I DON'T NEED A MAN

.

.

.

.

.

KAISOO FANFICTION

.

.

.

.

.

BY KAISOOLOVERS

.

.

.

.

ORIGINAL IDEAS. DONT PLAGIAT. DLDR. GS. EXO. KAISOO. MAINSTREAM STORY

.

.

.

.

HAPPY READING

.

.

.

.

ENJOY

.

.

.

.

Aku sudah memantapkan hatiku. Aku sudah tak peduli lagi. Sudah banyak yang tau tentang penyakitku. Akan lebih baik aku melakukan semauku pada tubuhku sendiri. Sudah banyak luka yang tertinggal dalam tubuhku. Sudah banyak.

Aku menatap pria itu. Aku berharap semua ini berakhir dengan cepat dan aku bisa terbebas. Aku tau tujuan awalnya mengejarku. Orang pesakitan sepertiku akan menjadi sasaran empuk namja sepertinya. Hanya karena rasa ingin tau yang berlebih dan tubuhku, ia menjadikanku wanita murahannya yang lain.

"Lakukan ini dan segera selesaikan permainan konyolmu. Hidupku sudah tak lagi menjadi milikku sendiri. Aku bukanlah diriku yang sekarang" ucapku berani.

Aku menanggalkan atasanku. Wajahnya menjadi semakin tak terbaca. Aku melangkah mendekat mempersempit jarak kami. Matanya tak pernah lupas dari mataku. Seakan tak terganggu dengan pandangan yang berada dibawah wajahku. Kakiku semakin dekat melangkah dan seketika terhenti mendengar ucapannya.

"Istirahatlah"

Ia melepaskan jasnya dan memakaikan ketubuhku hingga menutupi tubuh setengah telanjangku. Kakinya berbalik dan ia meninggalkanku sendiri dikamar.

Tubuhku lemas hingga aku tertunduk. Aku menangis sekeras-kerasnya. Aku memeluk kedua kakiku dan membenamkan wajahku diantara kedua lututku. Ada perasaan terhina menjalar dalam diriku. Dengan kasar aku mengambil jas yang menutupi tubuhku dan melemparkannya kuat kearah pintu.

"Kau pikir dirimu hebat dengan menolakku?!" teriakku.

Aku menangis tersedu-sedu. Meruntuki setiap kebodohan yang aku ciptakan sendiri. Aku mempermalukan diriku sendiri. Harusnya aku sadar jika orang lain merasa jijik denganku. Apalagi dia sudah mengetahui masa laluku. Aku sendiri merasa jijik dengan tubuhku.

"Aku membencimu appa! Sangat membencimu!" teriakku.

"Kenapa kau membuatku seperti ini!! Kenapa juga saat itu aku melihatnya!"

Aku menangis lagi mengingat hal itu. Sebuah kesalahan yang mengubah hidupku. Aku selalu menguburnya untuk diriku sendiri. Aku tak pernah membaginya. Sejak aku menemukan hal itu membuatku semakin tersiksa setiap harinya.

Sebuah kenangan dimana aku tak sengaja melihat appaku sedang melakukan hal intim dengan wanita lain dirumahku. Awalnya aku tak percaya. Seorang yang selalu aku idolakan berubah menjadi orang lain. Tak seberapa besar rasa sakitku saat appa memukulku hanya karena aku membela ibu. Tapi kali ini aku dihantamkan dengan kenyataan baru. Dimana appa yang selalu menuduh eomma selingkuh ternyata melakukan hal itu sendiri.

Pahlawanku mengkhianatiku. Bukan hanya sekali. Beberapa kali aku melihat appa bersama wanita lain. Aku berusaha untuk menyangkalnya tapi lama kelamaan tak ada perubahan dari appa. Suatu hari aku tak sengaja menjatuhkan barang saat melihat appaku dengan wanita lain. Setelahnya aku dipukul habis-habisan hingga menjerit kesakitan. Appa mengancam akan membunuh ibu dan adikku bila aku menceritakannya kepada siapapun. Dan hingga saat ini aku menyimpannya sendiri.

