I DON'T NEED A MAN

.

.

.

.

.

KAISOO FANFICTION

.

.

.

.

.

BY KAISOOLOVERS

.

.

.

.

ORIGINAL IDEAS. DONT PLAGIAT. DLDR. GS. EXO. KAISOO. MAINSTREAM STORY

.

.

.

HAPPY READING

.

.

.

ENJOY

.

.

.

.

Aku tiba disebuah gedung pencakar langit tertinggi di Seoul. Gedung itu terkesan megah. Tak banyak aksesoris tapi aura yang ditampilkan merupakan ciri khas dari kelas atas. Aku menjinjing sebuah kotak makan dan sebuah amplop coklat.

Pagi tadi Jongin meneleponku dan mengatakan jika ia meninggalkan berkasnya diruang kerjanya. Dengan bantuan Yun akhirnya aku membawanya ke kantornya. Kalian pasti bertanya kenapa tidak Yun saja yang membawakannya. Itu karena si namja mesum itu menyuruhku untuk datang dengan membawa bekal.

Sekarang aku memanggilnya namja mesum sejak insiden malam itu. Untung saja aku bisa melarikan diri darinya. Mengingat itu membuat mukaku memerah. Bagaimana tidak? Kata-kata yang keluar dari mulutnya itu benar-benar vulgar.

"Silahkan nona"

Pikiranku kembali fokus saat Yun membimbingku ke ruangan si namja mesum. Aku tak memyangka jika kantor Kim Corp pusat akan sebesar ini. Selama aku bekerja sama dengannya aku tak pernah mengunjungi kantornya. Ia selalu mendatangi kantorku.

Ngomong-ngomong masalah kantor, sekarang aku tak bekerja alias pengangguran. Aku sempat marah saat aku dipecat secara sepihak oleh Lee sajangnim. Hanya karena aku absen terlalu lama ia seenaknya memecatku. Semua kan karena sakitku. Sudahlah aku tak ingin membahasnya. Jika mengingat itu aku jadi kesal.

Yun mengantarku memasuki sebuah lift khusus. Lift ini tak ada yang menaiki kecuali kita berdua. Yun menggunakan sidik jarinya untuk mengangktifkan lift. Aku melihat Yun memencet tombol lantai atas.

Aku menunggu. Amplop coklat yang aku pegang terlihat sedikit kusut karena terus-terusanku remas. Aku sudah meminta Yun untuk membawanya tapi Yun menolak. Katanya hanya aku yang boleh membawa amplop itu.

Sesampainya dilantai atas Yun mempersilahkanku keluar lift. Disana aku melihat satu-satunya pintu dilantai itu. Didepannya ada sebuah meja bilik yang cukup tinggi dan aku melihat ujung kepala seseorang. Kepala itu mendongak dan terlihat kaget menatapku. Seseorang disana langsung berdiri dan menyambutku.

"Nona Kyungsoo...silahkan" ucapnya.

Ia membukakan pintu ruangan itu dan menyuruhku masuk. Aku menoleh kearah Yun dan ia mempersilahkanku masuk. Dengan ragu aku masuk ke ruangan itu.

Setelah aku berada didalamnya, pintu ditutup. Aku melihat Jongin duduk dengan tenang dimeja kerjanya dengan pandangan fokus pada apa yang berada diatas meja.

Aku berjalan lambat kearahnya. Sebenarnya aku masih ragu. Gerakan kakiku sepertinya mengusiknya. Ia langsung mendongak dan matanya tertuju kepadaku. Perlahan ia berdiri dan menghampiriku. Ia memelukku singkat seperti yang biasanya ia lakukan.

"Kau datang" bisiknya tak percaya.

Aku menyerahkan amplop coklat yang sedari tadi aku bawa. Ia menerimanya dan membawaku ke arah sofa yang tersedia tepat didepan meja kerjanya. Ia meletakkan amplop itu dimeja.

Aku meletakkan bekal yang aku bawa diatas meja. Ia menatapku lama dan dalam. Aku sedikit menjaga jarak darinya. Ia mengalihkan pandangannya pada bekal yang aku bawa.

"Kau memasaknya sendiri?" tanyanya.

