I DON'T NEED A MAN
.
.
.
.
.
KAISOO FANFICTION
.
.
.
.
.
BY KAISOOLOVERS
.
.
.
.
.
ORIGINAL IDEAS. DONT PLAGIAT. DLDR. GS. EXO. KAISOO. MAINSTREAM STORY
.
.
.
.
.
HAPPY READING
.
.
.
.
.
ENJOY
.
.
.
.
.
Aku mengerang kecil. Tubuhku terasa kaku untukku gerakkan. Aku menggeliat diatas kasurku hingga membuat selimutku berantakan. Akhirnya aku mendapatkan liburanku. Weekend ini aku bebas dari pekerjaan kantor.
Aku mendudukkan diriku diatas kasur dengan mata setengah terpejam. Aku masih ingin tidur lagi. Beberapa hari ini aku pulang larut dan kurang tidur membuat badanku remuk. Aku sudah merencanakan weekend kali ini aku akan tidur seharian dan memanjakan tubuhku.
Samar-samar aku mendengar suara gaduh dari arah dapur. Aku mengumpulkan kesadaranku sebelum pergi ke kamar mandi membasuh mukaku.
Kepalaku terasa pening saat aku berjalan kearah dapur. Dengan langkah terseok-seok aku terus melangkah ke dapur. Didapur adikku sedang berkutat dengan pisaunya. Ia sedang memotong sesuatu yang aku tak dapat melihatnya. Ia memunggungiku.
"Baekhyun" panggilku serak.
Baekhyun memutar tubuhnya menghadapku. Ia tersenyum lebar kearahku.
"Pagi, eonnie!" sapanya riang.
Aku mendudukkan tubuhku disalah satu kursi meja makan. Aku menopang kepalaku dengan kedua tanganku dengan siku sebagai titik tumpu. Aku memijat pelan kepalaku.
"Eonnie baik-baik saja?" tanya Baekhyun khawatir.
Aku mengangguk. Baekhyun meletakkan secangkir teh dihadapanku dengan asap yang masih mengepul.
"Minunlah, eonnie. Ini akan merilekskan tubuhmu"
Baekhyun kembali ke tempatnya dan melanjutkan kegiatannya. Aku mengambil cangkir itu dan meminumnya. Bau teh yang khas menyapa inderaku saat aku menyesapnya. Rasanya tenang hanya dengan mencium aroma dan merasakan sensasi manis yang khas dari teh ini.
"Eonnie mau sarapan dulu atau mandi dulu?" tanya Baekhyun yang masih berkutat dengan peralatan dapurnya.
"Makan dulu" jawabku lirih.
Aku akui jika aku lapar. Aroma masakan Baekhyun menggodaku untuk tetap berjaga didapur. Aku dan Baekhyun sama-sama bisa memasak. Hanya saja bagian memasakku lebih banyak dibanding Baekhyun. Adikku itu sangat moody jika menyangkut hal memasak. Disaat moodnya bagus dia dengan sendirinya akan memasak. Aku tak mempermasalahkannya karena dia masih tanggung jawabku dan dia masih terlalu kecil ku biarkan mengurus semua sendiri.
Baekhyun meletakkan sepiring omelet didepanku. Aku langsung mengambil sendok yang disodorkannya dan langsung melahapnya. Baekhyun mengikutiku dan kami sarapan dengan penuh canda karena ia menceritakan kesehariannya dalam sekolah.
Baekhyun membereskan piring kotor dan aku beranjak kembali ke kamar. Seperti jadwal yang telah aku tetapkan, aku memutuskan untuk tidur. Baekhyun menghargai kegiatan tidurku diwaktu weekend. Ia bukan seorang adik manja yang harus selalu aku temani dan ajak main. Kami berdua sangat mandiri. Kami saling mengerti dan yang lebih penting kami saling menyayangi walau tak menunjukkan secara langsung.
Aku melemparkan diriku kearah kasur dan langsung memejamkan mataku. Hal yang selalu aku butuhkan adalah tidur setelah melewati hari kerja yang kejam.
--:--
Baekhyun menonton TV dengan sesekali menyuapkan cemilan kedalam mulutnya. Ia tak ada kegiatan akhir pekan ini. Ia hanya memanfaatkannya dengan berdiam diri dirumah. Bukannya Baekhyun tak punya teman atau kegiatan layaknya remaja SMA pada umumnya. Tapi terkadang Baekhyun lebih memilih me time dibandingkan keluyuran tak jelas diluar.