Aku sadari jika hal itu membuatku menghindar dari lelaki. Setiap kali melihat mereka tanpa aku sadari langsung teringat dengan kejadian itu. Lama kelamaan aku mulai membiasakan diri untuk berbaur dengan semua orang tapi menjaga jarak dengan para pria. Aku akan menghindari segala bentuk kontak fisik dengan mereka yang akan mengingatkanku dengan kejadian lalu.

Tapi semua pertahananku sekarang sia-sia. Hanya karena satu orang sudah memporak-porandakan segala kegigihanku. Segala masa laluku terkuak tanpa bisa aku cegah. Tubuhku sudah bukan jadi milikku. Tubuhku sudah hancur dari awal. Aku tak memilikinya. Tak layak jika orang lain menginginkannya.

--:--

Jongin berdiri dibalik pintu dengan tangan terkepal. Ia berusaha mati-matian untuk menekan hasratnya karena Kyungsoo. Gadis itu benar-benar membuatnya gila. Bila saja ia tadi tak bisa menahan entah apa yang terjadi nantinya.

Jongin sangat menginginkan Kyungsoo. Ia berusaha agar mendapatkan gadis itu. Tapi tak begini caranya. Jongin tak ingin Kyungsoo menyerahkan diri dengan keputus-asaan. Ia ingin Kyungsoo menyerahkan dirinya karena memang Kyungsoo menyerah atas pesonanya.

Jongin masih bisa mendengar jeritan Kyungsoo didalam kamar. Ia mendengar semua keluh kesah wanita itu. Sebuah kenyataan yang tak pernah terungkap sebelumnya. Dan lagi-lagi semua itu hanya karena satu pria. Jongin sedang memburunya. Ia akan melakukan balas dendam untuk Kyungsoo. Ia akan membalaskan setiap kesakitan yang Kyungsoo alami.

Setelah lama berperang batin dan menormalkan kembali pikirannya, Jongin tak lagi mendengar suara dari dalam kamar. Jongin membuka perlahan pintu kamar Kyungsoo. Ia intip keberadaan Kyungsoo yang ternyata tertidur dilantai. Jongin memungut jasnya dan membawanya.

Jongin menyelimuti Kyungsoo dengan jasnya dan membopong tubuhnya. Jongin memandangi muka Kyungsoo yang berantakan dengan jejak air mata yang masih membekas. Jongin meletakkan tubuh Kyungsoo perlahan diatas ranjang. Ia pandangi sejenak wajah Kyungsoo. Ia belai rambutnya dan memncium keningnya lama.

Jongin meninggalkan Kyungsoo sendiri dikamarnya. Ia tak bisa terlalu lama berada disekitar Kyungsoo akibat insiden tadi. Secara tak langsung Jongin sudah melihat tubuh bagian atas Kyungsoo dan itu memperburuk keadaannya. Ia akan selalu mengingatnya dan tak baik sama sekali baginya.

--:--

Keesokan paginya Kyungsoo terbangun dengan tubuh yang terasa pegal. Ia mencoba meregangkan tubuhnya dan mendapatkan kekuatannya kembali. Matanya masih terasa berat karena sembab.

"Eonnie!!"

Kyungsoo terkejut mendengar teriakan itu. Ia menoleh dan mendapati adiknya berlari kearah ranjangnya.

Baekhyun memeluk Kyungsoo erat. Ia menyalurkan segala rasa rindunya. Baekhyun tak pernah sebegitu rindunya kepada sang kakak. Walaupun Baekhyun sering ditinggal Kyungsoo saat Kyungsoo harus mengunjungi salah satu proyeknya tapi mereka masih berhubungan. Berbeda dengan sekarang. Baekhyun bahkan tidak bisa menghubungi kakaknya.

"Aku merindukanmu" lirih Baekhyun.

Kyungsoo membalas pelukan Baekhyun dan mengusap punggung adiknya.

"Nado"

"Bagaimana jika kita melarikan diri saja, eonnie?"

Kyungsoo mengerutkan keningnya mendengar ucapan Baekhyun. Baekhyun melepas pelukannya dan menatap Kyungsoo serius.

"Kita pergi. Kita mulai semua dari awal. Aku akan menjaga eonnie seperti eonnie menjagaku dulu" ucap Baekhyun yakin.

