"Dia menyukaimu..."
'Ah...! Aku jadi ingat kata-kata Kaito tadi. Apa benar Lechy-kun menyukaiku? Padahal, setelah aku putus dengan Kaito, dia hanya menganggapku sebagai sahabat dekat yang akan selalu mendengar kisahku. Kenapa tiba-tiba jadi suka padaku? Mungkin saja, karena jarak kami yang terlalu dekat? Memang, akhir-akhir ini aku suka blushing kalau berada di dekat Lechy-kun. Apa aku juga suka padanya?' pikir Miku sambil melamun.
"..ne-san, Hatsune-san!" panggilan Meiko-sensei membuyarkan lamunan Miku.
"Y-ya?" Miku yang kaget langsung berdiri.
"Jawab pertanyaan Saya! Siapa yang mengusulkan pasal 20 tentang pelarangan pendapat pada kaisar Daigo!"
'Hah? Kaisar Daigo? Waduh... siapa? Siapa?'
"Ng..." Miku membolak-balik buku pelajarannya. Saat sedang panik, tiba-tiba saja ada tangan yang mengulurkan sebuah kertas di meja Miku.
'Eh?'
"Kiyoyuki Miyoshi?"
"Benar! Kau boleh duduk, Hatsune-san,"
Miku pun duduk kembali di bangkunya. Dia melirik orang yang berada di bangku sebelah kanannya. "Umh... arigatou, Lechy-kun,"
Siapa lagi kalau bukan Len yang berada di sampingnya? Menurut absen, Len duduk di sebelah kanan Miku.
"Douita," balas Len singkat sambil tersenyum. Wajah Miku langsung memerah mendengarnya. 'Kontrol dirimu, Miku!'
.
Happy Reading
.
.
.
[Circle Love]
_chapter 2
"Hari ini, pelajaran kita sampai sini dulu! Lusa ada ujian sejarah Jepang! Tolong belajar dengan baik!" ucap Meiko-sensei.
"Baik, Sensei!"
Semuanya pun berhamburan keluar untuk pulang. Miku mengemas barang-barangnya. 'Akhirnya selesai juga...' pikir Miku. Dia memang sangat membenci pelajaran sejarah, apalagi kalau diajar oleh Meiko-sensei yang galak itu.
"Hei, Mikucchi! Ayo pulang bersama!" panggil seseorang. Karena merasa familiar, Miku menengok ke sumber suara itu.
"Baiklah! Ayo, Rinny!" balas Miku. Gadis yang memanggil Miku itu adalah sahabat karib Miku sejak kecil. Namanya Kamine Rin. Dia gadis cantik yang mirip dengan Len. Rambutnya sama-sama berwarna honey-blonde dan iris matanya berwarna turqoise.
Miku dan Rin pun pergi dari kelas mereka. Tiba-tiba saja...
"Miku-chan!" panggil seseorang dengan keras. Mereka berdua pun menegok ke belakang.
"Ada apa, BaKaito?" tanya Miku pura-pura tidak peduli.
"Huh... dingin sekali padaku," kritik Kaito. Miku hanya tersenyum tipis. "Iya, iya. Ada apa, Kaito-kun?" ulangnya sambil tersenyum.
Kaito yang dipanggil seperti itu langsung blushing. "A-ap–? Hey ayolah, ja-jangan mengujiku!" ucap Kaito sambil memalingkan wajahnya karena terlalu malu.
Miku hanya tertawa pelan melihat reaksi Kaito. Semburat merah tipis tergambar di wajah Miku, menandakan dia senang. Ya, dia memang menguji Kaito.
"Jangan marah, Kaito! Aku, kan, hanya bercanda!" ucap Miku sambil menahan tawanya.
Wajah Kaito mendadak berubah menjadi tidak puas. 'Jadi, dia memang sengaja mengujiku?'
Kaito yang melihat Rin hanya heran. "Ng? Kau pulang bersama Kamine?"
"Iya. Memangnya kenapa?"
"Sayang sekali. Padahal aku ingin mengajakmu pulang," jawab Kaito enteng. Miku yang mendengar itu langsung memerah. Dia masih membayangkan kejadian kemarin.
