Naruto © Masashi Kishimoto
Summary: Semua yang hilang takkan sepenuhnya hilang. Bisa saja semua itu akan muncul lagi. Namun prosesnya tidak mudah. Mampukah Naruto dan Hinata mengembalikan kisah mereka?
Genre: Romance/Hurt/Comfort/Tragedy
Pairing: Naruto U./Hinata H.
Warning: AU, OOC, typo's, minim describe, bahasa kadang baku kadang nggak, ada selipan lagu etc
.
a/n: hae hae, Chaki balik lagi nyaaan '-'/
maafkan diriku telah menelantarkan fic ini, hiksu. Soalnya Chaki baru aja menemukan modem ini, jadi baru bisa apdet._.
oh ya, terima kasih sudah memberi masukan ke Chaki. Chaki bakalan berusaha lebih buat fic ini lebih keren dan panjang lagi.
Ya sudah, mari kita mulai saja fic ini yuhuuu ^^
Gak suka? Tinggal cancel/close kok repot xP
Nb: "Blablabla" percakapan huruf italicpercakapan di telepon
"Blablabla" percakapanhuruf bold bunyi pengumuman
.
Chaki no Utau, In~
.
Kisah Kita
By: Chaki no Utau
Chapter 4: Keputusan Salah.
.
Pagi telah datang. Matahari sudah menyinari bumi konoha yang sudah memulai aktivitas. Langit biru sudah menghiasi langit dan desah angin sejuk menjadi suara diantara keindahan nan cantik ini.
Hinata terbangun dari tidurnya. Kepalanya makin pusing karena ia tidur sampai pagi. Ia beranjak dari tempat tidurnya lalu mematut diri di cermin sebentar. Rambut panjangnya kusut, mata lavendernya sangat sembab, kulitnya sedikit pucat. Hinata mengingat bahwa pertemuannya dengan Naruto yang membuatnya menangis semalaman dan memimpikan kenangannya bersama pemuda itu. Hinata menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha melupakan semua yang terjadi kemarin dan segera masuk ke kamar mandi.
15 menit berlalu dan Hinata sudah terlihat cantik seperti biasa. Ia memakai kaus putih bergambar doraemon, cardigan panjang berwarna biru polos, celana model pensil berwarna hitam. Rambutnya ia ikat sedikit dan sisanya ia gerai ke belakang serta poninya dibiarkan menutupi keningnya. Ia juga menggendong tas ransel berwarna coklat. Setelah memberi wajahnya bedak tipis serta sedikit wewangian di sekitar badannya, ia keluar dari kamarnya menuju ke ruang makan.
Ruang makan kediaman Hyuuga tampak seperti biasa. Hiashi yang masih memakai piyama tidurnya, Neji yang sudah bersiap kuliah serta Hanabi yang sudah bersiap sekolah. Mereka bertiga sarapan dengan tenang lalu melihat Hinata yang sudah duduk disebelah Hanabi.
"Hinata, kenapa kau kemarin tidak makan malam?" Tanya Hiashi yang melihat putri sulungnya sedang mengoleskan selai strawberry di roti.
"E-eh, a-ano itu, soalnya aku capek, tou-san," jawab Hinata beralasan. Ia tak mungkin menceritakan apa yang terjadi di taman Konoha kemarin sore. Untung saja Hiashi tidak bertanya lebih jauh.
"Nee-chan mau kemana kok pagi-pagi sudah rapi seperti ini?" Tanya Hanabi masih heran dengan penampilan kakaknya yang terlihat casual namun tetap cantik.
"Nee-chan mau mengurus pendaftaran buat kuliah di Konoha University," jawab Hinata lalu menggigit roti dan mengunyahnya.
"Hinata-sama jadi masuk fakultas kedokteran?" giliran Neji yang bertanya.
"Tentu saja, aku mau masuk ke fakultas yang sama saat aku di Paris," jawan Hinata lalu meneguk susu putih. "Aku langsung pergi ya, tou-san, nii-san, imouto-chan," lalu Hinata beranjak dari kursi dan menggendong tasnya.