"Aku tak yakin jika kita dapat pergi dari tempat ini" sahut Kyungsoo.

"Eonnie tenang saja. Aku sudah merencanakan sesuatu" balas Baekhyun mengedipkan matanya.

Baekhyun menarik Kyungsoo agar bangkit dari ranjang. Baekhyun membawa Kyungsoo ke kamar mandi untuk mempersiapkan eonnienya. Keduanya tampak bersenang-senang. Mereka melakukan seluruh kegiatan yang biasanya mereka lakukan jika sedang bersantai. Mulai dari mandi bersama, berdandan bersama hingga memilih baju bersama.

Keduanya menikmati momen berharga mereka. Banyak hal yang mereka lakukan hari ini. Hal itu membuat Kyungsoo bisa kembali tersenyum bahkan tertawa. Baekhyun senang akhirnya bisa mengembalikan senyuman eonnienya. Ia khawatir jika eonnienya tak bisa bersikap seperti dulu.

"Baek"

Baekhyun tersentak dan menoleh kearah Kyungsoo. Kyungsoo menatap Baekhyun penuh selidik. Baekhyun tersenyum lebar.

"Apa yang sedang kau lamunkan?" tanya Kyungsoo.

Baekhyun menggeleng. Ia meraih salah satu bunga yang akan dirangkainya. Baekhyun dan Kyungsoo sedang menikmati keindahan taman yang berada di mansion Jongin. Kyungsoo sesekali datang ke taman bila moodnya merangkai bunga bangkit. Tak seperti Kyungsoo yang tak terlalu tertarik dengan merangkai bunga, Baekhyun terlihat antusias. Baekhyun menceritakan segala hal tentang bunga dan mengajari Kyungsoo memadupadankan bunga.

"Kalian disini rupanya"

Baekhyun dan Kyungsoo menoleh bersamaan. Keduanya menatap namja yang baru datang. Namja itu tersenyum lebar.

"Lama tak jumpa, Kyungsoo-ya"

"Annyeonghasseyo, Chanyeol-ssi"

Chanyeol duduk dibangku lain dan memperhatikan kakak adik itu. Baekhyun melirik Chanyeol yang sibuk memperhatikan kakaknya. Ada rasa sesak melihat Chanyeol lebih memperhatikan Kyungsoo dibandingkan dirinya. Tapi Baekhyun mencoba menepis rasa itu. Selama ini ia sudah dibantu oleh Chanyeol. Ia tak ingin berharap lebih. Ia cukup senang dengan keadaannya sekarang. Cukup kebahagiaan kakaknya yang ia prioritaskan. Ia sudah cukup bahagia melihat kakaknya berada disampingnya.

"Apa kalian sudah siap untuk pergi?" tanya Chanyeol tiba-tiba.

Kyungsoo menatap Chanyeol tak memgerti. Baekhyun memgangguk antusias dan tersenyum lebar kearah Kyungsoo. Baekhyun meletakkan rangkaian bunganya dan segera berdiri. Chanyeol terkekeh dan ikut berdiri. Keduanya menatap Kyungsoo yang masih linglung dikursinya.

Baekhyun menarik tangan Kyungsoo menjauhi taman. Chanyeol mengikuti langkah Baekhyun dari belakang. Kyungso masih tak mengerti.

"Kita akan kemana?" tanya Kyungsoo.

Baekhyun menggerakan telunjuknya didepan bibirnya dengan membuat suara desisan pelan. Baekhyun mengedipkan matanya dan meminta Kyungsoo memgikutinya. Chanyeol mengulum senyumnya melihat tingkah memggemaskan Baekhyun.

Kyungsoo merasakan suatu keanehan disini. Mansion yang biasanya cukup ramai dimana para pelayan berlalu-lalang kini sepi. Kyungsoo melirik kesekitar tapi tak menemukan seseorangpun. Biasanya ada beberapa pengawal yang berjaga di mansion Jongin tapi kali ini tak ada.

Baekhyun membawa Kyungsoo keluar mansion. Disana sebuah mobil sudah terparkir rapi. Baekhyun semakin menarik Kyungsoo agar cepat sampai mobil. Baekhyun membukakan pintu mobil untuk Kyungsoo.

