The One and Only

Naruto Masashi Kishimoto

Chapter 4

Mencintai Seorang Lelaki

Hari ini adalah senin pagi, walau sudah lebih akrab dengan Sakura, Karin masih tidak bisa mengobrol berdua secara serius. Lelaki itu selalu mengacaukan kesempatan yang baru didapatnya. Ia tidak mungkin mengatakan apa yang direncanakan Sasuke dan dirinya. Kemudian, ia mengingat sesuatu, Sasori tidak akan bisa masuk dan mengikuti mereka sampai ke toilet perempuan, bukan? Tentu saja, itulah saat yang tepat.

Melihat si kembar yang baru melewati koridor, dengan teriakan sana-sini dan jeritan nama mereka, di sanalah Karin menghampiri Sakura. Mereka berjalan bersama, dirinya lalu menarik Sakura agar mau ikut dengannya, sebelum Sasori juga menggenggam telapak tangan si gadis.

"Apa yang kaulakukan, Uzumaki?" wajah Sasori teramat dingin, sorot matanya menusuk sekaligus membekukan.

"Aku ingin mengajaknya ke toilet, wajahnya terlihat agak bermiyak, sekaligus membereskan urusan para gadis."

Alis Sasori mengerut, memang wajah Sakura terlihat agak berminyak, tak membiarkan Sakura lepas darinya, Sasori pun menarik pelan hingga si adik berhadapan dengan dirinya.

Mengambil sapu tangan, ia membersihkan minyak tipis yang ada di dahi dan hidung.

"Apa maksudmu membereskan urusan para gadis? Saki, apa kau sedang mestruasi?" jelas Karin melotot karena mendengar pertanyaan Sasori. Gila, lelaki itu bahkan menanyakan hal tabu yang akan membuat malu bagi perempuan, jika ditanyakan atau diceritakan kepada laki-laki. Namun, Sakura berwajah biasa saja dan menggelengkan kepala.

"Aku ingin mencuci muka, Soo-chan. Tidak apa 'kan?" terdiam sejenak, Sasori mengangguk karena tak bisa menolak keinginan Sakura.

Dirinya hanya berdiri di tengah-tengah koridor, memandang Sakura dan Karin yang bergandengan tangan dan perlahan menjauh dari dirinya. Tiba-tiba saja, punggung Sasori tersenggol seorang gadis karena melewatinya dengan agak terburu. Gadis itu terlihat terkejut kemudian meminta maaf, sementara Sasori menolehkan wajahnya.

"Berhati-hatilah ketika berjalan, Nona. Jika tidak ... aku akan mencongkel matamu dengan jari-jariku ini." Tubuh gadis itu bergetar seketika, sorot mata Sasori teramat dingin, tetapi bibirnya mengumbar senyuman lebar.

"Ma-maafkan aku, a-aku tidak akan me-mengulanginya," gadis itu lalu membungkuk dan berlari pergi. Orang-orang sekitar tidak terlalu mendengar percakapan mereka, sehingga tidak ada yang ambil peduli dan tetap meneriaki Sasori.

Mengerutkan alis, Sasori pun kembali melangkah dan menuju kelasnya.

Di dalam toilet, Sakura telah selesai membasuk wajah, rasanya menjadi lebih segar. Entah kenapa berminyak seperti ini, mungkin karena matahari yang cukup terik di pagi hari. Di sampingnya ada Karin, dan mereka tersenyum bersama. Memulai aksinya, Karin pun bertanya kepada gadis di sampingnya.

"Sakura, apa kau memiliki sosok lelaki yang kau cintai?"

Sakura yang baru selesai mengelap wajahnya pun memiringkan kepala tidak mengerti, kemudian mengangguk dengan antusias. Tentu saja dia memilikinya.

"Iya, aku mencintai Oniichan-ku," Karin kembali tersenyum, melihat betapa Sakura menyayangi kakaknya, mungkin gadis itu juga tidak terlalu mengetahui apa yang dia maksud dengan cinta kepada lelaki.

"Wah, itu bagus sekali, aku juga mencintai kakak-kakakku, begitu pula dengan Ayah dan Ibu." Binar di mata Sakura memadam seketika, gadis itu menundukkan kepala.

"Aku juga ingin punya Ayah dan Ibu, tetapi kata Oniichan, cukup dirinya seorang sekarang. Aku tidak ingat suara mereka, bahkan wajah mereka."

"Apa tidak ada fotonya?"

Gelengan kepala menandakan bahwa yang ditanya Karin kepada Sakura tidak dimiliki keluarga mereka, kalau dipikir-pikir sewaktu ia ke rumah Sakura, memang tidak ada foto orang tua mereka yang dipajang. Padahal, melihat sekilas pun tahu kalau keluarga Haruno teramat kaya, jadi tidak mungkin tak sanggup hanya sekadar memasng foto keluarga.

"Ah, mengenai lelaki yang kau cinta, itu kan kakakmu. Bagaimana dengan kekasih, Sakura?"

