I DON'T NEED A MAN
.
.
.
.
.
KAISOO FANFICTION
.
.
.
.
BY KAISOOLOVERS
.
.
.
.
ORIGINAL IDEAS. DONT PLAGIAT. DLDR. GS. EXO. KAISOO. MAINSTREAM STORY
.
.
.
.
HAPPY READING
.
.
.
ENJOY
.
.
.
Jongin membawa Kyungsoo dalam gendongannya. Kyungsoo masih tertidur dengan pulasnya walaupun sekarang ia tengah dibawa pergi oleh Jongin. Apakah ini penculikan? Mungkin.
Jongin sudah mengatur segala halnya. Ia sengaja masuk kedalam ruang rawat Kyungsoo saat gadis itu sendirian. Anak buahnya mengabarkan jika Chanyeol dan Baekhyun pergi entah kemana dan meninggalkan Kyungsoo sendiri. Ini kesempatannya.
Jongin menatap Kyungsoo yang pulas tertidur. Wajah cantiknya masih terlihat jelas walaupun gadis itu tampak lebih pucat dan kurus. Keberadaan Jongin dengan membawa Kyungsoo yang masih memakai baju rumah sakit menyita banyak perhatian. Beberapa suster tampak terkejut melihat Jongin membawa pasien mereka. Tapi mereka tau jika tak ada yang bisa menghentikan seorang Kim Jongin.
Beberapa security rumah sakit yang melihat menghampiri Jongin tapi dihadang oleh pengawal Jongin yang mengikutinya dari belakang. Yun membimbing Jongin ke mobil yang sudah disiapkannya.
Dibelakang sana beberapa dokter dan suster berlarian menuju kearah Jongin. Jongin tak mempedulikannya dan langsung masuk kedalam mobil.
"KIM JONGIN!!" teriak Chanyeol.
Mobil Jongin melaju tepat saat Chanyeol keluar rumah sakit. Chanyeol menggeram marah mengetahui Jongin membawa Kyungsoo diam-diam. Harusnya ia tak meninggalkan Kyungsoo sendirian.
"Dimana eonnieku?!" bentak Baekhyun disebelah Chanyeol saat berhasil menyusul namja itu.
"Dia sudah dibawa pergi"
Sebuah jawaban dari Chanyeol mampu membuat Baekhyun jatuh pingsan. Chanyeol dengan sigap membawa Baekhyun masuk.
--:--
Aku melenguh pelan saat kesadaran menghampiriku. Perlahan mataku terbuka dan yang menyapa indera pengelihatanku adalah lampu terang disebuah kamar. Aku mencoba menajamkan pengelihatanku dan meneliti keseluruh penjuru ruangan.
Ini bukan ruang rawatku. Nuansanya berbeda. Sebagian besar warna kamar ini adalah hitam dan putih yang dipadu apik menampilkan sisi maskulin. Seingatku kamarku tidak berwarna seperti ini. Dan juga kamar ini lebih luas dari kamarku maupun kamar rawatku.
Aku semakin mengedarkan pandanganku. Rasa penasaranku muncul. Dimana aku? Pertanyaan itu terus aku serukan berulang-ulang dalam kepalaku. Semua perabotan disini mempunyai nilai tinggi. Dan aku rasa pemiliknya merupakan orang yang sangat kaya.
Apa aku diculik lagi? Rasa panik langsung menyergapku. Aku sontak terduduk dan meneliti tubuhku. Tak ada ikatan apapun padaku. Aku memperhatikan baju yang aku kenakan. Sebuah piyama satin yang sangat halus melekat ditubuhku. Aku memejamkan mataku mencoba mengingat apa yang terjadi sebelumnya.
"Kau sudah bangun?"
Aku membuka mataku cepat dan terkejut dengan apa yang aku lihat. Aku mengalihkan wajahku seketika. Pemandangan dihadapanku tak layak untuk aku lihat. Perasaan malu menjalari pipiku hingga rasanya panas pada satu titik itu. Aku yakin jika pipiku memerah.
