I DON'T NEED A MAN

.

.

.

.

.

KAISOO FANFICTION

.

.

.

.

.

BY KAISOOLOVERS

.

.

.

.

ORIGINAL IDEAS. DONT PLAGIAT. DLDR. GS. EXO. KAISOO. MAINSTREAM STORY

.

.

.

.

HAPPY READING

.

.

.

ENJOY

.

.

.

Aku mencoba menggerakkan badanku tapi ada sesuatu yang mengganjal. Ada sesuatu yang memberati tubuhku hingga tak bisa bergerak. Aku membuka mataku perlahan dan hanya kegelapan yang bisa aku liat. Aku meraba bagian perutku dan disana ada sesuatu. Seketika aku langsung panik. Aku menggerakkan sebuah tangan yang melingkar di perutku. Semakin aku mencoba melepaskannya semakin erat tangan itu melingkar disekitar perutku.

"Kembalilah tidur"

Sebuah suara serak terdengar sangat jelas didekat telingaku. Sontak aku menjerit hingga membuat tangan tadi menghilang dari perutku dan digantikan gerakan kasar dikasur. Setelahnya lampu kamar menyala dan aku bisa melihat siapa yang tertidur disampingku.

"Ada apa?" tanyanya panik.

Dari wajahnya aku bergerak turun memandang tubuhnya yang tak ditutupi sehelai kainpun. Aku langsung menutup wajahku dengan kedua tanganku malu. Apa yang telah aku lakukan hingga bisa satu ranjang dengan seorang pria.

"Hei...kau kenapa?" tanyanya sekali lagi dan menyentuh bahuku.

Sebuah refleks tak terelakkan membuatku mendorongnya. Mataku menatap wajahnya yang terlihat kaget akibat perlakuanku.

"A-Apa yang kau lakukan disini?" tanyaku gagap.

Ia menaikkan sebelah alisnya.

"Ini kamarku" jawabnya.

Aku melihat ke sekeliling kamar. Ternyata benar ini kamarnya. Walaupun aku baru dua kali berada dikamar ini hanya dengan kesan maskulin kamar ini aku bisa langsung mengenalinya.

"Maaf" ucapku dan beranjak turun.

Belum sempat kakiku menempel lantai, tanganku sudah ditarik hingga aku terjatuh dikasur. Aku menatapnya kesal dan hanya dibalas dengan senyuman menjengkelkannya.

"Aku tak menyuruhmu untuk pergi" ucapnya.

"Tapi aku ingin pergi" sahutku.

"Kenapa?"

Aku tak suka mendengar nada bicaranya. Seakan-akan mengejekku dan nadanya sangat menyebalkan.

"Karena ini bukan kamarku!" kesalku.

"Mulai sekarang ini kamarmu"

Ia bergerak hingga berada diatasku. Aku langsung panik. Aku menahan bahunya dengan kedua tanganku. Ia menyunggingkan senyuman miringnya. Dia benar-benar licik. Bisa-bisanya memanfaatkan kondisi seperti ini untuk keuntungannya sendiri.

"Mau apa kau?" cecarku.

"Kau tau kan apa yang terjadi jika namja dan yeoja dalam ruangan tertutup seperti ini?" tanyanya retoris.

Aku menggeleng kuat. Tidak mungkin dia akan memanfaatkanku hanya untuk mendapatkan tubuhku. Jika memang ia seperti itu maka segala hal yang aku pikirkan tentang namja ini benar adanya. Dia tak jauh dari kata namja brengsek.

"Bersiaplah. Aku ingin membawamu ke suatu tempat" ucapnya lalu mencium keningku.

Ia beranjak dari atas tubuhku dan turun dari ranjang. Aku hanya ternganga diatas kasur. Pergerakan mataku mengikuti gerakannya. Ia memakai jubahnya dan keluar kamar. Kini aku sendirian di kamar ini. Aku mengambil bantal dan membenamkan wajahku kedalamnya.