"Ayo eonnie" desak Baekhyun.

"Tapi kita tak bisa..."

"Jika dia bisa menculikmu kenapa aku tak bisa?" potong Chanyeol.

Chanyeol mendorong tubuh Kyungsoo ke dalam mobil. Setelah Kyungsoo duduk dengan benar, Baekhyun menutup pintu mobil.

"Apa ini akan berhasil?" tanya Baekhyun kepada Chanyeol.

"Tenang saja, Bee" balas Chanyeol sambil mengusap kepala Baekhyun.

Baekhyun memgangguk. Chanyeol membukakan pintu disamping kemudi dan mempersilahkan Baekhyun masuk. Chanyeol sendiri bergegas menuju belakang kemudi dan segera meninggalkan mansion Jongin.

--:--

Jongin membanting ponselnya dengan keras. Ia menatap berang kearah Yun yang berdiri disampingnya. Yun hanya diam tertunduk. Bogeman melayang ke wajah Yun dan mengenainya dengan sangat keras. Satu pukulan berjuta makna dari bosnya.

Jongin mengacak rambutnya hingga berantakan. Baru beberapa menit yang lalu ia mendapatkan kabar jika Kyungsoo dibawa pergi oleh Chanyeol dari mansionnya. Ia sudah menugaskan para pengawalnya untuk mengawasi Kyungsoo tapi entah apa yang dilakukan si tiang listrik itu hingga ia bisa membawa kabur wanitanya.

Jika bukan karena pekerjaannya Jongin tak akan mau meninggalkan Kyungsoo sendiri. Pagi-pagi tadi ia harus terbang ke Jepang mengurusi masalah yang ada disana. Jongin awalnya ragu. Ia ingin membawa Kyungsoo ikut bersamanya. Tapi karena malam sebelumnya Kyungsoo histeris, ia memutuskan untuk meninggalkannya sebentar dan akan pulang secepatnya.

"Aku ingin ada kabar keberadaan Kyungsoo secepatnya Yun" perintah Jongin.

Yun berdiri dan mengusap sudut bibirnya berdarah. Jangan remehkan pukulan dari Jongin. Walaupun Jongin jarang menggunakan kekerasan sepertinya tapi tenaga Jongin lumayan besar.

"Baik"

Yun meninggalkan Jongin sendiri diruangan pribadinya. Jongin mengepalkan tangannya erat-erat. Ia tak akan membiarkan siapapun membawa kabur wanitanya. Kyungsoo miliknya dan itu tak terbantahkan.

Daehyun terkejut melihat ruangan bosnya yang sudah berantakan. Ia menatap nanar ponsel yang sudah hancur. Pantas saja tadi Yun menghampirinya untuk membawakan ponsel baru untuk Jongin.

"Sajangnim..." panggil Daehyun lirih.

Daehyun takut dengan emosi Jongin. Terkadang bosnya itu bisa meledak-ledak dalam emosinya. Jongin berbalik dan menatap Daehyun dingin. Daehyun bergetar melihat tatapan Jongin. Jongin mengulurkan tangannya guna meminta sesuatu. Tanpa banyak tanya Daehyun langsung memberikan ponsel baru Jongin. Jongin menerimanya dan mengantongi ponsel tersebut.

Daehyun beringsut mundur. Ia tak ingin mengganggu Jongin. Dalam keadaan seperti ini ia lebih memilih menyelamatkan nyawanya daripada terkena amukan. Baru beberapa langkah Daehyun bergerak Jongin sudah memanggilnya.

"Siapkan penerbangan besok pagi. Batalkan semua pertemuan"

Daehyun berbalik dan menatap Jongin dengan mulut ternganga lebar. Ia tak salah dengarkan? Jongin ingin membatalkan semua janjinya? Daehyun hendak memprotes ucapan Jongin tapi mulutnya langsung kelu akibat tatapan Jongin yang begitu menusuk. Daehyun mengangguk ragu dan meninggalkan Jongin.

Tak lama kemudian ponsel Jongin berdering. Jongin merogoh sakunya dan mengangkat panggilannya.

