I DON'T NEED A MAN

.

.

.

.

.

KAISOO FANFICTION

.

.

.

.

BY KAISOOLOVERS

.

.

.

.

ORIGINAL IDEAS. DONT PLAGIAT. DLDR. GS. EXO. KAISOO. MAINSTREAM STORY

.

.

.

.

HAPPY READING

.

.

.

ENJOY

.

.

.

Aku melirik ke sudut ruangan guna mengalihkan tatapan tajam dari pria yang berada disebelah kananku. Dari aku membuka mataku namja ini sudah duduk dengan tenang dengan memandangi. Bukannya aku gugup hanya saja aku tak suka ditatap sepeti itu.

Tubuhku yang setengah duduk menyulitkanku menyembunyikan perubahan raut mukaku. Terkadang aku meliriknya sekilas dan ia masih dikondisi yang sama dimana melihatku tanpa berkedip. Aku berdehem pelan guna mencairkan suasana kaku yang sudah menyerbak selama satu jam ini.

"Bagaimana kondisimu?"

Aku terkejut ia mengeluarkan suara terlebih dahulu. Aku mengira dia akan berdiam diri disini. Aku menoleh kearahnya. Aku melihat pancaran matanya yang menyiratkan keingintauan tapi ekspresinya hanya datar.

"Aku baik" jawabku.

"Apa kau masih sering mengalami sakit kepala?"

Aku menyipitkan mataku menatapnya penuh selidik. Aku akui jika setelah aku bangun beberapa hari yang lalu aku merasa ada sesuatu yang aku lupakan. Seakan-akan kejadian beberapa hari sebelum aku terbangun menghilang begitu saja diingatanku. Aku sempat bertanya-tanya apa yang terjadi denganku.

"Jangan terlalu keras berpikir"

Aku membuang mukaku kearah lain. Apa sebegitu kelihatannya jika aku sedang berpikir keras?

"Atau kepalamu akan pecah" lanjutnya.

Aku mendengus. Aku merasakan ada sebuah pergerakan tapi aku tak berani menoleh. Aku masih mempertahankan posisiku tak menghadap kearahnya.

Aku tersentak saat seseorang duduk dipinggir ranjangku dan mencondongkan tubuhnya dihadapanku. Sebelah tangannya ia letakkan disisi lain tubuhku sebagai penopang hingga tubuhnya tepat dihadapanku. Aku menoleh dan langsung berhadapan langsung dengan wajahnya. Aku memundurkan kepalaku agar tak terlalu dekat dengan wajahnya.

Ia mulai membelai wajahku pelan dari pelipisku dan turun perlahan kearah daguku. Sentuhannya begitu menyengat. Aku tak menyukai sensasi ini. Dan yang paling penting aku tak menyukai namja didepanku.

"Sangat disesalkan wajah cantikmu ini sedikit lecet hanya karena wanita iblis itu" gumamnya.

Aku mengerutkan keningku. Apa maksudnya?

Ia kembali menyentuh keningku yang bergelombang dan mencoba meratakannya.

"Jangan terlalu banyak berpikir keras. Atau kau akan semakin cepat menua dengan keriput-keriput diwajahmu"

Aku menyingkirkan tangannya dan menatapnya tajam. Ia tersenyum kecil seakan menggodaku. Aku mendorong dadanya dengan sebelah tanganku agar ia menjauh sedikit dari hadapanku. Tapi tubuhnya tak bergeming. Ia terlihat menahan tubuhnya agar tetap diam didekatku.

Tangannya mengambil sebelah tanganku yang ada didadanya dan membawanya kearah wajahnya. Mataku membelalak melihat apa yang ia lakukan. Ia mencium telapak tanganku dengan lembut. Aku bisa merasakan betapa hangat dan basah bibirnya menyentuh kulitku.

Pandangannya sama sekali tak beralih dari mataku. Ia melakukan semua itu dengan menatapku. Aku menarik tanganku kembali. Ia tersenyum miring. Aku membuang mukaku tak ingin menatapnya.

"Kau milikku, Kyungsoo. Tak ada yang bisa mengubahnya"

Tubuhku menegang mendengar kata-kata ultimatumnya. Rasa jengkel langsung menyergap didiriku. Aku kembali menoleh kearahnya dan memandangnya sebal.

"Aku milik diriku sendiri, Tuan Kim" desisku.

