I DON'T NEED A MAN
KAISOO FANFICTION
BY KAISOOLOVERS
ORIGINAL IDEAS. DONT PLAGIAT. DLDR. GS. EXO. KAISOO. MAINSTREAM STORY
HAPPY READING
ENJOY
Aku mulai menyiapkan diriku hari ini. Setelah lebih dari 2 bulan aku bekerja dirumah, akhirnya aku bisa melepaskan belenggu dikakiku dan bergerak bebas lagi.
Aku sudah menelepon bosku dan memberitahunya jika aku akan datang agak siang setelah melepas gipsku. Minji akan menjemputku sekaligus mengantarku.
Kulirik jam tanganku. Ternyata aku sudah menghabiskan waktu agak lama untuk berdandan. Aku terlampau senang hingga lupa waktu.
Aku mengambil tasku dan melihat sekali lagi penampilanku. Aku sudah menyiapkan sepatu yang akan aku kenakan. Flat shoes merupakan pilihan yang bagus mengingat aku baru saja sembuh. Aku tak mau lagi harus terjebak didalam rumah karena kecerobohanku.
Aku mengecek ponselku dan ada pesan dari Minji jika ia sudah ada dibawah. Aku sedikit mempercepat gerakanku yang masih terbatas.
Minji yang melihatku langsung membantuku masuk kedalam mobil. Kami langsung melesat ke rumah sakit.
"Bujangnim terlihat senang sekali" goda Minji.
"Kau tak tau bagaimana rasanya dipenjara selama 2 bulan penuh!" gerutuku.
Minji tertawa.
"Bujangnim hanya diam diapartemen bukan dipenjara"
"Kau tau sendiri jika aku tak suka berdiam diri berjam-jam"
Minji mengangguk mengiyakan.
Sesampainya di rumah sakit. Aku dan Minji langsung menuju ruang dokter Park. Setiap minggu aku harus rajin kontrol agar tau perkembangan kakiku.
Minji mendudukanku dibangku tunggu dan pergi kearah meja suster. Ia harus memastikan apakah dokter Park sedang tak ada tamu.
Minji kembali setelah beberapa menit. Ia membantuku berdiri. Sepertinya dokter Park sedang tidak sibuk.
Aku mengetuk pintu dokter Park sedangkan Minji memutar knob pintu dan mendorongnya. Kami berdua masuk dan terkejut ternyata ada orang lain diruangan dokter Park.
"Oh...Kyungsoo-ssi. Masuklah"
Dokter Park melambai kearahku sedangkan tamunya masih duduk santai membelakangi kami.
Aku dan Minji masuk dengan kikuk. Jujur saja aku lebih memilih menunggu diluar hingga tamunya pergi daripada ikut masuk seperti ini.
Sang tamu memutar tubuhnya mengahapad kami. Aku langsung terkejut saat tau siapa tamu dokter Park. Aku langsung berhenti melangkah dan membuat Minji sedikit bingung.
"Sebaiknya kami menunggu diluar, Chanyeol-ssi" ucapku tak enak.
Aku memberi kode kepada Minji untuk berbalik meninggalkan ruangan dokter Park. Untung Minji langsung cepat tanggap dan membawaku keluar. Tapi sebuah suara menginterupsi langkahku.
"Tak perlu menunggu diluar. Aku yang akan pergi"
Aku menoleh dan orang itu berdiri sambil mengancingkan jasnya. Minji menatapku bingung. Sepertinya ia bingung harus bagaimana.
"Aku pergi dulu" ucap pria itu kepada Chanyeol.
Ia berjalan melewatiku tapi tak sedikitpun ia melirikku. Wajahnya datar seperti biasanya. Aku tak terlalu ambil pusing dan meminta Minji membantuku duduk.
"Jadi kau siap untuk melepas 'borgol'mu?" tanya Chanyeol menekan kata borgol.
Aku tersenyum singkat.
"Aku senang akhirnya Bujangnim bebas dari penjara" timpal Minji.
Chanyeol dan Minji sangat suka bermain kiasan dengan keadaanku. Mereka mempunyai selera humor yang sama. Aku terkadang merasa pusing bila didekat mereka terlalu lama.