Aku mengangguk singkat. Walaupun tak terlalu sering kadang aku menggunakan dapurnya untuk sedikit bereksperimen. Semenjak ia tau aku menggunakan dapur ia memberikan akses untukku. Tapi ia juga memberikan batasan.

Ia membuka bekal buatanku. Ia memandangi setiap makanan yang tersaji tanpa ingin memakannya.

"Kau tak ingin memakannya?" tanyaku.

Ia menoleh kearahku lalu menutup kembali makanan itu. Aku mengernyit bingung. Ia bangkit dari duduknya dan kembali duduk dibalik meja kerjanya.

"Aku akan memakannya nanti. Masih ada waktu satu jam sebelum makan siang" ucapnya.

Aku melirik jam tanganku. Memang benar jika saat ini belum saatnya makan siang. Aku berdiri dan bersiap untuk pulang. Sepertinya tugasku sudah selesai.

"Duduk! Aku tidak menyuruhmu pergi" perintahnya.

Aku mendelik kesal. Heol! Aku bukan pegawainya kenapa aku tidak boleh pulang?

"Aku lelah. Aku mau pulang" tolakku.

Aku melangkahkan kakiku tak peduli ia marah atau tidak.

"Kau lelah? Kau bahkan belum melayaniku tapi kau sudah lelah duluan"

"YAK!!"

Aku berteriak kencang dan langsung berbalik menghadapnya. Namja ini benar-benar mesum. Bisa-bisanya ia berkata vulgar seperti itu. Aku semakin kesal melihat wajahnya yang menyunggingkan senyuman mesumnya.

"Aku bercanda. Duduklah. Aku ingin makan siang bersamamu"

Dengan kesal aku kembali duduk dan memalingkan mukaku darinya.

Pintu ruangan diketuk dan disusul masuknya Yun. Yun mengangguk singkat ke arahku dan berjalan ke meja Jongin.

"Anda ada janji dengan Tuan Yukimura lusa nanti, Tuan. Apa perlu saya pesankan tiket anda?" tanya Yun.

"Lakukan sepertu biasa. Dan tambahkan satu tiket untuk dia" jawabnya tanpa memandang Yun.

Yun mengangguk mengerti. Ia pamit mengundurkan diri. Yun mengangguk singkat kearahku saat melewatiku. Aku berfikir siapa yang akan diajaknya. Kenapa si namja mesum itu menggunakan istilah dia?

"Kau akan ke Jepang?" tanyaku sebisa mungkin tak terlihat penasaran.

"Hm" jawabnya menggumam.

Aku menggerutu dalam hati. Kenapa hanya dijawab sesingkat itu? Aku jadi tak bisa mengorek informasi lebih dalam. Aku memutuskan untuk menyerah mencari jawaban dari rasa penasaranku.

"Kau tak ingin bertanya lagi?" tanyanya.

Aku memandangnya sekilas lalu membuang muka.

"Tidak" sahutku.

Aku mendengar ada suara kursi terdorong dan derap langkah yang menghampiriku. Aku menoleh dan ternyata ia sudah berdiri disebelahku. Tubuhnya yang tinggi semakin menjulang tinggi dihadapanku. Salahkan sofa ini yang terlalu rendah hingga membuat tubuhku semakin kecil jika ia berdiri seperti ini.

"Kita makan siang" ajaknya.

Aku memiringkan kepalaku tak mengerti. Ia mengambil bekal tadi dan membawanya ditangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya meraih tanganku dan menarikku hingga berdiri.

Ia menggeretku hingga pintu keluar. Aku melihatnya kesusahan membuka pintu. Tapi ia sama sekali tak melepaskan genggaman tangannya ditanganku.

"Anda mau makan siang, sajangnim?" tanya Daehyun jika aku tak salah mengingat namanya.

Jongin hanya mengangguk. Pandangan mata Daehyun beralih kearah genggaman tangan kami. Aku yang merasa risih berusaha untuk melepaskannya tapi hal itu percuma. Jongin terus menggenggam tanganku.

Daehyun tersenyum geli melihatku yang berusaha melepaskan tangannya. Daehyun mempersilahkan kami untuk berjalan duluan. Jongin menarik tanganku hingga membuatku berjalan sejajar dengannya.

Didalam lift ia sama sekali tak melepasku. Aku sudah gelisah sedari tadi. Aku tak ingin menimbulkan banyak perhatian dari karyawannya. Akan terlihat mencolok sekali jika aku terlihat berduaan dengannya.

