What I am ?

CHAPTER 2:

DISCLAMER: BUKAN PUNYA SAYA

"HA" BERBICARA

'HA' BATIN

"HA" BERBICARA SCARED GEAR / /AMARAH/ / JURUS

'HA' BATIN SCARED GEAR / / AMARAH

WARNING:ABAL-ABAL/GAJE/OC/OOC/TYPO/No shinobi/Dragon/Monster/Mecha/

PAIR: (NARUTO X …)

GENERS: ADEVENTURE, FATASNY, and SUPERNATURAL

RANTED: M

Summary: Aku dulu diculik oleh para golongan iblis lama, namun kemudian mereka melepaskan ku begitu saja di suatu tempat yang tidak ku ketahui. Lapar dan haus itu yang kurasakan, sampai ku menyadari sesuatu tempat ini dipenuhi oleh bankai-bankai naga yang sudah rusak dan membuat mual. Tidak punya pilihan lain aku harus memakan mereka dan meminum darah busuk untuk bertahan hidup. Dan kemudian aku mulai berubah menjadi sesosok Monster.

Last Chapter :

Kemudian aku meneruskan perjalanan ke arah aura yang cukup kuat seperti ada sebuah pertandingan. Tapi kenapa ada yang janggal. Benar juga kenapa rasa sakit ini tidak muncul lagi, apa karena Shinanju. Aku kurang tahu soal ini. Namun tak lama kemudian sebuah suara membuatku berhenti berlangkah.

"Rias Gremory, tidak bisa melanjutkan pertarungan dengan ini Raiser Phenex di nyatakan sebagai pemenang!"

~What I am~

Telinga ku mendengar ucapan seseorang yang menyatakan hasil pertandingan. Aku mematung di tempat tersebut. Di pikiranku, aku terus mengulang-mengulang nama dari yang disebutkan tadi. Rias Gremory, Gremory. Seolah aku mengenal kalimat itu namun aku tak tau kapan aku mengenalnya.

"Kenapa kau bersusah payah menggingatnya."

Aku tidak tahu, ini muncul dengan sendirinya. Kemudian aku melangkah pergi dari tempat ini. Apa aku telah pulang atau memang belum, tidak ada yang mengetahui kemana langkah kaki ini akan membawa ku. Semakin aku melangkah jauh aku semakin tidak mengetahui kemana arah yang harus ku tuju.

"Mungkin disini kita akan menemukan sesuatu yang menarik."

Terus berjalan melewati orang-orang yang tidak ku kenal, hingga aku sampai di sebuah tempat. Seperti sebuah taman dengan bunga-bunga mawar yang mekar. Tidak bisa ku percaya menemukan sebuah taman di tempat ini. Air mancur berada di tengah-tengah taman tersebut, aku melangkah menuju ke air mancur tersebut.

Kupandang langit di tempat ini. Dalam diriku aku sangat tidak mengerti kenapa bisa. Masalah demi masalah baru terus bermunculan. Hanya ada dua pilihan yang bisa kulakukan, menyerah atau kau melawan. Tetapi aku lebih memilih opsi ketiga atau bisa dibilang setengah-setengah.

Namun seketika seseorang membuyarkan diriku dari dalam pikiranku. Kemudian aku alihkan pandangan ke arah seseorang tersebut. Seorang anak kecil berambut merah dengan pakaian bangsawan. Apa mungkin dia seorang pangeran atau yang lainnya.

"Kau tidak apa-apa Nii-san."

"Iya aku baik-baik saja, hm.."

"Gomen, namaku Millicas Gremory. Kalau kakak."

"Namaku Naruto."

Entah kenapa dalam pikiranku ini, hari ini dia telah mendengar kata Gremory lebih dari satu kali. Sungguh aneh dan tak masuk akal sekali namun pikiran itu di buang jauh-jauh. Lalu di samping itu apakah dia datang ke taman ini tanpa pengawalan pasalnya jika dilihat dari pakaian yang digunakan olehnya harusnya ada pengawal.

"Kenapa kau kesini, Millicas-san."

"Aku hanya ingin melepaskan keluh kesalku terhadap masalah yang sedang ku alami."

"Akan apa?"

"Bibiku akan menikah."

Sangat aneh kenapa anak ini mempermasalahkan sesuatu yang harusnya menjadi hari bahagia bagianya dan keluarganya. Aku hanya tak mengerti jalan pikirannya. Kemudian aku menatap kembali wajah anak ini.

"Lalu apa masalahnya harusnya kau senang karena sebentar lagi kau akan memiliki Paman."

"JUSTRU DISITU LETAK MASALAHNYA JIKA BIBIKU MENIKAH DENGAN ORANG YANG TIDAK DIA CINTAI, DIA AKAN MENDERITA SELAMANNYA LALU AKU JUGA TIDAK AKAN DAPAT BERTEMU DENGANNYA LAGI KARENA ORANG YANG AKAN MENJADI PAMANKU JIKA SAMPAI PERNIKAHAN INI TERJADI!."

Aku sangat tak percaya dengan apa dia ucapkan tadi. Mungkin aku sedikit paham setelah kalimat-kalimat yang tadi dia ucapkan masuk ke telingaku. Dia butuh perhatian, mungkin akibat kesibukkan beberapa orang seperti orang tuanya atau keluarganya membuat mereka kadang melupakannya dan mungkin saja orang yang disebut bibinya ini adalah orang yang perhatian kepadannya sehingga dia sangat tidak setuju jika seseorang menikahinya tanpa alasan mencintai dan membuat hubungan keluarga terputus.

"Millicas-san.."

"Gomen, aku hanya terbawa emosi."

"Tidak apa-apa, Kadang seorang anak kecil ingin sekali di perhatikan dan di puji oleh seseorang."

Kemudian aku mengambil nafas kecil dan membiarkan sesaat mendengar detak jatungku. Dan kemudian aku menepuk bahunya.

