I DON'T NEED A MAN
.
.
.
.
.
KAISOO FANFICTION
.
.
.
.
.
BY KAISOOLOVERS
.
.
.
ORIGINAL IDEAS. DONT PLAGIAT. DLDR. GS. EXO. KAISOO. MAINSTREAM STORY
.
.
.
HAPPY READING
.
.
.
ENJOY
.
.
.
Jongin menegak minumannya sekaligus. Ia letakkan gelasnya sedikit keras hingga menimbulkan suara yang cukup keras. Sang bartender melirik kearah Jongin tanpa ingin bertanya apapun. Jongin menghela nafasnya. Ia sudah cukup mabuk malam ini. Tapi ia masih ingin berada di club.
Jongin memang lebih sering mengunjungi club sekarang. Disana ia hanya diam dan meminum alkohol dalam jumlah banyak. Banyak wanita yang memggodanya tapi ia hanya diam. Alih-alih meladeni setiap wanita yang ada Jongin hanya minum dengan tenang dan mencueki mereka.
Jongin dulu sering pergi ke club itu untuk bersenang-senang. Club itu adalah club langganannya dengan Chanyeol. Mereka menghabiskan malam yang panjang dengan minum atau bermain dengan salah satu wanita.
Jongin meletakkan kepalanya diatas meja bar dengan tangan sebagai tumpuannya. Kesadarannya hampir hilang. Efek alkohol yang terlalu tinggi menyergapnya. Jongin merasakan tubuhnya panas dan kepalanya pening.
Dengan sisa-sisa kesadaran yang ada Jongin mencoba bangkit. Kedua tangannya menyangga meja bar agar tubuhnya tak limbung. Musik yang mengalun keras semakin memperburuk peningnya. Jongin memegang kepalanya yang berdenyut sakit.
Saat Jongin ingin berjalan ke pintu keluar tak sengaja ia menabrak sesesorang. Merasa tak terima orang itu menahan bahu Jongin. Dengan kesadaran yang minim Jongin mencoba melihat siapa yang berani menghentikannya.
"Apa-apaan kau? Cepat minta maaf!" bentak orang itu.
Jongin yang masih dibawah pengaruh alkohol hanya diam dan mencoba berdiri tegak.
"Dasar pemabuk sialan! Kau tak pantas berada disini!"
Sebuah pukulan mengenai wajah Jongin. Jongin yang memang tak seimbang langsung ambruk begitu saja. Orang-orang mulia mengalihkan perhatian mereka kearah Jongin dan namja itu.
Karena Jongin tak melawan akhirnya namja itu memukuli Jongin habis-habisan. Tak ada seorangpun yang mau membantu Jongin. Mereka hanya diam memperhatikan seperti menikmati pertandingan yang seru.
Jongin sengaja tak melawan. Ia pasrah. Saat ini ia lebih memilih dipukuli hingga sekarat daripada menahan rasa sakit tak terlihat dihatinya. Jongin berharap luka fisiknya mampu menutupi rasa sakit hatinya.
Pukulan telak dibagian perut membuat Jongin mengeluarkan datah dari mulutnya. Rintihan terdengar dari bibir Jongin. Seorang Kim Jongin tergeletak tak berdaya.
Keributan itu semakin ramai saat Yun datang dan langsung menghajar namja pelaku pemukulan Jongin. Beberapa anak buah Yun langsung membuat benteng agar orang-orang tak mengerumuni Jongin.
Bagaikan orang yang kesetanan Yun memukuli namja itu tanpa ampun. Beberapa anak buah Yun membawa Jongin keluar dari club. Sedangkan Yun masih asik dengan mangsanya.
Aksi Yun berhasil dihentikan saat pemilik club datang bersama para pengawalnya.
"Ada apa ini?" tanya pemilik club panik.
Yun merapikan penampilannya dan berdiri tegak. Ia menatap sang pemilik club penuh ancaman. Pemilik club itu memberingsut mundur melihat wajah marah Yun.
"Aku akan menuntut anda karena kelalaian anda dalam mengurus tamu. Tak tau kah anda siapa orang yang dipukuli namja itu?" tunjuk Yun pada namja yang sudah babak belur itu.
Yun mengeluarkan kartu nama perusahan Jongin dan memberikan kepada pemilik club. Pemilik club itu terkejut membaca nama pemilik perusahaan itu.
"Kim Corp?" cicit pemilik club yang masih bisa didengar oleh yang lain.
