I DON'T NEED A MAN
.
.
.
.
.
KAISOO FANFICTION
.
.
.
.
.
BY KAISOOLOVERS
.
.
.
.
.
ORIGINAL IDEAS. DONT PLAGIAT. DLDR. GS. EXO. KAISOO. MAINSTREAM STORY
.
.
.
HAPPY READING
.
.
.
.
ENJOY
.
.
.
Aku berjalan tak tentu arah ditengah padang rumput. Aku tak mengerti bagaimana aku bisa berada disini. Udaranya sejuk dan anginnya tak begitu kencang. Rasanya sangat tenang disini. Aku terus berjalan hingga aku melihat sebuah pohon rindang yang sangat besar dikejauhan.
"Kyungsoo!"
Seperti ada seseorang yang memanggilku. Aku mencari sumber suara itu dan ternyata dari arah pohon. Aku menyipitkan mataku guna menajamkan penglihatanku. Disana ada seorang perempuan berbaju putih melambaikan tangannya kearahku.
"Eomma!" teriakku saat tau siapa dia.
Aku langsung berlari sekuat tenaga menuju eommaku. Aku langsung menghamburkan diri kedalam pelukannya begitu sampai. Tubuh eommaku sedikit terhuyung akibat terjanganku. Ia terkekeh melihat tingkahku.
"Bogossippo" lirihku.
"Nado" jawabnya.
Ia memelukku dengan erat. Punggungku dielusnya pelan. Kenyamanan ini tak akan pernah aku dapatkan lagi. Ia mengurai pelukannya dan menatapku lekat.
"Kau masih keras kepala seperti biasanya" ucapnya.
"Percuma kau pintar jika kau tak menggunakan otakmu" lanjutnya sambil memukul pelan kepalaku.
Aku mengusap kepalaku. Pukulannya tak sakit. Sama sekali tidak hanya saja interaksi seperti ini sudah lama aku inginkan.
"Kau harus kembali, Kyungsoo-ya. Banyak orang membutuhkanmu. Buka hatimu. Jangan biarkan hal lain mengganggumu. Cukup turuti saja kata hatimu. Mereka tak pernah salah" nasehatnya.
"Aku butuh eomma" sahutku.
Ia menggeleng.
"Disana sudah ada yang menunggu dirimu. Cukup buka hatimu. Katakan padanya 'tolong aku'"
Aku tak mengerti dengan perkataan eomma. Siapa yang menungguku? Baekhyun? Kenapa aku harus meminta bantuannya?
"Ikuti kata hatimu, sayang. Dan kau akan mengerti"
"Eomma mencintaimu"
Aku langsung tersentak bangun. Rasanya seperti jiwaku dihempaskan secara paksa kedalam tubuhku. Aku mengedarkan pandanganku dan tak ada siapapun disini.
Aku menghela nafasku. Keringat dingin muncul didahiku. Aku menyekanya dengan punggung tanganku. Lagi-lagi aku bertemu eomma. Ini kedua kalinya aku bertemu dengannya. Secara tersirat ia memberikanku sebuah petunjuk yang tak aku mengerti.
Aku turun dari ranjangku. Aku melangkah kearah pintu dan membukanya pelan. Aku melongokkan kepalaku dan melihat kesekeliling memastikan tidak ada yang melihatku. Merasa aman aku keluar dari ruang rawatku.
Aku merasa penat berdiam diri didalam ruangan. Semenjak aku dilarikan ke rumah sakit Baekhyun maupun Chanyeol lebih protektif kepadaku. Mereka menjagaku 24 jam secara bergantian. Aku memang sering kambuh. Frekuensinya lebih sering dibandingkan sebelumnya.
Aku membuka pintu tangga darurat. Aku kembali menutup pintu itu dengan hati-hati. Aku mendudukan diri disalah satu anak tangga yang menuju ke tangga atas tepat menghadap pintu darurat. Aku terdiam cukup lama. Aku memikirkan perkataan eomma dimimpiku tadi. Pada siapa aku harus meminta tolong.
