Pelajaran kedua pun dimulai. Setelah olahraga tadi, Miku merasa kurang enak badan. Kepalanya pusing seperti berputar. Namun, dia mengingat perlakuan Kaito tadi. Kaito yang menciumnya...

Deg! Wajah Miku memerah lagi. 'Tidak, tidak! Bukan saatnya memikirkan hal seperti itu!' batin Miku. Dia merasa dirinya sudah kacau. 'Ah... kenapa setiap Kaito menciumku, aku tak pernah menolak, ya? Walaupun benci, aku tetap nyaman di dekatnya...' Miku pun tersenyum membayangkan hari-harinya bersama Kaito.

Rin hanya terdiam melihat Miku yang tersenyum sendiri. Dia masih mengingat kejadian tadi di UKS.

'Mikucchi... kenapa kau berbuat begitu padaku?'


.

Happy Reading

.

.

.

[Circle Love]

_chapter 3

"Mikucchi, kurasa aku ingin mengambil jam istirahatmu sekarang.." ucap Rin tiba-tiba sambil memegang tangan Miku. Mereka memang sedang jam istirahat.

"Oh.. emm, ya..?" jawab Miku canggung.

Rin pun menarik tangan Miku ke halaman belakang. Di sana selalu sepi. Cocok menjadi tempat rahasia perempuan.

"Kenapa, ya?" tanya Miku pelan.

"Aku hanya ingin bertanya padamu," jawab Rin. "Tolong jawab dengan jujur, Mikucchi.."

"Ba-baik.."

Rin mulai membuka mulutnya.

-o0o-

"Terima kasih untuk hari ini. Kita bertemu lagi besok. Sekarang, silahkan kalian pulang," ucap guru Kimia, Haku-sensei, mengakhiri pelajarannya.

Semuanya pun langsung kasak-kusuk merapihkan barang-barang mereka. Mereka pun meninggalkan ruang kelas.

Sementara Miku, disaat yang lain sudah keluar kelas, dia masih merapihkan barangnya. Sekedar info, Miku memang paling lama merapihkan barang. Bukan karena dia itu lemot. Tapi katanya, barang-barang sekolah itu harus dirapihkan di dalam tas. Jadi, butuh waktu lama untuknya merapihkan barang setelah sekolah. Lagipula, dia masih lesu memikirkan pertanyaan Rin tadi.


"Tolong jawab dengan jujur, Mikucchi.."

"Ba-baik.." Miku merasa pertanyaan Rin ini sangat berbahaya.

Rin mulai membuka mulutnya.

"Kau tak suka lagi pada Kaito, kan?"

Pertanyaan itu kembali dipertanyakan oleh Rin. Terlihat jelas, raut wajahnya menggambarkan perasaan khawatir.

Miku hanya terperangah mendengar pertanyaan Rin yang menurutnya sangat dewasa. Rin tak suka mempermasalahkan lelaki. Atau cara agar memikat lelaki yang disukai. Menurut Rin, mau lelaki itu suka atau tidak padanya bukan masalah besar. Yang penting dia sudah memiliki rasa yang pasti pada lelaki itu.

"Mikucchi..?" panggil Rin. Miku tersadar dari lamunannya. "Jawab pertanyaanku, Mikucchi..." pinta Rin dengan wajah yang sangat memohon. Ah, Miku tak pernah melihat Rin dengan wajah seperti itu.

Miku kelihatan ragu. Dia bingung ingin menjawab apa. Jujur, dia tak tahu perasaannya pada Kaito. Kalau jawab tidak, itu tidak benar. Miku merasa perasaan itu masih berbekas. Tapi kalau jawab iya, kasian Rin. Dia sudah sangat senang mendengar Miku putus dengan Kaito. Oh, Miku merasa dirinya serba salah saat ini.

"Mikucchi.." panggil Rin lagi. "Kumohon jawab dengan jujur," pintanya sambil memegang tangan Miku.

"Ng..." Miku bingung menjawab apa. Dia juga tidak tahu kenapa Rin tiba-tiba bertanya seperti itu.

"Mikucchi..?"

Miku semakin tidak tahan dengan wajah memelas Rin. Dia menarik nafas perlahan. Dia sudah menyiapkan diri untuk menjawab pertanyaan Rin.

