The One and Only

Naruto © Masashi Kishimoto

.

.

.

Chapter 6

Empat Mata

.

.

.

Walau telah berada di rumah sang Haruno tanpa keberadaan Sasori, nyatanya bagi mereka tak mudah untuk menjalankan rencana. Di tempat ini, mereka selalu saja diawasi oleh dua orang yang duduk tak jauh dari meraka. Terkadang memang Shizune ke dapur untuk menambah camilan atau teh, tetapi Kabuto nyaris tak bergerak dari ruangan ini dan matanya juga sesekali menatap apa yang mereka kerjakan.

Sasuke yang mulai bosan pun mengeluarkan ponsel, kemudian memberikan sesuatu kepada gadis itu.

Sakura menerima uluran ponsel Sasuke dari meja, gadis itu menatap tak mengerti, setelahnya ia melihat id sang lelaki. 'SuperTomato', itu adalah id dari aplikasi chat yang diberikan Sasuke. Melihat kebingungan Sakura, dirinya pun tersenyum tipis.

"Tidak keberatan?" gadis itu menganggukkan kepala dan menggeser ponsel Sasuke kembali. Diambilnya ponse yang ia punya, kemudian ia koneksikan ponselnya dengan WIFE rumah. Membuka aplikasi chat dan langsung meng-add id dari Sasuke tadi.

Gambar yang tertampil adalah sebuah tomat segar, nama lelaki itu pun tak dirubah dan tetap Super Tomato. Tidak ada keterangan atau foto-foto seperti aplikasi lainnya. Kosong dan tak terlihat menarik selain nama yang unik dan gambar sebuah tomat super besar dan merah. Sakura tertawa kecil dan menaruh ponselnya kembali di dekatnya.

Ketika menjelang sore, Sasuke dan Karin pun berpamit diri. Tidak lupa Sakura memberikan Karin sebuah pelukan, yang mengantar kali ini adalah Kabuto karena Shizune sedang membereskan ruangan yang dipakai tadi.

Di dalam mobil, Karin mengeluh karena tidak bisa melakukan apa pun. Gadis itu menyandarkan punggungnya dan menutup mata.

"Aku sudah memberikan id chatku kepadanya, tenanglah ini tak seburuk yang kau pikirkan."

Menengakkan punggung, Karin langsung menatap Sasuke, ia benar-benar tidak tahu kapan lelaki itu memberikan id chat kepada Sakura.

"Syukurlah. Oh, ya. Kapan Naruto datang, Sasuke? Aku pernah menceritakan hubungan Naruto dan Hinata, sepertinya Sakura tertarik ingin berjumpa dengan lelaki itu, mungkin Hinata juga. Mengingat di kelas sangat jarang berbicara karena ada Sasori dan Hinata pun teramat pemalu."

Sasuke mengendikkan bahu, Naruto itu sudah seperti pencuri saja, datang tak diundang dan pulang tak diantar. Lelaki itu bahkan sekarang agak jarang ke kampus karena Ayahnya sedang melakukan projek penting untuk perusahaan, dan sebagai anak tertua, Naruto harus ikut andil.

"Tenanglah, dia tak akan tahan kalau tidak mengacaukan rumah, apalagi masakan ibu sangat dia suka."

Karin ingat, Naruto yang sejak kecil tak punya ibu selalu memaksa Mikoto untuk menjadi ibu angkatnya juga, membuat Itachi dan khususnya Sasuke langsung mendelik tak mengizinkan. Bagaimanapun, Mikoto tak bisa mereka bagi dengan Naruto yang selalu cari ulah dan membuat rumah selalu ribut. Dirinya terkekeh kecil karena mengingat tingkah Naruto.

.

.

.

Pelajaran renang di sekolah adalah yang paling tak disukai Sasori, dia tak akan sudi bertelanjang dada karena harus melakukan pratek olah raga itu. Sementara Sakura awalnya tak diizinkan, tetapi karena Sakura tak sejenius Sasori yang bisa saja menutupi nilainya jika ada satu yang tak sempurna, akhirnya pun ia mengikuti penjelasan guru.

Mengawasi adiknya, Sasori berdiri sambil menyandar di dinding.

Ia melihat Karin, dan beberapa rekan kelas yang namanya tak diingat sedang beradu kecepatan renang sesuai perintah sang Guru. Pelajaran ini dibimbing oleh dua orang guru, sesuai kelamin, guru perempuan untuk para siswi dan guru laki-laki untuk para siswa.