"Saya akan pastikan jika club ini akan tutup dalam waktu satu bulan. Permisi"
Yun pergi meninggalkan club bersama anak buahnya yang lain. Yun langsung menuju mobil dimana bosnya berada.
"Kita ke rumah sakit?" tanya salah seorang anak buah Yun.
"Kita kembali ke mansion. Panggilkan dokter ke mansion" jawab Yun kalem.
"Dokter Park?"
"Cari dokter lain. Dan pastikan hal ini tak bocor ke siapapun"
Anak buah Yun mengangguk dan menjalankan mobilnya. Yun menatap bosnya iba. Semakin hari bosnya semakin berantakan. Mungkin dari luar dia terlihat biasa saja tapi didalam tubuhnya sudah tak berbentuk. Tak ada makanan yang masuk dalam tubuh Jongin karena setiap hari Jongin hanya mengkonsumsi minuman beralkohol saja.
Yun sudah mencoba menawarkan makanan pada Jongin tapi selalu ditolaknya. Alasannya hanya karena ia tak lapar atau banyak pekerjaan. Selain minuman, Jongin mengalihkan perhatiannya ke pekerjaannya. Ia menjadi sangat gila kerja. Ia memforsir tubuhnya untuk bekerja 24 jam penuh. Dan sepertinya hari ini tubuh Jongin sudah tak mampu menahan segala siksaan yang dilakukan sang pemilik.
--:--
Yun menatap pilu kearah Jongin yang berbaring lemah diranjangnya. Setelah diperiksa oleh dokter pribadi keluarga Kim, Jongin dinyatakan kelelahan dan keracunan alkohol. Kadar alkohol dalam darahnya meningkat dan itu berakibat fatal pada tubuhnya. Dokter mencoba mengurangi kadar alkohol dalam darah Jongin tapi itu tak sepenuhnya bisa dikeluarkan. Kini yang Jongin butuhkan hanya istirahat dan mensuplai tubuhnya dengan nutrisi yang cukup.
Yun dengan setia menemani Jongin didalam kamar menunggu bosnya hingga sadar. Yun sudah memerintahkan orang suruhannya untuk menyelasaikan kasus yang menimpa Jongin. Ia tak akan membiarkan orang yang memukul bosnya berkeliaran diluar. Dan untuk masalah club yang sering Jongin datangi kini sedang berada dipengadilan untuk menunggu keputusan hakim. Yun akan menghancurkan siapa saja yang berani melawan Jongin.
Daehyun datang dengan nampan yang berisi sepiring nasi dan segelas air putih. Ia meletakkan nampan itu dimeja nakas dekat dengan tempat duduk Yun. Daehyun sengaja membawakan Yun makan karena ia tau jika Yun akan berada disamping Jongin dalam kondisi apapun.
"Makanlah. Seorang pengawal juga butuh makan untuk menolong bosnya" canda Daehyun.
Yun hanya tersenyum singkat.
"Nanti" sahut Yun.
Daehyun duduk disebelah Yun dan ikut memandangi Jongin.
"Aku tak menyangka seorang Kim Jongin selamah ini terhadap seorang perempuan" celetuk Daehyun.
Yun menatap Daehyun penuh tanya.
"Dia bos yang sangat berwibawa. Dia akan selalu bersikap profesional dideapan rekan kerjanya. Aku bersyukur bisa bekerja menjadi sekertarisnya. Yah...walaupun kadang dia menyebalkan juga" kekeh Daehyun.
"Orang bilang sekasar-kasarnya lelaki ia akan tunduk pada satu wanita. Mungkin itu yang sedang dialami Kim sajang. Tak pernah aku lihat ia sebegitu kerasnya mendapatkan perhatian satu wanita" lanjut Daehyun.
Yun setuju dengan apa yang dikatakan Daehyun. Bosnya tanpa sadar mulai berubah semenjak bertemu wanita itu. Semua perintah yang sebelumnya tak pernah Yun tangani terutama masalah wanita tiba-tiba bosnya meminta langsung padanya untuk mengawasinya. Yun bukanlah sembarangan pengawal. Ia tak akan menangani masalah-masalah remeh seperti itu. Apalagi yang berhubungan dengan masalah pribadi bosnya.
Daehyun menoleh kearah Yun.
"Aku tau kau mencari kabar tentang nona Kyungsoo. Bagaimana dengannya?" tanya Daehyun.