Awalnya aku mengira Jongin akan makan didalam ruangannya. Tapi Yun memberitahu jika Jongin sesekali makan dikantin untuk lebih mengenal karyawannya secara tak langsung.

Pintu lift terbuka dan suara kegaduhan kantin terdengar. Aku melihat banyak orang berlalu lalang disekitaran kantin. Jongin mengajakku keluar kantin dan diikuti Daehyun. Saat kami mulai menampakkan diri keadaan kantin seketika hening. Aku mulai gugup.

Semua mata memandang kami. Ingin sekali aku menenggelamkan diri. Kejadian ini mengingatkanku akan insiden dikantin kantorku yang dulu. Tak aku sadari tanganku gemetaran. Keringat mulai muncul dan rasa panik mulai menyerangku.

"Aku disini menjagamu" bisik Jongin tepat ditelingaku.

Tubuhku direngkuhnya dari samping dan tangannya melingkari pinggangku. Ia menuntunku kesalah satu meja. Aku masih bisa merasakan tatapan orang-orang disekitarku. Wajahku semakin dalam menunduk.

"Aku ingin pulang" lirihku.

"Ayo kita pulang" putusnya.

Ia membimbing tubuhku untuk berbalik. Aku masih tak bisa menampakkan wajahku dihadapan seluruh karyawan Jongin. Ini terlihat memalukan sekaligus menyedihkan.

--:--

Didalam ruangan Jongin memberikan secangkir teh hangat kepada Kyungsoo. Setelah Kyungsoo berkata ingin pulang, Jongin membawanya ke ruangannya dulu. Ia tak tau jika keramaian dikantin membuat Kyungsoo menjadi trauma.

"Apa masih tak nyaman?" tanya Jongin.

Kyungsoo menggeleng lemah. Jongin mengambil cangkir Kyungsoo dan meletakkannya dimeja. Ia membawa tubuh Kyungsoo kedalam pelukannya. Jongin mengusap pelan punggung Kyungsoo.

"Kau masih ingin pulang? Aku ingin makan siang bersamamu"

Kyungsoo melepaskan tautan mereks dan menatap Jongin. Ia mengangguk sekilas dan mengambil bekal yang sempat terabaikan diatas meja. Kyungsoo membuka penutup wadahnya dan memberikan salah satu ke Jongin.

"Makanlah" ucap Kyungsoo.

Jongin menaikan satu alisnya.

"Kau tak ingin makan?" tanya Jongin.

Kyungsoo menggeleng. Akibat insiden tadi nafsu makannya hilang. Ia hanya ingin segera pulang.

Jongin menghela nafas lemah. Ia meletakkan makanannya dan menatap Kyungsoo.

"Kita pulang saja. Aku sudah tak ingin makan"

Jongin beranjak dari sofa menuju ke meja kerjanya. Ia mengambil kunci mobil. Kyungsoo memandang sendu semua makanannya. Ia sudah menyiapkan itu tapi ternyata tak dimakan sama sekali.

Kyungsoo merapikan kembali bekalnya. Setidaknya ia akan memberikan makanan ini ke orang lain jika Jongin tak ingin memakannya.

"Biarkan saja disitu. Kau tak perlu membawanya lagi" ucap Jongin.

Kyungsoo tak menghiraukan ucapan Jongin. Ia tetap membereskan bekalnya dan berdiri sambil membawanya. Jongin merebutnya dari tangan Kyungsoo. Kyungsoo memandang Jongin penuh amarah. Ia meninggalkan Jongin begitu saja dengan emosi yang membeludak.

Kyungsoo membuka pintu secara kasar. Yun yang berdiri disebelah pintu tersentak dengan kehadiran Kyungsoo. Kyungsoo menoleh dan memandang Yun.

"Antarkan aku pulang, Yun!" perintah Kyungsoo.

Yun sedikit bingung dengan sikap Kyungsoo. Kyungsoo yang terkenal lemah lembut kini berkata dengan nada memerintah.

"Aku yang akan mengantarkanmu pulang" ucap Jongin dari belakang Kyungsoo.

Yun membungkuk kecil mengetahui bosnya keluar. Kyungsoo mengabaikan Jongin dan berjalan kearah lift.

