Aku menatap lama laptop didepanku. Aku menimang-nimang harus membuat kata-kata seperti apa. Biasanya aku tak terlalu kesusahan merangkai kata. Tapi kali ini pikiranku buntu dan bingung harus menulis apa.

Aku menyandarkan tubuhku. Aku menyerah. Untuk saat ini. Aku membutuhkan sebuah pengalihan untuk kinerja otakku. Ku lirik jam dinding yang ada diruanganku. Ternyata sudah waktunya makan siang.

Aku mengambil kunci mobilku yang ada dimeja. Sepertinya keluar untuk makan siang dapat sedikit membantuku. Aku membuka pintu ruanganku dan tak menemukan Minji disana. Aku rasa dia sudah pergi ke kantin.

Aku melesat menuju lift. Tak butuh waktu lama aku berada didalam mobilku. Aku mulai menjalankannya dan bergerak bebas dijalan raya. Satu tujuanku yaitu sebuah resto dekat sungai Han. Tempat itu favoritku dan Baekhyun bila kami merasa penat. Pemandangan yang bagus dapat menjernihkan pikiran.

Aku memakirkan mobilku dan langsung bergegas masuk kedalam resto. Disaat jam siang seperti ini resto cukup ramai. Karena letakknya strategis jadi banyak pengunjung yang datang disaat jam makan siang.

Aku memesan menu andalanku dan duduk dimeja terluar dilantai dua. Tak banyak yang menduduki tempat ini karena memang tempat ini lebih panas karena terkena sinar matahari langsung. Tapi aku suka. Aku menatap pemandangan luar resto yang langsung mengarah kearah sungai Han.

Pesananku pun datang dan aku mulai menyantapnya. Pemandangan ini selalu bisa menenangkan pikiranku. Segala rutinitas dikantor dan satu masalah pribadi akhir-akhir ini hinggap di benakku. Membuatku stress dan tak bisa berfikir jernih.

"Kyungsoo?"

Aku menoleh saat ada yang memanggil namaku. Dan saat itu juga aku menyesalinya. Aku mencoba mengabaikannya dan kembali menyantap makananku.

Seorang laki-laki menghampiriku dan berdiri tepat disampingku. Aku hanya melirik sekilas kearahnya tanpa menoleh.

"Boleh aku bergabung?"

Tidak! Jeritku dalam hati. Dari sekian banyak orang yang ada disini kenapa harus bertemu dengan sumber masalahku. Aku menampilkan wajah biasa saja. Aku sudah melatihnya agar mulai terbiasa menghadapi satu orang.

"Sure" sahutku singkat.

Namja itu mulai duduk disebelahku sambil terus menatapku. Aku menoleh dan langsung membalas tatapannya.

"Apa yang sedang anda lakukan disini?" tanyaku seformal mungkin.

"Berbisnis"

"Seorang profesional memang beda" kataku sambil tersenyum.

Aku kembali memusatkan perhatiaku pada makanan yang tinggal sedikit. Dengan beberapa suap akhirnya aku menyelesaikan makan siangku. Aku membereskan makan siangku dan meminum air yang disediakan. Tanpa mengulur banyak waktu aku langsung berdiri.

"Maaf tapi saya harus kembali" ucapku.

Aku melihat namja disebelahku yang masih terus menatapku. Aku membungkuk sekilas dan beranjak pergi. Tapi tanganku ditahan oleh namja itu. Aku berbalik dan menatap sopan kearahnya.

"Maaf. Tolong lepaskan tangan saya" pintaku sopan.

"Apa yang terjadi dengan dirimu?" tanyanya.

Aku menaikkan satu alisku tanda bingung.

"Apa maksud anda?"

"Sikapmu berbeda. Apa terjadi sesuatu?" tanyanya lembut.

"Saya tak mengerti maksud anda. Dan tolong lepaskan tangan saya"

Aku berusaha menarik tanganku tapi masih saja digenggam erat oleh namja itu.

