I DON'T NEED A MAN

.

.

.

.

.

KAISOO FANFICTION

.

.

.

.

BY KAISOOLOVERS

.

.

.

.

ORIGINAL IDEAS. DONT PLAGIAT. DLDR. GS. EXO. KAISOO. MAINSTREAM STORY

.

.

.

HAPPY READING

.

.

.

ENJOY

.

.

.

.

Aku membereskan barangku dan bergegas turun. Terpaksa hari ini aku harus lembur. Banyak sekali hal yang sudah aku lewatkan karena beberapa kali aku absen. Aku percepat langkahku agar segera sampai diparkiran.

Sesampainya di basement, aku mencari keberadaan mobilku. Setelah melihatnya aku langsung berlari kearah mobilku dan memasukinya. Aku berjanji kepada adikku untuk makan malam bersama hari ini. Tapi mengingat sekarang sudah jam 9 malam, aku rasa bukan waktu yang tepat untuk makan malam.

Aku memacu mobilku lebih cepat lagi. Setidaknya aku bisa bertemu Baekhyun sebelum ia tidur. Baekhyun selalu tidur tepat waktu karena memang aku membiasakannya. Ia akan tidur jam 10 malam. Dulu aku sempat membohonginya dengan tidur tak terlalu malam akan mempercepat pertumbuhannya. Tapi seperti yang biaa dilihat jika pertumbuhanku dan Baekhyun seakan terhenti. Aku benci mengatakannya tapi memang begitu kenyataannya.

Aku memarkirkan mobilku dan langsung bergegas ke apartemenku. Selama di lift perasaanku tak enak. Aku merasa seperti diawasi. Aku berkali-kali mengecek sudah sejauh mana lift ini membawaku. Aku ingin segera sampai.

Dentingan lift terdengar dan aku langsung bergegas keluar. Baru beberapa langkah aku keluar dari lift tiba-tiba ada seseorang dari belakang membekap mulutku. Aku memberontak kuat mencoba menggapai tubuh orang dibelakangku. Aku mencoba segala cara tapi gagal. Tubuhku melemas dan aku mulai merasakan mataku berat. Dan tak lama kemudian semua menjadi hitam.

--:--

Baekhyun terbangun tengah malam. Tubuhnya terasa pegal karena ia tertidur dimeja belajarnya dalam keadaan setengah membungkuk. Ia rentangkan kedua tangannya jauh-jauh guna melemaskan otot-ototnya. Baekhyun beranjak mengecek keberadaan eonnienya.

Baekhyun membuka pintu kamar kakaknya. Ia melongokkan kepalanya. Suasananya gelap tapi Baekhyun masih bisa melihat dengan jelas. Mata Baekhyun memicing melihat kearah kasur. Ia tak menemukan kakaknya disana.

Baekhyun mencari saklar lampu dan menyalakannya. Seketika lampu menyala terang menyinari kamar Kyungsoo. Kasur Kyungsoo masih rapi tak tersentuh. Baekhyun memasuki kamar kakaknya. Ia melirik kesekitar kamar itu mencari kakaknya. Saat Baekhyun sama sekali tak menemukan tas dan keberadaan Kyungsoo, ia berjalan kearah kamar mandi. Tapi disana kosong.

Baekhyun mengerutkan keningnya bingung. Ia meraih ponselnya dan membuka layarnya. Tak ada satupun telepon dari kakaknya. Kakaknya tak pernah sekalipun tak memberi kabar kepadanya. Kyungsoo paling tak mau membuat Baekhyun khawatir.

Kaki Baekhyun melangkah meninggalkan kamar kakaknya. Ia bergerak menuju dapur berhadap ada sebuah petunjuk dari kakaknya. Baekhyun segera menuju kulkas tapi tak menemukan note yang biasanya Kyungsoo tinggalkan. Perasaan Baekhyun mulai cemas. Ini tak biasa.

Baekhyun mencari sebuah kontak dan memanggilnya. Deringan ponselnya mulai terdengar tapi ia langsung kecewa saat mesin penjawab berbicara disebrang sana. Hati Baekhyun mulai bergemuruh. Ia mulai khawatir dan membayangkan yang tidak-tidak.

Baekhyun mematikan panggilannya dan beralih mencari kontak lainnya. Baekhyun langsung menghubungi Minji. Siapa tau kakaknya bersama dengannya.