"...Aku sudah tak menyukainya lagi..."

dan Miku sudah menyiapkan diri apapun reaksi Rin.


'Hhhh... jujur, aku tak mau Rinny terlalu berharap. Aku tahu bagaimana reaksinya saat mengetahui jawabanku. Apalagi, Kaito bilang dia masih mencintaiku lebih dari siapapun. Rinny belum mengetahui itu. Bagaimana kalau dia tahu?' pikir Miku sambil berjalan ke luar kelas.

Dia berjalan sendiri sambil melamun. Rin bahkan tak menyapanya setelah jam istirahat. Jahat sekali, bukan?

Kaito yang melihat Miku berjalan sendirian pun berinisiatif untuk mengajaknya pulang bersama. 'Mumpung nggak ada si Maniak Pisang dan si Suara Tuhan alias si Kembar Tapi Nggak Kembar itu..' pikirnya sambil cekikikan sendiri. "Miku-chan!" panggilnya. Miku hanya menengok untuk merespon. "Ayo pulang bareng!"

Miku menghindari tatapan mata Kaito. Dia justru menunduk ke bawah. Dia bingung antara 'pulang sendiri' atau 'bersama Kaito'. Kaito bingung dengan sikapnya itu. Karena Miku tahu Kaito melihatnya dengan pandangan bingung, dia langsung menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Bibirnya memang tersenyum, tetapi hatinya tidak. Dia tidak bisa membuka hatinya setelah mengetahui sebuah kenyataan pahit.

'Aku tak boleh membuat Kaito bingung dengan sikapku!'

-o0o-

"Tumben. Kamu nggak pulang bareng Len atau Kamine?" tanya Kaito. Mereka sedang berada di perjalanan pulang.

Miku hanya menggeleng pelan menjawabnya. Dia tetap menatap jalanan tempat kakinya berpijak. Kaito pun heran dengan sikap Miku itu. "Miku-chan.. kau kenapa?" tanyanya khawatir.

Miku tak merespon. Pikirannya melayang saat istirahat tadi. Kaito semakin bingung dengan sikap Miku. "Miku-chan.." panggilnya lagi. Miku tetap tak merespon.

Kaito pun mengambil inisiatif untuk membungkuk melihat wajah Miku. "Miku-chan..?" panggil Kaito sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Miku. Spontan, Miku langsung kaget dan mengangkat wajahnya. Walau hanya sekejap dipandangi Kaito, ia merasa wajahnya memanas. Malu dipandangi dan malu karena tak menjawab panggilannya.

"Kamu kenapa, Miku-chan?" tanya Kaito lagi. Miku yang sudah tenang kembali menundukkan kepalanya. Mau dilupakan sampai kapanpun, tetap saja kejadian saat istirahat tadi melekat terus di kepalanya. Setiap melihat Kaito, kejadian itu selalu muncul di kepalanya.

Kaito mulai khawatir dengan keadaan Miku. "Apa kau sakit? Kelelahan lagi?" tanyanya dengan nada benar-benar khawatir.

Miku tak menjawab dan hanya memandangi aspal jalanan. Pandangannya seperti kosong, seakan-akan tak ada yang dilihatnya.

Kaito yang melihat Miku (lagi-lagi) tidak merespon panggilannya, langsung mencekram tangannya dan meletakkannya di sebelah kepala Miku. Kaito menyenderkan Miku ke dinding di belakangnya. Miku kaget dengan perlakuan Kaito yang tiba-tiba itu. Kaito menatap iris teal itu dengan mendalam. Mencoba mencari masalah yang dipendam Miku.

Di sisi lain, Miku merasa ada yang aneh dengan perutnya. Seakan-akan ada puluhan kupu-kupu berterbangan di perutnya, hingga menyebabkan dia ingin berjungkir balik. Dia merasa wajahnya sudah memanas. Dipandangi oleh Kaito, yang sebenarnya dia tak tahu perasaan apa yang timbul ketika berada di dekatnya.

"Katakan padaku..," seru Kaito, yang menyebabkan Miku tersadar dari lamunannya. Kaito menundukkan kepalanya. "..Ada masalah apa?"

