The One and Only

Naruto Masashi Kishimoto

Chapter 5

Kabuto dan Shizune

o

o

o

o

o

Malam hari, Sasori duduk termenung di sofa, sedangkan Sakura sedang tertidur setelah mereka belajar bersama. Gadis itu terlihat lelah karena sampai sore terus beraktivitas, ia menghela napas dengan mata yang sejak tadi terpejam, setelahnya tiba-tiba senyuman terlihat di wajah dan disusul dengan kelopak mata yang terbuka. Tangannya mengepal, baru mengetahui keluarga Uchiha yang dia datangi tadi adalah keluarga dari Uchiha Itachi. Laki-laki jenius yang juga sering bekerja sama dengannya di pameran. Laki-laki itu adalah seorang arsitek terkenal dan memiliki beberapa perusahannya sendiri, yang kadang ia minta untuk merancang museum dan gedung pameran yang ingin ia bangun.

Dan berani sekali mereka mengatakan hal itu di depan Sakura, tidak bisa ditolelir. Menghirup napas, lantas ia berdiri dan berjalan ke arah ranjang untuk elihat Sakura yang terlelap, kemudian membelai surainya. Ia perlahan masuk ke dalam selimut dan memeluk adiknya itu dari belakang, memejamkan mata dan mencoba bermimpi indah.

Tersentak, ternyata pagi telah menjelang. Sasori mengedipkan mata dan mengerutkan alis ketika tak menemukan adiknya di ranjang. Memeriksa suhu bantal, dingin yang didapat dan menandakan bahwa Sakura sudah cukup lama terbangun dari tidur. Matanya melirik jam di nakas, pukul tujuh pagi. Seharusnya mereka sudah berangkat ke sekolah, dan para pelayan pasti sudah datang sekarang.

Seperti yang diduga, setelah selesai membersihkan diri, Sasori berjalan cepat karena mendengar suara ribut-ribut dari arah dapur. Ia pun memeriksa dan menemukan Sakura yang menangis karena melihat salah seorang pelayannya terluka, beberapa orang mulai datang dan dirinya pun menelepon ambulan untuk membawa Ayame yang sekarang tengah menangis histeris. Jarinya terpotong, dan di sana terlihat Sakura pun sama syoknya.

"Saki! Kau tak apa? Tolong kalian urus Ayame, dan yang lainnya bereskan kekacauan ini, aku sudah menelepon ambulan dan mereka akan segera sampai, untuk pertolongan pertama, hentikan pendarahannya." Sasori membawa Sakura ke ruang keluarga untuk menenangkan gadis itu, ia memanggil kepala pelayan agar membereskan dapur.

Gadis di dalam pelukannya masih bergetar, matanya tak fokus.

"Saki ingin membuat sarapan untuk Oniichan, tetapi Ayame-nee, hiks."

"Ya, sudah. Tidak apa-apa, nanti Oniichan akan mengurusnya, dia sedang dibawa ke rumah sakit. Sekarang, sebaiknya kau membersihkan tubuhmu, Saki." Dirinya melihat noda darah yang tercecer di leher dan pakaian Sakura. Membantu Sakura berdiri, dirinya membimbing sang Adik untuk membersihkan diri.

Seorang pelayan baru saja masuk ke kamar, Sasori menyerukan agar Tsumugi meletakkan teh hangat dan sarapan di atas meja. Untung saja, sekarang Sakura sudah lebih tenang. Mendekati adiknya yang duduk dan tengah mengeringkan rambut, ia lalu mengambil alih handuk tersebut dan membantunya. Dari dalam lemari yang berbentuk ruangan, Sasori mengambil sisir dan merapikan rambut Sakura.

"Teh terlebih dahulu yang diminum, Saki." Gadis itu menganggukkan kepala. "Hirup wanginya agar membuatmu tenang."

"Terimakasih, Oniichan, ini sudah lebih baik."

Tersenyum, Sasori membelai kepala adiknya.

"Hari ini sebaiknya kamu di rumah bersama Kabuto dan Shizune, aku akan ke pameran karena ada pekerjaan yang harus diurus, mengerti. Kamu harus bersikap baik dan jangan lagi pergi ke dapur, Saki. Kalau mau membuat sesuatu, suruh Shizune karena dia bisa diandalkan seperti biasa."

Gadis itu menganggukkan kepala, walau terlihat ragu, tetapi akhirnya ia mengatakan sesuatu.

"Boleh mengundang Karin-chan?"

Bel berbunyi, itu adalah Kabuto dan Shizune, pasangan suami-istri yang akan selalu menjaga Sakura jika dirinya harus keluar rumah karena pekerjaan. Sasori mengambil ponselnya, kemudian membuka pintu melalui digit angka yang dipencet di layar ponsel. Pintu pun terbuka dan masuklah kedua pasangan suami-istri itu.

Tersenyum ramah, Kabuto dan Shizuke menyapa kedua orang yang adalah anak dari majikannya.