"Cepat sekali, mau bareng Neji? 'Kan kalian 1 kampus sekarang," Hiashi heran melihat putrinya hanya memakan sepotong roti selai strawberry.
"Kalau Neji nii-san mau," jawab Hinata lalu melirik Neji yang sudah selesai meneguk air minumnya.
"Yasudah, saya juga mau ke kaampus." Jawab Neji tenang seperti biasa. Neji mengambil tasnya lalu pamit pada Hiashi dan keluar.
"Aku pergi, otou-san." Hinata pamit pada ayahnya lalu mengacak rambut Hanabi dan pergi bersama Neji.
"Nee-chan!"
.
.
Di kedian Namikaze, seperti biasa, pagi yang seharusnya indah di kediaman itu malah diselingi dengan teriakan nan berisik dari Kushina Uzumaki. Kushina memang harus berteriak sekeras mungkin agar membuat Naruto bangun.
"ANAK BODOH, BANGUUUUUN! KAU MAU DAFTAR KULIAH KAN? MAKANYA BANGUUUN!" teriak sang nyonya Namikaze sambil mengetuk pintu kamar anak tunggalnya terus menerus. Dengan amarah yang meletup-letup, rambut merah panjangnya yang berkibar, mata membulat seram, Kushina terus berteriak tanpa henti.
Dan anehnya, untuk kali pertama, tanpa Kushina harus membuka paksa pintu kamar dan berteriak tepat di telinga putranya, Naruto membuka pintu dan memandang ibunya sweatdrop.
"Kaa-san nggak usah teriak-teriak. Berisik," ucapnya begitu saja lalu melewati Kushina untuk menuju ruang makan.
Kushina bingung. Ada apa dengan Naruto? Kenapa dia cepat sekali bangun? Brlum lagi dia sudah berpakaian rapi, jaket orange-hitam, kaus putih polos, celana jeans panjang, sepatu kets hitam. Padahal setahu Kushina, anaknya itu susah sekali bangun dam lama sekali untuk berpakaian rapi.
"Kaa-san mau ngapain disitu? Jatanya mau sarapan," celetuk Naruto yang ternyata belum ke ruang makan.
"Eh, i-iya iya." Jawab Kushina bingung dan memilih mnegikuti putranya ke ruang makan.
.
"Eh, kau sudah bangun, Naruto? Tanya Minato ketika melihat anak dan istrinya muncul dan sudah duduk di kursi masing-masing.
Naruto mengangguk lalu mengambil sepiring nasi goreng sosis sebagai sarapannya. Disebelahnya ada Sara yang sarapan dengan tenang. Naruto tidak peduli lalu memakan sarapannya.
Minato tetap meneruskan sarapannya dengan tenang. Ia tak memusingkan anaknya yang tumben bangun pagi. Tapi lain dengan Kushina, setelah duduk disamping Minato, wanita berambut merah itu masih bingung dan terdiam.
"Kau kenapa, Kushi-chan?" Tanya Minatp –lebih tepatnya berbisik- lalu menyenggol istrinya yang sekarang sudah memakan saraoannya dengan pelan.
"Aku heran dengan Naru-chan. Dia terlihat beda dari kemarin. Selesai menjemput Sara, dia makan ramen nggak habis. Terus pagi ini, dia bangun pagi dan sudah siap untuk daftar kuliah," jawab Kushina dengan berbisik pula, tak habis pikir dengan sikap Naruto pagi ini. Sangat berbeda dengan Naruto yang dulu.
Minato manggut-manggut, "Biarkan saja, nanti dia juga berubah seperti biasa kok," balas Minato setelah meneguk air minumnya.
"Kau ini, nggak khawatir dengan Naru-chan?" Kushina malah protes dengan jawaban suaminya yang sangat tidak memuaskan.
"Itu masih biasa, istriku. Nanti kalau perubahannya sudah lebih parah dari ini, baru kita tanya," jawab Minato lalu mengacak rambut istrinya. "Sara, kau mau berangkat ke butik ibumu?" Tanya Minato pada Sara yang sudah selesai makan.