Ia semakin mendekatkan dirinya kearahku. Aku mencoba mundur tapi sialnya tubuhku sudah terpojok sejak awal. Ia membuat jarak kami semakin sempit. Hembusan nafasnya bisa aku rasakan disekitaran wajahku. Aku menghalau tubuhnya dengan kedua tanganku yang langsung menekan dadanya.

Posisiku tak menguntungkan sama sekali. Kini aku berbaring diatas ranjang dengan dia berada diatasku. Panik mulai muncul. Aku semakin mendorong tubuhnya.

Wajah aku palingkan agar wajah kami tak terlalu dekat. Tapi aku menyesalinya kemudian. Aku seperti memberikan sisi wajahku untuk dikecupinya. Ia mulai melancarkan aksinya dengan mengecupi setiap inchi sisi wajahku. Mulai dari pelipis mataku perlahan turun ke pipiku dan terakhir dirahangku.

Aku menggeliat tak nyaman dengan perlakuannya. Aku semakin mendorongnya membuat jarak. Aku mencoba menggerakkan kepalaku kerah lain tapi lagi-lagi aku salah langkah. Ia memang sengaja memberiku jarak hanya untuk memgambil kesempatan dimana wajah kami akhirnya bertatapan. Tanpa menunggu lama ia langsung menciumku. Aku semakin keras memberontak tapi itu hal yang sia-sia.

Ia semakin memperdalam ciumannya. Pagutannya semakin liar. Aku mengerang dalam hati. Ini salah! Sangat salah! Aku tak ingin lagi terjebak didalam situasi seperti ini. Ini benar-benar tak menguntungkanku. Aku tak ingin terbuai lagi.

Sialnya tubuhku menolak kerja sama. Dengan gerakan diluar kontrolku, kedua tanganku bergerak melingkari lehernya menekan kepalanya untuk memperdalam ciuman kami. Tubuhnya merespon dengan cepat akan kode yang aku berikan.

Aku menjerit untuk menghentikan ini didalam otakku. Tapi semua kinerja tubuhku seakan-akan diambil alih olehnya. Lewat ciumannya ia seperti memerintahkan gerakan-gerakan tubuhku. Menyuruh mereka merespon dengan gerakan sensual yang bahkan tanpa aku sadari aku bisa melakukannya.

Ia melepaskan ciumannya dan memandangku. Kabut gairah terlihat dimatanya. Nafasku tersenggal-senggal. Ia juga sama. Nafas kami bertukar karena jarak yang dibuatnya tak terlalu jauh. Ia meneliti setiap jengkal wajahku. Sentuhannya bagaikan aliran listrik kuat yang menyengat kulitku.

"Kau sangat mempesona, Kyungsoo. Dan pesonamu hanya untukku" bisiknya rendah dan dalam.

Ia menjauhkan tubuhnya dari tubuhku. Ia berdiri disamping ranjangku dengan terus menatapiku. Pandangannya tak pernah teralihkan sedikitpun. Tubuhku mendingin. Apakah karena suhu ruangan yang terlalu dingin atau kehangatan tubuhnya yang menghilang dari tubuhku? Aku lebih memilih pemikiran pertama dibanding kedua. Lebih logis daripada yang kedua.

"Aku akan pergi"

Aku tersentak dari lamunanku dan menatapnya.

"Jangan rindukan aku"

Aku mendengus mendengar ucapannya. Ia melangkah menjauhi kasurku. Aku menatap punggungnya hingga ia menghilang dibalik pintu. Aku menghela nafasku. Ini semua terlalu cepat untukku.

Aku menatap atap langit kamar rawatku. Tiba-tiba saja aku merindukan eommaku. Aku ingat beberapa waktu lalu aku sempat memimpikannya. Bahkan masih jelas diingatanku jika aku dipeluk oleh seseorang yang wanginya mirip eomma. Tapi kenapa aku melupakan ingatan setelah itu? Rasanya ada yang mengganjal tapi aku sendiri tak tau apa itu.

Kepalaku berdenyut sakit. Aku menutup mataku untuk meredakannya. Sebuah pemikiran terlintas dibenakku. Apakah aku harus membuka diri seperti kata eommaku? Tapi itu sulit. Rasa bersalahku selalu menggerogoti otakku dan menyalurkan rasa sakit yang luar biasa bila aku mengingatnya.

