The One and Only

Naruto Masashi Kishimoto

o

o

o

Chapter 2

Teman Baru

o

o

o

Pagi yang indah, suasa sangat ramai dan bisik-bisik gosip selalu terdengar, terkadang Sakura yang penasaran pun duduk di kursi teman-teman siswi yang tak jauh dari tempatnya, tetapi orang-orang itu seperti tak menginginkan Sakura bergabung bersama mereka. Akhirnya Sakura hanya bisa diam dan memperhatikan dengan tatapan tak mengerti, banyak siswi dan siswa di luar kelasnya ingin mengobrol dan ingin menjadi temannya, tetapi dibandingkan itu jika di kelas suasanya sangat berbeda. Tak terlalu banyak yang ingin mengobrol dengannya, yang mengajak ke kantin pun hanya beberapa orang dan akhirnya memasang muka marah atau sebal karena ia selalu menyangkut pautkan Sasori dalam pembicaraan.

"Oniichan," bisik Sakura, gadis itu kini berada di bangku kosong sebelah Sasori yang tengah asik membaca, tiba-tiba saja gadis itu langsung memeluk kakaknya dan merasa tak nyaman di hati, ia tak terlalu mengerti dengan hal yang dialami ini, ia sangat jarang berinteraksi dengan orang-orang sedari kecil.

"Ada apa, Saki? Tunggu, hei wajahmu terlihat pucat. Coba kulihat." Sakura melepaskan pelukannya dan kini mereka duduk dengan berhadapan, tatapan Sasori tidak salah karena wajah adiknya itu memang terlihat pucat, lengannya pun terulur dan telapak tangannya sekarang berada di dahi sang Adik, memeriksa suhu tubuh Sakura.

Mengernyitkan dahi, Sasori lantas berdiri dan membawa Sakura ke Unit Kesehatan Sekolah. Pemuda itu cukup mengerang kesal karena adiknya tidak mau digendong dan lebih memilih untuk berjalan saja. Syukurlah di dalam sana ada seorang dokter, ia pun langsung menyerukan agar Sakura diperiksa dan meminta surat izin untuk pulang ke rumah.

"Bagaimana?" Sasori yang bersandar di dinding, menegakkan tubuh, kemudian berjalan mendekati dokter perempuan itu.

"Dia hanya agak lelah dan kurang asupan nutrisi. Aku sarankan sebaiknya Haruno-san beristirahat dulu sejenak dan jangan dibangungkan. Setelah bel istirahat, dirinya akan kuperbolehkan pulang. Dan satu lagi, jangan biarkan Haruno-san begadang apa pun alasannya."

Menganggukkan kepala, Sasori mengerutkan alis. Benar, beberapa malam ini mereka begadang karena Sakura ngotot ingin menguasai pelajaran sejarang yang menurut gadis itu membosankan, tetapi sangat ingin mendapat nilai yang tinggi seperti Sasori. Menghela napas, telapak tangannya pun membelai kepala sang Kembaran.

Bel berbunyi, Sasori memutuskan untuk membawa Sakura pulang. Ia mengakatnya perlahan dan tak membiarkan Sakura bangun.

Beberapa hari setelah izin sakit, Sakura dan Sasori kembali berangkat ke sekolah. Untuk sekarang ini, Sasori lebih memperhatikan asupan gizi dan aktivitas yang dilakukan adiknya itu, tidak membiarkan terlalu lelah atau larut saat belajar. Sepertinya beberapa minggu ini ia memang kecolongan, selain jadwal pameran seninya yang padat, ia juga agak jarang di rumah ketika sekolah telah usai. Beberapa kali bahkan mereka belajar besama hingga larut, kemudian Sakura memaksanya untuk menonton film terbaru yang baru saja dibeli. Kadang-kadang, Sasori merasa ia harus lebih tegas kepada Sakura.

Ada yang berbeda di saat mereka pertama kali masuk, memang mereka agak terlambat karena ban mobil sempat kempes, dan ketika masuk ke kelas untuk pertama kalinya Sakura melihat seseorang yang duduk di bangkunya. Ada teman sebangku, akhirnya Sakura menatap berbinar sosok itu. Gadis berambut merah kemudian tersenyum dan menganggukkan kepala. Tentu saja Sakura juga melakukan hal yang sama.