Tanganku ditarik hingga berada didekat wajahnya. Tanpa diduga dia mencium punggung tanganku penuh kelembutan. Aku sempat tersentak dengan perlakuannya tapi aku berusaha menahan emosiku. Aku berhasil mengubah ekspresiku menjadi dan datar tak terbaca.

Ia melirik kearahku setelah melepaskan ciumannya. Diwajahnya tanpa tak senang dengan reaksiku. Ia melonggarkan genggamannya sehingga aku bisa menarik tanganku. Ia seperti menunggu sesuatu. Seperti ada antisipasi luar biasa yang ia nantikan. Tapi aku hanya diam. Aku sudah memutuskan untuk tak menanggapi dengan berlebihan apa yang dilakukan namja ini kepadaku. Aku tak ingin terjebak lagi dalam permainannya. Aku, Do Kyungsoo tak akan jatuh lagi dalam permainan Kim Jongin.

"Jika anda sudah selesai berbincang saya akan pergi. Jam makan siang saya sebentar lagi habis"

Aku melirik jam tanganku.

"Saya permisi"

Aku membalikkan badanku dan pergi meninggalkannya. Tak ada lagi Kyungsoo yang kemarin. Aku terlalu bodoh hingga bisa terlena dengan perlakuannya. Aku sudah memikirkannya matang-matang. Orang seperti Kim Jongin tidak bisa dilawan dengan pemberontakan. Ia akan semakin menjadi-jadi dan semakin intens melakukan serangan. Tapi kali ini aku hanya diam dan tak menanggapi. Aku berharap ia akan bosan denganku kemudian mundur teratur.

Sesampainya dikantor, Minji terlihat terkejut. Mungkin ia berfikir aku ada didalam ruangan seharian karena memang aku mengatakan tidak ingin diganggu.

"Saya kira bujangnim didalam"

Aku tersenyum.

"Aku butuh udara segar. Saat aku keluar kau tak ada ditempat" jelasku.

"Untung saja saya tidak masuk kedalam. Jika saya tidak menemukan anda diruangan saya pasti langsung panik" komen Minji.

"Kau berlebihan seperti biasa"

Aku hendak masuk kedalam ruanganku tapi Minji mencegahku.

"Bujangnim hari ini ada rapat tadi sekertaris Im meneleponku"

"Kenapa mendadak?" heranku.

"Saya kurang tau. Dan rapat kali ini dengan Kim Corp. Anda diminta mempresentasikan laporan anda" jelas Minji sambil membaca tulisan didalam notenya.

"Apa?! Tapi ini belum batas waktunya?!" erang Kyungsoo.

Minji hanya mengangkat kedua bahunya sambil menggeleng lemah. Aku menghembuskan nafas sebal. Aku langsung menuju ruanganku dan mempersiapkan segalanya. Untung saja laporanku sudah hampir selesai dan tinggal direvisi.

Ponselku berbunyi. Aku melirik siapa yang meneleponku dan ternyata bosku. Tumben sekali bosku langsung menelepon ponselku saat aku masih dikantor. Aku mengambilnya dan langsung mengankatnya.

"Hallo"

"Kyungsoo-ah! Cepat ke ruang rapat dilantai atas. Aku menunggumu"

Aku menatap ponselku yang kini layarnya berubah hitam. Setelah mengatakan itu bosku langsung saja mematikan panggilannya. Aku bergegas membereskan dokumenku dan merapikan laptopku.

Sialnya hari ini aku bertemu namja itu dua kali. Dan seakan kesialanku terus bertambah, aku melihatnya tersenyum saat aku masuk ke ruang rapat. Aku tersenyum kecil menyapa beberapa orang disana.

Ternyata bukan hanya aku, bosku dan dia di rapat kali ini. Tapi semua kepala bagian ikut bergabung. Semua tersenyum kearahku memberi semangat. Mereka pasti tau jika ini adalah rapat dadakan yang mungkin bisa sangat kacau bila semua belum siap.