Suara langkah kaki menuruni tangga terdengar jelas ditelingaku. Bulu kudukku berdiri. Suasana tiba-tiba mencekam. Sekelebat bayangan dimana dulu aku bersembunyi memghindari appaku kembali. Dengan perasaan was-was aku mendongakkan kepalaku mengecek bagian atas adakah orang disana. Suara langkah kaki itu semakin dekat.
"Kyungsoo"
Aku menutup kedua telingaku. Suara itu...suara yang sangat aku kenal.
"Jika kau tak mau keluar kau tau kan hukumannya?"
Aku semakin menutup rapat telingaku. Aku menggelengkan kepalaku kuat untuk mengusir suara itu.
"Keluarlah atau appa akan menghukummu"
Suara ancaman itu kembali menggema. Aku menangis dalam diam. Aku tak ingin dipukuli lagi. Aku tak mau lagi menerima siksaan itu. Saat aku semakin jelas mendengar suara langkah kaki aku berdiri dan langsung berlari menuruni anak tangga.
Entah sudah berapa anak tangga yang aku turuni dan berapa lantai yang aku turuni yang jelas aku harus bisa menghindar darinya. Sesekali aku menoleh kebelakang memastikan tak ada yang mengikuti. Kaki sempat tersandung satu sama lain tapi aku tak peduli.
Disalah satu pintu tangga darurat akhirnya aku memutuskan untuk keluar. Aku buka pintu itu dengan tergesa-gesa. Dengan buru-buru aku keluar hingga tak menyadari ada orang diluar. Tanpa sengaja aku menabraknya. Tubuhku yang lelah sudah tak berdaya lagi. Aku mendongakkan kepalaku menatap siapa orang yang aku tabrak. Pandanganku tak terlalu jelas. Sekilas ia seperti seseorang yang aku kenal. Aromanya mengingatkan aku akan sesuatu hal.
Ikuti kata hatimu
Bisikan itu begitu jelas diotakku. Dan tanpa aku sadari aku mengucapkan sesuatu yang tak aku sangka keluar dari mulutku.
"살려 주세요" (please help me)
--:--
Jongin langsung membopong tubuh Kyungsoo. Ia sangat terkejut saat menemukan Kyungsoo menabraknya kemudian jatuh pingsan. Jongin segera berlari kearah ER. Kepanikan Jongin sangat dirasakan Yun yang berlari dibelakangnya. Bagaimana bosnya itu berlari sambil sesekali mengecek keadaan Kyungsoo.
Saat berada di ER, Jongin meletakkan Kyungsoo dikasur. Ia mengamati Kyungsoo yang terlihat lemah. Beberapa perawat dan dokter datang menghampiri Jongin. Yun berhasil membawa mereka sebelum bosnya itu berteriak keras meminta orang menolong Kyungsoo.
"Apa yang terjadi dengan nona Kyungsoo?" tanya salah seorang dokter sambil mengecek keadaan Kyungsoo.
"Beliau tiba-tiba saja keluar dari pintu tangga darurat dan menabrak Tuan Jongin kemudian pingsan" jelas Yun menggantikan Jongin.
Jongin tak pernah sedikitpun meninggalkan sisi Kyungsoo. Ia mengamati segala aktivitas yang dilakukan oleh dokter. Raut wajah khawatir bercampur panik masih melekat di wajah Jongin. Pandangan matanya selalu mengarah ke wajah Kyungsoo.
"Ada apa ini?" tanya Chanyeol panik.
Chanyeol mengambil alih memeriksa keadaan Kyungsoo. Ia amati setiap detail keadaan vital Kyungsoo.
"Apa yang terjadi dengannya? Bagaimana ia bisa dibawa kemari?" tanya Chanyeol beruntun.
"Tuan Jongin..."