Suara bel berbunyi nyaring didalam apartemen Baekhyun. Dengan malas Baekhyun bangkit melihat siapa yang bertamu. Baekhyun melihat dari interkomnya. Kerutan kecil dikening Baekhyun melihat seorang namja berdiri diluar sana. Baekhyun memencet interkomnya.
"Nuguseyo?"
Baekhyun melihat namja itu melirik kearah interkom. Wajahnya datar tak terbaca.
"Kyungsoo ada?" tanya namja itu balik.
Baekhyun menyipitkan matanya.
"Anda siapa?" tanya Baekhyun berusaha bersikap sopan.
"Aku teman Kyungsoo"
Dengan ragu Baekhyun menekan salah satu tombol hingga pintu apartemennya terbuka. Baekhyun membukan pelan pintunya dan melihat secara langsung namja tadi. Baekhyun harus mendongakkan kepalanya saat menatap namja didepannya. Postur tubuhnya yang mungil seperti eonnienya membuat Baekhyun harus rela mendongak lama-lama.
"Ada perlu apa dengan eonnieku?" tanya Baekhyun.
"Aku hanya berkunjung karena ia baru saja sembuh dari cideranya"
Baekhyun menimang-nimang apakah ia mempersilahkan tamu ini masuk. Tapi akan sangat tak sopan jika mereka berbicara didepan pintu. Akhirnya Baekhyun memggeser tubuhnya dan memberikan akses tamu itu untuk masuk.
Baekhyun mempersilahkan tamunya untuk duduk. Baekhyun meneliti penampilan sang tamu dari atas hingga bawah. Terlihat tak sopan memang tapi ia perlu memastikan sesuatu.
Bila dilihat dari penampilannya tamunya merupakan seorang namja dengan tingkat kematangan yang cukup. Sepertinya namja ini lebih tua dibandingkan eonnienya. Dan dari cara berpakaian, Baekhyun tau jika namja ini seorang yang beruang dan memiliki jabatan yang tinggi disebuah perusahaan. Baekhyun sering berkunjung ke kantor eonnienya dan ia tau jabatan seseorang dari penampilannya. Walaupun tak selamanya akurat.
"Akan ku panggilkan dulu" pamit Baekhyun.
Baekhyun berlari kecil ke kamar eonnienya. Ia penasaran dengan lelaki yang mengunjunginya. Kakaknya sangat jarang membawa teman lelaki atau sekedar memberitahu rumahnya.
Tanpa mengetuk pintu Baekhyun langsung masuk ke kamar Kyungsoo. Kyungsoo masih tertidur nyenyak diranjangnya. Baekhyun mengguncang tubuh Kyungsoo pelan.
"Eonnie! Eonnie!" panggil Baekhyun heboh.
Kyungsoo menggeliat pelan dan mengganti posisi tidurnya. Baekhyun yang jengkel semakin mengguncang tubuh Kyungsoo. Kyungsoo yang merasa terusikpun langsung membuka matanya dan menatap malas Baekhyun.
"Wae?" ketus Kyungsoo.
"Ada seorang namja yang mencari eonnie"
Kyungsoo mendudukkan dirinya dan menatap Baekhyun bingung.
"Namja?" ulang Kyungsoo.
Baekhyun mengangguk.
"Pergilah dulu. Aku akan bersiap"
Baekhyun melangkah keluar kamar. Kyungsoo mengikat rambutnya asal. Ia memutuskan untuk membasuh muka terlebih dahulu. Setelah selesai Kyungsoo langsung menuju ruang tamu.
Kyungsoo melihat Baekhyun duduk bersebrangan dengan seseorang. Baekhyun melihat orang itu dengan pandangan penuh selidik. Keduanya tak menunjukkan adanya tanda-tanda saling berbicara. Kyungsoo tak dapat melihat siapa itu karena posisinya yang memunggungi Kyungsoo.
Baekhyun yang melihat kakaknya sudah datang langsung berdiri. Hal itu membuat sang tamu menoleh kearah Baekhyun. Seakan bisa membaca apa yang dilihat Baekhyun, tamu itu menoleh ke belakang. Dan disana Kyungsoo datang menghampiri mereka.
