I DON'T NEED A MAN

.

.

.

.

.

KAISOO FANFICTION

.

.

.

BY KAISOOLOVERS

.

.

.

.

ORIGINAL IDEAS. DONT PLAGIAT. DLDR. GS. EXO. KAISOO. MAINSTREAM STORY

.

.

.

HAPPY READING

.

.

.

ENJOY

.

.

.

Aku memarkir mobilku didekat site proyek yang akan aku kunjungi. Kedatangan mendadak ini langsung membuat heboh beberapa staffku. Kulihat mereka langsung berlari menghampiriku dengan pandangan penuh tanya.

"Kenapa bujangnim ada disini?" tanya Pak Go mandor proyek disini.

"Apa tidak boleh? Atau jangan-jangan ada sesuatu yang pak Go sembunyikan?" candaku.

Pak Go tertawa. Dari sekian banyak staffku dilapangan aku sangat percaya dengan pak Hong dan pak Go. Beliau berdua sangat berpengalaman dan sangat disiplin. Aku selalu mempercayakan proyek besar kepada mereka.

Pak Go mempersilahkanku menuju ruang istirahat dimana semua pekerja sedang istirahat sejenak. Memang sudah waktunya mereka istirahat karena hari sudah terlalu sore. Pekerjaan akan dilanjutkan setelah matahari tenggelam.

Aku sempat mengobrol dengan beberapa pekerja untuk menanyai kendala yang terjadi dilapangan. Mendengarkan keluhan mereka termasuk evaluasi dari proyek ini. Aku ingin memberikan yang terbaik untuk mereka dan menjamin keselamatan mereka.

Setelah berkeliling, aku memutuskan untuk pergi ke hotel dimana aku menginap. Aku sudah memesannya selama perjalanan tadi. Aku rasa satu atau dua hari cukup untuk kunjunganku dan menenangkan pikiranku.

Aku memasuki kamar hotelku lalu merebahkan tubuhku dikasur. Hari ini melelahkan. Aku ingin segera melaluinya dan berharap tak ada kejadian seperti tadi lagi.

Aku bangun dan beranjak ke kamar mandi. Berendam air hangat mungkin bisa membantu merilekskan tubuhku. Rasa nyaman menjalar keseluruh tubuhku saat air merendam tubuhku. Sedikit sentuhan musik menambah kesan rileks.

Samar-samar aku mendengar seseorang mengetuk pintu kamarku. Aku bernajak dalam bath tube dan membilas tubuhku. Aku masih ingin berendam lebih lama lagi tapi kesenanganku terganggu hanya karena seseorang. Aku mengerang kesal sambil memakai bath robe ku. Rambut setengah basahku aku gerai.

Tanpa mempedulikan siapa yang mengetuk pintu aku langsung membuka pintu. Aku terperanjat saat melihat Jongin berdiri dengan wajah marahnya. Matanya memancarkan aura kesadisan. Sebelum sempat aku menanyakan sesuatu, ia langsung menarikku kedalam kamar dan membanting pintu kamar.

"Yak!" pekikku terkejut dengan suara pintu yang tertutup keras.

Aku menyentakkan tanganku keras hingga terlepas.

"Kau gila!" semburku marah.

"Kau!"

Jongin menggeram marah kearahku. Kata-katanya begitu syarat akan kecaman. Rahangnya mengeras dengan mulut datar tertutup rapat.

Aku beringsut takut dengan tatapannya. Ada apa dengannya? Kenapa dia selalu datang marah-marah yang seharusnya aku yang matah disini.

Aku memundurkan kakiku. Dan setiap langkahku diikuti olehnya. Kakinya yang panjang dengan langkah yang lebar berhasil mempersempit jarak kami. Aku mengeratkan ikatan bath robe ku.

Dengan sebuah dorongan keras, ia menjatuhkanku diatas kasur. Aku terkejut. Bagian bawah bath robe ku sedikit tersingkap hingga menunjukkan pahaku. Aku segera membenarkannya tapi tanganku ditahan oleh tangan Jongin.

Mata Jongin menatapku dengan cara berbeda sekarang. Tak lagi terlihat aura mencekamnya dan tergantikan pandangan penuh hasrat. Alarmku berbunyi kencang. Aku menjadi semakin waspada dengan apa yang akan dilakukan oleh namja nekat ini.

Aku mencoba untuk duduk tapi Jongin dengan cepat mendorong tubuhku dan mengunci kedua tanganku diatas kepalaku. Dalam posisi ini jubah mandiku semakin terangkat dan hanya menutupi sebagian pahaku.