Miku kaget dengan pertanyaan Kaito. Ya, Kaito mengetahui sikap aneh Miku hanya dengan menatap matanya.

"Apa..? Ada masalah apa? Katakan saja, Miku-chan," lanjut Kaito. Miku tetap diam saja.

"Apa kau.. benci padaku?"

Mata teal Miku membulat sempurna. Skakmat. Miku sudah menduga pertanyaan itulah yang akan dikeluarkan Kaito.

"Miku-chan... kau membenciku?" tanya Kaito lagi. "Iya.. iya, kan? Benci. Kau benci padaku, kan?" tanya Kaito sambil mencekram tangan Miku lebih kuat.

Miku menundukkan kepalanya. Kaito menunggu dengan sabar jawaban dari gadis paling manis seantero sekolahnya itu. Sedetik kemudian, Kaito kaget dengan setetes air mata yang keluar dari mata indah Miku. "A-aku sangat membencimu, Kaito!"

Kaito sangat kaget mendengar jawaban Miku. Dia tahu Miku sangat membencinya. Dulu saat Miku mengatakan hal yang sama, Miku juga menangis. Namun entah kenapa, mendengar dari nada Miku, Kaito benar-benar tercekat mendengar yang sekarang.

Miku terus-terusan menangis tanpa henti. Kaito pun panik melihatnya. Untunglah di sekitar situ sepi. "Ya, ya.. aku tahu kau sangat membenciku..," Kaito berusaha menenangkan Miku. Dia membelai rambut Miku perlahan, lalu mencium dahinya.

Diperlakukan seperti itu, Miku mulai tenang. Hanya sesekali sesenggukan. Kaito pun melanjutkan kalimatnya. "Aku tahu kau membenciku. Maafkan aku.." ucap Kaito dengan nada menyesal, tetapi dia paksakan untuk tersenyum.

Miku kaget dengan perkataan Kaito. Dia menundukkan kepalanya. Membuat Kaito bingung lagi.

"Aku tak bisa memaafkanmu..."

Kata itu membuat hati Kaito hancur. Ya, ya... dia tahu dia salah. Miku sudah pernah bilang mengapa dia membenci Kaito. Salahnya membuat Miku kecewa. Mengapa dia berbuat begitu pada Miku?

"Ke-kenapa...?"

"Aku benci.. aku benci kamu! Kenapa kamu begitu banyak disukai perempuan, hah!?" tanya Miku dengan nafas berat.

Kaito hanya melongo kaget. 'Jadi itu alasan Miku-chan marah? Tapi, kalau Miku-chan bilang seperti itu... apa artinya dia..? Ah, nggak mungkin!'

"A-apa maksudmu..?" tanya Kaito sepelan mungkin. Miku hanya diam. Dia merutuki dirinya yang suka keceplosan bicara.

"Apa maksudmu? Berkata seperti itu..." tanya Kaito ulang. Miku melihat wajah Kaito yang memerah. Namun Miku tak peduli. Dia mengeram pelan.

"Uh...! Rinny, Rinny itu suka padamu!" teriak Miku dengan keberaniannya yang sudah full. Mungkin dia merasa bersalah karena tidak menepati janjinya pada Rin. Dan di lain hati, dia ingin menangis karena Kaito sudah tahu rahasia sahabatnya itu.

"Apa? Kamine suka padaku?" tanya Kaito memastikan. Miku hanya menunduk. Dia tak mau menjawab apa. 'Kaito pasti senang kalau Rin suka padanya...' pikir Miku sambil terus menangis.

Kaito pun terdiam melihat ekspresi Miku. 'Miku-chan pasti salah paham...' pikir Kaito prihatin. Dia pun membelai rambut Miku. "Miku-chan..." panggilnya pelan.

Miku tetap menunduk dan tak merespon. "Miku-chan..." Kaito pun mengangkat dagu Miku. "Maaf.." lirihnya.

"Maaf kena– hmph!?"

Setelah beberapa lama, Kaito melepaskan ciumannya. "Kaito..." Miku merasa wajahnya memerah. Kaito hanya tersenyum. Dia mengusap bulir-bulir air yang masih menetes dari mata Miku.

