I DON'T NEED A MAN
.
.
.
.
.
KAISOO FANFICTION
.
.
.
.
.
BY KAISOOLOVERS
.
.
.
.
.
ORIGINAL IDEAS. DONT PLAGIAT. DLDR. GS. EXO. KAISOO. MAINSTREAM STORY
.
.
.
.
.
HAPPY READING
.
.
.
.
ENJOY
.
.
.
.
.
Aku menanti pak Hyun -satpam kantor memanggilkan taxi untukku. Sebuah mobil mendekat dan berhenti tepat didepan kantor membuatku terbingung. Keadaan kantor yang saat itu sangat gelap tak terlalu jelas melihat siapa yang datang.
Orang didalam mobil turun. Aku mencoba melihat siapa tapi gagal.
"Tak usah menelepon taksi. Dia akan pulang bersamaku"
Aku melebarkan mata saat mengenal orang yang tiba-tiba datang ke kantor itu. Aku sangat mengenal suara ini, suara menjengkelkan yang membuat duniaku kelam semenjak bertemu dengannya.
Pak Hyun mematikan panggilannya dan menoleh kearah orang itu.
"Maaf anda siapa?" tanya pak Hyun sopan.
Aku harap pak Hyun bisa menjadi tamengku agar tak pergi bersama lelaki ini.
"Saya Kim Jongin teman dari Kyungsoo"
"Oh kebetulan sekali. Syukurlah jika Bujangnim ada yang mengantarkan"
Pak Hyun tersenyum lega. Ia melihat kearahku dengan senyuman yang masih menghiasi wajahnya. Aku membalas senyumannya dengan senyuman canggung. Aku mengutuk pria ini yang sudah datang diwaktu yang tak tepat.
"Jika begitu saya akan mengantar Kyungsoo pulang"
"Aniya!!" teriakku terlampau kencang.
Pak Hyun menatapku bingung.
"Aku bisa pulang sendiri. Anda tak perlu repot-repot, Tuan Kim" lanjutku tenang.
"Aku tak pernah merasa repot"
Aku ingin sekali memukulnya. Bagaimana bisa namja ini selalu membalikkan kata-kataku dengan mudahnya.
"Terima kasih atas kebaikan anda tapi saya bisa pulang sendiri"
Jongin menatapku datar. Wajahnya yang tadinya santai jadi mengeras. Aku melihat kilatan tak suka pada matanya. Ia melangkah kearahku dengan santai. Aku bersiap kabur sebelum ia semakin dekat tapi aku terlambat.
Lenganku mulai dicekal olehnya. Ia mengintimidasiku dengan tatapan matanya. Seakan-akan ia ingin aku menuruti kemauannya.
Jongin menarikku kearah mobilnya. Dan sialnya kakiku mengikuti kemana Jongin membawaku. Aku lihat pak Hyun membungkukkan badannya saat aku masuk kedalam mobil.
Didalam mobil aku hanya diam. Efek tatapan matanya masih terasa. Seluruh fungsi kerja otakku seakan-akan mati dan dikendalikan langsung olehnya.
"Pakai sabuk pengamanmu!"
Aku masih terdiam. Semua ini terlalu cepat. Sebuah gerakan pasti membuatku melebarkan kedua mataku lagi.
Tubuh Jongin terlalu dekat denganku. Aku bisa mencium aroma maskulinnya dari jarak sedekat ini. Aku mengingatnya. Bagaimana aroma tubuh namja ini tercium oleh hidungku dan kemudian menjalar ke otakku untuk memberikan sensasi lainnya.
"Bernafaslah"
Sebuah kata yang langsung ku turuti perintahnya. Aku bahkan tak sadar jika aku menahan nafasku sedari tadi. Aku mencoba menegakkan tubuhku tapi ada sesuatu yang menahan. Aku melirik kebawah dan ternyata sabuk pengaman melilit ditubuhku. Salahkan kinerja otakku yang mendadak berhenti ini. Bahkan aku tak menyadari jika Jongin memasangkan sabuk pengamanku.