"Ta-tadi pagi, kan, sudah bersama..." balas Miku sambil menunduk, untuk menghindari tatapan mata Kaito. "Kau pulang saja bersama Lechy-kun. Aku, kan, pulang bersama Rinny. Bilang padanya kalau aku minta maaf karena tak bisa pulang bersamanya."
Kaito terperangah dengan kalimat terakhir Miku. Dia menundukkan kepalanya. Tanpa sadar, dia mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Kau.. sebegitu pedulinya pada Len, ya..?"
'Eh?' Miku terperangah serta kaget dengan pertanyaan Kaito. "Apa maksudmu?"
"Eh? Ng... nggak, bukan apa-apa. Maaf," jawab Kaito. Dia langsung berlari meninggalkan Miku dan Rin.
"Aneh..."
"Kaito bertengkar denganmu?"
"Eh? Tidak, kok.."
"Sial, kenapa aku jadi marah begini?"
-o0o-
"Sudah lama kita tidak pulang bareng, Mikucchi!"
"Ya, Rinny!"
"Kamu pulang bareng Banana terus, sih! Aku diabaikan!" ucap Rin ngambek.
"Iya, iya. Gomen... Dia yang selalu mengajakku duluan. Tapi sepertinya hari ini, dia keduluan olehmu."
"Haha, mungkin dia terlambat!" ucap Rin. "Oh, ya, Kaito itu mantan pacarmu, kan?" tanyanya.
"Tentu. Tapi bukan berarti aku bertengkar terus dengannya..." jawab Miku sambil tertunduk lesu.
"Lalu, kenapa tadi dia tiba-tiba berlari meninggalkanmu?"
"Ng.. entahlah. Mungkin dia pikir, aku suka pada Lechy-kun."
"Bukannya kau memang suka pada Banana?" tanya Rin yang sweatdrop.
Seketika saja, wajah Miku memerah. "Ti-tidak! Maksudku, dia belum tahu secara resmi!"
"Resmi? Maksudmu, kau belum pernah memberitahu Kaito?"
"Ya... aku belum siap memberitahunya,"
'Apa jangan-jangan dia marah karena Lechy-kun menyukaiku? Tapi Kaito orangnya tidak mudah cemburuan. Doushiyo? Kaito dan Len menyukaiku...' pikir Miku bingung.
Rin pun tiba-tiba terdiam. Dia menundukkan kepalanya. "Ano... Mikucchi..." panggilnya pelan.
"Y-Ya?" Miku yang tersadar akan lamunannya langsung menoleh ke arah Rin sambil tersenyum.
"Ng... aku ingin memberitahu kau sesuatu," jawab Rin. Miku bisa melihat semburat merah tipis di pipi Rin. Miku bisa menebak apa yang ingin Rin bicarakan. "Tapi jangan kasih tahu orangnya, ya."
Rin mengatur gaya bicaranya agar tak terlalu aneh. Miku pun menunggu dengan antusias. Rin mulai membuka mulutnya.
–namun di detik berikutnya, hati Miku seakan pecah saat mendengar perkataan Rin.
-o0o-
Miku berjalan gontai ke rumahnya. "Tadaima..." ucapnya tak bertenaga.
"Okaeri," balas Mikuo. "Ah... kamu kenapa, Miku?" tanya Mikuo khawatir dengan keadaan adiknya itu.
"Tidak apa-apa..." balas Miku pelan.
Mikuo menatap Miku penuh selidik. "Hari ini kau pulang sendiri? Kemana lelaki yang kemarin itu?"
Deg! Miku kaget dengan pertanyaan kakaknya itu. "Ah.. Maksud Nii-chan, Kaito..?"
"Kaito? Entahlah. Yang bersurai biru gelap itu,"
"Ya.. namanya Kaito, Shion Kaito," ucap Miku. "Aku pulang bersama Rinny. Kaito sepertinya pulang bersama Lechy-kun,"
"Oh... bersama Len, ya? Bagaimana kabarnya? Sudah lama kalian tidak main bersama,"
"Dia baik-baik saja..."
Miku memang sudah berteman dengan Len dan Rin sejak kecil. Dulu, rumah mereka bersebelahan. Mereka sering bermain bersama. Tapi semenjak SD, mereka bertiga pindah ke kampung masing-masing. Siapa sangka, mereka bertemu lagi di SMP. Saat itu pun Miku mengenal Kaito. Hingga akhirnya, mereka berempat menjadi dekat. Tetapi, Miku tak pernah mengenalkan Kaito pada Mikuo.
