I DON'T NEED A MAN
.
.
.
.
.
KAISOO FANFICTION
.
.
.
.
BY KAISOOLOVERS
.
.
.
.
ORIGINAL IDEAS. DONT PLAGIAT. DLDR. GS. EXO. KAISOO. MAINSTREAM STORY
.
.
.
.
HAPPY READING
.
.
.
ENJOY
.
.
.
Aku menggeliat dari tidurku. Bias-bias cahaya membelai wajahku dan meninggalkan rasa hangat. Aku mengerjabkan mataku menghalau sinar matahari yang menyinari dengan teriknya. Aku bergerak menghindari sinar dan bersembunyi dalam bayangan.
Aku mengedarkan seluruh pandanganku menyapu kesegala penjuru sudut ruangan. Tak ada siapapun disini. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada aku menegakkan badanku hingga terduduk. Aku mengucek mataku kemudian menghembuskan nafas.
Hari berganti lagi tapi aku masih saja terkurung disini. Beberapa kali aku menanyakan perihal kepulanganku tapi selalu saja banyak alasan yang diberikan pihak rumah sakit. Mulai dari kondisi belum stabil hingga masih perlu yang harus dicek. Apalagi yang harus dicek? Aku tidak gila!
Aku akui kekambuhanku menjadi lebih sering dan itu sedikit merepotkanku. Tapi aku juga tak ingin itu terjadi. Aku ingin menjadi normal tanpa perlu bayang-bayang masa lalu. Mrs. Lee sering berkunjung untuk menemaniku atau untuk sesi konsultasi. Katanya aku sudah banyak berkembang. Tapi aku merasa tak demikian. Aku masih belum bergerak. Aku masih belum berubah.
Aku menarik kakiku hingga tertekuk dan mulai menelungkupkan wajahku diantara dua lututku. Kenapa rasanya sangat susah? Kenapa begitu berat? Kenapa ini terjadi padaku. Air mataku mulai mengalir tanpa aku sadari. Kedua tanganku yang memeluk kakiku semakin ku eratkan. Kilasan masa lalu membayangiku lagi.
Tiba-tiba hantaman besar mengenai kepalaku. Sekelibat bayangan masa lalu menyergapku. Mendadak aku menjadi takut. Rasa panik menjalar keseluruh tubuh. Aku mendongak dengan cepat. Sekilas aku melihat sosok bayangan. Bayangan hitam tak terlalu jelas. Bayangan itu perlahan-lahan membentuk siluet seseorang.
Mataku melebar. Aku bergerak mundur dengan penuh pertahanan. Bayangan itu mendekat kearahku. Aku mengambil selimutku dan menariknya menutupi tubuhku. Dia kembali. Kenapa bisa?
Aku bisa melihat senyumannya. Senyuman iblis yang dulu kuanggap sebagai senyuman malaikat. Tubuhku terus merangkak mundur. Aku memegangi kepalaku dengan kedua tanganku. Sebisa mungkin aku menghindari tatapannya.
Aku menunduk dan mulai menjerit tak jelas. Siapa saja tolong aku. Teriakanku semakin kencang saat sosok itu semakin mendekat. Aku melempar apapun yang ada didekatku. Aku tak ingin bayangan itu mendekatiku. Aku berusaha mengahalau kedekatan bayangan itu. Aku takut.
--:--
Dua orang berbadan besar senantiasa berdiri didepan kamar rawat Kyungsoo. Keduanya tak pernah sekalipun saling berbicara satu sama lain. Mereka menjunjung tinggi sikap profesional mereka. Setiap hari akan ada dua orang pengganti untuk menjaga Kyungsoo. Segala peralatan canggih menjadi penunjang mereka.
Setiap satu jam sekali mereka akan mengecek keadaan Kyungsoo dari luar kamar. Memastikan semua baik-baik saja. Kedua orang itu serentak menoleh saat mendengar suara jeritan dari dalam kamar Kyungsoo. Mereka melihat Kyungsoo menjerit ketakutan dan mulai melempar barang-barang. Salah seorang dari mereka memencet sebuah tombol sedangkan yang lainnya sedang menelepon.
Tak berapa lama beberapa suster dan dokter datang dan masuk kedalam ruang rawat Kyungsoo. Kedua orang penjaga itu hanya menyaksikan dari luar.