"Aku tak akan berbuat macam-macam" gumamnya geli melihat tingkahku.
"Hah! I dont believe it!"
Aku membuang mukaku dan lebih memilih melihat keluar jendela. Lain kali aku harus meneguhkan pikiranku agar tetap jernih dan bisa memberontak.
"Dimana rumahmu?"
Aku melirik sekilas kearah Jongin. Ia menatap jalanan dengan tenang. Aku salut dengan pembawaannya yang tenang. Aku harus banyak belajar agar dalam situasi apapun aku bisa setenang dia.
"Beberapa blok dari sini" acuhku.
"Sebutkan dimana tepatnya aku harus berbelok!"
Aku memutar kedua bola mataku mendengar nada perintah darinya. Aku bukan bawahannya jadi ia tak bisa seenaknya memperlakukanku seperti ini.
"Turunkan saja saya 500 meter lagi. Saya akan jalan kaki"
"Tidak!"
Aku rasa perdebatan kami akan segera dimulai.
"Saya tak ingin orang asing mengetahui rumah saya"
"Aku bukan orang asing"
Aku menoleh kearah Jongin. Tubuhku sedikit kusampingkan agar bisa mengahadap kearahnya.
"Dengar, Kim-ssi. Kau bukan seseorang yang aku kenal dan percaya. Jadi aku tak akan memberitahukan dimana rumahku" gertakku.
Runtuh sudah segala kesopananku. Aku tak lagi mempedulikan bahasa formalku bila bersama dengannya. Sebisa mungkin aku menjaga cara bicaraku agar aku terlihat tak dekat dengannya. Tapi segala tingkah otoriternya membuatku muak.
"Kau mengenalku. Kita adalah rekan bisnis"
"Hanya 'rekan bisnis'! Tidak lebih!" tekanku.
"Aku suka cara kau memanggilku. Kim-ssi, eoh?"
Astaga! Perubahan pembicaraan yang benar-benar membuatku sebal. Aku melepaskan sabuk pengamanku. Aku bisa melihat ia melirikku.
"Apa yang kau lakukan?!" desisnya.
"Turunkan aku!"
"Tidak! Pakai kembali sabuk pengamanmu"
Aku tak menurutinya. Aku masih berpegang teguh tak akan jatuh dalam perintah-perintahnya. Ia bukan bosku dan juga bukan siapa-siapaku.
"Aku bilang pakai!"
Ia meninggikan suaranya. Dia kira dengan begitu aku akan takut. Jawabannya, Tidak!
Aku melipat kedua tanganku didepan dada dan menolak melihat kearahnya. Biar saja dia marah. Toh ini semua salahnya.
Aku memekik kaget saat Jongin dengan tiba-tiba membanting stirnya kearah kanan. Tubuhku sempat terhuyung kesamping dan kedepan saat ia menginjak rem kuat-kuat. Kepalaku hampir saja terkantuk dashboard tapi seseorang memegangiku.
Sebelah tangan Jongin menahan kedua pundakku dan agar tubuhku tak maju kedepan. Jantungku berpacu cepat dengan kejadian tadi. Aku kira kepalaku akan mengalami gegar otak.
Aku menatap nyalang ke arah Jongin. Sedangkan ia menatapku dengan amarah.
"WHAT ARE YOU DOING?! Kau ingin membunuhku?!!" teriakku kesal.
"ITU KARENA KAU YANG SANGAT KERAS KEPALA!!" bentaknya.
Aku menyingkirkan tangannya dengan kesal lalu membuka pintu mobil secepat yang aku bisa. Aku berjalan cepat menjauhi mobilnya dan berharap bisa terbebas dari namja iblis seperti Jongin.