Miku berjalan menuju kamarnya. Dia menaruh tasnya sembarangan. Dia langsung merebahkan dirinya di kasur. Dia bahkan tidak berganti baju. Dia berusaha tidur. Dia membenamkan wajahnya di bantal. Namun, kejadian barusan membuatnya tidak bisa tidur.
"Ng... aku ingin memberitahu kau sesuatu," jawab Rin. Miku bisa melihat semburat merah tipis di pipi Rin. Miku bisa menebak apa yang ingin Rin bicarakan. "Tapi jangan kasih tahu orangnya, ya."
Rin mengatur gaya bicaranya agar tak terlalu aneh. Miku pun menunggu dengan antusias. Rin mulai membuka mulutnya.
"Aku suka pada Kaito."
Kata itu lolos dari mulut Rin. Miku sedikit kaget dan tidak percaya.
"Aku menyukainya saat kau mulai memperkenalkannya padaku saat SMP. Sebenarnya, saat aku tahu kau berpacaran dengannya, hatiku sangat sakit. Namun aku hanya bisa tersenyum, karena aku tak ingin merusak hubungan kalian karena kalian sahabatku. Aku tak ingin merebut Kaito dari sahabatku sendiri. Dan sebenarnya aku tak ingin memberitahukan hal ini kepadamu. Tetapi, aku yakin bahwa kalian sudah benar-benar putus. Karena itu aku baru mau bilang sekarang."
Hati Miku seakan pecah mendengarnya. Jantungnya berhenti berdetak dan tenggorokannya terasa tercekat.
"Kau sudah tak suka lagi pada Kaito, kan? Karena itu, tolong bantu aku, ya!" ucap Rin sambil tersenyum.
"Kau sudah tak suka lagi pada Kaito, kan?"
Miku merasa bantal yang didekapnya sudah basah oleh air matanya. Entah kenapa, dia tidak bisa menerima kenyataan bahwa Rin menyukai Kaito. Dia tidak ingin sahabatnya menyukai mantan pacarnya sendiri. 'Ah.. apa rasa ini masih membekas?'
Tiba-tiba saja, Miku dikagetkan dengan suara handphone-nya. Dia segera mengambil handphone-nya. Ada pesan masuk rupanya.
[Lechy-kun : Lagi di mana?]
Miku kaget dengan pesan dari Len itu. Dia pun membalas pesannya.
[Mikulia : Aku lagi di rumah. Kenapa?]
[Lechy-kun : Aku bingung, soalnya kamu nggak pulang bareng aku. Pulang sama siapa?]
Seketika saja, wajah Miku memerah.
[Mikulia : Aku pulang bareng Rinny. Memangnya Kaito tidak bilang padamu?]
[Lechy-kun : Eh? Kaito? Tidak tuh]
'Eh? Kaito tidak bilang pada Lechy-kun? Apa Kaito masih marah padaku?'
[Mikulia : Memangnya kau tidak pulang bareng Kaito?]
[Lechy-kun : Tidak]
[Mikulia : Ohh... aku minta maaf, ya, tak bisa pulang bersamamu. Rinny mengajakku pulang duluan]
[Lechy-kun : Oh, ya sudah. Tak apa-apa, sih. Lain kali kalau kau pulang dengan orang lain, beritahu aku dulu. Maaf kalau mengganggu]
Seketika saja, wajah Miku memerah sempurna. Dia mematikan handphone-nya dan tersenyum tipis.
'Aku suka Lechy-kun...'
-o0o-
"Hei, Mikucchi! Besok Banana ulang tahun! Kau mau kasih apa?" tanya Rin kencang sampai membuat Miku kaget.
"Eh?" Wajah Miku mulai memerah. "A-aku tidak tahu..."
"Wah.. belum apa-apa wajahmu sudah memerah!" ledek Rin. Wajah Miku semakin memerah.
"Rinny, diamlah!"
Kaito yang melihat Rin dan Miku, menundukkan kepalanya. Dia sangat kesal. Kesal sekali. Melihat wajah Miku yang memerah ketika diledek Len. 'Cih, besok si Maniak Pisang itu ulang tahun. Pasti Miku-chan akan memberikan hadiah padanya. Aku harus mengacaukannya!'
