I DON'T NEED A MAN
.
.
.
.
.
KAISOO FANFICTION
.
.
.
.
.
BY KAISOOLOVERS
.
.
.
.
.
ORIGINAL IDEAS. DONT PLAGIAT. DLDR. GS. EXO. KAISOO. MAINSTREAM STORY
.
.
.
HAPPY READING
.
.
.
ENJOY
.
.
.
.
Baekhyun melirik takut kearah orang yang berada disampingnya. Pandangannya menusuk dan membuat nyalinya menciut. Baekhyun melangkah kesamping memghindari namja itu yang mendekat kearahnya.
"Baekhyun?"
Baekhyun dan manja itu menoleh bersamaan. Chanyeol memandang mereka bingung.
"Sedang apa kalian?" tanya Chanyeol.
Namja tadi menarik Baekhyun hingga punggung Baekhyun membentur dada bidangnya dengan posisi setengah memeluk dari belakang. Baekhyun terkejut dengan perlakuan namja ini.
"Kebetulan aku bertemu dengannya"
Chanyeol memandang Baekhyun dan Jongin bergantian.
"Benarkan, cutie pie?" bisik Jongin ditelinga Baekhyun.
Chanyeol langsung menarik tangan Baekhyun agar terlepas dari pelukan Jongin. Jongin memberikan smirknya sedangkan Chanyeol memandangnya tajam. Keduanya terlibat saling melemparkan tatapan tajam seolah-olah dari mata mereka berbicara.
'Don't touch her!''Let's play, Park'
Baekhyun menatap kedua namja itu bingung. Chanyeol membawa Baekhyun kedalam ruang rawat Kyungsoo tanpa mempedulikan Jongin.
"Baekhyun-ah!" sapa Mrs. Lee.
Baekhyun memeluk Mrs. Lee erat. Dan dibalas usapan dipunggung oleh Mrs. Lee.
"Aku kira aku tak bisa melihat eonnie lagi" cicit Baekhyun.
"Sssttt...Kau tak boleh berbicara seperti itu"ucap Mrs. Lee menenangkan.
"Apa yang kau lakukan disini?"
Pertanyaan Chanyeol mengalihkan perhatian dua orang yang sedang berpelukan itu. Keduanya memandang Chanyeol dan Jongin yang berada diambang pintu dengan bingung.
"Aku hanya menjenguknya"
Tatapan Jongin dan Chanyeol terlihat tak suka sama lain. Mereka berdua terlihat sekali ada sesuatu.
"Apa dia yang menyelamatkan Kyungsoo?" tanya Mrs. Lee tak memperdulikan aura sekitar yang terlihat tegang.
Jongin menoleh dan tersenyum samar. Ia menganggukan kepalanya singkat menyapa Mrs. Lee. Jongin melangkah kedalam ruang rawat Kyungsoo.
"Senang bertemu dengan anda lagi, dokter Lee. Semoga hal ini tidak mengganggu anda"
"Tidak sama sekali. Terima kasih sudah menyelamatkan Kyungsoo"
"Itu bukan apa-apa"
Chanyeol berdecih agak keras. Jongin hanya meliriknya sekilas yang berjalan kearah sofa.
"Apa kami harus membalas budimu?" tanya Baekhyun.
Semua menatap Baekhyun.
"Baekhyun-ah!" tegur Mrs. Lee.
"Maaf. Terima kasih" ucap Baekhyun tak tulus dan membungkukkan badannya singkat.
Mrs. Lee menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah laku Baekhyun. Jongin hanya tersenyum geli. Adik dan kakak sama saja batin Jongin. Jongin menoleh kearah Chanyeol.
"Aku ingin berbicara denganmu, Park"
Chanyeol mengibaskan tangannya tanda tak setuju.
"Aku malas berbicara denganmu" balas Chanyeol santai.
"Aku tunggu diluar" sahut Jongin.
Ia berpamitan kepada Mrs. Lee sebelum keluar ruangan. Sekilas Jongin melirik kearah Chanyeol yang menatapnya malas.