"Kau begitu menggoda" bisik Jongin dengan suara rendahnya.

Aku gelagapan saat tangannya membelai kakiku hingga ke paha. Aku mencoba memberontak tapi tangannya sangat kuat menahanku. Senyumnya mengejek karena ketakberdayaanku. Tubuh Jongin yang berada diatasku semakin menguntungkannya. Ia semakin menyeringai melihatku.

Ada sebuah ide terlintas didalam otakku. Langsung saja aku tekuk lututku dan dengan cepat aku menendang asetnya. Jongin mengerang menahan sakit dan itu kumanfaatkan untuk mendorong tubuhnya hingga terjungkal.

Aku langsung terduduk dan membenarkan letak jubah mandiku. Aku mentapnya nyalang yang masih kesakitan dibawah.

"Kau berengsek!" makiku.

Jongin mencoba bangkit sambil meringis. Wajahnya tampak terhibur dengan perlakuanku kepadanya. Aku pikir dia seorang psyco gila. Dia seperti senang dengan apa yang aku lakukan.

"Kau sangat menarik. Aku harus segera mendapatkanmu" ucap Jongin penuh makna.

"Apa yang membawamu kemari?" tanyaku mengabaikan ucapannya barusan.

"Tentu saja menemukan tawananku yang kabur"

Jongin memberikan smirknya yang membuatku langsung merinding.

"Aku bukan 'tawanan'mu! Lagipula kenapa kau sampai mencariku? Tak ada urusannya denganmu"

Jongin terkekeh. Ia merapikan bajunya.

"Aku sudah mengatakan padamu, babe. Kau tak akan pernah lepas dariku"

"Untuk seorang yang sudah bertunangan aku fikir itu bukan hal yang baik menggoda wanita lain"

Wajah Jongin langsung berubah. Wajah jenakanya hilang dan digantikan dengan wajah seriusnya. Sepertinya perkataanku menyinggungnya.

"Dia bukan tunanganku. Dia hanya 'mantan' tunanganku" sahut Jongin dingin.

Aku memutar kedua bola mataku.

"Terserah dia tunanganmu atau mantan tunanganmu yang pasti aku tak ingin terlibat apapun dengan dirimu"

Jongin menyunggingkan senyuman mengejeknya.

"Kau yakin?"

Aku menatapnya malas.

"Tentu saja yakin. Lelaki sepertimu adalah seorang pembohong besar. Kau menjadikan wanita sebagai mainanmu. Kau pikir wanita itu boneka?" ejekku.

Aku sudah muak dengan pembicaraan ini.

"Sekarang keluar dari kamarku!"

Jongin tersenyum remeh kearahku.

"Kau tak bisa seenaknya saja mengusirku, miss Do. Hotel ini milikku"

Aku membulatkan mataku. Apa yang dia bilang? Hotel yang aku tempati adalah hotel miliknya? Lain kali aku harus membuat daftar aset milik Kim Corp agar tak bertemu dengannya lagi.

"Lalu kalau ini hotelmu kenapa?" tantangku.

Jongin berjalan kearahku. Aku langsung merapatkan jubah mandiku. Sepertinya ketakutanku akan dirinya terlihat jelas dimata Jongin. Ia tertawa geli melihat tingkahku.

"Nikmati malammu, miss Do. Atau jika kau menginginkan kita bisa menikmati malam bersama"

Aku mendelik mendengar kata-katanya. Jongin berbalik dan berjalan menuju pintu kamar.

"Ah...ada yang terlupa. Untuk apa yang dilakukan yeoja itu kepadamu. Aku akan membalasnya beribu-ribu kali lipat" ucapnya tanpa berbalik.

Seperti sebelum-sebelumnya, Jongin tersenyum miring sebelum meninggalkanku. Oh God! Ingin sekali aku menonjok mukanya itu.

Aku penasaran dengan apa yang dikatakannya tadi. Bagaimana ia tau jika mantan tunangannya melakukan sesuatu kepadaku? Dan kenapa dia berada di Busan?

Aku mengenyahkan pemikiran-pemikiran tak bergunaku. Aku baru sadar jika aku masih belum memakai baju dan rambutku masih basah. Langsung saja aku menuju kamar mandi untuk mengeringkan rambut dan memakai pakaianku.

Aku bisa gila jika tadi Jongin benar-benar menyentuhku lebih jauh. Dan kenapa aku dengan bodohnya bisa tak berdaya dalam cengkramannya. Aaarrgghhh! Aku selalu saja terjebak disituasi yang sama. Aku mengutuk diriku.