-o0o-
Pelajaran pertama hari ini adalah olahraga. Kelas XI A dan XI B dicampur. Alias kelas Miku dan Kaito.
Miku agak khawatir dengan hari ini. Miku memang benci olahraga, karena itu membuatnya capek. Tapi, dia memang anak yang mudah lelah. Jadi tidak boleh banyak bergerak. Dulu saat upacara penerimaan murid baru, Miku pingsan karena tak kuat berdiri di lapangan yang sedang panas-panasnya.
Pertama-tama, mereka melakukan pemanasan dulu di bimbing Kiyoteru-sensei. Ah, ngomong-ngomong Kiyoteru-sensei, Miku sebenarnya agak canggung dengannya.
"..ku-san, Miku-san?" Sebuah suara membuyarkan lamunan Miku. "Kau tidak apa-apa?" Miku melihat ke arah orang itu. Kiyoteru-sensei.
"Ah... atashi..,"
"Baiklah, aku akan membawamu ke UKS!" ucap Kiyoteru-sensei langsung. Miku langsung kaget setengah mati.
"Eh? De-demo atashi–"
"Sssst..." ucap Kiyoteru-sensei sambil menaruh telunjuknya di depan mulut Miku. Seketika saja, semuanya menjadi heboh. Kiyoteru-sensei mendekatkan wajahnya ke wajah Miku. "Kalau kau tak sanggup, jangan dipaksakan," bisik Kiyoteru-sensei yang membuat wajah Miku memerah. Perempuan lainnya pun menjerit lebih histeris.
"Ehem... maaf, Sensei," panggil sebuah suara. "Lebih baik saya saja yang mengantarkan Hatsune-san," yang ternyata adalah suara Kaito.
"Eh? Kenapa kamu, Shion?" tanya Kiyoteru-sensei sedikit tidak terima.
"Saya, kan, ketua OSIS. Lagipula, Sensei harus mengajar, kan?"
"Ah, ya.. silahkan," balas Kiyoteru-sensei mengalah.
Kaito langsung meraih tangan Miku. Miku hanya terdiam dan wajahnya memerah. Mereka pun pergi ke UKS.
'Ah... Kaito?' batin Rin. 'Huh... lagi-lagi ke UKS bersama Mikucchi,'
"Nah, ayo kita lanjutkan," ajak Kiyoteru-sensei. Pelajaran olahraga pun dilanjutkan.
-o0o-
Miku dan Kaito berada dalam kecanggungan luar biasa. Mereka tak sanggup memandang satu sama lain. Dan yang ditunjukkan wajah mereka hanyalah warna merah.
'Aduh... aku benar-benar capek, nih.. Nggak kuat berdiri..' batin Miku.
Kaito yang melihat keadaan Miku mulai membuka suara. "Kalau nggak kuat berdiri, pegang tanganku,"
Miku yang kaget dengan perkataan Kaito hanya bisa terdiam. Wajahnya memerah, sama seperti Kaito. "Eh? Ah... aku nggak apa-apa, kok," balas Miku berbohong. Kaito diam melihatnya.
"Ah... kamu ini, masih malu saja?" tanya Kaito. "Hah?" Miku hanya terkaget dengan perkataannya.
Dan tiba-tiba saja, Miku merasa tubuhnya menjadi ringan. "E-eh!? Kaito!?"
"Sudahlah. Jangan bergerak dan diam saja," balas Kaito. Yup, dia sedang menggendong Miku dengan bridal style.
Miku pun menuruti kata-kata Kaito. Dia hanya bisa terdiam di pelukan Kaito. 'Ah... dekat sekali. Aku bahkan bisa mendengar debaran jantungnya...'
-o0o-
'Kaito dan Mikucchi lama sekali...' pikir Rin. Dia sangat khawatir. Dia hanya tak ingin mereka berdua, mantan couple itu bermesraan di UKS.
'Kiyoteru-sensei jahat..! Dia sengaja membiarkan dua insan berbeda gender itu berduaan di UKS! Padahal jelas-jelas dia suka pada Mikucchi!'
"Ano... Kiyoteru-sensei," panggil Rin pelan.
"Ya?"
"Saya izin ke toilet dulu,"
"Silahkan."