"Apa kau sakit?"
Aku merasakan sentuhan tangan kasar menyapa keningku. Dengan cepat aku menjauhkan kepalaku dari sentuhan itu. Aku sempat melihat sekilas namja itu dan itu membuatku menundukkan kepalaku tak berani menatapnya terlalu lama.
Sebuah gerakan dari kasur membuatku memberanikan diri untuk mendongak. Namja itu menjauh dari ranjang menuju salah satu pintu. Saat pintu itu dibuka aku melihat banyaknya baju didalam sana. Namja itu menghilang kedalam pintu.
Sekarang aku tau aku berada dimana. Tapi sebuah pertanyaan lain datang mrnghampiriku. Kenapa aku bisa berada disini?
Aku menyibak selimutku dan berdiri. Sepasang sandal rumah berjejer apik dibawah kasur. Aku langsung memakainya dan melangkah menuju pintu kamar. Dalam benakku langsung terbersit kata 'aku harus keluar dari sini'. Dan dengan dorongan itu aku langsung mengambil inisiatif untuk pergi. Tak mempedulikan kepalaku yang masih berdenyut.
Aku sempat mengintip kearah walking closet yang dimasuki namja tadi. Setelah memastikan ia tak melihatku, aku langsung berlari kearah pintu. Setibanya dipintu kamar aku memgambil nafas pelan dan mengeluarkannya. Aku memutar knop pintu. Saat pintu terbuka sepasang tangan kekar menahan pintu itu hingga tertutup kembali.
Aku berbalik dan terkejut saat tubuhku ternyata sudah terperangkap dalam kurungannya. Ekspresinya tak terbaca. Ia menatapku dalam hingga membuatku merasa resah. Aku mencoba menggerakkan badanku agar terlepas dalam kurungannya tapi tubuhnya semakin merapat ketubuhku.
Aku langsung menahan tubuhnya dengan kedua tanganku. Aku menatapnya dan memberikannya peringatan untuk jangan mendekat. Tapi seperti yang diketahui jika pria ini sama keras kepalanya jadi dia semakin mendekat.
"Kau mau kemana?"
Suara rendah dan berat dari namja ini membuat nyaliku menciut. Baru kali ini aku merasa terintimidasi olrh lawan bicaraku. Ia seakan mengeluarkan aura dominannya disekitarku dan memaksaku untuk tunduk pada auranya. Aura itu terus menekanku seiring dengan tatapan tajamnya yang terus menusukku. Aku mengalihkan wajahku dari tatapannya.
"Aku ingin pulang" bisikku.
"You're home now" sahutnya.
Aku menekan dadanya agar memberikan jarak kepadaku. Rasanya sangat sesak saat ia berada didekatku. Tekanannya semakin kentara. Ia menekanku terus menerus secara tak langsung. Nafasku terengah. Sekelebat bayangan itu muncul lagi. Aku memegangi kepalaku dengan salah satu tanganku dan yang lainnya masih mencoba mendorong tubuh namja ini.
Rasa sakit itu kembali. Tanpa sadar aku meremas baju yang dikenakan namja didekatku. Nafasku semakin memburu. Rasa ini semakin menggerogotiku. Erangan kecil keluar dari mulutku. Aku tak bisa menahannya. Eomma...
"Bernafas, Kyungsoo"
Sebuah bisikan terdengar jelas ditelingaku. Rendah, dalam dan serak. Suara itu seakan menuntunku kembali. Tapi semua itu tak membantu banyak. Kilasan balik itu kembali. Kini aku memegangi kepalaku dengan kedua tanganku. Eranganku semakin keras.
"Don't think too much, baby"
Aku mulai merasakan getaran menyerangku. Getaran yang entah darimana asalnya. Aku merasakan ada yang memegang bahuku. Aku mendongak. Mataku tak fokus. Aku melihat banyak sekali bayangan. Aku menutup mataku erat-erat. Air mataku mengalir. Ini berat untukku.