Chanyeol berdiri dengan enggan. Ia berpamitan dulu dengan dokter Lee dan Baekhyun. Ia mengusak rambut Baekhyun yang mendapat protes dari pemiliknya. Chanyeol menutup pintu ruang rawat Kyungsoo dan melihat Jongin duduk ditemani dua pengawal yang berdiri disebelah kanan kirinya.
Jongin menatap Chanyeol sekilas lalu berdiri. Ia memberikan kode kepada dua pengawalnya. Kedua orang itu langsung pergi dari sisi Jongin dan berpindah kedua sisi pintu ruang rawat Kyungsoo. Chanyeol mengangkat alisnya tinggi-tinggi.
"Apa-apaan ini?" protes Chanyeol.
"Sebuah perlindungan" balas Jongin.
"Apa sekarang kau membuka usaha sebagai jasa perlindungan?" sindir Chanyeol.
"Ini demi keselamatannya, Park" desis Jongin.
"Like you care!" jengah Chanyeol.
"Apa kita akan membahas ini berulang kali? Aku mulai bosan" dengus Jongin.
"Aku akan terus membahasnya hingga kau memperjelas maksud dan tujuanmu mendekatinya"
"Kenapa kau ngotot sekali akan hal ini? Kau tak pernah ikut campur dengan para wanitaku yang lain"
Chanyeol menatap Jongin nyalang.
"She is different" teriak Chanyeol.
Jongin mengangkat sebelah alisnya menunggu Chanyeol menyelesaikan ucapannya.
"Ingat, Kim! Aku sudah memperingatimu jika dia berbeda dari para wanitamu sebelumnya. Kau tak bisa mempermainkannya sesuka hatimu"
"Kenapa kau sangat peduli? Kau menyukainya? Atau kau lakukan itu karena adiknya?"
Chanyeol bungkam. Keterdiaman Chanyeol membuat Jongin menang. Ia melangkah maju dan berbisik ditelinga Chanyeol.
"Aku selalu mendapatkan apa yang aku mau, Park. Bagaimana kalau aku mulai dari adiknya?"
Jongin menepuk pundak Chanyeol beberapa kali sebelum meninggalkannya. Chanyeol menatap Jongin yang sudah berjalan jauh. Tangannya terkepal erat.
'Sial!'
--:--
Aku merasakan kepalaku dibelai lembut oleh seseorang. Aku membuka mataku menatap seseorang disampingku yang tersenyum. Aku melihat sekelilingku. Hamparan padang rumput menyapa indera penglihatanku. Sejukanya angin baru aku sadari menyapa seluruh tubuhku.
Usapan itu semakin terasa nyata bagiku. Aku tersenyum memandang orang disebelahku. Sudah lama aku tak melihatnya. Senyumannya yang hangat selalu bisa membalikkan hatiku yang suram. Begitu menenangkan dan menyenangkan.
"Kau terlihat senang sekali" ucapnya geli.
"Tentu saja. Aku senang bisa bersama denganmu lagi, eomma"
Aku memeluk tubuhnya yang berbaring disampingku. Aromanya tercium dihidungku. Begitu wangi. Aku bisa rasakan bahunya berguncang karena kekehannya. Suara tawanya masih sama. Aku menyukainya.
"Kau pasti sangat menderita selama ini"
Aku menggeleng.
"Aku kuat" bisikku.
"Ara. Kau putriku yang sangat kuat. Aku tak pernah meragukan itu"
Aku melepaskan pelukanku dan menatapnya. Tatapan matanya sangat teduh. Binar dimatanya masih terlihat dengan jelas. Ini begitu nyata. Sangat nyata hingga membuatku ragu.
"Bagaimana kabar Baekhyun?"
"Dia sangat baik. Dia tumbuh menjadi gadis yang periang"
"Itu semua berkatmu, sayang"
Eomma membelai rambutku lagi.
"Maafkan eommamu ini. Aku tak bisa melindungi kalian dengan baik"
Aku menggeleng kencang. Air mataku mulai terbentuk dan siap meluncur. Aku menahannya.
