perintah.

Pak Hong dan Minji mengangguk lalu memninggalkan kami. Lee sajang menatapku lama. Aku sedikit risih akan tatapannya. Terkadang Lee sajang bisa terlihat mengerikan.

"Kau dan segala harga dirimu"

Ucapan Lee sajang yang terdengar penuh tekanan itu membuatku bergidik. Aku tau pasti ini tak akan selesai dalam waktu singkat.

"Tak bisakah kau menghargai bantuan orang lain?"

"Kau melukai perasaan orang itu hanya dengan ucapanmu. Seberapa bagus kau menyusun kata agar terdengar tak menyinggung perasaannya tapi tetap saja intinya sama"

Lee sajang menatapku tajam. Aku menunduk sebagai respon. Aku rasa kata-kataku kelewatan.

"Aku tau kau dan latar belakangmu, Kyungsoo. Aku tau betapa sulitnya dirimu. Tapi kau terlalu keras pada dirimu sendiri"

Aku memainkan jari-jari tanganku. Lee Sajang menghela nafasnya kasar.

"Aku akan membereskan kejadian ini. Pulihkan dirimu" putus Lee Sajang.

Aku mendongak saat suara langkah menjauhi ranjangku. Aku melihat Lee sajang keluar kamar rawatku. Aku tau aku bodoh. Dan kebodohanku ini berdampak pada orang lain.

Aku menghela nafas. Bayangan masa laluku tak dapat aku enyahkan. Mereka seakan-akan melekat pada otakku dan selalu bergelayut dalam pikiranku.

Lamunanku buyar saat melihat adikku datang. Wajahnya tampak letih dan panik. Aku benar-benar menjadi eonnie yang buruk.

"Eonnie..."

"Kemarilah"

Aku merentangkan tanganku dan menyambut adikku dalam pelukanku. Adikku adalah satu-satunya yang aku punya. Hanya dia alasanku bertahan. Dan akulah satu-satunya orang yang ia gantungkan.

Aku mengelus rambut adikku. Aroma strawberry tercium olehku. Adikku sangat menyukai strawberry lebih dari apapun.

"Kau tau aku sangat panik tadi" ceritanya.

"Mian. Setelah selesai pemeriksaan aku jatuh tertidur karena efek obat" sesalku.

"Aku meneleponmu dan aku terkejut ternyata yang mengangkat seorang namja. Aku panik kau diapa-apakan olehnya"

Aku terkesikap. Aku tak pernah tau hal ini. Aku melepaskan pelukan kami dan mulai mencari dimana ponselku berada. Adikku menatapku bingung.

"Ada apa?" tanya adikku.

"Kau lihat ponselku, Baek?"

Aku masih celingkan menemukan ponselku. Baekhyun -adikku mulai menyusuri ruang rawatku. Ia mengambil sesuatu dan menganggkatnya tinggi-tinggi. Aku mendesah lega.

Baekhyun memberikan ponselku dan aku mulai mengeceknya. Didaftar panggilan terdapat nama kontak adikku.

"Siapa yang mengangkat teleponmu?" tanyaku.

"Entahlah. Yang jelas seorang namja. Dia sama sekali tak menyebutkan namanya" jelas Baekhyun mengingat.

"Dan kau tau, dia membuatku menyimpulkan jika dia telah melakukan sesuatu padamu"

Aku mengernyit.

"Apa maksudmu?" tuntutku.

"Saat aku tanya eonnie dimana dia hanya menjawab kau sedang istirahat dan baik-baik saja. Bagaimana aku tidak berpikiran yang macam-macam" gerutu Baekhyun.

Aku mengusap wajahku kasar. Astaga...ini semua benar-benar keterlaluan. Sekarang aku tau siapa kiranya yang mengangkat teleponku.

Baekhyun menyuapi Kyungsoo dengan sarapan paginya. Hari ini Baekhyun sengaja tak masuk sekolah demi menemani eonnienya. Sempat terjadi beda pendapat antar kakak beradik itu. Akhirnya Kyungsoo mengalah dan membiarkan Baekhyun merawatnya.

Pintu kamar rawat Kyungsoo terbuka. Baekhyun dan Kyungsoo langsung menoleh. Disana dokter Park sudah berdiri dengan senyuman khasnya. Seorang suster mendampingi dokter Park.

"Anda sudah sarapan? Baguslah. Setelah ini anda bisa minum obat" ucap dokter Park.

"Kapan saya bisa pulang?" tanya Kyungsoo.

"Mungkin dalam waktu beberapa hari ini. Saya masih harus memantau kaki anda"

"Apa anda yang mengangkat telepon eonnieku kemarin?" sela Baekhyun.