Tanganku ditarik kuat hingga tubuhku berbalik. Jongin menatapku murka. Sebenarnya aku tak tau kenapa ia lebih terlihat marah dibandingkan aku. Seharusnya aku yang marah saat ini.
"Lepaskan!" ketusku.
"Aku tidak akan melepaskanmu!" geramnya.
"Kau bodoh, Kim-ssi. Tak ada hubungan diantara kita. Kita hanya sebatas rekan bisnis dilingkungan kerja dan diluar itu kau hanya orang asing!"
Jongin menarikku lagi hingga tubuhku kini berhadapan dengannya lebih dekat.
"Jika kau menginginkan sebuah hubungan aku bisa mengabulkannya. Kau tak perlu bermain 'hard to get' seperti ini"
Aku melongo mendengar ucapannya. Seorang CEO perusahaan besar ternyata orang yang bodoh dan tak mengerti maksud ucapanku yang malah menyalah artikan kata-kataku.
"Kau sinting!" makiku.
--:--
Jongin tersenyum sedari pagi. Daehyun yang melihatnya sedikit ngeri. Setaunya bosnya ini adalah pria dingin dan jarang menampilkan ekspresinya. Tapi sekarang ia terlihat seperti orang gila.
"Sampai kau mengatakan aku gila, aku akan memecatmu, Daehyun" ucap Jongin santai.
Daehyun tersentak bosnya bisa tau apa yang dipikirkannya.
"Sajangnim mengada-ada. Saya tak mungkin bilang sajangnim gila" kilah Daehyun sedikit gugup.
"Kau gugup Daehyun. Aku bisa mendengar dari suaramu"
Sial! Daehyun lupa jika bosnya ini sangat bisa membaca kondisi lawannya walaupun sedang tak bertatap muka. Ia harus lebih berhati-hati.
"Apa jadwalku hari ini?"
Jongin melirik kearah Daehyun yang sedang membuka buku kecilnya mengecek jadwalnya. Padahal Jongin sudah membelikan sekertarisnya ini sebuah tab yang lebih canggih tapi ia menolak dan lebih senang menggunakan buku kecil yang terlihat sangat jadul.
"Anda tidak ada jadwal hingga jam 2 siang. Setelah itu anda ada meeting dengan perusahaan Min" jelas Daehyun dan menutup bukunya.
"Bagus"
Jongin berdiri dan mengambil jasnya. Ia bisa sedikit bersantai hari ini.
"Sajangnim mau kemana?" tanya Daehyun agak panik.
Bagaimana tidak panik? Bosnya ini jika sudah menghilang akan susah ditemukan. Dan ia akan datang terlambat untuk meeting.
"Aku hanya pergi sebentar"
"Jangan terlambat untuk meeting anda jam 2 nanti!" teriak Daehyun yang entah didengar oleh Jongin atau tidak.
Jongin sudah kabur duluan sebelum Daehyun berteriak. Daehyun meruntuki punya atasan yang sedikit brandalan itu. Banyak sekali ulahnya hingga ia yang harus menanggung semua perbuatannya.
Jongin mengendarai mobilnya kesebuah restoran. Waktu makan siang sebentar lagi dan ia ingin menyiapkan sesuatu. Jongin memesan makanan dan menunggunya.
Setelah mendapatkan makanannya ia memutuskan untuk pergi dan singgah disebuah tempat. Mobil Jongin melaju dan berhenti disalah satu toko bunga.
Jongin memesan sebuah rangkaian bunga yang cukup besar lalu memberikan sebuah catatan kecil diantara bunga itu. Jongin meminta si penjual bunga mengantarnya ke suatu alamat beserta makanan yang dibawanya tadi.
Setelah menyelesaikan semua yang dibutuhkannya Jongin kembali ke kantornya. Dalam hati ia merasa geli dengan tingkah Daehyun yang akan selalu kelabakan jika ia pergi sendiri. Dia sangat menikmati bagaimana ekspresi Daehyun yang panik itu.