"Bagaimana?"

"Nona Kyungsoo dibawa kabur oleh Tuan Chanyeol. Tuan Chanyeol melumpuhkan penjagaan mengatas namakan perintah anda Tuan"

Jongin menggenggam erat ponsel yang berada ditelinganya. Ia menahan amarahnya.

"Lalu anak buahmu dengan mudahnya dikelabuhi? Apa kalian sebegitu bodohnya untuk aku pekerjakan?"

"Maafkan saya, Tuan"

"Pecat semua orang bodoh itu dan ganti yang lebih kompeten. Aku tak mau sampai hal ini terulang lagi. Temukan keberadaan Kyungsoo. Aku ingin setelah aku kembali ke Korea aku mendapatkannya"

"Roger that"

Jongin memutus panggilannya. Ia menatap pemandangan luar dari balik jendela ruangannya. Ia akan mendapatkannya. Tak peduli bagaimana caranya. Seorang Kim Jongin tak pernah gagal.

--:--

Beberapa hari ini Jongin menjadi lebih uring-uringan. Semenjak ke pulangannya beberapa hari yang lalu ia masih belum mendapatkan kabar dimana keberadaan Kyungsoo. Hawa membunuhnya menguar kemana-mana. Bahkan Daehyun yang biasanya selalu mengomeli Jongin menjadi menjauh dan menjaga jarak dengannya. Ia tak ingin kena imbasnya.

Jongin sudah mengerahkan seluruh anak buahnya untuk mencari Kyungsoo tapi bagaikan ditelan bumi ia tak bisa menemukannya sama sekali. Kali ini kesabaran Jongin sudah habis. Ia mendatangi Chanyeol untuk menanyakan langsung keberadaan Kyungsoo.

Jongin berjalan tergesa-gesa semenjak turun dari mobil. Yun mengikuti Jongin dari belakang. Ia mencoba menyamai langkah bosnya yang lebar. Semua orang yang melihat Jongin langsung bergerak menjauh dan memberinya jalan. Hanya dalam sekali lihat saja tak ada yang berani menghalangi langkahnya. Kelam dan dingin yang terlukiskan di wajah Jongin.

Sesampainya ia diruangan Chanyeol, Jongin langsung membuka paksa pintu hingga menimbulkan suara gaduh. Chanyeol yang sedang bekerja sampai terlonjak kaget mendengarnya. Jongin menghampiri Chanyeol dan meraih kerah kemejanya. Tanpa aba-aba Jongin langsung melemparkan tinjunya di wajah Chanyeol. Seketika itu Chanyeol jatuh tersungkur.

Yun berdiri diambang pintu tanpa berniat membantu Chanyeol. Ia hanya menghalangi siapapun yang akan menghentikan aksi Jongin. Beberapa perawat mencoba melihat apa yang terjadi didalam ruangan Chanyeol tapi dihalangi Yun. Tubuh tinggi tegap Yun membuatnya dengan mudah memblokir akses para perawat untuk masuk.

Jongin kembali meraih tubuh Chanyeol dan memukulnya lagi. Chanyeol tak melakukan perlawanan. Setelah puas memukuli Chanyeol, Jongin menarik kerah Chanyeol kuat-kuat. Ia dekatkan wajah Chanyeol hingga berdekatan dengan wajahnya.

"Dimana Kyungsoo?" geram Jongin.

Chanyeol terkekeh dengan darah yang mengalir disekitar hidung dan mulutnya.

"Kau tak akan bisa menemukannya, Kim" ucap Chanyeol serak.

"Jangan sampai aku melakukan sesuatu yang lebih buruk dari ini, Park!" ancam Jongin.

"Try me" tantang Chanyeol.

"Aku akan memulainya dari si mungil itu jika kau bersikeras"

Chanyeol tersenyum remeh menanggapi ancaman Jongin.

"Kau tak akan berani. Dia adalah adik kesayangan Kyungsoo. Sampai kau menyentuhnya dan membuatnya sengsara maka kau akan semakin sulit mendapatkan Kyungsoo" ejek Chanyeol.

Jongin mengeraskan rahangnya.