Chanyeol langsung menatap tajam Jongin dan menghentikan ucapan salah seorang perawat. Chanyeol berjalan cepat kearah Jongin dan menarik kerah Jongin.
"Apa yang kau lakukan disini?" desis Chanyeol.
Semua orang tercekat melihat aksi nekat Chanyeol. Yun mendekat dan berusaha memisahkan Chanyeol dan Jongin.
"Tuan Jongin kemari hanya ingin bertemu dengan direktur Park. Beliau memenuhi panggilan dari ayah anda" bela Yun.
Chanyeol mendengus dan melepaskan cengkramannya. Matanya beralih ke para suster dan dokter yang melihatnya.
"Bawa Kyungsoo ke ruangannya" perintah Chanyeol.
Semua langsung mengangguk. Chanyeol menatap Jongin sengit.
"Apa ini bagian dari rencanamu?"
Jongin diam dan masih menatap Chanyeol santai.
"Dia lebih bahagia saat tak bersamamu" lanjut Chanyeol.
"Benarkah?" tanya Jongin mengejek.
"Jika dia bahagia tak mungkin sampai masuk ke rumah sakit" lanjutnya.
"Itu karena kau yang meninggalkan bekas luka dipikirannya!" bentak Chanyeol tajam.
"Jangan temui dia lagi" gertak Chanyeol.
Chanyeol berbalik dan pergi menjauh dari hadapan Jongin. Jongin memandangi punggung Chanyeol hingga menghilang. Ia menatap Yun sebentar.
"Dia meminta bantuanku, Yun" lirih Jongin dan meninggalkan bangsal ER.
Yun tau jika saat ini Jongin sedang bingung. Sebuah prinsip yang ia bangun dari awal mulai goyah karena bertemu wanita itu lagi. Tak pernah sekalipun Jongin ragu akan semua keputusan yang ia buat. Ia akan dengan mudah menyelesaikannya walaupun itu sulit. Tapi jika berkaitan dengan wanita itu membuat Jongin bimbang. Yun akan membantu bosnya. Secara tersirat Yun tau jika bosnya meminta bantuannya.
"Anda ingin saya antar ke suatu tempat, sir?" tanya Yun.
"Kita pulang" jawab Jongin.
Yun mengikuti Jongin yang melangkah di depannya. Dari kejauhan Yun melihat ada keributan. Ia melirik ke arah Jongin dan sepertinya bosnya itu tak mengetahui ada keributan yang menuju arah mereka. Yun melihat dengan cermat siapa yang membuat keributan itu. Dan ternyata seorang wanita sedang berlari ke arah mereka dan dikejar oleh beberapa dokter dan suster.
Wanita itu menubruk tubuh Jongin. Jongin yang tak siap hanya terkejut dan mencoba menyeimbangkan kakinya. Untuk kedua kalinya ia ditabrak oleh orang yang sama.
"Gajima...Jebal" pinta wanita itu serak.
Jongin menarik wanita itu kedalam pelukannya. Betapa ia merindukan wanita ini. Dan saat ini wanitanya memintanya untuk tinggal.
"I'm here, Kyungsoo" bisik Jongin.
Kyungsoo membenamkan wajahnya didada Jongin. Saat sadar tadi Kyungsoo tak mendapati aroma menenangkannya. Kyungsoo panik. Ia langsung berlari sekuat tenaga rak peduli dengan para dokter mencegahnya untuk kembali. Ia hanya butuh tempat nyamannya selain eommanya. Dan kali ini Kyungsoo mengikuti kata hatinya.
"Kembalikan Kyungsoo, Kim!" sentak Chanyeol yang baru saja datang bersama Baekhyun.
Jongin mempererat pelukannya. Ia tak akan semudah itu melepaskan Kyungsoo saat wanita itu sendiri yang memintanya.
"Eonnie..." panggil Baekhyun lirih.
"Tidak! Kali ini aku tak akan melepaskannya, Park" tolak Jongin tegas.