--:--

Jongin menunggu kabar dari Daehyun. Memikirkan Kyungsoo dilukai oleh yeoja itu membuat Jongin semakin geram. Lagipula mereka sudah tak ada hubungan sama sekali. Pihak Jongin dan pihak wanita itu sudah setuju untuk membatalkan pertunangan ini. Jadi yeoja itu tak pantas memperlakukan Kyungsoo dengan buruk.

Daehyun datang dengan wajah panik. Jongin menanti hasil laporan dari Daehyun dengan amarah yang masih ditahannya.

"Sajangnim! Saya mendapatkan kabar jika mantan tunangan anda menampar nona Kyungsoo"

Brak

Daehyun kaget dengan gebrakan meja Jongin. Daehyun mengerut takut melihat wajah bosnya. Aura mematikan terpancar diseluruh tubuh Jongin. Pandangannya menusuk syarat akan kebencian. Sisi lain dari Kim Jongin yang Daehyun takuti dari bosnya.

"Lalu dimana Kyungsoo?" tanya Jongin dingin.

"Nona Kyungsoo berada di Busan"

"Cek semua hotel yang ada di Busan. Cari tau dimana dia menginap"

Daehyun mengangguk lalu pergi. Jongin mengambil jas dan kunci mobilnya. Ia harus segera ke Busan. Daehyun yang melihat Jongin keluar langsung memberikan sebuah ponsel baru. Jongin menerimanya dan langsung pergi.

Sudah menjadi kebiasaan Daehyun untuk menyiapkan segala kebutuhan Jongin. Daehyun tau amat sangat tau jika bosnya suka sekali menghancurkan ponsel miliknya. Daehyun selalu menyiapkan ponsel cadangan untuk bosnya itu.

Jongin mengendarai mobilnya sangat cepat. Ia harus sampai di Busan sebelum matahari tenggelam. Ponsel Jongin berdering dengan nama Daehyun tertera dilayar. Jongin memakai earphone bluetoothnya dan mengangkat panggilannya.

"Bagaimana?"

"Nona Kyungsoo berada hotel mewah kita yang ada di Busan, sajangnim"

"Cari tau dia ada dikamar berapa lalu aku ingin kunci masternya. Siapkan kamar juga untukku disana"

"Ne, sajangnim"

Jongin melepas earphonenya dan melemparnya asal. Akhirnya ia bisa mendapatkan lokasi Kyungsoo. Sebuah keuntungan bagi Jongin karena Kyungsoo berada di salah satu asetnya. Itu akan memudahkan Jongin mengawasi Kyungsoo.

Jongin semakin mempercepat laju kendaraannya. Ia merasa marah kepada dirinya. Ia tak memperhitungkan kedatangan yeoja gila itu. Jongin tau jika yeoja itu sangat terobsesi kepadanya. Oleh karena itu ia membatalkan pertunangan mereka. Lagipula pertunangan itu dilakukan untuk penggabungan dua perusahaan. Dan Jongin lebih memilih merugi daripada harus bersama yeoja itu. Toh kerugian yang ia terima tak sebanding dengan seluruh kekayaannya.

Setelah perjalanan jauh itu akhirnya Jongin sampai juga di hotel. Kedatangannya langsung disambut oleh manajer operasional hotel disana. Jongin segera dibawa ke ruang VVIP.

"Apa dia sudah ada disini?" tanya Jongin duduk disalah satu sofa.

"Ne, sajangnim. Sudah dari setengah jam yang lalu"

"Kamarku?"

"Saya sudah siapkan disamping kamar nona Kyungsoo"

"Bagus"

Jongin berdiri dengan membenarkan jasnya.

"Apa anda membutuhkan master key-nya?"

"Tidak. Aku tak perlu menerobos masuk"

"Anda ingin diantar?"

"Tak perlu. Katakan saja dia dikamar berapa"

"Beliau ada dikamar 1214"

Jongin keluar dari sana dan langsung menuju kamar hotel Kyungsoo. Entah apa yang nanti akan dilakukannya jika bertemu Kyungsoo yang jelas ia harus menstabilkan emosinya. Wanita itu sungguh keras kepala. Terkadang mulut mungil wanita itu bisa menyulut emosinya.

--:--

Kyungsoo bersiap ke tempat proyeknya lagi. Hari ini ia ingin memantau keseluruhan bangunan sekaligus membuat laporan. Kyungsoo sudah berpakaian rapi. Ia memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu.