"Baru saja terjadi"
"Saya akan memberikan info selanjutnya kepada anda"
Salah satu penjaga itu mematikan ponselnya. Sudah menjadi tugasnya melaporkan segala situasi kepada pemimpin mereka. Karena itulah mereka ditugaskan disini selain menjaga Kyungsoo.
Yun melihat bosnya mengambil sebuah revolver kesayangannya. Bosnya memang tak pernah membawa benda itu kemana-mana. Tapi revolver itu merupakan salah satu senjata yang sangat Jongin sukai. Jongin pernah memakainya beberapa kali dan selebihnya ia menyimpan senjata itu.
Yun tau orang seperti apa Jongin. Jongin bukan tipe orang yang dengan mudahnya menyakiti seorang wanita. Secara fisik maksudnya. Mungkin jika menyakiti wanita secara psikis bosnya jagonya. Tak banyak wanita yang patah hati karenanya. Yun yakin jika Jongin tak bersungguh-sungguh akan menembak wanita ini.
Semua orang menjadi tegang saat Jongin menempelkan senjatanya dikening wanita itu. Dan tepat saat itu juga ponsel Yun bergetar. Yun menjauhkan dirinya untuk menerima telepon dari salah satu bawahannya. Yun langsung berubah serius mendengar berita yang disampaikan oleh bawahannya.
Yun menutup teleponnya dan menghampiri Jongin. Yun tau jika sebentar lagi Jongin akan menekan pelatuknya. Ia bisa mendengar kalimat yang Jongin lontarkan.
"Bye bye, bitch!"
"Maaf mengganggu anda"
DOR
Tak terduga dan tak ada yang mengantisipasi apa yang terjadi saat itu. Ucapan Yun disambut dengan suara letusan senjata api. Semua orang disana terkejut bukan main. Bukan karena seorang tergelatak tak bernyawa dengan darah yang mengalir dari kepalanya melainkan luka gores yang timbul di bahu kiri Yun karena ditembak oleh Jongin.
Semua tak menyangka Jongin akan menembak orang kepercayaannya. Tapi Jongin tetaplah Jongin. Jika ada orang yang mengganggunya ia akan membalasnya.
Yun tau jika Jongin melesetkan tembakannya. Bosnya itu tak pernah gagal dalam menembak sasaran dengan tepat. Dan konsekuensi yang ia dapat lebih ringan dari yang ia duga. Yun sudah tau jika Jongin akan menembaknya.
Jongin menatap Yun dengan wajah seriusnya. Ia masih mengangkat tangannya diposisi dimana ia menembak Yun.
"Sebaiknya kau mempunyai alasan yang bagus untuk menggangguku, Yun" ucap Jongin datar dan dingin.
Jongin menurunkan tangannya. Ia menoleh kearah wanita yang akan ditembaknya tadi. Wanita itu sudah tergeletak tak sadarkan diri. Sepertinya ia mengalami ketakutan berlebihan hingga mengalami syok dan jatuh pingsan.
"Saya mendapat kabar jika nona Kyungsoo mengalami kekambuhan"
Jongin menatap Yun penuh ingin tau. Mendengar nama Kyungsoo disebut membuat amarahnya mereda.
"Nona Kyungsoo kembali histeris" lanjut Yun.
"Kita ke rumah sakit sekarang!" peritah Jongin.
Jongin keluar ruangan itu menuju mobilnya yang diikuti Yun. Sesampainya dimobil, Jongin berhenti disamping pintu mobil dan menatap Yun.
"Bersihkan lukamu dan susul aku. Jangan lupa bereskan wanita itu. Buat dia kehilangan akalnya dan buang dijalanan. Biarkan dia ditemukan orang dan menganggapnya sebagai orang gila"
"Ne"
Jongin memasuki mobilnya dan langsung meluncur kearah rumah sakit. Yun memandang mobil bosnya yang sudah menjauh. Ia usap luka tembak dibahunya. Darah yang keluar lumayan banyak. Ia harus bergegas membersihkan lukanya dan menyusul Jongin ke rumah sakit.
Jongin memasang bluetooth earphonenya dan mulai mencari sebuah nama. Setelah mendapatkannya ia langsung menghubungi orang itu dan semakin menambah laju mobilnya. Beberapa kali deringan belum ada tanda-tanda teleponnya akan diangkat.