Aku segera menyiapkan semua keperluanku dengan sedikit bantuan dari sekertaris Im. Setelah selesai aku duduk ketempatku dan menunggu rapat ini dibuka.

"Kita mulai rapat hari ini. Terima kasih kepada tuan Kim yang sudah menyempatkan hadir disini untuk mendengarkan proges proyek ini"

Aku melihat Jongin menganggukkan kepalanya sekenannya dengan senyum kakunya. Aku hampir memutar kedua bola mataku tapi aku tahan. Semua kepala bagian memberikan senyum tapi ia hanya membalas seadanya. Benar-benar kurang sopan.

"Mari kita dengarkan presentasi dari Do bujangnim yang memimpin langsung proyek ini. Silahkan, Do bujangnim"

Aku bangkit dari kursiku dan mulai menampilkan hasil laporanku sesuai dengan keinginan klienku. Aku menjelaskan secara detail laporanku. Aku menampilkan beberapa kendala jika melakukan sesuai keinginan klien dan memberikan poin plus rencana awal kami.

Semua menyimak penuturanku dengan baik. Aku lihat beberapa kepala bagian lain tersenyum bangga dengan presentasiku. Aku rasa presentasi hari ini cukup lancar. Aku melihat ke arah Jongin yang sibuk mendengarkanku dan membaca laporanku. Wajahnya sangat serius. Aku sulit membaca reaksinya. Tiba-tiba aku gugup.

Aku menyelesaikan semua dengan lancar. Lee sajangnim dan keplaa bagian lain bertepuk tangan saat aku menutup presentasiku. Rasanya sangat lega walaupun ini bukan laporan akhir. Jongin menatapku penuh makna. Ia menyunggingkan senyuman andalannya. Ia tak bertepuk tangan seperti yang lain dan aku masa bodoh dengan itu.

"Sangat bagus, Miss Do. Aku terkesan" sanjung Jongin.

Aku tau jika ia hanya berpura-pura menyanjungku. Matanya berkilat geli saat menatapku. Seakan-akan ia mengejekku. Aku menampilkan ekspresi datarku sebaik mungkin.

"Terima kasih"

Aku kembali duduk. Semua kini menunggu respon dari perwakilan Kim Corp. Semuanya ditentukan oleh keputusannya. Jongin memberikan hasil laporanku yang tadi dibacanya. Saat laporan itu berada ditanganku langsung saja aku buka setiap lembarannya. Banyak sekali coretan dan tanda-tanda yang diberikan Jongin disana.

"Masih ada yang perlu diperbaiki, Miss Do. Dan aku menyetujui usulanmu"

Lee sajangnim langsung menepuk bahuku bangga. Akhirnya hasil jerih payahku tak sia-sia. Aku tersenyum lega.

Semua yang ada diruang rapat berdiri. Beberapa dari mereka pamit kembali ke ruangannya. Kyungsoo membereskan perlengkapannya ditemani oleh Lee sajangnim.

Jongin mendekati Lee sajangnim dan Kyungsoo. Keduanya langsung menoleh ketika Jongin berada disampingnya.

"Bisakah kita berbicara berdua, Miss Do? Ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan tentang laporanmu" ucap Jongin.

Lee sajangnim mengangguk lalu menepuk bahu Kyungsoo sebelum pergi. Ia mengajak sekertarisnya turut serta. Jongin memberi kode kepada Daehyun untuk menunggu diluar.

Setelah semua keluar, Jongin duduk disebelah Kyungsoo dan menatapnya. Sedangkan Kyungsoo hanya diam membereskan peralatannya.

"Jadi apa yang ingin anda bicarakan?" tanya Kyungsoo melirik kearah Jongin.

"Tatap mataku saat berbicara!" tegas Jongin.

Kyungsoo mencoba bersabar dan menuruti perintah Jongin. Kyungsoo menggeser tempat duduknya hingga sekarang berhadapan dengan Jongin.