Hari ini Guru Iruka yang mengajar, dan untungnya mereka bisa masuk tanpa ada hukuman yang menanti. Di dalam hati Sakura bersyukur.

Pelajaran Geografi pun dimulai.

"Aku senang sekali melihat ada Uzumaki-san yang duduk sebangku denganku. Terimakasih banyak, semoga kita menjadi teman baik, ya."

"Ah, jangan seperti itu. Panggil saja nama kecilku, bukannya kita akan menjadi teman baik, Sakura?" matanya langsung berbinar, ia pun menganggukkan kepala, sebelum berteriak senang, Sakura sudah membekap mulutnya sendiri, bisa-bisa dia dihadiahi lemparan kapur nanti karena berisik dan berbisik-bisik di saat pelajaran tengah berlangsung.

o

o

o

"Oniichan!" dengan berlari, Sakura menarik tangan Karin dan sekarang berdiri di samping meja kakaknya yang terlihat menghela napas. Sasori sangat tahu sekarang Sakura pasti akan mengenalkan gadis yang akan dijadikan teman baiknya atau sahabat. Lihat saja nanti, gadis itu akan segera memberitahu apa yang ada di kepala merah mudanya.

"Karin-chan, ini adalah Oniichan-ku. Namanya Haruno Sasori." Sakura menarik-narik sebelah tangan Sasori, membisikkan kepada pemuda itu untuk berdiri, tetapi sepertinya si lelaki tidak menggubrisnya. Sebelah pipi Sakura pun menggembung, kemudian ia menggeram sambil mengatai kakaknya dengan sebutan tidak sopan.

Tidak ingin memancing keributan, apalagi dilihatnya jika gadis berambut merah itu mulai mengerutkan alis dan berkacak pinggang, Sasori pun berdiri dan mengulurkan tangan sesuai dengan keinginan adiknya tercinta.

"Haruno Sasori," ucapnya dingin atau yang lebih cocok adalah tanpa minat.

Mendengar suara tak senang Sasori lantas membuat Karin kesal.

"Uzumaki Karin, salam kenal."

"Nah, jadi karena sudah berteman, ayo kita ke kantin bersama karena tidak membawa bekal hehe. Oniichan kesiangan dan tidak sempat memasak bekal makan siang, tetapi Saki tetap sayang Oniichan, jadi tenang saja." Lengan malas Sasori langsung digandeng dan ditarik Sakura, mereka pun bersama pergi ke kantin.

Tidak banyak orang-orang yang sering melihat kembar Haruno itu keluar kelas, dan ketika hal ini terjadi, sepanjang koridor hingga kantin pun riuh seketika. Tentu saja, sebagai orang baru, Karin mulai memahami kalau ternyata teman sebangkunya adalah seorang yang populer.

"Eh, Ino-chan! Shion-chan!" Sakura melambai, tetapi ketika dua orang yang dipanggil Sakura itu menengok, mereka malah cepat-cepat pergi. Seolah tak mendengar panggilan Sakura tadi.

Mengerutkan alis, Karin menatap wajah murung Sakura, kemudian dia tersentak ketika melihat Sasori yang tersenyum tipis, tetapi terasa amat dingin. Apa itu?

"Mereka tidak dengar, ya?"

"Sudahlah, Saki. Mereka tidak akan berguna dan kau tidak akan mati jika tak bersama mereka. Yang terpenting, hanya aku dan satu-satunya bagimu." Tangan Sakura digenggam Sasori, dan mereka berjala berdua.

"Eh, tunggu Karin-chan loh, Soo-chan." Membalikkan wajah, Sakura mengulurkan tangannya dan tersenyum.

Sementara itu, Karin masih sedikit terkaku, entah kenapa ia seperti menyadari aura keposesifan yang begitu terasa dari Sasori. Lelaki itu adalah kakaknya Sakura, bukan? Namun, entah kenapa Karin seperti melihat bahwa Sakura selalu diawasi. Dirinya mengingat ucapan wali kelas mereka, sesaat ketika ia berada di ruang guru, bahwa tidak ada yang tahan duduk dengan Sakura karena Sasori selalu mengintimidasi. Sedang wali kelas sendiri tidak bisa berbuat apa-apa karena Sasori tidak menyalahi peraturan sekolah dan tidak melakukan tindakan bullying.