"Kau...!"
"Tunggu!" potong Kyungsoo menyela bentakan Chanyeol.
Kyungsoo melepaskan pelukannya dan berbalik menghadap Chanyeol dan Baekhyun. Ia pandangi kedua orang itu.
"Ini keputusanku, Chanyeol-ssi" ungkap Kyungsoo yang membuat Chanyeol dan Baekhyun terkejut.
"Aku sudah tak tau harus bagaimana. Ini satu-satunya cara. Tanpa aku bahkan kalian sadari ternyata aku lebih nyaman tinggal bersama dia"
"Dengannya perasaan bersalahku bisa berkurang. Bahkan tanpa aku sadari jika perlahan-lahan perasaan itu sudah hilang. Hanya ada satu titik dimana aku masih menyimpan luka lain yang belum terselesaikan. Dan aku memilihnya untuk menyelesaikan masalah itu" lanjut Kyungsoo.
"Jangan gegabah, Kyungsoo" ucap chanyeol.
Kyungsoo menggeleng. Ia menoleh kearah Baekhyun yang terlihat kecewa dengan keputusannya. Kyungsoo mendekati Baekhyun dan memeluknya. Tak bisa ia pungkiri jika ia terlalu egois mengambil keputusan. Tapi ini untuk kebaikannya dan kebaikan Baekhyun.
"Maafkan eonnie yang sudah berbuat egois kepadamu, Baek. Eonnie hanya tak ingin melihatmu terluka karena harus melihatku yang sakit ini"
Baekhyun menggeleng.
"Harusnya aku yang meminta maaf. Eonnie melakukan semua itu demi aku dan eomma. Eonnie pasti sangat terluka" ucap Baekhyun lirih.
Kyungsoo melepaskan pelukannya dan mengusap air mata adiknya. Tangan Kyungsoo dicekal oleh Chanyeol hingga membuat kedua wanita itu menoleh. Chanyeol menatap Kyungsoo tajam sedangkan Baekhyun menatap tangan Chanyeol yang menggenggam erat tangan Kyungsoo dengan pandangan sedih.
"Terima kasih atas segala perhatian yang kau berikan, Chanyeol-ssi"
"Aku tak akan melepaskanmu ke namja brengsek seperti dia!"
Baekhyun yang mendengar kalimat itu langsung merasakan perih di hatinya. Bagaikan ada ribuan jarum yang menusuk ke jantungnya.
Jongin mendekat dan melepaskan genggaman Chanyeol dari Kyungsoo. Ia menarik Kyungsoo mendekat kearahnya sambil melayangkan tatapan tajam kearah Chanyeol.
"Kau sudah dengar apa yang ingin kau dengar, Park" desis Jongin.
Jongin membawa pergi Kyungsoo dari rumah sakit. Kini ia mendapatkan wanitanya. Wanita yang sudah memporak-porandakan hatinya.
Chanyeol membubarkan gerombolan manusia yang tanpa ia sadari sudah banyak sekali. Setelah melihat semua orang kembali ke aktivitasnya masing-masing ia menoleh ke samping melihat kondisi Baekhyun. Tapi gadis kecil itu tak ada disampingnya. Chanyeol memutar badannya untuk menemukan Baekhyun. Ia langsung menghampiri Baekhyun saat melihat gadis itu menuju ke salah satu lift.
Chanyeol menahan lengannya hingga gadis itu berhenti melangkah. Baekhyun tak mau membalik badannya sehingga Chanyeol memutar langkahnya agar bisa berdiri berhadapan dengan gadis itu.
"Kau baik-baik saja?" tanya Chanyeol.
"Terima kasih atas bantuan dokter Park selama ini" ucap Baekhyun membungkukkan badannya tak mau menatap Chanyeol.
Chanyeol mengernyit bingung. Selama ini Baekhyun memanggilnya dengan sebutan 'ahjussi'. Dan sekarang berbeda.