"Sekarang aku tak mencari informasi tentang nona Kyungsoo semenjak Tuan Jongin menolak mendengarkan berita tentangnya. Dari info yang aku dengar terakhir kali nona Kyungsoo kembali dilarikan ke rumah sakit"
Daehyun terkejut.
"Benarkah? Kenapa bisa?"
"Entahlah. Aku bisa saja mencari tau tapi aku tak melakukannya. Aku memilih ikut tak tau apa-apa daripada aku tau apa yang terjadi tapi tak bisa melakukan sesuatu"
Daehyun mengangguk setuju.
"Apa aku perlu menemui nona Kyungsoo untuk melihat keadaannya?" usul Daehyun.
Yun menggeleng.
"Kita tak bisa terlibat lebih jauh. Lebih baik kita diam. Aku tak ingin menambah beban Tuan Jongin"
--:--
Jongin membuka kedua matanya pelan. Rasanya kelopak matanya terasa berat untuk dibuka. Kegelapan menyelimuti penglihatan Jongin saat kedua matanya berhasil terbuka. Sedikit cahaya dari luar yang menembus celah jendela menjadi penerangan Jongin. Jongin merasakan tenggorokannya kering dan sakit. Ia berdehem pelan dan menelan air liurnya sedikit membasahi kerongkongannya.
Jongin melirik ke sekitar kamarnya. Di pojokan terdapat Yun yang tidur terduduk di sofanya. Ia kembali mengedarkan pandangannya hingga melihat sebuah gelas berisi air putih di nakas dekat ranjangnya. Jongin mengulurkan tangannya untuk meraih gelas itu. Karena badannya yang masih sangat lemas ia jadi tak bisa meraih gelas itu dengan sempurna hingga akhirnya gelas itu jatuh ke lantai.
Yun tersentak kaget dan langsung menyalakan lampu kamar tuannya. Ia melihat pecahan gelas berserakan dilantai. Ternyata Jongin sudah sadarkan diri. Yun langsung berlari kearah bosnya.
"Anda sudah sadar?"
"A-ir"
Yun dengan sigap mengambil gelas baru dan mengisinya dengan air. Ia membantu Jongin meminun minumannya. Setelah selesai minum Yun meletakkan gelas diatas nakas.
"Apa yang terjadi?" tanya Jongin serak.
"Anda tertidur selama tiga hari" jelas Yun.
Jongin hanya mengangguk dan menatap jendela yang tertutup tirai.
"Anda ingin saya membuka tirainya?" tawar Yun.
"Tak usah. Aku lebih suka kegelapan"
Yun hanya diam.
"Istirahatlah, Yun. Aku akan memanggilmu jika aku butuh sesuatu"
Yun merasa ragu. Ia tak ingin meninggalkan bosnya sendirian.
"Baiklah. Besok pagi saya akan panggilkan dokter untuk mengecek kondisi anda. Saya permisi" pamit Yun.
Jongin mengangguk samar tanpa mengalihkan pandangannya. Suara pintu terdengar ditelinga Jongin. Jongin mengalihkan pandangannya kearah pintu kemudian menghela nafas. Ia melepaskan jarum infus ditangannya. Dengan banyaknya jarum infus ditangannya membuatnya terlihat lemah.
Jongin mencoba mendudukan diri dengan kekuatannya. Mungkin sedikit bergerak akan membuat tubuhnya yang kaku kembali rileks. Jongin melangkah kearah jendela. Ia sibak tirainya dan cahaya rembulan menyinari kamarnya. Sebenarnya Jongin hanya berdalih suka kegelapan agar Yun pergi dari kamarnya. Bukan kegelapan yang disukainya tapi kesendirian dan kekosongan. Kedua hal itu yang selalu menemaninya akhir-akhir ini. Jongin sangat menerima baik kedua hal itu. Ia berharap bisa ditenggelamkan keduanya hingga tak merasakan apapun.
Jongin membuka pintu balkonnya dan berjalan keluar. Angin malam yang dingin menerpa tubuhnya yang hanya dilapisi piyama sutera miliknya. Kedua tangannya mencengkeram kuat pinggiran besi pembatas. Jongin merasakan sensasi dingin yang menyergapnya. Ia memejamkan matanya dan menikmati setiap semilir angin yang menyentuhnya.