"Kau tetap disini dan bantulah Daehyun" perintah Jongin.

Yun mengangguk. Jongin menghampiri Kyungsoo yang masih berdiri didepan pintu lift. Tangan Jongin terulur disebelah kiri tubuh Kyungsoo untuk memencet tombol lift. Kyungsoo berjingit kaget dan spontan menggeser tubuhnya.

Pintu lift terbuka dan Kyungsoo langsung masuk kedalamnya. Jongin memandang heran sikap Kyungsoo dan mulai memindai tangannya kemudian memencet tombol ke basement.

Jongin menatap Kyungsoo dari pantulan bayangannya dipintu lift. Kyungsoo terlihat tak terlalu nyaman berada dibelakangnya. Kyungsoo menundukkan kepalanya. Ia jadi serba salah. Ia ingin melempar pandangannya kearah lain tapi setiap kali ia berpaling selalu saja tatapan matanya bertemu dengan Jongin.

Kyungsoo tau jika Jongin memperhatikannya. Maka dari itu ia terus mencari celah lain agar matanya tak bertemu pandang dengan Jongin. Tapi sialnya kemanapun Kyungsoo berpaling Jongin masih bisa menatapnya.

Lantai yang dituju akhirnya sampai. Kyungsoo bergegas keluar tapi tangannya dicekal oleh Jongin.

"Kau tak tau dimana letak mobilku" ucap Jongin.

Kyungsoo melepaskan cekalan Jongin dan memalingkan mukanya. Jongin meraih kembali tangan Kyungsoo tapi ditepis oleh gadis itu.

"Tunjukkan saja tak perlu memegang tanganku" ketus Kyungsoo.

Jongin tak menghiraukan perkataan Kyungsoo. Namja itu tetap menuntun Kyungsoo dengan melingkarkan tangannya disekitaran pinggang Kyungsoo.

Kyungsoo memberontak disela-sela mereka berjalan. Setiap kali Kyungsoo memberi jarak antara tubuh mereka maka Jongin akan menarik Kyungsoo semakin dekat dengannya. Hal itu berlangsung hingga keduanya berada disebelah mobil Jongin.

--:--

Kyungsoo berjalan cepat kearah dapur. Begitu ia sampai dimansion Jongin satu hal yang menjadi tujuan utama Kyungsoo adalah dapur. Kyungsoo memasuki dapur dan langsung menghampiri pelayan yang ada disana.

"Apa sisa masakanku masih ada?" tanya Kyungsoo.

Pelayan itu mengangguk dan menunjuk ke tumpukan makanan yang sudah dibungkus rapi.

"Buang semua itu" suruh Kyungsoo.

Pelayan itu terkejut dengan perintah majikannya.

"Tapi kenapa nona?" tanya pelayan itu bingung.

"Sudah buang saja" kesal Kyungsoo yang perintahnya tak segera dilaksanakan.

"Kenapa kau mau membuang makanan itu?"

Jongin berjalan memasuki dapur membawa bekal Kyungsoo. Pelayan itu pamit keluar saat tau tuannya memberi kode kepadanya. Kyungsoo menatap tajam kearah Jongin.

"Karena masakanku tak enak. Aku ingin membuangnya" sahut Kyungsoo.

"Siapa bilang? Aku saja belum menyicipinya" ujar Jongin.

"Buat apa kau mencicipinya jika kau melihatnya saja tak mau" sindir Kyungsoo.

Jongin menghela nafas kecil.

"Aku tak pernah mengatakan jika masakanmu tak enak"

"Dari sikapmu aku sudah mengetahuinya. Kau tak perlu repot-repot memaksakan diri untuk makan" sergah Kyungsoo.

Kyungsoo berjalan mendekati Jongin dan mengambil bekal yang diletakkan Jongin diatas meja makan. Jongin menahan tangan Kyungsoo. Keduanya terlibat saling pandang.

"Aku heran dengan isi kepala kecilmu itu. Apa karena kau terlalu banyak berdiam diri dirumah menyebabkan kerja otakmu melambat?"

Kyungsoo melotot mendengar hinaan yang keluar dari mulut Jongin. Bisa-bisanya namja ini menghinannya disaat situasi seperti saat ini.

"Kau!"