Kyungsoo memukul pelan tangan Baekhyun. Baekhyun memandang Kyungsoo dan berkata 'wae?' tanpa bersuara.

Dokter Park terkekeh melihat interaksi kakak adik itu.

"Bukan saya tapi teman saya. Maafkan kelancangannya" balas dokter Park.

Baekhyun menggidikkan bahunya acuh.

"Ah...bagaimana jika kita lepaskan ke formalan ini. Jujur saja saya tak terlalu suka bahasa yang kaku" tawar dokter Park.

"Saya tak terlalu tau tapi rasanya sedikit aneh" ucap Kyungsoo canggung.

"Santai saja, nona Do. Kau akan terbiasa"

"Lalu bisakah aku memanggilmu 'neo'?" tantang Baekhyun.

"Ya! Apa-apaan kau! Hormati yang lebih tua!" kesal Kyungsoo melihat tingkah adiknya.

"Dia yang menawarkannya. Aku hanya mencoba membiasakan diri" kilah Baekhyun.

"Jaga sikapmu, Do Baekhyun!" desis Kyungsoo.

Baekhyun memberengut. Ia membuang mukanya tanpa mau melihat ke dokter itu.

Dokter Park tertawa geli melihat tingkah Baekhyun. Pagi-pagi begini ia sudah mendapat hiburan.

"Dokter Park..."

"Panggil saja Chanyeol. Itu lebih bersahabat" potong Chanyeol.

"Ah..ne...Chanyeol-ssi apakah aku masih harus melakukan pemeriksaan lagi?"

"Untuk saat ini tidak. Mungkin sebelum pulang aku harus memeriksamu kembali"

"Bisakah aku keluar dalam waktu tiga hari?"

"Kita lihat hari ini. Akan ku kabari jika memang hasilnya lebih baik"

Kyungsoo mengangguk.

"Baiklah. Jangan lupa minum obatnya. Aku akan kembali untuk pengecekan nanti sore"

Chanyeol membungkuk singkat yang dibalas bungkukan kecil oleh Kyungsoo. Chanyeol menoleh kearah Baekhyun yang masih dalam mode ngambeknya.

"Sampai nanti, Baekhyun" ucap Chanyeol.

Baekhyun menatap horor Chanyeol. Dokter itu sangat tak sopan langsung manggil nama belakangnya. Baekhyun akan mengingat namanya dan membalasnya suatu saat nanti.

Pintu ruang rawat Kyungsoo terbuka dan menampilkan Minji yang tersenyum lebar.

"Minji eonnie!" teriak Baekhyun senang dan menghampiri Minji.

"Hai, Baekie. Kau pasti lapar. Aku membawakanmu makanan" sapa Minji dan mengangkat bungkusan yang ia bawa ditangan kanannya.

Baekhyun langsung mengambil bungkusan itu sambil bergumam terima kasih. Secepat kilat Baekhyun langsung duduk disofa dan menikmati sarapannya.

"Kau juga membawakan 'makanan'ku?" sindir Kyungsoo.

Kyungsoo melihat Minji membawa tas ditangan kirinya. Ia tau apa itu. Minji hanya tersenyum kecil. Bosnya sangat tau.

"Lee Sajangnim memintaku membawanya. Beliau tak ingin anda bosan katanya" cengir Minji.

Kyungsoo memutar bola matanya malas. Bosnya selalu seenaknya saja. Dia tak pernah kenal libur atau sakit. Beliau pasti akan memberikan pekerjaan walau dalam keadaan apapun. Kyungsoo sudah terbiasa.

Minji menyerahkan tas yang dibawanya dan meletakkan dimeja lipat yang tersedia diranjang rawat Kyungsoo. Kyungsoo membuka tas itu dan mengeluarkan laptop serta dokumen yang ada didalam.

"Bagaimana perkembangan kasus kemarin?" tanya Kyungsoo yang fokus pada dokumennya.

"Lee Sajangnim yang menanganinya. Saya kurang tau. Tapi tadi saya melihat perwakilan Kim Corp datang ke kantor"

Kyungsoo mendongak menatap Minji.

"Perwakilan itu langsung disambut Lee Sajangnim dan masuk ke ruangannya"

Kyungsoo mengangguk dan kembali berkutat dengan dokumennya.

"Kapan kau akan kembali ke kantor?"

"Bujangnim mengusirku?"

Kyungsoo menghela nafasnya. Suara Minji yang terdengar kecewa membuatnya merasa bersalah.

"Aku membutuhkanmu untuk stand by disana. Jika terjadi sesuatu kau bisa langsung lapor padaku. Bukan maksud untuk mengusirmu" jelas Kyungsoo sabar.