Sepintas angannya tentang wanita itu kembali. Jongin selalu membayangkan bagaimana sentuhan wanita itu ditubuhnya. Bagaimana halusnya tangan wanita itu bergerak dipunggungnya. Bagaimana suara serak wanita itu mengalun ditelinganya. Bagaimana tubuh wanita itu bersatu dengan tubuhnya dan saling berbagi kehangatan.
Jongin langsung membuka matanya dan menggeram marah. Bisa-bisanya disaat seperti ini ia memikirkan hal yang tidak-tidak. Semua itu hanya semu. Ia tak akan pernah merasakan hal itu jika saat ini ia sudah memutuskan untuk menyerah.
Jongin memutuskan kembali kedalam untuk mandi air dingin. Pikirannya semakin kacau hanya karena tak bisa melihat wanita itu.
Jongin menyalakan keran hingga air dingin keluar menerpa tubuhnya yang masih berbalut piayama. Mungkin setelah ini ia akan kembali drop mengingat kondisinya masih belum pulih benar. Tapi Jongin tak peduli. Air dingin dapat meredakan gejolaknya dan membuatnya mengingat batasan-batasan yang ia buat sendiri.
Hampir tiga puluh menit lebih Jongin menghabiskan waktu untuk berdiam diri dikamar mandi. Ia keluar dengan tubuh basah yang sudah setengah kering. Jongin menggambil baju lainnya untuk ia gunakan. Ia memilih baju santainya daripada piayama. Jongin mengeringkan rambutnya dengan handuk yang ia sampirkan disekitar lehernya.
Jam sudah menunjukkan pukul enam pagi. Jongin melihat keluar dan langit masih gelap. Pikiran Jongin masih terfokus ke wanita itu. Segala sakit yang ia tahan nyatanya tak bisa memberikannya sebuah pengalihan. Memang sedari ia mandi air dingin Jongin menahan diri dari rasa sakit yang melandanya. Luka-lukanya masih belum sembuh total dan tubuhnya juga masih belum pulih. Ia berharap rasa sakit itu dapat menggantikan rasa sakitnya yang lain yang selalu datang dan menyiksanya.
Pintu kamar Jongin terbuka dan membuat Jongin menolehkan kepalanya kearah pintu. Yun tersentak kaget melihat bosnya sudah bangun dan sekarang sedang berdiri ditengah kamar.
"Maafkan saya, Tuan. Saya kira anda masih tertidur" sesal Yun dan menundukkan kepalanya bersalah.
"Tak apa. Lagipula aku tak bisa tidur setelah bangun tadi"
Jongin berjalan ke ranjangnya dan mengambil gelas yang ada diatas nakas meja. Yun berjalan masuk dan berdiri beberapa meter dari Jongin. Ia pandangi tubuh Jongin dan selang-selang infus yang berserakan disebelah ranjang Jongin.
"Anda baik-baik saja?" tanya Yun.
Jongin menoleh kearah Yun. Ia meletakkan gelasnya setelah meneguk segelas air.
"Aku baik"
"Dokter akan segera kemari untuk memeriksa kondisi anda. Apa anda ingin makan sesuatu?"
"Tidak" tolak Jongin.
Yun ingin mengeluarkan suaranya namun ia tahan.
"Apa ada pesan untukku selama tiga hari ini?"
"Direktur Park ingin bertemu dengan anda"
Jongin mengangkat salah satu alisnya.
"Untuk apa?"
"Beliau ingin membahas sesuatu dengan anda"
"Baiklah. Hari ini kita menemuinya"
"Tapi disana..."
"Aku tau, Yun. Kita akan tetap kesana"
--:--
Jongin turun dari mobilnya. Yun sengaja menghentikan mobilnya bukan di pintu utama rumah sakit. Ia tak mau bosnya bertemu seseorang secara tak sengaja walaupun bisa saja hal itu terjadi.
Jongin melirik kearah taman belakang rumah sakit yang sepi. Ia tau jika taman itu sangat jarang dikunjungi karena tempatnya yang cukup jauh serta aksesnya cukup sulit. Jongin menghentikan jalannya dan menatap taman itu lama. Yun yang berjalan dibelakanh Jongin dibuat bingung.
"Bisakah kau ke ruangan direktur Park dan sampaikan jika aku menunggu di taman belakang?"
Yun yang awalnya bingung hanya bisa mengangguk kemudian pergi. Jongin menuju taman itu. Suasana sepi taman itu membuatnya tertarik. Sebenarnya ia tak mau bertemu ditempat yang ramai. Ia sedang menghindari kebisingan.