"Jadi, boleh 'kan, Oniichan. Ayolahhh!" tidak biasanya, Kabuto mengerutkan alis karena melihat Sakura mendesak Sasori.

Menengahi, Kabuto pun tertawa dan bertanya.

"Hei, hei, ada apa ini, Sakura?"

"Oniichan tidak mau mengizinkan, Saki harus mengerjakan tugas dengan Karin-chan. Tidak masalah 'kan kalau diundang ke sini. Lagian, Karin-chan sudah beberapa kali datang."

Mengangguk-angguk, Kabuto pun mengingat kalau Sakura pernah membahas teman barunya. Entah kenapa gadis itu bisa dekat dengan seseorang, padahal biasanya Sasori akan berbuat sesuatu agar gadis itu tak terlalu dekat dengan seseorang.

"Aku sih terserah Sasori," berucap demikian, Shizune tidak mau ambil risiko, terserah pada si sulung saja.

"Ayolah, Oniichan." Sakura masih berusaha memujuk kakaknya itu, memukul pelan bahu sang lelaki, tetapi tidak juga mendapatkan respons.

Menghela napas, sekarang ia sudah terlambat.

"Jangan membuat Kabuto dan Shizune repot, Saki. Jika ada aku tak masalah, tetapi sekarang mereka yang menjagamu." Berdiri, Sasori pun mulai merapikan setelannya, ia mengecup dahi sang Adik dan berpamit kepada kedua orang yang akan menjaga adiknya itu.

Untuk saat ini, yang pertama harus ia lakukan adalah pergi ke rumah sakit dan mengetahui dengan jelas apa yang terjadi sebenarnya.

o

o

o

Berada di ruang makan saat sedang santap siang, membuat Sakura bosan bukan main. Dirinya berpikir apa salahnya jika mengundang Karin ke rumahnya ini di saat Sasori tidak ada, lagi pula kan sekarang juga ada Kabuto dan Shizune yang menjaganya. Menghela napas, ia harus membicarakan ini lagi agar bisa bertemu dengan Karin untuk mengerjakan tugas bersama.

Kabuto terlihat telah selesai menyantap makan siangnya, mengernyitkan alis ketika melihat Sakura tak terlalu berselera makan, jika begini gadis itu bisa-bisa sakit lagi.

"Kenapa melamun, Sakura?" Shizune menyuarakan apa yang juga dipikirkan suaminya.

Kembali menghela napas, gadis itu menggelengkan kepala.

"Ayolah, izinkan Saki bertemu Karin-chan, kami harus mengerjakan tugas. Kasihan Karin-chan pasti menunggu di rumahnya nanti."

"Sasori tidak akan mengizinkan kamu sembarangan pergi, Sakura. Lagi pula, habiskan dulu makan siangmu, bahkan kau tak menyentuhnya setengahnya." Mengerutkan alis dan cemberut, Sakura sama sekali tak menyentuh piringnya lagi.

"Tidak mau makan," tandas Sakura.

Gadis ini memang lebih sulit dikendalikan jika moodnya sedang jelek dan berjauhan dari Sasori. Belum lagi, perkara serperti ini baru pertama kali dihadapi Kabuto dan Shizune. Si wanita mendekati Sakura dan mengelus kepalanya, mencoba menenangkan.

Wajah Sakura terlihat tak biasa, seberkas emosi menguasi mimiknya itu, tiba-tiba gadis itu tersenyum ketika mendengar Shizune kembali memujuknya untuk menghabiskan makanan.

Sakura menengadahkan kepala dan menatap wajah Shizune.

"Shizune-san jangan nakal, Oniichan tidak suka jika Saki dipaksa," gumanan Sakura terdengar, sebelah tangan Shizune langsung ditarik Kabuto. Piring pecah dan menyebabkan lantai penuh dengan beling.

"Baiklah, Saki boleh voice call dengan Karin, bilang kepadanya agar berkunjung ke sini, ok." Kabuto tersenyum, dan membuat raut wajah Sakura jadi berbinar.

"Nanti, kalau Karin-chan datang, akan kumasakan kue yang enak, Sakura." gadis itu berdiri dan melompat memeluk Shizune, untung saja kaca-kaca hanya terinjak oleh sepatu Sakura yang memiliki sedikit tubit.

Menghela napas, Shizune menatap suaminya dan lelaki itu menganggukkan kepala.

"Namun, Sakura harus habisakan makanannya, ya. Agar bisa kelihatan sehat dan semangat, Sasori dan Karin-chan pasti tak suka kalau tahu Sakura tak menghabiskan makan siang." Menganggukkan kepala, Sakura pun pindak ke tempat duduk yang bersih, dan Shizune kembali mengambilkan makan siang untuk gadis itu.