"Baiklah kita mulai saja"
Chanyeol menuntunku kearah kasur rawat. Ia membantuku duduk diatas kasur. Chanyeol sempat mengecek pergelangan kakiku terlebih dahulu. Ia melontarkan beberapa candaan yang dibalas oleh Minji. Aku hanya sesekali tersenyum menanggapi ocehan mereka.
"Nah...sekarang kaki mungil tuan putri sudah kembali!" seru Chanyeol.
"Terima kasih, Chanyeol-ssi" gumamku.
"Kau tentunya membawa pasangan sepatunya kan, cinderella?" tanyanya terkekeh.
Aku mengangguk.
"Jika begitu tugasku sudah selesai. Jika kau mengalami nyeri tolong segera cek. Dan ingat jangan memakai heels selama 3 bulan!" nasehat Chanyeol.
"Ne. Gamshahamnida" balasku.
"Aku akan kesepian setelah ini. Tak ada pasien cantik lagi yang berkunjung kesini" sedih Chanyeol dibuat-buat.
Aku baru pertama kali mempunyai kenalan yang sangat hyperaktif selain adikku. Bedanya adikku akan menunjukkan ke hyperannya didepanku sedangkan Chanyeol kesiapa saja. Sifat supelnya membuat ia bisa berbaur dengan siapa saja.
"Bagaimana kabar Baekhyun?" tanya Chanyeol.
"Dokter Park menyukai Baekhyun?" goda Minji.
Chanyeol hanya tersenyum lebar menunjukkan deretan giginya. Aku tau jika Chanyeol menunjukkan ketertarikan terhadap Baekhyun. Hanya saja Baekhyun sangat jual mahal menghadapi Chanyeol. Mungkin faktor perbedaan umur yang cukup jauh membuat Baekhyun tak terlalu tertarik.
"Baekhyun baik" balasku singkat.
"Jika begitu kami permisi. Terima kasih bantuannya selama ini, Chanyeol-ssi"
Aku berdiri diikuti Minji lalu menjabat tangan Chanyeol.
"Aku senang punya pasien cantik sepertimu, Kyungsoo-ssi" ucap Chanyeol sambil mengedipkan matanya.
Aku tersenyum menanggapinya. Chanyeol beralih ke Minji dan membalas jabat tangannya.
"Aku yakin anda kecewa karena bukan Baekhyun yang datang menemani bujangnim" goda Minji.
Chanyeol tertawa. Ia mengantarkan kami hingga keluar ruang prakteknya. Aku dan Minji membungkuk singkat sebelum pergi. Kami terkejut saat ada orang yang menghalangi langkah kami.
Aku mendongak dan mendapati seorang Kim Jongin berdiri dengan angkuhnya.
"Oh...Kenapa kau masih disini?" tanya Chanyeol dibelakang kami.
"Aku masih punya urusan denganmu" balas Jongin.
Jongin memperhatikanku dari atas hingga bawah. Ia seakan-akan meneliti penampilanku lalu pandangannya jatuh pada kakiku.
"Sudah sembuh rupanya" ucap Jongin.
Aku mengangkat sebelah alisku. Namja ini sangat sulit ditebak.
"Terima kasih bantuannya" ucapku tulus.
Seperti ucapannya dulu aku hanya mengucapkan terima kasih. Aku terlalu malas berdebat dengan orang seperti Kim Jongin.
"Permisi"
Aku menarik tangan Minji. Aku harus segera pergi dari sini.
Aku merasakan tanganku dicekal. Aku berbalik dan melihat Jongin mencengkram tanganku tanpa melihat kearahku. Aku melepaskan tanganku dari Minji dan mencoba melepaskan tangan Jongin ditanganku.
"Tolong lepaskan!" desisku.
Entah apa yang dipikirkannya saat ini. Aku hanya ingin segera pergi dari sini. Pertama kali bertemu dengan Jongin aku merasakan ada hal yang aneh dari pria ini. Dan alarmku mengatakan untuk menjaga jarak dengannya.
Jongin menyentakkan tubuhku hingga berada dihadapannya. Ia menatapku datar tanpa ada ekspresi khusus. Aku semakin dibuat geram dengan tingkahnya. Tapi hanya dalam sebuah gerakan membuat semuanya semakin kacau.