"Aniya, eomma. Eomma melindungi kami dengan sangat baik. Tak ada ibu sebaik eomma"
"Eomma memberikanmu penderitaan, Kyungsoo. Eomma merasa gagal menjadi seorang ibu"
Air mataku langsung saja menetes dengan deras. Aku menangis. Aku tak pernah merasa menderita karenanya. Dan aku merasa menjadi anak durhaka yang membuat eommaku berpikiran seperti itu.
"Berhenti menyalahkan dirimu sendiri Kyungsoo. Semua ini sama sekali tak ada hubungannya denganmu. Kau terseret ke masalah ini karena melindungi eommamu dan adikmu. Berhenti menyakiti dirimu sendiri"
Tangisanku pecah. Aku menangis meraung-raung. Aku memang selalu menyalahkan diriku sebagai bentuk pertahanan diriku. Aku selalu merasa bertanggungjawab akan semua hal. Semua tekanan itu, semua pukulan itu aku terima dan aku jadikan hukuman untuk diriku.
"Kembalilah sayang. Kembali menjadi dirimu yang dulu. Kau berhak memulainya dari awal. Maafkan eommamu yang membuatmu menjadi seperti ini"
Aku menahan isakanku dibawah pelukan eommaku. Rasa sakit ini, rasa bersalah ini, rasa tanggung jawab ini akan terus melekat didalam diriku. Sesaat aku berharap ada orang yang menyelamatkanku dari kubangan penderitaan yang aku ciptakan sendiri.
"Jaga adikmu. Eomma menyayangimu"
Aku merasakan eomma menyium lama keningku. Air mataku terus mengalir tanpa henti.
"EOMMA!"
Aku terbangun. Aku masih merasakan basahnya pipiku karena air mataku. Itu nyata. Walau hanya dalam mimpi tapi itu nyata.
Tubuhku seperti ditarik oleh seseorang dan langsung masuk kedalam pelukannya. Ia mengusap pelan punggungku. Begitu lembut. Aromanya seperti aroma eommaku. Sangat wangi dan menenangkan. Tapi ada yang berbeda. Wangi ini wangi maskulin khas milik lelaki.
Biasanya aku akan langsung menjauh jika berdekatan dengan mereka. Menjaga jarak untuk menyembunyikan sisi traumatisku. Tapi kali ini aku menerimanya. Entah siapa lelaki ini tapi ia mengingatkanku akan kehangatan eomma yang dulu selalu aku rasakan.
"Aku disini, Kyungsoo"
Aku semakin menenggelamkan wajahku didadanya. Suara baritonenya sangat aku kenal. Tapi sementara ini aku tak peduli. Aku butuh pelukan. Pelukan hangat seperti milik eomma.
Aku terbangun lagi. Aku membiasakan mataku yang dimasuki cahaya lampu. Samar aku melihat siluet Baekhyun duduk disamping ranjangku. Aku mengerjabkan mataku.
"Eonnie"
Aku melihat Baekhyun dengan jelas. Ia terlihat sangat khawatir dan sedih. Matanya sedikit bengkak. Aku yakin ia habis menangis. Aku mengedarkan pandanganku diseluruh ruangan. Tak ada siapapun selain adikku diruangan ini.
Aku bingung. Seingatku aku berada dipelukan lelaki. Apa aku bermimpi lagi? Atau itu hanya halusinasiku saja? Tapi itu nyata. Berbeda saat eomma mendatangiku dalam mimpi.
Aku merasakan tanganku diremas oleh Baekhyun. Aku menatapnya dan memberikan senyuman kecil.
"Aku sangat khawatir. Aku diberi kabar jika eonnie tadi sempat sadar tapi setelah aku kesini ternyata eonnie kembali tertidur" jelas Baekhyun.
Aku sempat sadar? Jadi berarti pelukan itu benar?
"Siapa yang memberitahumu?" tanyaku.