"Jangan menangis lagi..." ucap Kaito sambil tersenyum. "Aku mau kau tetap tersenyum..." sambungnya sambil mengecup dahi Miku pelan. "Kumohon... aku rindu dengan senyumanmu," lanjut Kaito dengan tatapan serius.

Miku terperangah dengan perkataan Kaito. "Apa?" tanyanya dengan polos. Kaito hanya tersenyum dan menatapnya teduh.

Kaito pun memeluk tubuh kecil itu. Yang dipeluk hanya bisa membulatkan matanya, kaget. "Aku tak peduli. Siapapun yang menyukaiku, hatiku hanya ada padamu, Miku-chan," ucap Kaito tulus. Miku sangat kaget dan terharu mendengar perkataan Kaito. Air mata kembali menetes dari matanya. Dia pun membalas pelukan Kaito. Kaito yang merasa bahunya basah hanya bisa tersenyum sambil menepuk-nepuk pundak Miku pelan.

"Sudah, sudah.. jangan menangis.." ucap Kaito. Miku hanya mengangguk pelan. Dia pun menghentikan tangisannya.

Seorang lelaki bersurai honey-blonde hendak berbelok ke arah Kaito dan Miku. Setelah melihat mereka berdua, mata turqoise lelaki itu membulat sempurna.

"Kaito, Mikulia-chan!?" teriaknya sangat kaget. Kedua orang yang memiliki nama itu hanya menengok ke arah lelaki itu.

"Len?" tanya Kaito, sama sekali tidak kaget.

'Ah... Lechy-kun!?' batin Miku kaget. 'Tidak! Dia pasti salah paham!'

"Kau..." lirih Len. Kaito hanya melihatnya tanpa bersalah. "Sudah kubilang, jangan dekati Mikulia-chan lagi!" teriak Len, sambil mengambil alih tubuh Miku. Dia merangkul tubuh mungil itu agar tak lepas lagi.

"Heh, Miku-chan yang ingin dekat denganku. Bukan aku yang mendekati Miku-chan," kata Kaito membela dirinya.

"Banyak alasan! Nggak mungkin Mikulia-chan yang ingin dekat dengan Hidung Belang sepertimu!"

"Tanya saja pada Miku-chan. Iya, kan?" tanya Kaito ke arah Miku sambil mengedipkan matanya, berusaha tenang. Dia pun langsung meninggalkan Len dan Miku.

"Sial, dia kabur!" bisik Len. Miku pun hanya terdiam melihat kejadian yang barusan dialaminya. Jantungnya berdegup sangat kencang.

Len melirik ke arah Miku yang diam saja. "Mikulia-chan! Kamu nggak apa-apa? Apa kau disakitinya lagi?" tanyanya panik sambil meraba-raba wajah Miku. Sedangkan yang ditanya hanya tersenyum tipis.

"Nggak apa-apa, kok!"

"Tapi... beneran nggak diapa-apain?"

"Nggak..."

Len menatap Miku penuh selidik. "Terus kenapa kalian pelukan?" tanyanya dengan nada cemburu dan wajah yang sedikit malu-malu. Miku yang mendengar itu juga memerah.

"Ng.. tadi aku menangis, dia hanya menenangkanku..." jawab Miku pelan.

"Kenapa kamu menangis!?" tanya Len kaget.

"Eh? Ng..." Miku terlihat panik. 'Harus kasih jawaban apa ke Lechy-kun!?'

"Kenapa?" ulang Len. "Ng... itu, itu!"

"Ka-karena aku takut dengan ulangan Sejarah besok!" jawab Miku spontan. Len hanya bisa cengo mendengar alasan Miku yang... aneh itu. "Ma-maksudku, Sejarah, kan, menyebalkan. Aku selalu tak bisa mengerti pelajaran itu. Ya, ya, itu maksudku!" sambung Miku sambil menyengir. Dasar Miku.

Len hanya menghembuskan nafasnya. Menggeleng-geleng melihat kelakuan Miku. "Kau sama sekali tak berubah..."

Len memang orang yang paling pandai mendeteksi kebohongan seseorang.

"Sepertinya kau memang ada masalah yang tak ingin dibicarakan denganku..,"

Miku hanya tersenyum tipis sambil menatap jalanan tempatnya berpijak. Len melihat sikap Miku itu hanya terheran-heran. 'Memang tak ingin bercerita, ya...'