God!! Dia menciumku tepat dibibir! Bahkan aku tak sanggup bergerak atau membaca gerakannya tadi. Secepat kilat bibirnya menubruk bibirku. Aku sempat mendengar Minji terpekik kaget. Dan aku pastikan jika setiap orang yang disana menatap kami.
Plak
Secepat bibirnya menyentuhku secepat itu tanganku menyentuh pipinya. Namja ini sungguh brengsek. Berani-beraninya ia menciumku. Nafasku memburu karena amarah. Aku tak akan pernah memaafkan lelaki ini. Ia melihat kearahku dengan tampang tanpa rasa bersalah. Bahkan aku melihat ia menyunggingkan senyumannya. Brengsek!
"Saya tidak akan meminta maaf apa yang saya lakukan ke anda. Dan kedepannya saya harap tidak bertemu dengan anda diluar masalah bisnis. Saya tak menyangka anda serendah ini!" geramku.
"Saya juga tak akan meminta maaf. Bahkan saya sangat menikmatinya" ucapnya dengan seringaian.
Tanpa membalas perkataannya aku langsung pergi. Firasatku benar jika berdekatan dengan orang itu hal buruk akan terjadi. Aku mendengar Minji memanggilku berkali-kali tapi aku hiraukan.
Jongin duduk santai dikursi depan meja Chanyeol yang biasanya diduduki pasien untuk konsultasi. Chanyeol sedari menatap penuh selidik ke Jongin. Ia masih mempertanyakan kedatangan temannya ini.
"Kau gila" celetuk Chanyeol.
"I am"
Chanyeol menyandarkan tubuhnya kekursi dengan mata yang masih menelisik kearah Jongin. Sahabatnya itu masih memasang wajah polosnya seperti tidak terjadi apa-apa.
"Kenapa kau menciumnya?"
Jongin mengangkat kedua alisnya.
"Apa aku tak boleh mencium seorang wanita?" tanya Jongin balik sedikit tersinggung.
"Jika wanita itu hanya sekedar jalangmu aku tak akan menanyakannya tapi yang kau cium adalah seorang wanita karir yang aku yakin bukan wanita gampangan"
"Entahlah hanya ingin"
"WHAT!!!"
Chanyeol memekik keras mendengar jawaban dari Jongin yang kelewat santai. Entah apa yang merasuki Jongin, Chanyeol harap tak akan ada masalah kedepannya.
"Dia menamparmu setelah kau menciumnya, dude. Aku rasa dia akan menganggapmu sebagai musuh"
"Biarkan saja. Ini akan menarik"
Jongin tersenyum licik. Sepertinya ia sudah memikirkan segalanya. Chanyeol hanya menggelengkan kepalanya berharap ia tak terkena imbasnya nanti.
Ponsel Jongin berdering yang langsung diangkat olehnya. Jongin terlibat percakapan kecil. Chanyeol memperhatikan Jongin.
"Kau mau kemana?"
Chanyeol melihat Jongin mulai berdiri dan merapikan jasnya. Jongin memandang Chanyeol sekilas dan berkata, "Menemui klienku"
Tanpa mengucapkan apa-apa lagi Jongin langsung pergi begitu saja menimbulkan tanda tanya besar dikepala Chanyeol. Sekilas Chanyeol menampilkan senyum miringnya sebelum mematikan panggilannya. Ia penasaran dengan apa yang direncanakan Jongin. Terutama kepada Kyungsoo.
Jongin sampai disalah satu gedung kliennya. Hari ini memang ada meeting bulanan diperusahaan rekan bisnisnya. Dan yang menariknya adalah perusahaan dimana Jongin akan meeting adalah perusahaan yang Kyungsoo bekerja didalamnya.
Daehyun sudah menunggu Jongin diloby gedung. Lihatlah wajah Daehyun yang kelihatan panik. Jongin selalu suka mengerjai seketarisnya itu.
"Sajangnim! Kita sudah terlambat!" rengek Daehyun yang mulai kehilangan kesabarannya karena menunggu Jongin dan sekarang bosnya berjalan santai.