"Apa ada keberatan yang anda keluhkan?"

"Kau tak banyak melawan"

"Ne?"

Kyungsoo mengerutkan dahinya tak mengerti. Jongin mengambil kedua tangan Kyungsoo dan menggenggamnya erat. Kyungsoo semakin dibuat bingung dengan tingkah Jongin.

"Sebenarnya anda mau membicarakan apa?"

Kyungsoo berusaha menarik tangannya tapi kalah kekuatan dengan Jongin. Jongin menggenggamnya terlampau erat.

"Kau. Sikapmu berubah"

Jongin menatap Kyungsoo dengan pandangan yang menghunus. Kyungsoo sedikit gentar dengan tatapan itu. Jongin mengintimidasinya terlalu kuat hingga ia merasa sedikit takut.

"Jika anda hanya membicarakan hal diluar pekerjaan maka saya tidak bisa menemani anda. Saya sedang bekerja saat ini"

Kyungsoo menarik kuat tangannya hingga terlepas. Ia berdiri dan langsung meninggalkan Jongin. Jongin ikut berdiri dan mengikuti Kyungsoo. Sebelum sempat Kyungsoo membuka pintu, Jongin sudah berada dibelakangnya dan menahan segala gerak Kyungsoo. Jongin memenjarakan tubuh Kyungsoo dengan kedua tangannya.

Mata Kyungsoo melebar dan ia mulai panik. Kyungsoo tak ingin mengalami kejadian yang sama seperti dirumahnya. Kyungsoo hendak membalikkan tubuhnya tapi tak bisa. Tubuh Jongin mendesak Kyungsoo hingga tak bisa bergerak.

Jongin menciumi belakang leher Kyungsoo dan menghirup aromanya. Aroma yang ia rindukan. Sejak kejadian dirumah Kyungsoo, Jongin jarang bertemu dengan Kyungsoo untuk sekedar mengganggunya karena jadwalnya yang padat. Dan sekalinya ia bisa bertemu, Kyungsoo berubah sikap dan itu membuat Jongin marah.

Kyungsoo mulai bergerak tak nyaman. Dia menyesali ikatan rambutnya yang ia ikat ekor kuda hingga lehernya terlihat jelas.

"Ada apa denganmu? Kau tak banyak melawan. Kau lebih menyenangkan saat membalas semua perkataanku"

Perkataan Jongin langsung mengena didiri Kyungsoo. Kyungsoo sudah mengetahui jika Jongin hanya mempermainkannya. Tapi dengan Jongin mengakuinya secara langsung membuatnya emosi. Kyungsoo bukan wanita sembarangan yang bisa dipermainkan.

Kyungsoo membalikkan tubuhnya cepat hingga Jongin mundur beberapa langkah. Jongin menatap heran Kyungsoo. Sedangkan Kyungsoo menatapnya marah. Batas kesabaran Kyungsoo habis. Ia sudah malas dan lelah meladeni segala permainan Jongin yang entah apa maksudnya.

"Jika anda ingin mencari orang untuk dipermainkan itu bukan saya! Saya bukan seorang wanita yang mudah dipermainkan oleh orang semacam anda!"

Kyungsoo melotot kearah Jongin dengan suara yang sangat dingin.

"Jadi saya harap anda menjauhi saya diluar konteks bisnis. Karena saya tak sedikitpun tertarik dengan segala macam trik yang anda gunakan!"

Kyungsoo membuka pintu dengan cepat dan membantingnya keras. Jongin sendiri masih saja diam. Daehyun bergegas masuk kedalam ruang rapat saat mendengar suara bantingan pintu.

"Sajang...-nim"

Suara Daehyun melemah saat melihat bosnya tertawa terbahak. Daehyun kira terjadi sesuatu kepada bosnya dan sekarang ia mendapati bosnya tertawa lepas hingga tubuhnya terguncang.