"Halo"

Suara ngantuk dan serak terdengar ditelinga Baekhyun. Ia merasa tak enak sudah menelepon tengah malam begini.

"Halo, eonnie. Maaf mengganggu. Apakah eonnieku bersamamu saat ini?" tanya Baekhyun hati-hati.

"Aku tak bersamanya. Setauku bujangnim lembur tadi. Apakah ia masih belum pulang?"

Pekikan terdengar diakhir kalimat Minji.

"Tidak, eonnie. Terima kasih. Maaf mengganggu tidurmu" sanggah Baekhyun cepat mematikan panggilannya.

Baekhyun menggigiti kuku jarinya. Hatinya semakin gelisah. Ia bingung harus mencari eonnienya kemana. Jika ia memutuskan untuk keluar malam ini, ia ragu. Bisa jadi dirinya akan mengalami kesulitan dijalan dan menimbulkan masalah baru. Bila ia menelepon polisi akan percuma karena buktinya tak kuat.

Baekhyun semakin bimbang. Ia harus melakukan apa. Mata Baekhyun menatap kearah pintu kulkas. Disana banyak sekali tempelan-tempelan kartu nama yang sengaja disediakan bila kemungkinan ada urgensi. Baekhyun langsung bergegas mendekatinya. Ia amati seluruh kartu nama itu satu persatu untuk mencari siapa yang bisa ia hubungi tengah malam begini.

Saat menemukan nama Mrs. Lee, Baekhyun langsung berbinar. Ia ambil ponselnya dan mencari kontak Mrs. Lee. Tapi semangat itu turun. Ia merasa tak enak membangunkan Mrs. Lee malam-malam begini untuk mencari Kyungsoo. Baekhyun mengurungkan niatnya. Ia mulai mencari lagi daftar orang yang bisa ia mintai bantuan.

Sebuah nama terlihat dimata Baekhyun. Ia ambil kartu nama itu dan memandangnya lekat. Ia ragu apakah menghubunginya bisa membantunya menemukan kakaknya. Tapi dari sekian banyak nama, hanya satu nama ini yang Baekhyun tau. Walaupun mereka tak dekat tapi setidaknya mereka saling mengenal.

Baekhyun mengambil ponselnya dan mulai mengetikkan nomor yang tercantum dalam kartu nama itu. Jarinya membeku saat akan menekan tombol panggil. Ia masih ragu. Apakah tindakan yang diambilnya benar atau tidak.

--:--

Jongin berjalan dilorong sepi sebuah rumah sakit. Ia sudah hafal kemana langkahnya menuju. Lorong yang biasanya ramai oleh pasien kini sepi karena memang waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Tak biasanya Jongin mengunjungi temannya malam-malam begini. Biasanya mereka akan bertemu di club.

Jongin membuka pintu dan mengejutkan namja didalamnya. Tanpa rasa bersalah, Jongin langsung duduk manis didepan namja itu yang terhalang meja. Jongin menaikan salah satu alisnya. Biasanya sahabatnya akan mengomel panjang lebar karena kedatangannya atau keterkejutannya. Sekarang ia hanya diam dan sibuk dengan kertas-kertasnya.

"Kau masih 'ngambek'?" tanya Jongin.

Namja itu mendengus tanpa menjawab pertanyaan Jongin.

"Kau seperti yeoja saja, Park" ledek Jongin.

"Jika kau mau menggangguku sebaiknya kau pulang saja" usir Chanyeol.

"Terserah aku. Ini rumah sakit milikku" acuh Jongin.

"Asal kau tau saja, rumah sakit ini milikku. Kau hanya pemegam saham terendah" ejek Chanyeol tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas-kertasnya.

"Aku akan membelinya"

Chanyeol menggebrak meja keras. Kesabarannya habis.

"Damn it, Kim! Go to the Hell!!" seru Chanyeol marah.

Jongin memberikan senyuman miringnya saat sahabatnya tengah bersungut marah.

"Kenapa kau akhir-akhir ini sensitif sekali, Park? Apa masih sama alasannya?"

"Dia bukan yeoja yang pantas untukmu. Lebih baik kau mencari yeoja lain" ketus Chanyeol.

"Lalu yang seperti apa? Kau sangat tau seleraku, Park"

Jongin memberikan senyuman remehnya.

"Cari yang lain. Jika kau masih bersikeras mendapatkannya maka kau berhadapan denganku"

Chanyeol memandang Jongin serius. Sedangkan Jongin raut wajahnya berubah. Otot-otot wajahnya menjadi kaku dan mengeras. Ia mengatupkan bibirnya rapat.