"Seorang suster memberitahuku"
Aku sempat berharap. Tapi mungkin itu hanya khayalanku. Buat apa aku mengharapkan orang itu yang memelukku. Bukankah aku tak ingin ia dekat denganku? Aku selalu menghindarinya. Dan bukankah dia juga sudah menjauhiku? Jadi untuk apa ia peduli padaku?
"Apa masih ada yang sakit?"
Semua pemikiranku langsung hilang mendengar pertanyaan Baekhyun. Betapa bodohnya aku karena melamunkan orang lain saat Baekhyun berada didekatku.
Aku menggeleng.
"Apa eonnie menginginkan sesuatu?"
"Tidak"
Aku menatap Baekhyun yang terlihat gelisah. Ia menundukkan kepalanya seperti memikirkan sesuatu.
"Ada apa Baek? Ceritakan padaku" pintaku.
Ia melihat kearahku dengan pandangan ragu. Aku melihatnya menggigit bibir bagian bawahnya ciri khasnya saat ia gugup.
"Eonnie...aku...itu..."
"Jika kau belum siap tak apa" selaku.
Aku menggenggam tangannya. Ia menurunkan pandangannya dan mengamati genggaman tanganku.
"Apa ada yang eonnie sembunyikan dariku?" lirih Baekhyun.
Aku mengerutkan dahiku. Apa yang sebenarnya ingin dikatakan Baekhyun? Baekhyun menggeleng lemah lalu menatapku sambil tersenyum kecil.
"Aniya, eonnie. Jangan dipikirkan" ucapnya.
"Apa aku mengganggu?"
Kami berdua menoleh kearah pintu. Disana berdiri seorang namja berjas putih khas dokter. Senyumannya sangat lebar dan aku tau siapa dia.
"Sleeping beauty sudah bangun rupanya" goda Chanyeol kepadaku.
Aku tersenyum. Ia masuk kedalam dan berdiri disamping Baekhyun. Aku melirik kearah Baekhyun dan ia tampak cuek dengan Chanyeol.
"Aku bersyukur kau tidak mengalami hal yang serius" ucap Chanyeol.
Aku juga bersyukur. Tak ada luka parah dan aku juga bersyukur sisi traumatisku tak langsung muncul dihadapan Baekhyun.
"Boleh aku tanya sesuatu?" tanya Chanyeol.
Ia menilai ekspresi yang aku berikan. Aku menatapnya penuh tanya. Entah kenapa aku merasa semua orang seperti ingin menanyakan banyak kepadaku.
"Maaf karena mananyakan hal ini saat kau baru saja tersadar. Kau tau siapa yang menculikmu?"
Aku tertegun. Aku melirik Baekhyun yang menatapku ingin tau. Aku mendesah pelan.
"Aku tak tau namanya" jawabku.
"Tapi kau kenal dia?" tanya Chanyeol.
"Aku hanya sebatas tau jika dia tunangan Jongin"
"Tunangan Jongin? Jongin tak memiliki tunangan" gumam Chanyeol yang masih dapat aku dengar.
Wajah Chanyeol seketika berubah tegang. Aku menelisiknya lebih lanjut tapi ia langsung memasang wajah biasa.
"Aku sedang menyelidiki kasusmu. Kau tenang saja. Aku akan menemukan penculik itu dan menghukumnya" ucap Chanyeol.
Dari suara Chanyeol aku tau jika dia menahan amarahnya. Aku tak tau harus bagaimana lagi menyikapi segala perlakuan Chanyeol. Ia sudah banyak membantuku selama ini. Dan egoku yang tinggi memastikan aku untuk tidak mengatakan apapun tentang bagaimana rasa terima kasihku pada pria ini.
Aku selalu menekankan bahwa aku bisa menghadapinya sendiri. Aku mampu bertahan tanpa bantuan orang lain. Dan bila orang lain membantuku itu bukan karena aku tak mampu tapi karena aku membiarkan mereka melakukan sesuka hati tanpa ada perasaan terima kasih didalamnya. Ini aku. Ini hidupku. Aku bisa menjalaninya sendiri. Tak perlu orang lain membantuku. Terutama pria.