Jongin mengusap rambutnya sambil meredakan tawanya yang meledak. Oh...ini sangat menyenangkan. Semua berubah menjadi menarik. Dan Jongin semakin bersemangat untuk mendapatkan Kyungsoo.

"Aku harus mendapatkanmu. You're mine, Do Kyungsoo" gumam Jongin dengan seringaiannya.

--:--

Kyungsoo membanting tubuhnya diatas kasur. Hari yang buruk untuknya. Selalu saja rasa penyesalan datang karena bertemu dengan lelaki itu. Kyungsoo berharap namja itu tak akan mendekatinya setalah apa yang dikatakan tadi.

Selama hidupnya Kyungsoo selalu bisa mengahadapi segala macam pria yang mendekatinya. Ia selalu melakukan segala cara untuk menyingkirkan lelaki yang ingin masuk ke kehidupannya.

Kyungsoo tak butuh lelaki untuk ikut campur dalam hidupnya. Ia bisa sendiri. Selama ini selalu begitu. Dan Kyungsoo tak ingin dan tak mau memasukkan lelaki kedalam urusan hidupnya maupun adiknya. Mereka sudah bahagia hanya berdua. Tak perlu ada yang lain.

Pintu kamar Kyungsoo diketuk lalu dibuka pelan oleh seseorang. Kyungsoo menoleh dan mendapati kepala Baekhyun menyembul dibalik pintu. Kyungsoo mengubah posisinya menjadi duduk dan melambai kearah Baekhyun untuk masuk.

Baekhyun langsung masuk kedalam kamar Kyungsoo dan tak lupa menutup pintunya. Baekhyun merangkak kearah Kyungsoo dan duduk berhadapan dengan eonnienya.

"Eonnie gwenchana?" tanya Baekhyun.

"Gwenchana. Ada apa?" tanya Kyungsoo balik.

Baekhyun menggeleng.

"Hanya saja raut wajah eonnie terlihat kesal"

Kyungsoo tersenyum.

"Hanya ada masalah dikantor"

"Kau sudah makan?"

Baekhyun menggeleng. Kyungsoo terlihat berfikir.

"Aku sedang tak mood untuk memasak. Bagaimana jika kita pergi keluar?" tawar Kyungsoo yang langsung diangguki cepat oleh Baekhyun.

"Kalau begitu kita bersiap-siap!"

--:--

Kakak beradik itu menyusuri sungai Han setelah acara makan malam mereka. Rasanya sudah lama Kyungsoo tak mengajak adiknya berjalan-jalan seperti ini. Baekhyun terlihat senang dan Kyungsoo sangat bersyukur akan hal itu.

Mereka mencari tempat duduk yang mengarah langsung ke sungai Han. Banyak orang yang berlalu lalang menikmati udara malam disungai Han. Lampu kemerlap menambah suasana bahagia diantara Kyungsoo. Santai seperti ini jarang ia dapatkan karena pekerjaannya yang menguras waktu.

"Kyungsoo?"

Kyungsoo menoleh dan tak jauh darinya berdiri sesosok namja tinggi dengan senyuman lebar. Namja itu mendekati Kyungsoo.

"Ternyata benar itu kau" sahut namja itu senang.

"Oh...Baekhyunie! Annyeong!"

Namja itu melambai kearah Baekhyun yang hanya menatapnya malas. Baekhyun tak sedikitpun membalas lambaian tangan namja itu.

"Apa yang anda lakukan disini, Chanyeol-ssi?" tanya Kyungsoo.

"Aku hanya berjalan-jalan. Kebetulan aku sudah menyelesaikan pekerjaanku lebih cepat jadi sekarang disinilah aku" jelas Chanyeol.

"Kalian sedang berjalan-jalan malam juga?" tanya Chanyeol basa-basi.

"Kau punya mata tapi tak bisa melihat" cibir Baekhyun pelan yang dibalas cubitan dari eonnienya.