--:--

Jongin berjalan perlahan dengan tangan dikedua sakunya. Wajahnya tak menunjukkan apapun. Ia selalu bisa menjaga ekspresinya dimana saja. Beberapa hari ini ia selalu menghabiskan waktu di rumah sakit untuk sekedar menemani Kyungsoo.

Seluruh staff rumah sakit tau akan keberadaan Jongin yang sering berkunjung kesana menjadi lebih siaga. Jongin orang yang selalu tampil sempurna. Ia menginginkan semua perintahnya dilaksanakan. Walaupun ia hanya pemegam saham terendah, status sebagai sahabat pewaris rumah sakit itu menjadi hal lain yang perlu dipertimbangkan.

Jongin selalu mendapatkan hak istimewa. Bahkan ia memiliki ruang rawat VIP yang berbeda dibandingkan kelas VIP yang lain. Dan Jongin selalu menginginkan dokter terbaik. Ia tak ingin sembarangan dokter merawatnya atau orang-orang yang spesial baginya. Jongin selalu menginginkan sahabatnya memegang penuh pemeriksaan yang dijalaninya. Ia sangat mempercayai sahabatnya itu.

Yun menunggu Jongin di lobi rumah sakit. Ia mulai melangkah mengimbangi langkah bosnya yang santai. Yun membukakan pintu mobil untuk Jongin. Jongin melangkah masuk dan Yun menutup pintunya. Yun mengambil alih kursi disebelah kursi pengemudi.

Mobil berjalan lambat. Yun menyerahkan sebuah amplop coklat kepada Jongin. Jongin menerimanya dan mulai membacanya.

"Apa ini sudah berisi semua data yang aku butuhkan?" tanya Jongin.

"Semuanya seperti permintaan anda" jawab Yun.

Jongin mulai meneliti kertas-kertas yang berada didalam amplop itu. Setiap deret kata yang tercetak dikertas itu menaikkan emosi Jongin. Jongin melempar kertas-kertas itu penuh emosi. Nafasnya memburu.

Yun melirik Jongin melalui spion. Ia sangat tau kenapa bosnya sangat marah. Ia hanya diam tak menimpali sedikitpun kemarahan Jongin.

"Aku ingin kau mendapatkannya kurang dari 48 jam, Yun" perintah Jongin geram.

"Anak buah saya sudah menemukannya, bos. Mereka akan membawanya besok. Anda ingin tempatkan dia dimana?"

"Tempat biasa. Jangan melakukan apapun. Aku yang akan melakukannya sendiri"

"Anda tak perlu repot. Biarkan saya dan anak buah saya..."

"Kau membantahku?" tanya Jongin dingin penuh ancaman.

Yun bisa melihat Jongin menatapnya lewat spion. Yun menelan ludahnya kasar.

"No, sir"

"Good"

--:--

Jongin membaringkan Kyungsoo dan membenarkan selimutnya. Baekhyun dan Chanyeol masih terdiam. Mereka melihat dengan jelas apa yang Jongin lakukan kepada Kyungsoo.

Pintu ruang rawat Kyungsoo terbuka dan menampilkan sosok wanita paruh baya yang menunjukkan ekspresi cemasnya. Ia menghampiri ranjang Kyungsoo dan memandang Kyungsoo yang tertidur.

Baekhyun memeluk wanita tua itu dan dibalas usapan halus pada punggungnya. Ia melirik kearah Chanyeol dan Jongin bergantian.

"Ada yang bisa jelaskan apa yang terjadi?" tanya wanita tua itu.

"Kyungsoo mengamuk" jawab Chanyeol singkat. Ia melirik kearah Baekhyun yang memandangnya dibalik pelukan.

Dokter Lee mengajak Baekhyun duduk disofa dan memberi kode kepada Chanyeol dan Jongin untuk mengikutinya. Jongin melirik kearah Kyungsoo yang tertidur lelap lalu berjalan kearah sofa untuk bergabung dengan yang lainnya.

"Apa yang sebenarnya terjadi dengan eonnieku?" tanya Baekhyun menatapi satu persatu orang yang ada disana secara bergantian.

Chanyeol membuang mukanya enggan berbicara sedangkan Jongin hanya diam. Mereka berdua tau jika ini bukan urusan mereka untuk menjawab pertanyaan Baekhyun. Disaat Baekhyun tak juga menemukan apa yang diinginkannya ia menatap Mrs. Lee penuh harap. Mrs. Lee menghela nafasnya pelan.

"Kakakmu mengalami depresi hebat. Ini semua berkaitan dengan masa kecilnya"

Kening Baekhyun bertaut.