"Tatap mataku, Kyungsoo"
Aku menggeleng keras. Disela-sela ucapan itu banyak sekali bisikan-bisikan yang menekanku. Mereka berbicara bersamaan mengikis suara itu. Hantaman demi hantaman menyerangku. Aku semakin mengerang.
"Ikuti suaraku, Kyungsoo. Tajamkan pendengaranmu"
Bagaikan sihir aku mencoba mengikutinya. Aku mengikuti suara itu. Suara itu perlahan-lahan menuntunku. Bisikan disekelilingku seakan-akan hilang dan sekarang hanya terderangar suaranya.
Aku membuka mataku. Yang terlihat pertama adalah wajahnya. Wajah yang entah kenapa membuatku takut sekaligus nyaman. Wajah itu yang selalu aku coba hindari. Karena dialah semua ketakutanku kembali tapi karena dia juga yang membuatku mengatasi ketakutanku.
Wajahnya terlihat panik sekaligus khawatir. Bisakah aku mempercayainya? Saat aku sendiri tak pernah bisa mempercayai diriku sendiri? Aku menangis kencang. Ini pertama kalinya aku menangis seemosional ini semenjak aku dinyatakan sembuh oleh Mrs. Lee.
Ia memelukku erat. Aku mengeluarkan bisikan-bisikan ketakutan yang selalu ditepisnya dengan usapan halus dipunggunggku. Kata-katanya ingin sekali aku percayai. Tapi aku ragu. Haruskah?
"I'm here, Kyungsoo. Besides you"
Sesaat aku merasakan kedamaian yang tak pernah aku dapatkan sebelumnya. Rasanya nyaman ini sama. Sama seperti dulu. Saat eomma berada bersamaku. Aku harap ini bukan ilusiku. Aku harap ini bukan mimpiku. Aku ingin sembuh. Aku tak ingin menyakiti orang lain. Aku tak ingin menyakiti diriku.
--:--
Jongin duduk dimeja kerjanya dengan setumpuk berkas yang menjulang tinggi. Sial baginya karena tak bisa menghindari kemarahan Daehyun yang mengomel sepanjang hari.
Semenjak Jongin mengurus Kyungsoo, ia lebih banyak mengahbiskan waktu dimansionnya dibandingkan dikantor. Dan banyak sekali tugas yang ia tinggalkan. Walaupun terkadang Daehyun memberikan setumpuk dokumen melalui Yun tapi tetap saja itu tak cukup.
Jongin tau jika Daehyun mampu. Lebih dari mampu mungkin karena namja itu pekerja keras dan bertanggung jawab. Itulah sebabnya Jongin menjadikan sekertarisnya sekaligus penggantinya bila ia tak ada.
Saat Jongin kembali ke kantor hal yang dilakukan Daehyun pertama kali adalah mengomel. Namja itu seperti yeoja bila sudah membuka suaranya. Kemanapun Jongin pergi akan selalu kena omel Daehyun. Daehyun tak akan berhenti berbicara bila sudah kesal. Mungkin efek pekerjaan yang banyak membuatnya begitu.
"Sajangnim hari ini ada meeting jam 2. Jangan berusaha kabur!" ancam Daehyun yang membuat Jongin memutar bola matanya.
Jongin mendengarkan segala agendanya hari ini dengan masih berkonsentrasi pada tumpukan dokumennya. Ia mulai merasa bosan. Ia ingin pulang dan bertemu Kyungsoo. Entah sejak kapan Jongin merasa hal yang paling ditunggunya adalah jam pulang kantor. Mungkin karena ada Kyungsoo di mansionnya. Gadis itu tak pernah membuatnya bosan. Kelakuannya masih sama saat mereka pertama kali kenal.