"Sadarlah, Kim. Tak semuanya yang kau inginkan bisa kau dapatkan"

Jongin berdecih. Ia melepaskan cengkramannya dan berdiri. Ia mengambil tissue dan mengelap tangannya yang terkena darah Chanyeol. Bekas tissue itu dilempar Jongin kearah Chanyeol sebelum ia berjalan meninggalkannya.

Yun memberikan akses kepada Jongin agar bisa keluar dari sana. Sudah banyak orang yang berkerumun. Bahkan dari kejauhan Yun melihat beberapa petugas keamanan rumah sakit berlari kearah mereka. Jongin dengan santainya berjalan melewati petugas-petugas itu. Yun melihat beberapa dari mereka berhenti memperhatikannya dan Jongin. Yun memberikan tatapan peringatan kepada mereka. Dan setelahnya mereka pergi meninggalkan Jongin dan Yun.

"Aku terpikir satu tempat yang belum kita cari. Kita akan langsung menuju kesana" ucap Jongin.

"Baik"

Yun membukakan pintu mobil untuk bosnya kemudian beralih kearah belakang kemudi. Yun menjalankan mobilnya perlahan keluar rumah sakit. Sebuah alamat sudah ditangan Yun. Ia hanya melaksanakan apa yang Jongin perintahkan.

Jongin menatap luar jendela tanpa minat. Pikirannya melayang kebayangan Kyungsoo. Beberapa hari tak melihat atau mengetahui keberadaan gadis itu membuatnya aneh. Ada sesuatu didalam dirinya seperti memberontak ingin dibebaskan. Pikirannya menyuruhnya untuk menemukan gadis itu dan menghirup aromanya. Tak pernah ada aroma yang menenangkan seperti aroma Kyungsoo. Aromanya begitu harum dan memabukkan.

Tanpa sadar Jongin mengambil nafas dalam-dalam seakan-akan aroma Kyungsoo berada didekatnya. Jongin membuka matanya yang sempat terpejam. Gadis itu membuatnya gila. Jongin begitu kecanduan olehnya.

Mobil Jongin memasuki pekarangan rumah minimalis disebuah bukit. Jongin membuka pintu mobil dan langsung turun. Ia mengamati sekitaran rumah yang sudah lama tak ia kunjungi. Sebenarnya itu bukan rumahnya. Tapi rumah ini sangat bersejarah. Baginya dan juga Chanyeol. Dan Jongin hampir saja melupakan keberadaan rumah ini.

Suara dua orang sedang bersendau gurau terdengar didalam rumah itu. Jongin mengamati pintu rumah itu. Tak beberapa lama pintu itu terbuka menampilkan dua orang gadis yang sedang bercanda.

"Aku yakin jika ahjussi itu lupa dengan pesananku"

"Kau terlalu banyak meminta"

"Dia sudah berjanji membelikan semua keinginanku"

Obrolan mereka semakin jelas ditelinga Jongin. Jongin bisa merasakan rasa tenang luar biasa melihat wanitanya. Miliknya. Sebuah senyumnya mampu membuat darahnya berdesir. Kedipan matanya membuat tubuhnya melemah. Gerakan tubuhnya melemahkan jantungnya. Efek tak bertemu beberapa hari dengan gadis itu sangat luar biasa bagi Jongin.

"Kyungsoo"

09.09.17

Yes! Segini dulu. Chap ini sebagai pembatas sebelum masuk ke hasil voting kalian kemarin.

Dan dari voting kemarin yang paling banyak adalah naik rate dan kaisoo. Ok lah aku terima tantangan kalian. Aku buat mereka semenderita mungkin tapi jangan pada baper n ngerengek2 ya. Kkkkk

Untuk masalah happy ending atau ga aku masih belum tau. Aku belum mikirin endingnya. Hahaha. Konflik aja belum masa mikir ending. Tenang.

Disini udah jelas ya masa lalu Kyungsoo. Yang nebak Kyungsoo digrepekin bapaknya salah ya. Aku ga setega itu buat Kyungsoo digrepek2 sama orang lain selain si ojong. Hahaha.

Jangan lupa review ya.

Gomawoyo