-o0o-
"Berbaringlah.." pinta Kaito sambil melepas gendongannya dan menaruh Miku di atas kasur. Miku pun berbaring. Namun selang beberapa detik, dia langsung menutup matanya. Sepertinya dia sangat lelah. Dadanya naik turun seirama. Kaito yang melihat Miku tertidur langsung blushing.
'Aduh... Miku-chan kenapa manis banget, sih..'
Kaito melihat ke sekeliling UKS. 'Aneh... Nekomura-sensei ke mana?'
Terpaksa, Kaito menunggu Miku bangun. Tiba-tiba saja, Miku terlihat susah bernafas. Kaito pun panik. Dia menempelkan punggung tangan kanannya pada dahi Miku. 'Panas!'
Kaito pun mengambil kompres dan baskom berisi air hangat. Dia segera menempelkannya pada dahi Miku.
Beberapa lama kemudian, nafas Miku menjadi lebih tenang. Sepertinya dia sudah sembuh. Kaito yang melihat itu pun ingin mengembalikan baskom dan kompres pada tempat semula. Tetapi, langkahnya terhenti ketika dia merasa ada yang menarik ujung bajunya.
"Kaito-kun.. jangan pergi..." pinta Miku dengan suara yang lemah. Kaito yang mendengar nada bicara Miku hanya terdiam. Wajahnya memerah.
Kaito pun mengangguk pelan. Dia menaruh baskom dan kompresnya di meja dekat kasur. Dia pun duduk kembali di kursi dekat kasur. Dia kembali menemani Miku.
"Nee.. apa yang kau mau?" tanya Kaito lembut sambil membelai dahi Miku dengan lembut. Dia membelai surai hijau tosca yang indah itu.
Miku yang diperlakukan seperti itu oleh Kaito hanya bisa memerah. "Umh... aku hanya ingin Kaito berada di sampingku. Jangan pergi.."
Kaito yang mendengar itu juga ikut-ikutan memerah. Dia memalingkan wajahnya ke arah lain agar Miku tak bisa melihat semburat merah yang muncul tiba-tiba.
"Arigatou, Kaito..." ucap Miku tiba-tiba. Kaito yang tak mengerti maksudnya langsung menatap Miku. "Untuk apa?"
"Dua kali aku ditolong olehmu," jawab Miku. "Ingat kejadian tahun lalu di sini?" Kaito hanya mengangguk menjawabnya. Kejadian tahun lalu pun melayang di ingatannya lagi.
"Miku-san? Miku-san!" panggil Kiyoteru-sensei. "Y-ya?"
"Kau tidak apa-apa? Mukamu pucat sekali," tanya Kiyoteru-sensei khawatir.
"Ya.. aku tidak apa-apa," jawab Miku lemah sambil tersenyum. Dia sebenarnya sudah tidak kuat berolahraga. Namun dia tak ingin membuat orang lain khawatir.
"Sudahlah, jangan dipaksakan! Mari Saya antar ke UKS!" saran Kiyoteru-sensei langsung.
"Eh? Demo.."
"Shion! Kau ketua kelas, kan? Tolong gantikan Saya dipelajaran ini. Saya ingin mengantar Miku-san ke UKS!"
"Baik!" jawab Kaito.
Akhirnya, Kiyoteru-sensei membawa Miku ke UKS. Sebenarnya Kaito tak ingin membiarkan Kiyoteru-sensei membawa Miku ke UKS. Apalagi, ada gosip yang beredar di kalangan perempuan. Katanya, Kiyoteru-sensei itu jatuh cinta pandangan pertama pada Miku! Kaito tak bisa membiarkan itu terjadi.
Beberapa lama Kaito mengajar, Kiyoteru-sensei tak kunjung kembali juga. Ada firasat tak enak di benak Kaito. Dia pun pura-pura izin ke toilet pada teman-temannya. Bagaimana pun juga, dia tak akan membiarkan pacarnya berduaan dengan Sensei-nya yang tergolong masih muda.
Kaito pun menyusul Miku ke UKS.
"A-aku mencintaimu, Miku-san!" suara Kiyoteru-sensei dari UKS terdengar jelas di telinga Kaito. Hati Kaito seakan hancur mendengar kata-kata itu. Dia pun melirik sebentar ke UKS.