"Sial!" umpat Jongin.
"Kau meneleponku hanya untuk mengumpatiku?"
Jongin memutar bola matanya.
"Kau terlalu lama mengangkat teleponmu!" sembur Jongin marah.
"Aku punya pasien yang diurus disini" protes Chanyeol.
Jongin langsung terdiam mendengar kata pasien. Ia langsung ingat dengan tujuan utamanya menelepon Chanyeol.
"Bagaimana Kyungsoo?"
"She is fine now"
"Kau membiusnya?"
"Tentu saja. Hanya itu satu-satunya yang membuatnya tenang"
Jongin menggeram. Ia mengeratkan pegangan pada kemudi mobilnya.
"Aku bisa menenangkannya!"
"Menunggumu hingga sampai disini akan memperpanjang siksaan Kyungsoo! Lagipula kau bukan orang senggang yang bisa dengan mudah berada disini dalam waktu singkat. Semua 'pekerjaan'mu itu tak bisa kau 'tinggalkan' begitu saja"
Jongin terdiam. Chanyeol benar. Semakin lama membiarkan Kyungsoo histeris itu akan semakin memperpanjang siksaan yang didapat wanita itu. Memikirkan Kyungsoo berteriak histeris membuat Jongin meradang.
"Sudahlah kau tak perlu kemari. Aku bisa menanganinya sendiri"
"Kau tak berhak melarangku!" geram Jongin.
"Memang tidak. Tapi kau berada disinipun tak ada yang bisa kau lakukan" balas Chanyeol santai.
"Aku malas berbicara denganmu"
"Kau yang meneleponku jika kau lupa"
Jongin mematikan panggilannya. Ia injak kuat pedal gasnya hingga mobil melaju kencang. Ia ingin cepat sampai di rumah sakit.
--:--
Chanyeol memandang iba kearah Kyungsoo yang sudah tenang. Kamar rawatpun sudah dibersihkan dan dirapikan. Chanyeol tak mengerti. Kenapa perempuan seperti Kyungsoo bisa mengalami hal ini. Rasa traumatis Kyungsoo lebih besar dari yang ia kira. Seperti Kyungsoo menyembunyikan sesuatu hal untuk dirinya sendiri.
Chanyeol ingat dokter Lee bercerita tentang kondisi Kyungsoo dulu. Dulu Kyungsoo selalu tertutup dan tak ingin menceritakan apa yang terjadi. Tapi usaha dokter Lee yang terus mencari tau akhirnya membuahkan hasil. Hal itu tak luput dari peran ibunya Kyungsoo. Beliau menceritakan apa yang terjadi kepada dokter Lee. Dengan modal cerita itulah dokter Lee mulai menjalin interaksi dengan Kyungsoo.
Semuanya berjalan dengan mulus hingga akhirnya Kyungsoo bisa berlaku normal. Hanya saja ada satu hal yang masih mengganjal dibenak dokter Lee kala itu. Kyungsoo sangat menutup diri dengan lelaki. Ia akan berubah dingin bila bertemu lelaki. Masih belum diketahui apa penyebabnya. Dokter Lee hanya menyimpulkan jika mungkin itu efek dari reaksi traumatisnya.
Chanyeol sangat menyesali pertemuan Kyungsoo dengan Jongin. Mungkin tak sepenuhnya menyesal karena bisa melihat perubahan pada diri sahabatnya dan bertemu dengan Baekhyun. Tapi bila pertemuan itu tak terjadi maka Kyungsoo tak akan semenderita ini. Rasa traumatis yang hilang tiba-tiba muncul kembali hanya karena satu namja.
Chanyeol mengusap pelan kepala Kyungsoo. Ia tau Kyungsoo sangat kuat dan tegar tapi itu semua hanya kedok. Kyungsoo berusaha menutupinya dari semua orang. Gadis seperti Kyungsoo tak pantas mendapatkan kesakitan seperti ini. Ia berjanji pada dirinya untuk melindungi Kyungsoo demi seseorang yang merebut perhatiannya.
"Jauhkan tanganmu!"