Keadaan hening seketika. Semuanya terhanyut pada pikiran masing-masing. Hingga Len membuka suaranya.

"Oh ya, besok, ng... aku mau ngomong sama kamu,"

"Eh?" Miku sangat kaget dengan perkataan Len. Dia merasa wajahnya sudah memerah. "Ng-ngomong apa?"

"Yah.. lihat saja nanti. Pokoknya, besok aku mau ngomong!" jawab Len dengan muka yang memerah seperti kepiting rebus. "Oke?"

"Hmm.. iya," jawab Miku pelan. Len tersenyum mendengar jawaban Miku.

'Lechy-kun mau ngomong apa, ya?'

-o0o-

"Hei, Miku!" panggil seorang perempuan bersurai hijau rumput. Sebuah senyuman tersungging di wajahnya. "Hari ini Kagamine kesayanganmu ulang tahun! Kau tak memberinya hadiah?" tanyanya antusias.

Miku yang sedang meminum jus leeks(?)-nya langsung tersedak. 'Eh!? Ah iya, hari ini Lechy-kun ulang tahun! Bodoh! Aku bahkan tak membawa hadiah apapun! Kenapa aku bisa lupa!? Padahal Rinny memperingatkanku kemarin! Ah, bodohnya aku! Sejak kapan aku jadi pelupa begini!?' pikir Miku sambil merutuki dirinya sendiri.

"Miku?" panggilan perempuan itu membuat Miku sadar dari lamunannya. "Ah.. iya?"

Iris hijau terangnya mendelik tak percaya. "Kau mendengarkanku, tidak?"

"Iya.. tentu saja, Gumi-chan," balas Miku. Gadis yang dipanggil "Gumi-chan" itu pun tersenyum lebar.

"Nah... jadi, kau memberi apa pada sekretaris OSIS itu?" tanya gadis hijau tersebut. "Apakah sebuah jam tangan, atau benda umum laki-laki? Ah! Atau kau memberinya sebuah benda bernuansa pisang dan berwarna kuning? Kujelaskan, ya. Lelaki itu.., bla bla bla bla..." Miku hanya tersenyum tipis melihat kelakuan gadis penyuka wortel itu. Cerah ceria, pandai berbicara, dan berisik sekali. Kalau orang ngomong A, dia akan menjawab dari B sampai Z. Dia punya saudara kembar, namanya Megpoid Gumiya. Padahal kembarannya itu pendiam, lho.

"Jadi, intinya, lelaki akan sangat senang menerima hadiah kesukaannya dari perempuan!" ucap Gumi mengakhiri celotehannya. Gumi berbicara cepat sekali. Miku saja sampai tak bisa mendengarnya.

"Berikan saja Kagamine barang kesukaannya, pasti beres!"

Miku hanya ternganga bingung dengan perkataan Gumi.

"Hm? Pasti beres? Apa maksudnya?" tanya Miku sambil melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda, meminum jusnya lagi.

"Hee.. kau tak tahu? Kagamine itu suka padamu!"

Uhuk! Dua kali Miku tersedak jus leeks-nya. "APAAA...!?"

Miku berteriak sekencang mungkin. Untung saja kantin sedang tidak penuh. Kalau penuh, dia pasti akan diprotes oleh banyak orang.

"I-iya.." Gumi pun merasa telinganya mulai bermasalah karena teriakan Miku tadi.

Sedangkan Miku masih mematung di tempat karena berita yang Gumi sampaikan. Dia merasa jantungnya mulai berdebar.

Gumi yang melihat ekspresi Miku hanya mendelik tak percaya. "Kau baru tahu?"

"Eh? Iya... mungkin," jawab Miku spontan. Mengingat, kemarin Len berkata bahwa ingin ngomong sesuatu dengannya nanti.

Gumi pun sibuk memperhatikan Miku. Eits, jangan kira dia itu yuri. Tidak, itu tidak benar sama sekali! Dia hanya melihat seorang perempuan sebagai teman, tidak lebih.