Kyungsoo masih menjaga jarak dari Jongin. Jongin tak memusingkannya. Toh sikap Kyungsoo yang seperti itu yang disukainya. Ia akan terus mendapatkan ide untuk menggoda gadis itu. Memikirkannya saja membuatnya ingin segera pulang.
"BIARKAN AKU LEWAT, YUN!!"
Suara bentakan itu mendapatkan perhatian Jongin dan Daehyun. Pintu ruangan Jongin terbuka dan sosok Chanyeol masuk dalam keadaan marah. Merasa situasi tak mendukung, Daehyun segera keluar meninggalkan kedua orang itu.
Jongin bersandar dikursinya dan menatap Chanyeol geli. Melihat ekspresi marah Chanyeol membuat Jongin ingin tertawa. Ini pertama kalinya Chanyeol semarah ini dan ia menikmatinya.
"Kembalikan, Kyungsoo!" sembur Chanyeol.
"Ia aman bersamaku" sahut Jongin acuh.
"Kau memisahkan dia dengan adiknya, brengsek!" geram Chanyeol.
Chanyeol mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia menahan amarahnya. Dan sudah mencapai ambang batasnya. Jongin berdiri dan menghampiri Chanyeol dengan santai.
"Sebenarnya kau mengkhawatirkan siapa? Kyungsoo atau Baekhyun?"
Pertanyaan Jongin membuat amarahnya semakin meluap. Chanyeol bergerak cepat kearah Jongin dan mencengkeram kuat kerah kemeja Jongin.
"Kau tak berhak mendapatkan Kyungsoo" sinis Chanyeol.
"Lalu kau yang pantas?" sindir Jongin.
"Aku hanya ingin melindunginya dari namja sepertimu!"
Jongin menyentak tangan Chanyeol hingga cengkramannya terlepas. Jongin merapikan jasnya dan berjalan menuju sofa. Chanyeol mengikuti Jongin dan duduk disebrang namja itu.
"Kyungsoo bukan wanita murahan yang selama ini kau kencani, Kim" ucap Chanyeol setelah meredakan amarahnya.
"Dia terlalu baik untuk kau permainkan" lanjutnya.
"Kenapa kau ngotot sekali ingin melindunginya? Apa sebenarnya tujuanmu?" selidik Jongin.
Chanyeol mendesah lelah.
"Dia berbeda, Kim. Dia sakit. Jika kau hanya mempermainkannya bisa kau bayangkan bagaimana dia nantinya? Cukup masa lalunya yang menyakitinya"
"Kau tak tau apa-apa, Park"
"Aku tau kau sudah menyelidiki masa lalunya. Hanya saja ada satu hal yang disembunyikannya. Hanya dia yang tau. Sampai sekarang dokter Lee belum bisa mendapatkannya"
"Aku sendiri yang akan mencari tahunya. Kau tak perlu ikut campur"
Chanyeol memandang Jongin menyelidik. Ini kali pertama Jongin memusingkan masalah orang lain. Jongin tak pernah mau mencampuri urusan orang lain. Ia akan acuh. Tapi semakin dipikirkan Jongin tanpa sadar sudah jauh melangkah hanya demi satu orang. Chanyeol masih sangat ragu akan tujuan Jongin. Ia berharap Kyungsoo baik-baik saja.
"Temukan Kyungsoo dengan Baekhyun. Bagaimanapun mereka adalah saudara. Mereka tak pernah terpisah sebelumnya"
"Akan aku pertimbangkan"
--:--
Kyungsoo menyusuri perpustakaan kecil milik Jongin. Ia membaca setiap judul buku yang ada disana. Banyak sekali buku baru yang belum pernah Kyungsoo baca. Ia sudah menghabiskan banyak waktu untuk membaca disini tapi semua tak pernah cukup untuk Kyungsoo.