Pintu kamar Kyungsoo diketuk. Kyungsoo mencoba melihat dulu siapa yang berada diluar kamarnya. Ternyata ada seorang pelayan. Seingatnya, Kyungsoo tak meminta room service apapun. Kyungsoo membuka pintu kamarnya yang langsung disuguhi senyuman hangat seorang pelayan wanita dengan troli makanan.

"Bawa kedalam" perintah seseorang.

Kyungsoo melongok dan ternyata ada Jongin disana. Dengan gaya bossy-nya, Jongin menyuruh pelayan itu masuk. Pelayan itu menuruti perintah Jongin dan meminta ijin masuk kedalam kamar Kyungsoo. Kyungsoo memberikan akses pelayan itu dengan keadaan bingung.

Jongin mendekati Kyungsoo dan meraih tangannya. Ia kecupi jari-jari Kyungsoo dengan lembut. Kyungsoo yang diperlakukan seperti itu hanya diam dan bingung.

"Morning, beautiful. Mari sarapan bersama" ajak Jongin.

"Tunggu! Apa yang kau lakukan disini?" tanya Kyungsoo linglung.

"Tentu saja sarapan bersamamu" jawab Jongin santai.

"Aku bisa sarapan dibawah" sahut Kyungsoo.

"Kenapa sarapan disana jika disinipun kau bisa melakukannya?"

Sang pelayan yang sudah menyiapkan sarapan pamit undur diri. Jongin menuntu Kyungsoo masuk dan pelayan tadi keluar sambil menutup pintu kamar.

Kyungsoo melepaskan tangannya. Ia meneliti Jongin dari atas hingga kebawah. Namja ini tak sedang memakai pakaian formalnya. Bahkan jauh kelewat santai.

"Kau tidak bekerja?"

"I'm the boss"

Kyungsoo memutar tubuhnya dengan mengibaskan tangannya tak menimpali jawaban Jongin. Percuma juga berbicara dengan namja ini.

Kyungsoo duduk di sofa dimana didepannya sudah tersaji banyak makanan untuk disantapnya. Jongin mengikuti Kyungsoo dan duduk disebrangnya. Ia ambil secangkir kopi dan menikmatinya. Kopi pahit dipagi hari ditambah Kyungsoo dihadapannya membuat paginya cerah.

Jongin menikmati setiap momennya. Keduanya memang tak banyak bicara tapi berada satu ruangan dengan Kyungsoo membuat Jongin senang. Gadis didepannya sama sekali tak mengajaknya berbicara bahkan meliriknya. Ia hanya diam dan menikmati sarapannya.

"Apa yang dilakukan wanita itu padamu?" tanya Jongin.

Kyungsoo yang sedang menikmati tehnya menghentikan sejenak sambil melirik kearah Jongin kemudian menaruh cangkirnya diatas meja.

"Bukan urusanmu" sahut Kyungsoo singkat.

"Apa dia mengatakan sesuatu?" tanya Jongin lagi.

Kyungsoo mengambil serbet dan menyeka mulutnya. Ia berdiri hendak pergi.

"Aku harus kembali ke lapangan. Terima kasih atas makanannya"

Jongin meletakkan cangkir kopinya dan menatap Kyungsoo yang sedang mengambil tasnya. Jongin menghampiri Kyungsoo dengan langkah senyapnya. Ketika Kyungsoo berbalik, ia terkejut mendapati Jongin berdiri didepannya. Tubuhnya terhuyung kebelakang karena terlalu terkejut dengan kehadiran Jongin.

Jongin meraih pinggang Kyungsoo dan mendekapnya erat. Tangan Kyungsoo reflek memegang kedua bahu Jongin untuk menjaga keseimbangannya. Keduanya sangat dekat. Jongin menundukkan kepalanya hingga hidungnya dapat mencium aroma rambut Kyungsoo.

Kyungsoo mendongakkan kepalanya hingga hidungnya dan hidung Jongin saling bersentuhan. Mata Jongin langsung mengunci mata Kyungsoo hingga membuat Kyungsoo tak berkutik. Jongin memiringkan kepalanya sedikit dan memajukannya. Perlahan namun pasti kedua bibir itu akhirnya menempel.

Awalnya Jongin hanya menempelkan bibirnya saja tapi karena kurang puas akhirnya ia mulai mencumbu bibir Kyungsoo. Bibir mungil wanita ini sebuah candu untuk Jongin. Dirasakan berkali-kalipun ia tak akan pernah puas. Kyungsoo yang terkejut dengan cepat mendorong tubuh Jongin. Tapi Jongin memeluknya semakin erat hingga tak bisa lepas.