"Jadi jika kau ingin bibimu tidak menikah kenapa kau tidak meminta tolong pada seseorang untuk menyelamatkannya."

Mendegar saran dari mulutku ini sepertinya tidak membantu karena dilihat dari wajahnya yang menunduk. Apa kah aku salah berucap entahlah.

"Kau selalu berlebihan dalam berkata."

Mendengar ucapan tersebut aku hanya tidak mengangapnya dan kembali menatap anak berambut merah tersebut. Tak lama kemudian dia mengangkat wajahnya dan berbalik menatap diriku.

"Tou-sama sudah melakukannya."

Ayahnya sudah meminta seseorang untuk menolong adiknya atau bibi dari anak ini. Aku sedikit bingung dengan jalan pikirannya. Apa ada alasan lain kenapa dia masih terlihat murung.

"Lalu kenapa kau masih terlihat kurang senang."

"Karena orang yang akan menolong bibiku adalah Seikryutei. Namun hari ini dia kalah dan ayah akan meminta bantuannya sekali lagi, tetapi dalam diriku aku tidak yakin dia akan menang."

"Kenapa kau bisa berpikir begitu, seseorang pasti memiliki potensi tersembuyi dalam dirinya tapi kita harus mencari bagaimana cara membuka potensi tersebut."

"Meskipun kau sudah berkata demikian, bagiku itu tidak mungkin apa lagi pertarungan yang akan mereka lakukan adalah One by One sampai salah satunya tumbang ditambah lawannya adalah calon pamaku yang memiliki kekuatan Phenex dan Regenerasi yang sangat hebat."

Mendengar informasi tentang lawan yang akan ditantang oleh Seikryutei ini, presentasi kemenanganya mungkin menurun kenapa bisa demikian. Meskipun dirinya sudah terjebak di tempat entah dimana, dia mengerti tentang pertarungan. Namun yang paling di butuhkan dalam bertarung adalah informasi musuh.

"Sangat menarik aku ingin sekali melihat pertarungan mereka berdua."

Aku hanya dapat melihat ke sedihan dari mata anak berambut merah ini. Dia mengingankan sebuah harapan seseorang untuk menolong bibinya jika Seikryutei gagal. Namun aku tidak dapat menolongnya aku memiliki alasan untuk tidak ikut campur.

"Kenapa kau selalu menghindar dari masalah."

Jawabanya hanya aku tidak ingin orang lain melihat bagaimana jika kau mengendalikan diriku dan kemudian melahap mereka dengan kejam dan sadis. Di tambah beberapa hal lainnya.

"Hanya karena itu benar-benar, egois."

Tanganku kemudian menyentuh kepala Millicas, lalu mengacak-ngacak rambut merahnya. Dengan posisi wajahku yang menatapnya aku terseyum kecil. Anak berambut merah ini pun mencoba menghentikan kegiatan yang kulakukan padannya.

"Naruto-Nii, bisa hentikan itu."

"Baiklah, Gomen-Gomen."

Aku kemudian berjongkok agar sejajar dengan tinggi anak ini. Kemudian aku melihat kearah matanya. Benar saja dia sangat membutuhkan pertolongan, dalam diriku seolah ada tarik menarik antara membantu dan menolaknya.

"Baiklah, Millicas-san apa kah kau dapat memasukan diriku ke dalam acara pernikahan bibimu itu?"

Pertanyaanku membuatnya berpikir sejenak. Akhirnya aku akan menolongnya walaupun aku tidak yakin aku dapat mempertahankan tubuhku untuk tidak di ambil ahli, tapi aku akan melakukan yang terbaik.

"Mungkin aku bisa memasukan Naruto-Nii, ke pesta pernikahan bibi sebagai undangan khusus teman dari ku."

"Lalu kapan acara tersebut akan dilaksanakan?"

"Lusa nanti."

"Bagus, kalau begitu siapkan saja undangan itu Millicas-san."

Aku berdiri dari posisiku dan terseyum ke arah Millicas. Kemudian berbalik arah sambil melambaikan tanganku. Aku tak dapat melihat wajahnya namun aku dapat merasakan perasaannya dari perkataannya yang keluar.

"Naruto-Nii janji kan!"

"Tentu saja!"

~What I am?~

Hari yang di tunggu-tunggu telah tiba dan aku juga datang ke tempat acara yang telah Millicas-san berikan. Banyak orang berdatangan dari berbagai bangsawan. Aku berada di puluhan orang ini dengan posisi menyandar pada tembok dan menatap sekeliling.

"Pesta yang sangat meriah sekali."

Hingga seseorang menarik bajuku, aku memutar kepala ku kearahnya dan ku temukan dia siapa lagi kalau bukan anak berambut merah atau Millicas Gremory.

"Akhirnya aku dapat menemukanmu Naruto-Nii."

Aku hanya terseyum kearahnya, dalam pikiranku aku ingin mengetahui bagaimana wajah dari calon paman anak ini. Hanya penasaran saja namun kadang aku berpendapat bahwa dia memiliki wajah yang dapat dikatakan kurang baik.

"Millicas-san, dapatkah kau ceritakan lebih detail tentang calon paman mu itu?"

Dia mengangukan kepala.

"Namanya adalah Riser Phenex, dia adalah anak ketiga dari Lord Phenex dan Lady Phenex. Dalam Underworld dia lebih dikenal dalam Playboy dari pada kehebatannya. Memiliki satu set Peerage lengkap dengan semuanya perempuan, kekuatannya seperti kemarin yang aku jelas kan Naruto-Nii yaitu Regenerasi dan Api Phenex."

Mendengar semua hal tersebut kini dalam pikiranku apa yang akan kau lakukan Seikryutei, apa dia sudah merecanakan sebuah taktik yang mungkin menguntungkan baginya atau malah akan menambah buruk. Jika dipikir-pikir lagi bagi ku memiliki regenerasi berarti dia punya batas tertentu untuk pulih dari lukanya namun aku tidak mengetahui waktu maksimal dia regenerasi.