"Tatap mataku, Baek" perintah Chanyeol.
Baekhyun tak merespon ucapan Chanyeol.
"Jika begitu saya pamit"
Baekhyun berjalan menghindari tubuh Chanyeol. Chanyeol yang tak terima langsung menyeret Baekhyun ke sebuah taman belakang dimana ayahnya dan Jongin bertemu tadi. Baekhyun hanya diam dan mengikuti langkah lebar Chanyeol.
Chanyeol mendudukkan Baekhyun disalah satu bangku taman sedangkam dirinya berjongkok dihadapan Baekhyun. Chanyeol mengangkat dagu Baekhyun agar menatapnya.
"Jika kau ingin menangis aku siap meminjamkan bahuku atau punggungku" tawar Chanyeol.
"Tolong berhenti mengkhawatirkanku" ucap Baekhyun.
"Wae?"
"Aku bukan eonnie yang harus kau perhatikan selama 24 jam" serak Baekhyun.
Chanyeol tak mengerti dengan apa yang dikatakan Baekhyun.
"Tentu saja aku harus memgkhawatirkanmu. Kau adalah adik Kyungsoo dan..."
"Jebal..." ucap Baekhyun.
Baekhyun tak ingin mendengar kelanjutan perkataan Chanyeol. Terlalu sakit untuk didengar dan melukai perasaannya. Baekhyun berdiri dan membuat Chanyeol refleks ikut berdiri. Chanyeol memandangi tubuh Baekhyun yang terus menunduk.
'Ada apa dengannya?' batin Chanyeol.
"Gamshahamnida" ucap Baekhyun kemudian berlari meninggalkan Chanyeol.
"Baekhyun!" seru Chanyeol.
--:--
Jongin menatap wanita dipelukannya yang sedang tertidur lelap. Setelah masuk ke dalam mobil, Jongin sedikitpun tak melepaskan Kyungsoo dari pelukannya. Hingga akhirnya Kyungsoo jatuh tertidur karena kelelahan.
Jongin merapikan rambut Kyungsoo yang menjuntai diwajah gadis itu. Tanpa Jongin sadari ia mengulas sebuah senyum dan semua itu tak luput dari mata Yun. Yun sedari tadi melirik Jongin dari spion. Bagaimana wajah bahagia bosnya itu saat berada disebelah Kyungsoo.
"Anda terlihat sangat senang" celetuk Yun.
"Karena 'kebahagiaan' kembali padaku" sahut Jongin dengan terus memperhatikan Kyungsoo.
Yun tersenyum tipis. Ia senang akhirnya Jongin bisa lebih hidup dari sebelumnya.
Jongin mengecup dahi Kyungsoo dan berbisik pelan, "I never ever let you go, baby. I promise"
Sesampainya di mansion, Jongin membopong tubuh Kyungsoo ke kamarnya. Beberapa pelayan yang melihat tuannya kembali membawa pulang Kyungsoo begitu senang. Mereka sangat menyukai pribadi Kyungsoo. Dan menurut mereka tuannya sangat cocok dengan Kyungsoo.
Jongin membaringkan tubuh Kyungsoo di ranjangnya. Ia sengaja tak menidurkan Kyungsoo dikamar milik wanita itu. Ia hanya ingin gadis itu berada didekatnya. Jongin menyelimuti Kyungsoo menutupi hingg dadanya. Jongin menyium kening Kyungsoo dan meninggalkan kamarnya.
Yun berdiri tepat didepan pintu kamar Jongin saat Jongin ingin keluar. Yun memberikan sebuah amplop coklat kepada Jongin. Jongin langsung menerimanya.
"Kita ke ruang kerjaku"
Yun mengikuti Jongin dari belakang. Jongin duduk dikursi kebesarannya dan mulai membuka amplop itu. Ia membaca dengan seksama setiap detail yang tertulis disana.