Untuk itu, wali kelas mengatakan agar Karin tidak terlalu mengambil hati sifat Sasori yang memang selalu over protektif kepada adiknya. Mungkin, saudara kembar memang memiliki ikatan yang kuat dan kekhawatiran yang berlebih.

Mungin yang dikatakan wali kelas mereka memang benar, Sasori sendiri dari yang diberi tahu para guru yang mengajar, bukanlah murid yang badung atau suka berkelahi, peringkat tertinggi di kelas pula. Maka dari itu, Karin mungkin hanya menaruh curiga berlebih, kalau Sasori memang bukan tipe seperti yang diceritakan rekan kelasnya sebelum saudara kembar itu hadir.

o

o

o

Pulang sekolah, Karin berjalan menuju halaman bersama si kembar kembali, kemudian menunggu jemputannya. Hari ini, kakak angkatnya yang bungsulah yang menjemputnya. Kalau tahu begitu, dia pasti langsung pergi saja naik taksi sebelum mengiyakan ucapan ibu mereka. Bukannya Karin membenci kakak bungsunya, ia hanya sering sebal karena si Maniak Tomat itu selalu cari gara-gara. Sifar yang sangat berbeda dengan Itachi-nya, bagaimana bisa dua orang yang memiliki darah yang sama memiliki kepribadian terlalu berkebalikan. Namun, jika dipikir-pikir hal itu adalah nyata, contohnya saja kembar Haruno ini.

"Oh, iya. Karin-chan pulang bersama siapa? Jika tidak ada yang jemput, naik mobil kami saja, tidak masalahakan, Soo-chan?"

Sasori sama sekali tidak menjawab, kalau sudah begini Sakura tahu kakaknya tidak menyukai kehadiran orang lain di tampat pribadi mereka, termasuk di dalam mobil.

Melihat situasi yang tidak mengenakkan, Karin pun mengambil langkah.

"Ah, tidak perlu, Sakura. Aku nanti dijemput saudara angkatku, kok. Nah, itu mobilnya sudah datang."

Tiba-tiba saja, mobil sport itu berhenti tepat di depan mereka bertiga. Sosok lelaki keluar dari mobil dan menatap galak si gadis berambut kemerahan.

"Ck, cepatlah. Buka pintu mobil saja tidak bisa, dasar tak berguna." Itu adalah Sasuke, dia berjalan memutari mobil dan membuka pintunya yang bukan ditari ke belakang, malah ditarik ke atas.

"Itu karena mobilmu yang tidak normal, Baka-Suke. Ah, Sakura, Sasori, aku duluan. Bye." Karin menatap tak sangka Sasori yang sekarang meletakkan tangannya di pinggang Sakura. Namun, sepertinya si gadis merah muda telah biasa dengan perlakuan itu. Kenapa Sasori memeluk protektif adiknya? Kemudian, Karin menatap Sasuke yang sekilas beberapa kali memperhatikan Sakura.

"Ah, iya. Hati-hati di jalan, Karin-chan dan kakaknya Karin-chan." Sakura melambaikan tangan, dan tersenyum, membuat Sasuke mengerutkan alis dan melengos pergi.

Melihat mobil itu melanju dan melewati mereka untuk keluar dari area halaman Sekolah, Sasori pun tersenyum tipis. Entah kenapa dia tidak suka dengan kehadiran Karin yang terlalu dekat dengan adiknya, apalagi gadis itu juga beberapa kali seperti memikirkan sesuatu tentang dirinya atau kedekatannya dengan Sakura.

o

o

o

Bersambung

Erza Note:

HALOOOOO

Jadi, Sasuke dan Karin sudah mulai menampakkan diri nih, dan di sini Karin bakal ngajari banyak hal kepada Sakura, dia juga bakal nemuin Sakura sama Sasuke. Heheheh. Tetapi, ya kita lihat kedepannya bakal gimana hehe.

Semoga suka dan jangan lupa vote dan komen yaaa.

Salam sayang dari istri Itachi,

zhaErza.