"Iya, Jii-san,"
"Mau diantarku atau Naruto? Kebetulan Naruto mau ke Konoha University, kalau kau mau kau bisa melihat-lihat kampus Naruto," tawar Minato.
"Diantar Jii-san saja. Soalnya ibuku sudah menelpon tadi," Sara menolak secara halus. "Aku berangkat dulu, Baa-san." Sara bersalaman pamit pada Kushina.
"Ya, hati-hati," Kushina mengangguk lalu mengantar Minato dan Sara ke halaman, tempat mobil sedan putih terparkir. Minato dan Sara tersenyum lalu masuk kedalam mobil dan pergi.
"Aku juga pergi, Kaa-san." Naruto juga ikut pamit setelah selesai sarapan. Ia bersalaman pamit pada Kushina lalu naik ke motor sport miliknya dan pergi dari kediaman Namikaze.
~oOo~
Konoha University sudah ramai oleh calon mahasiswa baru. Tampak juga beberapa mahasiswa yang memakai jas kampus ini. Halaman luar serta parkiran juga dipenuhi oleh berbagai mobil serta motor dan pedagang yang menjual makanan serta minuman ringan.
Tampak Hinata dan Neji turun dari mobil yang diparkirkan di dekat pintu masuk. Hinata membenarkan rambutnya yang sedikit acak-acakan, sementara Neji jalan terlebih dahulu sambil memakai jas hijau dengan lambang Konoha di dada kanan. Hinata yang menyadari langsung menyusul kakaknya.
"Nii-san, tempat pendaftarannya dimana?" Tanya Hinata yang sudah berjalan disamping Neji.
"Disana," jawab Neji dengan menunjuk loket pendaftaran yang sudah dipenuhi banyak calon mahasiswa baru. "Mau saya antar?"
"Nggak usah, biar aku saja, 'kan cuma daftar terus tunggu pengumuman. Lagipula Nii-san ada mata kuliah?" Hinata menolak tawaran Neji dan mengeluarkan pena hitam dari saku cardigannya.
"Hm, yasudah. Saya memang ada mata kuliah sekarang. Kalau ada kesulitan, telpon saya saja, nanti saya panggilkan Izumo-san soalnya dia panitia penerimaan mahasiswa baru." Neji mengerti lalu pamit karena temannya memanggilnya. Hinata mengangguk lalu mengantri untuk mendapatkan formulir.
.
"Hinata-chan?"
Hinata yang kebetulan sudah mengambil formulir dan berniat duduk untuk mengisinya, menoleh ke sumber suara yang memanggilnya. Tampak seorang gadis berambut pink pendek dengan mata emerald yang memakai kaus pink tangan panjang polos dan celana jeans selutut lalu kepalanya dihias bando berwarna merah. Hinata memicingkan matanya lalu tak lama senyumnya merekah.
"Sakura-chan!" lalu gadis yang dipanggil Sakura itu memeluk Hinata. Hinata membalas pelukannya. "Sudah lama nggak ketemu ya,"
"Iya, kamu kemana saja nih, Hinata-chan? Setelah kita lulus kamu malah nggak ada," balas Sakura lalu melepas pelukannya.
"Aku sekolah di Paris, hehe. Kamu sendiri?" Hinata tersenyum dan balik bertanya.
"Aku ikut orangtuaku ke Italy, sekalian sekolah juga sih. Cuma 2 tahun, tapi kamu malah sampai 3 tahun," jawab Sakura sambil mengambil formulir pendaftaran calon mahasiswa Konoha University. Mereka sedikit menghindar dari kerumunan calon mahasiswa baru yang makin banyak. "Kamu daftar disini?"
"Yap, aku mau mengulang lagi dari tingkat 1. Lagipula kurasa ilmuku selama belajar di Paris masih kurang. Kamu juga?" jawab Hinata sambil berjalan dan mencari kursi kosong.