"Mohon untuk tenang!"

Teriakan intrupsi dari seorang mengema di ruangan ini, aku mengalihkan wajah ku ke depan dan akhirnya aku bertemu dengan orang yang akan menjadi paman dari anak berambut merah itu. Ini di luar dari bayanganku dia lebih buruk dari apa yang kubayakan karena aku dapat melihat ke bahagia yang terpacar darinya namun bukan kebahagian atas cinta tetapi atas nafsu.

"Pada malam yang sangat membahagiakan ini, aku Riser Phenex akan menikah dengan pewaris dari klan Gremory yaitu Putri Rias Gremory."

Kemudian datang seorang perempuan berambut merah yang mengenakan pakaian khusus pernikahan bangsawan berwarna putih. Dari gerak-geriknya berjalan seolah mengambarkan ke sopanan dan martabat anggota bangsawan. Berbanding terbalik dengan mimik wajahnya yang mengambarkan sebuah kesedihan .

"Jadi kita harus bagaimana."

Mendengarnya aku lebih baik menunggu. Dan melihat pertarungan dari One by One yang direncanakan, karena aku harus menggali informasi tentang kekuatan musuh sebanyak-banyaknya dari pertarungan tersebut.

"Tanpa menunggu lama-lama lagi maka..."

"HENTIKAN !"

Suara yang berasal dari pintu masuk membuyarkan semua orang tidak untuku. Seorang pemuda dengan rambut cokelat dan sebuah sarung tangan mekanik berwarna merah di lengannya. Aku melihat beberapa penjaga tumbang sepertinya dia yang di sebut sebagai Seikryutei.

"Kau lagi iblis rendahan!"

"Aku tidak akan pernah membiarkan mu mengambil Buncho karena dia miliku."

Apa benar dia Seikryutei. Aku seperti tidak yakin dia adalah seorang Seikryutei yang hebat, itu tercemin dari sifatnya yang ingin sesuatu namun di sisi lain aku dapat melihat keinginan menyelamatkan orang lain dalam dirinya.

"Tunggu Riser-kun."

Seseorang dengan memakai pakaian armor perang rambutnya mirip dengan Millicas dan perempuan bernama Rias itu. Aku pasti yakin dia adalah Ayah dari Millicas dan kakak dari perempuan yang menjadi tunangan dari Phenex.

"Apa maksud dengan ini Sirzechs-sama."

"Hasil dari Ranting game kemarin bagiku itu bukan tidak sah, namun tidak adil. Adiku yang masih belum memiliki pengalaman dan anggota peerage yang tidak lengkap membuat pertandingan tersebut tidak adil di mataku."

Aku merasakan ada rasa kekesalan yang dikeluarkan oleh Phenex itu setelah mendengar perkataan dari mungkin pemimpin disini. Kemudian aku memandang ke arah Millicas yang masih berada di dekatku dia menatap kearah tempat mereka berkumpul.

"Karena itu aku akan mengadakan sebuah pertarungan antara Dragon dan Phenex dan nanti salah satu dari kalian akan di beri satu permintaan dari ku."

"Cih, aku yakin dapat menang dari iblis rendahan itu seperti kemarin."

Benar-benar nada yang sangat menyombongkan dan arogan. Suatu saat jika dia tidak mengubah sifatnya itu aku yakin dia akan runtuh dan menyesal.

"Jangankan dia menyentuh kita menyerang saja mungkin dia tidak akan bisa saat bagian kita tiba."

Aku tidak akan menggunakanmu. Jika itu terjadi hanya akan masalah baru yang di timbulkan oleh mu dan akan terus berlanjut. Kemudian keduanya menganguk setuju dan sebuah lingkaran pemindahan memindah kan mereka ke sebuah arena pertarungan.

"Ku harap dia menang."

Mendengar ucapan kecil dari Millicas, aku tak tahu harus menjawab apa karena kita tidak akan mengetahui hasilnya sebelum pertarungan ini berlangsung.

Pertarungan pun terjadi. Aku melihat baku hantam antara mereka. Pukulan demi pukulan, tendangan demi tendangan. Namun meskipun begitu aku berhitung dalam diriku ketika regenerasi miliknya keluar.

'satu menit untuk regenerasi tetapi itu bagian yang terluka parah, jika begitu maka.'

Aku terseyum kecil ternyata aku mengerti sekarang dia meregenerasi bagian tubuh yang cukup parah dengan cepat namun bagian luka kecil dan yang lainnya terkesan lebih lambat. Namun pasti jika dia melakukan itu maka harus ada semacan mana yang dibayar dengan besar demi regenerasi tersebut.

Hingga aku melihat sarung tangan pemuda berambut cokelat itu bercahaya. Yang pada mana dia berubah mengenakan sebuah armor mekanik bermarna merah dengan batu hijau di dadanya.

"Balance Breaker yah, ini akan semakin menarik."

Balance Breaker, apa itu semacam sebuah armor atau kekuatan yang di dapatkan dari sesuatu. Aku tidak mengetahuinya namun bagiku mungkin itu adalah sebuah kekuatan.

"Balance Breaker, atau di kenal sebagai mode terlarang. Adalah sebuah evolusi dari Scared gear dimana kekuatan penuh mereka dilepaskan."

Meskipun begitu namun nampaknya dia sangat terburu-buru dalam menghadapi lawannya apakah karena dia memiliki batasan waktu pemakaian mode ini. Namun sepertinya dia tidak menghitungkan kemana dia harus meninju.

Hingga akhirnya mereka berdua saling menghatam ke arah wajahnya. Namun aku terkejut tinju kecil itu dapat membuat Phenex memuntahkan darah. Bagaimana mungkin aku tau dari tadi dia terus menyerang brutal dan melukai Phenex yang kemudian di balas dengan regenerasi. Kali ini dia hanya meninju kecil ke arah wajah lawannya namun dapat membuatnya mengeluarkan darah dari mulutnya.