"Tenanglah"
Daehyun memberengut. Bosnya terlampau santai dan itu tak menguntungkan untuknya. Ia bisa kena omel pihak Lee Construction karena keterlambatan mereka. Dan tak biasanya bosnya menggelar meeting ditempat rekan bisnisnya bukan dikantor mereka.
Jongin dan Daehyun diaambut Yoona -sekertaris Lee sajangnim. Mereka dibawa masuk ke ruang meeting. Disana Lee sajangnim sudah menunggu. Keduanya berjabat tangan.
Jongin dipersilahkan duduk. Daehyun berdiri disebelah Jongin. Lee sajangnim mengajak Jongin mengobrol sedikit sebelum memulai meeting mereka. Pintu ruang meeting diketuk kemudian dibuka. Kyungsoo membungkuk kecil karena terlambat. Salahkan saja bosnya yang mengabarinya mendadak.
Tubuh Kyungsoo langsung kaku melihat siapa rekan bisnisnya. Jika tau begitu ia menolak saja saat disuruh ikut meeting bersama bosnya. Kyungsoo menampilkan muka sedatar-datarnya. Ia adalah wanita profesional. Masalah pekerjaan dan pribadi harus ia pisah.
Kyungsoo mendekati Jongin yang berdiri dan mengulurkan tangannya.
"Selamat siang, Tuan Kim. Maaf membuat anda menunggu"
Jongin membalas uluran tangan Kyungsoo dengan sedikit meremasnya.
"Tak masalah untukku. Anda sudah sembuh?"
Kyungsoo menggeram dalam hati. Jongin bertanya seakan-akan mereka tak pernah bertemu sebelumnya. Dan Kyungsoo meruntuki bosnya karena tak sedikitpun menyela. Sial! batin Kyungsoo.
"Iya. Terima kasih atas perhatiannya"
Jongin menatapnya remeh. Namja ini benar-benar iblis. Baru kali ini Kyungsoo merasa sangat jengkel dengan kliennya. Sesulit apapun kliennya Kyungsoo bisa menghadapi. Tapi kali ini Kyungsoo sedikit kesusahan.
Kyungsoo mencoba menarik tangannya. Tanpa sadar ia terlalu lama berjabat tangan dengan lelaki ini. Dan Kyungsoo merasakan alarm tanda bahaya bila ia tak melepaskannya sekarang juga.
Tangan Kyungsoo ditahan Jongin. Genggaman tangan Jongin semakin erat sulit untuk melepaskan. Kyungsoo melotot kearah Jongin tetapi lelaki itu hanya diam dan menatapnya santai. Matanya menatap tangannya yang seolah-olah menggantung.
"Kita mulai saja pertemuaan kita"
Ucapan Lee sajangnim bagaikan suara surga untuk Kyungsoi. Akhirnya Jongin melepaskan tangannya. Kyungsoo dengan cepat duduk disebelah bosnya. Ia masih kesal dengan kelakuan Jongin. Baru kali ini ia menemui klien yang sangat tertarik dengan sentuhan fisik.
Walaupun ini bukan pertama kalinya Kyungsoo diperlakukan seperti ini. Tapi aura dingin dari Kyungsoo bisa membuat kliennya jaga jarak dan segan kepadanya. Tak ada sentuhan-sentuhan intim diantara mereka. Tapi kali ini Kyungsoo harus mencari cara agar Jongin tak berbuat seenaknya. Apalagi reaksi namja itu sangat terhibur dengan segala kekesalannya. Bahkan Jongin semakin tertantang dengan segala penolakannya.
Kyungsoo mendengus sebal sebelum membaca laporan terbaru dari proyek mereka. Kyungsoo hanya mendengarkan tanpa menatap Jongin. Kyungsoo bersumpah jika ia melihat wajah Jongin yang menyebalkan itu sedang tersenyum meremehkan kearahnya ia akan langsung menghajar pria itu.
Kyungsoo menuliskan beberapa hal penting didalam notenya. Kurang lebihnya ia sudah paham. Selama ia bekerja dirumah, semua bawahannya rajin melapor aktivitas ditempat proyek.
Percakapan antara Lee sajangnim dan Jongin mengalir terus. Mereka berdua tampak serius. Kyungsoo berfikir sejenak. Dari semua yang dilontarkan Jongin ada sesuatu yang mengganjal pikirannya.