"Aku akan melindunginya dari orang sepertimu. Kau tak pantas dengannya" lanjut Chanyeol.

"Lalu? Apa namja seperti kau yang pantas?" tanya Jongin datar.

"Setidaknya aku bukan bajingan sepertimu" balas Chanyeol.

"Kita berdua bajingan, Park" geram Jongin.

Chanyeol menggeleng tak setuju.

"Setidaknya aku tidak akan mempermainkan wanita yang aku sukai"

Kata terakhir Chanyeol menyulut emosi Jongin. Jongin menarik kerah kemeja Chanyeol. Ia tatap tajam Chanyeol yang tak berpengaruh apapun pada lelaki tiang itu.

"Berani sekali kau mengambil sesuatu milikku, Park!" desis Jongin marah.

Chanyeol menarik sebelah ujung bibirnya. Ia menyeringai.

"Milikmu? Sejak kapan? Kau tak bisa memilikinya, Kim" sinis Chanyeol.

Sebelum Jongin melakukan tindakan lain, ponsel Chanyeol berdering. Chanyeol melepaskan paksa cengkraman Jongin. Ia rapikan kerah kemejanya yang kusut dengan senyuman miringnya. Chanyeol bisa melihat tangan Jongin yang terkepal. Ia semakin menikmatinya.

Chanyeol meraih ponselnya dan mengangkat panggilannya.

"Halo"

"Apa benar ini nomer Park Chanyeol-ssi?" tanya orang diseberang sana ragu.

Chanyeol melebarkan matanya. Ia jauhkan ponselnya melihat siapa yang menelepon. Hanya nomer asing yang muncul dilayarnya. Ia kembali dekatkan ponselnya ketelinganya. Suara yang terdengar ragu dan takut kembali menyapa telinga Chanyeol.

"Aku rasa aku..."

"Ini Chanyeol!" sergah Chanyeol kelewat cepat hingga tanpa sadar menaikkan nada bicaranya.

Jongin menatap heran sahabatnya. Rasa amarahnya hilang diganti dengan rasa penasaran.

Chanyeol berdehem pelan.

"Apa ini Baekhyun?" tanya Chanyeol basa-basi.

Jongin menyipitkan matanya mendengar nama Baekhyun.

"Ne" balas Baekhyun dari sebrang sambil mengangguk.

Chanyeol hampir memekik gemas membayangkan wajah Baekhyun sekarang.

"Ada apa Baekhyun-ah?" tanya Chanyeol lagi dengan suara lembutnya.

"Mmm...Bolehkan aku meminta bantuan?" tanya Baekhyun ragu.

Saat ini Baekhyun mengumpati dirinya sendiri. Betapa bodohnya ia merendahkan dirinya untuk meminta bantuan orang yang tak ingin ia temui. Tapi demi kakaknya ia rela pertaruhkan harga dirinya.

"Bantuan apa itu?"

"Aku baru menyadari jika eonnie tidak ada di apartemen. Tak ada satupun catatan kecil yang ia tinggalkan untukku dan itu sangat tidak biasa. Saat aku telepon ponselnya tak aktif. Aku takut terjadi apa-apa dengannya" jelas Baekhyun.

Chanyeol mengerutkan dahinya.

"Kyungsoo belum kembali? Kau sudah menanyakan ke asistennya?"

Saat nama Kyungsoo mencuat membuat Jongin ikut tegang. Rasa penasarannya menumpuk. Ingin sekali ia merebut ponsel Chanyeol dan menanyai Baekhyun macam-macam.

"Aku sudah menelepon Minji eonnie tapi dia bilang jika ia tak bersama dengan eonnie. Aku takut eonnie kenapa-kenapa" lirih Baekhyun.

"Kau tenang saja. Aku akan kesana dan meminta bantuan beberapa orang untuk mencari Kyungsoo. Tunggu aku dan jangan buka pintumu untuk orang lain" suruh Chanyeol.

Chanyeol memberi kode kepada Jongin yang langsung ditangkap cepat oleh Jongin. Jongin berbalik meninggalkan ruangan Chanyeol disusul Chanyeol setelah mematikan panggilannya dan melepas jas dokternya.

Chanyeol mengimbangi langkah Jongin yang terburu-buru. Ia tersenyum geli melihat tingkah Jongin.