Chanyeol menarik tangannya dan menatap Jongin yang sudah berdiri didepan pintu. Chanyeol membiarkan Jongin menatapnya dengan pandangan membunuh. Ia berjalan kearah sofa dan duduk disana. Jongin masih memperhatikan Chanyeol yang diabaikan oleh Chanyeol.
"Jangan pernah menyentuhnya!"
"Kau tak berhak melarangku!"
Chanyeol memberikan tatapan tajamnya. Jongin masih tak bergerak dan terus menatap Chanyeol penuh kebencian.
"She's mine!"
Chanyeol tertawa. Ia tak menyangka Jongin masih saja bermain dengan segala kepemilikannya.
"Tak usah berlagak kau memang memilikinya, Kim"
Jongin mengepalkan tangannya.
"Pastikan dulu apa yang kau inginkan darinya baru setelah itu kau bisa memutuskan memang pantaskah dia menjadi milikmu" lanjut Chanyeol.
"Apa maumu?" tanya Jongin datar.
Chanyeol bangkit dan berjalan kearah ranjang Kyungsoo. Ia melirik sebentar kearah Kyungsoo. Semoga ini keputusan yang tepat.
"Merebutnya darimu" tegas Chanyeol dan memandang Jongin.
Jongin mengeraskan rahangnya. Selama ini tak ada yang bisa menentangnya. Ia akan melakukan segala cara untuk mendapatkan yang ia mau. Dan sekarang sahabatnya sendiri ingin merebut miliknya?
"Kau tak akan bisa melakukannya" geram Jongin.
Chanyeol tersenyum remeh.
"Apa tujuanmu sebenarnya?"
Chanyeol menggidikkan bahunya acuh.
"Kau menyukai Kyungsoo?"
Lidah Jongin kelu saat mengatakannya. Ia merasa tak rela mengucapkannya. Tapi ia ingin memastikan sesuatu.
"Jika memang begitu apa itu masalah buatmu?" balas Chanyeol.
"Apa kau yakin?"
Jongin mengangkat sebelah alisnya.
"Aku selalu yakin" jawab Chanyeol penuh keyakinan.
"Aku harap setelah ini kau tak menyesali ucapanmu, Park"
Chanyeol mengerutkan dahinya tak mengerti.
"Sorry, cutie pie. Kau harus mendengarkannya" ucap Jongin kepada seseorang dibelakangnya.
Chanyeol mencoba melongok siapa yang diajak bicara dengan Jongin. Jongin menggeser sedikit badannya dan menampilkan seorang yeoja mungil dengan tatapan tak terbacanya. Mata Chanyeol melebar. Sial sekali baginya karena ada orang yang tak seharusnya mendengar apa yang diucapkannya tadi.
"Baek..."
"Maaf mengganggu pembicaraan kalian. Tapi aku disini ingin menemui eonnieku"
Ucapan Chanyeol terpotong begitu saja. Chanyeol pun tak tau harus berkata apa. Baekhyun memasuki ruang rawat Kyungsoo tanpa mempedulikan keberadaan dua namja itu.
"Baek.."
"Aku dengar eonnie histeris lagi. Apakah benar dokter?"
Lagi-lagi ucapan Chanyeol terpotong oleh pertanyaan Baekhyun. Baekhyun menatap Chanyeol.
"Eoh? Eoh"
Chanyeol gelagapan. Ia sempat tak fokus dengan pertanyaan Baekhyun. Tatapan Baekhyun membuatnya tersadar dan itu membuatnya gugup.
Jongin tersenyum menang melihat Chanyeol yang sepertinya tak bisa menghadapi Baekhyun akibat obrolan tadi. Jongin tau jika Baekhyun bersembunyi dibalik pintu saat mereka berdebat tadi. Ia sengaja memancing Chanyeol walaupun itu membuatnya jengkel. Kini ia hanya perlu membuat sekutu untuk menyingkirkan Chanyeol dari Kyungsoo.
"Bagaimana jika kita makan bersama, cutie pie?" tanya Jongin yang mulai mendekati Baekhyun.
Chanyeol menatap Jongin tak suka. Baekhyun menatap Jongin dengan penuh pertimbangan. Chanyeol menghalangi langkah Jongin yang semakin dekat dengan Baekhyun. Kini posisi Chanyeol berada diantara Jongin dan Baekhyun.