"Iya, aku juga mengulang dari tingkat 1. Tapi teman-teman kita rata-rata sudah tingkat 2 di kampus ini. Apalagi si Ino pig itu, seenaknya dia ambil fakultas kedokteran padahal waktu SMA dia masih takut meneliti anatomi hewan," Sakura sedikit bercerita tentang teman-teman mereka yang telah jadi tingkat 2 di Konoha University. "Bagaimana kalau kita ke kantin saja? Aku masih kangen-kangenan nih, nanti teman-teman kita juga nyusul kok."
"Boleh," Hinata mengangguk setuju lalu mereka pergi ke kantin kampus sambil bercerita banyak hal.
.
Naruto sudah mengumpulkan formulir serta syarat-syarat pendaftaran masuk Konoha University. Ia menerobos kerumunan yang masih memeadati loket pendaftaran. Setelah sukses, ia segera menjauh lalu mencari kursi kosong. Setelah itu, ia duduk di kursi deretan pertama dekat loket 3.
Saat Naruto sedang menunggu pengumuman yang kebetulan akan diumumkan saat pendaftaran ditutup, tiba-tiba ponsel Naruto berbunyi. Lantunan lagu A Little Peace of Heaven dari band terkenal Avenged Sevenfold menjadi ringtone ponselnya. Naruto merogoh saku celananya lalu mengambil smartphone hitam miliknya. Nama 'Sasuke Teme' muncul di layar ponsel.
"Moshi-moshi?"
"Kau dimana, usuratonkachi?"
"Heh, bisakah kata-katamu itu lebih sopan? Aku ada di ruang tunggu, kenapa?"
"Hn, ke lapangan basket sekarang. Tahu tidak? Di depan kantin itu. Aku dan yang lainnya kekurangan orang mau main 3 on 3. Cepat datang, baka."
Tuut tuut
"Aku tahu itu, he-hei-" Sambungan telpon terputus. Suara Sasuke hilang dari ponselnya.
"Seenaknya saja dia." Naruto menggerutu sendiri lalu beranjak dari kursi dan berjalan menuju kantin Konoha University.
.
.
Kantin Konoha University susah disesaki banyak orang. Banyak mahasiswa yang makan disana atau hanya bersantai, ada juga yang tengah menonton permainan basket dari beberapa mahasiswa tingkat 3. Ada juga beberapa calon mahasiswa yang juga memenuhi kantin yang terdiri dari 8 kios makanan itu.
Kursi-kursi yang sudah mulai penuh itu membuat Hinata dan Sakura bingung mau duduk dimana. Sebenarnya ada kursi kosong tapi sebelah mereka ada beberapa kakak tingkat yang terlihat judes. Sakura memicingkan matanya untuk mencari sosok teman-temannya yang katanya sudah di kantin.
"Sakura, Hinata, disini!" seru 1 mahasiswi berambut coklat pendek pada Hinata dan Sakura. Ia melambaikan tangannya pada 2 gadis itu sabil tersenyum.
"Matsuri!" Sakura langsung menarik Hinata menuju kursi nomor 8, tempat dimana teman-temannya duduk.
"Hai, apa kabar?" Matsuri bercipika-cipiki pada Hinata dan Sakura, begitu juga dengan Ino, Tenten dan Temari.
"Baik, kalian sekarang kakak tingkat ya," jawab Sakura lalu duduk disebelah Matsuri dan Tenten. Didepannya ada Hinata, Temari dan Ino.
"Iya dong, forehead. Apalagi aku kakak tingkatmu di fakultas kedokteran. Jadi aku bisa menyiksamu di ospek nanti, HOHOHOHOHO," balas Ino paling semangat sambil tertawa menyeramkan pada Sakura. Sedangkan Temari, Hinata, Tenten dan Matsuri jadi bergidik ngeri melihat ada aura-aura iblis disekitar Ino.
"Apa kau bilang?! Seenaknya saja kau, Ino pig. Kau memang kakak tingkatku nanti di fakultas kedokteran tapi aku tetap lebih cerdas darimu karena di Italy aku juga sekolah kedokteran!" seru Sakura tak kalah menyeramkan dengan mata yang menyiratkan kemarahan dan kedut-kedut kekesalan di kepalanya.