"sepertinya dia memegang sesuatu yang menakutkan bagi iblis, yaitu benda dengan aura suci."

Kalau dia memegangnya bukan berarti dia juga terkena dampaknya. Ini sangat membingungkan bagaimana dia tidak dapat merasakan rasa sakit ketika memegangnnya.

"Kau harus tahu, beberapa Scared gear memiliki jiwa di dalamnya dan sepertinya Scared gear itu memilikinya serta mungkin jiwanya adalah seekor naga."

Lalu apa kaitannya dengan dia memiliki Scared gear dengan jiwa. Ini malah semakin membuatku pusing saja aku ingin sekali membenturkan kepala ku sekarang.

"Dengar sepertinya dia sudah melakukan kontak dengan Scared gear dan pada mana mungkin tangannya yang di selimuti oleh sarung tangan tersebut bukan lagi tangan iblis namun tangan naga!"

Jadi begitu sekarang aku paham. Dia melakukan sebuah pergabungan dan akhirnya dia bukan lagi iblis namun Hybrid antara naga dan iblis. Dan itu membuatnya dapat menyentuh benda suci namun hanya dengan tangannya yang terbungkus sarung tangan merah tersebut.

"Bisa di bilang begitu."

Tapi masalah belum berakhir sampai disini. Ketika aku kembali memperhatikan pertarungan antara mereka, tenyata benar dugaanku armor yang menyelimutinya pecah menjadi kaca-kaca kecil. Pasti penggunaan mode ini memiliki jeda waktu tertentu.

Ini sangat berbahaya, aku yakin pasti Riser Phenex akan menghajar habis-habisan. Dia mencekram baju dari pemuda berambut cokelat tersebut, tanganya terselimuti api yang membarah.

Akan tetapi pemuda Seikryutei itu hanya terseyum mengejek padanya. Aku bingung dengannya dia akan di hajar habis-habisan namun masih bisa terseyum seperti itu benar-benar aneh.

Sepertinya pendapat ku tentang Riser akan menghajar habis-habisan pemuda cokelat itu harus dibuang. Sangat cerdik dia membawa sebuah air suci, ternyata ini benar-benar tidak terpikirkan sebelumnya. Jika tadi dia menyentuh benda suci seharunya aku berpikir kalau dia membawa benda suci lainnya.

Kini Seikryutei dapat menang dengan mudah. Secara segi kekuatan dan ketahanan memang Riser lebih unggul namun secara membuat sebuah rencana pemuda rambut cokelat ini jauh di atasnya walaupun kekuatannya berada di bawah.

Dia mulai menghajar Phenex itu. Sedikit demi sedikit si burung abadi ini akan tumbang. Sampai semuanya dilunturkan tiba-tiba dia meminum sebuah air yang pasti bukan air suci namun semacam ramuan penyembuh. Membuat semua luka di sekujur tubuhnya meghilang tak berbekas seperti sedia kala.

"Air mata Phenex."

Ucapan Millicas terdengar oleh ku jadi namanya air mata Phenex. Sepertinya ramuan seperti itu sangat hebat dalam penyembuhannya. Sekarang apa yang akan kau lakukan Seikryutei.

Menyerang balik. Dia di penuhi oleh emosi yang sangat susah di kendalikan, dengan brutal memukul bertubi-tubi kearah Seikryutei. Dalam diriku aku mulai kawatir dengan kondisinya yang mungkin sebentar lagi dia akan tumbang.

"Emosi kadang membuat orang dapat berubah menjadi monster."

Bertahan dan bertahan itulah yang dilakukan oleh lawannya. Tapi tampaknya ini akan berakhir dengan sangat menyakitkan. Sebuah tinju api melayang kearah perutnya meyebabkan dorongan yang cukup kuat menghatam sebuah tembok dari arena.

"Hyoudo Issie, tidak dapat melanjutkan pertarungan dengan ini Riser Phenex diyatakan sebagai pemenang."

Seorang perempuan berambut merah bersama dengan beberapa orang lainnya pergi menuju tempat sang pemuda berambut cokelat itu terkampar. Memang benar percaya diri boleh namun percaya diri terlalu berlebihan dapat membuat seseorang jatuh kedalam sebuah lubang ke sombongan. Dan sepertinya itu terjadi pada Seikryutei dia mulai telalu belebihan percaya diri akan menang saat mendekati akhir namun yang ada itu adalah senjata makan tuannya.

Tetapi kemudian aku mengalihkan ke samping. Di situ aku terkejut anak berambut merah itu sudah menghilang entah kemana. Apa mungkin dia ke tempat ayahnya berada. Kemudian aku mulai mencarinya, aku takut dia kenapa-napa. Sampainya aku mendengar suara cukup keras berasal dari luar luar.

Ku temukan dia. Sepertinya Millicas sedang berdebat dengan Phenex ini. Pasti karena kecurangannya. Namun sepertinya Millicas lupa bahwa Seikryutei juga curang. Tapi sekarang bukan itu yang harus aku permasalahkan namun bagaimana cara bertarung dengan Phenex ini.

"Aku tidak terima, kau sudah curang menggunakan air mata Phenex tadi!"

"Curang kau bilang aku curang, dengar yah iblis rendahan itu duluan yang curang Millicas-sama."

Aku kemudian mendekati Millicas yang dalam keadaan emosi yang kurang baik. Sepertinya ayahnya tengah memikirkan sesuatu untuk menghentikan pernikahan ini. Entah apa itu namun aku tidak tahu untuk sekarang lebih baik aku ikuti rencana yang telah dibuat.

"Aku baru dapat menerimamu sebagai pamanku, ketika kau mengalahkan Naruto-Nii."