"Maksudnya?"

Mrs. Lee menatap Baekhyun.

"Kakakmu tak setegar kelihatannya, Baek. Ia menyimpan banyak luka di masa lalunya. Maaf karena merahasiakan ini darimu tapi ini permintaan Kyungsoo"

Baekhyun menatap nanar kearah Kyungsoo. Ia melihat apa yang terjadi tadi. Bagaimana eonnienya sangat kesakitan dan itu membuatnya hancur. Separah itu kah? batin Baekhyun.

Baekhyun menatap Mrs. Lee penuh harap.

"Bisakah ahjumma menjelaskannya padaku?"

Mrs. Lee menggeleng.

"Bukan maksudku untuk tak memberitahumu, Baek. Tapi yang berhak mengatakannya hanya Kyungsoo. Biarkan dia terbuka kepadamu"

Baekhyun mendesah kecewa.

"Aku dongsaeng yang buruk. Eonnie mengalami kesulitan ini tanpa aku mengetahuinya" lirih Baekhyun.

Mrs. Lee memeluk Baekhyun. Gadis kecil seperti Baekhyun masih belum saatnya menerima segala keadaan buruk ini.

"Aku pergi" ucap Jongin meninggalkan segala kecanggungan kesedihan ini.

"Tunggu!" cegah Mrs. Lee.

"Bagaimana kau bisa menenangkan Kyungsoo?" tanyanya kemudian.

Chanyeol menatap penuh ingin tau. Sebenarnya ia juga ingin menyuarakan pertanyaan yang sama. Tapi situasi tadi tak memungkinkannya bertanya.

"Aku hanya memeluknya" jawab Jongin sekenanya.

"Saat Kyungsoo kambuh tak ada satupun yang bisa menenangkannya kecuali obat penenang yang disuntikan ketubuhnya. Dan kau hanya memeluknya?"

Semua orang menatap Jongin yang berdiri ditengah ruang.

"Itu semua hanya keberuntungan"

"Dalam situasi seperti ini keberuntungan tak berlaku" sanggah Mrs. Lee.

"Lalu?" tanya Jongin.

"Mungkin ini saatnya mengubah terapi Kyungsoo. Aku belum pernah melakukannya karena belum menemukan orang yang pas. Tapi sepertinya aku sudah menemukannya" ujar Mrs. Lee.

"Aku menolak!"

Mrs. Lee dan Baekhyun menoleh kearah Chanyeol. Pemuda tinggi itu sedari tadi hanya diam memperhatikan tiba-tiba membuka suaranya menentang keputusan Mrs. Lee.

"Aku dokternya disini, dokter Park!" tegas Mrs. Lee.

"Aku juga dokternya. Aku menentang semua keputusan yang akan anda buat. Saya tau kemana anda mengarah" sahut Chanyeol.

"Kita tak punya pilihan!"

"Ini bukan pilihan melainkan keputusasaan!"

"Aku sudah memikirkannya dari dulu. Kyungsoo butuh orang lain untuk membuka dirinya!"

"Tapi bukan dia!"

Chanyeol menunjuk Jongin.

"Anda lupa jika namja ini yang memulai kekambuhan Kyungsoo! Orang ini juga yang membuat semua kejadiaan ini terjadi!" bentak Chanyeol.

Jongin menggeram marah melihat Chanyeol yang menolaknya untuk membantu Kyungsoo. Ia tak tau apa yang akan dilakukan dokter Lee dengan dirinya. Tapi mendengar percakapan mereka membuat Jongin cukup yakin jika ia akan berperan besar untuk kesembuhan Kyungsoo.

Jongin mencengkeram jas Chanyeol hingga kedua wajah mereka bertemu. Jongin mengeraskan rahangnya menahan marah begitupula Chanyeol. Kedua namja itu saling beradu tatapan cukup lama. Jongin melepaskan cengkramannya dan membuat beberapa langkah mundur.

"Aku tak butuh pendapatmu, Park. Aku akan melakukan semuanya dengan caraku. Dan semua itu tak butuh persetujuanmu"

Jongin melangkah mundur kemudian berbalik meninggalkan ruang rawat Kyungsoo. Baekhyun dan Mrs. Lee hanya diam. Mereka berdoa tak akan ada baku hantam antara kedua pria itu. Dan untung saja doa mereka dikabulkan.