"Sajangnim hampir saja membuat saya mati berdiri! Saya kira sajangnim tak akan datang tepat waktu" cerocos Daehyun sambil mengikuti Jongin yang sekarang duduk dikursinya.
"Siapkan makan siang untukku!" perintah Jongin mengabaikan segala ocehan Daehyun.
"Saya kira Sajangnim pergi untuk makan siang diluar" kata Daehyun heran.
"Hanya siapkan makan siang sekarang atau akan menyesal tak mematuhi perintahku, Daehyun" ancam Jongin.
Daehyun langsung saja kabur mengambilkan pesanan Jongin. Bosnya tak main-main dalam hal mengancam. Ia tak ingin kena batunya hanya karena membantah perintah bosnya.
Jongin memandang lurus kedepan. Ia ketuk-ketukkan jari tangannya diatas meja hingga terdengar ketukan berirama. Ia menantikan apa yang akan terjadi selanjutnya. Daehyun kembali membawa kotak makan siang yang ia bawa dari kantin. Jongin tak pernah makan siang di kantin kantornya. Daehyun akan selalu mengambilkannya atau petugas kantin akan mengantarkannya dan menyerahkannya pada Daehyun.
"Saya diberitahu jika perwakilan dari perusahaan Min sudah datang. Mereka menunggu diruang meeting" ucap Daehyun memberitahu.
Jongin mengangguk sekilas sambil memakan makan siangnya. Jongin tak terlalu mempermasalahkan Daehyun yang berada disisinya selama ia makan. Jika ia tak meminta sekertarisnya itu keluar maka Daehyun akan berada disampingnya.
"Kau temani mereka dulu. Setelah ini selesai aku akan menyusul"
Daehyun mengangguk lalu keluar. Jongin menyelesaikan makannya beberapa menit kemudian. Ia mulai merapikan jasnya dan segera bergegas menemui kliennya.
Setelah mengalami perdebatan dan diskusi yang panjang akhirnya Jongin dan Daehyun kembali keruangan Jongin. Daehyun terkejut saat melihat sebuah paket berada dimeja kerjanya. Daehyun berlari kearah meja kerjanya guna melihat paketan itu. Seorang petugas kebersihan keluar dari ruangan Jongin langsung membungkuk hormat melihat bosnya datang.
"Ini apa, pak Jun?" tanya Daehyun ke petugas kebersihan itu.
"Tadi ada yang mengirimkan ini untuk Kim Sajangnim. Berhubung beliau dan anda tidak ada diruangan saya letakkan saja disini" terang pak Jun.
"Apa itu Daehyun?" tanya Jongin.
"Entahlah, Sajangnim. Sepertinya penggemar anda mengirim sesuatu lagi" jawab Daehyun ragu.
"Bawa kedalam ruanganku"
"Ne"
Jongin masuk kedalam ruangannya. Ia melepaskan jasnya dan duduk dibelakang meja kerjanya. Daehyun meletakkan paketan misterius itu diatas meja Jongin. Daehyun tampak penasaran dengan isi paket itu.
"Kau keluarlah!" usir Jongin.
Daehyun mengangguk singkat dan keluar. Jongin membuka paketan itu yang berupa kardus besar berwarna coklat. Saat melihat isinya Jongin langsung tau apa maksud paket ini. Jongin mengeluarkan isi paket itu yang berupa rangkaian bunga dan set makan siang. Ini adalah kirimannya kepada seseorang tapi sepertinya dikembalikan.
Jongin mengambil sebuah note yang ditulisnya untuk sang penerima kemudian membaliknya. Sebuah tulisan tangan rapi tertera dikertas itu. Jongin menyunggingkan bibirnya keatas membaca sederet kata yang tertulis.
'Idiot! Leave me alone!!'