Jongin duduk disalah satu bangku dibawah pohon besar yang rindang. Ia mengamati keseliling taman itu tapi tak ada siapapun. Jongin menyandarkan punggungnya dikursi dan menikmati hembusan angin yang sejuk. Dalam kesunyian seperti ini membuatnya merindukan Kyungsoo.
Tak berapa lama Yun datang bersama pria paruh baya yang masih bugar. Pria paruh baya itu tersenyum melihat Jongin. Jongin berdiri dan membalas senyuman pria tua itu. Sebuah pelukan Jongin dapatkan dari pria tua itu. Pelukan itu sangat erat dan hangat.
"Aku merindukanmu, son"
Jongin melepas pelukannya dan tersenyum kecil.
"Aku juga, samcheon"
Pria tua itu menepuk-nepuk bahu Jongin dan tersenyum bangga.
"Kapan terakhir kita bertemu? Kau tampak kurus dan mukamu pucat. Apa kau sakit?"
"Hanya kelelahan saja"
"Akhir-akhir ini aku merasa kesepian. Bocah tengik yang aku sebut anak itu tak mau menengokku. Padahal kita berada dirumah sakit yang sama"
Jongin terkekeh.
"Maafkan aku paman. Lain kali aku akan lebih sering mengunjungimu"
Lelaki tua itu mengangguk. Ia mengajak Jongin duduk dibangku yang tadi diduduki Jongin. Yun dengan setia berdiri disamping Jongin duduk.
"Aku dengar kau bertengkar dengan Chanyeol. Apa benar?"
Jongin bungkam. Lelaki tua itu menggenggam tangan Jongin.
"Kau sudah aku anggap anak sendiri seperti Chanyeol. Dan kau tau jika Chanyeol selalu menganggapmu saudaranya. Apa yang diucapkannya itu tak benar"
Jongin tersenyum kecut.
"Aku harap begitu"
"Kalian terlihat manis jika bersama. Karakter kalian sangat bertolak belakang tapi kalian begitu kompak dalam segala hal. Aku heran kenapa kau bisa betah dengan tingkah laku bocah tengik itu" kekeh pria itu.
"Ahbeoji!"
Jongin dan lelaki tua itu menoleh bersamaan. Yun membungkukkan badan menyambut kedatangan Chanyeol. Chanyeol berjalan tergesa-gesa menghampiri ayahnya.
"Aku pamit dulu samcheon. Lain kali aku akan mengunjungi samcheon" ucap Jongin.
Lelaki paruh baya itu hanya bisa mengangguk pasrah. Jongin berdiri dan membungkukkan badannya kearah ayah Chanyeol diikuti Yun dibelakangnya. Jongin berlalu melewati pintu lain yang tak melewati Chanyeol. Saat ini ia tak ingin bertengkar dengan siapapun termasuk Chanyeol.
"Kenapa anda menghindari Tuan Chanyeol?" tanya Yun dibelakang Jongin.
"Aku kemari bukan untuk bertemu dengannya. Jadi tak ada alasan untuk bertegur sapa dengannya" sahut Jongin.
Mereka berdua berjalan mengambil arah berputar. Mereka tak ingin melewati lobi utama dimana banyak orang yang mengenal Jongin. Saat Jongin melewati sebuah lorong yang sepi tiba-tiba saja dari arah pintu tangga darurat muncul sesorang hingga menabraknya. Jongin meraih pinggang orang itu agar tak terjatuh. Orang itu mendongakkan kepalanya dan membuat Jongin terkejut.
"살려 주세요" ucap orang itu dan jatuh pingsan.
17.09.17
Kemarin masih ada yang bilang Jongin kurang menderita. Jadi disini aku buat dia lebih menderita. Kkk. Masih kurang? Tapi gimana ya. Ntar kaisoo ga bersatu aku kena omel kalian ㅠㅠ
Chap ini dedikasi untuk kepedihan Jongin. Hahaha. Kalian sadar aku nyempilin pikiran erotis Jongin. Hahaha. Ga ada Kyungsoo sama sekali dichap ini. Chanyeol aja cuma numpang nyempil. Hahaha.
Kurang panjang? Emang. Aku usahakan tapi aku ga janji ㅠㅠ. Sekarang2 ini susah banget bisa ngetik panjang. Huhuhu.
Ok kita ketemu chap selanjutnya. Semoga bisa lebih cepet lagi apdetnya
REVIEW JUSEYO~~~~