Chanyeol mengacak rambutnya kasar. Sial untuknya karena sahabatnya itu akan sangat sulit dipengaruhi jika sudah membulatkan tekadnya. Dan ia hanya bisa berdoa jika apa yang akan dilakukan Jongin nantinya tak berdampak buruk kepada Kyungsoo.

--:--

Jongin memasuki salah satu mansionnya yang berada dipinggiran kota. Mansion ini merupakan salah satu mansion terselubungnya untuk melakukan hal gelapnya. Begitu ia masuk sudah disambut beberapa orang berjas rapi dengan tampang sangar. Mereka membungkuk hormat saat Jongin melewatinya.

Jongin dituntun menuju salah satu ruangan yang berada dibawah. Ruangan khusus yang ia siapkan untuk kasus seperti ini. Didalam sana Yun sudah menunggu kedatangan Jongin.

Disamping Yun terlihat seseorang yang terikat dan kepalanya ditutupi karung. Jongin memberikan isyarat kepada Yun untuk membuka penutupnya. Saat penutupnya dibuka, seorang yeoja dengan mulut disumpal dan berurai air mata menyapu pandangan Jongin. Jongin menyunggingkan senyum miringnya. Bukannya kelihatan tampan tapi senyuman itu sangat mengerikan.

Jongin mendekati yeoja itu selangkah demi selangkah. Pelan penuh ancaman. Yeoja itu semakin panik melihat Jongin mendekat kearahnya. Kepalanya ia gelengkan dengan tubuh yang sebisa mungkin menjauh dari Jongin. Jongin berhenti tepat satu langkah dari yeoja itu. Yeoja itu merancau tak jelas.

Jongin berjongkok menyamai tinggi yeoja itu hingga bisa melihat langsung wanita itu. Jongin memperhatikan penampilan wanita itu. Ia terlihat seperti gelandangan dengan baju compang camping dan rambut berantakan.

"Hello again" sapa Jongin.

"Bukankah aku sudah memperingatimu untuk menjauh dari wanitaku?"

Jongin menatap tajam wanita dihadapanya. Air mata mengalir deras dipipi wanita itu. Terdengar raungan tak jelas yang dilontarkan wanita itu tapi Jongin hiraukan.

Jongin bangkit. Ia rapikan jasnya. Ia melangkah menjauh menuju sebuah meja. Dimeja itu terdapat sebuah revolver hitam mengkilat dengan ukiran emas. Jongin mengambilnya dan mengusapnya pelan.

"Kau tau bukan jika aku tak pernah main-main dengan ucapanku?"

Jongin melangkah kecil disekitaran gadis itu dengan terus mengusap revolvernya. Langkahnya berhenti tepat didepan wanita itu. Wanita itu mendadak histeris dengan mulut yang masih disumpal. Tubuhnya semakin memberontak melihat apa yang akan Jongin lakukan setelahnya.

Jongin mengarahkan revolver itu kekepala wanita itu setelah melepaskan kunciannya. Ia menggenggam erat revolvernya yang ia arahkan persis dikening yeoja itu. Sang yeoja berusaha menjauhkan kepalanya dari arahan revolver itu. Keringat dingin mulai keluar dari tubuh yeoja itu.

Wajah kejam Jongin langsung terlihat jelas. Tak ada belas kasihan. Tak ada ampunan. Tak ada rasa takut dan tak ada keraguan. Yun melihat bosnya yang terlihat serius. Jika sudah dalam situasi seperti ini tak ada satupun orang yang berani mengusik Jongin. Mereka tau konsekuensinya. Mengganggunya sama saja kehilangan nyawa.

"Bye bye, bitch!"

DOR #ehehehe

Kaget?

09.08.17

Miaaaannnn banget... Aku telat apdet disini. klo diWP aku udah apdet dr tgl 9 dan kelupaan mau apdet disini. maafkan aku.

Ceritanya semakin absurb ya? Kok aku malah jadi ngerasa aneh sendiri. Tapi biarlah. Yang nunggu ada kaisoo momentnya noh udah aku kasih. Sebenernya ga pas. Kalian udah ga sabar sih pengen ada momennya. Tapi aku coba masukin dan semoga ga terlalu maksa.

Yang masih belum nemu hubungan antara ChanKaiSoo kalian bisa tunggu aja cerita ini. Semua akan terungkap pada waktunya. Kalian bebas main tebak-tebakan.

REVIEW JUSEYO~~~~