Bola mata gadis itu membesar, merasa penasaran dengan apa yang dimaksud oleh Karin. Namun, sekali lagi Sakura tersenyum teramat lebar lagi.

"Oniichan-ku adalah kekasih dan suamiku kelak." Mendengarkan hal, itu Karin langsung terngaga sebentar, kemudian ia pun tersenyum dan membelai kepala Sakura, Karin yang memiliki tinggi lebih daripada Sakura cukup mudah melakukan hal itu.

"Sakura, kau tahu Hinata?" kepala gadis itu mengangguk. "Hinata dan Neji adalah kakak dan adik, mereka saling mencintai dan menyayangi, tetapi Hinata berpacaran dengan lelaki yang bukan kakaknya."

"Kenapa begitu? Seharusnya Hinata-chan berpacaran dengan Neji, oniisan-nya juga."

Entah apa yang telah dikatakan dan didoktrin Sasori, Sakura benar-benar teramat jauh dari dunia dan pergaulan, hingga gadis itu tidak mengetahui norma-norma masyarakat dan yang pantas dan tidak pantas.

"Kalau kau mau tahu alasannya, kakakku dan pacarnya Hinata berteman, kau mau bertemu mereka dan kau bisa menanyakan langsung kepada mereka. bagaimana?"

"Ah, itu ide yang sangat bagus, aku harus tanya Oniichan dulu, Karin-chan."

Karin tersenyum kembali, tepatnya menyeringai ia pun menggelengkan kepalanya.

"Tidak, jangan beritahu Sasori, ini adalah rahasia antar sesama sahabat. Bagaimana?"

Gadis itu melompat dan langsung memeluk Karin, anggukan kepala terasa saat Sakura berbicara dan menyetujui apa yang akan mereka lakukan. Tentu saja Sakura senang, ia belum pernah memiliki sahabat dan sekarang Karin telah resmi menjadi sahabatnya. Orang yang terdekat selain Sasori dan bisa diajak untuk berbagi kisah. Benar-benar sesuatu yang sangat membahagian dan luar biasa untuknya.

"Karin-chan, apa persahabatan kita juga dirahasiakan kepada oniichan-ku?" gadis itu mengerutkan alisnya, ia belum pernah melakukan hal ini sebelumnya jadi tidak akan tahu bagaimana reaksi Sasori nanti.

Karin menganggukkan kepala, kemudian mereka berjalan keluar dari toilet.

"Sepertinya, Sasori lebih suka kita tidak menggumbar ini. Dia terlihat selalu khawati kepadamu, mengenal hal baru, pasti itu akan mengkhawatirkannya, bukan?"

"Karin-chan, benar. Aku tak ingin Soo-chan selalu khawatir, dia sering kelelahan karena aku. Kasihan sekali."

o

o

o

Masalah lainnya adalah tidak mudah bagi Karin untuk membawa Sakura sendiri tanpa adanya Sasori. Lelaki itu benar-benar menjaga adiknya dengan begitu ketat, bergaul dengan siapa, bebicara dengan siapa, bahkan belajar dengan siapa. Hingga suatu hari, Karin tidak hadir karena sedang sakit, mendengar hal itu, tentu saja Sakura khawatir bukan main. Sahabatnya itu memang sempat menghubungi bahwa dirinya tidak akan masuk.

Memujuk Sasori, mereka pun memutuskan untuk mampir ke rumah keluarga Uchiha. Siang hari setelah pulang sekolah, setelah membeli beberapa buah tangan untuk orang yang akan dijenguk, mereka pun sampai.

Saat berada di depan pintu, Sakura dan Sasori dipersilakan masuk oleh pelayan, mengatakan bahwa Karin sedang berada di kamar dan sedang istirahat.

"Sebaiknya kita menitipkan bingkisannya dan pulang, Saki. Uzumaki sedang tidak bisa diganggu, dan dia butuh istirahat."

Mengerutkan alis, Sakura menggelengkan kepala dan menunjukkan voice mail Karin, yang menyerukan agar Sakura dan Sasori masuk saja langsung ke kamarnya.

"Tidak apa, ayo. Karin-chan menunggu kita, Soo-chan." Lelaki itu terlihat menghela napas, kemudian menggerakkan kakiknya dan naik tangga menuju kamar Karin.

Di dalam sana, ada Mikoto yang baru selesai menyuapi Karin bubur, wajah gadis itu memberenggut dan terlihat tak senang, tetapi Mikoto malah ceria, dan menyambut kedatangan Sakura beserta kembarannya.

"Sini, Nak. Kalau gitu Tante keluar dulu, ya."

"Terimakasih, Tante."

Sakura menyerahkan roti panggang kesukaan Karin, dan mereka mengobrol tentang banyak hal, Sasori yang duduk di bangku meja belajar si pemilik kamar hanya bisa diam dan memperhatikan interaksi adiknya itu dengan teman sebangku. Tidak tahu entah sejak kapan dua orang gadis ini menjadi begitu dekat, alisnya mengerut karena Sakura pun sudah tidak terlalu banyak bercerita kepadanya belakang ini.