Mereka beranjak dari tempat duduk lalu saling bertatapan dengan tatapan iblis nan menyeramkan. Seakan ada petir berbunyi saat mereka masih bertatapan kesal. Tenten dan Temari sweatdrop melihatnya sedangkan Matsuri dan Hinata mencoba menenangkan mereka. Apalagi tingkah Sakura dan Ino dilihat oleh banyak mahasiswa yang sedang duduk disana.
"Sudah-sudah, kalian ini nggak malu apa diliatin mahasiswa lain," ucap Matsuri menarik Sakura sedangkan Hinata menarik Ino. Tapi bukan Sakura dan Ino namanya kalau belum puas akan tatapan iblis mereka.
.
.
Naruto melewati pintu yang tersedia untuk menuju lapangan basket yang hanya dibatasi oleh jaring-jaring pembatas kantin. Lalu ia melihat 3 orang kakak tingkatnya sedang main basket. Ia mencari Sasuke dan teman-temannya lalu tak lama ia menemukan mereka sedang duduk di kursi yang tak jauh dari ring basket.
"Hai bro, sendirian aja?" sapa Kiba pada Naruto. Mereka beradu tinju kecil lalu duduk bersebelahan. Di kursi itu juga ada Chouji, Shikamaru dan Gaara.
"Ya begitulah. Belum main?" Tanya Naruto sambil melihat permainan kakak tingkat mereka.
"Belum, tunggu para senpai itu pergi," jawab Chouji yang tak lupa mengunyah keripik kentang miliknya. Sifatnya memang tak berubah, padahal sudah 3 tahun tak bertemu, pikir Naruto.
Naruto melihat 3 orang kakak tingkatnya yang saling merebut bola. Dari penampilannya, Naruto seperti mengenal mereka. Ia memicingkan matanya lalu sedikit tersenyum ketika mengetahui siapa yang sedang bermain itu. Mereka adalah Uchiha Itachi, Akasuna Sasori dan Deidara. Pantas saja Sasuke terlihat kesal saat kakaknya diteriaki oleh banyak wanita.
"Hei Itachi, aku ada kelas sekarang. Aku duluan ya." Sasori menghentikan permainannya lalu pergi dari lapangan basket diiringi dengan teriakan para Sasori fansgirl.
"Sasori-danna, tunggu!" Deidara sedikit panik lalu berlari mengejar Sasori. Dan sekarang hanyalah Itachi yang main sendiri.
Itachi mendatangi keenam pemuda itu, "Hai, ternyata kalian mau kuliah disini juga," sapa Itachi pada Sasuke serta teman-temannya.
"Hn, jangan sok keren kau," jawab Sasuke dengan tatapan sinis. Sasuke mengambil alih bola basket dari Itachi lalu bermain sendirian. Itachi sedikit memberengut lalu mengalihkan pandangan.
"Hai, Naruto. Lama nggak ketemu," sapa Itachi pada Naruto.
"Ya, Itachi-nii. Kau di jurusan apa?" Tanya Naruto dengan ramah.
"Aku di Ekonomi. Kau dimana?"
"Komunikasi, soalnya aku suka broadcasting,"
"Oh, sama ya dengan Sasuke. Lagipula kau juga suka fotografi saat SMA dulu," Itachi mengangguk mengerti. "Ah, Naruto. Aku titip Sasuke padamu ya, anak itu 'kan jarang belajar," bisik Itachi.
"Aku dengar itu, Uchiha Itachi." Sahut Sasuke dengan nada kesal. "Hei kalian, ayo 3 on 3," ajak Sasuke pada 5 temannya.
Naruto menatap sinis Sasuke lalu beralih pada Itachi, "Cih, kalau dia bukan sahabatku saja, aku juga malas 1 fakultas dengannya. Lagipula kenapa dia nggak masuk fakultas yang sama denganmu sih?" Tanya Naruto pada Itachi.