Menghela napas, Sasori mendatangi adiknya dan memberikan gadis itu handuk. Sakura tertawa, dia baru saja menjadi juara ketiga dan itu tidaklah buruk.

"Karin-chan terlalu cepat, tetapi tidak apa karena Saki bisa juara juga, semangat!"

Sakura yang masih mengelap wajahnya, pun ditarik Karin, pelajaran baru saja selesai dan mereka ingin mandi bersama.

"Oniichan, kita bertemu lagi di kelas, ya."

Berjalan bersama, menuju kamar mandi yang masih satu bagunan dengan kolam renang, Sakura langsung melepas topi penahan airnya.

"Sehabis ini kita makan bekal, kemudian pelajaran sejarah yang teramat susah. Haahh."

Tertawa, Karin pun menatap kasihan Sakura yang lemah dengan mata pelajaran satu itu.

"Oh, ya. Aku dengar ada yang mendapat teman baru?"

Sakura membulatkan matanya, bibirnya langsung mengumbar senyum, dirinya pun tertawa dan merasa malu. Menggelengkan kepala, Sakura masih belum yakin apakah dengan ini mereka sudah sah menjadi teman, soalnya dirinya sendiri baru satu kali bertemu dengan Sasuke.

"Ah, belum banyak yang kami bicarakan. Apa itu namanya sudah berteman? Kami baru satu kali berjumpa, Karin-chan?"

Kepala berambut merah Karin menggeleng, dia pun menjelaskan kalau ingin berteman harus sering bercengkerama dan bisa saling berbagi, tentu saja harus bertemu juga.

"Kalau begitu, bagaimana caranya bertemu Sasuke-nii tanpa Oniichan?"

Mengerutkan alis, Karin pun mendapatkan ide.

"Sasori adalah orang yang sibuk, bukan. Dan selama dia tak ada maka kedua orang itu yang menjagamu. Bagaimana kalau kau cari tahu jadwalnya, kemudian minta alasan untuk bekerja kelompok bersamaku di rumah. Dan minta dia percaya padaku, kalau kau yang minta, pasti Sasori mau, Sakura. Nanti, akan aku usahakan Naruto dan Hinata datang juga, bagaimana? Kau ingin bertanya kepada mereka 'kan?"

Tentu saja, selain akan mendapat teman, Sakura akan mendapatkan penjelasan dari hubungan yang belum terlalu ia mengerti. Kenapa Hinata lebih memilih berpacaran dengan Naruto, padahal dia memiliki oniisan-nya. Kemudian, pernyataan Itachi saat Karin pun sering sekali mengganggunya. Dan ketika nanti mereka bersama, dirinya bisa mencari tahu tentang hal itu. Sasori pasti tidak akan suka jika dia banyak bertanya tentang hubungan mereka berdua.

.

.

.

Ada yang tak beres sekarang, Sakura lebih senang terlihat bermain dengan ponselnya daripada mengobrol dengan dirinya. Daripada penasaran, ia pun mendekati Sakura dan bertanya sedang apa dengan ponselnya itu.

Si gadis menatapnya dan tersenyum.

"Sedang berbicara dengan Karin-chan. Oh iya, Oniichan bagaimana kalau kita jalan-jalan ke taman hiburan? Sudah lama tidak ke sana."

Mendudukkan diri di sofa yang sama, Sasori menyandar di ceruk leher adiknya.

"Untuk beberapa saat ini masih belum bisa, ada pekerajaan yang harus kuurus langsung. Maafkan Oniichan, ya, Saki. Namun, jika sudah selesai, kita akan ke sana, setuju?"

Menganggukkan kepala, Sakura pun mengucap 'ya' dengan semangat. Teringat sesuatu, dirinya pun mengatakan apa yang dibicarakan empat mata dengan sahabat merahnya tadi siang.

"Minggu ini akan mengerjakan tugas di rumah Karin-chan, Oniichan 'kan sedang sibuk, jadi nanti mengantar Saki saja setalah itu kembali beristirahatlah atau Oniichan masih bekerja di hari minggu?"

Benar, meskipun hari minggu, dirinya masih harus bekerja, ada barang antik yang harus dia dapatkan di tempat lelang, dan hal itu memakan waktu yang lama. Berpikir, dirinya tak mungkin meninggalkan Sakura sendirian, itu akan cukup berbahaya.