"Ish...pabo! Apa yang aku pikirkan? Bisa-bisanya aku menuduhnya sembarangan seperti itu" gerutuku yang hanya terdengar olehku.

Aku menggeser bantal yang menutupi wajahku dan mendekapnya didadaku. Aku menerawang menatap langit-langit kamar.

"Tapi kan dia yang membuatku berpikir seperti itu" gumamku.

"Aish...molla!"

Aku beranjak dari ranjang menuju kamar mandi. Mandi air dingin dipagi bagus untuk menghilangkan pikiran-pikiran burukku. Setidaknya saat ini ia tak berbuat macam-macam.

Setelah dirasa cukup mandi aku keluar kamar mandi hanya mengenakan handuk yang aku lilitkan ditubuhku. Aku lupa aku tak membawa baju ganti. Bagaimana mungkin aku keluar hanya memakai handuk sedangkan ini bukan kamarnya.

Aku membuka pintu kamar mandi pelan. Aku melongokkan kepalaku keluar kamar mandi. Aku mengamati sekitar kamar. Saat dirasa aman aku keluar perlahan. Rencana awalku adalah menemukan pakaian yang bisa aku gunakan sementara hingga aku menemukan pakaian gantiku.

"Nice body"

Aku terlonjak kaget mendengar suara dari arah belakangku. Aku membalikkan tubuhku dan melihat Jongin berdiri dibalik pintu. Punggungnya bersandar dipintu dengan salah satu tangan dimasukkan kedalam saku celana dan tangan lainnya memegang sebuah tas.

Aku spontan mencengkram erat bagian atas handukku agar tak terjatuh. Ia menyeringai melihat reaksi defensifku.

"Kenapa kau disini?" tanyaku mengalihkan rasa gugupku.

"Ini masih kamarku" ucapnya mengejek.

"Maksudku kenapa kau masuk ke kamarmu sendiri dengan mengendap-endap?" ralatku.

"Kau saja yang tak menyadari keberadaanku. Aku sudah ada disini semenjak kau keluar dari kamar mandi"

Itu mustahil. Aku jelas-jelas memastikan tak ada orang lain didalam kamar sebelum keluar kamar mandi. Ini pasti hanya akal-akalannya saja. Aku melihatnya terkekeh dan berjalan mendekatiku.

"Aku membawakan baju ganti untukmu. Aku tau kau sedang mencarinya" terangnya.

Aku mengambil sebuah tas yang ia sodorkan kepadaku. Aku mengintip apa saja yang ada didalam tas itu. Mukaku langsung memerah menyadari apa saja isi tas itu. Selain baju ganti ia juga membawakan pakaian dalam untukku. Bukankah ini termasuk pelecehan seksual? Bagaimana ia bisa tau ukuranku?

"Ada apa? Kau ingin aku memakaikannya untukmu? Aku tak keberatan untuk itu"

Aku melotot kearahnya. Bisa-bisanya ia berkata seperti itu.

"Keluar sana!" usirku.

"Kau yakin menolak tawaranku?"

"Kau atau aku yang keluar?" gertakku.

"Fine. Aku yang akan keluar. Aku tak ingin orang lain melihat tubuh indahmu"

Aku semakin melotot kearahnya. Ia mencondongkan badannya.

"Hanya aku yang boleh melihatnya" lanjutnya kemudian berbalik pergi.

Tubuhku langsung melemas setelah ia keluar. Hanya berada disekitaran orang itu membuat tubuhku tegang. Auranya terlalu kuat mendominasi tubuhku. Bahkan terkadang aku lupa bernafas. Aku harus bisa mengatur kontrol diriku. Ini akan terasa berat karena aku sudah memutuskan untuk tinggal bersamanya.