Tiba-tiba Kyungsoo merasakan sesuatu yang dingin menyelimutinya. Kyungsoo menoleh kebelakang tapi tak ada siapapun disini. Perasaan was-wasnya muncul. Kyungsoo berjalan cepat kederetan buku yang berada dipojok ruangan. Rasa gelisahnya semakin menjadi. Beberapa kali Kyungsoo menoleh tapi tak menemukan apapun.
Kyungsoo merapat ke dinding sambil memegangi dadanya yang bergemuruh. Nafasnya tersenggal tanpa ia sadari. Kyungsoo takut. Bahu Kyungsoo dipegang seseorang hingga membuatnya berteriak kencang dan terduduk.
"Ini aku"
Kyungsoo mendongak melihat wajah Jongin yang kebingungan dengan sikapnya. Mata Kyungsoo melebar dan bergerak tak fokus. Tubuh Kyungsoo masih gemetar. Ia memegang tangan Jongin untuk tumpuannya.
"Ada apa?" tanya Jongin penasaran.
Jongin yang baru saja pulang langsung disambut dengan kelakuan panik Kyungsoo. Ia mencari Kyungsoo yang ternyata ada di perpustakaan miliknya. Saat berada disana ia tak menemukan Kyungsoo ditempat biasa. Jongin memasuki perpustakaannya lebih dalam dan menemukan Kyungsoo yang berlari kearah pojokan dengan takut.
Jongin mengikuti Kyungsoo yang berakhir bersandar di dinding. Hanya satu tepukan saja membuat Kyungsoo menjerit. Entah apa yang sedang dipikirkan gadis itu. Jongin yakin jika Kyungsoo masih mengalami hal-hal traumatisnya sampai saat ini.
Jongin mengangkat tubuh Kyungsoo hingga berdiri. Ia memegang pinggang Kyungsoo untuk menopang gadis itu. Beberapa kali Jongin menangkap Kyungsoo yang hampir terjatuh. Gadis itu benar-benar syok dengan apa yang dialaminya.
Jongin yang tak tahan dengan limbungnya tubuh Kyungsoo langsung membopong tubuhnya. Seakan pasrah saja, Kyungsoo bersandar dibahu Jongin. Jongin mendudukkan Kyungsoo disofa yang ada diperpustakaannya dan ia duduk disebelahnya. Jongin menghadapkan tubuh Kyungsoo didepannya hingga ia dapat melihat wajah Kyungsoo.
"Hey, look at me. What's wrong?" tanya Jongin.
Kyungsoo memandang Jongin dalam diam. Tubuhnya masih lemas. Ia masih setengah sadar dengan apa yang terjadi pada dirinya. Jongin mengusap pelan pipi Kyungsoo. Kyungsoo menunduk menyembunyikan wajahnya.
Sebuah gerakan mengejutkan Jongin. Gadis didepannya tiba-tiba berdiri dan meninggalkannya sendiri. Jongin memgamati Kyungsoo yang keluar dari perpustakaan dengan limbungnya. Jongin mengernyit melihat perubahan perilaku Kyungsoo. Beberapa kali memang Jongin melihat Kyungsoo seperti itu. Ia hanya meyakini jika itu termasuk efek traumatisnya. Tapi setelah dipikir-pikir Jongin merasakan jika Kyungsoo sedang menghindarinya. Terutama menghindari tentang pertanyaannya.
Jongin mengikuti Kyungsoo yang kembali ke kamarnya. Awalnya Jongin memaksa Kyungsoo untuk sekamar dengannya tapi Kyungsoo menolak keras. Membiarkan keinginan Kyungsoo terpenuhi Jongin memilih mengalah.
Jongin masuk kedalam kamar Kyungsoo tanpa mengetuk pintunya. Itu sudah menjadi hal biasa. Seorang Kim Jongin tak memerlukan izin jika ia ingin memasuki kamar yang ada di mansionnya.