Mendengar itu aku hanya dapat terseyum sepertinya diriku akan terbawa dengan masalah-masalah baru yang lebih berat lagi. Kenapa aku sangat pesimis sekali akan hidup ini sih.

"Siapa dia, apa orang lemah hah!"

Millicas sangat marah ketika mendengar dia mengejek diriku namun aku tahan dengan menepuk baggian pundaknya. Dia mengalihkan kearahku dan melihatku kemudian terseyum senang melihat diriku. Seolah aku ini adalah harapan baginya.

"Akulah yang bernama Naruto serta teman dari Millicas-san."

Semua pasang mata tertuju pada diriku. Ini akan sangat merepotkan, tapi aku harus tetap fokus pada pertarungan ini. Riser tertawa dengan keras karena melihat diriku mungkin karena dia mengira aku lemah. Hiraukan saja bagiku sebuah hinaan akan menjadi sebuah kekuatan untuk bangkit dari sebuah keterpurukan.

"Membuang waktuku saja."

"Berarti kau takut padaku, Phenex."

Seketika api keluar dari tubuhnya. Sepertinya aku berhasil membuatnya kesal, sangat mudah membuat orang yang selalu meledak terbujuk oleh kata-kata seperti ini.

"Apa maksud mu, aku ini takut padamu."

Tepat dibawah kaki ini muncul sebuah gunung es berukuran sedang yang membuat aku mundur. Aku mencari pelaku yang melakukan ini dan ku temukannya dia adalah seorang perempuan dengan pakaian seorang maid berambut perak.

"Bagaimana Riser, apa kau berani melawanku disini untuk memastikan kau adalah seorang yang pantas menjadi pemimpin dari pada pengecut."

"Kau akan ku kalahkan kurang dari satu menit."

Kami saling menatap sebelum sebuah lingkaran sihir membuat kami berpindah dari tempat ini.

~What I am?~

Aku telah sampai di sebuah arena pertarungan. Tidak ada yang berbeda dari yang tadi, sekarang bagaimana cara ku membuatnya tidak bisa berbuat banyak dan sekarat tanpa menguras energi untuk hal-hal yang tidak penting.

"Nampaknya kau butuh bantuan Naruto-sama."

"Sinanju."

Aku menutup kedua mataku kemudian dan ketika ku membuka kembali. Aku berada di tempat yang seperti dalam gua. Di depanku ada Sinanju yang tengah memandang langit-langit tempat ini.

"Bagaimana Sinanju, apa kau bisa membantu dalam pertarungan ini."

"Tentu saja, aku sudah bersumpah untuk menolong dan menjaga dirimu namun aku harus mengambil ahli kendali atas tubuh untuk dapat bertarung."

"Jika begitu apa kau tidak akan bertindak terlalu berlebihan dalam menghajarnya."

Jujur aku sangat takut bila ada seseorang yang mengambil ahli tubuhku dan kemudian melakukan hal yang sangat tidak manusiawi. Namun aku harus percaya bahwa satria yang dikenal sebagai The Red Comet ini tidak akan bertindak begitu.

"Tidak akan karena itu bertentangan dengan kode etika seorang satria."

Mendengar jawabannya aku merasa tenang, kemudian aku terseyum kearahnya.

"Terima kasih."

"Tidak masalah, ini sudah jadi tugasku."

Aku kembali lagi ke dunia. Kemudian dengan perlahan aku membuka kedua mataku. Bersinar mataku bersinar berwarna hijau. Mengeluarkan aura merah dari belakang. Sekarang aku akan melihat dari suatu tempat. Ku serahkan padamu Sinanju.

"Namamu Riser Phenex."

Seolah dia tidak peduli dengan aura yang dikeluarkan oleh Sinanju. Hanya ada ke aroganan yang semakin besar, kemudian Sinanju bersedikap dada. Dan menatap tajam ke arah Riser yang sangat tidak mengerti akan sikapnya sendiri.

"Lebih baik kau pergi disini, sebelum aku benar-benar membuat harus terbaring di rumah sakit."

"Menyerah tidak akan pernah, sebagai seorang satria memegang sebuah keberanian adalah hal yang penting namun keberanian saja tidak cukup karena dia harus di dampingi dengan sebuah kehormatan dan menghormati."

"Apa maksudmu!"

"Benar-benar bodoh, disini aku akan membuat mu sadar bahwa jalan yang kau pilih adalah salah Riser dan aku juga akan merubah sifatmu itu agar kau dapat menjadi pribadi yang lebih baik."

"Tutup mulutmu itu lemah!"

"Baiklah mari kita bertarung penuh dengan keberanian, namun sebelum kita bertarung sepertinya aku harus mengubah latar dari tempat ini."

Sinanju yang menggunakan tubuhku menjetikan jarinya. Semuanya berubah latar tempat mulai berubah menjadi langit malam dengan gugusan bintang dimana-mana. Lalu di tambah partikel debu dan lain-lainya seperti planet kecil maupun berbatuan.

"I..ini!"

"Selamat datang di Outer Space."

Yah luar angkasa. Dia mengubah latar tempat ini menjadi sebuah luar angkasa benar-benar menajubkan. Begitu juga dengan orang-orang yang melihat hal ini mereka seolah tidak bisa percaya dengan apa yang mereka lihat. Bahkan Ayah dari Millicas tidak dapat menyebuyikan ekspresi keterkejutannya.

"Tetap saja ini tidak akan mengubah apa-apa."

Melesat dengan cepat menggunakan kedua sayap apinya. Diriku mulai memasang kuda-kuda yang cukup unik. Seolah kuda-kuda ini makin membuat sang Phenex semakin tersulut emosi semakin besar. Tinju tangannya siap menghatam wajahku ini.

Shuut!

Aku menghindari serangan tersebut. Di wajahku bertenger sebuah seyuman, aku menyiapkan tinju ku juga dengan cepat ku lepaskan menuju arah wajahnya itu.

Braaak!