--:--

Jongin membawa mobilnya ke sebuah perumahan elit. Kyungsoo yang berada disebelahnya hanya berdiam diri dan memandang keluar jendela. Sejak keluar kamar, Jongin tak mengatakan akan membawa Kyungsoo kemana. Setiap kali Kyungsoo bertanya Jongin hanya diam dan menggumam tak jelas. Merasa dirinya di abaikan Kyungsoo memilih diam.

"Aku merasa tak asing dengan lingkungan ini" gumam Kyungsoo yang dapat didengar Jongin.

Jongin memasuki salah satu pekarangan rumah seseorang. Ia melirik Kyungsoo yang terlihat penasaran dengan apa yang ia lihat. Mobil Jongin berhenti tepat didepan pintu rumah. Dan saat itu lah seseorang membuka pintu rumah.

"Eonnie!"

Kyungsoo terkejut dan langsung saja keluar mobil memeluk adiknya. Baekhyun membalas pelukan Kyungsoo lebih erat. Jongin keluar dari mobil dengan santai dan memandangi aksi berpelukan kakak beradik itu. Ia melangkah maju saat melihat orang lain keluar dari rumah itu. Jongin menjabat tangan orang itu.

"Apa kabar, Tuan Lee" sapa Jongin.

"Aku baik. Terima kasih sudah mengantarkan Kyungsoo kemari" balas Tuan Lee.

"Lebih baik kalian berbicara didalam" ucap Tuan Lee kepada Baekhyun dan Kyungsoo.

Kyungsoo berjalan mendekati Tuan Lee dan memeluk lelaki paruh baya itu.

"Terima kasih banyak" ucap Kyungsoo.

"Kalian sudah aku anggap sebagai anakku sendiri"

Tuan Lee melepaskan pelukannya dan mempersilahkan Jongin masuk. Kyungsoo dan Baekhyun berjalan didepan saling berangkulan sedangkan Jongin dan tuan Lee dibelakangnya sambil berbincang.

"Lihat siapa yang datang"

"Ahjumma!" pekik Kyungsoo.

"Kau tampak sehat. Bagaimana kondisimu?" tanya Mrs. Lee memeluk Kyungsoo.

"Jauh lebih baik" bisik Kyungsoo.

Mrs. Lee menuntun Kyungsoo untuk duduk di sofa sebelah Jongin. Mereka semua berbincang santai. Jongin dan Tuan Lee lebih memilih membahas bisnis sedangkan para wanita membahas apa saja dari masalah fashion hingga gosip terbaru.

Tak disangka waktu berjalan dengan cepat. Jongin dan Kyungsoo harus kembali. Baekhyun menatap eonnienya penuh harap. Ia ingin sekali tinggal berdua dengan eonnienya lagi seperti dulu.

Kyungsoo tau jika Baekhyun sangat merindukan sosok seorang kakak. Tapi ia tak bisa berbuat banyak. Ia hanya tak ingin melihat adiknya khawatir hanya karena kekambuhannya. Semenjak Kyungsoo dirawat, Baekhyun tinggal bersama pasangan Lee. Mereka menampung Baekhyun dan memperlakukannya seperti abak sendiri. Setidaknya Kyungsoo bersyukur memiliki pasangan Lee yang membantunya.

"Adikmu bisa berkunjung ke mansion jika kau mau" ucap Jongin.

"Benarkah?" tanya Baekhyun bersemangat.

"Aku akan meminta Chanyeol untuk menjemputmu"

"Jangan!" tolak Baekhyun cepat.

Semua mata memandang Baekhyun keheranan. Baekhyun berdehem pelan.

"Aku akan main kesana sendiri. Aku bukan anak kecil lagi" kilah Baekhyun.

Jongin memicing curiga. Ia mengabaikan perkataan Baekhyun dan berpamitan pada pasangan Lee.

Jongin dan Kyungsoo mengendarai mobil dalam diam. Keduanya tak ada yang mengeluarkan suara. Jongin mengambil beberapa kesempatan untuk melirik Kyungsoo.