"Kenapa kau panik?" tanya Chanyeol.

"Aku tak panik" jawab Jongin cepat.

"Lalu kenapa kau langsung pergi setelah aku beri kode?"

"Aku tak mengerti apa maksudmu"

Jongin dan Chanyeol memasuki lift. Chanyeol melirik Jongin melalui ekor matanya. Ia tersenyum remeh.

"Apa ini ada hubungannya dengan 'mainan'mu yang hilang?"

"Bukan urusanmu, Park" geram Jongin. Ia masih berusaha bersabar.

"Oh ya? Ingat dia bukan 'milik'mu. Dia juga bukan 'mainan'mu" ucap Chanyeol menekankan kata milik dan mainan.

"Urusan kita belum selesai, Park" desis Jongin meninggalkan Chanyeol setelah keluar dari lift.

Jongin masuk kedalam mobil dan memutuskan untuk menelepon seseorang.

"Apa saja yang kau lakukan?!" sembur Jongin marah.

"Aku menyuruhmu untuk mengawasi Kyungsoo! Kenapa sekarang ia bisa hilang?!" bentak Jongin.

"Maaf bos. Saya tidak mengawasi nona Kyungsoo saat beliau ada diapaertemen"

"Temukan Kyungsoo! Cari keberadaannya! Aku ingin secepatnya!"

Jongin menutup teleponnya. Ia banting ponselnya dibangku sampingnya. Emosinya meledak-ledak. Ia harus mencari tau siapa yang menculik Kyungsoo. Jongin tak akan membiarkan 'milik'nya disentuh siapapun. Ia akan membuat perhitungan kepada siapa saja yang berani menyakiti 'milik'nya.

--:--

Chanyeol datanh secepat mungkin. Ia langsung menuju ke apartemen Baekhyum setelah bertanya dimana letak apartemennya. Chanyeol mengetuk pintu apartemen Baekhyun.

"Baekhyun-ah. Ini aku, Chanyeol" ucap Chanyeol.

Pintu apartemen Baekhyun terbuka dengan penampilan Baekhyun yang buruk. Gadis itu seperti habis menangis. Chanyeol membawa Baekhyun masuk dan menenangkannya.

"Sudah Baek jangan menangis. Aku sudah meminta orang lain untuk mencarinya" ucap Chanyeol menenangkan.

"Aku harap eonnie baik-baik saja" lirih Baekhyun.

"Ia akan baik-baik saja" sahut Chanyeol sambil memeluk Baekhyun.

Chanyeol berharap Jongin akan segera bertindak menemukan Kyungsoo. Chanyeol juga sudah memerintahkan orang untuk melacak keberadaan Kyungsoo. Bergantung pada Jongin ada baiknya tapi ia sudah menyulut api ke Jongin dan itu membuatnya sebagai saingan. Ia tak menyesalinya. Ia harap Jongin menyadari perasaannya.

--:--

Kyungsoo mencoba membuka kedua matanya. Ia merasakan sekujur tubuhnya pegal terutama dibagian tangan. Kyungsoo mengangkat kepalanya mendongak. Sebuah ruangan tak dikenali menyambut indera penglihatannya.

Kedua tangannya coba ia gerakkan tapi tak bisa. Kyungsoo menoleh kebelakang dan ternyata tangannya diikat dibelakang kursi. Ia baru tersadar jika ia didudukkan disebuah kursi ditengah ruangan itu. Kyungsoo mencoba melepaskan ikatan ditangannya tapi gagal.

Semakin kuat ia memberontak, tali pengikat tangannya akan semakin kasar menggesek kulitnya. Kyungsoo menyerah dan lebih memilih mengamati sekitar. Ia mencoba memahami situasinya dan mencari celah. Siapa tau ia beruntung dan keluar dari ruangan ini.

Pintu ruangan dibuka kasar. Kyungsoo menoleh dan beberapa namja berpakaian hitam masuk kedalam ruangan. Ruangan yang awalnya sepi jadi ramai dan sempit. Kyungsoo sedikit ketakutan saat semua mata namja itu memandangnya lekat.

Kyungsoo beringsut kebelakang tapi tubuhnya tak bisa bergeser sedikitpun. Sesosok yeoja masuk ke ruangan dan serentak para namja itu membungkuk hormat kearahnya. Yeoja itu berjalan angkuh mendekati Kyungsoo. Kyungsoo memicingkan matanya mencoba mengenali siapa gadis ini.