Terdengar bunyi hantaman yang cukup keras. Dia telempar cukup jauh dari sini. Menghatam beberapa batuan tempat yang di buat oleh sinanju ini. Lalu mendarat dengan keras.

"K...Kau akan ku bunuh!"

Mataku menatap Riser yang mencoba berdiri sambil berteriak untuk membunuhku. Yang benar saja selama ini aku sudah mati yah mati secara mental yang terjatuh ke dalam lubang kegelapan tak berujung. Sinanju yang mengendalikan tubuhku mulai bersedikap dada kembali.

"Riser Phenex, kalau kau ingin membunuhku kau harus memiliki niat membunuh yang kuat untuk melakukannya."

Dengan penuh amarah dia menciptakan bola api yang cukup besar. Sangat besar, tetapi itu adalah kesalahan terbesar baginya. Kenapa demikian aku mengatakan itu sihir bola api itu pasti membutuhkan energi yang cukup banyak di tambah dengan regenerasi akibat luka cukup serius di wajahnya. Membuat energinya pasti terkuras mulai habis.

"Kau ingin membunuhku dengan itu yang benar saja, butuh lebih dari itu untuk membunuh ku."

Dia sudah tidak peduli lagi dengan segala hal yang ingin Riser lakukan bagiku adalah mengalahkan diriku ini. Namun kita akan lihat bagaimana Sinanju mengatasi hal ini, dia adalah seorang satria yang sudah terlatih dan hebat dalam segara hal menghindari serangan.

Tapi sepetinya Sinanju sengaja menerima serangan tersebut. Ledakan besar terjadi, yang kemudian timbul asap dari ledakan tersebut di tambah dampak cukup luas menghancurkan beberapa benda luar angkasa. Tawa kemenangan yang sombong bergema di arena tersebut.

"Riser, pertarungan sesungguhnya baru dimulai sekarang."

Mendengar ucapan diriku yang berasal dari asap. Membuat semua orang terkejut bagaimana tidak, jurus yang di gunakan tadi oleh Riser bagiku dapat di kategorikan peringkat A+. Kemudian asap mulai menghilang dan nampaklah aku dengan armor berwarna merah yang menyelimuti seluruh tubuhku.

Dengan mata hijau satu yang tajam. Kemudian sebuah pedang berwarna ke kuning-kuningan. Beberapa di armor ada sebuah corak unik. Inilah wujud sejati dari Sinanju yang tengah megunakan tubuhku.

"Saatnya The Red Comet, menunjukan kemampuannya."

Dengan tenanga seperti nos di belakangku aku, melesat dengan cepat ke arah Riser yang sudah sadar dari rasa shoknya. Dia mencepitakan banyak bola api berukuran sedang dan melepar kearahku. Aku menghindari semua itu seolah seperti sedang menari.

Shuut!

Satu persatu bola api itu ku hindari, dan jarak antara aku dengan Phenex itu semakin dekat. Tangan ku bersiap mengayunkan pedang berwarna ke kuning-kuningan.

Traang!

Dia menahan laju pedangku dengan pedang apinya. Kami kemudian menatap tajam sama lain. Setelah itu mundur kebelakang tidak jauh mata hijauku masih menatap Phenex yang bersiap-siap.

Traang! Traang! Traang!

Adu pedang terjadi sangat cepat bahkan sampai tidak terlihat oleh para penonton yang melihat. Cukup lama kami mengadu pedang. Kemudian aku mengancang-ancang pedang miliku untuk menebas Phenex tersebut secara Horizontal. Namun dia menghindari dengan menunduk kemudian tanpa ku sadari dia sudah berada di belakang. Bersiap melakukan serangan.

Secara cepat aku langsung menahan pedang tersebut dengan pedangku. Dia sangat hebat. Kemudian aku mementalkan pedangnya ke atas sehingga membuatnya terbawa pedang tersebut. Di situ aku mengambil kepalan tangan satu tanganku yang kosong. Dan bersiap untuk memukul wajahnya tersebut.

Dilain pihak aku melihat dengan cepat dia akan melakukan serangan fisik sama denganku namun mengguankan kakinya.

Braak!

Braak!

Aku menghatam wajahnya, dia menghatam bagian perutku dengan kakinya. Meskipun aku sudah terlapisi armor. Bagiku ini sangat lumayan menyakitkan. Walaupun sekarang tubuhku sedang di pakai oleh Sinanju tetapi aku tetap ada di suatu tempat, dan ketika kembali pasti akan terasa sangat sakit.

Kami terdorong kebelakang. Armor bagian perutku mulai retak. Sementara di lawan dia tengah menyembuhkan dirinya, aku tidak menyangka dia dapat bertahan.

"Kau sangat hebat Riser Phenex, namun pertarungan masih belum selesai."

"Tentu saja, aku akan membuatmu lebih parah dari pada ini."

Kami pu melesat kembali dan bertarung kembali pedang bertemu pedang gesekan antara keduannya sangat membuat sesuatu yang menajubkan. Dan ketika sekali lagi kami mengadu pedang. Aku terkejut pedang kami patah . semua orang yang melihatnya bahkan tak percaya.

"Masih belum."

"Rasakan ini."

Braak!

Adu kepala satu sama lain. Sedikit demi sedikit retakan muncul di armor bagian helmku. Sementara Riser mengelurakan darah di keningnya. Karena tak kuat lagi kami jatuh dengan sangat keras mengakibatkan suara dentuman cukup keras. Mengakibatkan lubang yang cukup dalam selain itu helmku akhirnya pecah menjadi butiran-butiran kaca, wajahku kini terlihat.

Dengan pelahan aku bangkit dari lubang ini, dan melihat ke sekeliling. Sepertinya yang aku duga dia masih bisa bertahan dari hantaman dengan batuan ini namun meskipun begitu sepertinya regenerasinya mulai tidak berfungsi lagi karena energi kekuatannya hampir habis.