Jongin menghentikan langkahnya dan mengangkat sebelah alisnya melihat tingkah Chanyeol yang terlihat lucu dimatanya. Perkataannya beberapa saat lalu sangat berbanding terbalik dengan perbuatannya.
"Baiklah. Kebetulan aku belum makan" sahut Baekhyun.
Chanyeol berbalik dan menatap tak percaya kearah Baekhyun.
"Jika begitu aku ikut" sela Chanyeol.
Baekhyun menatap Chanyeol.
"Sebaiknya dokter disini saja. Aku rasa dokter lebih baik dalam menjaga eonnieku"
Perkataan Baekhyun menohok Chanyeol. Seolah-olah Baekhyun sedang menyindirnya karena ucapannya tadi. Ia sangat ingin menjelaskannya kepada Baekhyun tapi tak bisa. Jongin berada disini dan itu akan membuat segala rencananya berantakan. Chanyeol memilih diam saat Baekhyun melewatinya begitu saja.
Jongin menyeringai saat Baekhyun berada disebelahnya. Jongin menatap Chanyeol mengejek. Ia merasa menang dua kali saat ini. Ia beruntung Baekhyun datang disaat yang tepat. Jongin memegang bahu Baekhyun dan membawanya keluar ruangan. Kilatan amarah terbaca jelas dimata Chanyeol dan Jongin sangat menyukainya.
--:--
Jongin dan Baekhyun duduk disalah satu bangku kantin rumah sakit. Baekhyun sengaja menolak makan diluar rumah sakit. Ia hanya tak mau terlalu jauh. Ia takut jika eonnienya memgalami histeris lagi tanpa ada orang disisinya.
Yun mengantarkan makanan yang dipesan Jongin dan Baekhyun. Sesaat Yun sampai dirumah sakit, bosnya itu sudah berada dilobi menuju kantin. Jongin memberikan tanda untuk mengikutinya sampai ke kantin. Yun meletakkan pesanan mereka pelan.
"Gamsahamnida" ucap Baekhyun kepada Yun.
Yun hanya mengangguk dan menjauh dari meja Jongin. Jongin memperhatikan Baekhyun yang dengan tenang memakan makanannya.
"Kau berbeda dengan kakakmu" ucap Jongin.
Baekhyun menghentikan makannya dan memperhatikan Jongin.
"Kau tak banyak melawan. Tak sepertinya" lanjut Jongin.
"Kesempatan tidak datang dua kali. Kebetulan memang aku sedang lapar jadi aku menerima tawaranmu" sahut Baekhyun.
"Dan cara bicaramu lebih santai. Tak seperti kakakmu yang selalu menggunakan kata 'saya-anda'"
"Itu karena dia bersikap profesional. Bukankah kau dulu rekan kerjanya?"
Jongin menyesap kopinya dengan terus memandangi Baekhyun.
"Ya dulu" jawab Jongin.
"Aku tau kenapa eonnie menghindarimu"
Jongin menaikkan sebelah alisnya. Kakak beradik ini sungguh menarik. Baekhyun menyandarkan punggungnya ke kursi dan melipat kedua tangannya didepan dada. Ia memandang Jongin tanpa takut.
"Kau terlalu arogan, berkuasa dan dominan. Semua itu hal yang paling dibenci eonnie"
Baekhyun mencondongkan tubuhnya kearah meja dan meletakkan kedua tangannya yang terlipat diatas meja.
"Dan yang paling penting dari semua itu adalah kau itu namja" lanjut Baekhyun.
"Wow...aku tak menyangka makhluk mungil sepertimu bisa berkata seberani itu kepada orang yang lebih tua"
Jongin menatap remeh kearah Baekhyun.
"Aku orang yang selalu mengatakan apa adanya. Entah itu orang asing ataupun yang lebih tua. Terutama untuk orang sepertimu"
Jongin terkekeh mendengar penuturan Baekhyun. Oh...dia semakin tertarik dengan kakak beradik ini. Sangat menyenangkan bisa berinteraksi dengan mereka.
"Mulutmu perlu diberi pelajaran sepertinya. Kau mau kuperlihatkan cara menghukum gadis kecil sepertimu?"
Jongin tersenyum miring. Baekhyun berdecih mendengarnya. Baekhyun tak suka dengan namja seperti dia. Terlalu berbelit-belit dan otoriter. Baekhyun berdiri dan menatap Jongin.