Jongin mendekati Kyungsoo yang berdiri didekat jendela kamar. Memberikan sedikit jarak, Jongin berhenti tiga meter dibelakang Kyungsoo. Ia mengamati punggung Kyungsoo dalam diam. Jongin sangat penasaran dengan apa yang sedang dipikirkan gadis mungil itu. Ia ingin sekali membaca pikiran gadis itu.
Kyungsoo berbalik dan menatap Jongin dalam. Penerangan yang minim membuat Jongin sedikit menyipitkan matanya untuk melihat raut wajah gadis didepannya.
"Aku ingin pulang" ucap Kyungsoo.
Jongin menaikan salah satu alisnya. Berkali-kali Jongin mendengarnya tapi sekarang terasa sedikit berbeda. Intonasi yang digunakan Kyungsoo terasa datar. Tak ada unsur paksaan seperti biasanya. Hanya sebuah ucapan biasa yang tak memiliki arti apa-apa.
Kyungsoo melangkah mendekati Jongin. Sinar matanya tak terbaca. Gadis itu menatap Jongin tenang. Selama seminggu mereka tinggal satu atap Jongin tak pernah melihat Kyungsoo menatapnya tenang. Gadis itu akan menatapnya sinis atau kesal tapi tak pernah seperti ini.
"Jika memang kau hanya menginginkan tubuhku maka ambilah. Aku tak menginginkannya. Kau bisa melakukan apapun pada tubuhku"
Jongin terkejut dengan ucapan Kyungsoo. Gadis itu mengatakannya dengan penuh percaya diri. Tak ada keraguan sama sekali dimatanya.
"Bukankah itu maumu dengan menyekapku disini?"
Kyungsoo semakin mendekati Jongin.
"Aku akan melakukannya asal kau melepasku setelahnya. Jangan pernah lagi datang padaku atau berada disekelilingku"
Jongin menghentikan langkah Kyungsoo dengan menahan bahunya. Jongin menatap tajam mata Kyungsoo. Ia sedikit meremas pundak Kyungsoo.
"Aku tak akan melepaskanmu!" desis Jongin.
"Kenapa?" tanya Kyungsoo menantang.
"You're mine!" geram Jongin.
Kyungsoo mendorong tubuh Jongin hingga cengkraman dibahunya terlepas.
"Bukankah dari awal kau mendekatiku hanya ingin mempermainkanku? Kau jadikan aku sebagai wanita gampangan yang bisa kau permainkan sesuka hati lalu setelahnya kau akan membuangku begitu saja. Aku tau pikiran namja sepertimu, Kim-ssi"
Keduanya saling bertatapan cukup lama tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
"Lakukan ini dan segera selesaikan permainan konyolmu. Hidupku sudah tak lagi menjadi milikku sendiri. Aku bukanlah diriku yang sekarang"
Kyungsoo melepas atasannya hingga hanya tersisa satu kain yang menempel yang menutupi dua gundukan kembarnya. Akankah Kyungsoo benar-benar menyerahkan diri?
29.08.17
Jeng! Jeng! Jeng!! #musikdramatis #evillaugh
Ayok voting. Naik rate atau skip aja??? Hahahaha. Aku akan akumulasiin hasil voting di WP dan FFN. Suara terbanyak akan aku jadikan patokan kisah selanjutnya. Kkkk.
Agak maksa yang disini? Hahaha. Biarlah. Ini adalah awalan. Aku pengen buat salah satu dari mereka sengsara. Menurut kalian siapa? Kyungsoo atau Jongin??? Atau dua-duanya? Bisa sih. Hehehe. Jongin team artinya ngedukung Jongin sengsara sedangkan Kyungsoo team ngedukung Kyungsoo sengsara. Kaisoo team ngedukung mereka sengsara. Hahaha #evillaugh
Ayok-ayok review ya! Sampaikan inspirasi kalian!
A. Rate M
B. Rate T
C. Kyungsoo team
D. Jongin team
E. Kaisoo team
Ayok divote!! Pilihan kalian menentukan masa depan mereka. Hehehehe
REVIEW JUSEYO~~~~