'Miku hebat, ya.. Dia berbakat, cantik, manis, pintar, rajin, polos, imut.., huh, super loli! Bagus saja kalau Len-kun menyukainya. Memang pantas, kok. Semoga saja hubungan kalian lancar..' pikir Gumi sambil menatap Miku. Sebuah senyuman sendu tersungging di wajah mulusnya. Dia senang, tapi merasakan sakit di waktu yang sama.

Yah, bagaimana rasanya kalau kau melihat orang yang kau suka malah menyukai orang lain? Itulah yang dipikirkan Gumi.

'Semoga bahagia...'

-o0o-

"Hatsune-san! Bisa minta tolong sebentar?" tanya seorang lelaki bersurai merah.

"Ya?" tanya Miku. Senyuman antusias nan manisnya seakan menunggu kata-kata yang akan diucapkan lelaki bersurai merah itu.

"Tolong gantikan jadwal piket Yuuma, ya! Dia, kan, sakit," jawab lelaki itu dengan agak tidak enak. Miku yang mendengarnya juga agak keberatan.

Namun, Miku yang menyadari bahwa lelaki itu tak enak, langsung melemparkan senyuman ikhlasnya. "Ah.. ya! Nggak apa-apa, deh!"

Lelaki itu langsung blushing melihat senyuman Miku yang manis itu. 'Duh.. Hatsune-san manis banget..'

"Hm? Ada apa, Kasane-san?" tanya Miku yang membuat lelaki itu, Kasane Ted, kaget.

"Eh? Ti-tidak ada apa-apa,"

"Hihi," Miku hanya tertawa kecil melihat Ted yang salah tingkah.

Kaito yang ingin mengajak pulang Miku tak sengaja melihat kejadian Ted dan Miku. Dengan marah, dan tanpa ba-bi-bu lagi, dia langsung mencekram kerah baju Ted.

"Apa-apaan kamu! Berani mendekati Miku-chan?!" tanya Kaito dengan sangat kasar. Miku dan Ted sangat kaget dengan kedatangan Kaito yang tiba-tiba.

"Kaito..?"

Orang-orang di sekitar pun mulai berbisik-bisik.

("Waduh, sepertinya ada keributan lagi..")

Miku mulai tidak enak karena banyak siswi yang membicarakan mereka.

("Shion, hem? Ya ampun.. gara-gara Miku ngobrol sama Kasane doang!")

"Kaito.. lepaskan Kasane-san!"

("Bukannya mereka udah putus? Masih cinta, ya?")

"Kaito..! Kau salah paham!"

("Kalau gitu kenapa nggak jadian aja? Dengan begitu nggak bakal ada yang mau deketin Miku lagi, kan?")

("Katanya Miku udah nggak cinta lagi. Susah, deh,")

"Kaito, tenanglah! Kau salah paham!" teriak Ted berusaha membela dirinya.

"Apanya yang salah paham?! Jelas-jelas kau menggoda Miku-chan!" balas Kaito sambil mengeratkan cengkramannya.

"Kaito! Aku hanya berbicara biasa dengan Kasane-san!" bela Miku. "Kumohon mengertilah.." pinta Miku dengan pandangan sangat memohon sambil memegang lengan Kaito dengan lembut.

Kaito pun melepas cengkramannya. Ted bernapas dengan lega. Miku tersenyum tipis. Orang-orang di sekitar mulai bubar. Kelaspun menjadi hening–dengan beberapa orang yang masih di dalam.

"Maaf ya, Kaito. Aku hanya berbicara biasa dengan Hatsune-san. Mungkin kau saja yang terlalu berlebihan," ucap Ted dengan penuh penyesalan.

"Ya, Kaito. Kasane-san tidak salah apa-apa. Kami hanya ngobrol biasa," tambah Miku.

Grep! Kaito mencekram bahu Miku. "Dengar, ya.. aku paling tidak suka kalau ada lelaki lain yang mendekatimu," ucap Kaito sambil menatap manik teal itu dalam-dalam. Miku terperangah mendengar ucapan Kaito.

"Kaito.."

Kaito mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Miku. Entah dengan sihir apa, Miku sama sekali tidak bergerak. Dia seperti menunggu Kaito.

"Ehm.. kalian,"

Suara itu menghentikan aktifitas Kaito.

"Le-lebih baik aku pulang duluan, ya.." ucap Ted dengan wajah yang memerah. "Bye!" pamitnya sambil melesat keluar kelas.