Baekhyun melirik sekilas kearah tamu Kyungsoo dan pergi meninggalkan keduanya. Ia memberikan privasi untuk kakaknya. Kyungsoo tersenyum kearah adiknya saat melewatinya.
Kyungsoo mengerutkan kening melihat siapa tamunya. Seingatnya ia tak pernah memberitahu alamatnya kepada orang ini.
"Ada apa kau kemari?" tanya Kyungsoo sesopan mungkin. Walaupun nada bicaranya tak menunjukkannya.
Orang itu tersenyum remeh. Ia menanti Kyungsoo duduk disofa. Kyungsoo dengan penuh keheranan melihat orang yang paling tidak ingin ia temui saat ini. Ia bersyukur sejak kejadian kiriman bunga dan makanan itu tidak ada lagi kiriman-kiriman lainnya. Kyungsoo kira ia sudah terbebas.
"Kau tampak sehat" ucap namja itu.
Kyungsoo bingung dengan tingkah namja ini. Selalu saja diluar dugaannya.
"Setauku aku tak pernah mengatakan dimana aku tinggal, Kim-ssi"
Jongin tersenyum geli.
"Sangat mudah menemukan alamatmu. Itu bukan hambatan untukku" ucapnya penuh kemenangan.
Mata Jongin berkilat melihat penampilan Kyungsoo. Ia sudah menyadari dari awal jika penampilan Kyungsoo berbeda. Tapi dengan adanya Kyungsoo disebrangnya membuatnya melihat dengan jelas apa dikenakan Kyungsoo.
Gadis itu memakai hotpant yang menunjukkan paha mulusnya dan bagian atasnya hanya menggunakan crop shirt. Belum lagi rambutnya yang dikuncir asal yang menunjukkan leher putihnya. Jongin harus mengalihkan perhatiannya dari Kyungsoo.
"Setelah menemukan rumahku lalu kau mau apa?"
Suara Kyungsoo berubah tajam. Privasinya diganggu tentu saja membuatnya marah. Kyungsoo tau jika Jongin akan sangat mudah menemukan alamatnya tapi namja ini sungguh tak tau apa yang dimaksud dengan privasi.
"Tentu saja berkunjung. Apalagi?" balas Jongin bertanya.
Kyungsoo memutar kedua bola matanya malas. Berdebat dengan Jongin tak akan ada habisnya. Percuma saja jika ia meladeninya.
Kyungsoo menyandarkan punggungnya disandaran sofa dan melipat kedua tangannya didepan dada. Setiap gerakan Kyungsoo tak pernah luput dari mata Jongin. Bagaikan sebuah godaan terbesar, Kyungsoo seperti sedang mengujinya. Bagaimana mungkin hanya dengan gerakan sederhana bisa membuat Jongin panas dingin.
Jongin semakin tertarik dengan yeoja didepannya. Seakan-akan pesonanya tak pernah habis dan tak pernah membuatnya bosan.
Jongin bangkit dari duduknya. Terlalu lama memandang Kyungsoo dengan penampilan itu sangat memperburuk keadaannya. Semakin lama ia semakin ingin menyentuhnya.
Kyungsoo menaikkan satu alisnya melihat Jongin berdiri. Kyungsoo berfikir ini kesempatan bagus untuknya mengusir namja ini.
Kyungsoo ikut berdiri. Keduanya saling bertatapan lama sebelum Jongin memutuskan kontak mata mereka.
"Sepertinya kau tak suka dengan kehadiranku"
"Kau baru bertanya sekarang? Harusnya kau sudah menyadari semenjak masuk kerumah ini" sarkas Kyungsoo.
Jongin tersenyum. Ia mempersilahkan Kyungsoo untuk berjalan duluan. Kyungsoo dengan cueknya berjalan mendahului Jongin menuju pintu apartemennya. Jongin mengikuti Kyungsoo dari belakang.
Kyungsoo meraih knop pintunya hingga hampir terbuka tapi sebuah tangan dari belakang tubuh Kyungsoo menjulang hingga menutup pintu kembali. Kyungsoo hendak memprotespun langsung bungkam.
"Lihatlah dirimu. Begitu menggoda" bisik Jongin dibelakang Kyungsoo.
Suaranya rendah disertai hembusan nafas yang panas membuat bulu kuduk Kyungsoo meremang. Jantungnya berpacu cepat. Sensasi yang diberikan Jongin menjalar keseluruh tubuhnya. Gelenyar itu bagaikan sebuah racun yang merasuk dalam pembuluh darahnya.