Keduanya berpanggut cukup lama dan Jongin mengakhiri sesi cumbuannya. Nafas keduanya tersenggal-senggal. Betapa cantiknya wajah Kyungsoo dengan wajah memerah dan mata sayunya. Ingin sekali Jongin menciumnya sekali lagi tapi tak mungkin.

Jongin melepaskan tangannya dari pinggang Kyungsoo saat dirasa wanita itu bisa berdiri tegak. Jongin menjauhkan badannya dengan bergerak mundur. Mengamati reaksi Kyungsoo setelah ini.

Kyungsoo hanya menatap Jongin kosong. Sekali lagi dia kecolongan dengan gerakan Jongin. Ia merasa bodoh. Berkali-kali sudah Kyungsoo ingatkan dirinya untuk tak terjerumus dalam permainan Jongin tapi hasilnya sama saja.

Kyungsoo memalingkan wajahnya dari Jongin. Kakinya coba ia kuatkan agar bisa berjalan normal. Tanpa mengatakan apa-apa Kyungsoo langsung pergi meninggalkan Jongin. Sedangkan Jongin hanya diam tak mengejar Kyungsoo.

Setelah mengetahui Kyungsoo pergi, Jongin meninggalkan kamar Kyungsoo dan kembali ke kamarnya. Tak lupa ia memanggil bagian Cleaning untuk membersihkan kamar Kyungsoo.

Tanpa Jongin sadari, Kyungsoo menunggu diujung lorong membiarkan Jongin keluar dari kamarnya. Saat dirasa aman, Kyungsoo kembali ke kamarnya dan mengambil seluruh pakaiannya. Ia harus segera pergi dari hotel ini. Seharusnya ia masih ada satu malam lagi untuk menginap. Tapi dengan kejadian tadi Kyungsoo menjadi tak yakin apa yang akan terjadi nantinya.

Kyungsoo sudah bertekat untuk menjauhi pria itu. Ia tak ingin terlibat apapun dengannya. Cukup satu kejadian yang memalukan untuknya terjadi. Ia tak ingin mengalami itu lagi. Karena Kyungsoo tau jika Jongin merupakan lelaki yang berbahaya.

Kyungsoo melakukan check out sesegera mungkin. Ia tau jika pihak manajemen hotel akan memberitahukan kepergiannya kepada Jongin. Maka dari itu ia harus bergerak cepat. Tanpa membuang waktu Kyungsoo bergegas menuju mobilnya dan melaju meninggalkan Busan.

Urusannya dilapangan bisa ia lakukan nanti. Yang terpenting ia bisa menjauh dari Kim Jongin. Ia bisa meminta pak Go mengirimkan semua berkasnya untuk Kyungsoo pelajari.

--:--

Jongin duduk di sofa kamarnya. Setelah meninggalkan kamar Kyungsoo, ia harus mengurusi beberapa dokumen yang dikirimkan Daehyun. Jongin berencana akan menyusul Kyungsoo setelah menyelesaikan kerjaannya.

Sebuah deringan telepon dikamar hotel mengalihkan perhatian Jongin. Jongin mengangkat teleponnya.

"Maaf mengganggu anda sajangnim"

"Ada apa?"

"Saya mendapatkan kabar bahwa nona Kyungsoo sudah melakukan check out tadi pagi"

"Mwo?"

"Bukannya dia harusnya pergi besok pagi?"

"Benar, sajangnim. Tapi beliau mempercepat periode inapnya"

"Baiklah. Terima kasih"

Jongin menutup teleponnya. Ia hembuskan nafasnya. Gadis itu benar-benar keras kepala dan sangat susah didekati. Jongin semakin penasaran dengan Kyungsoo. Ia harus mencari tau. Awalnya ia ingin mendekati Kyungsoo tanpa anak buahnya ikut campur. Tapi kali ini ia butuh anak buahnya melakukan sesuatu untuknya.

Jongin mengambil ponselnya untuk menelepon seseorang.

"Halo, Yun. Aku ingin kau mencari tau latar belakang seseorang"

"Aku ingin semua detailnya tanpa ada yang ditutup-tutupi"

"Do Kyungsoo. Cari semua hal tentang Do Kyungsoo"

23.06.17

Hai aku kembali. Setelah aku munculkan 'mantan' tunangan Jongin kalian langsung heboh ya. Dan langsung berasumsi ke satu orang. Untuk sementara aku akan menyembunyikan identitas si mantan tunangan itu. Takut di bully, hahahaha.

Aku ga tau kapan dia akan muncul lagi. Tapi sekarang aku lagi fokus sama kaisoo. Baru setelahnya aku rusak, hahahaha #bercanda.

REVIEW JUSEYO~~~