Dahi Jongin berkerut menandakan ada sesuatu yang salah dari isi amplop itu. Ia menatap Yun yang dengan setia berdiri didepan meja kerjanya.
"Apa maksudnya?" tanya Jongin.
Bukannya Jongin bodoh atau lamban membaca maksud dari isi amplop itu. Hanya saja ini terlalu mencengangkan dan mengejutkan.
"Kenapa si brengsek itu masih hidup?!" geram Jongin.
Yun hanya diam menunduk. Ia juga baru mengetahui fakta itu saat bosnya kembali menyuruhnya untuk bergerak.
"Aku ingin dia ditemukan hidup-hidup, Yun!"
"Akan saya laksanakan"
Yun membungkuk sekilas dan beranjak dari ruang kerja Jongin. Sebuah jeritan keras terdengar saat Yun membuka ruang kerja Jongin. Sontak hal itu membuat Jongin berlari keluar menuju kamarnya. Tanpa perlu berpikir dua kali Jongin sudah tau siapa yang sedang menjerit.
Beberapa pelayan sudah mengerubungi depan kamar Jongin yang masih tertutup. Mereka tak ada yang berani masuk. Melihat tuannya datang tergesa-gesa mereka langsung membuat jalan untuk dilewati Jongin.
Jongin membuka pintu kamarnya tergesa-gesa. Ia berlari kearah ranjang dimana Kyungsoo sudah terbangun dengan posisi duduk dengan kedua tangan yang menjambak rambutnya. Jongin memeluk Kyungsoo dan menenangkan gadisnya.
Kyungsoo masih menangis. Rancauan tak jelas terdengar dari bibir mungilnya. Jongin semakin memeluk erat Kyungsoo.
"Uljima" bisik Jongin.
"Gajima...gajima...gajima..."
Kyungsoo mengulangi kata-kata itu berkali-kali. Sungguh Jongin merasa terluka melihat gadisnya begitu menderita. Ia bersumpah akan membalas siapa saja yang menyakiti gadisnya dimasa lalu.
"Aku disini" bisik Jongin.
Yun tersenyum kecil melihat tuannya tak sedingin dulu. Ia menutup pintu kamar Jongin yang terbuka lebar karena ulah tuannya. Pelayan yang tadi menonton diusir oleh Yun. Mereka memprotes kepada Yun saat drama romantis tuannya dengan nona kesayangan mereka tiba-tiba hilang dari pandangan mereka.
Jongin merebahkan tubuh Kyungsoo dan ia ikut merebahkan diri disamping tubuh Kyungsoo. Kyungsoo sama sekali tak melepaskan pelukannya dari Jongin. Jonginpun tak keberatan. Ia justru senang dengan sikap Kyungsoo yang mendadak manja kepadanya.
Jongin mengusap kepala Kyungsoo dan memperhatikan gadisnya yang kembali tertidur.
"Kau tau kau terlihat menggemaskan saat kau menatap dingin kearahku dan menolakku berkali-kali. Tapi sikap manjamu seperti ini jauh berkali-kali lipat lebih menggemaskan. Aku jadi semakin ingin memilikimu seutuhnya" monolog Jongin.
30.09.17
Huwaaa...akhirnya aku selesai nulis chap ini. Sumpah banyak kendala dari sibuk sampe ga dapet feel. Huhuhu. Maafkan aku karena kalian menunggu terlalu lama.
Yang kemarin nebak ada orang ketiga kalian salah besar. Hahaha. Aku ga mau nambah konflik dengan kehadiran orang ketiga. Ga selesai-selesai ntar.
Tuh yang nyariin kaisoo momment. Aku serba salah. Beberapa ingin Jongin menderita tapi yang lainnya ga mau. Yang chap kemarin anggap aja khilafku buat nistain Jongin. Hahahaha #evillaugh.
Kalian pengen ini end cepat kah? Atau masih lanjut? Aku masih belum nemu ending yang pas. Kkkk.
REVIEW JUSEYO~~~~