"Kau lupa padaku?" tanya yeoja itu mengetahui jika Kyungsoo kebingungan.

Gadis itu tersenyum remeh kemudian menampar pipi Kyungsoo hingga kepala Kyungsoo tertoleh. Kyungsoo menegakkan kepalanya tapi lagi-lagi pipi satunya ditampar oleh yeoja itu. Gelegar suara tawa dari gadis itu menggema diruangan kecil itu. Tawanya seakan puas karena telah menyakiti Kyungsoo.

Yeoja itu menghentikan tawanya dan menatap tajam kearah Kyungsoo. Tangannya terulur menarik dagu Kyungsoo agar mendongak kearahnya. Kyungsoo hanya menatap datar yeoja itu dengan wajah tanpa ekspresi.

"Kau memang wanita sialan yang merusak segala rencanaku!" kecam yeoja itu.

"Aku akan mendapatkan milikku kembali!"

Yeoja itu melepaskan genggamannya pada dagu Kyungsoo. Kyungsoo masih sama, ia hanya diam membisu. Jujur saja tubuhnya masih lemas akibat pengaruh obat bius.

"Kalian berdua jaga disini! Awasi dia! Jangan sampai ia mati! Aku masih ingin bermain-main dengannya!" perintah yeoja itu dan berjalan keluar ruangan yang diikuti anak buahnya.

Kyungsoo tertunduk lemas. Semua ini membuatnya pusing. Kyungsoo haus. Tapi lidahnya terlalu kelu untuk mengucap. Tubuh lunglai Kyungsoo bersandar pada kursi.

"Hei...dia hampir pingsan"

"Biarkan saja"

"Kata bos kita tak boleh membiarkannya mati!"

"Sana kau beri dia minum!"

Kyungsoo samar mendengar percakapan dua orang namja yang berjaga diruangannya. Langkah kaki terdengar mendekati Kyungsoo. Rambutnya ditarik hingga ia mendongak. Salah satu namja itu menyodorkan sebuah gelas berisi air putih kearah bibirnya. Dengan sedikit tersedak Kyungsoo meminum air yang diberikan oleh namja itu.

Namja itu sama sekali tak membiarkan Kyungsoo meminum airnya dengan tenang. Ia terus mencekoki Kyungsoo yang tak siap menerima guyuran air dimulutnya. Baju Kyungsoo basah karena air minumnya banyak yang keluar.

Namja itu menjauhkan gelas dari bibir Kyungsoo. Kyungsoo tersengal-sengal menghirup udara karena tak dibiarkan bernafas selama beberapa detik. Tubuh Kyungsoo dihempaskan hingga kursi yang didudukinya hampir terjatuh kebelakang.

"Jangan menyusahkan kami!"

Namja itu meninggalkan Kyungsoo dan membiarkannya dengan baju basah. Kyungsoo mencoba mengembalikan kesadarannya. Ia harus tetap terjaga. Sebisa mungkin ia harus bersikap waspada.

Tubuh Kyungsoo berjingit kaget saat pintu ruangan dibanting keras. Dua orang namja yang berjaga pun terlihat sama terkejutnya dengan Kyungsoo. Wanita tadi datang kembali dengan ekspresi marah. Kyungsoo menatap wanita itu bingung.

"Kau!! Wanita jalang kurang ajar!!"

Setelah mengucapkan makian itu, sang yeoja menampar Kyungsoo sangat keras hingga sudut bibirnya terluka. Kyungsoo merasakan perih dan hanya mendesis pelan kesakitan. Yeoja itu menjambak rambut Kyungsoo dengan kasar agar mendongak.

"Aku bersumpah akan membunuhmu jika sampai semua rencanaku gagal. Aku akan mengejarmu, Do Kyungsoo" bisik wanita itu kejam.

13.07.17

Ya ampun...aku ngaret banget. Maaf ya sekarang aku ga bisa apdet cepet lagi. Ini aja aku nulis bertahap. Nulisnya klo sempet doank. Huhuhu

Gimana dibagian ini? Chanyeol mau ngerebut Kyungsoo? Siapa cewek itu? Disini Kyungsoo menderita banget ya? Hahaha. Emang dari awal cerita ini agak angst2 gt. Apalagi karaktermya Jongin yang berubah-ubah. Kkkkkk

REVIEW JUSEYO~~~~