"Apa ada sesuatu yang ingin anda sampaikan, nona Do"
Kyungsoo mendongak dan langsung bertatapan dengan Jongin. Jongin menahan senyumannya melihat reaksi Kyungsoo. Mata bulatnya semakin besar dan membuatnya kelihatan menggemaskan.
Kyungsoo melirik kearah Lee sajangnimnya. Seakan mendapat persetujuan Kyungsoo akhirnya bersuara.
"Jika Kim sajangnim menginginkan ada beberapa perubahan saya rasa itu akan mengulur banyak waktu. Sedangkan proyek ini sudah setengah jalan. Kita akan memghabiskan banyak waktu untuk merombaknya"
Lee sajangnim mengangguk-angguk setuju. Jongin tampak tak puas dengan pendapat dari Kyungsoo.
"Apa anda menolak usulan saya?"
Pertanyaan Jongin syarat akan nada tersinggung membuat Kyungsoo menyipitkan matanya. Kini Kyungsoo melihat keseriusan diwajah Jongin.
"Saya bukan menolak tapi memberikan pendapat"
Kyungsoo menilai ekspresi Jongin sebelum melanjutkan.
"Kami sudah mempunyai target penyelesaian proyek ini dan kami sudah hampir berjalan setengahnya. Jika anda ingin menambahkan sesuai dengan usulan anda, saya rasa kita akan kembali lagi ke titik awal. Banyak yang harus diganti dan itu membutuhkan waktu. Kami mencoba melakukan yang terbaik untuk proyek ini. Kami tak pernah bermain-main dengan komitmen kami"
Kyungsoo memberikan tatapan serius. Ia tak yakin apakah pendapatnya akan diterima. Kebanyakan perusahaan besar seenaknya dan tak ingin mendengarkan pendapat mereka. Kyungsoo sudah terbiasa dengan perubahan rencana awal. Dan itu sangat melelahkan. Ia harus bekerja ekstra dua kali lipat.
"Akan saya pertimbangkan"
Lee sajangnim dan Kyungsoo menghela nafas lega.
"Tapi saya ingin ada rincian lengkap dari usulan saya dan yang masih berjalan. Semua keputusan saya ada dilaporan yang anda buat, nona Do"
Tubuh Kyungsoo langsung menegak.
"Saya?"
Kyungsoo menoleh kearah Lee sajangnim meminta bantuan. Tapi diluar dugaan bosnya hanya tersenyum. Kyungsoo mendengus kesal. Yoona terkekeh melihat Kyungsoo reaksi Kyungsoo.
"Apa anda keberatan?" tanya Jongin.
Kyungsoo menoleh. Ia sedikit ragu. Masih banyak pekerjaan yang lain yang menunggunya karena bukan proyek ini saja yang ia tangani.
"Jika anda tak bisa tak masalah. Tapi saya ingin usulan saya segera ditindaklanjuti. Saya ingin perubahan" tegas Jongin.
"Do bujangnim akan membuat laporan yang anda minta. Tapi berikan kami sedikit waktu untuk menyelesaikannya" timpal Lee sajangnim.
"Sajangnim!" protes Kyungsoo.
"Baiklah. Saya beri waktu 1 bulan. Jika melebihi waktu itu saya akan kembali keputusan awal saya"
"Tak masalah bagi kami"
Kyungsoo menganga tak percaya. Bahkan protesannya tak didengar bosnya.
Lee sajangnim dan Jongin bersalaman. Jongin mengulum senyumnya melihat eksperesi Kyungsoo. Jongin berpamitan kepada Lee sajangnim dan langsung meninggalkan ruang meeting. Yoona ikut mengantarkan kepergian Jongin.
"Sajangnim, gila!! Bagaimana anda bisa mengambil keputusan seperti itu?!" teriak Kyungsoo frustasi.
"Hey! Kau menyebut bosmu gila?"
"NE!"
Kyungsoo mendelik marah. Selama ini ia sangat menghormati bosnya dengan segala keputusan yang diambil. Tapi kali ini dia membenci keputusan bosnya. Hubungan mereka bukan seperti atasan dan bawahan biasa. Kyungsoo menganggap Lee sajangnim sebagai keluarga yang tak pernah dimilikinya.