"Kenapa kau melakukan hal ini?" tanya Kyungsoo tiba-tiba.

"Apa?" tanya Jongin bingung.

"Mempertemukanku dengan Baekhyun"

"Aku tak sedingin yang kau bayangkan"

Kyungsoo menoleh menatap Jongin.

"'Tak sedingin yang kau bayangkan' katamu?" cemooh Kyungsoo.

"Siapa dulu yang memisahkanku dari adikku?" sarkas Kyungsoo.

"Aku" sahut Jongin pendek.

"Siapa yang mempertemukanmu dengan adikmu?" lanjut Jongin melirik ke arah Kyungsoo.

Kyungsoo memalingkan mukanya ke luar jendela mobil.

"Kau" gumam Kyungsoo.

"Kita akhiri pembicaraan ini" putus Jongin.

Jongin memanuver mobilnya memasuki mansionnya. Setelah mobil Jongin berhenti Kyungsoo langsung turun tanpa menunggu Jongin. Jongin mengikuti Kyungsoo setelah memberikan kunci mobilnya kepada salah satu sopirnya.

Kyungsoo berjalan cepat kearah kamarnya -kamar Jongin. Dan setelah memasuki kamar itu Kyungsoo meruntuki kebodohannya. Bagaimana ia lupa jika ia mempunyai kamar tersendiri di mansion ini.

Saat Kyungsoo ingin keluar kamar, Jongin masuk dan menghalangi langkah Kyungsoo.

"Kau mau kemana?" tanya Jongin.

"Kembali ke kamarku" sahut Kyungsoo.

"Ini kamarmu"

Kyungsoo memandang Jongin penuh penilaian.

"Tapi disini tak ada barang-barangku" elak Kyungsoo.

Jongin menggandeng tangan Kyungsoo dan membawanya ke arah walking closet miliknya. Jongin membukanya dan membuat Kyungsoo terperanggah. Disana sudah ada baju wanita milik Kyungsoo. Bahkan segala aksesoris wanita ada disana semua. Entah sejak kapan Jongin memindahkan barang-barang itu ke kamarnya.

"Bagaimana?" tanya Jongin dibelakang Kyungsoo.

"K-Kapan k-kau..."

"Disaat kita pergi aku menyuruh pelayan untuk memindahkan barangmu. Beberapa ada barang keluaran terbaru" sela Jongin.

Jongin memeluk Kyungsoo dari belakang. Tubuh Kyungsoo meremang. Ia spontan membalikkan badannya dan mendorong Jongin untuk menjauh. Reaksi yang Kyungsoo berikan membuat Jongin sedikit terkejut.

"M-maaf...Tapi aku masih belum terbiasa" aku Kyungsoo.

"Tak apa. Aku akan menyentuhmu lebih sering agar kau lebih terbiasa dengan sentuhanku" ucap Jongin bercanda.

Kyungsoo memayunkan bibirnya. Candaan Jongin sungguh tak lucu. Kyungsoo beranjak dari sana dengan sikap merajuknya. Jongin hanya terkekeh pelan melihatnya. Ia menyusul Kyungsoo yang sudah berdiri didepan meja rias yang khusus Jongin pesan untuk Kyungsoo.

Kyungsoo menatap semua peralatan make up didepannya. Ia tak pernah melihat peralatan make up selengkap ini. Bahkan Kyungsoo tak pernah menggunakan make up berlebihan.

"Apa itu cocok denganmu?" tanya Jongin.

Kyungsoo menoleh dan mengangkat kedua bahunya.

"Entahlah. Aku tak pernah memakai make up selengkap ini" ucapnya.

Jongin berjalan mendekati Kyungsoo dan membalik tubuh wanita itu. Jongin mentap Kyungsoo dalam. Tanpa make up pun Kyungsoo sudah terlihat sangat cantik dimatanya. Bahkan sempurna. Hanya dengan make up tipis bisa membuat Kyungsoo semenarik ini.