"Sasuke pernah disuruh ayahku masuk jurusan bisnis internasional, tapi dia menolak mentah-mentah. Dia bilang ingin jadi broadcaster saja. Ayahku sempat marah tapi ibuku malah membelanya. Dasar anak paling kecil," jawab Itachi sinis.
"Aku mendengarnya lagi, Uchiha Itachi." Sahut Sasuke yang kini sedang berebut bola dengan Kiba. "Dan kau, usuratonkachi, cepat kesini,"
"Anak itu benar-benar menyebalkan," gumam Naruto sebal dengan sifat Sasuke yang kelewat cool itu. "Itachi-nii, aku main dulu ya." Naruto pamit pada Itachi lalu segera merebut bola dari Sasuke dan memasukkannya ke ring.
"Mereka itu benar-benar nggak berubah," ucap Itachi lalu tersenyum ke arah Naruto dan Sasuke yang masih saling berebut bola.
.
.
Di kantin sudah terlihat sepi. Beberapa mahasiswa pergi dari sana karena ada kuliah mendadak. Hanya tinggal beberapa mahasiswa baru serta mahasiswa yang masih menetap disana. Termasuk Ino, Temari, Tenten dan Matsuri.
Mereka berlima masih asik bercengkrama. Mereka sedang berflashback mengingat kenangan mereka saat SMA. Ada tawa, malu, sebal dan sedih. Hinata juga sudah menceritakan semuanya pada teman-temannya. Ino, Matsuri, Tenten dan Temari menghibur Hinata dan berhasil. Sudah banyak senyum yang Hinata keluarkan hari ini. Dan itu membuat Sakura dan yang lainnya lega.
Kini mereka sedang asik menonton video di laptop Sakura. Di video itu terlihat band 'CN. Blue' yang tengah konser menyanyikan lagu 'LOVE'. Sakura, Hinata, Matsuri dan Ino berteriak histeris melihat para personil CN. Blue. Sedangkan Temari dan Tenten tidak tertarik karena mereka lebih menyukai FT. Island dan mereka berdua juga sedang menonton video FT. Island berjudul Like a Birds yang ada di laptop Temari.
"Temari-chan, aku minta videonya dong. Hanabi lagi suka nih sama FT. Island," sahut Hinata saat melirik ada Lee Hong Ki, salah satu personil FT. Island yang sedang menyanyi.
"Oke, aku juga minta video CN. Blue ya," jawab Temari. Hinata mengangguk lalu memberikan flashdisk miliknya.
Di lapangan basket, Naruto serta 5 temannya sedang asik berebut bola. Mereka bermain 3 on 3. Tampak Sasuke dan Naruto yang masih berebut bola, sedangkan Kiba dan Chouji yang dibelakang mereka. Gaara dan Shimaru malah tak berbuat apa-apa.
"Perhatian, kepada para calon mahasiswa baru Konoha University, pengumuman sudah dikeluarkan. Kalian bisa melihat hasilnya di mading atau bisa mengaksesnya di website resmi Konoha University. Arigatou."
Beberapa calon mahasiswa baru mendengarnya. Tak terkecuali dengan 12 pemuda-pemudi alumni Konoha High School itu. Hinata serta teman-temannya langsung mematikan laptop mereka lalu keluar dari kantin. Sementara Naruto dan teman-temannya langsung menghentikan permainan lalu keluar dari lapangan basket. Mereka pergi ke mading untuk melihat pengumuman.
~oOo~
Mading yang terletak di dekat loket pendaftaran itu dipenuhi oleh banyak calon mahasiswa yang berdesak-desakkan untuk melihat hasil pengumuman. Parahnya, papan mading itu hanya tersedia 2 saja dan jaraknya pun berdekatan. Otomatis itu susah untuk dilihat dan harus berdesak-desakkan.