Minji tersenyum cerah.

"Ah...Babo, Minji" ucap Minji dengan menjulurkan lidahnya bersalah.

"Jika begitu saya permisi"

"Hati-hati"

"Baeki...eonnie pulang dulu ya"

Baekhyun mengangguk dan melambaikan tangannya membalas lambaian tanga Minji. Minji keluar dari ruang rawat Kyungsoo.

"Eonnie memang berniat mengusirnya kan?" sindir Baekhyun.

Kyungsoo menoleh dan menatap adiknya yang sedang memainkan ponselnya. Rupanya Baekhyun sudah menyelesaikan sarapannya sedari tadi.

"Secara tersirat iya" balas Kyungsoo acuh.

Jongin melepas kacamata bacanya dan memijit pangkal hidungnya. Berjam-jam dia duduk dan mengamati berkas-berkas membuatnya sedikit pusing. Ia berdiri dan berjalan menuju jendela ruangannya.

Jongin menatap langit hitam diluar sana. Kemerlap lampu dimalam hari menyapa bagian bawah langit. Cuaca memang sedang cerah-cerahnya walaupun malam. Seakan mendukung semua orang yang ingin keluar dimalam hari.

Biasanya Jongin akan pergi club untuk sekedar minum atau bersenang-senang namun kali ini ia merasa malas dan tidak mood untuk pergi kesana. Jongin menyisir rambutnya kebelakang menggunakan sebelah tangannya. Sepertinya ia harus segera pulang dan istirahat.

Pintu ruangan Jongin dibuka dan ditutup kasar. Jongin membalik badannya dan melihat teman jangkungnya berjalan kearahnya dengan bahagia.

"Hai, dude!" sapa Chanyeol.

"Kau tak pergi ke club?" tanya Chanyeol melanjutkan.

Jongin tak menjawab memilih kembali ke meja kerjanya. Ia dudukkan diri dan bersandar.

"Bagaimana keadaan wanita itu?" tanya Jongin to the point.

"Ouch...kau melukai hatiku kawan. Seharusnya kau membalas sapaanku dan menanyakan kabarku terlebih dahulu" ucap Chanyeol pura-pura sedih dan memegangi dadanya.

Jongin hanya menatap datar Chanyeol.

"Seharusnya kau berbasa-basi dulu" gerutu Chanyeol yang diacuhkan.

"Jadi bagaimana?" tanya Jongin lagi.

"Kenapa kau tak menanyakannya langsung?" sebal Chanyeol.

Jongin masih menatap Chanyeol. Tatapannya kini mengintimidasi mengindikasikan dia sedang tak ingin meladeni omong kosong Chanyeol.

"Dia baik, okay? Dia masih rutin kontrol ke tempatku" jawab Chanyeol pada akhirnya.

"Aku tak tau kau sedang bermain 'hard to get' dengan gadis itu atau bagaimana. Tapi ini sudah 2 bulan semenjak kalian bertemu dan kau masih tak menunjukkan tanda-tanda mendekatinya? You idiot!" cerocos Chanyeol.

"Untuk apa aku mendekatinya?"

"Seriously? Kau bahkan selalu menanyakan keadaannya setiap bertemu denganku!" geram Chanyeol.

"Hanya sekedar menanyakan keadaan tak berarti apa-apa, Park" dengus Jongin.

"Aku mengenalmu dengan baik. Kau tak akan menanyakan segala sesuatu tentang gadis itu jika kau tak tertarik dengannya"

"Ada yang berbeda dari gadis itu"

Jongin ragu mengatakannya. Ia masih tak yakin.

"Nah! Kau mengakuinya!" seru Chanyeol heboh.

Jongin mendecih. Ia tak berkata jika ia tertarik dengan gadis itu tapi temannya menyimpulkan lain.

"Ah...aku beri satu info. Lusa dia akan ketempatku lagi untuk melepas gipsnya"

Jongin terdiam. Ia tak tau apa yang harus ia lakukan mendapatkan informasi itu. Tapi ada sesuatu yang terlintas dalam benaknya. Jongin menyeringai.

14.05.17

Aku kembali. Makasih dukungan kalian semua. Aku akan sebisa mungkin update ini cepet tapi ga janji juga ya.

Untuk gaya penulisanku agak berbeda sekarang. Aku biasanya lebih suka pake author pov tapi sekarang aku mau coba ngembangin tulisanku dengan ga terlalu banyak author pov. Aku terima kritik dan saran kalian. Itu sangat membangun sekali. Semoga kalian masih enjoy2 aja dengan gaya penulisan yang sekarang.

Gomawo~~~

REVIEW JUSEYO~~~~~