"Aku hanya ingin makan bersamamu. Jika kau tak makan maka aku juga tak akan makan. Bukankah aku sudah mengatakannya padamu?" sela Jongin.

Kyungsoo tergelak. Jadi sedari tadi ia salah mengartikan sikap namja ini? Kyungsoo meruntuki pikiran sempitnya.

"K-kapan kau mengatakannya?" gagap Kyungsoo.

Jongin tersenyum miring. Ia menggeret sebuah kursi dan mendudukkan Kyungsoo diatasnya. Sedangkan ia sendiri duduk disebelah gadis itu. Jongin mulai membuka bekal dan menatanya dihadapan mereka.

"Makanlah"

Kyungsoo menatap Jongin yang memandangnya seakan mengatakan untuk segera memakan makanannya. Kyungsoo berpaling kearah makanannya dan memandangnya cukup lama.

Akhirnya Kyungsoo mengambil sumpit dan mulai memakan makanannya. Setelah dirasa cukup yakin jika Kyungsoo makan, Jongin mengikuti gadis itu mengambil sumpitnya dan mulai menyuapi dirinya.

Keduanya tidak terlibat suatu percakapan selama makan. Jongin menikmati makanannya. Rasanya sangat asing dilidahnya. Walaupun selama ini ada koki atau pelayanan yang memasakkannya tapi semua berbeda. Dan segi rasa berbeda. Ia seperti kembali ke rumah. Sebuah citarasa masakan rumah yang dulu pernah ia cicipi.

"Apa tak enak?"

Pertanyaan Kyungsoo menyentak keaadaran Jongin. Ia menoleh dan melihat Kyungsoo memandanginya penuh rasa ingin tau.

"Ini enak" jawab Jongin sekenanya.

Jongin kembali berkutat dengan makanannya. Keduanya kembali makan dengan tenang. Kyungsoo sempat melirik Jongin beberapa kali memastikan jika namja itu makan. Hanya saja ada sebuah raut sedih terlihat diwajah Jongin yang tertangkap oleh Kyungsoo. Kyungsoo menerka-nerka apa yang namja itu pikirkan saat ini.

Jongin meletakkan sumpitnya dan berdiri. Kyungsoo mengikuti setiap gerakan yang dilakukan Jongin. Jongin menatap Kyungsoo.

"Istirahatlah" ucap Jongin kemudian berlalu dari hadapan Kyungsoo.

Kyungsoo bingung dengan sikap Jongin yang berubah-ubah. Pria itu mendadak bersikap menghindarinya. Padahal beberapa menit yang lalu ia memintanya untuk duduk bersama.

--:--

Jongin merebahkan tubuhnya dikasur. Ia menutup matanya menggunakan sebelah tangannya. Tiba-tiba saja ia berubah menjadi lebih sentimental dan itu mempengaruhi moodnya.

Sebuah tangan terulur menyentuh dahi Jongin. Jongin bisa merasakan keberadaan gadisnya disampingnya. Semenjak Jongin memutuskan untuk menutup matanya ia bisa mencium bau gadisnya. Bahkan hingga gadis itu duduk disebelahnya ia masih bisa merasakannya.

Kulit tangan gadis itu yang menyentuh dahi Jongin membuat sensasi yang berbeda. Kelembutan itu membuatnya nyaman. Rasa hangat yang keluar dari tangan itu ingin sekali ia genggam.

"Apa kau sakit?" tanya Kyungsoo.

Jongin menyingkirkan tangannya yang menutupi matanya dan menatap kearah Kyungsoo yang terlihat khawatir. Jongin menarik tangan Kyungsoo yang berada didahinya dan membawanya ke pipinya.

Rasanya sangat menyenangkan bisa merasakan kelembutan tangan Kyungsoo. Kyungsoo terdiam mematung. Ia terkejut dengan reaksi Jongin yang tiba-tiba. Ia ingin menarik tangannya tapi rasanya kaku. Padahal Jongin tidak menggenggam erat tangannya tapi entah kenapa tangannya mengikuti kemana Jongin meletakkannya.

"Jangan sentuh aku seperti tadi" bisik Jongin rendah.

"Wae? Kenapa kau boleh menyentuhku sedangkan aku tidak?" tanya Kyungsoo bingung.