Kyungsoo masih berdiri kaku. Tubuhnya tak bisa bergerak sedikitpun. Jika ia mau, bisa saja Kyungsoo menyikut perut Jongin dengan sikunya agar ia terbebas. Tapi semua syarafnya seakan-akan mati.
Jongin memagang pinggang Kyungsoo dengan satu tangannya sedangkan tangan yang lainnya bertumpu pada pintu. Sentuhan tangan Jongin yang mengenai kulitnya secara langsung membuat Kyungsoo tersengat. Dengan mudahnya Jongin menjelajahi setiap inchi kulit perut Kyungsoo.
Jongin sangat bersyukur Kyungsoo mengenakan pakaian ini. Dengan bebas ia bisa langsung menyentuhnya. Kulit Kyungsoo begitu halus. Tangan kasarnya seakan dimanjakan kehalusan kulit Kyungsoo. Gerakan kecil Jongin membuat Kyungsoo tersadar dan mencoba melepaskan tangan Jongin dari perutnya.
Tapi sentuhan antara tangan Kyungsoo dipunggung tangan Jongin memberikan reaksi yang luar biasa. Sengatan terjadi begitu saja saat tangan Kyungsoo bersentuhan dengan tangan Jongin. Dan Jongin sangat menikmatinya. Hanya sentuhan ringan Kyungsoo ditangannya membuat dampak yang luar biasa.
Jongin yang kehilangan akal sehatnya langsung membenamkan wajahnya kebagian belakang leher Kyungsoo. Ia sesapi aroma tubuh Kyungsoo yang begitu nikmat. Seakan terlena Jongin mulai mengecup bagian leher Kyungsoo.
Kyungsoo yang menerima serangan itu hanya pasrah. Tubuhnya mengkhianatinya. Sensasi panas bibir Jongin tertinggal disana. Dan rasa panas itu menyebar hingga keseluruh tubuh. Tanpa sadar Kyungsoo mencengkeram tangan Jongin yang masih berada diperutnya. Minimnya pengalaman akan hal intim dengan seorang pria membuat Kyungsoo tak tau harus seperti apa.
Jongin semakin merapatkan tubuhnya ke tubuh Kyungsoo. Tangannya semakin melingkar dipinggang Kyungsoo. Remasan kecil dari tangan Kyungsoo menyengatnya. Ia semakin kehilangan akal sehatnya.
Jongin semakin gencar menciumi leher Kyungsoo. Bahkan bibirnya sudah mulai menyapu bahu Kyungsoo. Jongin menggeram disela-sela cumbuannya. Jika ia meneruskannya maka semua rencananya gagal.
Jongin dengan perlahan menjauhkan tubuhnya. Bibirnya tak lagi berada dileher Kyungsoo. Tangannya masih bertengger dipinggang Kyungsoo untuk menopang tubuh wanita itu. Nafas Kyungsoo memburu. Tubuhnya lemas. Selama beberapa detik ia mencoba mengumpulkan kesadarannya.
Jongin menggeser tubuh Kyungsoo kearah samping. Ia pandangi wajah Kyungsoo yang memerah karena ulahnya. Jongin tak akan melupakannya. Bagaimana indahnya wajah Kyungsoo saat diselubungi warna merah merona dengan mata sayunya. Jongin menginginkan lebih. Tapi ia harus bersabar.
Kembali Jongin mendekatkan tubuhnya kearah Kyungsoo. Bibirnya ia dekatkan ke telinga Kyungsoo dan berbisik, "Thanks for today"
Jongin membuka pintu apartemen Kyungsoo dan keluar meninggalkan Kyungsoo yang masih terpaku. Seulas senyum Jongin tampilkan saat mata Kyungsoo menatapnya sebelum menghilang. Senyuman yang belum pernah Jongin tunjukkan kepada siapapun.
--:--
Chanyeol dibuat bingung dengan kedatangan Jongin di rumah sakitnya. Tak biasanya Jongin mendatanginya saat weekend. Jongin terkenal akan kesibukannya dan biasanya ia harus pergi ke luar kota untuk mengurus bisnisnya.