"Kau tak perlu melakukannya" ucapku lirih.
Chanyeol memandangku heran.
"Aku yang memintanya eonnie" sahut Baekhyun.
Aku menoleh kearah Baekhyun dan menatapnya lama.
"Aku meminta bantuannya untuk mencari eonnie. Aku tak bisa melakukannya sendiri"
Kepala Baekhyun jatuh tertunduk. Ia sangat menyesal mengatakannya. Memang aku pernah mengatakan padanya jika tak perlu merepotkan orang lain dan memgerjakan semuanya sendiri. Aku bahkan sangat egois kepada adikku. Aku tau Baekhyun tak sekuat aku. Ia hanya gadis SHS biasa yang masih perlu diawasi dan dijaga. Tapi aku bisa! Dulu aku bisa hidup mandiri. Dulu aku bertahan dengan segala hal kejam yang ada didunia ini. Dulu aku..
Aku memegang kepalaku dengan kedua tanganku dan meremas rambutku. Kenangan itu kembali. Kenapa? Kenapa harus aku? Apa ini karma? Apa ini takdirku? Untuk disiksa? Tak bahagia?
--:--
Baekhyun panik melihat Kyungsoo seperti mengerang kesakitan. Sontak ia langsung memegangi tangan Kyungsoo yang meremas rambutnya kuat. Ia mencoba melepaskannya.
Chanyeol dengan gesit berada disisi ranjang lain Kyungsoo membantu Baekhyun. Chanyeol yakin jika Kyungsoo mengalami kekambuhan. Ia harus segera menelepon dokter Lee.
"Eonnie...eonnie..." isak Baekhyun memanggil Kyungsoo.
Baekhyun tak kuasa menahan air matanya melihat eonnienya kesakitan seperti ini. Kyungsoo menjerit keras dengan kedua tangan yang terus mencengkeram kepalanya. Baekhyun maupun Chanyeol sedikit kualahan menahan tangan Kyungsoo agar tak melukai dirinya.
Chanyeol memencet tombol yang berada didekat ranjang Kyungsoo berharap bantuan akan datang. Tak lama beberapa suster dan dokter datang dengan wajah panik.
"Panggil dokter Lee!" bentak Chanyeol tak sabar.
Salah seorang suster mengangguk takut dan langsung pergi.
"Berikan penenang dosis rendah sekarang!"
Salah satu dokter muda mulai menyiapkan sebuah suntikan penanang untuk Kyungsoo. Beberapa suster disana membantu Baekhyun memegang tangan Kyungsoo agar tak banyak memberontak. Dokter muda tadi memberikan suntikannya kepada Chanyeol. Chanyeol memposisikan dirinya untuk segera menyuntikan penenang itu ke tangan Kyungsoo.
Brak
Semua menoleh kearah pintu yang dibuka kasar oleh seseorang. Orang itu masuk dengan gaya angkuhnya dan menatap tajam Chanyeol yang membawa sebuah suntikan. Chanyeol mengembalikan konsentrasinya dan menatap Kyungsoo yang masih histeris.
"Letakkan suntikan itu, Park!"
Chanyeol yang tadinya berniat menyuntik langsung berhenti setelah mendengar suara ancaman dari arah pintu.
"If you touch her with that things, I wanna kill you"
Ancaman Jongin kali ini membuat semua orang yang ada disana bergidik ngeri. Mereka seolah-olah merasakan aura kekejaman bergerak disekitar mereka. Chanyeok menurunkan tangannya dan menjatuhkan suntikan yang dibawanya.
Jongin mengambil langkah pelan nan mencekam kearah ranjang Kyungsoo. Disana Kyungsoo masih terus menjerit ketakutan. Jongin mengambil posisi Chanyeol yang berada disebelah Kyungsoo. Chanyeol tanpa banyak kata memberikan akses kepada Jongin untuk mendekati Kyungsoo.