"Huft.. dasar mengganggu saja," komentar Kaito. Dia mengalihkan perhatiannya ke gadis yang baru saja ingin diciumnya. "Miku-chan?" Dia bingung dengan wajah Miku yang tertunduk ke bawah.

"Miku-chan, kenapa?" tanya Kaito sambil menunduk.

"Eh..! Nggak apa!" jawab Miku. Kaito bersumpah melihat bahwa wajah gadis satu ini tadi memerah. Ya iyalah! Pikir, dong, siapa yang nggak malu ketika mau dicium pujaan hati?!

"Ngomong-ngomong, kau ke sini hanya untuk menghampiri Kasane-san?" tanya Miku.

"Oh ya! Aku ingin mengajakmu pulang bareng," jawab Kaito sambil tersenyum.

"Maaf, aku harus piket dulu," tolak Miku dengan halus sambil tersenyum manis.

"Lho? Bukannya jadwal piketmu itu besok?"

"Hari ini aku menggantikan Harune-san," ucap Miku sambil bergerak mengambil sapu dan mulai menyapu.

"Ya sudah, aku akan menunggumu, deh.." ucap Kaito. Kemudian, dia bersandar di daun pintu. Miku pun memulai tugasnya. Kaito hanya sibuk memandangi wajah manis idamannya itu.

"Lebih baik kau pulang saja, Kaito," ucap seorang lelaki bersurai honey-blonde. Mata turqoise-nya memancarkan pandangan benci. "Hari ini, aku yang akan pulang dengan Mikulia-chan," tambahnya dengan kilat marah.

"A-ap–?!"

"Lechy-kun?"

Suara moe itu terdengar tidak asing di telinga keduanya.

"Kenapa kau belum pulang?" tanya gadis itu lagi. Manik teal-nya menatap mereka berdua dengan antusias.

"Hari ini, kan, jadwalku piket," jawab Len sekenannya, yang disambut sahutan panjang dari bibir Miku.

"Ya sudahlah, ayo kita selesaikan piketnya agar bisa pulang bareng!" ucap Miku menyemangati, lalu melanjutkan kegiatan menyapunya.

Len hanya tersenyum tipis melihat tingkah laku gadis kesukaannya itu. Dia melirik ke arah Kaito yang masih blushing. "Nah.., jadi sekarang, kau harus angkat kaki dari sini," ucapnya dengan penekanan.

"Kalau aku tidak mau?" tanya Kaito menantang. Len pun mengeram kesal.

"Ada hal yang ingin kubicarakan dengan Mikulia-chan," jawabnya sedikit beralasan.

Keadaan hening sesaat. Kaito menatap Len dengan pandangan benci.

"Alasan."

Ucapan itu menjalar di tubuh Len. Len semakin kesal pada Kaito. "Aku tidak alasan! Memang ada yang ingin kubicarakan dengan Mikulia-chan!"

"Aku tak akan membiarkanmu mengambil bibirnya yang sudah jelas hanya untukku," ucap Kaito dengan penuh kejantanan.

"Aku benar-benar ingin membicarakan sesuatu! Sudahlah, kau mengganggu! Lebih baik kau pulang saja!" marah Len sambil mendorong bahu Kaito.

"Hei, santai, dong!" protes Kaito.

"Hei, Kaito! Lechy-kun! Tidak baik bertengkar di sekolah!" nasehat Miku yang tiba-tiba muncul di antara mereka. "Lebih baik kita pulang bersama!" lanjutnya dengan senyum. Bagaimana pun juga, dia ingin membuat kedua lelaki yang telah memikat hatinya ini kembali akur.

"Kita pulang bertiga?" tanya Len tidak terima.

"Iya. Bertiga."

"Tapi, kan, ada hal yang harus kusampaikan padamu, Mikulia-chan," ucap Len sambil memegang bahu Miku.

"Ah, ya.. ada yang ingin kusampaikan juga, sih, untuk Lechy-kun.." balas Miku sambil memalingkan wajahnya yang sudah memerah.

Len tersenyum penuh kemenangan. "Nah, Kaito," panggilnya kemudian. Sang empunya nama hanya menoleh ke arahnya. "Kata-kata itu bukan hanyalah alasan, kan?"