Dan disinilah Jongin. Dihadapannya dengan wajah yang selalu menunjukkan senyumnya. Mungkin bagi para wanita itu merupakan suatu keuntungan bisa melihat senyum Jongin yang sangat jarang. Tapi bagi Chanyeol itu hal yang paling aneh selama ia berteman dengan Jongin. Jongin selalu bisa mengontrol ekspresi mukanya sebaik mungkin. Dalam keadaan apapun.
Chanyeol menghentikan acara menulisnya dan memperhatikan Jongin lebih seksama. Hari ini ia memang tak memiliki jadwal praktek tapi ada beberapa hal yang harus ia kerjakan dan berakhirlah weekend ini ia dirumah sakit.
"Sebenarnya ada apa denganmu?" tanya Chanyeol yang sudah sangat penasaran.
Jongin melirik Chanyeol yang menatapnya penuh selidik. Jongin berdehem pelan. Ia membenarkan letal duduknya dan bersikap biasa saja.
"Nothing" balas Jongin sekenanya.
Chanyeol menaikkan sebelah alisnya.
"Lalu apa yang kau lakukan disini?"
"Visiting you"
Chanyeol mendengus mendengar jawaban Jongin. Ia kembali menulis dan mengacuhkan Jongin.
"Aku tadi bertemu 'si mungil'. Siapa namanya?" tanya Jongin membuka percakapan.
Chanyeol mendongak dan menatap Jongin tak mengerti.
"Nugu?"
"Orang yang selalu kau sebut 'si mungil'"
Chanyeol memutar otaknya. Ia mencoba menerka siapa yang dimaksud Jongin.
"Ah! Baekhyun? Adik Kyungsoo?"
Jongin mengangguk.
"Bagaimana kau bisa...? Tunggu! Kau kerumah Kyungsoo?!" pekik Chanyeol.
Jongin memgangguk lagi.
"Woah...Daebak!"
Chanyeol menyandarkan punggungnya kekursi. Dari sekian banyak hal yang dilakukan Jongin ini merupakam hal yang paling membuat Chanyeol terkejut.
"Apa yang kau lakukan disana?"
"Berkunjung"
"Aku tidak sebodoh itu untuk kau bohongi. Apa niatanmu sebenarnya?"
"Bukankah aku sudah bilang aku tertarik dengannya?"
Jongin mendengus pelan. Sahabat bodohnya ini benar-benar lemot. Chanyeol menggeleng.
"Bukan itu maksudku. I know you so well. Apa yang sedang kau rencanakan?"
Chanyeol menatap Jongin serius. Sedangkan Jongin hanya menggidikkan bahunya acuh.
"Aku tau kau merencanakan sesuatu kepada Kyungsoo. Apapun itu ia tak akan terpengaruh"
"Kenapa kau bisa seyakin itu?"
"Aku bisa melihatnya. Dia bukan wanita gampangan yang akan jatuh kedalam pelukanmu. Pendiriannya begitu kuat dan aku suka itu"
Jongin memicingkan matanya.
"Kau menyukainya?"
Wajah Jongin langsung berubah. Guratan tak suka langsung terbaca diwajah Jongin.
"Dari sekian banyak kata-kataku hanya satu kata yang kau pedulikan"
Chanyeol tak langsung menjawab pertanyaan Jongin. Ia melihat ada sesuatu lain yang membuat Jongin tertarik. Dan Jongin tak pernah tertarik dengan wanita manapun selama ini.
"Just answer my question!" desis Jongin.
Oh...Chanyeol suka ini. Jongin tak pernah menunjukkan wajah tak sukanya bila mereka sedang membicarakan seorang wanita. Dan sekarang hanya karena Kyungsoo ia bisa sebegitu defensif ini.
"Aku hanya mengatakan 'Pendiriannya begitu kuat dan aku suka itu' dan kau mengasumsikan aku suka dengannya? Jangan bodoh, Kim Jongin!"
Jongin berdecih. Ia sudah terjebak dengan kata-kata Chanyeol. Sial baginya karena emosinya muncul hanya karena pembicaraan bodoh ini. Dan sekarang Jongin melihat senyum mengejek Chanyeol untuk dirinya.
"I get the point. Thank's for this conversation"
Chanyeol menyunggingkan senyumannya. Senyuman menyebalkan yang paling Jongin benci.
10.06.17
Aku kembali. Support kalian luar biasa.Biar aku lebih semangat jangan lupa review ya...
gomawo...
REVIEW JUSEYO~~~~