"Terima kasih makanannya" ucap Baekhyun dan berlalu dari sana.
Jongin tersenyum kecil. Sekarang ia tau kenapa Chanyeol tertarik kepada bocah itu.
Yun datang menghampiri Jongin dan berdiri disebelahnya. Jongin masih terlihat santai dengan kopi ditangannya. Ia akan duduk lebih lama disini sebelum kembali ke ruang rawat Kyungsoo.
"Apa persiapannya sudah selesai?" tanya Jongin.
"Ne. Kita menunggu keputusan anda selanjutnya"
"Urusi semua administrasi rumah sakit dan aku ingin dia bisa pulang sore ini"
"Tapi bagaimana jika Tuan Park menolak?"
"Do your job, Yun" ucap Jongin rendah dan dingin.
"Ne. Akan saya laksanakan"
Yun meninggalkan Jongin yang masih bersantai. Jongin sudah mempersiapkan segalanya. Ia ingin Kyungsoo segera berada dalam jangkauannya. Jongin ingin memiliki Kyungsoo seutuhnya. Ia tak ingin berbagi. Tak sekalipun dalam benaknya Jongin memberikan Kyungsoo kepada orang lain. Jongin hanya ingin Kyungsoo. Tak ada yang lain. Obsesi terbesarnya saat ini selain pekerjaan adalah Kyungsoo. Dan ia akan mendapatkannya sebentar lagi.
--:--
Baekhyun kembali ke ruang rawat Kyungsoo. Ia menyapa setiap perawat yang sudah ia kenali. Karena eonnienya dirawat cukup lama jadi ia lebih banyak menghabiskan waktu dirumah sakit. Setiap pulang sekolah ia akan rutin datang menjenguk eonnienya. Baekhyun tau jika eonnienya ingin segera pulang. Tapi jujur saja Baekhyun takut. Ia takut jika eonnienya mengalami hal buruk dan ia tak bisa berbuat apa-apa sebagai adik.
Baekhyun membuka pintu ruang rawat Kyungsoo yang sebelumnya beradu pandang dulu dengan dua penjaga didepan pintu. Baekhyun tak habis pikir. Menurutnya ini berlebihan. Menempatkan penjagaan diruang rawat eonnienya. Padahal eonnienya bukan seorang pejabat tapi diperlakukan istimewa.
Baekhyun tau jika namja otoriter itu menyimpan ketertarikan kepada eonnienya. Ia paham betul karena bukan hanya dia yang tertarik kepada eonnienya. Sudah banyak namja yang dengan terang-terangan menyatakan perasaannya tapi selalu ditolak. Dan baru kali ini Baekhyun menemui namja keras kepala seperti namja otoriter itu. Mungkin karena sama-sama keras kepala hingga namja itu ingin mendekati eonnienya.
Baekhyun mendapati dokter Park duduk disofa dengan segala dokumen dipangkuannya. Ia mengernyit tak mengerti kenapa dokter ini masih saja disini. Apa sebegitu sukanya ia kepada eonnienya hingga menungguinya selama ini? Memikirkan itu membuatnya sebal. Baekhyun ingin marah tapi apa dayanya. Ia bukan siapa-siapa dokter itu dan ia juga tak memiliki ketertarikan apapun pada dokter itu.
"Baekhyun"
Baekhyun melirik sekilas dokter Park dan meneruskan langkahnya mendekati eonnienya yang masih tertidur. Baekhyun duduk dibangku sebelah ranjang Kyungsoo dan mengamatinya.
Baekhyun mendengar pergerakan dari sofa dan langkah sepatu yang mendekatinya. Baekhyun membiarkannya saja. Ia tak peduli pada dokter itu.
"Apa Jongin melakukan sesuatu padamu?" tanya Chanyeol.
"Itu bukan urusanmu" ketus Baekhyun.
"Jika dia melakukan hal aneh tolong bilang kepadaku"
Baekhyun menatap Chanyeol kesal.
"Memangnya siapa kau? Kau tak berhak melarang-larangku. Kau hanya dokter eonnieku saja!" kesal Baekhyun.