Setelah selesai makan, mereka memutuskan menunggu Karin di ruang keluarga, Sakura baru saja selesai menutup teleponnya dan gadis itu mulai membaca buku-buku yang sudah mereka kumpulkan. Sedangkan Kabuto sedang menggunakan ponsel untuk bertukar pesan dengan Sasori memberitahu kepada lelaki itu bahwa mereka mengizinkan Karin datang untuk menghibur Sakura yang sejak tadi moodnya buruk.

Di dalam pamerannya, setelah selesai meresmikan sebuah gedung galeri khusus patung lilin, Sasori pun menghela napas. Banyak lagi yang harus diurus, dan Sakura yang moodnya buruk tidak akan mudah ditenangkan. Apalagi semenjak Karin masuk di dalam lingkup mereka, Sakura mulai sulit dikendalikan.

Belum lagi permasalahan Ayame, gadis itu memang pelayan baru dan dengan bodohnya melanggar aturan yang telah ia jelaskan semenjak bekerja di rumah. Padahal sudah ia katakan kalau Sakura tidak boleh membantu mereka, berinteraksi sekadarnya saja sebagai tuan rumah dan pelayan, tetapi gadis itu malah menawarkan Sakura untuk membantunya memasak sarapan.

Memejamkan mata, ia pun berjalan dan mengambil laptopnya yang ada di ruangan. Sebelum acara kembali dimulai, ia harus melihat Sakura dan apa yang tengah gadis itu lakukan bersama Karin. Sepertinya, ia harus menemui Karin dan melarang gadis itu untuk dekat dengan Sakura.

o

o

o

Seperti yang dikatakan bungsu Haruno, Karin pun datang beberapa saat kemudian bersama dengan Sasuke. Sepertinya karena mengetahu Sasori sedang tidak ada di rumah, gadis ini pun mulai melancarkan serangannya. Setelah turun dari mobil dan menuju pintu masuk, Sasuke dan Karin menemukan seorang wanita yang menyapa mereka dan mempersilakan masuk.

Mereka menuju ruang keluarga yang di sana sudah ada Sakura, duduk di meja rendah, kemudian seorang lelaki asing yang belum pernah dijumpainya.

Terlonjak, Sakura pun menyerukan nama gadis berambut merah dan membuat Karin tesenyum. Mereka duduk di dekat sang Gadis setelah memberi hormat kepada kedua orang yang tidak dikenal. Tidak seperti Sasori, Kabuto dan Shizune tidaklah terlalu ketat, walau tentu saja mereka tetap mengawasi si gadis musim semi dan siapa saja yang bergaul dengannya jika tidak ada Sasori.

"Oh, ya, Sakura. Kau sudah bertemu dengannya beberapa waktu lalu, bukan? Dia ini adalah Uchiha Sasuke, kakak angkatku dan yang bungsu di Uchiha." Karin mulai menjelaskan dan Sasuke hanya tersenyum tipis sambil menganggukkan kepala.

"Wah, salam kenal, Sasuke-nii. Semoga kita bisa berteman baik, ya."

"Tentu saja, Sakura."

Kabuto yang duduk sejak tadi pun mengerutkan alis, berpikir laki-laki ini bukanlah rekan kerja kelompok Sakura dan hanyalah kakak angkat dari sang gadis?

"Sebentar, Nona. Jadi, Uchiha-san ini bukanlah rekan tugas kelompok kalian?" mencoba mencari kejelasan, Kabuto pun bersuara dan dia melihat Sakura yang mengangguk.

"Saya ke sini untuk menemani Karin yang adalah adik perempuan kami satu-satunya," ucapan itu terhenti, kemudian dia tersenyum dan kembali berbicara, "tidaklah baik, bukan? Meninggalkan adik perempuan satu-satunya tanpa pengawasan," sambungnya dengan suara teramat tenang, Sasuke lalu menatap Shizune dan berterimakasih ketika telah dihidangkan teh.

Dari samping, Sakura pun mengomentari.

"Iya, itu benar sekali, Sasuke-nii. Sasuke-nii harus lebih sering menemani Karin-chan, tidak baik jika adik perempuan berjalan-jalan sendirian."

Menganggukkan kepala, Sasuke tersenyum. Sementara itu, Kabuto masih mengerutkan alis karena merasa Sasuke adalah sosok yang patut mereka garis bawahi.

Laki-laki ini sengaja, ya.

o

o

o

o

o

Besambung

Oh ya, emang sengaja ya Saku dibuat polos karena ada alasan hehe.

dan maafkan typo karena Erza gak bisa edit huhu.

Halooo ... karena Erza agak bosan, mungkin nanti Erza ubah jadwal update ff ini ya heheheh. Baru Erza ketik sampe chapter sembilan sihh.

Nah, Nah, mungkin ada yang bisa nebak sebenarnya Sakura kenapa?

Hihihi, di nanti di chapter selanjutnya akan dijelasin Sakura kenapa dan Sasori juga hehehe.

Ok, salam sayang dari istri Itachikoi,

zhaErza.