"Dengar, Kyungsoo. Aku tau kau marah. Tapi aku yakin kau bisa melakukannya. Aku akan mengalihkan pekerjaanmu yang lain agar kau fokus pada proyek ini. Aku tak ingin Kim Corp hilang kepercayaan pada perusahaan kita" jelas Lee sajangnim.
"Tapi anda tau jika saya paling tidak suka pekerjaan saya diambil alih ke orang lain"
Kyungsoo menurunkan nada bicaranya. Ia sudah mulai tenang.
"Aku ingin kau fokus, ok? Persiapkan laporanmu"
Kyungsoo menutup wajahnya dan mengusapnya kasar.
"Dan satu hal. Kim sajangnim sepertinya tertarik padamu. Persiapkan dirimu"
Kyungsoo memutar bola matanya jengah. Oh ayolah...tanpa diberi tahu Kyungsoo sudah menyadarinya. Dan ia harus lebih berhati-hati.
Kyungsoo menghela nafasnya lelah. Gegara lelaki sialan itu ia harus lembur hari ini. Padahal ini adalah hari pertamanya masuk kantor. Kyungsoo sudah berjanji kepada baekhyun akan merayakan hari ini. Tapi ia harus membatalkannya.
Kyungsoo membereskan dokumen-dokumennya lalu pulang. Minji sudah pulang dari sore tadi. Minji membujuknya untuk menemaninya lembur tapi Kyungsoo menolak.
Kyungsoo melangkah keluar lobi. Disana ada seorang satpam yang sedang berjaga.
"Bujangnim baru mau pulang?" tanya satpam itu.
"Ne. Hari ini terpaksa harus lembur"
Aku tersenyum.
"Aigoo...Tuan Lee sungguh-sungguh kejam memperkerjakaan karyawan cantiknya setelah baru sembuh" kekeh pak satpam.
"Geurae! Si tua itu harus diberi pelajaran" balas Kyungsoo bercanda.
Kyungsoo dan pak satpampun tertawa bersama.
"Apa perlu saya panggilkan taksi?"
"Jika tak merepotkan"
Pak satpam langsung menuju bilik kerjanya dan mulai menghubungi taksi.
"Tak usah menelepon taksi. Dia akan pulang bersamaku"
Kyungsoo melebarkan matanya saat mengenal orang yang tiba-tiba datang ke kantornya.
25.05.17
Ada beberapa hal yang harus aku beritahu. Pertama untuk gaya penulisanku yang ga biasanya dan sudut pandangnya juga berbeda. Dicerita ini memang sedikit berbeda. Aku ga akan memberikan author pov atau Kyungsoo pov seperti sebelum-sebelumnya. Aku tetapin aja dari sekarang klo semua sudut pandang orang pertama itu dari Kyungsoo. Dan yang jelas akan dicampur dengan sudut pandang orang ketiga. Untuk pemenggalannya aku rasa udah cukup jelas. Karena setiap aku mengganti cerita akan ada tanda pemisah.
Kedua, terima kasih buat semua sarannya. Aku terima. Aku juga masih belajar dan butuh penilaian dari kalian. Dukungan kalian sangat berarti.
Ketiga, cerita ini tidak hanya aku publish di wattpad aja. Tapi aku publish juga di ffn. Sekarang aku akan apdet berbarengan antara wattpad dan ffn. Kejadian ini langka coz biasanya aku akan nyelesain cerita dulu di ffn baru aku republish di wattpad seperti ceritaku yang lain.
Keempat, aku ga akan menentukan waktu apdet. Jujur sangat susah. Penentuan waktu apdet selain dari waktu luangku juga aku lihat dari antusiasme readers di wattpad dan ffn. Aku ga menentukan harus berapa view atau vote yang akan tercapai. Tapi semua berjalan dengan sendirinya.
Kelima, semua chap biasanya udah aku selesaikan cukup lama sebelum aku publish. Kalian bisa liat dari tanggal dibagian akhir setiap chap. Itu merupakan tanggal penyelesaian chap itu.
Ok sekian pengumuman ga penting ini. Semoga lebih mengerti dengan cerita ini.
REVIEW JUSEYO~~~~