"Aku memang hanya dokternya Kyungsoo tapi aku peduli kepadamu. Kau harus menghindari Jongin"
"Aku tak butuh rasa pedulimu! Aku memang berterima kasih kepadamu karena sudah merawat eonnieku tapi jika kau meminta balas budi apakah begini caranya? Ikut campur dalam urusan orang lain?"
"Bukan begitu maksudku"
"Sudahlah. Aku tau kau tertarik dengan eonnieku dan kalian sedang merebutkannya. Jadi jangan libatkan aku dalam perang kalian. Selesaikan sendiri tanpa harus membawa-bawaku atau eonnieku"
Baekhyun membuang mukanya dan menahan rasa sebalnya. Ia berharap sekembalinya keruang rawat eonnienya ia bisa tenang menjaga eonnienya. Tapi sekarang yang ia dapat hanyalah sebuah rasa peduli tak beralasan yang membangkitkan emosinya.
Chanyeol terdiam. Baekhyun jelas-jelas mendengar obrolannya dengan Jongin tadi. Ini salah. Ia tak ingin Baekhyun salah paham. Ini dilakukannya untuk melindungi Kyungsoo tapi ia juga tak ingin Baekhyun terluka. Chanyeol mengacak rambutnya kasar. Ia sangat frustasi.
Chanyeol menarik Baekhyun berdiri hingga keduanya saling berhadapan. Tubuh mungil Baekhyun tampak semakin kecil jika berhadapan dengan Chanyeol. Baekhyun menatap garang kearah Chanyeol. Gadis itu tampak tak suka dengan apa yang dilakukan Chanyeol kepadanya.
"Aku tak bisa menjelaskannya sekarang. Aku harap kau bisa percaya padaku" ucap Chanyeol.
"Kau tak perlu menjelaskannya!" eyel Baekhyun.
"Hanya percaya padaku" yakin Chanyeol.
"Buat apa aku mempercayaimu?!" marah Baekhyun.
Chanyeol menangkup pipi Baekhyun dengan kedua tangannya yang kekar. Baekhyun terkejut dan melebarkan kedua mata sipitnya. Perlahan Chanyeol mendekatkan kepalanya kearah Baekhyun dengan perlahan. Matanya tak pernah sekalipun lepas dari mata Baekhyun.
"Percaya padaku" bisik Chanyeol.
Chanyeol mendaratkan bibirnya pada bibir Baekhyun. Sebuah sentuhan kecil yang membuat Baekhyun merasakan seluruh tubuhnya mengencang. Aliran darahnya semakin cepat dan detak jantungnya berpacu cepat. Tubuhnya terasa lunglai. Ini ciuman pertamanya. Rasanya aneh.
Chanyeol memperdalam ciumannya. Ia memberanikan diri merapatkan tubuhnya dengan Baekhyun lebih dekat lagi. Chanyeol berharap dengan satu tindakan ini Baekhyun akan mengerti bahwa apa yang dilakukannya ini semua untuknya dan untuk melindungi kakaknya. Dan ini pertama kalinya Chanyeol menikmati sebuah ciuman yang bisa membuat seluruh tubuhnya bekerja tak semestinya.
18.08.17
MERDEKA!!! Hallo...aku balik lagi. Menunggu lama lagi ya? Kkk...maafkan aku. Yosh...ini agak mulai panjang #kayaknya #gayakin
Dan kalian tau? Aku seneng plus kaget. Tetiba cerita ini di ranking 727 di WP. Oh My God!!!! Baru kali ini ceritaku bisa masuk ranking walaupun rankingnya masih dibawah. Tapi ini kemajuan besar untukku ㅠㅠ
Terima kasih buat para pembaca setia dan para komeners yang sudah mendukungku selalu ㅠㅠ
Aku terharu banget sumpah. Kalian bilang lebay gpp. Tapi ini satu langkah maju yang buatku semangat nulis. Aku berharap kalian masih setia dengan cerita garing plus ngebosenin ini. Maaf karena belum bisa buat kaisoo bersatu secepatnya. Karena memang masih lama dan masih ada beberapa konflik kecil yang mau aku sempilin.
Sebenernya ini aku udah publish kemarin tgl 18 di WP. Berhubung yg di ffn telat makanya aku publish satu2. ada yg nanya WP aku?? @ putrihanakimo (kaisoolovers). Disana lebih update, kkk. tapi tetep aku publish jg disini.
REVIEW JUSEYO~~~~~