"Aku akan mengakhir pertarungan ini sekarang juga."

"Kalau begitu kita buktikan siapa yang akan bertahan!"

Dengan menggunakan energi terakhirnya dan aku menggunakan energi Sinanju. Meluap-luap dengan ganas serta seperti sebuah api yang melambai-lambai. Sementara aku yang melihat tubuhku yang tengah di gunakan oleh Sinanju terselimuti aura merah.

Kepalan tangan satu sama lain semakin mengerat. Kepala tanganku serasa ada yang unik. Entah kenapa aku seolah mengigat ini, tapi dimana aku tidak begitu yakin. kemudian aku melihat kearah Phenex. Dan kami terseyum yah terseyum sebelum serangan terakhir.

"Kita akan melihat siapa yang akan menjadi pemenang."

"Tentu saja."

Dengan begitu kami melesat ke langit sangat jauh namun bersebrangan. Aku berada di sebelah kanan sementara Phenex berada di sebelah kiri. Kemudian dengan kecepatan yang sangat cepat. Kami bersiap beradu dalam pukulan yang cukup kuat. Tangan ku mulai telapisi sebuah aura merah.

"Hyaa!"

"Haah!"

Boom!

Ledakan besar yang hampir menghancurkan tempat tersebut. Benar-benar pertarungan yang sangat tak bisa dibayangkan. Asap mulai menghilang memperlihatkan aku dan lawanku yang terbaring di tanah. Tampa armor kini aku kembali bisa mengendalikan tubuhku lagi. Latar tempat ini pun mulai kembali kesedia kala, namun saat ini aku sangat ingin tertawa. Aneh sekali kenapa aku ingin melakukan hal itu tapi serasa ada bayangan telitas di pikiranku bayangan tentang dua orang anak yang telah bertarung sampai energi terakhir dan kemudian mereka tertawa.

"Hahahah!"

"Hahahah!"

Kami tertawa bersama. Ini sangat menyenangkan dalam diriku aku tidak dapat menahan perasaan menyenangkan ini. Semua orang menatap kami dengan aneh dan tidak mengerti.

"Aku tidak menyangka akan ada seseorang yang hampir mirip dengan temanku dulu."

Mendengar ucapan dari sang Phenex aku sangat tidak paham maksudnya. Tapi sepertinya aku ini mirip dengan temannya yang dulu karena aku dapat melihat tawanya yang sangat senang saat ada teman.

"Bagiku hal seperti ini sangat lah meyenangkan, kau bertarung dengan penuh semangat dan hal-hal menegangkan."

"Tidak juga, aku rasa tidak akan ada pemenang."

"Bisa di bilang begitu."

"Riser Phenex dan Naruto tidak dapat melanjutkan pertarungan dengan ini, hasil pertarungan ini diyatakan draw!"

Kami di telepor keluar dari arena tersebut. Aku sangat tidak menyangka pertarungan ini sangatlah seru. Yang tadi aku kira-kira sangat merepotkan namun makin kesini kau mulai bertarungan dengan seru meskipun bukan aku yang mengendalikan tubuhku.

~What I am~

Aku kembali keruang tempat dimana pernikahan ini akan berlangsung. Maaf Millicas sepertinya aku tidak dapat menolong bibimu itu, tanpa kusadari seseorang tiba-tiba menyentuh telapak tanganku. Ku coba melihat siapa yang menyentuh tanganku ternyata anak berambut merah, Millicas. Dia telihat meneteskan air matanya.

"Maaf Millicas sepertinya aku gagal menepati janjiku."

"T..Hiks...tidak apa-apa...Hiks...aku hanya ingin Naruto-nii selamat...Hiks"

Tanganku kemudian menyentuh kepalanya, dan mengacak-acak rambut merahnya itu. Millicas yang diperlakukan seperti itu menatapku dengan masih ada air mata yang mengalir.

"Anak laki-laki tidak boleh cengeng!"

Mendegar ucapanku dia buru-buru menghapus air matanya dengan tangannya, kemudian aku mengalihkan ke samping melihat Phenex yang sudah berdiri meskipun di bantu oleh gadis kecil dengan rambutnya yang unik. Tak lama setelah itu Phenex ini melangkah menuju ke arah seorang yang di panggil Sirzechs tersebut.

"Sirzechs-sama aku ingin membicarakan sesuatu denganmu."

"Apa itu Riser-kun."

"Aku Riser Phenex dengan ini akan menyatakan bahwa pernikahan dengan perwaris klan dari Gremory yaitu Rias Gremory, dibatalkan!."

Semuanya terkejut bukan main mendengarnya, bahkan Perempuan berambut merah panjang itu melebarkan matanya karena tak percaya. Aku hanya terseyum mengerti, kucoba berdiri dengan bantuan dari Millicas dan melangkah kecil menuju Riser.

"Apa maksud mu dari ucapanmu Riser!"

Teriak calon istrinya itu namun itu dulu karena sekarang dia bukan lagi calon istrinya. Ku lihat wajah Riser hanya terkekeh karena ucapan dari Rias tersebut.

"Karena aku telah sadar, pelakuan ku selama ini dan juga kebodohanku bahkan aku tidak menyadari bahwa ada seseorang telah mencintai ku di dalam Peerage miliku akibat kebohanku tersebut, dan orang yang telah membuat ku sadar dari semua ini adalah."

Kemudian dia mengerakan jari telunjuknya ke arahku semuanya ikut mengikuti arah telunjuk. Aku hanya terseyum dengan menampilkan gigiku. Dan dibalas sama oleh Riser.

"Naruto, dia telah membuatku sadar akan kesalahku dan Kebodohanku selain itu dia mengingatkan ku akan sahabat masa lalu yang selalu membuat untuk yakin kau pasti bisa melakukannya."

"Tidak juga, karena itu adalah berasal dari dirimu yang ingin berubah aku hanya mendorong mu agar kau mengerti akan kesalahmu tersebut."