"Kyungsoo"
Tangan Jongin terulur. Ia mengambil alih kedua tangan Kyungsoo yang masih bertenger dikepalanya. Kyungsoo masih memberontak bahkan menjerit pilu.
"Kyungsoo"
Jongin mencoba sekali lagi memanggil Kyungsoo. Entah apa yang terjadi tubuh Kyungsoo berhenti memberontak. Mata berair Kyungsoo menatap Jongin kosong. Jongin menurunkan kedua tangan Kyungsoo dan menggenggamnya erat.
"Eomma..." gumam Kyungsoo.
"I'm here, Kyungsoo"
Jongin membawa Kyungsoo kedalam pelukannya. Hal itu membuat semua yang ada disana kaget terutama Chanyeol dan Baekhyun. Keduanya tak menyangka jika Jongin dapat menenangkan Kyungsoo.
Jongin memeluk erat Kyungsoo dan mengelus punggungnya. Sedangkan Kyungsoo membenamkan wajahnya didada bidang Jongin dengan air mata yang terus mengalir. Jongin bisa merasakan kemejanya basah karena air mata Kyungsoo. Ia membiarkannya saja.
Chanyeol memberi kode kepada dokter dan suster disana untuk keluar. Mereka mengangguk dan meninggalkan ruangan itu. Kini hanya mereka berempat yang ada diruangan itu. Chanyeol maupun Baekhyun masih enggan mengeluarkan sepatah katapun. Mereka berdua sibuk dengan pemikirannya masing-masing tentang kondisi Kyungsoo yang mendadak tenang dipelukan Jongin.
Jongin masih terus memeluk Kyungsoo yang merancau tak jelas. Jongin tak memusingkang lagi dengan apa yang akan dikatakan Chanyeol nantinya. Ia hanya ingin mendekap erat tubuh mungil Kyungsoo dan memberikan kehangatan yang ia punya.
Jongin tergelak dengan pemikirannya. Kehangatan? Ia menertawakan dirinya sendiri karena memgambil sebuah kesimpulan yang tak pernah ia rasakan. Ia dingin. Sedingin es. Tak ada bagian darinya yang hangat. Bahkan perasaannya sudah membeku. Lalu kenapa ia datang kepada Kyungsoo dan memberikan gadis itu kehangatan? Sebuah lelucon yang sangat tak masuk akal menyerang otaknya.
Jongin menegaskan kepada dirinya sendiri jika ia tak memberikan apapun kepada gadis ini. Kehangatan sekalipun atau rasa empatinya. Ini hanya murni ia berbelas kasihan. Bukan sebagai seorang pria kepada seorang wanita tapi lebih ke sikap profesionalismenya.
'Sejak kapan kau berbelas kasihan pada rekan kerjamu?'
Shit! Jongin benci suara lain dalam pikirannya ikut berbicara. Jongin mengenyahkan suara yang entah dari mana itu agar tak mempengaruhi pendiriannya. Ia masih sama dengan dirinya yang sebelumnya. Ia tak akan terpengaruh oleh seorang wanita. Walaupun wanita itu selalu mempengaruhi pikirannya semenjak ia bertemu.
'Let's see...'
28.07.17
Yuhu...aku balik lagi. Pendek lagi? Biarlah. Ga tau lagi harus gimana, huhuhu. Sumpah pengem ngetik cepet tapi semua ga sesuai rencana.
Kalian masih bingung kah kenapa Chanyeol mau rebut Kyungsoo?? Coba baca chap sebelumnya pelan-pelan. Aku ga pernah ninggalin clue yang berat kok.
Menurut kalian cerita ini terlalu bertele-tele kah? Baru kali ini aku nulis bisa sepanjang ini dan konflik beratnya masih belum muncul. Apa aku perlu percepat? Tapi ntar feelnya ga dapet.
Chap ini agak beda ya. Kalian ngerasa? Biasanya aku ngasih Kyungsoo pov diawal tapi kali ini ditengah. Hahahaha #gapenting
REVIEW JUSEYO~~~~