"Karena sentuhan mendadakmu membuatku tak bisa mengontrol keinginanku menyentuhmu lebih jauh lagi"

Kyungsoo yang langsung paham dengan maksud Jongin langsung menarik tangannya. Tapi Jongin mencegahnya. Tangan Kyungsoo Jongin arahkan ke mulutnya dan kemudian mencium telapak tangan Kyungsoo.

Gelenyar aneh langsung menjalar dari telapak tangan Kyungsoo hingga kepalanya. Mukanya seketika memerah merasakan bagitu panasnya ciuman Jongin ditangannya. Jongin memandang Kyungsoo intens dengan mulut yang masih menciumi telapak tangan Kyungsoo.

Jongin menarik pelan tubuh Kyungsoo hingga terjatuh diatasnya. Jongin memandangi wajah Kyungsoo yang memerah dibagian pipi sehingga membuat gadis itu berkali-kali lipat lebih imut dan menawan.

Wajah Jongin dan wajah Kyungsoo saling berhadapan dengan nafas yang saling beradu. Keduanya bisa merasakan hangatnya nafas mereka yang bercampur.

Jongin mendekatkan wajahnya hingga jarak diantara mereka semakin menipis. Dan dengan sebuah gerakan saja membuat bibir keduanya menempel. Tangan Jongin mulai bergerak kebelakang leher Kyungsoo dan satunya bergerak kepinggang gadis itu. Sebuah kecupan kecil menjadi awal mula perjalan panjang mereka.

Jongin mendominasi setiap gerakan. Kyungsoo hanya bisa diam dan pasrah dengan apa yang mereka lakukan. Jongin menggulingkan tubuh Kyungsoo dan menindihnya. Tautan mereka tak lepas sedikitpun. Jongin terlalu sayang menyia-nyiakan kesempatan yang tidak akan datang dua kali.

Kecupan itu semakin memanas dan mulai menjadi lumatan-lumatan kecil. Jongin menyesapi setiap bibir ranum Kyungsoo. Tak pernah merasa bosan Jongin melakukannya. Bahkan bibir itu menjadi candu tersendiri untuknya.

Kyungsoo mencoba mengimbangi setiap gerakan Jongin. Tapi namja itu begitu bernafsu dan sulit diikuti. Akhirnya Kyungsoo hanya bisa pasrah. Tangan Jongin semakin gencar menyentuh tiap jengkal tubuh Kyungsoo. Tangan yang semula berada di dipinggang Kyungsoo mulai merambah kesekitarnya. Dengan sebuah remasan-remasan kecil membuat suasana menjadi semakin intim.

Jongin merapatkan tubuhnya lebih dekat lagi hingga tak ada jarak yang memisahkan mereka. Sebisa mungkin Jongin menopang tubuhnya agar tak terlalu menindih gadisnya.

Jongin melepaskan pagutan mereka. Nafas keduanya menderu menjadi satu. Jongin mengamati wajah gadisnya yang memerah dengan tatapan yang sayu. Jauh didalam dirinya ia ingin segera menerkam Kyungsoo dan menikmati setiap jengkal tubuh gadis itu. Tapi ia tau akan batasan walaupun hasratnya sudah diambang batas.

"Katakan jika kau ingin menghentikan semua ini, Kyungsoo" ucap Jongin dengan suara rendahnya menahan nafsu.

26.10.17

Hai...hai...Maaf aku apdet lama banget. Bukan karena aku ga mau lanjutin atau ga inget cerita ini tapi emang kerjaanku menyita banyak waktu. Aku bukan orang yang mendedikasikan setiap waktu untuk ketik2 di wattpad. Klo pas benar2 senggang aja baru bisa ketik. Maaf sekali lagi. Makasih juga udah nungguin cerita ini.

Next chap ena2? siapa yang setuju? Mau dibuat slow atau fast? Mau dibuat kyungsoo pov atau author pov? Mau langsung skip atau dilanjut terus sampe mereka menuju puncak?

Yuk dipilih. Pilihan kalian menentukan nasib ena2 kaisoo. Aku ga jamin apdet cepet ya. Aku mau feel mereka berdua ga absurb. Klo aku buru2 ngetik takutnya hasilnya jelek n berantakan. Aku mau ngumpulin feel dulu biar 'kegiatan' mereka mengena.

REVIEW JUSEYO~~~~