"Diundur saja, minggu depannya lagi, bagaimana?"

"Tidak mungkin, Karin-chan kasian jika harus mengerjakannya seorang diri. Lagi pula, kita sudah berjanji jika seminggu sekali di masing-masing rumah, Bibi Mikoto juga sudah mempersiapkan menu baru untuk kedatangan Saki."

Menghela napas, Sasori pun berdiri.

"Kalau begitu kita bicarakan nanti, Saki. Akan kuusahakan untuk membagi waktuku minggu ini."

Tidak berhasil, Sakura mengerutkan alis dan berjalan menuju kasurnya. Sasori yang melihat hal itu pun memeluk adiknya dan membantu Sakura agar bisa menguasai emosi. Gadis itu terlihat tak senang.

"Oniichan menyayangimu, Saki. Akan kuusahakan untuk ikut bersamamu." Menatap wajah Sakura, membuat Sasori tersenyum sekarang gadis itu terlihat tidak marah lagi dan menganggukkan kepala. "Tidurlah, Saki."

Beberapa saat menemani adiknya, sepuluh menit kemudian gadis itu pun terlelap. Sasori lalu mengambil ponsel adiknya dan mencari nomor dari teman sebangku Sakura, menemukannya ia pun menyalin nomor itu ke ponsel dan langsung menghubungi sang gadis. Jam masih di angka sembilan lewat, seharusnya belum terlalu malam untuk berbicara dengan seseorang.

Setelah beberapa kali sambungan berbunyi, teleponnya pun diangkat.

"Apakah ini kau? Ini aku, Sasori."

Tidak tahu apa yang terjadi di sebrang sana, tetapi untuk sesaat Sasori tidak mendengar balasan. Dirinya pun mengerutkan alis, dan berdiri agar menciptakan jarak aman dari pendengaran Sakura, meski gadis itu tengah tertidur.

"Dengar, aku hanya tak ingin kau terlalu kelewatan. Kau bisa mengatakan apa saja dan memperdayanya, tetapi tidak dengaku."

Bukankah itu kau, Sasori?

Lelaki itu mengerutkan alis, mengembuskan napas dan mencoba lebih tenang.

"Sebaiknya kau mengikuti peringatanku, Sakura tidak diperkenankan berteman dan bergaul dengan siapa pun karena memiliki alasan. Aku tak ingin terjadi sesuatu dengan dirinya, dan aku tak ingin terjadi sesuatu denganmu, Karin."

Jangan sembarangan berbicara, Sasori. Kau yang menyebabkannya seperti itu, dia teramat tak tahu dunia. Kau yang mengekangnya, dengar!

Tidak bisa dipercaya, Karin keras kepala bahkan melebihi dirinya. Jika sudah sepeti ini, kemungkinan tanpa sepengetahuannya, Karin dan Sakura sudah menjalin hubungan yang sangat dekat.

"Aku memperingatimu, Karin. Ini demi kebaikan kita bersama atau kau ingin aku yang mengenyahkanmu sebelum terlambat?"

Dirinya mematikan sambungan ponsel secara sepihak, memejamkan mata dan memijat batang hidungnya. Sialan, Karin. Gadis itu telah ikut campur terlalu banyak, sayangnya Karin tidak terlalu peduli dengan intimidasi implisitnya, jika siswi lain mungkin langsung angkat kaki dari sekolah ini. Apa dirinya harus menggunakan cara nyata agar Karin pergi dari sekolah ini, tetapi Sakura sudah cukup terikat dengan gadis itu, bisa-bisa emosi negatif Sakura lepas kendali.

Menjatuhkan tubuhnya dan duduk di lantai, Sasori mengambil napas. Karin yang adalah pacar Itachi, lelaki itu sebentar lagi pasti akan ikut andil. Apa dia harus bekerjasama dengan Itachi?

Sakura sekarang mungkin masih belum sadar, tetapi lama kelamaan jika dibiarkan, gadis itu tidak akan tinggal diam dan menganggap Karin sebagai miliknya.

Sepertinya, ia harus benar-benar berbicara kepada Karin secara langsung, empat mata. Namun, jika tahu pasti gadis itu akan menjauhi Sakura dan adiknya akan bersedih. Itu akan sama saja.

.

.

.

.

.

Bersambung

Haloo.

Di chapter ini udah agak terang kan yaa tentang Sasori dan Sakura heheh.