Chanyeol hanya terkekeh melihat tingkah lucu Baekhyun.

"Tak ku kira kita akan bertemu disini. Bagaimana kakimu?"

"Baik. Dan aku sama sekali tak merasakan nyeri lagi"

Kyungsoo menggeser duduknya agar Chanyeol dapat duduk. Chanyeol langsung duduk disebelah Kyungsoo dan melanjutkan pembicaraan mereka. Baekhyun yang sedari tadi dicuekipun hanya bisa memberengut kesal kearah Chanyeol. Harusnya ini adalah momennya bersama eonninya tapi namja dengan telinga lebar itu mengganggunya.

"Baekie marah?" tanya Chanyeol yang badannya ia condongkan kedepan agar bisa melihat Baekhyun lebih leluasa.

Kyungsoo menoleh kearah Baekhyun dan benar saja adiknya itu sedang memanyunkan bibirnya.

"Jangan sok akrab dengan memanggilku 'Baekie'. Kita tak sekenal itu" ketus Baekhyun.

Chanyeol terkekeh sedangkan Kyungsoo memelototkan matanya. Sejak kapan adiknya ini menjadi tak sopan begini.

"Aku kan hanya mencoba mengakrabkan diri. Biar kita lebih saling mengenal" goda Chanyeol.

Baekhyun mendengus.

"Ahjussi. Sebaiknya ahjussi mencari wanita yang seumuran dengan ahjussi saja untuk digoda" sarkas Baekhyun.

"Ahjussi?" kaget Chanyeol mengulang panggilan Baekhyun untuknya.

Kyungsoo menepuk pelan lengan adiknya. Keduanya saling bertatapan dengan bibir komat kamit yang hanya bisa mereka pahami.

"Mianhae, Chanyeol-ssi. Baekhyun sedikit keterlaluan" sesal Kyungsoo.

Sedangkan Chanyeol masih terkejut. Kedua matanya melebar dengan ekspresi bodohnya tercetak jelas diwajahnya. Tak disangkanya ia mendapatkan serangan telak dari Baekhyun yang memanggilnya 'ahjussi'.

"Kita hanya berbeda 7 tahun klo aku tak salah hitung" gumam Chanyeol.

"Ne?" sahut Kyungsoo bingung.

"Maka dari itu aku memanggilmu 'ahjussi'. Saat aku berumur 25 tahun kau sudah berumur 32 tahun" timpal Baekhyun yang mendengar gumaman Chanyeol.

Chanyeol termenung. Apa yang dikatakan Baekhyun ada benarnya juga. Selisih umur mereka memang lumayan jauh. Dan hal itu membuat batasan tersendiri bagi hubungan Chanyeol dan Baekhyun.

Ponsel Chanyeol berdering yang seketika itu membangunkan Chanyeol dari pemikirannya. Chanyeol langsung mengangkat panggilan itu.

"Yo"

"Aku ada di sungai Han. Neo eodiya?"

Chanyeol menoleh ke segala arah untuk mencari seseorang. Matanya menyipit agar melihat lebih jelas. Saat menemukan orang yang dicari ia langsung melambaikan tangan memberi tanda keberadaannya. Chanyeol mematikan panggilannya. Kyungsoo dan Baekhyun mengikuti arah lambaian Chanyeol. Dan kesialan beruntun bagi Kyungsoo saat tau siapa yang sedang ditunggu oleh Chanyeol.

14.06.17

Wow...akhirnya aku apdet lagi. Dan menurut kalian bagaimana? Kakak beradik Do jutek banget ya sama cowo, hahaha. Biarkan saja lah.

Aku mau minta saran kalian, setelah ini kalian ingin lanjut cerita dari Kaisoo atau side storynya chanbaek? Dipilih ya untuk apdetan selanjutnya

A. Kaisoo

B. Side story chanbaek

Ada yg tanya akun wattpad ku?? cek bio ya

REVIEW JUSEYO~~~