Kaito memejamkan matanya, mencari keputusan yang tepat untuk hari ini.

"Baiklah, aku menyerah.."

-o0o-

"Tak apa kita biarkan Kaito pulang sendiri?" tanya Miku dengan khawatir. "Ini, kan, sudah sore.."

Len menghela napas. "Dia, kan, bisa jaga diri," Lama-lama, Len sebal juga karena Miku terlalu memperhatikan Kaito.

Miku hanya mengangguk-ngangguk mendengar jawaban Len.

"Nah, akhirnya hanya ada kita berdua di sini,"

Ucapan Len membuat jantung Miku berdegup kencang. Wajahnya berubah menjadi merah. 'Apa maksud Lechy-kun tadi?!'

"Apa yang ingin kau sampaikan?" tanya Len dengan pandangan yang sangat dalam pada manik teal jernih itu. Yang diperhatikan hanya bisa salah tingkah.

"Kau saja dulu.." jawab Miku dengan wajah yang sulit dikendalikan.

"Kau saja.. ladies first,"

Miku pun menarik napasnya, bersiap-siap dengan apa yang akan dikatakannya.

"Maaf ya, aku tak bisa memberi apa-apa selain ucapan selamat ulang tahun," ucap Miku kemudian dengan sendu. Len pun terperangah mendengar ucapan Miku.

'Hah? Ulang tahun? Oh ya, hari ini aku ulang tahun! Haha, bodoh sekali. Aku melupakan hari ulang tahunku karena terlalu fokus pada Mikulia-chan..' batin Len sambil membodohi dirinya sendiri.

"Aku memang bodoh, sampai lupa hari ulang tahunmu.." tambah Miku sambil menundukkan kepalanya, menyembunyikan semburat merah yang muncul tiba-tiba.

Len pun menyeringai. Sebuah ide melintas di benaknya.

"Mikulia-chan," panggil Len sambil memegang bahu Miku. Miku agak kaget. Yang dipegang hanya bisa memalingkan wajah, menutupi rasa malunya.

"Tak apa kalau kau tak memberikanku hadiah. Cukup kau mengucapkannya saja, itu sudah membuatku senang," ucap Len sambil memandangi manik teal itu dalam-dalam. Wajah Miku pun memerah.

"Le-lechy-kun.."

"Yah.. walaupun aku ingin satu hal darimu, sih.." ucap Len enteng sambil melepas genggamannya pada bahu Miku.

Miku pun heran. "Apa itu?"

"Hatimu," jawab Len sambil tersenyum.

Miku langsung terperangah kaget. Detik berikutnya, muka Miku berubah menjadi merah, tersipu malu.

"Inilah yang ingin kusampaikan. Perlu kau ketahui, bahwa sebenarnya dari dulu.."

Jantung Miku berdegup kencang.

"..Aku menyukaimu,"

Suara Len menggema di ruangan kelas XI A. Miku mematung dengan wajah memerah.

'A-APA..?! Lechy-kun menyukaiku?! Nggak mungkin!' batin Miku salah tingkah.

"Lechy-kun..? Nggak mungkin.. Aku salah denger, kan?"

"Hmph," Len menahan tawanya, dia tersenyum. "Kau tidak salah dengar, Mikulia-chan.." lanjut Len sambil membelai kepala Miku.

"Aku menyukaimu.." ucap Len sambil tersenyum, dia menatap mata Miku dengan tulus. Miku pun tersipu malu.

"E-eh.."

'Aduh.. bagaimana ini?!' batin Miku panik.

Brak! Kaito yang dari tadi berada di balik pintu kelas, langsung mendobrak masuk. Dua insan yang berada di dalamnya langsung kaget.

"Kalau begitu maumu, Len. Siapa yang kau pilih, Miku-chan?"

'E-eh...?!'

.

.

.

To Be Continued

.

Hai, Minna-san~! Ketemu lagi dengan Author! (nggak peduli /plak!)

Fanfic ini akan di-update secepatnya. Miku dipastikan sudah memilih antara Len dan Kaito. Dan sisanya akan bersama Rin (/plak! *digampar Rin). Mohon ditunggu chapter selanjutnya!

Review?

000 Circle Love © Amane Ruka 000