Jongin sangat puas dengan reaksi yang diberikan orang itu. Ia tertawa terbahak membayangkan bagaimana raut wajah Kyungsoo saat mengatakannya. Jongin sangat menikmati permainan ini. Sudah lama dirinya tak terhibur seperti ini.
Jongin menyimpan note itu dalam laci meja kerjanya. Sebuah barang yang dapat membuatnya tertawa patut untuk disimpan. Siapa tau kedepannya saat ia merasa bosan bisa terhibur dengan note ini.
Jongin memencet tombol teleponnya.
"Daehyun, masuklah!" perintah Jongin.
Tak berapa lama Daehyun masuk dan berdiri didepan meja Jongin.
"Ini untukmu. Jika kau tak mau kau bisa membuangnya"
Jongin menunjuk paketan didepannya dengan dagu. Daehyun memandangi bosnya dan paketan itu bergantian.
"Apakah ini beracun?" tanya Daehyun polos.
Jongin menaikkan satu alisnya.
"Kau pikir aku mau meracunimu?" ucap Jongin datar.
"A-Aniya, sajangnim! Saya bukan bermaksud berkata seperti itu"
"Bawa keluar. Aku ingin kembali bekerja"
Daehyun membawa paketan itu dengan perasaan mengganjal. Baru kali ini bosnya menerima paketan yang isinya ada rangkaian bunga. Daehyun yakin jika paket ini bukan ditujukan ke pria namun wanita. Tapi kenapa bisa sampai ke tempat bosnya? Daehyun menggelengkan kepalanya kuat. Ini bukan urusannya. Ia tak perlu memikirkannya.
--:--
Kyungsoo mengamati semua dokumennya. Ia membaca dengan seksama setiap kalimat disana. Banyak laporan yang harus ia kejar karena absensinya. Sudah lebih dari 3 jam Kyungsoo berada didalam ruangannya dan tak ingin diganggu sedikitpun.
Kyungsoo sudah memerintahkan Minji untuk menolak semua jadwal meeting hari ini. Ia juga tak ingin seorangpun mengganggu waktunya. Bahkan Kyungsoo juga memerintahkan Minji untuk masuk kedalam ruangannya tanpa ia minta.
Kyungsoo meregangkan tubuhnya yang kaku. Menatap kertas-kertas terlalu lama membuat tubuhnya kaku. Kyungsoo menyandarkan punggungnya kesandaran kursi dan melepas kacamatanya.
Kyungsoo mengatur nafasnya agar lebih rileks. Istirahat sejenak sepertinya tak akan membuatnya kehabisan banyak waktu. Ia harus mengerjakan dokumen hari ini dengan segera agar bisa pulang cepat dan merayakan sesuatu dengan adiknya.
Kyungsoo menekan intercomnya dan meminta Minji membawakan sesuatu untuk merilekskan tubuhnya.
Minji datang membawa secangkir teh hangat. Ia letakkan dimeja bosnya.
"Aku membawakan teh lemon untuk anda. Semoga ini membantu merilekskan tubuh anda"
"Gomawo, Minji-ah"
Kyungsoo masih menyandarkan punggungnya dan menutup kedua matanya.
"Sebentar lagi jam makan siang. Apa Bujangnim ingin saya belikan sesuatu?"
"Tak usah. Aku akan makan nanti. Kau makanlah duluan"
Kyungsoo membuka matanya dan menatap Minji lembut. Minji tersenyum dan memgangguk. Minji pamit keluar. Kyungsoo menegakkan tubuhnya dan mengambil cangkir teh yang dibawakan Minji. Ia sesap perlahan teh itu. Tubuhnya langsung beraksi saat teh itu masuk kedalam tubuhnya. Aromanya yang manis membuat pikirannya jernih.
Kyungsoo meletakkan cangkir itu dan kembali berkutat dengan dokumennya. Ia memfokuskan pikirannya untuk membaca setiap detail laporan. Sesekali Kyungsoo akan menandai beberapa bagian dengan pensilnya. Ia perlu itu untuk bahan laporannya.