Tapi masih ada alternatif lain untuk melihat pengumuman yang lulus jadi mahasiswa. Di sekitar lorong kampus sampai loket nomor 3 pendaftaran, terdapat 5 komputer yang mirip seperti mesin ATM untuk mengakses website Konoha University. Dan karena yang mendaftar di kampus ini sangatlah ramai, otomatis harus mengantri panjang juga. Setiap komputer pasti dipenuhi oleh antrian panjang oleh calon mahasiswa.
Hinata dan Sakura geleng-geleng melihat antrian yang sangat ramai itu. Mereka bingung harus melihat pengumuman dimana. Kalau lewat mading harus berdesak-desakkan, tapi kalau lewat komputer harus mengantri panjang. Sebenarnya bisa saja menggunakan laptop/ponsel, mengingat koneksi Wifi di Konoha University sangatlah lancar. Tapi entah karena apa tiba-tiba jaringan Wifi disana sangatlah lambat, jadi banyak yang kesal harus melihat darimana.
"Haduh, ramai banget. Gimana nih, Hinata-chan? Mana Wifi nya lemot juga nih," Tanya Sakura bingung. Ia masih melihat sekitar mading atau komputer, mungkin ada yang antriannya tidak panjang. Tapi kenyataannya masih sangat panjang dan membingungkan.
"Ng, gimana kalau kita bagi tugas aja. Aku di komputer, kamu di mading, Sakura-chan," jawab Hinata sekedar mengusulkan. Karena tidak mungkin ia dan Sakura harus menunggu sampai berjam-jam, Hinata dan Sakura harus mengurus perlengkapan ospek.
"Yaudah deh, daripada nggak keburu." Sakura setuju lalu segera menuju ke mading kedua, dimana disana sudah tidak terlalu berdesak-desakkan.
Hinata melihat ke setiap komputer. Ia bingung karena disana antriannya masih sangat ramai. Lalu setelah itu ia melihat antrian di komputer ke 3 sudah tidak terlalu panjang. Hinata sedikit berlari untuk segera mengantri sebelum direbut oleh orang lain.
Hinata sudah mengantri di komputer nomor 3. Butuh beberapa saat untuk menunggu giliran dan inilah saatnya. Ia sedikit was-was mengingat standar nilai di Konoha University sangatlah tinggi, sedangkan nilai-nilai saat ia SMA tidak terlalu tinggi –menurutnya, padahal jelas-jelas Hinata ranking 3 se-sekolah dan ranking 2 se-jurusan IPA-. Ia juga melihat ekspresi orang-orang disekitarnya yang sudah melihat pengumuman. Ada yang gembira, ada pula yang sedih. Ada yang sampai jingkrak-jingkrak, ada pula yang sampai menangis. Hinata makin was-was dibuatnya.
Akhirnya Hinata mendapatkan giliran. Di komputer itu sudah tersedia berbagai kolom dan baris. Hinata mengetikkan namanya beserta nomor pendaftarannya. Lalu ia menunggu sejenak. Tak lama namanya keluar. Hinata membacanya sejenak dan senyum manis terukir di wajah cantiknya. Ia lulus ujian masuk Konoha University. Ia pun keluar dari kerumunan dengan senyum manis yang masih terukir.
"Kamu lulus ya?" Tanya seseorang dengan suara bass. Hinata menoleh lalu melihat seorang pemuda berambut pirang yang tengah tersenyum padanya. Siapa lagi kalau bukan Naruto Namikaze.
"I-iya," jawab Hinata kikuk. "Ka-kamu lulus juga?" tanyanya dengan suara pelan.
"Iya, aku lulus. Jadi sekarang kita bakalan sering ketemu dong," jawab Naruto masih dengan senyumannya yang sangat menawan.
Hinata tidak menjawab pertanyaan Naruto lalu diam-diam pergi ke tempat Sakura. Tapi Naruto malah mengikutinya.
"Ka-kamu mau apa?" Tanya Hinata tanpa menoleh ke Naruto. Ia masih mencari sosok Sakura.
"Aku mau bicara denganmu, berdua saja," jawab Naruto serius. "Aku butuh penjelasan darimu."