Mata Kaito membulat sempurna ketika melihat pemandangan di dalam UKS. Kiyoteru-sensei sedang mencekram tangan Miku dan menyandarkannya ke dinding. Miku pun terhimpit antara dinding dan Kiyoteru-sensei.
"Gosip itu benar. Aku jatuh cinta pandangan pertama padamu, Miku-san. Kau sangat cantik, manis, pintar, dan rajin. Aku benar-benar sudah jatuh dalam pesona dirimu," ucap Kiyotru-sensei panjang lebar.
"De-demo atashi..." Miku mulai takut dengan Kiyoteru-sensei. Kiyoteru-sensei mulai merapatkan jarak antara wajahnya dan wajah Miku.
Kaito yang tak terima pacarnya akan dicium sembarang langsung berteriak. "Hei, mau berbuat apa pada pacarku!?" Dan sukses besar, teriakan itu membuat Kiyoteru-sensei berhenti dari aktifitasnya.
"Lho, Shion? Sedang apa di situ? Bukankah kamu saya suruh mengajar?"
Kaito sangat jengkel dengan pertanyaan Kiyoteru-sensei yang polos itu. "Bukan saatnya mempermasalahkan itu. Saya wajib berada di sini. Karena perempuan yang hendak Anda cium itu merupakan pacar Saya!" teriak Kaito lantang. Miku yang mendengar itu pun langsung blushing. Kiyoteru-sensei yang mendengar itu cukup kaget.
"Hee...? Begitu? Lalu, kamu pikir Saya akan diam saja mendengar hal itu?" ucapan Kiyoteru-sensei terdengar meremehkan di telinga Kaito. Kiyoteru-sensei melanjutkan aktifitasnya. Dengan berani, di depan mata Kaito.
Miku yang tak terima, langsung menendang kaki Kiyoteru-sensei. Kiyoteru-sensei pun mengaduh kesakitan. "Go-gomenasai, Sensei! Tapi saya tak ingin Sensei melakukan itu!"
Kaito langsung terperangah melihat keberanian Miku. Oh, ya, sekedar info. Walaupun Miku memang lemah terhadap olahraga, entah kenapa dia sangat jago karate. Mungkin saja keturunan dari orangtua dan kakaknya. Siapa yang berani melawan sabuk hitam?
"Wah... putri keturunan pejudo dan karateka ini berhasil menumbangkan seorang Sensei olahraga.." ucap Kaito spontan setelah melihat Kiyoteru-sensei yang pingsan karena tendangan maut Miku.
"Eh? Ah... maaf, Sensei.."
"Ngomong-ngomong, kau sengaja mengikutiku ke sini, Kaito-kun?" tanya Miku.
"Tentu saja. Aku tak akan membiarkan Hidung Belang ini merayumu," jawab Kaito dengan wajah yang malu-malu. Miku yang mendengar ucapan Kaito langsung tersenyum. Dia sangat senang.
"Arigatou, Kaito-kun!" ucap Miku sambil memeluk Kaito. "Kau memang pacarku yang baik!" Kaito yang mendengar itu langsung blushing.
"Ah, ya.. tentu saja. Sudah kewajibanku.." balas Kaito. Dan sebuah kecupan lembut mendarat di bibir Miku.
Sebuah kecupan lembut mendarat di bibir Miku. Kaito mencium bibir Miku dengan lembut setelah mengingat kejadian tahun lalu. Mereka berdua menikmatinya.
'Ah... Kaito! Di-dia... mencium Mikucchi!? Tidak...! Dan Mikucchi tidak menolak! Apa-apaan ini! Katanya Mikucchi sudah tak suka Kaito lagi! Kenapa sekarang mereka malah berciuman dengan mesra-mesranya!? Di depanku, lagi!' batin Rin penuh kebencian. Ya, Rin memutuskan untuk mejadi stalker sejak Kaito membawa Miku ke UKS. Dia pura-pura izin ke toilet. Pintar sekali.
'Awas saja kau, Mikucchi!'
.
.
.
To Be Continued
.
Btw, ada yang tahu iris mata Len dan Rin aslinya warna apa? Author bilang warnanya turqoise karena lihat salah satu fanfic. Bener gak tuh? Author bingung, nih.. ,
Review?
000 Circle Love © Amane Ruka 000