Ketukan samar terdengar dari pintu ruang kerja Kyungsoo. Kyungsoo hanya melirik sekilas tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Pintu dibuka perlahan dengan kepala Minji yang menyembul duluan. Minji bergerak takut memasuki ruang kerja Kyungsoo.
"Mmmm...bujangnim. Jam makan siang sudah lewat dan ada kiriman untuk anda" kata Minji pelan.
Kyungsoo menghentikan acara membacanya dan memandang Minji bingung.
"Kiriman apa?" tanya Kyungsoo.
"Sebuket bunga dan sekotak makanan"
Kyungsoo mengerutkan dahinya.
"Bawa saja kedalam dulu. Aku akan mengeceknya nanti"
Minji keluar ruangan dan kembali dengan membawa kiriman yang dimaksud. Kyungsoo semakin tak mengerti dengan kiriman ini. Seingatnya ia tak memesan apapun.
Munji menaruh kiriman itu diatas meja kecil disudut ruangan Kyungsoo. Kyungsoo mengangguk dan meminta Minji kembali ke tempatnya. Kyungsoo melihat kiriman yang ditujukan untuknya.
Sebuah set makan siang dari restoran yang cukup terkenal daerah sini dan sebuket bunga yang cukup besar langsung mengalihkan perhatian Kyungsoo.
Kyungsoo mengecek dua buah barang itu untuk mencari identitas pengirim. Saat melihat rangkaian bunga ia mendapati note kecil yang terselip diantara bunga-bunga. Kyungsoo mengambilnya dan langsung membacanya.
Kerutan samar hadir didahi Kyungsoo. Ia menerka-nerka siapa pengirimin paketan ini. Kyungsoo membalik note itu dan mendapati logo elegan Kim Corp.
Tanpa Kyungsoo mengatakannya, ia tau siapa pengirimnya. Kyungsoo beralih menuju meja kerjanya dan mengambil penanya. Ia menuliskan sesuatu dibalik note itu. Dan dengan keras Kyungsoo memanggil Minji hingga PA-nya itu berlari kecil menghampirinya.
"Masukkan semua itu kedalam kotak dan kirimkan ke Kim Corp!"
"Kim Corp?" ulang Minji bingung.
"Dan langsung kirimkan ke CEOnya!" perintah Kyungsoo keras.
Minji tersentak mendengar intonasi Kyungsoo. Ia langsung mengambil dua barang itu dan membawanya keluar. Sebelum keluar Kyungsoo memanggil Minji dan meletakkan sesuatu diantara bunga-bunga.
"Kirimkan segera! Dan tanpa bantahan!"
Suara dingin Kyungsoo membuat merinding Minji. Minji jarang melihat Kyungsoo menampilkan emosinya secara berlebih. Ia selalu bisa mengendalikannya dengan baik. Dan kali ini ada seseorang yang membuat bosnya sangat emosi.
Kyungsoo menggeram marah. Dan satu-satunya orang yang menyebabkan kemarahannya adalah CEO Kim Corp. Kyungsoo harus menyusun cara agar bisa lepas dari bayang-bayang namja itu.
Kyungsoo mengenyahkan pikirannya dari tulisan tangan namja itu. Isinya membuatnya benar-benar ingin menonjok pria itu. Suatu saat nanti ia harus membalasnya.
'Enjoy your meal, babe. Hope you like it. And the flowers reminds me of you'
02.06.17
Bagaimana??? Karena antusiasme kalian luar biasa aku apdet lebih cepat dr biasanya. Terima kasih dukungannya.
Ada yg sadar ga ya klo dichap kmrn ga da batasan pergantian cerita? terus ga rapi juga. aku baru ngeh masa. aku tinggal copas dr wattpad jadi ga aku cek lg. Mian.
REVIEW JUSEYO~~~~