"Kau tau bukan jika kau selalu mempesona dimataku?"

"Aku pernah mendengar kalimat itu"

"Tentu saja. Aku yang mengatakan itu"

Kyungsoo terkekeh geli. Bibirnya melengkung membentuk hati. Jongin sangat menyukai senyuman itu. Begitu indah dan menawan. Jongin menarik Kyungsoo dan mendaratkan ciuman dibibir hati wanita itu.

Mata Kyungsoo terbelakak kaget. Ia tak menyangka akan mendapatkan serangan ini. Jongin menarik pinggang Kyungsoo agar tubuh mereka semakin rapat.

Jongin semakin memperdalam ciumannya. Semakin lama semakin menuntut. Ia menyangga tubuh Kyungsoo agar tak terjatuh. Tangan Kyungsoo yang semula menggantung diudara mulai merambat dilengan Jongin hingga mengalung sempurna dileher Jongin.

Keduanya tak ada yang ingin melepaskan panggutan mereka. Liarnya ciuman Jongin susah diimbangi oleh Kyungsoo. Kurangnya pengalaman Kyungsoo dengan lelaki membuatnya sedikit kikuk. Walaupun ia sudah beberapa kali dicium oleh jongin tapi tak sampai sejauh ini.

Jongin melepaskan panggutannya dengan nafas memburu. Begitu juga dengan Kyungsoo. Keduanya berbagi nafas mengingat wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja.

"Katakan kau tak ingin melanjutkannya karena aku tak tau apa yang akan terjadi jika kita melanjutkannya" ucap Jongin serak.

Jongin menunggu respon Kyungsoo. Tapi Kyungsoo hanya diam. Matanya menerawang kosong. Jongin langsung paham jika dia sudah bertindak sangat jauh. Ia sudah melampaui batas. Kyungsoo masih belum bisa menerima 'tindakan' seintim ini.

"Maafkan aku. Aku tak akan melakukannya jika kau memang tak bisa"

Jongin menyium kening Kyungsoo. Ia mengusap pelan pipi tembam Kyungsoo. Jongin tak akan memaksakan egonya lagi. Ia sudah cukup kehilangan Kyungsoo sekali. Ia tak ingin mengulanginya. Walaupun ia masih belum bisa mengakui secara langsung perasaannya kepada Kyungsoo, Jongin sudah cukup senang dengan kemajuan hubungan mereka.

--:--

Baekhyun keluar dari sekolahnya dengan riang. Hari ini ia akan bertemu dengan eonnienya. Kemarin eonnienya memberi kabar jika ia boleh berkunjung dan katanya ia akan dijemput oleh orang suruhan Jongin.

Baekhyun mengedarkan pandangannya keseluruh tempat mencari orang suruhan kakaknya. Tiba-tiba saja ada seorang namja mendekat kearah Baekhyun. Baekhyun memandangnya penuh curiga.

"Apa nona tau alamat ini?" tanya pria itu.

Baekhyun menerima secarik kertas yang disodorkan pria itu. Ia membaca sekilas dan langsung tau kemana pria itu harus berjalan.

"Ahjussi jalan luruh kearah sana. Tak jauh dari sana ada sebuah toko buku dan ahjussi akan menemukan alamat yang ahjussi tuju" jelas Baekhyun sambil mengarahkan.

"Terima kasih" ucap namja itu sambil membungkuk berulang kali dan pergi.

Baekhyun membalas bungkukan badan namja itu dengan senyumannya.

"Siapa dia?"

"Yak!" teriak Baekhyun kaget sambil memegangi dadanya.

"Kau sakit?"

"Ini karena ulahmu ahjussi tiang listrik!" ketus Baekhyun.

"Sedang apa kau disini?" tanya Baekhyun.