Hinata kaget. Naruto ingin bicara dengannya berdua saja. Padahal jelas-jelas Hinata sedang mencoba untuk menghindari pemuda itu. Tapi kenapa ia harus 1 kampus dengannya?
"Apa yang harus dijelasin?" Tanya Hinata dengan suara bergetar.
"Aku ingin dengar semuanya. Alasanmu memutuskanku, meninggalkanku tanpa kabar selama 3 tahun dan sekarang mencoba menjauhiku. Padahal aku sudah menunggumu selama ini, Hime."
Kenapa? Kenapa harus dengan seperti itu? Kenapa harus memanggilku seperti itu?
"Aku merindukan semuanya. Semua kisah kita. Aku ingin aku dan kamu jadi kita lagi,"
"Nggak, aku nggak bisa," jawab Hinata lalu menoleh ke Naruto. Ia menatap Naruto. "Aku rasa menghindarimu adalah keputusan yang tepat."
"Kenapa? Apa aku berbuat salah padamu? Apa selama kita pacaran, aku buat salah sama kamu? Jawab aku, Hime."
"Kamu nggak salah. Aku yang salah," jawab Hinata dengan nada sedih. "Aku salah sudah menyayangimu selama hidupku, pacaran denganmu selama kita SMA, dan meninggalkanmu sampai saat ini. Aku salah sudah punya perasaan ini padamu, Naruto-kun," lanjutnya dengan menunduk.
Naruto mendekati Hinata dan memang gadis itu terlihat menangis. "Kenapa harus kamu yang bersalah?" tanyanya sambil mencoba menghapus air mata Hinata.
"Karena mencintaimu adalah kesalahan terbesar bagiku," jawab Hinata lalu menepis tangan Naruto pelan dan berlari pergi.
"Hinata-chan!"
.
Naruto mengejar Hinata yang masih terus berlari. Orang-orang melihat ke arah mereka. Naruto tak peduli dan terus mengejar Hinata yang sedari tadi masih menangis.
Hinata menghentikan langkahnya. Ia masih terisak. Hatinya terasa perih ketika mengatakan kata-kata itu pada Naruto. Tapi mau bagaimana lagi, ia harus bicara begitu meski harus mengorbankan perasaannya sendiri.
"Kalau kamu menghindar terus, kamu seperti pengecut, Hinata-chan," ucap Naruto yang sudah berjarak dekat dengan Hinata.
"Tapi inilah yang harus kulakukan, Naruto-kun!" jawab Hinata kantang. Ia menoleh ke Naruto. "Dan aku rela mengorbankan perasaanku ini demi menjauh darimu,"
"Keputusanmu itu salah, Hinata-chan," balas Naruto. "Kamu mengorbankan perasaanmu, itu membuatku merasa bersalah. Aku tau kita memang nggak diizinin bersama, tapi kamu lebih salah akan itu,"
"Kamu nggak ngerti, Naruto-kun! Kamu nggak ngerti apa yang aku rasain!" Hinata sedikit berteriak. "Saat aku putusin kamu, hati aku hancur. Dan saat aku harus diasingkan ke Paris, aku makin hancur. Aku sangat bersalah harus meninggalkanmu selama ini. Dan kalau aku tiba-tiba datang lalu memohon padamu, aku udah nggak pantas lagi. Keputusanku sekarang adalah yang paling tepat. Jadi kumohon," Hinata mengatakannya sambil terisak. Hatinya makin perih ketika harus mengatakannya didepan Naruto.
"Mencintaimu adalah kesalahan terbesar bagiku." Ucap Hinata sekali lagi dengan suara pelan. Ia kini berjalan lunglai meninggalkan Naruto. Tampak Sakura juga mendatanginya dan segera memapah Hinata.
Naruto sangat frustasi sekarang. Keinginannya untuk mengembalikan semua kisahnya bersama Hinata sangatlah sulit. Hinata tak ingin bertemu dengannya dan ingin melupakannya. Naruto mengacak rambutnya dan sedikit berteriak.
"Gomen ne, Hinata-chan…"
To be continued…
.
Chaki No Utau, Out~