Riser pun mengepalkan tangannya kemudian dia meluruskan tanganya ke depan dada. Aku paham maksdunya tapi sesaat aku menatap ke arah tanganku yang terbuka dan mengepalkannya kemudian.

Tap!

Kami melakukan salam kepalan. Sambil menampilkan epreksi seyuman yang konyol di mata orang lain.

"Aku harap kita bertarungan dengan seru lagi suatu hari nanti."

"Tentu saja aku tunggu itu Riser."

Kemudian Riser di bantu oleh gadis kecil berambut pirang bersama dengan beberapa perempuann yang aku yakini sebagai anggota Peerage, tapi sebelum pergi kulihat seorang perempuan ungu mengandeng tangannya. Aku yakin itu adalah orang yang kau cintai Phenex.

Aku kemudian melepaskan bantuan Millicas, melihat itu anak berambut merah menatapku seolah berkata 'Kenapa'. Aku kemudian berjongkok agar setinggi denganya. Dan Millicas melindungi kepalanya dengan kedua tanganya mungkin berpikir bahwa aku akan mengacak-acak rambutnya sebenarnya.

Tak!

Ouch!

Aku menyentil dahi Millicas, aku tahu ini sangat tidak sopan namun ini akan selalu mengingatkan mu tentang pertemuan menyenangkan ini. Sepertinya dia sedikit kesakitan, aura tidak mengenakan datang dari belakang kulihat Wanita berambut perak sepertinya marah melihat aku menyetil dahi Millicas aku hanya dapat meneguk ludah.

"Apa sih Naruto-Nii."

"Tidak, hanya itu adalah salam perpisahan."

Mendengar jawab dariku wajah Millicas seolah menujukan akan menagis lagi. Aku hanya bisa terseyum masam mendengar suara tangisan dari anak berambut merah. Ku peluk dia seperti seorang kakak yang memberi pelindungan pada adiknya.

"K..Kenapa...Hiks...harus...pergi...Hiks...Na..Hiks...Naruto-Nii."

Kemudia ku tatap langit-langit ruangan ini sepertinya aku harus membawanya ke angkasa untuk menunjukan sesuatu yang indah. Sebagai sebuah kenangan agar dia tidak terus sedih.

"Dunia ini luas Millicas, aku ingin mencari sebuah hal yang menyenagkan di dunia yang luas ini kau harus paham aku tidak akan melupakan mu dan ini bukan perpisahan suatu saat aku akan kembali lagi kesini dan saat itu tiba ku harap kau tidak menjadi laku-laki yang cengeng."

Kemudian Millicas mengelap kedua matanya agar bersih dari air mata. Aku masuk ke alam pikir ku untuk bertemu Sinanju sebentar.

"Sinanju apahkah aku dapat memakai armor yang seperti tadi ?"

"Tentu saja kau bisa, namun kalau untuk bertempur kau harus berlatih pengunaan tapi kalau hanya memakainya kau bisa."

"Arigatou Sinanju."

"Doushite."

Aku kembali. Dan kemudian aku menutup mataku dan tubuhku bersinar dengan terang. Kini aku memakai Armor Sinanju, tapi akibat hal itu banyak orang mengacung senjata kearahku akibat tindakan yang sangat dadakan ini.

"Te...Tenang saja aku tidak akan mengajak bertarung aku hanya ingin mengajak Millicas-san ini jalan-jalan."

Mata Millicas bersinar karena ucapaku dan juga penampilanku mungkin. Dia pun segera menuju ayahnya dan Wanita berambut perak sepertinya dia ibunya. Dia seperti memohon untuk ijin jalan-jalan sebentar denganku. Dan setelah itu kembali ke hadapan diriku.

"Bagaimana ?"

"Boleh namun kata Tou-sama jangan telalu jauh-jauh."

"Tenang saja aku akan menjaganya."

Ucapku ke arah ayah dan ibunya, kemudia aku memangkunya dan mengendongnya di atas pundakku sambil bersiap untuk terbang.

"Jadi siap Millicas."

"Tentu saja!"

"Pegangan!"

Mata helm ini menyala hijau terang, dan seketika langsung di belakang dan di bawah kaki ku mengeluarkan Nos yang sangat besar untuk terbang ke atas menerobos langit-langit ruangan ini dan terbang bebas di langit malam.

Bintang-bintang menjadi tempat yang indah ketika kau dapat merasakan ketenangan, kau akan membayakan ketenangan yang sangat menyenangkan. Perasaan yang sangat indah seolah menari besama langit malam yang sangat indah ini. Dan ini adalah awal dari perjalananku!

Bruush!

-TBC-

Author Note:

Yo ketemu lagi dengan Author KAMENRIDAGekijouban9. Cukup lama Author tidak mengupdate fanfic dan kali ini Author mengupdate fanfic What I am.

Sedikit info: Disini Author membuat Riser sedikit ooc dan lalu Naruto tidak akan Overpower namun tahap demi tahap, Konsep yang Author ambil adalah Naruto, Dxd, Gundam dan masih banyak lagi. Namun ada yang harus diingat disini Gundam berbeda bukan sebuah mesin namun benda hidup yang memiliki jiwa lalu Beam Saber Author ganti dengan pedang berwarna Emas untuk Sinanju. Dan selajutnya Naruto akan Mengarungi dunia yang luas dan mulai perjalanannya. Oh iya hampir lupa, Nanti rasa lapar Naruto hanya akan muncul di saat tertentu kenapa bisa terjadi karena adanya Sinanju yang mehanan Rasa lapar itu.

Oke, untuk kemudian terima kasih atas kritikan, masukan, dan pendapat kalian tentang fanfic ini, dan tolong beri kometar maupun kritikan kembali tentang fanfic ini. Dan semoga kali senang dengan ceritanya. Baiklah cukup sampai disini.

Saa Jane.