Pria itu memberikan senyuman lebarnya.

"Menjemputmu" ucap Chanyeol.

"Aku sedang menunggu seseorang" balas Baekhyun cuek.

"Siapa?" tanya Chanyeol tak suka.

Baekhyun hanya melengos tak menjawab pertanyaan Chanyeol.

"Nona Baekhyun"

Baekhyun dan Chanyeol kompak menoleh. Wajah Baekhyun berbinar senang.

"Anda Yun ahjussi kan?" tanya Baekhyun.

"Ne. Selamat siang Tuan Chanyeol" sapa Yun.

Chanyeol mengernyit.

"Apa yang kau lakukan disini, Yun?" tanya Chanyeol.

"Saya diperintah Tuan Jongin menjemput nona Baekhyun" jawab Yun.

"Untuk apa?" tuntut Chanyeol.

"Kau tak perlu tau" sergah Baekhyun.

"Ayok ahjussi!" ajak Baekhyun menarik tangan Yun tak sabar.

Yun hanya bisa pasrah dan membungkuk kearah Chanyeol sebelum meninggalkannya. Chanyeol memandang keduanya tak suka. Apalagi melihat Baekhyun menggandeng tangan Yun dengan leluasa.

Yun membukakan pintu belakang mobil tapi ditolak Baekhyun.

"Aku tak mau dibelakang. Didepan saja"

Baekhyun masuk dan duduk disebelah kemudi. Yun menurut dan masuk kedalam mobil. Saat hendak pergi, Yun memberi klakson kepada Chanyeol yang masih berdiri dipinggir jalan.

"Anda dekat dengan Tuan Chanyeol?" tanya Yun memulai pembicaraan.

Baekhyun mengangguk sekilas.

"Dia dokter yang menangani eonnie. Secara tak langsung aku mengenalnya" jawab Baekhyun.

Baekhyun menoleh menatap Yun.

"Ahjussi sepertinya sangat mengenal dokter Park"

Yun melirik dan tersenyum kecil.

"Tentu saja. Saya sudah bekerja lama dengan Tuan Jongin. Mengingat keduanya teman dekat jadi saya mengenal beliau dengan baik"

Baekhyun manggut-manggut.

"Saya terkejut melihat Tuan Chanyeol datang ke sekolah anda"

"Ahjussi saja terkejut apalagi aku. Aku juga tak menyangka ia akan menjemputku" celoteh Baekhyun.

"Apa Tuan Chanyeol sering menjemput anda?" tanya Yun sebiasa mungkin.

"Dulu waktu eonnie dirawat dirumah sakit dia sempat menjemputku beberapa kali" ucap Baekhyun mengingat dengan telunjuk yang ditempelkan di dagunya.

"Berarti anda orang yang sangat spesial" celetuk Yun.

Baekhyun menatap Yun tak mengerti.

"Aku rasa tidak. Itu semua karena eonnie bukan aku" sanggah Baekhyun.

Yun tersenyum sebagai balasannya. Ia mengerti sekarang apa yang terjadi dengan empat orang ini.

30.09.17

Yoooo...sebenernya ini udah aku tulis sejak malem. Cuma males banget mau apdet malem2 akhirnya apdetnya pagi ini. Cepet kan?? Klo lagi gabut ya gini ini. Langsung ketik sampe selesai. Hahahaha

Banyak yang minta jangan end dulu. Emang belum end sih. Soalnya aku juga masih belum tau mau end kayak gimana. Belum kepikiran.

Untuk yang tanya kapan naik rate maaf ya belum bisa menuhin dl. Sementara masih sebatas ciuman. Habis klo tetiba ena2 kan aneh. Secara Kyungsoo aja masih belum sembuh terus juga keduanya belum ada yang nyatain perasaannya. Sabar. Klo memungkinkan chap depan. Semakin dekat kok. Kkkkk #gajanjijuga

REVIEW JUSEYO~~~~