Apa yang telah ia lewatkan, dan kenapa Sakura menjadi lebih akrab dengan orang lain.

Kemudian tiba-tiba saja pintu kamar terbuka, seorang lelaki bersetelan dan teramat rapi langsung masuk dan ketika menyadarinya, si pemilik kamar langsung histeris.

"ITACHIIII!" Karin mengangkat tangannya dan bukan untuk memeluk lelaki itu, malah memukulu dada dan mejambak rambut panjang terkucir rendah tersebut.

"Aw, hei, tenanglah. Baru kutinggal dua minggu saja sudah langsung sakit?"

Melihat ada dua orang tidak dikenal, Itachi pun menangkap kedua tangan Karin dan melepaskannya perlahan dari pakaiannya yang dicengkeram. Lelaki itu lalu berdiri dan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Tersenyum, lalu memperkenalkan diri. Di sampingnya, Karin pun memperkenalkan Sakura dan Sasori, mereka saling mengangguk sopan. Dan sekarang Karin memamerkan bahwa Itachi adalah pacarnya.

"Bukannya, Itachi-nii adalah kakaknya Karin?" kedua alis itachi naik, sedikit tidak paham dengan pertanyaan Sakura dan kemudian dia tersenyum.

"Ah, tenang saja, Sakura. Dari awal aku dan Karin bukanlah keluarga kandung, jadi Karin adalah anak dari teman ibuku, orang tuanya meninggal ketika masih kecil sekali. Namun, sebelum kepergian Nyonya Uzumaki, beliau menginginkan agar aku kelak dinikahkan dengan Karin. Karena gadis ini tidak sabaran, untuk sekarang kami berpacaran saja."

Karin tersenyum, Itachi yang tidak tahu apa-apa menjawab dengan sangat baik.

"Benar, Sakura. Aku berpacaran dengan Itachi karena dia bukan kakak kandungku, kalau dia kakak kandungku, itu sangat tidak mungkin dan berbahaya kelak."

Mendengar hal itu, baik Sakura maupun Sasori menganggapi dengan ekspresi berbeda. Sakura terkejut, sedangkan Sasori berdiri dari kursinya. Menyerukan kepada sang Adik agar mereka lekas kembali ke rumah. Namun, kali ini Sakura tidak mau mengikuti keinginan sepihak Sasori. Dirinya masih nyaman berada di sini dan ingin bercerita banyak hal kepada Karin dan kakak angkat gadis itu.

Menengahi, Itachi pun memengang pucuk kepala merah muda itu, mencoba menghibur wajah yang bersedih. Mengatakan sebaiknya sang gadis mengikuti hal yang disarankan kakaknya karena memang benar bahwa hari sudah mulai sore dan mereka terlalu lama menjenguk Karin.

"Tidak apa-apa, kau bisa ke sini kapan pun kau ingin, Sakura. Kalau mau juga bisa menginap, tetapi tidak sekarang karena Karin sedang sakit dan aku khawatir kau akan tertular nantinya."

"Bolehkan?" Sakura menggenggam tangan Itachi, teramat senang sekarang. Ternyata mempunyai banyak kenalan itu memang mengasyikan.

"Tentu saja, nanti kita bisa mengobrol lagi, tetapi sekarang pulanglah. Lihatlah, sepertinya kakakmu itu sedang lelah." Menolehkan wajah, Sakura menatap wajah Sasori di sampingnya, kemudian dia langsung memeluk kakaknya itu dan meminta maaf sambil mencium pipi.

Sekarang, mereka pun berpamit diri, ketika Sasori dan Sakura telah keluar dari kamar Karin, Itachi langsung mengubah raut wajahnya, dari santai dan terlihat ramah, menjadi penuh selidik dan seperti memikirkan sesuatu.

"Gadis itu, tak paham dengan hubungan keluarga 'kah?" Karin melebarkan matanya, dalam sekali perjumpaan saja, lelaki itu bisa menebak apa yang tengah menjadi permasalahan dari Sakura dan Sasori. "Dan yang mengendalikan adalah kakaknya, eh?"

"Ba-bagaimana kau tau, Itachi?"

Tersenyum, Itachi hanya mengelus kepala Karin dan menyerukan agar gadis itu beristirahat.

"Jangan terlalu dekat dengan Haruno Sasori, dia tak wajar. Aku telah mendengar banyak rumor tentang dirinya, yang jenius dan berbakat dalam seni. Namun, tak banyak yang tahu dia juga berbahaya."

o

o

o

Bersambung

o

o

o

Halooo gimana chapter ini hihi. Pelisss jangan negative thinking sama Saso huhuhuhu. Dia itu kakak yang unyu dan bertanggung jawab.

Oh ya, untuk pair aku konsisten kok di SasoSaku, dan karena ini tema dark jadi ya nikmatilah hahahaha.

Ok, salam sayang dari zhaErza istrinya Itachikoi.